Orang itu tak bisa melakukan sesuatu hanya sekedar kira-kira, atau sekedar membuat ukuran suka melakukan, misal saja masak, masak sayur lodeh, dengan perkiraan, dia masaknya 1 panci, resepnya sesuai kesukaannya, ada cabe 1, karena tak suka cabe, garam, 1 biji garam kasar karena tak suka garam, dikasih beras, segenggam, dikasih santen seliter, diberi trasi sekarung, karena suka trasi, malah diberi juga boneka berbi karena suka boneka, juga ada celana dalam merek armi, karena itu juga dia suka, terus bedak merek viva, lipstik merek skifa, sedikit saja, satu lagi kopi bubuk segelas, karena suka kopi, nah bagaimana rasa masakannya?

Dzikir juga begitu, tidak bisa karena suka dzikir ini, maka pakai ini, tak suka dzikir itu tak pakai itu, comot sana comot sini, setelah 40 tahun dzikir kok rasane dada remek, ngantukan, lagak kayak orang sakao, la bagaimana tak begitu? makanan ruh kok sembarangan saja, yang makanan lahir atau jasad saja, mencampur sembarangan itu gak enak, bisa bisa keracunan aseptik, apalagi makanan ruh... wah bahaya kalau ruhnya keracunan... jadi merem melek kayak ayam nelan karet kolor, ujung karet masih di mulut, yang ujungnya lagi dah keluar di pembuangan kotoran. Apa gak bingung itu ayam, mau minta dioperasi manusia malah takut nanti malah dipotong dimakan ramai-ramai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar