RasuluLlah bersabda tentang keutamaan taqwa, “Apabila Allah Ta’ala mengumpulkan orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian pada suatu tempat di hari yang telah dimaklumi, maka tiba-tiba mereka mendengar suara yang dapat terdengar kepada yang paling jauh dari mereka sebagaimana dapat terdengar oleh yang paling dekat dari mereka, maka Suara itu berkata, “Hai manusia, sesungguhnya Aku telah, telah Aku diamkan bagimu semenjak Aku jadikan kamu hingga harimu sekarang ini. Maka diamlah kepadaKu pada hari ini. Sesungguhnya amalmu akan dikembalikan kepadamu. Hai manusia, sesungguhnya Aku telah menciptakan bangsa nasab dan kamu juga telah menciptakan nasab. Maka kamu rendahkan nasab-Ku dan kamu tinggikan nasabmu. Aku berifrman,
“Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah yang lebih bertaqwa dari kamu sekalian”. Dan kamu enggan selain mengatakan Si fulan anak si fulan, si fulan lebih kaya dari pada si fulan”. Maka pada hari ini Aku merendahkan nasabmu dan Aku tinggikan nasab-Ku. Dimanakah orang-orang yang bertaqwa ? Maka diangkatkanlah bendera bagi suatu kaum lalu kaum itu membawa benderanya ke tempatnya. Maka mereka itu masuk surga tanpa di hisab (dihitung amalnya)”.

Nabi SAW bersabda, “Ra’sulhikmah makhafataLlah”
Yang artinya, “Puncak hikmah adalah takut kepada Allah”.

Nabi SAW bersabda kepada Ibnu Mas’ud, “In Aradta an talqany faaktsir minal khaufi ba’dy”
Yang artinya, “Jika kamu berkeinginan dapat berjumpa denganku, maka perbanyaklah takut kelak sesudahku”.

Al Fudhail berkata, “Barang siapa yang takut kepada Allah Ta’ala niscaya ketakutan itu akan menunjukkannya kepada setiap kebajikan”.

Asy-Syibli berkata, “Pada suatu hari aku takut akan Allah Ta’ala maka aku melihat pada ketakutanku itu suatu pintu dari hikmah dan i’tibar yang tidak pernah sekalipun aku melihatnya.”

Yahya bin Mu’adz berkata, “Seorang mukmin yang mengerjakan kejahatan akan terhubung oleh dua kebaikan, 1. takut siksaan dan 2. harap ampunan –seperti serigala di antara dua ekor singa. 

Disebutkan pada ucapan Musa AS, “Adapun orang-orang yang wara’ maka tiada tertinggal seorangpun melainkan aku bertengkar dengan dia tentang hitungan amalnya dan aku periksakan apa yang ada dalam dua tangannya selain orang-orang yang wara’, maka aku malu kepada mereka. Dan aku muliakan mereka, bahwa aku suruh mereka berhenti menghitung amal mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar