Ingat...! kita itu ciptaan Allah....., ini jangan telepas dari ingatan kita, sedetik pun, sebagai modal dasar kepahaman dari hakikat ilmu hakikat, sir nya rahasia, rahasia di dalam sir, seumpama mobil kita beli merek avanza, kita beli langsung ada mesinnya dan berbagai kelengkapan, bukan pretelan, bahkan suara mobil itu halus kasar, sudah ada di dalam juga ac dinginnya tapi semua itu, suara mobil yang halus tidak kita temukan kalau mobil tidak dinyalakan, orang bodoh jika beli mobil gak jadi, karena tidak ada suara mesinnya, ini dengan suara mesinnya gak? tanyanya, yang jual bingung, mana suara mesinnya? kok gak ada? jadi amaliyah menghasilkan ikhlas atau ada tidaknya ikhlas itu sudah ada lengkap di dalam diri manusia itu sendiri, seperti takdir dan ketentuan dan kemana orang itu akan berjalan, sampai siapa jodohnya, anaknya berapa, dari orang itu dilahirkan dari rahim siapa, dan nanti akan dikubur di kuburan mana ketika meninggal, semua komplit ada tapi semua butuh proses kejadian, jadi kita itu ciptaan Allah, maka ikhlas di hati kita itu juga ciptaan Allah bukan ciptaan kita, itu harus dipahami.

Cuma prosesnya itu ikhlas sebagai suasana hati dan HAL sebagai Nur Ilahi yang menyinari hati yang ikhlas.
Ikhlas menjadi persiapan yang penting bagi hati menyambut kedatangan sinar Nur Ilahi. Bila Allah berkehendak memperkenalkan Diri-Nya kepada hamba-Nya maka dipancarkan Nur-Nya kepada hati hamba tersebut. Nur yang dipancar kepada hati ini bernama Nur Sir atau Nur Rahasia Allah s.w.t. Orang yang mendapatkan nur Sir, dinamakan SIRULLAH, Hati yang diterangi oleh nur akan merasakan hal ketuhanan atau mendapat tanda-tanda tentang Tuhan. Setelah mendapat pertandaan dari Tuhan maka hati pun mengenal Tuhan. Hati yang memiliki fitur atau sifat begini dikatakan hati yang memiliki ikhlas tingkat tertinggi. Tuhan berfirman untuk menggambarkan ikhlas dan hubungannya dengan makrifat:

Dan sebenarnya perempuan itu telah berkeinginan sangat kepadanya, dan Yusuf (mungkin timbul) keinginannya kepada perempuan itu kalau ia tidak menyadari kenyataan Tuhannya (tentang kejinya perbuatan zina itu).
Demikianlah (takdir Kami), untuk menjauhkan dari Yusuf hal yang tidak baik dan perbuatan yang keji, karena sesungguhnya ia dari hamba-hamba Kami yang dibersihkan dari segala dosa. (Ayat 24: Surah Yusuf)

Nabi Yusuf as adalah hamba Allah yang ikhlas. Hamba yang ikhlas berada dalam pemeliharaan dan penjagaan Allah s.w.t. Ketika dia dirangsang untuk melakukan kejahatan dan kotoran, Nur Rahasia Allah swt akan memancar di dalam hatinya sehingga dia menyaksikan dengan jelas akan tanda-tanda Allah swt dan sekaligus meleburkan rangsangan jahat tadi. Inilah tingkat ikhlas yang tertinggi yang dimiliki oleh orang arif dan hampir dengan Allah s.w.t. Mata hatinya selalu memandang kepada Allah, tidak pada dirinya dan perbuatannya. Orang yang berada di dalam makam ikhlas yang tertinggi ini selalu dalam ridha Allah baik saat beramal atau saat diam. Allah s.w.t sendiri yang memeliharanya. Allah s.w.t mengajarkan agar hamba-Nya sehubungan dengan-Nya dalam kondisi ikhlas.

Orang yang mendapatkan SIRULLAH itu selalu dalam pemeliharaan Allah dan dalam perlindungan Allah, kedekatan dirinya dengan Allah menjadi rahasia antara dirinya dengan Allah saja, Allah mengkhususkan pemeliharaannya, bahkan wali wali yang biasa atau orang yang terbuka hijabnya tak memahaminya, karena rahasia di balik rahasia, hanya orang tertentu yang dikehendaki tau akan rahasia itu, bahkan wali yang lain akan memandang remeh orang yang mendapatkan sirulloh ini, karena teramat rahasianya, sampai malaikat pun tak diijinkan oleh Allah tau rahasia hati orang ini dengan Allah. Rahasia dalam sir, benteng kerahasiaan itu dibuat oleh Allah, untuk menjaga kekasihnya ini dari serangan setan, dan dijaga dari diketahui oleh orang kebanyakan, seperti mutiara yang dibalut lumpur, seperti kesucian yang dibungkus perbuatan tercela, sebagaimana yusuf yang tetap di penjara, walau tak melakukan perbuatan tercela.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar