Hakikat diri kita sendiri atau keberadaan kita. Kita dijadikan dari tanah, maka kembalikan ia (jasad) ke tanah, yaitu ia (jasad) harus dilayani sebagai tanah sehingga tidak terkenakan tipu dayanya. Ketika kita sudah dapat membatasi pengaruh jasad maka kita hadapi pula roh kita. Roh datangnya dari Allah swt, karena roh adalah urusan Allah swt, maka kembalikan ia kepada Allah s.w.t. Bila seseorang hamba itu sudah tidak terikat lagi dengan jasad dan roh maka jadilah dia bekas yang sesuai untuk diisi dengan Allah s.w.t.

Pada awal perjalanan, seseorang pengembara spiritual membawa bersamanya sifat basyariah serta kesadaran terhadap dirinya dan alam nyata. Dia dikawal oleh kehendak, pikiran, cita-cita, angan-angan dan lain-lain. Anasir-anasir alam seperti mineral, tumbuh-tumbuhan dan hewan turut mempengaruhinya. Sejak kecil manusia ditempa dengan kehidupan yang sadar atau tidak telah menjauhi Allah, dan dilatih untuk mengedepankan kehendak nafsu, ambisi, kepentingan ego, dan arah yang digebah menuju pengajaran menjauhi Allah, belajar melakukan segala sesuatu dengan dasar kepentingan nafsu dan kesenangan, digembleng untuk mengutamakan dunia dari kepentingan akhirat yang abadi, dididik di sekolah yang untuk mengutamakan hukum dunia daripada hukum akherat, akhirnya diri pribadi menuju arah berbuat segala sesuatu berdasarkan bayaran orang, dan mengejar kedudukan dan nama, juga harta dan kekuasaan, segala sesuatu di ukur dengan itu semua, asal diri senang maka itu dinilai suatu kebenaran, lalu ukuran kebenaran diukur dengan kesenangan diri, kesenangan nafsu, ketika Pelatihan spiritual menghancurkan sifat-sifat yang keji dan memutuskan rantai pengaruh anasir-anasir alam. Maka akan terbuka cahaya sir dari Allah, ketika cahaya sir menerangi hati maka akan terlihat hijab nafsu dan akal yang membungkus hati sehingga kebenaran tidak terlihat. Akal yang ditutupi oleh kegelapan nafsu, yaitu akal yang tidak menerima pancaran nur, tunduk kepada perintah nafsu. Nafsu tidak pernah kenyang dan akal selalu ada jawaban dan alasan. Argumen akal menjadi benteng yang kokoh buat nafsu bersembunyi. Berbagai alasan akal, bermunculan tempat nafsu melakukan pembenaran atas apa yang dilakukan dengan ukuran kesenangan nafsu, segala kebenaran akan dimentahkan oleh akal, berdasarkan tidak adanya kesenangan maka tidak dianggap benar, kebenaran kemudian dikatakan benar jika ada kesenangan dunia di dalamnya, karena kebenaran nafsu ada di dalamnya, kebenaran dianggap benar jika sudah ada keuntungan dunia di dalamnya, jika tidak ada keuntungan dunia maka itu menjadi salah, Jangan memandang enteng kepada kekuatan nafsu dalam menguasai akal dan pancaindera. Al-Quran telah memberi peringatan tentang:
Nampakkah (wahai Muhammad) keburukan kondisi orang yang menjadikan hawa nafsunya: tuhan yang dipuja lagi ditaati? Maka dapatkah engkau menjadi pengawas yang menjaganya jangan sesat? Atau engkau menyangka bahwa kebanyakan mereka mendengar atau memahami (Apa yang engkau sampaikan kepada mereka)? Mereka hanyalah seperti binatang ternak, bahkan (bawaan) mereka lebih sesat lagi. (Ayat 43 & 44: Surah al-Furqaan)

Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tinggikan pangkatnya dengan (Sebab mengamalkan) ayat-ayat itu. Tapi ia mati-mati cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsu; maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya ia mengulurkan lidahnya terengah-engah, dan jika kamu membiarkannya ia juga mengulurkan lidahnya terengah-engah. Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlan kisah-kisah itu agar mereka ingin berpikir. (Ayat 176: Surah al-A'raaf)

Manusia yang menerima ayat-ayat Allah swt yang seharusnya menjadi mulia telah berubah menjadi hina karena mereka memperturutkan hawa nafsu. Ayat-ayat Allah swt yang diketahuinya memancarkan cahaya pada hati dan akalnya tetapi kegelapan nafsu membungkus cahaya itu. Di dalam kegelapan nafsu, akal mengadakan argumen bagi mendustakan ayat ayat Allah s.w.t yang dia sendiri mengetahuinya. Allah s.w.t mengadakan perbandingan yang hina bagi orang yang seperti ini. Mereka adalah umpama anjing yang tidak bisa berpikir dan tidak bermartabat. Buruk sekali pandangan Allah terhadap orang yang mempertuhankan nafsunya. Nafsu yang tidak ingin kenyang adalah umpama anjing yang selalu menjulurkan lidahnya, tidak memperdulikan bahkan diusir berkali-kali.

Allah mewahyukan ayat-ayat yang menceritakan tentang kehinaan manusia yang menerima ayat-ayat-Nya tetapi masih juga memperturutkan hawa nafsu, sehingga cerita yang demikian dapat memberi kesadaran kepada mereka. Jika mereka kembali sadar, mereka akan keluar dari kegelapan nafsu. Dipandu ayat-ayat Allah yang sudah mereka ketahui mereka akan temui jalan yang benar. Tapi jika tidak ada kesadaran hidayah, maka tingkah orang yang menuruti nafsu lebih hina daripada anjing yang hina, selalu menjulurkan lidahnya kemana saja, dan mengajak siapa saja untuk menuruti nafsu dan gila harta dan kekuasaan, kedudukan dan kemegahan, karena kebenaran diukur dengan nafsunya maka kebenaran akan menjerumuskan banyak orang yang mengikutinya, tingkah lakunya umpama anjing yang mengendus endus mencari dan melacak tapi yang dilakukan seakan umpama orang yang melakukan kebenaran, makanya anjing itu termasuk binatang yang najis, karena najisnya perbuatannya, perbuatan salahnya dianggap kebenaran yang hakiki.

Menundukkan nafsu bukanlah pekerjaan yang mudah. Seseorang itu harus kembali ke hatinya, bukan akalnya. Hati tidak akan berbohong dengan diri sendiri sekalipun akal menutupi kebenaran atas perintah nafsu. Kekuatan hati adalah ikhlas.

Maksud ikhlas yang sebenarnya adalah:
Katakanlah: "Sesungguhnya salat, ibadah, hidupku dan matiku, hanyalah untuk Allah Tuhan yang memelihara dan memelihara sekalian alam ". (Ayat 162: Surah al-An'aam)

Dalam ikhlas tidak ada kepentingan diri. Semuanya karena Allah s.w.t.
Selagi kepentingan diri tidak ditanam dalam bumi selama itu ikhlas tidak tumbuh dengan baik. Ia menjadi sempurna ketika ada diri itu sendiri ditanamkan. Bumi tempat menanamnya adalah bumi yang tersembunyi, jauh dari perhatian manusia lain. Ini adalah umpama kubur yang tidak bertanda. Nisan yang tak bernama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar