Anasir alam dan sekalian peristiwa yang terjadi merupakan perutusan yang membawa kabar tentang Allah s.w.t. Kabar itu bukan didengar dengan telinga atau dilihat dengan mata atau dipikir dengan akal. Ini adalah kabar ghaib yang menyentuh jiwa. Sentuhan tangan gaib pada jiwa itulah yang membuat hati mendengar tanpa telinga, melihat tanpa mata dan merenung tanpa akal pikiran. Hati hanya mengerti setiap perutusan yang disampaikan oleh tangan gaib kepadanya dan hati menerimanya dengan yakin. Keyakinan itu menjadi kunci ke telinga, mata dan akal.

Bila kuncinya telah dibuka, segala suara alam yang didengar, sekalian anasir alam yang terlihat dan seluruh alam maya yang direnungi akan membawa cerita tentang Tuhan.

Abid mendengar, melihat dan merenungi Keperkasaan Tuhan. Asyikin mendengar, melihat dan merenungi keindahan Tuhan. Muttakhaliq mendengar, melihat dan merenungi kebijaksanaan dan kesempurnaan Tuhan. Muwahhid mendengar, melihat dan merenungi keesaan Tuhan.

Yaitu hari mereka keluar (dari kubur masing-masing) dengan jelas nyata; tidak akan tersembunyi kepada Allah sesuatupun dari hal kondisi mereka. (Pada saat itu Allah berfirman): "Siapa yang menguasai pemerintah pada hari ini? "(Allah sendiri menjawab):" Dikuasai oleh Allah Yang Maha Esa, lagi Yang Maha Mengatasi kekuasaan-Nya segala sesuatu! "(Ayat 16: Surah Mu'min)

Mereka telah mendustakan ayat-ayat Kami semuanya, lalu Kami timpakan siksaan kepada mereka sebagai balasan dari Yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa. (Ayat 42: Surah al-Qamar)

Ayat-ayat seperti yang di atas menggetarkan jiwa abid. Hati abid sudah 'Berada' di akhirat. Alam dan kehidupan ini menjadi ayat-ayat atau tanda-tanda untuknya melihat kondisi dirinya di akhirat kelak, menghadap Tuhan Yang Esa, Maha Perkasa, tidak ada sesuatu yang tersembunyi dari-Nya.

Dialah yang telah menciptakan tujuh langit yang berlapis-lapis; engkau tidak dapat melihat pada ciptaan Allah Yang Maha Pemurah itu setiap kondisi yang tidak seimbang dan tidak wajar; (Jika engkau ragu-ragu) maka ulangi pandangan (mu) - dapatkah engkau melihat setiap cacat? Kemudian ulangilah pandangan (mu) berkali-kali, niscaya pandangan (mu) itu akan kembali kepadamu dengan hampa (Dari melihat setiap cacat), sedang ia pula keadaan lemah lesu (karena habis energi dengan sia-sia). (Ayat 3 & 4: Surah al-Mulk)

Asyikin memandang ke alam ciptaan dan dia mengulang-ulangi pemandangannya. Semakin dia memandang ke alam semakin dia melihat ke keelokan dan kesempurnaan pencipta alam. Dia asyik dengan apa yang dipandangnya. Dialah Allah, Yang Menciptakan semua makhluk; Yang Mengadakan (dari tiada ke ada); Yang Membentuk rupa (makhluk-makhluk-Nya menurut yang dikehendaki-Nya); bagi-Nya-lah nama-nama yang sebaik-baiknya dan semulia-mulianya; bertasbih kepada-Nya segala yang ada di langit dan di bumi; dan Dialah Yang tidak ada tuluk banding-Nya lagi Maha Bijaksana. (Ayat 24: Surah al-Hasyr )

Muttakhaliq menyaksikan sifat-sifat Tuhan yang dikenal dengan nama-nama yang baik. Alam adalah perutusan untuknya mengetahui nama-nama Allah s.w.t dan sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Setiap yang dipandang menceritakan sesuatu tentang Allah s.w.t.

Sesungguhnya Akulah Allah; tiada Tuhan melainkan Aku; oleh itu sembahlah akan Daku, dan dirikan shalat untuk mengingat Aku. (Ayat 14: Surah Taha)

Muwahhid fana dalam Zat. Kesadaran dirinya hilang. Melalui lidahnya muncul ucapan-ucapan seperti ayat di atas. Dia mengucapkan ayat-ayat Allah s.w.t, bukan dia berubah menjadi Tuhan.

Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan yang memelihara dan memelihara sekalian alam. Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang Menguasai pemerintahan hari Pembalasan (hari Akhirat). Engkaulah (Ya Allah) yang kami sembah, dan kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang Engkau telah berikan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) orang-orang yang Engkau telah murkai, dan bukan pula (jalan) orang-orang yang sesat. (Ayat 1 - 7: Surah al-Faatihah)

Mutahaqqiq kembali kepada kesadaran keinsanan untuk memikul tugas membimbing umat manusia ke jalan Allah s.w.t. Hatinya selalu memandang kepada Allah swt dan tergantung kepada-Nya. Kehidupan ini adalah medan dakwah baginya. Segala anasir alam adalah alat untuk dia memakmurkan bumi dengan dakwah, membangun amal sebanyaknya, karena apa saja yang dipandang akan kelihatanlah Allah di sampingnya atau sebelumnya atau sesudahnya, maka dakwahnya tidak memaksa, tidak mengajak, tidak mempengaruhi, tapi mengalir, memasuki setiap hati, kadang dengan diam atau bicara, sebenarnya tidak ada bedanya, karena apa juga semuanya di kehendaki Allah, hidayah dan petunjuk dari Allah semata, yang membolak balikkan hati juga Allah, yang menyesatkan juga Allah, jika Allah menghendaki kesesatan tak ada yang bisa menolong, karena dakwah dilakukan seperti itu maka dakwah itu bersifat seperti air mengalir, ada yang tersentuh air tapi tak bergeming, ada yang tersentuh air lalu jadi basah, dan ada yang tersentuh air lalu menolak, ada yang tersentuh air lalu menerima air masuk ke dalam, semua itu tak menyebabkan air lantas berhenti mengalir, air mengalir juga Allah yang menghendaki, jika Allah menghendaki mengalir maka akan mengalir, jika tidak menghendaki mengalir maka akan berhenti mengalir. Penolakan atau penerimaan tak merubah dakwah berhenti. Sebab dakwah itu disandarkan pada Allah, di depan ada kehendak Allah, di tengah ada pertolongan dan ijin Allah, di belakang ada pahala Allah atas segala amal kebaikan. Dan ada kehendak Allah semuanya terjadi, jadi orang yang sudah melewati fase makrifat itu tidak sedih karena tidak ada yang mengikuti, dan tidak bahagia karena diikuti.

Bila Nur Ilahi menerangi hati apa saja yang dipandang akan kelihatanlah Allah di sampingnya atau sebelumnya atau sesudahnya. artinya, orang yang masih tidak memandang segala sesuatu kembali pada Allah, yang suka menyalahkan dan suka memfitnah, iri, dengki, menyalahkan keadaan di dunia ini, itu tandanya tak ada nur ilahi di dalam hatinya sama sekali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar