Dan bagaimana takut itu tidak memiliki keutamaan? jelas takut memiliki banyak keutamaan, bahkan keutamaannya tak terhingga, bahkan dengan takut dapat dihasilkan iffah, wara, taqwa dan mujahadah. Dan semua itu adalah perbuatan terpuji yang mendekatkan kepada Allah Ta’ala.

Adapun dengan jalan penukilan dari ayat-ayat dan hadits-hadits, maka apa yang terdapat pada keutamaan itu di luar dari hinggaan. Dan cukup bagi anda menjadi dalil tentang keutamaannya, bahwa Allah Ta’ala mengumpulkan bagi orang-orang yang takut, akan adanya petunjuk, rahmat, ilmu dan ridho. Dan itu adalah kumpulan tingkat-tingkat isi surga.

Allah Ta’ala berfirman : ”Hudan warahmatan lilladziina hum liRabbihim yarhabuun” (Al-A’raf 154)
Artinya “Petunjuk dan rahmat bagi orang – orang yang takut kepada Tuhannya”.

“Innama yakhsyaLlah min ibaadiHil Ulama” (Fathir 28)
Artinya “Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya adalah Ulama”.

“ RadhiyaLlahu ‘anhum waradhuu ‘anH dzaalika liman khasyiya Rabbah” .
Artinya, “Allah Ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada-Nya.
Yang demikian ini diperuntukkan bagi orang yang takut kepada Tuhannya. (Al-Bayyinah 8).

Apa saja yang menunjukkan keutamaan ilmu, maka itu menunjukkan kepada keutamaan takut, karena takut itu buah dari ilmu. Dan karena itulah disebut pada ucapan Musa AS “Adapun orang-orang yang takut maka bagi mereka itu Teman Yang Maha Tinggi (Ar-rafiqul a’la) yang tiada bersekutu mereka dengan orang lain”

Maka perhatikanlah bagaimana Musa AS menyendirikan mereka dengan pertemanan Ar-Rafiqul a’la itu bagi para Nabi dan orang-orang yang berhubungan (mengikuti) dengan mereka.

Dan karena itulah ketika RasuluLlah SAW disuruh memilih pada waktu beliau sakit yang membawa kepada ajal beliau, antara tetap di dunia atau datang kepada Allah Ta’ala maka beliau bersabda, “Aku memohon kepada Engkau akan Ar-Rafiq al-A’la ”.

Jadi kalau dilihat pada yang membuahkan rasa takut itu, maka ia itu ilmu.

Dan kalau dilihat pada hasilnya maka ia itu wara, dan taqwa. Dan tidak tersembunyi pada apa yang datang pada hadits tentang keutamaan keduanya. Sehingga al-‘aqibah as-shalihah (kesudahan yang baik) itu menjadi dinamakan dengan istilah taqwa yang dikhususkan dengan taqwa itu. Sebagaimanan kejadian kata al-hamdu itu dikhususkan kepada Allah Ta’ala dan shalawat itu dikhususkan kepada RasuluLlah SAW sehingga dikatakan, “Alhamdu liLlahi Rabbil ‘alamiin, wal ‘aqibatu lil Muttaqiin, washalaatu ‘ala Sayyidinaa Muhammadin ShallaLlahu ‘alaiHi wasallama wa AaliHi ajma’iin” .

Artinya “Segala pujian (al-Hamdu) bagi Allah Tuhan semesta alam, dan kesudahan yang baik itu bagi orang yang taqwa, dan shalawat serta salam itu bagi Sayyidinaa Muhammad SAW dan kepada keluarganya semua”.

Allah Ta’ala telah mengkaitkan taqwa dengan diri-Nya. Allah Ta’ala berfirman, “Lan yanalaLlaha luhuumuhaa walaa dima-uhaa walakin yanaaluhu taqwa minkum”. (Al-Hajj 37)
Artinya “Tiada akan sampai kepada Allah daging dan darahnya, akan tetapi yang sampai kepada-Nya adalah taqwa kamu sekalian.

Sesungguhnya taqwa itu ibarat dari pencegahan dari perbuatan yang tidak baik, menurut yang dikehendaki oleh takut, sebagai mana dahulu pernah diterangkan. Dan karena itulah berfirman Allah Ta’ala, “Inna akramakum ‘indaLlahi atqaakum” (al-Hujuraat 13).
Artinya” Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu sekalian di sisi Allah adalah yang paling taqwa dari kamu sekalian”.

Dan karena itulah Allah Ta’ala mewasiyatkan kepada orang-orang yang terdahulu dan kemudian dengan taqwa .

Allah Ta’ala berfirman” Walaqad washaiNal ladziina uutul kitaaba min qablikum wa iyyakum anittaquuLlaah,” (An-Nisa 131)
Artinya “Dan sungguh telah Kami wasiyatkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan demikian juga kepadamu agar bertaqwa kepada Allah”. 

Allah Ta’ala berfirman, “Wakhaafuu inkuntum mukminiin” “Dan bertaqwalah kepada Allah jika kamu termasuk orang-orang yang beriman (Ali Imran 175).

Maka Allah Ta’ala memerintahkan dengan takut, mewajibkannya, dan mensyaratkannya kepada iman. Oleh karena itu tidak tergambar bahwa orang mukmin itu lepas dari takut meskipun lemah. Dan kelemahan takutnya itu menurut kadar kelemahan ma’rifahnya dan keimanannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar