Kelalaian yang diistilahkan sebagai junub batin. Orang yang junub adalah tidak suci dan dilarang melakukan ibadah atau memasuki masjid. Orang yang junub batin pula tercegah dari memasuki Hadrat Ilahi. Orang yang di dalam junub batin posisinya seperti orang yang berjunub lahir, di mana amal ibadahnya tidak diterima. Allah s.w.t mengancam untuk mencampakkan orang yang bersembahyang dengan lalai (Dalam keadaan junub batin) ke dalam neraka wail. Begitu hebat sekali ancaman Allah swt kepada orang yang menghadap-Nya dengan hati yang lalai.

Mengapa begitu hebat sekali ancaman Allah swt kepada orang yang lalai?

Bayangkan hati itu berupa dan berbentuk seperti rupa dan bentuk kita yang zahir. Hati yang khusyuk adalah umpama orang yang menghadap Allah swt dengan wajahnya, duduk dengan tertib, berbicara dengan sopan santun dan tidak berani mengangkat kepala di hadapan Kaisar Yang Maha Agung.

Hati yang lalai pula adalah umpama orang yang menghadap dengan belakangnya, duduk secara tak punya sopan santun, bertutur kata tidak tentu ujung pangkal dan perilakunya sangat tidak sopan. Perbuatan demikian adalah satu penghinaan terhadap martabat ketuhanan Yang Maha Mulia dan Maha tinggi. Jika raja di dunia murka dengan perbuatan demikian maka Raja kepada sekalian raja-raja lebih berhak melemparkan kemurkaan-Nya kepada hamba yang biadab itu dan layaklah jika si hamba yang demikian dicampakkan ke dalam neraka wail. Hanya hamba yang khusyuk, yang tahu bersopan santun di hadapan Tuhannya dan mengagungkan Tuhannya yang layak masuk ke Hadrat-Nya, sementara hamba yang lalai, tidak tahu bersopan santun tidak layak mendekati-Nya.

Hal yang ke empat adalah dosa-dosa yang belum ditebus dengan taubat. Ini mencegah seseorang dari memahami rahasia-rahasia yang halus-halus. Pintu ke Kekhususan Allah yang tersembunyi adalah taubat! Orang yang telah menyuci-bersihkan hatinya hanya mampu berdiri di luar pintu Rahasia Allah selagi dia belum bertobat, samalah seperti orang yang mati syahid yang belum melunasi utangnya terpaksa menunggu di luar surga. Jika dia ingin masuk ke dalam Perbendaharaan Allah swt yang tersembunyi yang mengandung rahasia yang halus-halus wajiblah bertaubat. Taubat itu sendiri merupakan rahasia yang halus. Orang yang tidak memahami rahasia taubat tidak akan mengerti mengapa Rasulullah saw yang tidak pernah melakukan dosa masih juga memohon keampunan sedangkan sekalipun beliau berdosa semuanya diampuni Allah s.w.t. Apakah Rasulullah s.a.w tidak yakin bahwa Allah swt mengampuni semua dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan beliau s.a.w (jika ada)?

Maksud taubat adalah kembali, yaitu kembali kepada Allah swt. Orang yang melakukan dosa tercampak jauh dari Allah swt. Meskipun orang ini sudah berhenti melakukan dosa malah dia sudah melakukan amal ibadah dengan banyaknya namun, tanpa taubat dia tetap tinggal berjauhan dari Allah s.w.t. Dia telah masuk ke dalam golongan hamba yang melakukan amal salih tetapi yang berjauhan bukan dekat dengan Allah swt.

Taubat yang lebih halus adalah pengayatan kalimat:
Tidak ada daya dan upaya melainkan anugerah Allah swt.
Kami datang dari Allah dan kepada Allah kami kembali.
Segala sesuatu datangnya dari Allah swt, baik persyaratan maupun perbuatan kita. Sumber yang mendatangkan segala sesuatu adalah Uluhiyah (Tuhan) dan yang menerimanya adalah ubudiyah (hamba). Apa saja yang dari Uluhiyah adalah sempurna dan apa saja yang terbit dari ubudiyah adalah tidak sempurna. Uluhiyah memasok kesempurnaan tetapi ubudiyah tidak dapat melaksanakan kesempurnaan itu. Jadi, ubudiyah berkewajiban mengembalikan kesempurnaan itu kepada Uluhiyah dengan memohon ampunan dan bertobat sebagai menampung cacat.

Segala urusan dikembalikan kepada Allah s.w.t. Semakin tinggi makrifat seseorang hamba semakin kuat ubudiyahnya dan semakin sering dia memohon ampunan dari Allah swt, mengembalikan setiap urusan kepada Allah s.w.t, sumber datangnya segala urusan.

Ketika hamba mengembalikan urusannya kepada Allah maka Allah swt sendiri yang akan mengajarkan Ilmu-Nya yang halus-halus agar kehendak hamba itu sesuai dengan Iradat Allah swt, daya hamba sesuai dengan Kudrat Allah, hidup hamba sesuai dengan Hayat Allah swt. dan pengetahuan hamba sesuai dengan Ilmu Allah swt, dengan itu jadilah hamba mendengar karena sifat Sama 'Allah swt, melihat karena sifat Basarnya Allah SWT dan berkata-kata karena kalamnya sifat Kalamnya Allah swt. Bila semuanya berkumpul pada seorang hamba maka jadilah hamba itu Insan Sirullah (Rahasia Allah s.w.t).

Tanda orang itu sudah memasuki ke dalam Sirullah, adalah orang itu sudah tidak memakai belajar dalam mengetahui sesuatu, ilmunya adalah ilmu laduni, ilmu dari sisi Allah, bukan dari guru atau pemberian sesiapa, ilmu itu dari Allah semata mata. Karena dari Allah, maka ilmu itu jadi tak berbatas, karena Allah adalah sumber segala ilmu,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar