Ahwal adalah jamak dari perkataan hal. Hikmat ini membawa erti hal membentuk keadaan amal. Amal adalah perbuatan atau kelakuan lahiriah dan hal adalah suasana atau kelakuan hati atau perbuatan hati. Amal berkaitan dengan lahiriah manakala hal berkaitan dengan batiniah. Oleh kerana hati menguasai sekalian anggota maka kelakuan hati yaitu hal menentukan bentuk amal yaitu perbuatan lahiriah.

Dalam pandangan tasauf, hal diartikan sebagai pengalaman rohani dalam proses mencapai hakikat dan makrifat. Hal merupakan zauk atau rasa yang berkaitan dengan hakikat ketuhanan yang melahirkan makrifatullah (pengenalan tentang Allah s.w.t). Oleh itu, tanpa hal tidak ada hakikat dan tidak diperoleh makrifat. Ahli ilmu membina makrifat melalui dalil ilmiah tetapi ahli tasauf bermakrifat melalui pengalaman tentang hakikat.

Sebelum memperolehi pengalaman hakikat, ahli kerohanian terlebih dahulu memperolehi kasyaf yaitu terbuka keghaiban kepadanya. Ada orang mencari kasyaf yang dapat melihat makhluk ghaib seperti jin. Dalam proses mencapai hakikat ketuhanan kasyaf yang demikian tidak penting. Kasyaf yang penting adalah yang dapat mengenali tipu daya syaitan yang bersembunyi dalam berbagai-bagai bentuk dan suasana dunia ini. Kasyaf yang menerima hakikat sesuatu, walau apa jua rupa yang dihadapi, penting bagi pengembara kerohanian. 

Rasulullah s.a.w sendiri sebagai ahli kasyaf yang paling unggul hanya melihat Jibrail a.s dalam rupanya yang asli dua kali saja, walaupun pada setiap kali Jibrail a.s menemui Rasulullah s.a.w dengan rupa yang berbeda-beda, Rasulullah s.a.w tetap mengenalinya sebagai Jibrail a.s. Kasyaf yang seperti inilah yang diperlukan agar seseorang itu tidak tertipu dengan tipu daya syaitan yang menjelma dalam berbagai-bagai rupa yang hebat dan menawan sekalipun, seperti rupa seorang yang kelihatan alim dan warak. Sebab dalam prakteknya ketika seseorang memasuki kegaiban terbukanya hijab, maka tipu daya di dalamnya amat banyak, makanya dibutuhkan guru yang menjelaskan, dengan tipuan tipuan di dalam perjalanan, agar tak sesat menganggap iblis sebagai wali, atau menganggap setan sebagai para nabi yng menemui, dan memberikan arahan. Di situlah peran guru akan memberikan penjelasan dengan cara setiap guru berbeda, agar murid atau salik tak salah dan tertipu dan tertawan oleh tipu daya setan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar