Bahwa ia mencintai karena Allah dan pada jalan Allah. Tidak untuk memperoleh daripadanya ilmu atau pekerjaan. Atau untuk dipergunakan menjadi wasilah kepada sesuatu hal, dibalik diri orang itu sendiri. Dan inilah derajat yang tertinggi! Dan itu lah yang paling halus dan yang paling kabur. Bahagian ini juga mungkin. Karena setengah dari bekas kerasnya kecintaan, ialah bahwa melampaui dari yang dicintai, kepada tiap-tiap orang yang bersangkutan dengan yang dicintai dan yang bersesuaian dengan yang dicintai, walaupun dari jauh. Maka orang yang mencintai seorang manusia dengan kecintaan yang keras, niscaya ia mencintai orang yang mencintai manusia itu. Ia mencintai orang yang dicintai oleh manusia itu. Ia mencintai orang yang melayani manusia itu. Ia mencintai orang yang dipuji oleh kecintaannya itu. Dan ia mencintai orang yang bekerja cepat untuk kesenangan kecintaannya itu. Sehingga berkata Baqiyah bin al-Walid : "Bahwa orang mu'min apabila mencintai orang mu'min, niscaya ia mencintai akan anjingnya". Dan benarlah apa yang dikatakan oleh Baqiyah itu.

Dibuktikan oleh percobaan dalam keadaan orang-orang yang sedang asyik dan maksyuk. Dan ditunjukkan kepada yang demikian, oleh syair-syair para penyair. Dan karena itulah, orang menyimpan kain dari kecintaannya dan menyembunyikannya untuk kenang-kenangan dari pihak kecintaannya itu. Dan mencintai rumah, tempat tinggal dan tetangga dari kecintaan. Sehingga ber-madahlah seorang yang mabuk cinta (majnun) dari kabilah (suku) Bani 'Amir:
"Aku lalu di hadapan rumah, rumah kecintaanku Laila. Aku menghadap ke dinding ini dan ke dinding itu Tidaklah kecintaan kepada rumah, yang melekat pada jantung hatiku. Tetapi kecintaan kepada orang, yang mendiami rumah itu . . . .

Jadi, penyaksian dan percobaan menunjukkan, bahwa kecintaan itu melampaui dari diri yang dicintai, kepada yang mengelilinginya, yang berhubungan dengan sebab-sebabnya dan yang bersesuaian dengan dia, walaupun dari jauh. Tetapi yang demikian itu, adalah dari salah satu kekhususan bersangatannya kecintaan. Maka pokok kecintaan, tidaklah mencukupi pada orang yang dicintai saja. Dan adalah meluasnya kecintaan itu pada melampauinya dari yang dicintai, kepada yang meliputi, yang mengelilingi dan yang ber- sangkutan dengan sebab-sebabnya, menurut berlebih-lebihan dan kuatnya kecintaan itu.

Dan seperti itu pulalah kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, apabila kuat dan mengeras pada hati dan menguasai padanya. Sehingga sampai kepada batas membuta tuli. Maka melampauilah kecintaan itu, kepada segala yang ada (maujud), selain Dia. Karena segala yang maujud, selain Dia, adalah bekas dari bekas qudrah-Nya. 

Dan barangsiapa mencintai seorang manusia, niscaya dicintainya akan perbuatan, tulisan dan segala pekerjaan dari manusia itu.

Dan karena itulah, Nabi saw. apabila dibawa kepadanya buah- buahan yang menjadi petikan pertama dari pohonnya, lalu beliau menyapu kedua matanya dengan buah-buahan itu dan memulia-kannya. Dan bersabda : ﺍﻧﻪ ﻗﺮﻳﺐ ﺍﻟﻌﻬﺪ ﺑﺮﺑﻨﺎ (Innahu qariibul-'ahdi birabbinaa). Artinya : "Dia baru saja dengan Rabb kita". (1.Hasan dan shahih) 

Mencintai Allah Ta'ala, sekali adalah benarnya harapan pada janji- janji-Nya dan apa yang akan teijadi di akhirat dari nikmat-Nya. Sekali, karena apa yang telah terdahulu, dari rahmat-rahmat-Nya dan bermacam-macam nikmat-Nya. Sekali, karena Dzat-Nya, tidak karena sesuatu hal yang lain. Dan inilah yang terhalus dan yang tertinggi, dari segala macam kecintaan. Dan akan datang pentahkikan (pembuktian)nya, pada "Kitab Kecintaan" dari Rubu’Al-Mun jiyat (Rubu' yang melepaskan) Insya Allahu Ta'ala. Betapapun kesepakatan kecintaan kepada Allah, maka apabila telah kuat, niscaya melampauilah kepada semua yang bersangkutan dengan Dia, dalam macam manapun sangkutan itu. Sehingga melampaui kepada apa, yang padanya menyakitkan dan tidak menyukakan pada dirinya. Tetapi berlebihan cinta itu, melemahkan perasaan sakit. Dan kegembiraan dengan perbuatan orang yang dicintai dan perbuatan itu maksudnya menyakitkan, dapat menghilangkan perasaan kesakitan itu. Dan yang demikian, seperti kegembiraan dengan pukulan yang datang dari yang dicintai atau perkataan yang menyakitkan, di mana padanya semacam perkataan yang tidak menyenangkan.

Sesungguhnya kuatnya kecintaan yang membekas kesenangan itu, menghilangkan perasaan kesakitan. Dan telah sampailah kecintaan kepada Allah bagi suatu kaum, sehingga sampailah mereka itu me­ngatakan : "Kami tidak membedakan antara bencana dan nikmat. Karena semuanya itu dari Allah. Dan tidak kami bergembira, kecuali dengan yang ada padanya kerelaan Allah". Sehingga setengah mereka mengatakan : "Aku tidak bermaksud memperoleh pengampunan Allah pada kemaksiyatan kepada Allah".

Samnun bermadah : Tidaklah bagiku, bahagian pada selain Engkau. Maka bagaimanapun kehendak-Mu, cobakanlah kepadaku ".

Dan akan datang pentahkikan yang demikian, pada Kitab Kecintaan. Dan yang dimaksud, ialah : bahwa kecintaan kepada Allah apabila telah kuat, niscaya membuahkan kecintaan kepada tiap-tiap orang yang berdiri dengan hak peribadatan kepada Allah, mengenai pengetahuan atau amalan. Dan membuahkan kecintaan kepada tiap-tiap orang yang ada padanya, sifat yang direlai Allah, dari kelakuan yang baik atau beradab dengan adab-adab agama. Dan tidaklah dari seorang mu'min yang mencintai akhirat dan mencintai Allah, melainkan apabila diterangkan kepadanya, tentang hal dua orang. Yang seorang alim abid, dan yang seorang lagi jahil fasiq. Maka ia memperoleh pada dirinya, kecondongan kepada orang alim yang abid. Kemudian kecondongan itu lemah dan kuat, menurut kelemahan dan kekuatan imannya. Dan menurut kelemahan dan kekuatan cintanya kepada Allah. Dan kecondongan itu diperoleh, walaupun kedua orang itu jauh daripadanya, dimana ia mengetahui, bahwa dia tidak akan memperoleh dari kedua orang tersebut, kebajikan atau kejahatan, baik di dunia atau di akhirat.

Maka kecondongan itu, ialah kecintaan kepada Allah dan karena Allah, tanpa memperoleh bahagian apa-apa. Sesungguhnya ia mencintai orang itu, karena Allah mencintainya. Dan karena orang itu memperoleh kerelaan pada sisi Allah Ta'ala. Dan karena ia mencintai Allah Ta'ala. Dan ia selalu beribadah kepada Allah Ta'ala. Kecuali, apabila kecintaan itu lemah, niscaya bekasnya tidak menampak dan tidak lahir padanya pembalasan dan pahala. Apabila kecintaan itu kuat, niscaya membawa kepada berkawan, tolong-menolong, memelihara jiwa, harta dan lidah. Dan manusia berlebih-kurang padanya, menurut berlebih-kurangnya mereka mencintai Allah Azza wa Jalla. Dan adalah kalau kecintaan itu terbatas, kepada memperoleh bahagian yang akan diperoleh dari yang dicintai, baik sekarang atau pada masa yang akan datang, niscaya tidaklah tergambar mencintai orang-orang yang telah me- ninggal, dari alim 'Ulama, abid-abid, para shahabat dan tabi'in. Bahkan juga nabi-nabi yang telah silam, kiranya rahmat dan sejahtera daripada Allah berkekalan kepada mereka sekalian. Dan kecintaan kepada semua mereka itu, adalah tersembunyi dalam hati tiap-tiap muslim yang beragama.

Yang demikian itu, jelas dengan marahnya, ketika musuh-musuh mencaci salah seorang dari mereka yang tersebut tadi dan dengan senangnya ketika mereka mendapat pujian dan disebutkan kebaikan-kebaikan mereka. Semuanya itu adalah kecintaan karena Allah. Karena mereka, adalah hamba-hamba Allah yang tertentu. Barangsiapa mencintai seorang raja atau seorang yang baik, niscaya ia mencintai pembantu-pembantu dan pelayan-pelayannya. Dan mencintai orang-orang yang dicintai oleh raja atau orang yang baik tadi. Kecuali dia itu menguji akan kecintaannya dengan timbal-balik dengan segala bahagian untuk dirinya. Kadang-kadang mengeras, di mana tidak tinggal bagi dirinya bahagian, selain pada yang menjadi bahagian bagi yang dicintai.

Dan tentang itu, bersajaklah orang yang bersajak :
Aku mau bersilaturrahmiy, ia mau meninggalkan aku.
Lalu aku tinggalkan apa yang aku kehendaki, untuk apa yang ia mau".

Dan berkatalah orang yang mengatakan :
"Apalah luka itu apabila telah menyenangkan bagimu kesakitan."

Kadang-kadang kecintaan itu, ditinggalkan sebahagian dan tinggal lagi sebahagian. Seumpama : orang yang diperbolehkan oleh jiwa-nya untuk menyerahkan kepada kekasihnya, setengah hartanya atau sepertiganya atau sepersepuluhnya. Maka menurut jumlah harta yang diserahkan itu, adalah menjadi timbangan kecintaannya. Karena tidak diketahui tingkat kecintaan itu, melainkan dengan kecintaan yang ditinggalkan sebagai timbal baliknya. Maka orang yang tenggelam dalam kecintaan dengan seluruh jiwanya, niscaya tidaklah tinggal baginya lagi, kecintaan yang lain. Maka tidaklah ditahan untuk dirinya sesuatu, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. Beliau tidak meninggalkan lagi untuk dirinya sendiri, baik keluarga atau harta. Maka diserahkannya puterinya yang menjadi jantung hatinya dan diberikannya semua hartanya.

Ibnu 'Umar ra. berkata :
"Sewaktu Rasulullah saw. sedang duduk dan di sisinya Abu Bakar dengan memakai baju kemeja panjang, yang telah koyak pada dadanya beberapa lobang, tiba-tiba turun Jibril as. Maka Jibril as. menyampaikan salam sejahtera daripada Allah kepada Nabi dan mengatakan :
"Wahai Rasulullah! Mengapakah saya melihat Abu Bakar dengan memakai baju kemeja panjang, yang telah koyak pada dadanya beberapa lobang?".

Nabi saw. menjawab : "Beliau telah membelanjakan hartanya kepadaku sebelum penaklukan Makkah".

Jibril menyambung: "Sampaikanlah salam sejahtera daripada Allah kepadanya dan katakanlah kepadanya : 'Tuhanmu bertanya kepadamu
: 'Adakah engkau rela dari-Ku tentang kemiskinanmu ini atau engkau marah?'".

Ibnu 'Umar ra. menerangkan seterusnya :
Lalu Nabi saw. berpaling kepada Abu Bakar dan bersabda :
Wahai Abu Bakar! Inilah Jibril yang membacakan kepadamu salam sejahtera daripada Allah dan berfirman : 'Adakah engkau rela dari-Ku tentang kemiskinanmu ini atau engkau marah?'".

Ibnu 'Umar meneruskan ceriteranya :
Maka menangislah Abu Bakar ra. seraya berkata : "Adakah aku marah kepada Tuhanku? Aku rela kepada Tuhanku, aku rela kepada Tuhanku!". Maka dapatlah diambil kesimpulan dari ini, bahwa tiap-tiap orang yang mencintai orang alim atau orang abid atau mencintai orang yang menggemari ilmu atau ibadah atau kebajikan, maka sesungguhnya ia mencintai orang yang tersebut tadi, pada jalan Allah dan karena Allah. Dan ia memperoleh pahala dan pembalasan, menurut kekuatan kecintaannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar