Zikir memainkan peran yang penting dalam melahirkan Roh Islam. Bagi orang yang menginginkan kebenaran dan melihat kebenaran, menjadi kewajiban baginya mahal Allah sebanyak mungkin.

Lantas apabila kamu telah menyelesaikan shalat (shalat di waktu perang) itu, maka hendaklah kamu ingat kepada Allah sambil berdiri, dan sambil duduk, dan sambil (berbaring) pada rusuk-rusuk kamu. Tetapi apabila kamu telah tenteram, maka kamu dirikan shalat (seperti biasa), karena sesungguhnya itu adalah untuk Mukminin satu kewajiban yang ditentukan waktunya. (Ayat 103: Surat an-Nisaa ')

Yang mengingat Allah sambil berdiri dan sambil duduk dan sambil berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit-langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami! Engkau tidak jadikan (semua) ini dengan sia-sia! Maha Suci Engkau. Karena itu peliharakanlah kami dari siksa neraka ". (Ayat 191: Surat a-Li 'Imran)
Setiap Muslim seharusnya menemukan kehidupan berzikir; berdzikir sambil duduk dan sambil berbaring; bekerja di dalam berzikir; beristirahat di dalam berzikir dan tidur di dalam berzikir. Lidah berzikir, anggota tubuh berzikir dan hati berzikir. Tentara Islam yang sedang berperang dengan musuh pun dituntut berzikir, apa lagi kaum Muslimin yang berada dalam suasana aman. Muslim sejati selalu berdzikir, mengingat dan mentaati Allah swt

sampai seorang muslim itu merasakan ruh dzikir dan buah manis nya dzikir di setiap gerak dan laku, seorang yang menjalankan dzikir dan mendawamkan dalam menjalankannya seumpama orang yangmenanam pohon mangga, lama di siram, dan di rawat, dan selama belum berbuah yang pertama, maka rasa nikmat mangga itu belum bisa di rasakan bagaimana buah manis apa pahit, tapi setelah pertama kali buah mangga itu berbuah, maka setiap musim mangga itu dengan sendirinya berbuah, sebagaimana dzikir, selama belum di petik buah manis pertama kali maka seseorang harus telaten merawatnya, dan jangan sampai lantas meninggalkannya, karena kebanyakan kegagalan itu terjadi bukan di pertama perjalanan tapi di pertengahan.
Orang yang tidak pernah berzikir adalah orang yang sangat keras hatinya dan kuat dipengaruhi oleh setan, hawa nafsu dan dunia. Cahaya api setan, fatamorgana dunia dan karat nafsu membaluti hatinya sehingga tidak ada ingatannya kepada Allah Seruan, peringatan dan ayat-ayat Tuhan tidak diterima oleh hatinya. Beginilah kondisi orang Islam yang dijajah oleh sifat munafik. Orang yang masih memiliki kesadaran harus memaksakan dirinya untuk berzikir, sekalipun hanya berzikir dengan lidah sedangkan hatinya masih lalai dengan berbagai memori yang selain Allah Pada tahap pemaksaan diri ini, lidah menyebut Nama Allah tetapi hati dan ingatan mungkin tertuju pada pekerjaan, harta , perempuan, hiburan dan lain-lain. Beginilah tingkat orang Islam biasa. Orang yang berada pada tahap ini harus melanjutkan dzikirnya karena jika dia tidak berzikir dia kan lebih mudah dihanyutkan di dalam kelalaian. Tanpa ucapan dzikir setan akan lebih mudah memancarkan gambar-gambar tipuan ke cermin hatinya dan dunia akan lebih kuat menutupinya. Zikir pada tingkat ini berperan sebagai juru ingat. Sebutan lidah menjadi sahabat yang memperingatkan hati yang lalai. Terjadilah tabrakan antara energi zikir dengan energi setan yang menutupi hati. Energi setan akan mencoba untuk menghalangi energi zikir dari memasuki hati. Tindakan setan itu membuat orang yang ingin berzikir itu menjadi malas dan mengantuk. Dengan demikian perlu dilakukan mujahadah, memerangi setan yang mencegah lidah dari berzikir itu. Zikir yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan berhasil melewati benteng yang didirikan oleh setan. Energi zikir yang berhasil memasuki hati akan bertindak sebagai pencuci, menyucikan karat-karat yang ada pada dinding hati. Pada tingkat awal zikir masuk ke dalam hati sebagai Nama-nama dan Sifat-sifat Tuhan yang diucapkan. Apabila karat pada dinding hati sudah berkurang ucapan dzikir akan disertai oleh rasa kelezatan. Hati yang sudah merasakan nikmat zikir itu tidak perlu ke paksaan lagi. Lidah tidak perlu lagi berzikir. Zikir sudah hidup dalam hati secara diam, jelira dan melezatkan. Perhatian tidak hanya pada nama-nama dan sifat-sifat yang diingatkan malah ia lebih tertuju kepada Yang Empunya nama dan sifat. Inilah posisi orang yang beriman.
Zikir daimatau melanggengkan dzikir di setiap tarikan nafas sulit diperoleh. Kebanyakan manusia melakukan pekerjaan yang baik-baik yang seharusnya menjadi zikir tetapi dilakukan tanpa ingatan kepada Allah dan bukan dengan penghayatan mematuhi syariat-Nya. Kekuatan internal harus ditambahkan untuk memperoleh zikir daim. Untuk tujuan tersebut perlu dilakukan zikir sebutan yaitu dzikir nafi-isbat (ucapan kalimat "La ilaha illa Llah") dan dzikir nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Zikir yang seperti ini mempengaruhi menguatkan rasa kecintaan dan ingatan kepada Allah Ia membuka kesadaran-kesadaran internal seperti yang telah disebutkan pada judul yang membicarakan perjalanan Latifah Rabbaniah. Kekuatan kesadaran internal mendorong seseorang melakukan sesuatu dengan ikhlas karena Allah yang dicintainya, yang hampir dengannya. Zikir nafi-isbat dan sebutan nama-nama dan sifat-sifat-Nya menjadi jalan kepada zikir dalam mentaati peraturan-Nya tanpa lupa kepada-Nya. Jadi, perlu dilakukan zikir secara sebutan untuk memudahkan zikir secara praktek atau perbuatan dan kelakuan. Mudah-mudahan terhasillah zikir yang berkelanjutan.

Zikir atau mengingat Allah harus dilakukan menurut penilaian kemampuan masing-masing. Zikir yang paling baik diucapkan adalah seperti yang diajarkan oleh Rasulullah saw dengan sabda beliau saw yang artinya: "Ucapan zikir yang paling baik adalah yang aku dan sekalian nabi-nabi bawa. Itulah ucapan kalimat 'La ilaha illa Llah'. "
Dzikir adalah mengingat Allah sebaik dan seikhlas mungkin. Mahal nama-nama dan sifat-sifat-Nya adalah zikir. Melihat matahari, bulan dan bintang di langit sambil mengenang kebijaksanaan Allah merupakan zikir. Melihat kilat memancar dan mendengar guruh berdentum sambil mengenang keperkasaan Allah adalah zikir. Melihat fajar subuh, melihat dan mencium bunga yang indah lagi harum sambil mengenang keelokan Allah adalah zikir juga namanya. Jadi, dzikir adalah pekerjaan sepanjang waktu, setiap saat, semua suasana, pada setiap pengisap dan hembusan nafas dan pada setiap denyut nadi. Kehidupan ini merupakan zikir daim (zikir berkelanjutan) jika mata hati selalu memperhatikan sesuatu tentang Allah

Misalkan seorang sedang melakukan zikir hati dan perkataan; menyebut dan mahal nama-nama dan sifat-sifat Allah Tiba-tiba datang seorang anak di hadapannya. Anak kecil itu memegang sebotol racun. Anak kecil mau meminum racun tersebut. Pada saat itu anggota zikir tadi berkewajiban meninggalkan pekerjaan zikir yang sedang dilakukannya dan pindah ke zikir menyelamatkan anak kecil yang mau meminum racun itu. Transfer perbuatan tidak memutuskan zikir atau ingatannya kepada Allah Dia menyebut nama Tuhan karena ingat kepada Tuhan. Dia menyelamatkan anak kecil itu karena mentaati perintah Tuhan. Tuhan yang menakdirkan anak kecil itu mau meminum racun di hadapannya. Tuhan juga mengadakan syariat yang mewajibkan membuang kemudaratan. Taat kepada perintah Tuhan dan reda dengan takdir Tuhan yang datang dan bertindak menurut aturan syariat Tuhan merupakan zikir yang sangat mulia di sisi Tuhan. Zikir yang begini termasuk di dalam golongan zikir yang berkelanjutan atau dzikir daim, melanggengkan dzikir di setiap tarikan nafas.
Sesungguhnya Aku adalah Allah! Tidak ada Tuhan selain Aku! Dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku! (Ayat 14: Surah Taha)
Shalat mengandung perbuatan anggota lahir, kata yang kau ucapkan dan partisipasi hati yang benar menghadap kepada Allah dengan sepenuh jiwa raga. Mahal Allah melalui shalat merupakan zikir yang paling sempurna. Perbuatan menjadi zikir, kata menjadi zikir dan perasaan menjadi zikir. Sekalian maujud berada dalam suasana zikir. Zikir dalam shalat menggabungkan pengakuan bahwa yang diingatkan itu adalah Allah; bahwa Allah yang diingat itu adalah Tuhan; bahwa tiada Tuhan melainkan Dia; bahwa Allah adalah Tuhan yang disembah; bahwa menyembah Allah adalah dengan kata, perbuatan dan perasaan; bahwa apa saja yang dilakukan adalah karena mentaati-Nya dan karena ingat kepada-Nya.

Zikir yang di dalam shalat menjadi induk kepada zikir-zikir di luar shalat. Menyebut nama-nama Allah adalah zikir. Kata yang baik-baik diucapkan karena Allah adalah zikir. Nasihat menasihati karena Allah adalah zikir. Menyeru manusia ke jalan Allah adalah zikir. Semua itu merupakan zikir kata. Dzikir perbuatan pula meliputi segala bentuk praktek dan kelakukan yang sesuai dengan syariah demi mencari ridha Allah Berdiri, rukuk dan sujud dalam shalat adalah zikir. Melakukan pekerjaan yang halal karena Allah, karena mematuhi peraturan yang Allah turunkan, adalah zikir. Mengalihkan duri dari jalan karena Allah adalah zikir. Apa juga perbuatan yang tidak melanggar aturan syariat jika dilakukan karena Allah maka ia menjadi zikir. Tidak melakukan apa-apa pun bisa menjadi zikir. Orang yang menahan anggotanya, lidahnya dan hatinya bergabung perbuatan maksiat sebenarnya melakukan zikir jika dia melakukannya karena Allah Semua itu menjadi zikir jika dilakukan karena Allah, karena mematuhi perintah-Nya, karena mencari keridaan-Nya dan karena ingat kepada-Nya. Jadi, perbuatan dan perkataan terikat dengan praktek hati untuk menjadikannya zikir. Ia hanya dihitung sebagai dzikir jika ada zikir hati yaitu hati ingat kepada Allah, ikhlas dalam melakukan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya Tanpa zikir hati tidak ada zikir-zikir yang lain, karena setiap praktek digantungkan kepada niat yang lahir dalam hati.
Pengalaman spiritual, seperti penyaksian terhadap cahaya-cahaya harus diperjelas agar tidak timbul anggapan bahwa Tuhan adalah cahaya dengan warna tertentu. Yang dialami oleh Syeikh Ahmad Sirhindi dimuat di sini untuk dijadikan iktibar oleh orang yang terpengaruh dengan ajaran sesat yang menyembah cahaya. Syeikh Ahmad Sirhindi, keturunan Umar al-Khattab, dilahirkan di India. Beliau memiliki pengalaman yang luas dalam bidang tarekat tasawuf. Ia menceritakan pengalaman spiritual beliau.

Ketika Syekh memutuskan untuk mengikuti jalan kesufian ia telah pergi ke mursyid tarekat Naqsabandiah yang bernama Syeikh Muhammad al-Baqi. Syeikh Muhammad menjadi pembimbing Syekh melalui semua tingkat spiritual. Syeikh Muhammad mentalkinkan zikir Ilmul Zat, yaitu kalimat Allah kepada Syekh. Mursyid Naqsabandiah itu menjuruskan perhatian spiritual beliau kepada Syekh sampai Syekh mengalami gairah dan kelezatan yang amat sangat. Ia juga mengalami rasa kepiluan yang bersangatan sehingga ia menangis dengan keras. Setelah satu hari mengamalkan zikir Ismul Zat, Syekh dikuasai oleh rasa penyangkalan dan kelenyapan diri. Dalam suasana spiritual yang demikian beliau menyaksikan laut yang sangat luas. Ia menyaksikan segala sesuatu sebagai bayang-bayang dalam laut tersebut. Pengalaman demikian menjadi bertambah kuat, mendalam dan cemerlang sehingga memukau jiwa beliau. Ia mengalami suasana tersebut beberapa lama, kadang-kadang berlangsung sampai satu suku hari, kadang-kadang sampai separuh hari dan kadang-kadang sampai satu hari penuh. Syekh melaporkan pengalaman beliau itu kepada Syeikh Muhammad. Syeikh Muhammad menjelaskan bahwa apa yang telah dialami oleh Syekh itu merupakan sejenis pengalaman fana dan Syekh disarankan untuk menjaga penyingkapan itu.

Syekh melanjutkan latihannya. Dua hari kemudian ia mengalami fana yang lebih teratur. Ia melanjutkan latihan sebagaimana yang diajarkan oleh mursyidnya. Selanjutnya beliau mencapai fana dalam fana. Syekh melaporkan pengalaman beliau kepada Syeikh Muhammad. Mursyidnya itu menanyakan apakah Syekh menyaksikan seluruh alam ini sebagai satu keberadaan dan apakah ia menemukan keberadaan tersebut bersatu dengan Yang Satu. Syekh mengakui bahwa demikianlah yang ia alami. Mursyidnya menjelaskan bahwa fana dalam fana yang sebenarnya adalah walaupun disaksikan penyatuan tetapi seseorang itu masuk ke dalam suasana ketidak kesadaran sehingga fana itu sendiri tidak ada dalam kesadarannya. Syekh melanjutkan latihannya dan pada malam itu ia mengalami suasana fana seperti yang digambarkan oleh mursyidnya. Ia melaporkan pengalaman beliau kepada Syeikh Muhammad, termasuk pengalaman beliau sebelum memasuki fana. Ia melaporkan bahwa ia mendapat ilmu langsung dari Tuhan. Ia juga menemukan sifat-sifat yang menjadi miliknya adalah milik Tuhan. Setelah tingkat tersebut beliau maju lagi. Ia menyaksikan satu cahaya yang membungkus segala sesuatu. Cahaya tersebut berwarna hitam. Ia mengira apa yang ia saksikan itu adalah Tuhan. Mursyid beliau menjelaskan apa yang telah ia alami itu adalah menghadap ke Tuhan di balik hijab cahaya. Terlihat karena relevansi Zat Yang Maha Suci dengan alam materi, tetapi ia harus dinafikan. Setelah penolakan itu Syekh menemukan cahaya hitam yang membungkus segala sesuatu itu mulai mengecil hingga menjadi satu titik yang sangat halus. Mursyidnya menyuruhnya menafikan juga titik hitam yang halus itu supaya ia bisa sampai ke suasana keheranan. Syekh mematuhi instruksi mursyidnya itu dan titik hitam yang halus itu pun lenyap. Ia dikuasai oleh suasana keheranan. Dalam suasana penasaran itulah Syekh menemukan Tuhan hanya terlihat kepada Diri-Nya melalui Diri-Nya sendiri. Mursyidnya mengsahkan bahwa apa yang dialami oleh Syekh itu adalah suasana kehadiran yang dicari dalam tarekat Naqsabandiah. Ia dinamakan nisbat untuk tarekat Naqsabandiah. Ia juga disebut kehadiran Tuhan secara tidak rupa, bentuk, sifat dan lain-lain. Tahap inilah menjadi tujuan pencarian.

Maksud nisbat adalah hubungan dengan Tuhan yang tidak putus walau sedetik pun. Nisbat yang jarang terjadi ini dikaruniai kepada Syekh dalam dua bulan beberapa hari setelah ia ditalkinkan oleh Syeikh Muhammad. Setelah tahap nisbat satu lagi bidang fana dikaruniai kepada beliau. Ia meyakini bahwa fana pada tahap ini adalah fana hakiki. Dalam kefanaan yang demikian beliau menyaksikan hati beliau menjadi besar, menjadi tersangat besar sehingga seluruh alam termasuk al-Kursi dan Al-Arsy hanyalah seperti sebuah sawi dibandingkan dengan hatinya. Setelah ini ia menyaksikan dirinya dan segala sesuatu sebagai Tuhan. Kemudian ia melihat segala sesuatu dari alam ini menjadi satu dengan dirinya dan dirinya menjadi satu dengan segala sesuatu. Ia menyaksikan seluruh alam tersembunyi dalam sebuah partikel yang halus. Kemudian pengalaman beliau berubah pula. Ia menyaksikan partikel dirinya membesar sehingga beberapa alam bisa diisi di dalamnya. Ia menyaksikan dirinya atau satu partikel sebagai cahaya yang membesar, memasuki setiap partikel keberadaan sehingga semua rupa dan bentuk alam lenyap di dalamnya. Setelah itu ia menemukan dirinya atau satu partikel, menanggung alam atau menjadi pasak alam. Mursyidnya menyatakan suasana demikian adalah peringkat haqqul yaqin dalam tauhid, tingkat bersatu dalam kesatuan.

Setelah tingkat di atas, terjadi pula pengalaman yang berbeda dari pengalaman penyatuan. Sebelumnya Syekh menyaksikan segala sesuatu sebagai Tuhan tanpa ada perbedaan. Bila memasuki tingkat yang baru ini ia menemukan segala sesuatu di alam bukanlah bersatu dengan Tuhan, tetapi hanyalah bentuk khayalan. Penyatuan hanya terjadi dalam penyaksian mata hati semata. Ia masuk ke suasana keheranan yang menyeluruh. Pada saat itu ia teringat kata-kata Ibnu Arabi dalam kitab Fusus: "Jika kamu suka kamu bisa panggilnya yang diciptakan atau jika kamu suka kamu bisa panggilnya Tuhan dalam satu aspek dan makhluk dalam aspek yang lain. Kamu bisa juga mengatakan yang kamu tidak mampu membedakan keduanya ". Keterangan dari kitab Fusus itu menentramkan jiwa Syekh. Bila berkesempatan beliau melaporkan pengalaman beliau kepada Syeikh Muhammad. Mursyid itu memberitahu bahwa Syekh mengalami suasana kehadiran Tuhan tetapi secara tidak jelas. Ia diminta untuk melanjutkan latihan agar ada bisa dibedakan dari khayali. Syekh bertanya kepada mursyidnya mengenai keterangan Ibnu Arabi mengenai pengalaman yang telah dialaminya. Syeikh Muhammad menjelaskan bahwa Ibnu Arabi tidak menceritakan suasana yang sempurna yang berbeda dengan paham satu wujud, karena kebanyakan sufi tidak melewati tingkat menyaksikan tidak ada perbedaan di antara Tuhan dengan alam. Jika mereka melewati tingkat tersebut mereka akan menyaksikan perbedaan di antara Tuhan dengan makhluk.

Syekh melanjutkan latihannya. Dalam waktu dua hari beliau dikaruniai pengalaman yang memperlihatkan perbedaan di antara Wujud yang nyata dengan wujud khayali. Ia menemukan sifat, tindakan dan dampak yang muncul pada wujud bayangan (khayali) sebenarnya datang dari Tuhan. Beliau menyadari sepenuhnya bahwa sifat dan perbuatan tersebut sebenarnya bayangan atau khayalan sepenuhnya dan tidak yang maujud kecuali Tuhan. Mursyidnya menjelaskan bahwa ia sudah sampai ke tingkat mengalami suasana perbedaan setelah penyatuan, yaitu setelah menyaksikan Wujud Tuhan dan ada hamba bersatu sebagai satu wujud, ia melewati tingkat tersebut dan menyaksikan Wujud Tuhan sebenarnya berbeda dari wujud hamba. Tingkat ini merupakan tahap terakhir pencapaian manusia. Setelah ini seseorang akan memahami dan menyadari tujuan dia diberi bakat-bakat yang perlu. Inilah tingkat kesempurnaan.

Syeikh Ahmad Sirhindi meringkas perjalanan spiritual beliau. Bila ia dibawa ke tingkat kesadaran sesudah mabuk, baqa sesudah fana dan melihat ke setiap partikel keberadaan dirinya, ia tidak melihat sesuatu melainkan Allah dan ia temui 'cermin' untuk 'menanggung' Tuhan. Kemudian ia dibawa meninggalkan tingkat tersebut. Ia masuk ke dalam suasana keheranan. Bila ia kembali kepada dirinya ia temukan Tuhan dan segala yang maujud dalam dirinya. Kemudian ia dibawa lagi ke dalam suasana keheranan. Setelah itu kesadaran beliau dikembalikan dan ia menemukan Tuhan bukan satu dengan alam, tetapi tidak juga berpisah. Pada tingkat awal beliau menyaksikan Tuhan sebagai meliputi dan bergabung sesuatu, kemudian penyaksian yang demikian hilang sama sekali. Namun Tuhan tampak kepadanya dengan kondisi tersebut yang membuatnya merasa seakan-akan Dia. Selanjutnya beliau melihat alam tidak ada di samping Tuhan, padahal sebelumnya ia melihat alam di samping Tuhan. Ia kembali ke suasana keheranan. Kemudian kesadaran beliau kembali lagi. Ia kini memperoleh pengetahuan yang sangat berbeda dari pengetahuan beliau sebelumnya. Dalam pengetahuan beliau yang mutakhir ini diketahui hubungan Tuhan dengan alam berbeda dari apa yang ia mengerti dahulu. Hubungan Tuhan dengan alam tidak mampu diuraikan dan tidak dapat diketahui. Ia masuk pula ke dalam suasana keheranan. Ia merasakan kekerdilan diri. Bila ia sadar kembali ia mendapat pengetahuan bahwa Tuhan tidak ada hubungan dengan alam secara diketahui atau tidak diketahui. Ia diberi pengetahuan khusus tentang tidak ada hubungan antara Tuhan dengan makhluk meskipun ia menyaksikan keduanya. Pada tahap ini ia mendapat pengetahuan bahwa apa juga yang disaksikan, meskipun bersifat gaib, adalah bukan Tuhan. Ia adalah bentuk simbolis atau misal tentang hubungan Tuhan dan ciptaan-Nya yang melampaui apa juga pengetahuan dan penyaksian. Ia menemukan di akhir perjalanan beliau bahwa masih ada tingkat yang lebih tinggi dari tingkat menyaksikan satu wujud. Penyaksian terhadap satu wujud merupakan satu pengalaman yang ditemukan dalam perjalanan spiritual. Setelah melewati tingkat tersebut seseorang akan menjadi sesuai dengan al-Quran dan al-Hadis secara sedikit demi sedikit. Di akhir perjalanannya efek penyaksian satu wujud hilang sama sekali dan dia menjadi sesuai sepenuhnya dengan al-Quran dan as-Sunnah.

Dari pengalaman Syeikh Ahmad Sirhindi dapatlah diyakini bahwa bimbingan guru yang arif sangat diperlukan untuk orang yang mau memasuki perjalanan spiritual. Tanpa bimbingan guru yang arif sulit untuk seseorang melewati hijab-hijab yang ditemukan di sepanjang perjalanan. Orang yang berhenti di tengah jalan menemukan buah yang belum masak. Mereka merasakan buah yang belum masak itu sudah cukup enak. Mereka tidak mengetahui bahwa buah yang sudah masak memungkinkan rasanya.

Beberapa orang sufi mungkin mengalami hal yang sama tetapi gagasan yang timbul dari pengalaman tersebut mungkin berbeda. Ibnu Arabi mengalami suasana satu wujud berpegang pada paham wahdatul wujud. Syeikh Ahmad Sirhindi juga mengalami suasana yang demikian tetapi ia berpegang pada paham wahdatul syuhud. Syekh telah melewati tingkat menyaksikan satu wujud dan beliau kembali ke jalan kenabian. Banyak juga sufi yang tidak terlepas dari dampak menyaksikan satu wujud, lalu mereka bermukim di makam yang berfahamkan wahdatul wujud. Sufi tersebut ditarik ke pemahaman demikian karena kefanaan dan mabuk. Orang yang dalam kesadaran tidak patut mengikuti paham yang demikian. Perlulah diketahui bahwa apa yang dialami dalam alam spiritual tidak semestinya kebenaran yang sejati. Alam demikian lebih merupakan Alam Misal yang menceritakan sesuatu tentang Kebenaran Hakiki yang melampaui misal. Misal dalam alam spiritual bisa dialami secara penyaksian atau zauk (rasa). Ketika melalui daerah-daerah Latifah Rabbaniah seseorang bisa menyaksikan cahaya-cahaya dan mengalami zauk Hakikat-hakikat Kenabian. Cahaya yang disaksikan dalam daerah latifah bisa memikat seseorang dan hakikat kenabian bisa membalikkan pandangan seseorang. Ada orang yang keliru dengan cahaya, mengira Tuhan sebagai cahaya cuaca subuh. Ada orang yang keliru dengan hakikat kenabian, mengira dirinya menyatu dengan nabi-nabi atau terus mendakwakan dirinya sebagai nabi Ada sebagian dari mereka yang mencoba untuk mengorek 'Rahasia'. Mereka menyatukan diri mereka dengan Nabi Adam as dan Nabi Muhammad saw Bagi mereka tidak ada bedanya diri mereka dengan Adam dan Muhammad. Pemahaman mereka sudah jauh menyimpang dari kebenaran. Perjalanan jasad dengan perjalanan roh lebih kurang saja. Manusia dari aspek jasad datang dari jasad yang satu yaitu jasad Adam. Meskipun menerapkan jasad yang satu tetapi sekalian jasad-jasad merdeka dari jasad yang satu itu dan juga setiap jasad tidak terikat dengan jasad yang lain. Setelah jasad Adam mengalami mati, jasad-jasad lain tidak ikut mati bersamanya. Jika jasad Saleh dipotong, jasad Yusuf tidak ikut terpotong. Setiap jasad bebas dengan perjalanannya, menanggung bahagia atau celakanya sendiri. Begitu juga dengan perjalanan rohani atau roh. Jika roh Nabi Muhammad saw bahagia, roh Abu Jahal tidak ikut bahagia. Jika roh dan jasad Ibrahim dimasukkan ke dalam surga, roh dan jasad Namrud tidak ikut masuk surga. Sekalipun sekalian roh-roh bersumberkan roh yang satu tetapi roh individu bebas dengan perjalanannya sebagaimana jasad bebas melakukannya. Paham menyatukan jasad atau roh seseorang dengan jasad atau roh orang lain adalah pemahaman yang keliru. Orang yang mengalami jazbah mungkin terbalik pandangannya dan mengalami suasana persatuan, tetapi penyatuan tersebut hanya terjadi dalam alam perasaannya, bukan itulah yang sebenarnya terjadi. Tanpa bimbingan guru yang arif orang tersebut akan terus berada di dalam gambaran imajinasinya atau di dalam alam bayangan.
Orang-orang yang meminati tarekat tasawuf sangat ingin mengetahui pengalaman spiritual dan penyaksian yang terjadi kepada orang sufi. Deskripsi mengenai hal tersebut sulit diperoleh. Buku-buku tasawuf hanya menceritakan tentang perjalanan spiritual secara umum. Kadang-kadang diolah dengan cara yang sulit dimengerti, dicampur pula dengan istilah-istilah yang belum pernah didengar. Banyak hal dibungkus dengan istilah Rahasia; Rahasia Tuhan, Rahasia Insan dan berbagai Rahasia lagi. Ada pula yang menceritakan pengalaman secara berteka-teki, digunakan uraian yang samar-samar. Semua itu dilakukan dengan alasan masyarakat tidak akan mengerti hal spiritual yang mendalam. Hal khusus hanya bisa dikatakan dalam acara yang menjadi anggota. Ada guru-guru yang tarekat melarang murid-muridnya berbicara tentang hal kerohanian dengan orang yang berlainan aliran tarekat.

Bila intisari pengalaman spiritual tidak diungkapkan, orang yang berminat dalam bidang tersebut mudah terdorong untuk membuat asumsi sendiri. Sebagian mereka mengira ilmu yang diajarkan secara sembunyi itulah ilmu yang benar dan ilmu yang diajarkan secara terbuka tidak sampai kepada kebenaran yang sejati. Dalam alam yang tersembunyi itulah muncul berbagai ajaran yang terdengar dari jauh sebagai ajaran sesat. Ketika dipanggil oleh pihak yang berkuasa praktisi ajaran tersebut menyangkal keterlibatan mereka dengan ajaran tersebut. Mereka mengaku menjadi pengikut Ahli Sunah wal Jamaah. Bila dibebaskan mereka kembali ke alam persembunyian mereka. Murid-murid mereka diberitahu bahwa ilmu mereka adalah ilmu wali-wali, hanya wali saja bisa mendengar pengajarannya, tidak bisa diungkapkan kepada orang yang tidak berjalan pada jalan wali, meskipun mereka adalah pihak yang berwenang. Alam persembunyian mereka tetap tinggal kokoh. Tidak dapat dipastikan berapa banyak tuhan-tuhan yang muncul dalam alam persembunyian tersebut. Akibatnya tarekat tasawuf yang benar dengan tarekat yang sesat sulit diidentifikasi. Di kalangan masyarakat pula mulai timbul anggapan miring terhadap orang-orang yang bertarekat tasawuf, terutama yang memakai jubah. Guru ajaran sesat digambarkan sebagai orang yang berjubah dan berserban. Orang alim pula digambarkan sebagai berpakaian 'bush jacket' dan 'coat'. Anggota tarekat yang benar tidak diterima dengan baik karena mereka memakai jubah. Inilah yang terjadi ketika tarekat yang sesat berlindung di balik jubah dan sorban, dan aktivitas mereka tidak diungkapkan.

Dalam menangani masalah penyakit aids, masyarakat diungkapkan secara luas kepada pengetahuan tentang penyebab dan tanda-tanda penyakit tersebut. Dalam menangani penyakit sosial yang melibatkan seks, sudah ada upaya penyebaran pendidikan seks secara terbuka. Penyakit aids dan praktisi seks yang salah langkah berpeluang menceritakan pengalaman mereka secara terbuka. Tindakan berani orang-orang yang bersalah dan menyesal itu sedikit banyak mempengaruhi orang banyak.

Di antara semua penyakit, termasuk penyakit aids, narkoba, seks dan semua penyakit, penyakit yang paling besar dan paling berbahaya adalah penyakit sesat akidah. Penyakit lain mungkin menerima pengampunan Tuhan, jika dikehendaki, tetapi penyakit sesat akidah tidak diampuni-Nya. Jika orang lain berpeluang masuk surga setelah dicuci di dalam neraka, tetapi orang yang sesat akidah tidak berpeluang meninggalkan neraka. Karena penyakit ini merugikan manusia di dunia dan di akhirat, usaha membenterasnya harus dilakukan sehingga ke akar rumput. Salah satu benteng persembunyian mereka adalah bagian kesamaran dalam ajaran tarekat tasawuf. Kubu ini harus diperuntuhkan dengan memperjelas apa yang samar sehingga tidak ada lagi alasan yang batal bersembunyi di balik yang benar. Pendukung ajaran tarekat yang benar berkewajiban melindungi akidah orang banyak dari fitnah yang ditaburkan oleh nabi-nabi palsu, wali-wali palsu dan guru-guru palsu yang berlindung di balik nama tarekat kewalian.
Zikir yang lebih mendalam membawa hati berhadap ke Hadrat Tuhan, menyaksikan Tuhan pada setiap waktu dan suasana. Apa saja yang dilihat dan dilakukan memperingatkannya kepada Tuhan. Inilah tingkat zikir daim yang dikaruniakan kepada mereka yang beriman dan bersungguh-sungguh mengabdikan diri kepada Allah Kehidupan mereka dipenuhi oleh zikir sepanjang masa. Tidur mereka juga menjadi zikir.

Zikir yang diucapkan dengan kata membantu hati mengingat Tuhan. Bagi sebagian manusia berzikir secara kuat lebih berpengaruh dari berzikir secara perlahan, terutama bagi mereka yang baru memulai praktek zikir. Zikir secara diam di dalam hati adalah pergerakan perasaan. Hati menghayati apa yang dizikirkan dan terbentuklah alunan perasaan sesuai dengan apa yang dihayati. Pada tingkat yang lebih mendalam dzikir bukan lagi sebutan atau memori ke Nama, tetapi hati menyaksikan keperkasaan dan Keelokan Tuhan. Bila hati sudah bisa menyaksikan Keelokan dan keperkasaan Tuhan, itu tandanya seseorang itu sudah ada hubungan kembali dengan roh suci yang mengenal Tuhan. Pancaran cahaya makrifat dari roh suci membuat hati melihat kenyataan sifat-sifat Tuhan.

Pada tingkat kesadaran yang lebih mendalam, ucapan serta memori dan perhatian yang berhubungan dengan Tuhan menimbulkan gairah atau zauk. Zauk itu terjadi karena kuatnya tarikan Hadrat Tuhan ke hati. Memori dan penyaksian terhadap Hadrat Tuhan akan memiliki dampak yang kuat pada hati. Hati yang menyaksikan Hadrat Tuhan Yang Maha Perkasa bisa menyebabkan seseorang menjadi pingsan karena takutnya hati kepada keperkasaan Allah Hati yang menyaksikan Hadrat Tuhan Yang Maha Lemah-lembut akan mengalami rasa kenikmatan dan kebahagiaan yang amat sangat.

Pada tingkat kesadaran yang lebih mendalam, hati diperkuat agar mampu menerima 'sentuhan' Hadrat Tuhan itu. Penyaksian terhadap Hadrat Tuhan tidak lagi melahirkan gairah atau zauk atau kegoncangan ke hati. Hati mengalami suasana Hadrat Tuhan dalam kondisi damai dan sejahtera. Pada tingkat ini hati akan mengenali Tuhan sebagai Raja Yang Mahakuasa. Berada pada sisi Raja tersebut membuat hati merasakan kesejahteraan dan keamanan yang tidak terhingga, hilang rasa takut dan dukacita.

Pada tingkat kesadaran yang paling dalam hati berhadap ke Hadrat Tuhan yang bernama Allah, yang menguasai semua Hadrat, yang melampaui segala nama dan sifat, segala pernyataan dan ibarat. Hati sampai ke tingkat jahil setelah berpengetahuan. Ilmu gagal menguraikan tentang Allah makrifat gagal memperkenalkan Allah Apa saja yang terbentuk, tergambar, berpikir, yang disaksikan dengan mata luar dan juga mata dalam dan segalanya tersungkur di hadapan hadirat Allah, yang tiada Tuhan melainkan Dia, Maha Perkasa. Sesungguhnya tidak ada sesuatu yang menyamai Allah, Dia Maha Esa. Hati yang berhadapan dengan Hadrat Allah benar-benar mengalami dan mengenali maksud keesaan Allah Hati pun tunduk, menyerah sepenuhnya kepada Allah, Tuhan Maha Mencipta. Barulah sempurna penyerahannya, baharulah lengkap perjalanan Islamnya.

Setelah itu rohnya menjadi seakan-akan roh yang baru, seperti baru lahir. Roh yang baru itu adalah Roh Islam yang telah mengenal Allah yang melampaui segala sesuatu tetapi memiliki Hadrat-Nya, Nama-nama-Nya dan Sifat-sifat-Nya, menyatakan kepada Roh Islam, yaitu Roh yang lebih murni dan seni dari semua roh- roh yang lain. Itulah roh yang telah menemukan Kebenaran Hakiki. Pada roh tersebut menyatu tahu dengan tidak tahu, kenal dengan tidak kenal, nafi dengan isbat. Roh Islam itulah yang benar-benar mengerti maksud nafi dan isbat pada kalimat Tauhid: "La ilaha illa Llah".

Dia turunkan Roh dari urusan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya untuk memberi peringatan tentang hari pertemuan. (Ayat 15: Surah al-Mu'min
Roh Islam yang mengenderai hati Islam dan memiliki nafsu Islam, akal Islam dan pancaindera Islam kembali kepada kehidupan dunia untuk mengajak dan membimbing orang lain kepada Yang Haq, Kebenaran Hakiki. Roh Islam mengeluarkan yang Islam saja. Jiwanya Islam, kata Islam, perbuatannya Islam, diamnya Islam, tidurnya Islam dan segala yang mengenainya adalah Islam. Roh Islam yang paling sempurna adalah roh Nabi Muhammad saw Beliau merupakan teladan Islam yang paling sempurna, dan paling baik.
negara paling berpengaruh bagi manusia sebenarnya ruhaninya, sendiri, dan pintu masuknya adalah hati, hati harus dijadikan benteng agar kukuh kuat menerima serangan dari luar, yaitu tipu daya setan yang setiap waktu siap menyerang, dari segala penjuru, dan segala sisi, dari segala arah dan posisi, disamping penghianatan nafsu yang sering tergoda, oleh iming iming kedudukan dan segala yang disuka, senjata paling ampuh adalah waspada, ingat, eleng, tawakal pada Allah diteguhkan, yakin akan pertolongan Allah telah dites dan diuji, senjata doa telah tak ngadat ketika ditembakkan, sebab lubang mesiu dan perawatan selalu dijaga.
ketika simpul simpul pintu pintu pintu ruhani terbuka, maka manusia tak butuh banyak penjelasan untuk menerangkan pada orang lain suatu penekanan maksud dan tujuan, sebab dalam gerak dan laku walau di lakukan dengan candaan yang amat sederhana akan berpengaruh amat besar bagi pendengarnya, karena muatan ilmu dalam setiap penyampaian, sederhana sekalipun akan kuat tertanam bagi pendengar, seakan suatu tarikan maha lembut dari sifat latifah ilahiyah, seperti kelopak bunga yang berkembang yang seakan tak diketahui kapan mekarnya, tapi jelas amat akan menimbulkan sebuah buah yang amat jelas kejadiannya.
Tujuan tarekat tasawuf adalah membawa hati keluar dari hijab kegelapan dan masuk ke dalam cahaya yang terang benderang. Di dunia ini benda-benda nyata bisa disaksikan karena ada cahaya nyata seperti matahari, bulan dan lampu. Hal dunia yang abstrak dapat disaksikan melalui cahaya akal. Alam gaib pula disaksikan melalui cahaya latifah. Meskipun cahaya latifah muncul sebentar saja dalam pandangan mata hati namun ia cukup untuk menerangi perjalanan menuju stasiun spiritual yang berikutnya. Ketika seseorang mencapai baqa semua cahaya tidak memiliki warna, maka tidak ada penyaksian terhadap cahaya, tetapi hati masih dapat merasakan suasana yang terang benderang menerangi perjalanannya sehingga dia tidak merasa keliru atau ragu-ragu. Cahaya-cahaya alam spiritual mengemudi seseorang untuk sampai ke Hadrat Ilahi. Suasana Hadrat Ilahi adalah makam ihsan, yaitu merasakan kehadiran Tuhan dalam segala kondisi dan pada setiap saat. Orang yang sampai kepada pengalaman yang demikian mengerti maksud firman Allah:

Allah adalah Cahaya untuk langit dan bumi. (Ayat 35: Surah an-Nur)
Nur Allah adalah Hadrat-Nya atau kehadiran-Nya yang dapat dirasakan oleh hati yang terkait dengan rohnya yang asli. Nur Allah bukanlah cahaya yang bisa dipikirkan, digambarkan atau dikhayalkan. Maksud melihat Nur Allah adalah merasakan kehadiran-Nya. Apa juga cahaya yang disaksikan dalam alam ghaib adalah cahaya yang Dia gubah sebagai menarik hamba-hamba-Nya agar terus berjalan hingga sampai ke tujuan yang dituju. Tujuan yang terakhir hanya bisa ditemukan dan diakses melalui suluhan cahaya kebenaran yang sejati.

Dan demikianlah Kami wahyukan kepada engkau satu Roh dari urusan Kami. Padahal tidaklah engkau tahu apa itu Kitab dan apa itu iman. Tetapi Kami jadikan ia nur yang Kami beri petunjuk dengan ia barangsiapa yang kami inginkan dari hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya engkau akan memimpin ke jalan yang lurus. (Yaitu) jalan Allah, yang kepunyaan-Nya apa yang ada di semua langit dan apa yang ada di bumi. Ketahuilah! Kepada Allah akan sampai segala urusan. (Ayat 52 & 53: Surah Asy-Syura)
Wahyu adalah cahaya kebenaran yang sejati, menjadi nur yang memberi petunjuk yang dengannya segala urusan sampai kepada Allah
Latifah yang terakhir disebut Latifah Kullu Jasad yang meliputi seluruh tubuh. Latifah ini dihijab oleh sifat jahil dan lalai. Ketika hijab tersebut berhasil dihapus oleh tenaga ibadah dan dzikir akan muncullah sifat berilmu dan beramal. Energi zikir yang berjalan lancar dalam daerah ini dapat dirasakan mengalir ke seluruh tubuh, dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, menyerap ke segenap rongga dalam tubuh, bercampur dengan darah, daging, tulang, sumsum dan seluruh maujud. Suasana yang demikian dikatakan seluruh tubuh berzikir. Keasyikan dalam latifah ini membawa seseorang menyaksikan cahaya yang gilang gemilang tidak dapat dihinggakan dan ditentukan warnanya. Cahaya ini, seperti juga cahaya-cahaya yang lain, bukanlah cahaya Tuhan dan sekali-kali bukan Tuhan dan harus ditolak dengan ucapan: "La ilaha illa Llah".
Latifah berikutnya disebut Latifah Nafsu Natiqah. Latifah ini juga dikenal sebagai diri yang bisa berpikir. Nafsu Natiqah dihijab oleh sifat ammarah yang banyak membentuk khayalan dan melahirkan penyakit panjang angan-angan. Di daerah inilah gambar-gambar yang disukai oleh syahwat ditayangkan. Keinginan untuk kesenangan dan kenikmatan dunia bersumber dari daerah ini. Bila energi ibadah dan dzikir berhasil menghapus sifat ammarah, akan muncullah suasana hati yang tenteram dan pikiran yang tenang. Gambaran, khayalan dan pikiran jahat yang selalu mengganggu orang yang sedang shalat tidak ada lagi ketika sifat ammarah pada Nafsu Natiqah sudah terhapus. Keasyikan dalam kesadaran Nafsu Natiqah membawa seseorang menyaksikan cahaya yang berwarna ungu yang gilang gemilang. Cahaya ini juga bukan cahaya Tuhan dan sekali-kali bukan Tuhan, perlu dipungkiri sebanyak mungkin dengan ucapan: "La ilaha illa Llah".
Kesadaran kebatinan berikutnya disebut Latifah Akhfa yang dihijab oleh sifat Rabbaniah (ketuhanan) yang tidak layak dipakai oleh makhluk. Sifat tersebut melahirkan rasa sombong, ujub dan riya. Bila energi ibadah dan dzikir berhasil membebaskan Latifah Akhfa dari sifat Rabbaniah akan muncullah sifat kebaikan seperti ikhlas dan tawaduk yang sebenarnya. Kesadaran dalam daerah ini membuat seseorang gemar bertafakur. Dalam kesadaran latifah ini juga lahir hubungan spiritual yang erat dengan Kenabian Muhammad saw atau Hakikat Muhammadiah. Orang tersebut akan mengalami rasa kasih, keasyikan dan kerinduan yang bersangatan terhadap Rasulullah Ucapan shalawat merupakan ucapan yang sangat merdu dan mengasyikkan. Keasyikan terhadap Rasulullah dalam daerah Latifah Akhfa ini juga membuat seseorang mengalami suasana 'pertemuan' dengan rohani Rasulullah apakah dalam mimpi atau pun dalam jaga. Hakikat Muhammadiah membawa seseorang memasuki suasana Cinta Allah yang lebih halus dan lebih seni serta memperoleh muraqabah atau menghadap kepada Allah semata, tidak kepada selain-Nya. Keasyikan pada latifah ini juga membawa seseorang menyaksikan cahaya berwarna hijau yang gilang gemilang. Cahaya ini juga bukan cahaya Tuhan dan sekali-kali bukan Tuhan, harus ditolak dengan ucapan: "La ilaha illa Llah".
Selanjutnya hati mengalami suasana Latifah Khafi. Latifah ini dihijabkan oleh sifat syaitaniah yang menerbitkan perasaan dengki, khianat dan busuk hati. Bila energi ibadah dan dzikir yang dilakukan dengan sungguh-sungguh berhasil menghancurkan sifat syaitaniah, akan muncullah sifat latifah yang asli yaitu sabar, syukur, reda dan tawakal yang sebenarnya. Kesadaran pada tahap Latifah Khafi membuat seseorang mengalami hubungan spiritual dengan Kenabian Isa as atau Hakikat Isaiyah. Kesadaran dalam daerah ini menambahkan kekuatan rohani untuk menghampiri Allah dan pada tingkat latifah ini juga selalu muncul hal yang luar biasa seperti kemampuan mengobati penyakit dan memiliki firasat yang tajam, meskipun bidang tersebut tidak pernah dipelajarinya. Keasyikan dalam Latifah Khafi membawa seseorang menyaksikan cahaya hitam yang tidak terhingga. Cahaya ini juga bukan cahaya Tuhan dan sekali-kali bukan Tuhan. Ia harus ditolak dengan memperbanyak ucapan: "La ilaha illa Llah".
Setelah melewati daerah Latifah Roh seseorang mengalami pula suasana kerohanian dalam daerah Latifah Sir atau dinamakan Roh Insani. Latifah Sir atau Roh Insani ini dihijab oleh sifat buruk yang dinamakan sifat binatang buas. Sifat tersebut mendorong manusia bermusuhan sesama sendiri, menyesal, dendam dan saling membenci. Bila sifat binatang buas ini berkuasa akan berlakukah penganiayaan, penindasan dan kekejaman yang tidak manusiawi terhadap sesama manusia. Sifat binatang buas ini harus dihancurkan dengan energi ibadah dan dzikir. Bila sifat binatang buas telah hancur akan muncullah sifat Latifah Sir yang asli yaitu mencintai Allah dengan teramat sangat. Kesadaran kebatinan pada tahap Latifah Sir inilah yang sering membuat hati gilakan Allah sampai ke tingkat tidak rasional. Di daerah ini juga terjalin hubungan spiritual dengan Kenabian Musa Hakikat Musawiyah membawanya merasakan jarak dengan Allah dan merasakan nikmat Cinta Ilahi. Keasyikan dalam daerah ini membawa mata hati menyaksikan cahaya berwarna putih yang gemerlapan. Cahaya latifah ini juga bukan cahaya Tuhan dan sekali-kali bukan Tuhan, harus ditolak dengan ucapan: "La ilaha illa Llah" sebanyak mungkin.
Latifah Kalbu adalah umpama ruang yang besar, terdapat di berbagai latifah lagi. Tingkat kesadaran latifah yang lebih mendalam disebut Latifah Roh, dikenal sebagai Roh hewani. Latifah Roh atau Roh hewani itu dihijabkan oleh sifat-sifat keji yang disebut sifat binatang jinak. Sifat ini menyeret manusia ke jalan memuaskan nafsu syahwat seperti hewan, tanpa menghiraukan akibat dan dosa. Sifat binatang jinak inilah yang membuat manusia berani melakukan kesalahan meskipun orang lain yang telah membuat kesalahan yang sama telah menerima akibatnya. Orang lain yang telah mati karena penyakit aids tidak menakutkan binatang jinak untuk terus berbuat maksiat. Orang lain yang sudah kena gantung karena menjual narkoba tidak menakutkan binatang jinak untuk terus menjual narkoba. Memang sifat binatang tidak mengenal dosa dan tidak takut kepada penyakit. Energi ibadah dan dzikir yang masuk ke dalam daerah Latifah Roh akan menghancurkan sifat binatang jinak itu. Bila sifat tersebut telah hancur akan muncullah sifat Latifah Roh yang asli, yaitu gemar beribadat, kuat bertawakal dan reda dengan takdir Tuhan. Kesadaran pada tingkat Latifah Roh membuat seseorang melakukan ibadah dan berdzikir dengan banyaknya tanpa merasa penat dan jemu. Di daerah ini juga muncul hubungan spiritual dengan Kenabian Ibrahim as dan Nuh 'Pertemuan' dengan Hakikat Ibrahimiyah dan Nuhiyah memperkuat kesanggupan seseorang untuk berjuang dan berkorban demi mendapatkan ridha Allah Keasyikan dalam daerah Latifah Roh ini membawa mata hati menyaksikan cahaya yang berwarna merah yang gilang gemilang. Cahaya latifah ini juga bukanlah cahaya Tuhan dan sekali-kali bukan Tuhan, harus ditolak dengan memperbanyak ucapan: "La ilaha illa Llah".
Daerah-daerah nafsu merupakan stasiun spiritual di sepanjang perjalanan. Stasiun spiritual tidak seharusnya dipandang sebagai makam ketinggian dan kemuliaan. Tuhan tidak melihat ke stasiun spiritual tetapi Dia melihat kepada takwa. Takwa yang sebenarnya hanya dapat disempurnakan dalam kehidupan dunia, di tengah-tengah masyarakat, bukan dalam kerohanian yang memisahkan seseorang dengan orang banyak. Manusia yang paling mulia, yaitu Nabi Muhammad saw sangat aktif dalam kegiatan masyarakat dan kehidupan harian.

Selain mengajarkan perjalanan kerohanian melalui daerah-daerah nafsu, tarekat tasawuf juga mengajarkan perkembangan kesadaran spiritual melalui berbagai tingkat kebatinan. Suasana kebatinan itu disebut Latifah Rabbaniah, yaitu unsur seni yang gaib yang termasuk dalam urusan Tuhan yang tidak bisa dipikirkan. Latifah Rabbaniah yang tergolong sebagai Diri Batin adalah Latifah-latifah Kalbu, Roh, Sir, Khafi, Akhfa, Nafsu Natiqah dan Kullu Jasad.

Latifah Kalbu adalah hati nurani. Ia menjadi raja yang memerintah sekalian anggota dan tubuh manusia. Ia menjadi induk bagi semua latifah yang lain. Kalbu atau hati itulah yang menjadi tilikan Allah Jika baik hati akan baiklah sekalian anggota. Hati yang seni dan gaib dikaitkan dengan hati sanubari, yaitu jantung yang terletak dalam dada sebelah kiri, kira-kira dua jari di bawah tetek. Jika diletakkan jari pada tempat tersebut bisa dirasakan denyutannya. Denyut jantung memberi peringatan kepada manusia bahwa dia masih hidup karena dukungan dari Latifah Kalbu yang menjadi bekas menerima karunia Allah Kalbu atau hati seni dibungkus oleh alam perasaan yang berbolak-balik, tidak diatur. Kesungguhan beribadah dan berzikir membebaskan Latifah Kalbu dari hijab alam perasaan yang menutupinya. Kapan Latifah Kalbu telah bebas dari tutupan alam perasaan ia akan menghadap ke alam gaib dan menerima ilham yang bebas dari bisikan setan. Kesadaran kebatinan pada tahap Latifah Kalbu membuat hati merasakan jalinan yang erat dan unik dengan Kenabian Adam as atau dikatakan hati mengalami suasana Hakikat Adamiyah. Perjalanan Adam as menjadi iktibar untuk hati bertobat dan membersihkannya dari segala kekotoran. Kesadaran spiritual yang berhubungan erat dengan kenabian Adam as itu juga membuka pemahaman tentang perjalanan hukum sebab dan akibat. Pemahaman tentang membuat seseorang mengagumi perjalanan kehidupan yang sangat rapi telah diatur untuknya oleh Tuhan Yang Maha mengatur. Kesadaran tersebut menambahkan keyakinannya kepada bimbingan yang datang dari Tuhan. Hatinya menjadi bertambah kuat untuk kembali kepada Tuhan dan dia bermujahadah untuk mendapatkan keridaan-Nya. Keasyikan dalam suasana latifah sering membuat mata hati menyaksikan cahaya dan warna dalam alam gaib. Keasyikan dalam Latifah Kalbu membawa seseorang menyaksikan cahaya berwarna kuning yang gemerlapan. Cahaya latifah yang disaksikan bukanlah cahaya Tuhan dan sekali-kali bukanlah Tuhan. Ia harus ditolak dengan memperbanyak ucapan: "La ilaha illa Llah".
Khalifah Tuhan berkecimpung dalam kehidupan masyarakat sebagaimana anggota masyarakat yang lain. Kerja utama mereka adalah membimbing manusia ke jalan Allah swt Di damping itu mereka menjalankan kewajiban terhadap diri dan keluarga .. Mereka melakukan pekerjaan karena mentaati Allah Layanan mereka kepada masyarakat adalah layanan mereka kepada Tuhan. Kasih mereka kepada Tuhan disebarkan kepada makhluk Tuhan. Ketaatan mereka kepada Tuhan ditampilkan dengan memberi bantuan kepada makhluk Tuhan. Mereka adalah wakil Tuhan yang bertugas hal ihwal makhluk Tuhan. Itulah pekerjaan Adam as dan keturunannya yang dipilih dari waktu ke waktu untuk melanjutkan pekerjaan tersebut.
Rohani yang terang benderang telah menerima jasad yang gelap gulita, maka sempurnalah kejadian insan. Adam as telah menerima bumi sebagai tempat tinggal, maka sempurnalah tujuan penciptaan Adam as Orang kerohanian melalui berbagai tingkat spiritual. Bila rohaninya menerima jasadnya sempurnalah kejadiannya. Bila dirinya yaitu rohani yang berkamil dengan jasad, menerima penghidupan di dalam dunia sempurnalah perjalanannya. Tidak ada lagi yang dinanti-nantikannya dan tidak ada perintah lagi yang ditunggunya. Dunia inilah daerah kekhalifahannya dan al-Quran itulah perintah yang sudah siap termetri. Orang spiritual masuk ke dalam daerah nafsu kamaliah atau kesempurnaan nafsu dengan doa:

Dan katakanlah: "Ya Tuhanku! Masukkan daku dengan masuknya yang baik dan keluarkan daku dengan keluaran yang baik dan jadikanlah untukku langsung dari Engkau satu kekuasaan yang menolong ". Dan katakanlah: "Telah datang kebenaran dan telah lenyap kebatilan; sesungguhnya yang batil itu pastilah dilenyapkan". (Ayat 80 & 81: Surah al-Israa '@ Bani Israil)
Orang spiritual yang telah kembali ke keaslian rohaninya, kemudian dikirim kembali ke tempat dia mulai, yaitu kehidupan dunia, dipelihara oleh Allah dari merusak kehidupan dunia. Dia kembali ke kesadaran kemanusiaan dan kehidupan dunia sebagai nafsu muthmainnah, nafsu yang paling sempurna dan sesuai untuk kehidupan di bumi. Bumi yang menjadi tempat kembalinya itu adalah seperti bumi yang diciptakan kembali oleh Tuhan setelah terjadi kiamat.

Pada hari yang akan diganti bumi ini dengan bumi lain dan semua langit ini, dan akan tampil mereka ke hadapan Tuhan, Allah, Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Dan akan engkau lihat orang-orang yang berdosa itu terikat dengan belenggu. (Ayat 48 & 49: Surah Ibrahim)
Manusia pilihan yang diturunkan kepada penghidupan dunia setelah dinaikkan ke tempat asalnya, merupakan khalifah Tuhan yang bertugas memakmurkan bumi dan melaksanakan perintah Allah. kelompok orang yang tidak mengerti akan mencoba untuk mengganggu pekerjaan mereka tetapi pertolongan dari Tuhan membelenggu musuh mereka sehingga dunia ini tidak lagi bisa melukai mereka . Setelah tugas mereka di bumi sempurna mereka akan kembali kepada Tuhan dalam kondisi rida meridai.

Para khalifah Tuhan diperkuat dengan pertolongan yang langsung dari-Nya.

Dia melemparkannya Roh dari urusan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. (Ayat 15: Surah Mu'min)

Dan Kami telah perkuatkan dia (Isa) dengan Roh Kudus. (Ayat 87: Surah al-Baqarah)
Setelah sampai di puncak, derajat kefanaan mulai menurun. Tingkat kefanaan menurun ini dinamakan nafsu mardhiah. Dalam proses naik hingga ke radhiah seseorang itu terpisah dari kemanusiaan dan keberadaan alam maya. Ketika sampai ke daerah mardhiah dia kembali melihat ke apa yang terpisah darinya saat naik dahulu. Dia sudah bisa melihat sifat kemanusiaan yang menumpang wujud rohani dan sudah merasakan memiliki kemampuan untuk menggunakan sifat dan bakat tersebut. Kapan kemanusiaan sudah kembali dia kembali menyaksikan keberadaan alam maya dan makhluk di sekelilingnya. Ketika masih dekat dengan daerah radhiah, meskipun dia sudah berada dalam daerah mardhiah, efek kefanaan belum terhapus sepenuhnya dari hatinya. Penyaksiannya terhadap makhluk tidak menetap. Terkadang penyaksiannya melampaui makhluk. Kemudian makhluk datang kembali kepada pandangannya. Begitulah sehingga dia sampai ke penetapan nafsu mardhiah, di mana pandangannya tidak terbalik lagi. Dirinya, sifat dan bakatnya dan makhluk sekaliannya menjadi tetap dalam kesadarannya. Dia masuk ke dalam suasana yang diistilahkan sebagai baqa atau kekal dengan Allah dalam suasana tersebut hatinya tetap dengan Allah walaupun zahirnya bercampur dengan orang banyak. Meskipun dia sudah bisa bergaul dengan orang banyak tetapi dia lebih suka sendirian dan tidak mau berbicara atau melakukan sesuatu yang sia-sia. Dia sudah bisa mengatur kehidupan kesehariannya. Ucapan yang melanggar syariat tidak keluar lagi dari mulutnya.

Di daerah mardhiah seseorang mendapat kesadaran sepenuhnya tentang keaslian rohaninya. Perjalanan spiritual bukanlah perjalanan dari satu tempat ke tempat yang lain. Ia merupakan perubahan kesadaran akan hakikat dirinya sampai dia memperoleh kesadaran sepenuhnya tentang keaslian dirinya. Dalam melalui proses perubahan kesadaran itu dia mendapat pengetahuan tentang Tuhan. Dia juga memperoleh kesadaran mengenai roh yang paling latif yang dipakaikan dengan tubuh yang nyata. Orang mardhiah yakin bahwa dia diciptakan untuk sesuatu tujuan yang khusus tetapi dia belum menerima amanah untuk memikul tugas tersebut. Jadi kondisinya adalah umpama orang yang sedang menunggu kendaraan di stasiun. Sementara kendaraan yang akan membawanya pergi ke tempat yang khusus sampai dia melakukan sesuatu pekerjaan secara ala kadar saja. Dia melakukan sesuatu dengan persediaan untuk meninggalkannya ketika datang 'perintah' untuk pergi ke satu tempat yang final kelak. Suasana hati yang beginilah membuat orang mardhiah kembali ke kehidupan dunianya tanpa suatu tujuan yang jelas. Sebenarnya efek kefanaan yang sangat kuat pada tingkat radhiah masih menguasai hatinya. Efek tersebut membuatnya masih 'menanti-nantikan' sesuatu yang dia sendiri tidak yakin. Masih ada tarik menarik di dalam hatinya di antara kesadaran spiritual yang diperoleh dengan kesadaran kemanusiaan yang dikembalikan kepadanya. Dia adalah umpama seorang yang keberatan untuk memasuki rumahnya yang telah lama ditinggalkannya dan rumah itu gelap gulita. Dia akan terus kalau demikian sampai dia menyadari bahwa dirinya sudah ada cahaya yang mampu menerangi rumah gelap tersebut. Ketika dia telah menerima rumahnya dengan sepenuh jiwa raga dan dia memasuki rumah itu, akan memancarlah di dalamnya cahaya yang terang benderang. Dia mulai bekerja di dalam rumah tersebut. Keadaannya seperti Adam as yang reda dengan bumi ini menjadi tempat tinggal, tempat kematiannya dan tempat dibangkitkan.
Manusia rohani memiliki sifat-sifat yang asli. Manusia lahir memperoleh sifat melalui percantuman dengan manusia rohani. Sifat yang muncul pada manusia lahir dinamakan kemanusiaan. Bila seseorang meninggalkan daerah-daerah ammarah, Lawwamah dan mulhamah masuk ke dalam daerah muthmainnah, berarti dia meninggalkan daerah kemanusiaan dan masuk ke sifat rohani. Kelenyapan kemanusiaan disebut kefanaan. Bertambah kuat sifat rohani menguasainya bertambah kuat kefanaan yang dialaminya. Tertanggalnya kemanusiaan dan pada waktu yang sama mengalami suasana Hadrat Ilahi menyebabkan orang yang bersangkutan menyangkal perbuatan manusia dan menyandarkannya ke perbuatan Tuhan. Orang yang dalam kondisi demikian menyaksikan Hadrat Tuhan memimpin sekalian alam maya ini. Karena itu dia menyerah bulat-bulat kepada administrasi Tuhan. Di daerah muthmainnah Hadrat Tuhan yang dialami oleh hati menyata sebagai Nama-nama-Nya yang banyak. Setelah dia masuk ke daerah yang lebih mendalam hatinya mengalami kondisi di mana Hadrat nama-nama yang terlihat banyak itu sebenarnya adalah Hadrat yang satu, yang berkuasa menentukan segala hal, tidak ada yang lain memiliki kuasa. Daerah ini dinamakan nafsu radhiah. Suasana hati anggota nafsu radhiah adalah sangat teguh meredai apa saja takdir Tuhan. Baginya bala dan nikmat adalah sama saja, sama-sama takdir Tuhan. Orang radhiah sangat kuat merasakan kehadiran kekuatan gaib mengendalikan segala perilaku dan tindak-tanduknya. Perbuatan yang keluar dari dirinya terjadi secara spontan tanpa dia campur sedikit pun. Keadaannya samalah seperti kondisi orang yang melihat dirinya di dalam mimpi. Dia tidak ikut campur dalam perilaku dirinya yang di dalam mimpi itu. Dirinya yang di dalam mimpi melakukan sesuatu tanpa berpikir dan berencana, tidak terikat dengan dirinya yang diluar mimpi. Bila diri yang di dalam mimpi itu menjadi sangat kuat diri yang di luar merasakan dialah yang khayalan dan diri yang di dalam mimpi itulah diri yang sebenarnya. Pengalaman seperti inilah menyebabkan orang radhiah menafikan keberadaan dirinya dan diisbatkan keberadaan Allah Perilaku orang radhiah tidak lagi terpengaruh pada pikiran, perasaan dan hukum logika. Tuturkatanya berbunga-bunga, sulit dimengerti oleh orang lain. Dia kadang-kadang mengeluarkan kata yang menyinggung perasaan orang lain. Biasa juga terjadi dia mengeluarkan ucapan yang pada zahirnya melanggar syariat. Dia tidak lagi mengindahkan aturan masyarakat. Tingkah lakunya bisa menyebabkan orang menyangkakannya sudah gila. Apa yang sebenarnya di hatinya adalah segala hal datangnya dari Tuhan. Dia mengembalikan segala hal kepada Tuhan. Apa juga kemampuan dan kekeramatan diperoleh disandarkan kepada Tuhan. Orang radhiah mengalami rasa 'kegilaan kepada Allah' pada tingkat paling tinggi. Suasana hatinya diistilahkan sebagai 'dalam Allah.' Dia fana dalam lautan takdir.
Semakin jauh seseorang itu memasuki daerah Lawwamah semakin kurang pengaruh ammarah pada dirinya. Ketika sampai pada satu tingkat rantai ammarah putus darinya dan dia masuk ke dalam daerah nafsu mulhamah. Nafsu mulhamah adalah nafsu yang sudah bersih dari kotoran. Bila kotoran tidak ada pada hati, pikiran kotor tidak datang lagi dan mengambil alih tempatnya adalah ilham bersih yang datang dari alam tinggi. Cermin hatinya yang kerap menghadap ke alam tinggi membuatnya sering lupa kepada alam rendah. Dia menjadi tidak tertarik dengan harta, merasa cukup dengan apa yang ada dan tidak merasa sayang untuk membantu orang lain dengan harta yang ada padanya. Dia juga melakukan taubat yang sungguh-sungguh dan tidak kembali lagi ke kejahatan yang pernah dilakukannya. Dia memiliki kesabaran yang kuat dalam menghadapi bencana. Dia kuat berserah diri kepada Tuhan. Dia menghadap Tuhan dengan rasa rendah hati dan membutuhkan-Nya. Sifat rendah hati yang sudah lahir dalam hatinya membuatnya tidak lagi mengkritik orang sembarangan, seperti yang dilakukannya ketika dalam daerah Lawwamah dahulu. Dia lebih memandang orang dengan pandangan simpati, bukan mengutuk, tidak mencela atas kesalahan orang, dan memandang sesuatu lebih pada keseluruhan permasalahan.

Dzikirnya sudah bisa masuk ke dalam hati yang lebih dalam dan lebih seni, memperkuat rasa ketergantungan kepada Allah Keikhlasan anggota mulhamah ini sudah bertambah kuat. Dia melakukan kebaikan bukan lagi karena 'takut Allah' tetapi semata-mata 'karena Allah' atau karena mau mendapatkan keridaan-Nya. Orang yang sudah berada pada tahap ini akan terus mentaati Allah sekali pun Tuhan tidak menciptakan surga dan neraka. Tujuannya adalah Allah semata. Keyakinannya kepada Allah swt sangat mendalam, sebab itu dia kuat melakukan tajrid, yaitu menyerahkan urusannya kepada Allah saja, tidak kepada makhluk. Daerah mulhamah merupakan tingkat terakhir pekerjaan membawa haluan nafsu ke arah yang benar. Ia adalah batas terakhir bagi nafsu yang mendatang, yang menumpang nafsu asli yang suci. Karena dia masih berada dalam daerah nafsu yang mendatang dia masih mungkin diseret kembali ke daerah nafsu yang lebih rendah. Jadi kesungguhan beribadah dan kekuatan iman diperlukan agar rantai dari daerah nafsu yang lebih rendah tidak kembali menyambar dan mengikatnya.

Bila seseorang itu keluar sepenuhnya dari daerah nafsu yang mendatang dan masuk sepenuhnya ke dalam daerah nafsu yang asli dan haluan nafsunya sudah berada pada arah yang benar, dia masuk ke dalam daerah nafsu muthmainnah. Dia telah kembali ke tingkat yang diridhai Allah

Wahai nafsu muthmainnah. Kembalilah kepada Tuhan engkau dalam keadaan reda meredai oleh-Nya dan masuklah kamu ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah kamu ke dalam surga. (Ayat 27 - 30: Surah al-Fajr)
Jiwa muthmainnah hanya tenang dan tenteram di dalam melakukan ketaatan kepada Allah Perbuatan zahirnya dan kelakuan hatinya semata-mata dalam melakukan ketaatan kepada Allah swt Dia menyayangi makhluk Tuhan, suka bersedekah, tidak menyimpan harta, reda dengan ketentuan Allah dan bertawakal kepada-Nya dalam segala hal. Dia hidup di atas landasan takwa, kuat beribadah dan mensyukuri segala pemberian Tuhan. Dia sudah melewati makam sabar dan masuk ke makam reda, maka tidak ada apa lagi yang menekan jiwanya. Cahaya ketenangan muncul di wajahnya. Dia sudah dapat mengalami Hadrat nama-nama Tuhan. Kesadaran dan ingatan terhadap nama-nama Tuhan mendatangkan kenikmatan dan kelezatan pada hatinya. Dekat dengan Tuhan membuatnya merasakan dirinya selalu bersama-Nya, maka tidak ada apa lagi yang menakutkan dan mendukacitakannya. Daerah muthmainnah ini dinamakan daerah kewalian Awalnya atau wali kecil.
Tarekat tasawuf mengajarkan manusia agar membangun kekuatan dalam berjihad melawan sifat nafsu ammarah dan membebaskan diri dari ikatan rantainya. Kekuatan internal diperoleh dengan cara mengingat Allah sebanyak mungkin. Awalnya ingatan kepada Allah dilakukan dengan paksaan dan hanya terjadi secara luar saja tetapi dengan mengulangi nama-nama Tuhan, menyebutkannya kuat-kuat akan menambah kesadaran terhadap-Nya. Ingatan kepada Tuhan yang dilakukan secara berkelanjutan akhirnya akan masuk ke dalam hati. Ketika itu ingatan kepada Tuhan dilakukan dalam hati, tidak perlu lagi menyebutnya kuat-kuat.

Ucapan dan ingatan kepada nama-nama Tuhan membuat hati menjadi jaga dari tidur dan sadar dari kelalaian. Hati mendapat kekuatan untuk berperang dengan tentara ammarah. Terjadilah peperangan di antara yang baik dengan yang jahat. Perjuangan ini terjadi di dalam daerah nafsu Lawwamah. Senjata militer Lawwamah adalah taat pada peraturan syariat, rajin beribadah dan menyibukkan lidah dan hati berzikir kepada Allah Hati yang sudah jaga dari tidur bisa berfungsi sebagai juru nasihat kepada diri sendiri. Bila terjadi kesalahan dosa akan berdetiklah peringatan di dalam hati dan orang yang terkait menjadi menyesal dan bertobat. Bila hati bertambah kuat juru nasihat dalam diri ini menjadi kuat. Ia akan menarik dirinya lari dari dosa sebelum dosa dilakukan. Meskipun begitu, ketika berada dalam daerah Lawwamah, seseorang itu masih lagi terlanjur melakukan dosa sekalipun dia berusaha mencegahnya. Ini karena sebagian dari rantai ammarah belum putus dari daerah Lawwamah. Rantai tersebut adalah ujub, riak dan samaah. Sifat kebaikan yang muncul dalam daerah Lawwamah adalah mengakui kesalahan diri sendiri, menyesal dan bertobat. Orang yang berada dalam daerah Lawwamah gemar bertafakur, merenung sesuatu dan mengaitkannya dengan Kudrat dan Iradat Tuhan. Ingatannya kepada Allah sekali sekala masuk ke dalam hati dan menerbitkan rasa kemanisan berzikir. Zikir yang telah masuk ke dalam hati memperkuat dan melembutkan hati itu. Kuat dalam melawan yang salah dan lembut dalam penyesalan terhadap kesalahan diri. Anggota nafsu Lawwamah banyak menangis jika teringat dosa-dosanya yang lalu. Dia juga mudah menangis ketika beribadah. Suasana hati yang menguasai anggota Lawwamah ini adalah 'takutkan Allah.' Perhatiannya lebih tertuju kepada akhirat dan surga dari nikmat duniawi. Satu sikap yang agak signifikan muncul pada anggota Lawwamah adalah dia tidak hanya mengkeritik kesalahan dirinya malah dia juga mengkeritik kesalahan orang lain. Ini terjadi karena dia selalu memperhatikan kesalahan dirinya dan kesalahan orang lain. Dalam memperhatikan kesalahan diri dia melihat kesungguhannya bekerja menghapus kesalahan. Dia melihat dirinya yang bertobat dan memohon ampunan dari Allah dalam memperhatikan kesalahan orang lain dia tidak melihat mereka melakukannya. Perhatian yang demikian membuatnya merasakan dirinya lebih baik dari orang lain.
Daerah-daerah nafsu perlu dipahami untuk memudahkan tugas membawanya ke arah dan tujuan yang benar. Sebelum nafsu sampai ke arah yang benar ada tiga daerah nafsu harus ditempuh. Tiga daerah tersebut adalah ammarah, Lawwamah dan mulhamah.

Rantai yang mengikat nafsu dalam daerah nafsu ammarah adalah yang paling kasar dan paling kuat. Pengikat nafsu dalam daerah ini adalah sifat-sifat keji seperti sombong, ujub, riya dan sama'ah. Sifat-sifat tersebut membuat manusia merasakan dirinya lebih baik, lebih mulia dan lebih cerdik dari orang lain. Dia suka pamer, suka dipuji dan suka namanya menjadi terkenal. Di daerah ini tidak ada nilai-nilai murni kemanusiaan dan tidak ada aturan. Orang yang berada dalam daerah ini sangat tamakkan harta dan tidak peduli dari sumber mana harta itu diperoleh. Setelah memperoleh harta dia menjadi kikir. Nafsu yang berada dalam daerah ammarah ini juga kuat berdengki, dendam dan sanggup berbuat khianat. Apalagi nafsu ammarah bertabiat suka berangan-angan. Dia merasakan apa yang dia angankan akan diperoleh walaupun dia tidak ada kemampuan untuk melakukannya. Orang yang dibungkus oleh nafsu ammarah suka menggunakan dua cara penilaian. Untuk dirinya digunakan cara positif dan untuk orang lain digunakan cara negatif. Dia mengatakan orang lain mengumpat tetapi untuk dirinya, berbuat hal yang serupa dikatakan mengatakan yang benar. Orang lain dikatakan berdengki tapi buat dirinya dikatakan mempertahankan yang hak. Orang lain dikatakan bakhil tetapi buat dirinya dikatakan berjimat cermat. Sikap yang demikian membuat tertutup pandangannya dari melihat ke keburukan, kejahatan dan kerusakan yang ada dengan dirinya. Dia dikuasai oleh perasaan bahwa dialah manusia yang paling tahu dan paling sempurna. Dia merasakan surga adalah haknya sekali pun dia tidak melakukan kebaikan. Perasaan yang demikian muncul karena sifat ammarah tidak menghalangi seseorang menggunakan ilmu yang bersangkutan dengan kehidupan dunia. Ia hanya menutup ilmu tentang Tuhan dan akhirat. Kemampuan menggunakan ilmu dunia membuat anggota nafsu ammarah bisa sukses dalam kehidupan, bisa menjadi cendikiawan dan pemimpin masyarakat. Dia juga mempelajari ilmu agama dan menjadi alim dalam bidang tersebut. Tetapi ilmu tidak berdaya menyelamatkannya karena dia disibukkan dengan ilmunya. Dia menjadi marah jika mengetahui orang berguru dengan orang alim yang lain. Dia suka mengeluarkan pernyataan yang merendah-rendahkan ilmu orang lain. Dia merasakan dirinya adalah anggota agama yang sempurna, ahli surga yang tidak akan diperiksa, sudah mencapai makam makrifat sementara orang lain tidak sempurna, ahli neraka dan tidak bermakrifat.
Motif tarekat tasawuf adalah: "Ilahi! Engkau lah tujuanku. Keridaan Engkau saja yang daku cari " . Tarekat tasauf menjurus sepenuhnya kepada usaha mendekatkan diri kepada Allah, mengabdikan diri kepada-Nya sebaik mungkin dan mengenali-Nya sebagaimana layaknya. Pokok dari ajaran tarekat tasawuf adalah penyucian hati. Persyaratan penyucian hati yang pertama adalah taubat secara lahir dan batin. Taubat lahir terkait dengan kata, perbuatan, perasaan, menghindarkan diri dari dosa dan memperbanyak kebaikan. Taubat batin berkaitan dengan rohani, mengembalikan rohani kepada tingkat kesuciannya yang asli.
Relevansi rohani dengan jasad dan dunia melahirkan tenaga yang menyeret rohani lari dari posisinya yang asli. Energi negatif itu muncul dari nafsu. Nafsu yang awalnya bersifat baik sudah dikuasai oleh sifat-sifat buruk. Nafsu yang awalnya menghadap Tuhan telah berpaling menghadap ke yang selain Tuhan. Konsentrasi taubat batin adalah membawa nafsu pada haluannya yang asli, yang mengarah kepada Tuhan. Rantai yang menyeret nafsu ke arah yang salah harus diputuskan.
yang sebenarnya sangat menakutkan tapi jarang sekali orang mau jujur karena ada di dalamnya, yaitu dimana kita terperangkap dalam keberhasilan, dan kita sulit melepaskan diri dari keberhasilan itu karena takut dunia baru itu nantinya tak seindah dunia lama, dan amat sulit kita meninggalkan dunia lama, seakan kita telah membangun suatu kerajaan, kerajaan bayangan di hati, kerajaan mimpi mimpi, yang sebenarnya sama sekali tak ada, tapi seakan benar benar ada, sehingga diri sulit meninggalkannya, padahal dunia lama itu sudah tak sesuai dengan kehidupan masa kini, karena perkembangan waktu dan usia kita, tak seharusnya masih seperti anak kecil yang bermain dengan boneka.
dalam perjalanan kalau kita enak enakkan, maka akan didahului oleh pejalan baru, dan kita akan tertinggal, tak banyak yang kita dapat.... umur terus bertambah, seharusnya tak ada kata, nanti.....nanti saja ku jalani..... yang paling menakutkan dan paling mudah menjerat manusia adalah cara syaitan membuat bayangan nanti nanti ketika seseorang mau melakukan amal kebaikan, sampai kebaikan itu sudah berat lagi dijalankan. karena perbedaan waktu dan keadaan.
Dalam masyarakat Islam sudah banyak orang alim yang menyebutkan lahir syariat yaitu ilmu fikih. Sebab itu orang arif lebih memfokuskan soal batin yaitu ilmu tasauf yang berfokus soal hati. Bidang fikih lebih bersifat umum. Satu fatwa yang dikeluarkan oleh seorang alim fikih sesuai untuk masyarakat dan kebanyakan kondisi. Bidang kerohanian bersifat pribadi. Untuk satu orang hanya ada satu saja jalan spiritual yang cocok untuknya. Oleh sebab itu guru spiritual perlu ada kasyaf yang memungkinkannya mengerti posisi muridnya. Kearifan guru lebih dibutuhkan untuk mengemudi murid yang didatangi oleh jazbah atau mendapat gangguan khadam. Hanya guru yang arif mengerti jalan khusus yang sedang dilalui oleh muridnya dan dia mampu membimbing muridnya menuju tujuan dengan selamat.
Taubat yang benar menggabungkan cara fikih dengan cara tasauf. Orang yang bertobat melakukan shalat sunat taubat dan memperbanyak ucapan istighfar. Kesalahan yang berhubungan dengan orang lain diselesaikan secara meminta maaf atau membayar hutang jika ada. Dia tidak mengulangi kesalahan setelah dia bertobat. Dia tidak mendekati ruang yang bisa membawanya kepada kesalahan kembali. Untuk kesalahan kepada orang lain dia harus mendoakan kesejahteraan untuk orang itu.

Taubat yang lebih mendalam perlu ke bimbingan orang arif yang telah melakukan taubat secara khusus. Orang arif melakukan taubat dengan penuh rasa takut kepada Tuhan. Dilihatnya dosa seperti gunung yang akan jatuh ke atas kepalanya. Dia merasa takut dan lari ke Tuhan memohonkan ampunan-Nya. Dia takut dicampakkan jauh dari Tuhan. Dia takut 'kehilangan' Tuhan yang sangat dikasihinya. Dia takut kehilangan perhatian-Nya, cinta-Nya dan ampunan-Nya. Dia takut dan malu karena Tuhan Melihat dan Mendengar segala perbuatan dan tutur kata lidah dan hatinya. Dia takut azab Tuhan yang sangat keras. Ucapan yang keluar dari mulut orang yang takut Tuhan memberi kesan yang mendalam pada jiwa orang yang mau bertobat. Kondisi takutkan Tuhan itu juga menguasai jiwa orang tersebut yang mau bertobat itu. Kata yang keluar dari hati yang bersih dan tertutup oleh cahaya suci menyinar di cermin hati orang yang mendengar. Hati yang menerima pancaran cahaya suci dari orang suci akan menjadi jaga dan hidup. Hati yang hidup itu melakukan taubat dengan sebenarnya.

Orang arif yang mampu membimbing orang lain memasuki pintu taubat adalah orang yang telah sampai ke makam jarak dengan Tuhan. Kemudian mereka dikirim balik ke alam rendah untuk membimbing orang lain yang berpotensi tetapi masih ada cacat dan kelemahan. Dalam melaksanakan tugas tersebut orang arif berjalan menurut Sunah Rasulullah Tugas pembimbing spiritual berbeda dari tugas seorang. Rasul ditugaskan menyampaikan kepada semua orang. Pembimbing spiritual tidak mengajarkan semua orang. Mereka hanya mengambil orang-orang tertentu, yang dipilih untuk mengikuti pelatihan intensif untuk menambah jumlah orang arif yang akan melayani masyarakat. Rasul diberi kebebasan dalam melakukan tugas berdakwah tetapi pembimbing jalan spiritual harus mengikuti jalan rasul, tidak bisa membuat jalan sendiri. Guru spiritual yang mengaku dirinya bebas dari Sunah Rasulullah saw, mengklaim dirinya sama dengan nabi, sebenarnya telah jatuh ke dalam kesesatan dan kekufuran. Guru spiritual yang benar berpegang teguh kepada prinsip agama yang dibawa oleh Rasulullah saw, tidak membawa peraturan baru. Cara penyampaian mereka bisa jadi berbeda dengan cara Rasulullah saw karena kebijaksanaan manusia tidak sama, tetapi perbedaan cara tidak sampai mengubah hukum dan peraturan. Orang arif yang benar memiliki 'jarak' dengan Rasulullah saw melebihi dekat dengan istri, anak dan kerabat mereka. Kehampirannya adalah jarak spiritual yang lebih erat dari hubungan darah daging.
Taubat, sebagaimana juga ibadah yang lain, ada aspek zahir dan ada aspek batin. Aspek lahir melibatkan cara dan peraturan yang bersangkutan dengan perbuatan zahir. Aspek batin melibatkan urusan hati. Setiap amalan lahir digantungkan kepada niat yang berada dalam batin.
Praktek lahir dinamakan syariat lahir dan praktek batin dinamakan syariat batin. Ilmu yang membicarakan tentang syariat lahir dinamakan ilmu fikih. Ilmu yang membicarakan tentang syariat batin dinamakan ilmu tasauf. Istilah fikih dan tasawuf digunakan pada zaman yang di belakang ini. Pada zaman Rasulullah saw semua ilmu disebut ilmu agama atau ilmu al-Quran atau ilmu Islam. tak ada ilmu dipeta petakan, tak ada ilmu nahwu, tak ada ilmu shorof, fikih, tajwid, usuludin, tauhid, tasawuf, tafsir , semua ilmu ya ilmu, baru sejak pada zaman sahabat dan tabi'in ilmu mulai di petakan agar manusia mudah mempelajarinya dan tidak campur bawur, Kesempurnaan ilmu syariat adalah kombinasi ilmu fikih dan tasawuf. Ilmu fikih mengajar manusia cara beramal yang benar. Ilmu tasauf mengajar manusia menghadap Tuhan dengan benar dalam melakukan perintah-Nya. Bagi mereka yang cenderung dengan aliran tarekat tasawuf janganlah menganggap tasauf sebagai persaingan kepada fikih atau kepada syariat itu sendiri. Paham yang membedakan tasauf dari syariat, yang mengatakan fikih itulah syariat dan tasawuf adalah bidang yang tersendiri, harus dihapus. Tasauf berperan mempermudah melakukan peraturan syariat sebagaimana yang dikehendaki oleh fikih. Fikih pula membentuk jalan yang lurus agar seseorang bisa menghadap Tuhan dan menghampiri-Nya sebagaimana yang diajarkan oleh tasawuf. Gabungan fikih dan tasawuf membentuk syariat yang sempurna. Berfikah tanpa tasauf dibolehkan untuk mendapatkan posisi sebagai seorang Islam tetapi bertasauf tanpa fikih tidak mungkin. Tidak mungkin mengerjakan shalat dengan niat yang benar tetapi tidak ada perbuatan shalat.
Ulama zaman dahulu suka memperingatkan umat manusia untuk menghindarkan diri dari melakukan dosa demi kesejahteraan manusia sendiri. Banyak dari ulama hari ini segan mau berbicara tentang dosa, takut dianggap kolot. malah berbicara dosa sambil di pakai lelucon, agar lucu, seakan masuk neraka itu hanya permainan semata, sehingga orang umum pun kemudian dalam hati menjadikan dosa itu sesuatu yang ringan, sebab para da'inya sudah membuatnya menjadi lelucon, sebab efek dosa itu bukan saja pada nanti di neraka tapi juga berimbas pada masa sekarang, mempunyai efek lahir juga efek bathin pada perjalanan manusia, Orang hari ini tidak tahu tentang dosa tetapi sangat mengerti tentang kemudaratan pada tubuh. Hal dosa harus diurai secara ilmiah terlebih dahulu untuk mengetahui kemudaratannya. Apakah kemudaratan arak? Apakah kemudaratan memakan daging babi? Apakah kemudaratan tidak shalat? Apakah kemudaratan tidak berpuasa? Semuanya harus dimasukkan ke dalam 'tabung' terlebih dahulu sebelum disahkan sebagai dosa. Manusia mengambil alih tugas menentukan sesuatu itu berdosa atau tidak.

Muslim memainkan peran yang penting di dalam dunia. Mereka berfungsi sebagai penyeimbang bagi ketidak-stabilan yang terjadi pada dunia. Kaum Muslimin berperan membatasi bencana yang mengancam akibat dosa-dosa manusia. Kaum Muslimin memiliki kemampuan yang tinggi karena mereka berpegang kepada syariat yang benar yang mengajar mereka ibadat tobat dan memperkenalkan mereka kepada Tuhan Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. Air taubat yang mengalir dari kaum Muslimin mendinginkan api neraka dunia yang keluar dari dosa-dosa manusia. Taubat merupakan karunia Tuhan yang besar kepada orang-orang yang beriman demi keuntungan mereka sendiri dan seluruh umat. Ibadat tobat harus disebarkan seluas-luasnya demi kesejahteraan hidup di dunia dan juga di akhirat. Kaum Muslimin harus memandang serius ke ibadat tobat sebagaimana kesungguhan mereka dalam ibadah shalat dan lain-lain. Mereka harus benar di dalam tobat sebagaimana benarnya hati mereka menghadap Tuhan di dalam shalat.
Syariat mengajarkan jihad menyelamatkan diri dari dosa. Dosa masuk ke dalam manusia melalui setiap bagian tubuhnya dan juga melalui dirinya yang tidak terlihat. Mata, telinga, mulut, hidung, tangan, kaki, syahwat dan segenap tubuh bisa menjadi pintu buat dosa memasuki manusia. Pikiran dan perasaan ini menjadi pintu dosa.

Dosa adalah umpama besi dan neraka umpama besi berani yang besar lagi kuat, menarik besi dosa kepadanya. Makanan, minuman dan aroma yang harum memasukkan dosa ke dalam tubuh manusia. Dosa bercampur dengan darah, daging, tulang, sumsum dan seluruh tubuh. Tangan yang melakukan kejahatan akan tertutup oleh dosa seperti balutan lumpur. Tangan yang berbalut dosa menyentuh istri, anak-anak, makanan, pekerjaan dan lain-lain. Ia menggambarkan apa saja yang disentuhnya.

Syahwat yang berzina akan tertutup dosa dan dengan syahwat yang berbalut kotoran dosa itu juga pria meniduri istrinya. Tangannya yang menyuap makanan tertutup dosa. Makanannya haram. Darahnya bercampur air dosa. Air mani yang terbentuk dalam tubuhnya juga terpalit dosa. Melalui syahwat yang berdosa dia mengirim air mani yang terpalit dosa ke dalam konten istrinya. Dalam konten ibu lagi bayi sudah dihadapkan dengan efek dosa. Anak keluar ke dunia membawa kekuatan dosa, siap untuk menghadapi dosa-dosa. Banyak bayi yang dibungkus oleh dosa sejak dalam kandungan ibu mereka keluar membawa penyakit yang aneh-aneh. Sudah ada bayi yang keluar saja ke dunia sudah mengidap penyakit aids.

Kecelakaan menimpa manusia yang berdosa karena setan bisa bersatu dalam apa saja yang mereka lakukan. Apa saja yang dipegangnya dan apa yang keluar darinya beserta dengan setan yang selalu mencari jalan untuk meruntuhkan Bani Adam. Dosa yang menemani seseorang membawa panas api neraka kepadanya ketika dia masih hidup dalam dunia ini, apa lagi setelah dia memasuki lubang kubur. Kembang api neraka membuatnya menjadi resah gelisah dan kepanasan. Istri yang cantik tidak menyejukkan pandangannya. Harta yang banyak tidak menemukannya dengan kepuasan. Kemuliaan yang diberikan oleh manusia tidak mendamaikan jiwanya. Beban menghimpit jiwanya, takut orang banyak mengetahui kejahatan yang disembunyikannya.

Pikiran dan perasaan yang tertutup dosa, meskipun memikirkan sebaik mungkin, merencanakan dengan penuh kerapian, membuat penelitian dengan teliti namun, hasilnya adalah kemusanahan. Morfin ditemukan oleh ahli medis untuk membantu orang sakit itulah yang menjadi obat membunuh jutaan manusia. Satelit yang diciptakan untuk kesejahteraan umat manusia itulah yang memandu rudal dan bom nukliar untuk membunuh umat manusia sendiri. Sentuhan pikiran, perasaan dan anggota yang berdosa lebih mengwujudkan neraka dalam dunia dari memberi kesejahteraan kepada umat manusia. Dosa-dosa yang bertaburan dalam dunia inilah yang menyeret dunia ke kiamat.
Dalam perjalanan menuju tahap yang disucikan seseorang harus melawan nafsu kehewanan yang menumpang pada nafsunya yang asli, yang disucikan. Nafsu kehewanan hanya inginkan makanan, minuman, pakaian, tidur, melakukan yang sia-sia dan mencari apa yang nikmat untuk di jalani, apa yang nikmat untuk di nikmati. Di daerah nafsu yang rendah itu juga ada sifat ego yang jahat seperti takabur, sombong, dengki, dendam, serakah, ujub, riak, mengadu domba, dan lain-lain penyakit hati. Semua itu harus dibuang dari daerah nafsu agar kemurnian nafsu yang asli kembali menyolok timbul ke permukaan sebab tak tertutup karat dosa. Orang yang benar-benar bertobat mampu melakukannya dan dia kembali menjadi suci, bersih dan murni. Hijab yang muncul dari alam zahiriah menjadi hancur dan rohaninya akan bercahaya, memperlihatkan keserian wajah yang menggambarkan kedamaian jiwa.

untuk bertaubat seseorang tak harus menunggu merasa berdosa, dan menunggu diri melakukan dosa dahulu, sebab sudah menjadi kodrat manusia itu secara sadar dan tidak sadar diri suka tak mengakui dosa dan lebih cenderung membuat alasan atas dosa yang telah di lakukan dan melakukan pembelaan pembelaan pada dosa yang di lakukan, sekarang di mata orang lain, mungkin akan membuat pembelaan dan hujahm tapi nanti di hadapan Allah dosa itu yang menjadi saksi adalah anggauta badan kita sendiri, maka sebelum masa itu terjadi, sebaiknya diri membersihkan diri dengan taubat dari sekarang, agar wujud pelapis hati dan ruh juga akal terbuka, dan kecemerlangan memancar dari hati, memancar sampai ke wajah, orang menatap juga akan ikut terpancari cahaya.
Orang yang benar dengan taubatnya mempelajari kondisi dirinya, mencari penyebab dan faktor yang menyebabkan dia jatuh ke perbuatan dosa. Dia mengawasi jalannya nafsunya, membebaskannya dari ego yang menyeret ke kejahatan dan kedurhakaan kepada Tuhan. Jihad membuang nilai-nilai dari daerah nafsu akan memberi kekuatan kepada rohani. Rohani yang sadar dan melek akan dapat melihat ke kejahatan dan dapat mengeluarkan teguran dari dalam. Teguran dari dalam itu dinamakan suara hati. Pada awalnya suara hati hanya sekedar memberi teguran tetapi tidak mampu mencegah terjadinya kesalahan tetapi ketika semakin banyak nilai-nilai dikeluarkan dari daerah nafsu suara hati akan menjadi lebih kuat. Hati akan sempat memberi peringatan sebelum terjadinya perbuatan dosa. Kemunculan penasihat dari dalam diri sendiri menambahkan kesadaran seseorang tentang yang benar dan yang salah. Kemudian dibukakan kepadanya hakikat yang benar dan yang salah. Bila hal ini telah terbuka kepadanya dia akan lebih mudah melakukan yang benar dan meninggalkan yang salah.
Taubat yang hanya merupakan kata-kata, tanpa mengetahui sejauh mana dosa yang dilakukan, tidak berikrar untuk tidak mengulangi dosa tersebut, tidak mengambil langkah mencegah berulangnya perbuatan dosa dan tidak melakukan kebaikan yang bisa menghapus dosa, adalah taubat pada eksternal saja, tidak terhunjam ke dalam lubuk hati yang dalam. Taubat yang demikian adalah umpama memotong rumput bagian di atas tanah saja sedangkan akar yang di dalam tanah dibiarkan. Rumput akan kembali tumbuh selama akarnya tidak dicabut. Orang yang benar-benar bertobat mengetahui kesalahannya dan penyebab kesalahan tersebut, bertekad tidak akan mengulanginya dan membebaskan dirinya dari penyebab kesalahan. Taubat yang begini umpama mencabut rumput beserta akarnya yang di dalam tanah dan membuangnya jauh-jauh.

Taubat eksternal adalah penyesalan secara umum dan samar-samar. Tauabat internal adalah penyesalan yang jelas tentang apa yang disayangkan dan menjauhkan diri darinya. Orang yang bertobat dari zina tidak lagi mendekati zina, bukan sekadar tidak melakukan zina. Jika masih mendekati zina, sekalipun tidak melakukannya, itu bukanlah taubat yang sebenarnya. Adam as yang telah melakukan kesalahan dengan memakan buah larangan di dalam surga, setelah bertobat beliau as tinggal di bumi yang sangat jauh dari pohon larangan yang menjadi isu kesalahannya. Tanda taubat diterima adalah orang yang berdosa tidak jatuh lagi ke dalam jurang dosa tersebut.
Bani Adam memiliki tabii keadaman. Mereka tidak sunyi dari melakukan kesalahan. Tidak wajar jika ada orang yang mengatakan dia tidak pernah berbuat kesalahan dan tidak perlu bertobat. Nabi Muhammad saw yang disucikan pun sering bertobat. Paling tidak memohon ampunan pada kelemahan sebagai manusia yang tidak bisa melakukan perintah Tuhan dengan sempurna.

Banyak manusia terhalang dari mendapat apa yang layak diperolehnya sebelum mereka memasuki pintu taubat. Adam as yang diciptakan khusus untuk menjadi khalifah di bumi hanya memperoleh mahkota khalifah itu setelah beliau as melalui pintu taubat dan menerima ampunan dari Tuhan. Roh syariat, roh agama, nur iman, nur Ilahi dan yang sejenisnya hanya masuk ke dalam hati yang telah dibasuh dengan air taubat. Orang yang bertobat dan Tuhan mengampuni dosanya, kesuciannya kembali kepada kesucian roh yang latif, yang suci dan dekat dengan Tuhan. Manusia yang rohnya kembali ke taraf amr Tuhan akan memperoleh keselamatan di dunia dan di akhirat. Manusia yang memiliki roh yang demikian mampu mengkamilkan batin syariat dengan zahir syariat atau antara iman dengan amal. Bani Adam mestinya mengikuti langkah tua mereka dengan bertaubat agar mereka juga bisa kembali ke Tuhan dan layak dipakaikan mahkota khalifah di bumi.
Hamba yang melakukan kesalahan sangat perlu bertobat. Taubat merupakan cetusan iman. Iman yang menguatkan amal shalih. Tanpa iman tidak ada amal shalih. Amal tanpa taubat sebenarnya tidak berpangkal pada iman. Amal yang demikian sangat sedikit nilai salihnya. Salih itulah yang menentukan derajat kemuliaan sesuatu amal itu di sisi Tuhan. Amal yang tidak disertai oleh taubat tidak banyak memberi pahala. Pahala tidak hanya berguna di akhirat. Keberkahan pada rezeki dan kesejahteraan hidup di dunia merupakan terjemahan ke pahala yang diperoleh dari amal yang shalih. Di akhirat kelak terjemahan pahala itu akan lebih menyata lagi. Banyak dari masalah kehidupan harian tidak bisa diselesaikan karena tidak bertobat dari dosa-dosa yang lalu.
Sesudah itu Adam terima beberapa kalimat dari Tuhannya lalu Dia ampunkannya karena Allah itu Maha Pengampun Maha Penyayang. (Ayat 37: Surah al-Baqarah)

Dia lah Penerima tobat hamba-hamba-Nya dan mengampuni dosa dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Ayat 25: Surah Asy-Syura)

Kecuali orang yang bertobat dan beriman dan mengerjakan amal saleh, maka mereka itu Allah tukarkan kejahatan mereka dengan kebaikan karena Allah Maha Pengampun Maha Penyayang. (Ayat 70: Surah al-Furqaan)
Adam as, manusia pertama, telah melakukan kesalahan. Ketika itu beliau as mendiami surga. Manusia secara tabi'inya tidak dapat menghindari diri dari melakukan kesalahan, sekalipun mereka tinggal di dalam surga yang serba menyenangkan, apa lagi mereka tinggal di dalam dunia yang serba memayahkan. Adam as mengakui kesalahannya dan merujuk kembali kepada Tuhan, memohon agar Tuhan mengajarkan apa yang harus dibuatnya untuk menutup kesalahannya dan menggantinya dengan kebaikan. Tuhan Yang Maha Pengampun Maha Penyayang mengajarkan kepada Adam as beberapa kalimat, yaitu cara bertobat. Adam as bertobat dengan penuh keinsafan dan keikhlasan. Tuhan yang mengajarkan Adam as bertobat itu menerima taubatnya dan mengampuni kesalahannya. Taubat mengembalikan Adam as kepada Tuhan as-Salam, yang mensejahterakan. Taubat yang dilakukan oleh Adam as adalah taubat yang disertai oleh iman dan diikuti oleh amal shalih. Taubat yang demikian menghapus kejahatan dan menggantinya dengan kebaikan.

Iblis, jin yang pertama diciptakan Tuhan, telah melakukan kesalahan. Kesalahan Adam as adalah lupa kepada pesan Tuhan. Kesalahan iblis pula adalah ingkar kepada perintah Tuhan. Adam as mengakui kesalahan dan bertobat. Iblis tidak mau mengakui kesalahannya dan enggan bertobat. Adam as yang bertobat menerima nikmat ampunan dari Tuhan. Iblis yang enggan bertobat menerima murka dan laknat dari Tuhan. Adam as kembali ke Tuhan dan keselamatan-Nya. Iblis tercampak jauh dari Tuhan dan hilang kesempatan untuk kembali. Di akhirat taubat membawa Adam as kembali ke surga dan iblis pula akan dicampakkan ke dalam neraka jahanam, tempat yang paling buruk dan paling azab.

Taubat adalah jalan kembali kepada Tuhan. Bila manusia melakukan dosa dia tercampak jauh dari Tuhan. Jika dia tidak bertobat dia tetap tinggal jauh dari Tuhan. Jika kemudian dia berbuat kebaikan maka dia berbuat baik dalam kondisi jauh dari Tuhan. Dia bisa melakukan perintah syariat tetapi tanpa taubat dia menjadi anggota syariat yang jauh dari Tuhan.
Ahlaq baik buruknya seseorang itu bisa di lihat bagaimana dirinya berbicara dan berbuat di hadapan orang laing juga di belakangnya, dan bagaimana orang lain memandangnya dan menilainya setelah orang itu pergi sebentar atau selamanya. sama sekali tak membuta dan menambah keburukan itu kecuali rasa makin tak suka.
kata nabi SAW addunya mazroatul akhiroh, dunia itu adalah ladang akherat, siapa yang lebih pernah di perlihatkan langit tembus 7, sampai bertemu ALLOH di sidrotul muntaha, jibril saja tak berani, lalu kemudian mengatakan pendapatnya lebih benar dari pendapat Nabi, menurutku manusia yang merugi, adalah yang menyia nyiakan waktunya untuk hal yang tidak manfaatnya untuk akherat nanti, dan mengira hidupnya akan kekal, padahal neneka kakeknya yang seharusnya lebih sakti darinya juga mati, apalagi dirinya, yang kena parang tangannya saja putus, baru sakit gigi saja sudah mengaduh aduh.
hijab atau penutup terbesar pada seorang hamba pada tuhannya adalah ilmu, ketika manusia telah terbentur pada itungan matmatis, dan tak bisa keluar dari itungan itu maka dirinya akan terkungkung pada logikanya sendiri, dia akan terpenjara oleh akalnya sendiri, ketika akal telah menolak pada iman maka akan harus di tundukkan untuk tunduk pada iman, agar akal tidak menjadikan tuhan selain Allah yang berbentuk pengetahuan yang dibuat dan diberhalakan di dalam pikiran,
ketika hamba telah mampu meredakan akalnya agar tunduk pada iman dan kefasihan Allah membimbing rohani dengan ilham dan laduni, maka hamba akan memasuki alam di luar alam jasad, masuk ke alam ruhani, menapak pada samudra demi samudra yang tanpa air, tanpa layar dan perahu, samudera cahaya, sampai akhirnya masa kembali, kembali pada kesadaran akal yang telah melintasi perjalanan panjang kepahaman dan kehalusan ilmu, seperti nabi ketika telah kembali pada isro' mikroj, penjelasan kemudian akan bisa di terima oleh orang tak mengerti, dan orang yang mengerti, akan dapat di terima oleh orang bodoh tak bisa baca tulis, dan akan di terima oleh orang pintar yang sudah puluhan tahun belajar, orang bodoh akan menerima dengan penerimaan yang sederhana, orang pintar akan menerima dengan peliknya kepahaman karena pembacaan yang di sertai prasangka ilmunya dari berbagai sisi, satu masalah sederhana akan amat rumit di hadapan orang pintar, dan satu masalah rumit akan amat mudah di hadapan orang bodoh.
seperti dua orang satu bodoh dan satu pintar, sama sama akan naik bus, ketika duduk dalam bus si bodoh, akan duduk mencari posisi aman, dan nyaman, lantas tertidur, tapi si pintar malah mengeluarkan buku, mencatat semua onderdil bus, dan sepanjang perjalanan dia kelelahan memikirkan bus yang nyaman, yang bisa enak kalau di naiki bisa menjadikan dia tidur dengan lelap,
Syeikh Abdul Wahab Asy-Sya’rani
DIANTARA perilaku yang harus dilakukan murid adalah melawan kesenangan nafsu, sehingga tidak akan pernah menuruti apa yang menjadi kesenangannya. Para guru sufi telah sepakat, bahwa modal utama seorang murid adalah melawan dan tidak pernah menuruti kesenangan nafsu. Barangsiapa melepaskan kendali nafsunya terhadap apa saja yang menjadi keinginannya maka ia bakal mencelakakannya.

Abu Hafsh —rahimahullah— berkata: “Barangsiapa tidak memperhatikan nafsunya dalam segala kondisi spiritual, tidak menentang apa yang menjadi kesenangannya dan tidak mau menyeret pada apa yang tidak

disenanginya di waktu-waktu yang lain maka ia tidak akan bisa mendapatkan pada kondisi-kondisi spiritual yang lain.”

Abu Bakar ath-Thahsanani berkata: “Penghalang terbesar antara anda dengan Tuhan adalah menuruti nafsu anda.”

Ibnu ‘Athailah berkata: “Barangsiapa mencari ganti dari Allah atas ibadah yang ia lakukan maka ia berhak untuk diusir dan dimurkai.”

Ibnu Syaiban berkata: “Setiap kali seorang hamba makan karena kesenangan nafsunya mesti ia akan terhalang untuk menyaksikan Tuhannya.” Kemudian ia mengisahkan tentang dirinya: “Selama dua puluh tahun aku ingin makan adas (jenis tumbuh-tubuhan) tapi tidak pernah aku turuti. Kemudian suatu ketika aku sempat memakannya, dan keluar rumah, lalu aku ditangkap oleh aparat pemerintah. Mereka mengatakan pada diriku, “Ini orang yang memecahkan guci khamar bersama sekelompok penguasa kemarin.” Mereka memukuliku dengan seratus batang kayu. Ketepatan pada saat itu Guruku Abu Utsman al-Maghribi lewat melihatku seperti itu sembari bertanya, “Apa yang kamu lakukan sampai kejadian ini menimpa atas dirimu?” Lalu aku menjawabnya, “Aku makan karena menuruti selera nafsuku!” Kemudian sang guru memerintahkan mereka untuk melepasku. Akhirnya mereka melepasku, dan sang guru berkata kepadaku, “Kamu —insya Allah— akan selamat dengan cuma-cuma.””

Sari as-Saqathi —rahimahullah— mengisahkan dirinya: Lebih dari empat puluh tahun diri (nafsu) ku menuntut agar aku bisa meneguk sirup, tapi aku tidak menurutinya. Ia juga berkata: “Barangsiapa secara jujur meninggalkan kesenangan nafsunya, maka Allah akan mencukupinya saat kematiannya.”

Allah Swt. memberi wahyu kepada Nabi Dawud a.s., “Wahai Dawud, berhati-hatilah dan peringatkan kaummu agar tidak makan dengan menuruti kesenangan nafsu. Sebab hati yang akalnya selalu bergantung pada kesenangan duniawi akan terhalang dari-Ku.” Dalam satu riwayat disebutkan, “Wahai Dawud, sesungguhnya sesuatu yang paling ringan Aku ciptakan untuk hamba-Ku ketika ia mengutamakan kesenangan nafsunya daripada taat kepada-Ku adalah Aku hilangkan kenikmatan bermunajat dengan-Ku.”

Ibrahim al-Khawwash —rahimahullah— berkata: “Termasuk kategori mengikuti kesenangan nafsu adalah beribadah kepada Tuhannya untuk mencari pahala atau karena takut siksa. Maka dengan berlalunya waktu, orang yang punya tujuan mi hanya akan semakin mundur.”

Dalam Kitab-kitab Samawi disebutkan: Allah Swt. berfirman, “Orang yang berbuat zalim adalah orang yang benibadah kepadaKu karena punya harapan surga atau karena takut neraka. Andaikan Aku tidak menciptakan neraka dan surga, lalu apakah Aku ini tidak patut untuk ditaati?”

Dan diantara kegiatan yang dianggap mengikuti kesenangan nafsu adalah mengutamakan tidur daripada bangun malam untuk beribadah kepada Tuhan, seperti di malam saat musim kemarau tiba (karena sangat dingin). Hal itu menunjukkan tidak adanya rasa cinta kepada Allah Azza wa Jalla. Barangsiapa tidak mencintai Allah berarti ia menjadi musuh Allah. Sebab Allah Swt. telah memberi wahyu kepada Dawud a.s., “Wahai Dawud, benar-benar bohong orang yang mengaku mencintai-Ku, sementara ketika malam tiba kedua matanya telah tidur.” Maka Allah telah memberikan argumentasi, bahwa orang yang tidur bukan karena tidak mampu menahan rasa kantuk adalah orang yang bohong dalam cintanya kepada Allah.

Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzily

Barangsiapa memutuskan diri untuk tidak mengurus dirinya dan melimpahkan urusannya pada Allah; memutuskan pilihannya hanya pada pilihan Allah; memutuskan pandangannya hanya memandang Allah; memutuskan kebaikannya hanya pada ilmu Allah karena disiplin kepatuhan dan ridhanya; kepasrahan total dan tawakalnya pada Allah; maka Allah benar-benar mengganjar kebaikan nurani hati, yang juga disertai dengan dzikir, tafakkur dan hal-hal lain yang sangat istimewa.

Syeikh Abul Hasan berkata pada salah satu muridnya: Aku melihatmu senantiasa mengekang nafsumu dan menarik perkaramu dalam memerangi nafsumu itu. Engkau wahai Luka 'bin Luka', maksudku dengan itu menyatakan dua nafsu, terhadap leluhur dan pada anak-anak. Engkau ditindih oleh ikut mengatur urusan (yang bukan urusanmu), hingga sampai pada feed yang engkau makan dan minuman yang engkau teguk, juga dalam ucapan yang engkau katakan atau engkau diamkan. Lalu diamana posisimu di hadapan Yang Maha Mengatur, Maha Tahu dan Maha Mendengar lagi Melihat; Maha Bijaksana lagi Maha Waspada, Yang Maha Agung Keagungan-Nya dan Maha Suci Asma'-asma'-Nya? Bagaimana bisa Dia disertai oleh yang lain-Nya? Karena itu bila engkau menghendaki sesuatu yang akan engkau lakukan atau engkau tinggalkan, maka berlarilah ke Allah menghindari semua itu, maka Allah pun akan menyingkirkanmu dari neraka. Jangan mengecualikan sedikitpun. Tunduklah kepada Allah, kembalikan dirimu kepada Allah. Sebab Tuhanmu menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan memilihkan.

Hal demikian tidak akan kokoh kecuali pada orang yang benar atau seorang wali. Orang yang benar adalah orang yang mengikuti hukum. Sedangkan wali orang yang tidak memiliki hukum. Orang yang benar bersama hukum Allah, sedangkan wali, fana 'dari segala sesuatu bersama Allah. Sementara para Ulama ikut mengatur dan memilih, menganalisa dan mengiaskan. Mereka dengan segenap akal dan sifatnya senantiasa demikian. Sedangkan para syuhada 'terus menerus mengendalikan dan berjuang, mereka berperang, membunuh dan dibunuh, dan mereka hidup dan ada pula yang mati. Mereka dihadapan Allah tetap hidup walaupun secara indera dan fisik tidak ada. Adapun orang-orang shaleh, jasad mereka disucikan sedangkan rahasia batin mereka menggigil dan tegang. Tidak relevan untuk menjelaskan kondisi ruhani mereka kecuali untuk orang yang benar pada awal langkahnya atau untuk wali pada akhir tingkat. Engkau cukup melihat apa yang tampak pada lahirnya berupa kebajikan-kebajikan mereka, dan jangan berupaya menjelaskan kondisi batin mereka. Kalau engkau inginkan suatu hal yang ingin kamu lakukan atau kamu tinggalkan, kembalilah kepada Allah, seperti yang kukatakan kepadamu. Mohonlah pertolongan kepada Allah dan kembalikan dirimu pada-Nya. Ucapkanlah:

"Wahai Yang Awal, wahai Yang Akhir, wahai Yang Akhir, aku memohon demi kebenaran namaku pada Asma-Mu, dan sifatku pada Sifat-Mu, dan urusanku pada Urusan-Mu, pilihanku pada Pilihan-Mu, jadikanlah bagiku sebagaimana engkau berikan kepada wali -wali-Mu (Dan masukkan diriku) dalam berbagai hal (pada jalan masuk yang benar, dan keluarkanlah diriku tempat keluar yang benar, dan berikanlah padaku, dari sisi-Mu, kekuasaan yang menolong). Takutlah dirimu untuk bersangka buruk kepada Allah: "bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal."

Aku pernah melihat, seakan-akan diriku duduk dengan salah seorang muridku di hadapan guruku-semoga Allah merahmatinya-, lalu guruku berkata, "Jagalah empat hal dariku. Tiga untukmu dan yang satu untuk orang yang kasihan ini:

Janganlah engkau berusaha memilih persoalanmu sedikit pun, pilihlah untuk tidak memilih. Berlarilah dari semua upaya memilih itu. Penghindaran pilihanmu pada segala sesuatu, semata untuk menuju kepada Allah. "Dan Tuhanmu menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan memilih apa yang terbaik untuk mereka."

Setiap pilihan syariat dan tata aturannnya, maka itulah pilihan Allah, engkau tidak memiliki kompetensi di dalamnya, dan engkau harus patuh pada-Nya, simak dan taatlah. Itulah posisi Pemahaman Ilahi (fiqhul-Ilahy) dan Ilmu Ilhami (ilmul-ilhamy). itulah bumi ilmu hakikat yang diambil dari Allah untuk orang yang bertindak lurus. Pahami dan baca, serta berdoalah kepada Tuhanmu, sesungguhnya engkau berada dalam petunjuk yang lurus. Namun ketika mereka membantahmu, katakanlah, Allah Mahatu atas apa yang kalian semua ketahui.

Engkau harus tetap zuhud di dunia dan bertawakal kepada Allah. Sebab zuhud itu merupakan fondasi amal, dan tawakal merupakan modal dalam berbagai tingkah laku ruhani. Bersaksilah kepada Allah dan berpegang teguhlah dalam ucapan-ucapan, tindakan, akhlak, dan tingkah laku ruhani. "Barangsiapa berpegang teguh kepada Allah, maka benar-benar ia diberi petunjuk ke jalan lurus."

Takutlah untuk bersikap ragu, syirik, tamak, dan berpaling dari Allah demi sesuatu. Sembahlah Allah atas dasar agungnya kedekatan, engkau akan mendapatkan kecintaan dan keistimewaan pilihan, kekhususan dan kewalian dari Allah. "Allah adalah Wali bagi orang-orang yang bertaqwa."

Sedangkan-untuk pria yang perlu dikasihani ini-faktor yang menyebabkan putusnya hubungan ketaatan dengan Allah, dan hatinya yang tehijabi dari bukti-bukti ketauhidan, ada dua hal: Pertama ia masuk dalam pekerjaan dunianya dengan cara ikut campur mengaturnya. Kedua dalam amal akhiratnya dipenuhi keraguan atas penghargaan Ilahi Sang Kekasih. Sehingga Allah menyiksanya lewat hijab, dan terus menerus dalam keraguan, serta melalaikannya akan hisab kelak, lalu ia terjerumus dalam lautan tadbir dan takdir (ikut campur aturan dan takdir Allah). Lalu ia mendekati dengan kehati-hatian yang kotor. Apakah kalian semua tidak bertobat kepada Allah dan mohon ampunan kepada-Nya, sedangkan Alllah itu maha pengampun lagi Maha Pengasih. Karena itu kembalilah pada Allah terkait dengan prinsip-prinsip organisasi dan takdir, engkau akan mendapatkan limpahan fasilitas, antara dirimu dengan kesulitan yang ada akan terhapuskan. Setiap ke-wira'i-an yang tidak membuahkan ilmu dan nur, maka kewira'ian itu sama sekali tak berpahala. Sedangkan setiap kemaksiatan yang diikuti oleh rasa takut dan berlari kepada Allah, janganlah engkau anggap sebagai dosa. Ambilah rizkimu menurut pilihan Allah bagimu dengan mengamalkan ilmu dan mengikuti sunnah Nabi Saw.

Engkau jangan naik ke tingkat berikutnya sebelum Allah menaikkan dirimu, sebab dengan tindakanmu itu telapak kakimu bisa tergelincir.

Suatu ketika aku ingin pada sedikit saja dari dunia, tidak banyak, lantas aku mengurungkan dan mengkhawatirkan jika hal itu termasuk adab yang buruk (su'ul adab). Aku bergegas ke Tuhanku, dan ketika tidur aku bermimpi, seakan-akan Sulaiman. sedang duduk di atas tempat tidur, sementara di sekelilingnya banyak tim. Ia menyodorkan panci dan piringnya. Aku melihat suatu hal yang telah dianggap Allah dalam firman-Nya: "dan piring-piring yang besarnya seperti kolam dan periuk-periuk yang tetap (pada tungkunya)." (Qs Saba ': 13). Lalu tiba-tiba ada yang memanggilku, "Janganlah engkau memilih sedikit di sisi Allah, namun jika engkau memilih sebagai ubudiyah semata untuk Allah dalam rangka mengikuti Rasulullah Saw. ketika bersabda: "Sebagai hamba yang bersyukur" yakni sebagai Rasul. Kalau toh pun harus memilih, pilihlah untuk tidak memilih. Dan larikanlah pilihanmu itu pada pilihan Allah. "

Aku terbangun dari tidurku, lalu kulihat ada yang berkata padaku, "Sesungguhnya Allah telah memilihkanmu untuk berdoa:

"Ya Allah luaskanlah rizki padaku dari duniaku, dan janganlah kamu jadikan hijab dengannya (rizki dunia) itu terhadap akhiratku. Jadikanlah tempatku di sisi-Mu selamanya di hadapan-Mu, senantiasa memandang dari-Mu kepada-Mu. Tampakkanlah Wajah-Mu dan tampakkanlah padaku dari penglihatan dan dari segala sesuatu selain-Mu. Hapuskanlah penghalang antara diriku dengan Diri-Mu. Wahai Dzat, yang Dia adalah Maha Awal, Maha Akhir, Maha Dzahir, Maha Batin, dan Dia adalah Maha Tahu atas segala sesuatu."

Manusia paling celaka adalah manusia yang menghalangai diri pada Tuhannya, dan mengambil alih urusan duniawinya, sementara ia alpa akan prinsip dan tujuan, serta amal akhiratnya.