Al-qur'an itu turun sejak jaman Rosulullah saw, sampai sekarang masih dipakai pedoman, masih digali keilmuan di dalamnya, seperti bumi yang tak habis mengeluarkan benih-benih makanan, penghijauan, ikan, dan berbagai bijian, yang dimakan manusia, hewan, dan apa saja mengambil manfaat dari bumi, itu sebagaimana al-qur'an yang tak habis diambil manfaat dalam kandungannya, sebagaimana bumi, ada tumbuhan yang bisa menjadi penguat badan, menjadi obat bagi berbagai penyakit, menjadi penawar bagi jiwa yang lelah, dan airnya menyegarkan, racun-racun dinetralkan, begitu juga Al-qur'an, dia menjadi makanan bagi ruhani, mengenyangkan ruhani, ada ayat-ayat yang bermuatan obat, bagi berbagai penyakit, menjadi penawar bagi ruhani yang lelah, petunjuk bagi ruhani yang tersesat, sebagaimana bumi yang selalu memberikan berbagai makanan dan biji-bijian, dan bersifat selamanya bumi itu ada, begitulah Allah menunjukkan keadilan dan pengaturannya, sangat bijaksana, dan contoh bagi orang yang berfikir dan merenungkan kejadian dan mengambil ibarat serta pelajaran.

Begitu juga kita, lisan kita, hati kita, akal kita, kita sebagaimana bumi, karena kita diambil dari bumi, dicipta dari tanah, diaduk dengan air, makanya kita itu sebagaimana tanah, tanah itu tidak bisa bermanfaat sama sekali, jika tidak diberi air, bahkan bumi itu akan menjadi bumi yang mati jika tidak ada airnya. Sama kita juga akan mati jika tidak diberi air, dan bumi tidak bermanfaat kalau tidak diberi air dan diolah, dicampur dengan bahan lain.

Kita juga begitu tidak akan bermanfaat kalau tidak diberi campuran bahan lain, tidak bisa berdiri sendiri, makan saja harus ada yang dimakan, minum harus ada yang diminum, berjalan harus ada jalan yang ditempuh, ingin punya anak seorang lelaki harus ada wanitanya, jadi selamanya kita tidak bisa berdiri sendiri, harus ada hal lain atau sesuatu yang lain agar kita bisa mendatangkan manfaat.

Teori pencampuran antara satu hal dengan hal yang lain ini namanya sareat, dan bahan baku dari apa yang dicampur itu namanya syarat. Seperti ada lelaki, ada wanita kalau mau menikah, nah lelaki dan wanita ini dinamakan syarat, karena kita hidup di bumi, dan kita dari bumi, maka kita lantas harus memenuhi syarat dan sareat dalam segala apapun itu di dunia ini, konteknya makin meluas dan ke hal apapun juga, karena apapun itu bergantung pada kita sendiri, dan kita bergantung pada apapun, dalam ikatan rantai yang tidak terputus, ketergantungan yang saling kait mengait ini dinamakan asbab, atau beberapa sebab, atau sebab satu terjadi dan berkenan terjadinya karena sebab hal lain, dan sebab hal lain sebelumnya bisa terjadi dan berlaku terjadinya juga harus disebabkan oleh sebab yang lain lagi, suasana dan lautan belantara sebab itu sambung menyambung, bagai tali panjang yang tak putus, semua saling kait mengait.

Manusia yang terbawa oleh arus hidup, tergulung oleh aliran sebab yang berjalan, suasana hati dan pemikiran lantas ikut terseret dalam aliran suasana sebab yang menjadikan sesuatu bisa berlaku terjadinya, sehingga manusia lantas pola pikirnya kemudian mencari sebab atas apa yang akan dilakukan bisa terjadi dan berlaku dengan mudah dan dimudahkan berlakunya. Orang yang pikiran dan hatinya ini tergantung pada sebab, dan pengupayaan sebab jika mau menyelesaikan hal apapun, entah itu rizki, kesembuhan penyakit, sarana tranfortasi, dan apapun itu. Maka orang itu adalah orang yang duduk di kepahaman asbab, atau berada di maqom keadaan orang yang berkutat dan bergerak serta berhenti karena beberapa sebab, makanya maqomnya dinamakan maqom asbab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar