Ridha adalah puncak gunung spiritual bagi para pejalan (muthasowif), orang-orang yang telah berhasil mencapainya tidak lagi disebut pejalan (muthasowif) melainkan Sufi. Karena telah gugur keinginan-keinginan dirinya (fana). Tanda ridha adalah tidak mempunyai pilihan sebelum diputuskannya ketetapan (Allah), lalu tidak merasakan kepahitan melainkan ketenangan dan keserasian hati setelah diputuskannya ketetapan, dan tetap merasakan gairah cinta ditengah-tengah cobaan. Karenanya ridha menjadi dambaan para pejalan, sebagaimana doa para murid pada setiap kesempatan : ‘Ilahi anta maksudi, waridhaka matlubi, a’tinii mahabbataka wa ma’rifatakaa yaa Arhamaar Rahimiin, Yaa Allah Engkaulah yang aku maksud, ridha-Mu aku harapkan dan karuniakan cinta kepada-Mu dan sebenar-benar mengenal-Mu wahai Engkau Yang Maha Belas Kasih.’

Habib Al ‘Ajami,ra., ditanya :
‘Apa yang diridhai Tuhan?’ Beliau menjawab : ‘Hati yang tidak ternodai oleh kemunafikan.’

Sedangkan Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata bahwa : ‘Ridha itu menerima apa yang ditentukan oleh Allah SWT.’ Ujaran ini indah sekali, meskipun berbeda bentuk penyampaiannya tetapi mempunyai makna yang sama, yakni, hakikat ridha ada dalam keselarasan, karena keselarasan adalah lawan dari kemunafikan. Sedangkan cinta, bersih dari kemunafikan, oleh sebab itu cinta senantiasa hidup dalam keadaan ridha. Sehingga ridha adalah watak sahabat-sahabat Tuhan, sementara kemunafikan adalah watak seteru-seteru-Nya.

Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) disaat mengusap kepala dengan air wudlu selalu mengucap “Yaa Allah aku serahkan segala urusanku kepada-Mu.’ Ini adalah puncak tawakal, barang siapa mempunyai keteguhan di hati, menyerahkan segala urusannya kepada Tuhan pada setiap waktu, tidak bersandar kepada harta, tidak pula pada perantara, dan tidak pula kepada makhluk, dan hanya bersandar kepada Allah SWT saja, hingga saat tidak diberi, tetap bisa merasakan kenikmatan sebagaimana kenikmatan saat diberi, maka ia telah berada pada maqom tawakal. Puncak tawakal adalah awal daripada ridha, yakni menunggu sebab dari Pemberi Sebab, tanpa melihat kepada sebab, serta tanpa kegelisahan, kesusahan, kesedihan, dan kedukaan. Sedangkan bukti apakah seseorang telah memasuki maqom ridha, hatinya selaras setelah kedatangan ketetapan Tuhan. Oleh sebab itu ridha itu muncul setelah kedatangan takdir, karena, jika ridha mendahului, itu hanya niat untuk ridha, yang tidak bisa disamakan dengan ridha yang aktual. 

Rasulullah,saw., bersabda : ‘Wahai Tuhan, aku memohon keridhaan-Mu setelah maujudnya ketetapan-Mu.’ Nabi saw., yang keadaan ruhaninya paling sempurna di antara semua makhluk masih berdoa seperti itu. Seolah-olah ada keinginan di dalamnya, padahal orang-orang yang berada pada maqom ridha keinginannya sirna, karena Allah membuat selaras keinginannya dengan kehendak-Nya. Sikap memanusiakan dirinya sungguh hebat, ketawadhuannya tidak ada duanya di atas bumi ini, yakni, agar Allah SWT membuatnya ridha bila ketetapan-Nya tiba, padahal yang mulia Rasulullah saw., adalah pemilik ridha yang tertinggi. Berarti di dalamnya ada pembelajaran untuk umat islam, bahwa merendah bagai bumi adalah perbuatan yang sangat mulia, dan ridha bisa disebut maqom atau ‘hal’.

Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata bahwa : ‘Ridha tidak ada di dalam kata-kata.’ Kata-kata hanyalah digunakan untuk sekedar mentransformasi secara maksimal ilmu pengetahuan tentang ridha dan bukan ridha itu sendiri. Ridha adalah tujuan akhir bagi para pejalan (mutashowif), yang upayanya atau keberjuangannya melawan dirinya sendiri (mujahadah) telah berakhir dan berpindah menjadi keberserahan. Ayat Al Qur’an di atas : ‘Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya,’ menunjukkan ridha Tuhan kepada manusia dan ridha manusia terhadap Tuhan. 

Bentuk ridha Tuhan berupa pahala bagi perbuatan-perbuatan baik manusia, sebagai manifestasi kasih-sayang-Nya. Sedangkan ridha manusia terkandung di dalam pelaksanaan perintah Tuhan dan menyerah kepada segala keputusan-Nya.

Dengan demikian keridhaan Tuhan mendahului keridhaan manusia. Nah, seseorang yang berpaling kepada pemberian bukan kepada Sang Pemberi, menerima pemberian itu dengan segenap jiwanya, yang mengakibatkan kesedihan dan kesulitan lenyap dari dalam hatinya. Sedangkan seseorang yang berpaling dari pemberian kepada Sang Pemberi, kehilangan pemberian itu dan menempuh jalan keridhaan dengan usahanya sendiri. Usaha adalah kepedihan dan menyusahkan, sedangkan ‘hal’ hanya terwujud bilamana disingkapkan oleh Tuhan. Oleh karenanya, keridhaan bila dicari dengan usaha, merupakan belenggu dan tirai.

Sebagaimana kebahagiaan, adalah bilamana mengantarkan kepada Sang Pemberi kebahagiaan bukan menikmati pemberian-Nya, jika tidak demikian, merupakan penderitaan.

Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) disaat menghadapi penyakit yang menurut orang kebanyakan merupakan penyakit yang sangat berbahaya, terlihat bergembira dengan penderitaan yang Tuhan turunkan, gembira karena dalam penderitaan beliau melihat Sang Pencipta Penderitaan dan bisa menanggung penderitannya dengan merenungkan Dia yang menurunkan penderitaan, beliau tidak menganggapnya sebagai kepedihan, yang demikian adalah rasa nikmatnya dalam merenungi kekasihnya. Akhirnya, mereka yang puas dengan sesuatu yang dipilihkan oleh Tuhan, adalah kekasih-kekasih-Nya, yang hati mereka berada dalam hadirnya Kesucian dan dalam taman Kedekatan, yang tidak berpikir tentang benda-benda ciptaan dan telah bebas dari ikatan-ikatan ‘maqom’ dan ‘hal’ dan telah mengabdikan diri mereka kepada cinta Ilhai. Keridhaan mereka tidak melibatkan kesia-siaan karena keridhaan dengan Tuhan adalah suatu kerajaan yang nyata. 

Ciri khas ridha adalah mengusir semua duka cita dan menyembuhkan kelalaian serta membersihkan hati dari pikiran-pikiran yang berhubungan dengan selain Tuhan dan membebaskannya dari belenggu kemalangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar