Cinta Ilahi tidak akan hidup sehinggalah musuhnya, yaitu hawa nafsu badaniahmu, mati dan meninggalkanmu.

Mula-mulanya kamu mesti bebas dari egomu yang menggiringmu pada kejahatan. Kemudian kamu akan mulai memiliki suara hati yang belum penuh, walaupun kamu masih belum bebas sepenuhnya daripada dosa. Kamu akan memiliki perasaan mengkritik diri sendiri – tetapi belum mencukupi. Kamu mesti melepasi tahap tersebut kepada peringkat di mana hakikat yang sebenarnya dibukakan kepadamu, kebenaran tentang benar dan salah. Kemudian kamu akan berhenti melakukan kesalahan dan akan hanya melakukan kebaikan. Kehendak dan tujuan akan ditarik kepada kebaikan saja, dan menolak pada kesalahan karena bisa terbacanya, ini salah, oh ini benar, itu namanya bisa membedakan kesalahan dan kebenaran, karena ego sudah tidak lagi mengemuka, kalau ego masih mengemuka maka ukuran benar dan salah masih memakai ukuran, kalau diri benar kalau nafsu senang dianggap benar kalau nafsu atau diri tak senang dianggap salah, patokan seperti itu akan mulai hilang, dan kebenaran dan kesalahan bukan lagi pendapat diri, tapi dari petunjuk rasa, kalau ini adalah kebenaran, kalau ini adalah kesalahan melihat aspek dan akibat yang ditimbulkan.

Dengan demikian diri kamu akan menjadi bersih. Di dalam menentang hawa nafsu dan tarikan kesenangan badanmu, kamu mestilah melawan nafsu kehewanan – kerakusan, terlalu banyak tidur, banyak melamun, banyak nganggur tak melakukan apa-apa yang ada Allah di dalam apa yang kita lakukan, pekerjaan yang sia-sia – dan menentang sifat-sifat hewan liar di dalam dirimu – yaitu sifat kekejian, marah, kasar, ingin menang, kuat, sakti dan suka berkelahi. Kemudian kamu mesti usahakan membuang perangai-perangai ego yang jahat, takabur, sombong, dengki, dendam, tamak, benci, menyalahkan, ujub, bangga diri, serakah, kuasa, ingin dihormati dll penyakit tubuh dan hatimu. Cuma orang yang berbuat demikian yang benar-benar bertaubat dan menjadi bersih, suci murni dan tulen. “Sesungguhnya Allah kasih kepada orang yang bertaubat dan memelihara kesuciannya”. (Surah Baqarah, ayat 222).

Dalam melakukan taubat seseorang itu mestilah mengambil perhatian supaya penyesalannya tidak samar-samar dan tidak juga secara umum agar dia tidak jatuh ke dalam ancaman Allah: “Tidak kira berapa banyak mereka bertaubat mereka tidak sebenarnya menyesal. Taubat mereka tidak diterima”.

Ini ditujukan kepada mereka yang hanya mengucapkan kata-kata taubat tetapi tidak tahu sejauh mana dosa mereka, malah tidak mengambil tindakan pembaikan dan pencegahan. Itulah taubat yang biasa, taubat zahir yang tidak menusuk kepada puncak dosa. Ia adalah umpama orang yang membersihkan rumput dengan memotong bagian di atas tanah tetapi tidak mencabut akarnya yang di dalam bumi. Tindakan yang demikian membantu rumput untuk tumbuh dengan lebih segar. Orang yang bertaubat dengan mengetahui kesalahannya dan puncak kesalahan itu berjanji dengan hatinya sendiri tidak mengulanginya dan membebaskan dirinya daripada kesalahan itu, mencabut akar pokok yang merusakkan itu. Cangkul yang digunakan untuk menggali akarnya, puncak kepada dosa-dosa, ialah pengajaran kerohanian daripada guru yang benar. Tanah mestilah dibersihkan sebelum ditanam tanaman ilmu yang bermanfaat.

“Dan Kami bawakan perumpamaan kepada manusia supaya mereka memikirkannya”. (Surah Hasyr, ayat 21).

“Dia jualah Penerima taubat hamba-hamba-Nya dan mengampunkan dosa, dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Surah Syura, ayat 25).

“Kecuali orang yang bertaubat dan beriman dan mengerjakan amal salih, maka mereka itu Allah tukarkan kejahatan mereka dengan kebaikan karena Allah itu Pengampun, Penyayang”. (Surah Furqaan, ayat 70).

Ketahuilah taubat yang diterima tandanya ialah seseorang itu tidak lagi jatuh ke dalam dosa tersebut, atau tak jatuh lagi pada dosa yang ditaubati,

Ada dua jenis taubat, taubat orang dan taubat mukmin sejati. Orang awam berharap meninggalkan kejahatan dan masuk kepada kebaikan dengan cara mengingati Allah dan mengambil langkah usaha bersungguh sungguh, meninggalkan hawa nafsunya dan kesenangan badannya dan menekankan egonya. Dia mesti meninggalkan keegoannya yang ingkar terhadap peraturan Allah dan masuk kepada taat. Itulah taubatnya yang menyelamatkannya dari neraka dan memasukkannya ke dalam syurga.

Orang mukmin sejati, hamba Allah yang tulen, berada di dalam suasana yang jauh berbeza. Mereka berada pada makam makrifat yang jauh lebih tinggi daripada makam orang awam yang paling baik. Sebenarnya bagi mereka tidak ada lagi anak tangga untuk dipanjat; mereka telah sampai kepada kedekatan dengan Allah. Mereka telah meninggalkan kesenangan dan nikmat dunia ini dan menikmati kelezatan alam kerohanian – rasa kedekatan dengan Allah, nikmat menyaksikan Zat-Nya dengan mata keyakinan.

Perhatian orang awam tertuju kepada dunia ini dan kesenangan mereka adalah merasai nikmat kebendaan dan kewujudan kebendaannya. Malah, jika kewujudan kebendaan manusia dan dunia merupakan satu kesalahan begitu jugalah nikmat dan kecacatan yang paling baik daripadanya. Kata kata yang diucapkan oleh orang arif, “Kewujudan dirimu merupakan dosa, menyebabkan segala dosa menjadi kecil jika dibandingkan dengannya”. Orang arif selalu mengatakan bahwa kebaikan yang dilakukan oleh orang baik-baik tidak mencapai kedekatan dengan Allah tidak lebih daripada kesalahan orang yang dekat dengan-Nya. kelalaian seorang yang dekat dengan Allah, itu adalah ingatnya orang baik, Jadi, bagi mengajar kita memohon keampunan terhadap kesalahan yang tersembunyi yang kita sangkakan kebaikan, Nabi s.a.w yang tidak pernah berdosa memohon keampunan dari Allah sebanyak seratus kali sehari. Allah Yang Maha Tinggi mengajarkan kepada rasul-Nya: “Pintalah perlindungan bagi buah amal kamu dan bagi mukmin dan mukminat”. (Surah Muhamamd, ayat 19).

Dia jadikan rasul-Nya yang suci murni sebagai teladan tentang cara bertaubat – dengan merayu kepada Allah supaya menghilangkan ego seseorang, sifat-sifatnya dan dirinya, semuanya pada diri seseorang, mencabut kewujudan diri seseorang. Inilah taubat yang sebenarnya.

Taubat yang demikian meninggalkan segala-galanya kecuali Zat Allah, dan berazam untuk kembali kepada-Nya, kembali kepadaNya untuk melihat Wajah Ilahi. Nabi s.a.w menjelaskan taubat yang demikian dengan sabda baginda s.a.w, “Ada sebagian hamba-hamba Allah yang tulen yang tubuh mereka berada di sini tetapi hati mereka berada di sana, di bawah arasy”. Hati mereka berada pada langit kesembilan, di bawah arasy Allah karena penyaksian suci terhadap Zat-Nya tidak mungkin berlaku pada alam bawah.

Di sini hanya kenyataan atau penzahiran sifat-sifat suci-Nya yang dapat disaksikan, memancar ke atas cermin yang bersih kepunyaan hati yang suci. Saidina Umar r.a berkata, “Hatiku melihat Tuhanku dengan cahaya Tuhanku”. Hati yang suci adalah cermin di mana keindahan, kemuliaan dan kesempurnaan Allah memancar. Nama lain yang diberi kepada suasana ini ialah pembukaan (kasyaf), menyaksikan sifat-sifat Ilahi yang suci.

Bagi memperolehi suasana tersebut, untuk membersihkan dan menyinarkan hati, perlulah kepada guru yang matang, yang di dalam keesaan dengan Allah, yang disanjung dan dimuliakan oleh semua, dahulu dan sekarang. Guru berkenaan mestilah telah sampai kepada makam kedekatan dengan Allah dan dihantar balik ke alam rendah oleh Allah untuk membimbing dan menyempurnakan mereka yang layak tetapi masih mempunyai kecacatan.

Di dalam penurunan mereka untuk melakukan tugas tersebut wali-wali Allah mestilah berjalan Sesuai dengan sunnah Rasulullah s.a.w dengan mengikuti teladan baginda s.a.w, tetapi tugas mereka berlainan dengan tugas rasul. Rasul diutuskan untuk menyelamatkan banyak orang, keberadaannya bukan untuk kepentingan orang perorang atau menjadi pemuas kesenangan satu orang, dia bukan milik siapa-siapa tapi milik Allah yang diantar ke dunia rendah untuk menuntun banyak orang ke alam tinggi derajad kemulyaan di sisi Allah, dan juga orang-orang yang beriman. Guru-guru tadi pula tidak dihantar untuk mengajar semua orang tapi menjadi milik semua orang tapi hanya mengajar orang kepada orang-orang dipilih saja, yang orang mampu dan diberi kemampuan untuk menyerap ilmu dan kepahaman, cahaya kemakrifatan. Rasul-rasul diberi kebebasan dalam menjalankan tugas mereka, sementara wali-wali yang mengambil tugas sebagai guru mesti mengikuti jalan rasul-rasul dan nabi nabi.

Guru kerohanian yang mengaku diri mereka merdeka, merdeka dari hukum syariat menyamakan dirinya dengan nabi, jatuh kepada kesesatan dan kekufuran. Bila Nabi s.a.w mengatakan sahabat-sahabat baginda yang arif adalah umpama nabi-nabi Bani Israil, baginda memaksudkan lain daripada ini – karena nabi-nabi yang datang selepas Musa a.s semuanya mengikuti prinsip agama yang dibawa oleh Musa a.s. Mereka tidak membawa peraturan baru. Mereka mengikuti undang-undang yang sama. Seperti mereka juga orang-orang arif dari kalangan umat Nabi Muhammad s.a.w yang bertugas membimbing sebagian daripada orang-orang suci yang dipilih, mengikuti kebijaksanaan Nabi s.a.w, tetapi menyampaikan perintah dan larangan dengan cara baru yang berbeda, terbuka dan jelas, menunjukkan kepada murid-murid mereka dengan perbuatan yang mereka kerjakan pada masa dan keadaan yang berlainan. Mereka memberi dorongan kepada murid-murid mereka dengan menunjukkan kelebihan dan keindahan prinsip-prinsip agama. Tujuan mereka ialah membantu pengikut-pengikut mereka menyucikan hati yang menjadi tapak untuk membina tugu makrifat.

Dalam semua itu mereka mengikut teladan daripada pengikut-pengikut Rasulullah s.a.w yang terkenal sebagai ‘golongan yang memakai baju bulu' yang telah meninggalkan semua aktiviti keduniaan untuk berdiri di pintu Rasulullah s.a.w dan berada hampir dengan baginda. Mereka menyampaikan khabar sebagaimana mereka menerimanya secara langsung dari mulut Rasulullah s.a.w. Dalam kedekatan mereka dengan Rasulullah s.a.w mereka telah sampai kepada peringkat di mana mereka boleh berbicara tentang rahasia isra' dan mikraj Rasulullah s.a.w sebelum baginda membuka rahasia tersebut kepada sahabat-sahabat baginda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar