Ada orang yang mendapatkan hal sekali saja dan dikuasai oleh hal dalam tempuh yang tertentu saja dan ada juga yang langgeng di dalam hal.

Hal yang berkelanjutan atau abadi dinamakan wisal yaitu penyerapan hal secara berkelanjutan, tetap atau baqa. Orang yang mencapai wisal akan terus hidup dengan cara hal yang berkenaan. Hal-hal (ahwal) dan wisal dapat dibagi menjadi lima jenis:

1. Abid:
Abid adalah orang yang dikuasai oleh hal atau zauk yang membuat dia merasakan secara bersangatan bahwa dirinya hanyalah seorang hamba yang tidak memiliki apa-apa dan tidak memiliki daya dan upaya untuk melakukan sesuatu. Kekuatan, kemampuan, bakat dan apa saja yang ada dengannya adalah daya dan upaya yang dari Allah s.w.t. Semuanya itu adalah karunia-Nya semata-mata. Allah s.w.t sebagai Pemilik yang sebenarnya, ketika Dia memberi, maka Dia berhak mengambil kembali pada setiap saat yang Dia kehendaki. Seorang abid benar-benar bersandar kepada Allah swt hinggakan jika dia melepaskan cadangan itu dia akan jatuh, tidak berdaya, tidak bisa bergerak, karena dia benar-benar melihat dirinya kehilangan apa yang datangnya dari Allah swt. Hal atau suasana yang menguasai hati abid itu akan melahirkan amal atau kelakuan sangat kuat beribadat, tidak memperdulikan dunia dan isinya, tidak berpartisipasi dalam urusan orang lain, sangat takut berjauhan dari Allah s.w.t dan gemar sendirian. Dia merasakan apa saja yang selain Allah akan menjauhkan dirinya dari Allah swt.

2. Asyikin:
Asyikin adalah orang yang mendapat asyik dengan sifat Keindahan Allah s.w.t. Rupa, bentuk, warna dan ukuran tidak menjadi soal kepadanya karena apa saja yang dilihatnya menjadi cermin yang dia melihat Keindahan serta Keelokan Allah s.w.t di dalamnya. Amal atau perilaku asyikin adalah gemar merenung alam maya dan memuji Keindahan Allah pada apa yang disaksikannya. Dia bisa duduk menikmati keindahan alam beberapa jam tanpa merasa jemu. Kilauan ombak dan titikan hujan memukau pandangan hatinya. Semua yang terlihat adalah warna Keindahan dan Keelokan Allah s.w.t. Orang yang menjadi asyikin tidak memperdulikan lagi adab dan peraturan masyarakat. Kesadarannya bukan lagi pada alam ini. Dia memiliki alamnya sendiri yang di dalamnya hanyalah Keindahan Allah s.w.t.

3. Muttakhaliq:
Muttakhaliq adalah orang yang mencapai yang Haq dan berubah sifatnya. Hatinya dikuasai oleh suasana qurbi Faraidh atau qurbi nawafil. Dalam Qurbi Faraidh, muttakhaliq merasakan dirinya adalah alat dan Allah swt menjadi Pengguna alat. Dia melihat perbuatan atau kelakuan dirinya terjadi tanpa dia merancang dan campur tangan, bahkan dia tidak mampu mengubah apa yang mau terjadi pada kelakuan dan perbuatannya. Dia menjadi orang yang berpisah dari dirinya sendiri. Dia melihat dirinya melakukan sesuatu perbuatan seperti dia melihat orang lain yang melakukannya, yang dia tidak berdaya mengendalikan atau mempengaruhinya.

Hal qurbi Faraidh adalah dia melihat bahwa Allah melakukan apa yang Dia kehendaki. Perbuatan dia sendiri adalah gerakan Allah, dan diamnya juga adalah gerakan Allah s.w.t. Orang ini tidak memiliki kehendak sendiri, tidak ada ikhtiar dan pemerintahan. Apa yang mengenai dirinya, seperti perkataan dan perbuatan, terjadi secara spontan. Perilaku atau amal qurbi Faraidh adalah campuran di antara logika dengan tidak logis, menurut adat dengan merombak adat, perilaku alim dengan jahil.

Dalam banyak hal penjelasan yang dapat diberikannya adalah, "Tidak tahu! Allah s.w.t berbuat apa yang Dia kehendaki ".

Dalam suasana qurbi nawafil pula muttakhaliq melihat dengan mata hatinya sifat-sifat Allah yang menguasai bakat dan kemampuan pada sekalian anggotanya dan dia menjadi pelaku atau pengguna sifat tersebut, yaitu dia menjadi khalifah dirinya sendiri. Hal qurbi nawafil adalah berbuat dengan izin Allah karena Allah menganugerahkan kepadanya kemampuan untuk berbuat sesuatu. Contoh qurbi nawafil adalah perilaku Nabi Isa as yang membentuk rupa burung dari tanah liat lalu menyuruh burung itu terbang dengan izin Allah swt, juga perilakunya as menyeru orang mati supaya bangkit dari kuburnya. Nabi Isa a.s melihat sifat-sifat Allah yang diizinkan menjadi bakat dan kemampuan beliau as, sebab itu beliau as tidak ragu-ragu untuk menggunakan bakat tersebut membuat burung dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah swt

4. Muwahhid:
Muwahhid fana dalam zat, zatnya lenyap dan Zat Mutlak yang menguasainya. Hal bagi muwahhid adalah dirinya tidak ada, yang ada hanya Allah s.w.t. Orang ini telah putus hubungannya dengan kesadaran basyariah dan sekalian maujud. Perilaku atau amalnya tidak lagi seperti manusia biasa karena dia telah terlepas dari sifat-sifat kemanusiaan dan kemakhlukan. Misalkan dia bernama Abdullah, dan jika ditanya kepadanya di manakah Abdullah, maka dia akan menjawab Abdullah tidak ada, yang ada hanyalah Allah! Dia benar-benar telah lenyap dari ke'Abdullah-an 'dan benar-benar dikuasai oleh ke'Allah-an '. Ketika dia dikuasai oleh hal dia terlepas dari beban hukum syariah. Dia mungkin meneriakkan, "Akulah Allah! Maha Suci Aku! Sembahlah Aku! "Dia telah fana dari 'aku' dirinya dan dikuasai oleh keberadaan 'Aku Hakiki'. Walau bagaimana pun sikap dan kelakuannya dia tetap dalam keridhaan Allah s.w.t. Bila dia tidak dikuasai oleh hal, kesadarannya kembali dan dia menjadi anggota syariat yang taat. Butuh diketahui bahwa hal tidak bisa dibuat-buat dan orang yang dikuasai oleh hal tidak mampu menahannya. Ahli hal karam dalam lakuan Allah s.w.t. Bila dia berteriak, "Akulah Allah!" Bukan berarti dia mengaku telah menjadi Tuhan, namun dirinya telah fana, apa yang terucap melalui lidahnya sebenarnya adalah dari Allah s.w.t. Allah s.w.t yang mengatakan Dia adalah Tuhan dengan menggunakan lidah muwahhid yang sedang fana itu. Berbeda pula golongan mulhid. Si mulhid tidak dikuasai oleh hal, tidak ada zauk, tetapi berperilaku dan berbicara seperti orang yang di dalam zauk. Orang ini dikuasai oleh ilmu tentang hakikat bukan mengalami hakikat secara zauk. Si mulhid membuang syariat serta beriman berdasarkan ilmu semata-mata. Dia puas berbicara tentang iman dan tauhid tanpa beramal menurut tuntutan syariat. Orang ini berbicara sebagai Tuhan sedangkan dia di dalam kesadaran kemanusiaan, masih gelojoh dengan keinginan hawa nafsu. Orang-orang sufi sepakat mengatakan bahwa siapa yang mengatakan, "Ana al-Haq!" sedangkan dia masih sadar tentang dirinya maka orang tersebut adalah sesat dan kafir!

5. Mutahaqqiq:
Mutahaqqiq adalah orang yang setelah fana dalam zat turun kembali ke kesadaran sifat, seperti yang terjadi pada nabi-nabi dan wali-wali demi melaksanakan amanat sebagai khalifah Allah di atas muka bumi dan kehidupan dunia yang wajib dikelola. Dalam kesadaran zat seseorang tidak keluar dari khalwatnya dengan Allah SWT dan tidak peduli tentang keruntuhan rumah tangga dan kehancuran dunia seluruhnya. Sebab itu orang yang demikian tidak dapat dijadikan pemimpin. Dia harus turun kepada kesadaran sifat barulah dia bisa memimpin orang lain. Orang yang telah mengalami kefanaan dalam zat kemudian disadarkan dalam sifat adalah benar-benar pemimpin yang ditunjuk oleh Allah swt menjadi Khalifah-Nya untuk memakmurkan makhluk Allah dan memimpin umat manusia menuju jalan yang diridhai Allah s.w.t. Orang inilah yang menjadi ahli makrifat yang sejati, anggota fakta yang sejati, anggota tarekat yang sejati dan ahli syariat yang sejati, berkumpul padanya dalam satu kesatuan yang menjadikannya Insan Rabbani. Insan Rabbani tingkat tertinggi adalah para nabi-nabi dan Allah karuniakan kepada mereka maksum, sementara yang tidak menjadi nabi ditunjuk sebagai wali-Nya yang diberi perlindungan dan pemeliharaan.

Ahwal (hal-hal) yang menguasai hati nurani berbeda-beda, dengan itu akan memicu perilaku amal yang berbeda-beda. Ahwal harus dipahami dengan sebenar-benarnya oleh orang yang memasuki latihan tarekat spiritual, sehingga dia mengetahui, dalam amal yang bagaimanakah dia mendapatkan kedamaian dan mencapai maksud dan tujuan, apakah dengan shalat, zikir atau puasa. Dia harus berpegang sungguh-sungguh kepada amal yang dipicu oleh hal tadi, agar dia cepat dan aman sampai ke puncak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar