Agak sulit untuk memahami konsep ada tapi tidak ada, tidak ada bersama tetapi tidak berpisah. Karena manusia terjebak oleh rasa, dan logika, sedang rasa itu selalu yakin dengan yang dirasakan, dan logika selalu terpenjara oleh keterbatasan panca indra yang terbatas pada apa yang dirasa, dilihat dan didengar. Inilah konsep ketuhanan yang tidak mampu dipecahkan oleh akal tanpa penerangan nur yang dari lubuk hati. Mata hati yang diterangi oleh Nur ilahi dapat melihat relevansi antara ada dengan tidak ada, tidak bersama tetapi tidak berpisah. Atas kekuatan hatinya menerima sinar Nur Ilahi menentukan kekuatan mata hatinya melihat kepada keghaiban yang tidak berpisah dengan kejadian alam ini.

Ada 4 tingkatan pandangan mata hati terhadap relevansi alam dengan Allah swt yang menciptakan alam.

1. Mereka yang melihat Allah dan tidak melihat alam ini. Mereka adalah umpama orang yang hanya melihat ke api, lingkaran api yang khayali tidak menyilaukan pandangannya. Meskipun mereka berada di tengah-tengah kesibukan makhluk namun, mata hati mereka tetap terkonsentrasi kepada Allah swt, tidak terganggu oleh kesibukan makhluk. Lintasan makhluk hanyalah umpama cermin yang ditembus cahaya. Pandangan mereka tidak melekat pada cermin itu.

2. Mereka yang melihat makhluk pada zahir tetapi Allah swt pada batin. Mata hati mereka melihat alam sebagai pengungkapan sifat-sifat Allah swt. Segala yang maujud merupakan kitab yang menceritakan tentang Allah s.w.t. Tiap satu keberadaan alam ini membawa sesuatu makna yang menceritakan tentang Allah s.w.t.

3. Mereka yang melihat Allah pada zahirnya sementara makhluk tersembunyi. Mata hati mereka terlebih dahulu melihat Allah sebagai Sumber kepada segala sesuatu, kemudian barulah mereka melihat makhluk yang menerima karunia dari-Nya. Alam tidak lain melainkan perbuatan-Nya, gubahan-Nya, lukisan-Nya atau hasil kerja tangan-Nya.

4. Mereka yang melihat makhluk terlebih dahulu kemudian barulah melihat Allah s.w.t. Mereka memasuki jalan berhati-hati dan waspada, membutuhkan waktu untuk menghilangkan keraguan, berdalil dengan akal sampai kesudahannya jelaslah akan Allah yang Wujud-Nya menguasai wujud makhluk.

Selain yang disebutkan di atas tidak lagi disebut orang yang melihat Allah s.w.t. Gambar-gambar alam, syahwat, kelalaian dan dosa menggelapkan cermin hati mereka sampai tidak mampu menangkap cahaya yang menyebabkan makrifat. Mereka gagal untuk melihat Allah s.w.t sama ada di dalam sesuatu, di samping sesuatu, sebelum sesuatu atau sesudah sesuatu. Mereka hanya melihat makhluk tampaknya makhluk berdiri dengan sendiri tanpa campur tangan Tuhan. Sehingga orang yang gagal melihat Allah ada di dalam sesuatu, di samping sesuatu, sebelum sesuatu atau sesudah sesuatu, maka orang itu akan buta mata hatinya, telinga batinnya, penilaian batinnya, jika melihat pada keberhasilan orang lain, akan timbul sifat dengki dan iri hati, karena tidak melihat pada anugerah Allah di balik keberhasilan, jika melihat kejatuhan orang lain maka akan timbul suka atau prihatin, karena tidak melihat ujian, dan ijin Allah pada apa saja yang terjadi, dan ketika mendapatkan kesenangan maka akan timbul kebahagiaan yang berlebih dan merayakan dengan perbuatan sia-sia, dan ketika mendapatkan musibah akan menyalahkan orang lain atau dirinya, juga benda-benda di sekitarnya, ketidak ada makrifat dalam dirinya pada Allah, telah menyekat pandangan dan pendapatnya hanya pada apa yang bisa dilihat dengan mata telanjangnya, dan pada apa yang didengarnya saja, menunjukkan hati orang itu dijadikan buta mata hatinya. Sehingga orang seperti itu akan banyak bicaranya, tapi ngawur karena hanya berpedoman pada pandangan dan pendengaran lahir, padahal lisan orang lain itu tak bertulang, dan apa yang didengar itu bukan acuan kebenaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar