Selama kamu masih melihat dengan mata kepalamu, maka kamu itu dikatakan orang yang melihat kepalsuan belaka, melihat hari yang selalu berganti, bahkan tiap hari itu berganti, wingi kedele, sekarang tempe, kemaren masih nasi sekarang sudah jadi kotoran, semuanya serba tipuan, berubah tak menetap.
Ketika kamu sudah melihat dengan mata ruhanimu baru kamu melihat yang haqiqi, jika sekarang tak bisa melihat, nanti kamu setelah meninggal baru akan melihat dengan mata ruhanimu, dan kamu akan melihat semua hakiki, yang sebelumnya kamu sangka baik, akan terlihat kenyataannya, bisa jadi orang yang kamu sangka baik, ternyata jahat kenyataannya, bisa jadi orang yang kamu sangka mulia di sisi Allah, ternyata hanya orang rendahan.

La ya'riful wali ilal wali, tak mengenal wali kecuali para wali, karena mereka itu penduduk di alam ruhani, saling mengenal di alam ruhani, saling tau kedudukannya, dan mereka melihat dengan mata ruhani, bukan dengan mata jasmani, mereka para auliya itu adalah para penghuni alam langit, yang tidak wali tak ada tempat di langit, dan para wali itu mempunyai kedudukan di langit, dan ada kedudukan rendah dan kedudukan tinggi, yang berkedudukan tinggi di langit dihormati oleh yang berkedudukan rendah, walau di bumi dihina, di bumi itu alam jasmani, dan di langit itu alam ruhani, alam ruh, alamnya para malaikat yang punya kedudukan, alamnya para ruh auliya dan ambiya yang punya kedudukan. Jadi orang yang mulia di bumi belum tentu mulia di langit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar