Allah berfirman :
“Dan, sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sebagian ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Qs. Al-Baqarah :155).

Berikanlah kabar gembira dengan pahala yang indah karena kesabaran mereka dalam menanggung lapar. 

Allah swt. berfirman :
“Dan mereka memprioritaskan (Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).” (Qs. Al-Hasyr :9).

Anas bin Malik menuturkan bahwa ketika Fatimah r.a. (Fatimah az-Zahra’ (18 s.H – 11 H/605 – 632 M). Putri Rasulullah saw. keturunan Bani Hasyim, suku Quraisy. Ibundanya Khadijah binti Khuwailid. Fatimah dinikahkan Ali bin Abu Thalib r.a. melahirkan Hasan dan Husein, Ummu Kaltsum dan Zainab). Fatimah r.a. memberikan sekerat roti bagi Rasulullah saw. beliau bertanya : “Apa ini, wahai Fatimah?” Fatimah menjawab : “Sepotong roti yang saya masak sendiri. Hati saya tidak dapat tenang sebelum memberikan roti ini kepadamu.”

Beliau menjawab : “Ini adalah sepotong makanan pertama yang masuk ke mulut ayahmu sejak tiga hari ini.” (Hadits ini diriwayatkan oleh al-Harits bin Abu Usamah dalam Musnad-nya, melalui sanad yang dha’if, namun memiliki bukti kebajikan sanad dalam maknanya).

Alasan inilah yang menjadikan lapar termasuk dalam sifat kaum Sufi dan salah satu tiang mujahadah. Para penempuh suluk selangkah demi selngkah membiasakan berlapar-lapar menahan diri dari makan, dan mereka menemukan mata air kebijaksanaan di dalam lapar. Cerita tentang mereka dalam hal ini cukup banyak.

Ibnu Salim berkata : “Etika berlapar diri adalah bahwa seseorang terus menerus tidak mengurangi porsi makanannya, kecuali sebesar telinga kucing (amat sedikit).” Dikatakan bahwa Sahl bin Abdullah tidak makan, kecuali setiap limabelas hari. Manakala Bulan Ramadhan tiba, ia bahkan tidak makan sampai melihat bulan baru. Dan tiap kali berbuka hanya minum air putih saja.

Yahya bin Mu’adz menjelaskan : “Seandainya orang dapat membeli lapar di pasar, maka para pencari akhirat niscaya tidak akan perlu membeli sesuatu yang lain di sana.”

Sahl bin Abdullah berkomentar : “Ketika Allah swt. menciptakan dunia, Dia menempatkan dosa dan kebodohan di dalam kepuasan nafsu makan dan minum, dan menepatkan kebijaksanaan dalam lapar.”

Yahya bin Mu’adz mengatakan : “Lapar bagi para penempuh jalan Allah (murid) adalah olah ruhani (riyadah), sebuah cobaan bagi orang-orang yang berTaubat, dan siasat bagi para zahid, tanda kemuliaan bagi para ahli ma’rifat.”

Syeikh Abu Ali ad.-Daqqaq menuturkan : “Seseorang datang menjumpai salah seorang syeikh, dan ketika melihat sang syeikh menangis, ia bertanya, ‘Mengapa Anda menangis?’ Sang Syeikh menjawab : “Aku lapar.” Ia mencela, “Seorang seperti Anda, menangis karena lapar?” Sang Syeikh balas mencela : “Diamlah! Engkau tidak mengetahui bahwa tujuan-Nya menjadikan aku lapar adalah agar aku menangis.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar