“Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu pasti datang.” (Qs. Al-Ankabut :5).

Al-‘Ala’ bin Zaid menuturkan : “Amu menemui Malik bin Dinar dan menemukan Syahr bin Hausyab bersamanya. Ketika Syahr dan aku pergi meninggalkan Malik, aku berkata kepada Syahr : “Semoga Allah merahmatimu, berilah aku nasihat dan perkayalah jiwaku. Semoga Allah memberimu kekayaan!.” Ia menjawab. Dengan senang hati bibiku Ummu Darda’ menceritakan kepadaku melalui Abu Darda’, bahwa Rasulullah saw. mengabarkan bahwasanya malaikat Jibril as. Mengatakan : “Allah swt. berfirman : “Wahai hambaKu, selama engkau menyembahKu, berharap akan bertemu denganKu, dan tidak menyekutukan Aku, niscaya Aku akan mengampuni apa pun dosa yang tengah engkau lakukan. Bahkan sekalipun engkau datang dengan membawa keburukan dan dosa sebesar bumi, Aku akan mengampunimu, dan tidak mempedulikan (berapa banyak dosa yang telah engkau lakukan).” (Hr. Thabrani).

Anas bin Malik mengabarkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, bahwasanya Allah swt. berfirman (dalam hadits Qudsi) :
Keluarlah dari neraka, wahai kalian yang dalam hatinya masih terdapat iman walaupun sebesar biji gandum.” Kemudian Dia akan memerintahkan : “Aku bersumpah demi keagungan-Ku, bahwa perlakuan-Ku terhadap manusia yang beriman kepada-Ku walaupun sesaat saja di siang hari ataupun malam, tidak akan sama perlakuan-Ku terhadap orang yang tidak pernah beriman kepada-Ku.” (H.r. Bukhari – Muslim).

Harapan (Raja’) adalah keterpautan hati kepada sesuatu yang diinginkannya terjadi di masa yang akan datang, sebagaimana halnya takut berkaitan dengan apa yang akan terjadi di masa datang. Karena itu, harapan berlaku bagi sesuatu yang diharapkan oleh seseorang akan terjadi. Hati menjadi hidup oleh harapan-harapan melenyapkan beban hati. Perbedaan antara harapan dan angan-angan (tamany) adalah bahwa angan-angan membuat seseorang menjadi malas. Orang yang hanya berangan-angan sesuatu tidak akan pernah berusaha untuk membulatkan tekad (untuk mencapai apa yang diangankannya). Hal yang sebaliknya juga berlaku atas diri seseorang yang memiliki harapan. Harapan adalah sifat yang terpuji, tetapi angan-angan adalah sifat tercela.

Para Sufi telah berbicara banyak tentang harapan. Syah al-Kirmany berkata : “Tanda-tanda harapan adalah taat yang baik.”

Ibnu Khubaiq menjelaskan : Ada tiga macam harapan : Ada manusia yang melakukan amal baik; dengan harapan amal perbuatannya itu akan diterima oleh Allah swt. Ada lagi orang yang melakukan amal buruk, kemudian bertobat; harapannya adalah memperoleh pengampunan. Akhirnya ada orang yang tertipu diri sendiri, yang terus melakukan dosa, sambil berkata : “Aku berharap untuk memperoleh pengampunan.” Bagi orang yang tahu bahwa dirinya melakukan amal buruk, takut selayaknya lebih berkusa atas dirinya daripada harap.”

Dikatakan : “Harapan adalah mengandalkan kemurahan dari Yang Maha Pemurah dan Maha mencintai.”

Dikatakan pula : “Harapan adalah melihat kegemilangan Ilahi dengan mata keindahan.”

Juga dikatakan : “Harapan adalah kedekatan hati kepada kemurahan Tuhan.”

Dikatakan pula : “Harap adalah kesenangan hati terhadap keutamaan tobat seseorang.”

Dikatakan juga : “Harapan berarti melihat pada kasih sayang Allah swt. Yang Maha Meliputi.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar