Seseorang hanya mampu beramal dan menuntut ilmu untuk sampai hampir dekat dengan pintu gerbangnya. Ingat hanya pintu gerbangnya saja, tidak akan masuk ke dalam makrifatullah, mengenal Allah, kecuali Allah menghendaki sampai, dan tidak ada seorangpun akan sampai kecuali dengan pertolongan Allah, Apabila sampai di situ seseorang hanya menanti kurniaan Allah s.w.t, semata-mata, tidak bisa tidak dan menjadi hak mutlak Allah saja orang akan masuk ke dalam kemakrifatan.

Kurnia Allah s.w.t yang membawa makrifat kepada hamba-hamba-Nya. Kurnia Allah s.w.t yang mengandungi makrifat itu dinamakan HAL, Allah s.w.t memancarkan Nur-Nya ke dalam hati hamba-Nya dan akibat dari pancaran itu hati akan mendapat sesuatu pengalaman atau terbentuk satu suasana di dalam hati. Misalnya, pancaran Nur Ilahi membuat hati mengalami hal bahwa Allah Maha Perkasa. Apa yang terbentuk di dalam hati itu tidak dapat digambarkan tetapi kesannya dapat dilihat pada tubuhnya yang menggigil hingga dia jatuh pengsan. Pancaran Nur Ilahi membuat hati mengalami hal atau zauk atau merasakan keperkasaan Allah s.w.t dan pengalaman ini dinamakan hakikat, iaitu hati mengalami hakikat keperkasaan Allah s.w.t. Pengalaman hati tersebut membuatnya berpengetahuan tentang maksud Allah Maha Perkasa. Jadi, pengalaman yang diperoleh pada zauk hakikat melahirkan pengetahuan tentang Tuhan. Pengetahuan itu dinamakan makrifat. Orang yang berkenaan dikatakan bermakrifat terhadap keperkasaan Allah s.w.t. Oleh itu untuk mencapai makrifat seseorang itu haruslah mengalami hakikat. Inilah jenis makrifat yang tertinggi. Makrifat tanpa pengalaman hati adalah makrifat secara ilmu. Makrifat secara ilmu boleh didapati dengan belajar, sementara secara zauk didapati tanpa belajar. Ahli tasauf tidak berhenti sebatas makrifat secara ilmu malah mereka mempersiapkan hati mereka agar sesuai menerima kedatangan makrifat secara zauk. Makrifat secara ilmu, bisa diketahui dengan cara tau teori, tanpa pernah mengalami, seperti orang yang berteori menanam padi, tentu beda dengan orang yang sudah berkecimpung dalam tanam menanam padi, teori hanya sebatas teori, dia juga tidak bisa diharapkan buahnya. Apalagi merasakan buah manisnya panen yang dipetik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar