Seperti orang yang terpukau dengan tulisan yang indah, itu karena pena yang mahal, lalu dia berusaha mencari kemana pena terbaik dan terbagus bisa ditemu.
Bahkan dia mendatangi gunung, gua, samudera, dan sungai-sungai mungkin pena itu tersembunyi di bawah akar, atau di balik batu, atau di sebalik tekad ambisi yang membaja.
Padahal tulisan yang indah itu karena tiupan cahaya dari lubuk hati, yang bening memancarkan pancaran suci, kilauannya memukau mata, sama sekali bukan kandungan atau apa isi tulisannya.
Tapi sebenarnya karena keikhlasan tak mengharap apa-apa.

Lalu cahaya itu sebagaimana air bening yang menetes, dan melubangkan kerasnya hati yang membatu.
Bukan datang sebagai palu untuk meremukkannya,
Juga bukan untuk membentuk batu selembut roti, agar bisa dinikmati sesuap-sesuap, ditemani kopi.
Tapi menjadikan batu itu tetap batu, tapi menyadari kebatuannya.
Menjadikan tanah itu tetap sebagai tanah, dan rahasia kesuburan yang ada di dalamnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar