Keutamaan sesuatu itu menurut kadar kemampuannya dalam hal membawa kebahagiaan bertemu dengan Allah Ta’ala di akhirat. Karena tiadalah yang dimaksud selain kebahagiaan yang demikian itu.

Dan tiada kebahagiaan bagi hamba selain menemui Tuhannya dan berdekatan dengan-Nya. Maka apa saja yang dapat menolong pada yang demikian, maka baginya adalah sesuatu keutamaan. Dan keutamaan itu menurut kadar tujuan. Dan telah jelas bahwa tiada sampai kepada kebahagiaan berjumpa dengan Allah Ta’ala di akhirat selain dengan memperoleh kasih-sayang-Nya.

Dan jinak hati kepada-Nya di dunia serta kasih sayang itu tiada akan berhasil selain dengan ma’rifah. Dan ma’rifah tidak akan berhasil selain dengan terus menerus berfikir (tafakur). Dan kejinakan hati itu tidak akan berhasil selain dengan kasih sayang dan terus menerus berdzikir. Dan tidak mudah untuk rajin kepada dzikir dan fikir selain dengan memutus cinta dunia dari dalam hati. Dan hal ini tidak akan dapat terputus selain dengan meninggalkan lezat dunia dan hawa nafsunya. Dan tidak mungkin meninggalkan hawa nafsu selain dengan mencegah syahwat. Dan nafsu syahwat tidak akan tercegah dengan sesuatu seperti tercegahnya ia dengan api ketakutan. Maka takut adalah api yang membakar syahwat. Maka keutamaan takut itu menurut kadar pembakaran nafsu syahwat, dan menurut kadar yang mencegah dari perbuatan maksiyat dan menggerakkan pada perbuatan ta’at. Dan yang demikian itu berbeda menurut berbedanya tingkat tingkat takut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar