Allah memberikan kesulitan, juga sekaligus telah menyediakan kemudahan menyertainya, kita memilih kesulitan apa kemudahan yang Allah sediakan, Allah juga menyediakan cobaan dan sekaligus juga menyediakan jalan penyelesaian yang indah dan penuh muatan pelajaran hikmah di dalamnya, kita itu mau mengambil hikmah dan keindahan penyelesaiannya atau tidak, semua terserah kita.
Rasulullah sendiri menganjurkan agar para pengikut beliau mengatur kehidupan mereka. Pemerintahan yang direkomendasikan oleh Rasulullah saw adalah pemerintahan yang tidak memutuskan hubungan dengan Allah swt, tidak beranjak dari tawakal dan penyerahan kepada Tuhan yang mengatur administrasi dan pelaksanaan. Janganlah seseorang menyangka bila dia menggunakan otaknya untuk berpikir maka otak itu bekerja dengan sendiri tanpa pemerintahan Ilahi, otak manusia dan segala yang keluar dr denyut pemikiran dan keputusan tak lepas juga dari perancangan Allah, bahkan syaitan yang mempengaruhi pemikiran otak sehingga menimbulkan pemikiran jahat dan buruk itu juga meminta ijin kepada Allah untuk mengganggu pemikiran manusia, yang mengalir dr aliran darah, dari makanan makanan haram yang menjadi asupan makanan manusia

Dari mana datangnya ilham yang diterima oleh otak itu jika tidak dari Tuhan? Allah swt yang membuat otak, membuatnya bekerja dan Dia juga yang mendatangkan buah pikiran ke otak itu. Pemerintahan yang dianjurkan oleh Rasulullah saw adalah pemerintahan yang sesuai dengan al-Quran dan as-Sunah. Islam harus dijadikan filter untuk memisahkan pendapat dan tindakan yang benar dari yang salah. Islam menegaskan bahwa sekiranya tidak ada daya dan upaya dari Allah, pasti tidak ada apa yang dapat dilakukan oleh siapa pun. Karena itu seseorang harus menggunakan daya dan upaya yang dikaruniakan Allah kepadanya menurut keridhaan Allah Seseorang hamba Allah swt tidak seharusnya melepaskan diri dari penyerahan kepada Allah Yang Maha Mengatur. Ketika apa yang diaturkannya sukses menjadi kenyataan maka dia akui bahwa keberhasilan itu adalah karena persesuaian usahanya dengan aturan Allah swt Jika apa yang diaturkannya tidak menjadi, diakui pula bahwa usahanya wajib tunduk kepada aturan Allah dan tidak menjadi itu juga termasuk di dalam pengaturan Allah Hanya Allah swt yang berhak untuk menentukan. Allah Maha Berdiri Sendiri, tidak ada siapapun yang mampu campur tangan dalam urusan-Nya.
Orang yang mengamalkan tuntutan Islam disertai dengan beriman kepada Qada dan Qadar, jiwanya akan selalu tenang dan damai. Putaran roda kehidupan tidak membolak-balikkan hatinya karena dia melihat apa yang terjadi adalah menurut apa yang harus terjadi. Dia pula mengamalkan kode yang terbaik dan dijamin oleh Allah swt Hatinya tunduk kepada fakta bahwa Allah yang memerintah sementara sekalian hamba berkewajiban taat kepada-Nya, tidak perlu ikut campur dalam urusan-Nya.

Mungkin timbul pertanyaan apakah orang Islam tidak bisa menggunakan akal pikiran, tidak bisa mengatur kehidupannya dan tidak bisa berusaha memperbaiki kehidupannya? Apakah orang Islam harus menyerah bulat-bulat pada takdir tanpa pemerintahan?

Allah menceritakan tentang urusan orang yang beriman:

Maka mulailah Yusuf memeriksa tempat-tempat barang mereka, sebelum memeriksa karung saudaranya (Bunyamin), kemudian ia mengeluarkan benda yang hilang itu dari karung saudaranya. Demikianlah Kamiatur untuk (berhala) Yusuf. Tidaklah ia akan dapat mengambil saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali jika dikehendaki oleh Allah. (Dengan ilmu pengetahuan), Kami tinggikan pangkat siapa yang Kami kehendaki; dan setiap yang berilmu pengetahuan, ada lagi di atasnya yang lebih mengetahui. (Ayat 76: Surah Yusuf)

Dan kepunyaan-Nya-lah kapal-kapal yang berlayar di lautan laksana gunung. (Ayat 24: Surah ar-Rahmaan)
Nabi Yusuf as, dengan kepandaiannya, mengadakan manuver untuk membawa saudaranya, Bunyamin, tinggal dengannya. Kepandaian dan trik yang pada lahirnya diatur oleh Nabi Yusuf as tetapi dengan tegas Allah mengatakan Dia yang mengatur trik tersebut dengan kehendak dan kebijaksanaan-Nya. Kapal yang pada lahirnya dibangun oleh manusia tetapi dengan tegas Allah mengatakan kapal itu adalah milik-Nya. Ayat-ayat di atas memberi pelajaran tentang tata yang dilakukan oleh manusia.
HANYA ORANG ORANG YANG BUTUH ALLAH LAH YANG SELALU MENDEKATKAN DIRI KEPADANYA, DAN HANYA ORANG YANG TAU UNTUK APA DIRINYA DICIPTAKANLAH YANG MENEMPATKAN DIRINYA UNTUK PENGABDIAN KEPADANYA DENGAN SEMPURNA. DAN SESEMPURNA SEMPURNA PENGABDI KEPADA ALLAH ADALAH ROSULULLOH, MAKANYA BELIAU BERGELAR ABDULLOH, ABDUHU WAROSULLUH
Umat Islam tidak perlu bertengkar tentang solusi terhadap sesuatu masalah. Segala solusi telah disajikan, hanya tegakkan iman dan lihat Islam itu sendiri niscaya segala pertanyaan akan terjawab. lakukan amaliyah dengan praktek nyata niscaya semua akan terselesaikan, tak ada seorang yang menanam padi atau menjalankan pekerjaan apapun itu yang memakai perdebatan akal dan itung itungan logika saja lantas memperoleh hasil, yang akan memetik buah jelas yang telah mempraktekkan dalam pekerjaan, yang telah mempraktekkan dalam perbuatan nyata.

stop dreaming and start doing the real action

Begitulah besarnya nikmat yang dikaruniakan kepada umat Islam. Kita perlu menjiwai Islam untuk merasakan nikmat yang dikaruniakan itu. Kewajiban kita adalah melakukan apa yang telah Allah aturkan sementara hak mengatur atau memerintah adalah hak Allah yang mutlak. Jika ada aturan Allah swt yang tidak disetujui oleh nafsu kita, jangan pula melentur peraturan tersebut atau membuat peraturan baru, sebaliknya nafsu harus ditekan supaya tunduk kepada aturan Allah swt Jika pendapat akal sesuai dengan Islam maka lakukanlah akan kebenaran pendapat tersebut, dan jika penemuan akal berlainan dengan Islam maka akuilah bahwa akal telah khilaf di dalam perkiraannya. Jangan memaksa Islam supaya tunduk kepada akal saat yang akan berubah pada waktu yang lain, tetapi tundukkan akal untuk apa yang Tuhan kata yang kebenarannya tidak akan berubah sampai bila-bila.
Selama nafsu dan akal menjadi hijab, beriman kepada hal gaib dan menyerah diri secara menyeluruh tidak akan tercapai. Qada dan Qadar termasuk dalam hal ghaib. Hal ghaib disaksikan dengan mata hati atau basirah. Mata hati tidak dapat memandang jika hati dikemas oleh hijab nafsu. Nafsu adalah kegelapan, bukan kegelapan yang lahir tetapi kegelapan dalam kegaiban. Kegelapan nafsu itu menghijab sedangkan mata hati membutuhkan cahaya gaib untuk melihat hal ghaib. Cahaya gaib yang menerangi alam ghaib adalah cahaya roh karena roh adalah urusan Allah swt Cahaya atau nur hanya bersinar ketika sesuatu itu ada hubungan dengan Allah swt

Allah adalah cahaya bagi semua langit dan bumi. (Ayat 35: Surah an-Nur)

Dialah Yang Maha Tinggi derajat kebesaran-Nya, yang memiliki Arasy (yang melambangkan keagungan dan kekuasaan-Nya); Ia memberikan wahyu dari hal perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya (yang telah dipilih menjadi Rasul-Nya ), supaya Ia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan, - (Ayat 15: Surah al-Mu'min)

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) - Al-Quran sebagai roh (yang menghidupkan hati) dengan perintah Kami; engkau tidak pernah tahu (sebelum diwahyukan kepadamu); apakah Kitab (Al-Quran) itu dan tidak juga mengetahui apakah iman itu; akan tetapi Kami jadikan Al-Quran: cahaya yang menerangi, Kami beri petunjuk dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) adalah memberi petunjuk dengan Al-Quran itu ke jalan yang lurus, - Yaitu jalan Allah yang memiliki dan menguasai yang ada di langit dan yang ada di bumi. Kepada Allah-lah kembali semua urusan. (Ayat 52 & 53: Surah asy-Syura)
Ketika cahaya roh berhasil menghalau kegelapan nafsu, mata hati akan menyaksikan yang gaib. Penyaksian mata hati membawa hati beriman kepada hal ghaib dengan sebenar-benarnya.

Allah telah menghamparkan jalan yang lurus kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Dia berfirman:

Pada hari ini, Aku telah sempurnakan bagi kamu agama kamu, dan Aku cukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan Aku telah ridhokan Islam itu menjadi agama untuk kamu. (Ayat 3: Surah al-Maa'idah)

Umat Islam adalah umat yang paling beruntung karena Allah telah menyempurnakan nikmat-Nya atas mereka dengan menganugerahkan Islam. Allah menjamin juga bahwa Dia ridha menerima Islam sebagai agama mereka. Jaminan Allah itu sudah cukup bagi mereka yang menuntut keridhaan Allah untuk tidak menoleh ke kiri atau ke kanan, sebaliknya terus berjalan sesuai jalur yang telah dibangun oleh Islam. Islam adalah konstitusi yang lengkap mencakup semua aspek kehidupan baik yang lahir maupun yang batin. Islam telah menjelaskan apa yang harus dilakukan, apa yang harus tidak dilakukan, bagaimana mau bertindak menghadapi sesuatu dan bagaimana jika tidak ingin melakukan apa-apa. Segala peraturan dan kode etik sudah dijelaskan dari hal yang paling kecil sampai kepada yang paling besar. Sudah dijelaskan cara beribadat, cara berhubungan sesama manusia, cara membagi harta pusaka, cara mencari dan membelanjakan harta, cara makan, cara minum, cara berjalan, cara mandi, cara memasuki jamban, cara hukum qisas cara melakukan hubungan kelamin, cara menyempurnakan mayat dan semua aspek kehidupan diterangkan dengan jelas.
Kita bertauhid melalui dua cara, pertama bertauhid dengan akal dan keduanya bertauhid dengan hati. Bidang akal adalah ilmu dan cakupan ilmu sangat luas, mulai dari pohon ke dahan-dahan dan selanjutnya ke ranting-ranting. Setiap ranting ada ujungnya, yaitu penyelesaiannya. Ilmu bersepakat pada hal pokok, toleran pada cabangnya dan berselisih pada rantingnya atau penyelesaiannya. Jawaban suatu masalah selalu berubah-ubah menurut pendapat baru yang ditemukan. Apa yang dianggap benar pada awalnya disalahkan pada akhirnya. Karena sifat ilmu yang demikian masyarakat yang larut membahas suatu hal dapat mengalami kebingungan dan kekacauan pikiran. Salah satu hal yang mudah mengganggu pikiran adalah soal takdir atau Qada dan Qadar. Jika persoalan ini dibahas hingga kepada yang halus-halus seseorang akan menemui kebuntuan karena ilmu tidak mampu memberikan jawaban yang konkret. Qada dan Qadar diimani dengan hati. Tugas ilmu adalah membuktikan kebenaran apa yang diimani. Jika ilmu bertindak menggoyangkan keimanan maka ilmu itu harus diblokir dan hati dibawa ke tunduk dengan iman. Kalimat Hikmah keempat di atas membimbing ke arah itu agar iman tidak dicampur dengan keraguan.

Karena ketergantungan pada akal dan ilmu yang dipelajari, lantas kemudian seseorang akan mengklaim pendapatnya adalah pendapat yang paling benar di antara pendapat orang lain, dan penilaian kebenaran kemudian diacukan pada pendapat perorangan, padahal selain Nabi SAW tiada manusia yang maksum terjaga dari dosa dan kesalahan, artinya pendapat siapapun bisa saja salah, apalagi kemudian mentakwil al-qur'an dengan takwil menurut pendapat dirinya sendiri, orang lebih suka memperdebatkan pendapat dirinya yang paling benar daripada menjalankan amaliyahnya dengan bukti yang lebih real dan nyata.

Saya mungkin termasuk orang yang tak suka menggantungkan hal yang kelihatan lahiriyahnya nyata, misal saya sendiri jika banyak orang menggantungkan ijazah untuk memperoleh derajat pangkat, kedudukan, limpahan materi, atau mendapat pekerjaan, maka saya lebih suka tidak memakai ijazah, dan jika banyak orang yang ingin mendapatkan ijazah palsu, agar mendapatkan kedudukan atau apa yang dicapainya, maka lebih suka tak punya ijazah, sehingga saya sampai sekarang tidak punya ijazah tanda kelulusan dari sekolah manapun, bukan saya tak percaya kalau ijazah itu akan mengantarkan seseorang mendapat kedudukan yang diinginkan, tapi saya lebih cenderung takut karena ketergantungan saya terhadap suatu benda akan mengikis rasa tawakal saya kepada Allah beralih pada suatu benda, itu bentuk ijazah sekalipun.

Apa yang menjadi acuan saya ini sebenarnya bukan tanpa dasar, tapi sebenarnya amat mendasar, saya berdasarkan Nabi SAW sendiri tidak kuliah di UI atau kuliah di manapun, beliau malahan dijuluki ummi artinya tidak bisa baca tulis, kata gampangnya beliau tidak jebolan universitas manapun, dan beliau dari sekian banyak orang di dunia ini mungkin beliau yang paling banyak pengikutnya, dan paling diikuti orang di manapun berada, lebih diikuti dari pengajar di manapun, juga saya pernah dulu di pesantren terheran heran dengan para ulama' dahulu seperti imam syafi'i, atau imam ghozali, atau ulama' yang lain yang mereka menulis kitab di jamannya dimana menulisnya masih manual belum ada mesin ketik atau komputer, tapi mereka bisa menulis kitab dengan dalin qur'an yang tepat, dan dalil hadist yang sesuai, bayangkan jika dihitung dari umur mereka maka rasanya tak mungkin kalau mereka bisa menulis kitab dengan begitu produktifnya, juga jauh dari kesalahan, kalau itu bukan dari ilham dari Allah, karena logika saya dan pemahaman saya itu maka saya lebih suka menjalankan amaliyah nyata dari sekedar teori, saya lebih suka melihat hasil nyata daripada hanya mengira ngira, khususnya dalam hal janji janji Allah di dalam Al-qur'an, dibuktikan dengan perbuatan yang nyata, yang kita petik hasilnya, kalau do'a itu diijabah, kalau pertolongan Alloh itu cepat, kalau ada ilmu laduni yang dianugerahkan Allah, kalau ada kebisaan yang dianugerahkan Allah, ada maunah pertolongan Allah.....

ada sesuatu yang di luar logika kita yang itu semua bisa dibuktikan dengan menjalankan amaliyah untuk membuktikannya.
Ada pula orang yang dipaksa oleh takdir sehingga bertajrid. Orang ini awalnya adalah anggota asbab yang berjalan menurut hukum sebab-akibat sebagaimana orang banyak. Kemungkinannya kehidupan seperti itu tidak menambahkan kematangan rohaninya. Perubahan jalan perlu baginya sehingga dia bisa maju dalam bidang kerohanian. Jadi takdir bertindak memaksanya untuk terjun ke dalam lautan tajrid. Dia akan mengalami kondisi di mana hukum sebab-akibat tidak lagi membantunya untuk menyelesaikan masalahnya. Jika dia seorang raja, takdir mencabut kerajaannya. Jika dia seorang hartawan, takdir menghapus hartanya. Jika dia seorang yang cantik, takdir menghilangkan kecantikannya itu. jika dia seorang pekerja, tempatnya kerja memecatnya, atau seseorang itu selalu mengalami kerugian ketika bekerja, ada banyak cara Allah memaksa seseorang untuk masuk ke maqom tajrid meninggalkan maqom asbab, jadi Takdir memisahkannya dari apa yang dimiliki dan dikasihinya. Awalnya menerima kedatangan takdir yang demikian, sebagai anggota asbab, dia berikhtiar menurut hukum sebab-akibat untuk mempertahankan apa yang dimiliki dan dikasihinya. Jika dia tidak sanggup untuk menolong dirinya dia akan meminta pertolongan orang lain. Setelah puas dia berikhtiar termasuk bantuan orang lain namun, tangan takdir tetap juga merombak sistem sebab-akibat yang terjadi pada dirinya. Ketika dia sendiri dengan dibantu oleh orang lain tidak mampu mengatasi arus takdir maka dia tidak ada pilihan kecuali berserah kepada takdir. Dalam kondisi begitu dia akan lari kepada Allah dan memohon agar Allah menolongnya. Pada tingkat ini seseorang akan kuat beribadah dan berkonsentrasi penuh hatinya kepada Tuhan. Dia benar-benar berharap Tuhan akan menolongnya mengembalikan apa yang pernah dimilikinya dan dikasihinya. Tetapi, pertolongan tidak juga sampai kepadanya sehingga dia benar-benar terpisah dari apa yang dimiliki dan dikasihinya itu. Luputlah harapannya untuk mendapatkannya kembali. Redalah dia dengan perpisahan itu. Dia tidak lagi menarik bagi Tuhan sebaliknya dia menyerahkan segala urusannya kepada Tuhan. Dia menyerah bulat-bulat kepada Allah, tidak ada lagi ikhtiar, pilihan dan kehendak diri sendiri. Jadi dia seorang hamba Allah yang bertajrid. Bila seseorang hamba benar-benar bertajrid maka Allah sendiri akan mengatur kehidupannya. Allah menggambarkan suasana tajrid dengan firman-Nya:

Dan (ingatlah) berapa banyak binatang yang tidak membawa rezekinya, Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepada kamu; dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Ayat 60: Surah al-'Ankabut)
Makhluk Allah swt seperti burung, ikan, kuman dan sebagainya tidak memiliki tempat penyimpanan makanan. Mereka adalah ahli tajrid yang dijamin rezeki mereka oleh Allah swt Jaminan Allah swt itu meliputi juga bangsa manusia. Tanda Allah menempatkan seseorang hamba-Nya di dalam makam tajrid adalah Allah memudahkan baginya rezeki yang datang dari arah yang tidak diduganya. Jiwanya tetap tenang sekalipun terjadi kekurangan pada rezeki atau ketika menerima bala ujian.

Jika anggota tajrid sengaja memindahkan dirinya ke makam asbab maka ini berarti dia melepaskan jaminan Allah swt lalu bersandar kepada makhluk. Ini menunjukkan akan kejahilannya tentang rahmat dan kekuasaan Allah swt Aksi yang jahil itu dapat menyebabkan berkurang atau hilang terus berkah yang Allah karuniakan kepadanya. Misalnya, seorang ahli tajrid yang tidak memiliki pekerjaan kecuali membimbing orang ke jalan Allah swt, meskipun tidak memiliki pekerjaan namun, rezeki datang kepadanya dari berbagai arah dan tidak pernah putus tanpa dia meminta-minta atau mengharap-harap. Pengajaran yang disampaikan kepada murid-muridnya sangat efektif sekali. Keberkatannya sangat signifikan seperti makbul doa dan ucapannya biasanya menjadi kenyataan. Andainya dia meninggalkan suasana bertajrid lalu berasbab karena tidak puas dengan rezeki yang diterimanya maka keberkatannya akan terpengaruh. Pengajarannya, doanya dan ucapannya tidak seberkesan dahulu lagi. Ilham yang datang kepadanya tersekat-sekat dan kefasihan lidahnya tidak selancar biasa.

Seseorang hamba harus menerima dan reda dengan posisi yang Allah karuniakan kepadanya. Bertawakallah kepada Allah dengan yakin bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Allah tahu apa yang patut bagi setiap makhluk-Nya. Allah swt sangat bijak mengatur urusan hamba-hamba-Nya.

Keinginan untuk pertukaran makam merupakan tipu daya yang sangat halus. Di dalamnya tersembunyi rangsangan nafsu yang sulit disadari. Nafsu di sini mencakup kehendak, ambisi dan angan-angan. Orang yang baru terbuka pintu hatinya setelah lama hidup di dalam kelalaian, akan mudah tergerak untuk meninggalkan suasana asbab dan masuk ke dalam suasana tajrid. Orang yang telah lama berada dalam suasana tajrid, ketika kesadaran dirinya kembali sepenuhnya, ikut kembali kepadanya adalah keinginan, cita-cita dan angan-angan. Nafsu mencoba untuk bangkit kembali menguasai dirinya. Orang asbab perlulah menyadari bahwa keinginannya untuk berpindah kepada makam tajrid itu mungkin secara halus digerakkan oleh ego diri yang tertanam jauh dalam jiwanya. Orang tajrid pula perlu sadar keinginannya untuk kembali kepada asbab itu mungkin didorong oleh nafsu rendah yang masih belum berpisah dari hatinya. Ulama tasauf mengatakan seseorang mungkin dapat mencapai semua makam nafsu, tapi nafsu tingkat pertama tidak kunjung padam. Oleh yang demikian perjuangan atau mujahadah mengawasi nafsu selalu berjalan.
Dalam melakukan kebaikan ahli asbab perlu melakukan mujahadah. Mereka harus memaksa diri mereka berbuat baik dan perlu menjaga kebaikan itu agar tidak menjadi rusak. Ahli asbab perlu memperingatkan dirinya agar berbuat ikhlas dan harus melindungi keikhlasannya agar tidak dirusak oleh riak (berbuat baik untuk diperlihatkan kepada orang lain agar dia dikatakan orang baik), takabur (sombong dan membesar diri, merasa diri sendiri lebih baik, lebih tinggi, lebih kuat dan lebih cerdik dari orang lain) dan sama'ah (membawa perhatian orang lain kepada kebaikan yang telah dibuatnya dengan cara bercerita tentang, agar orang mengakui bahwa dia adalah orang baik). Jadi, ahli asbab perlu memelihara kebaikan sebelum melakukannya dan juga setelah melakukannya. Suasana hati ahli tajrid berbeda dari apa yang dialami oleh anggota asbab. Jika anggota asbab memperingatkan dirinya agar ikhlas, ahli tajrid tidak melihat kepada ikhlas karena mereka tidak bersandar kepada amal kebaikan yang mereka lakukan. Apa juga kebaikan yang keluar dari mereka diserahkan kepada Allah yang menganugerahkan kebaikan tersebut. Ahli tajrid tidak perlu menentukan perbuatannya ikhlas atau tidak ikhlas. Melihat keihklasan pada perbuatan sama dengan melihat diri sendiri yang ikhlas. Ketika seseorang merasakan dirinya sudah ikhlas, padanya masih tersembunyi keegoan diri yang menyebabkan riak, ujub (merasa diri sendiri sudah baik) dan sama'ah. Ketika tangan kanan berbuat ikhlas dalam kondisi tangan kiri tidak menyadari perbuatan itu barulah tangan kanan itu benar-benar ikhlas. Orang yang ikhlas berbuat kebaikan dengan melupakan kebaikan itu. Ikhlas sama seperti harta benda. Jika seorang miskin diberi harta oleh jutawan, orang miskin itu malu menepuk dada kepada jutawan itu dengan mengatakan yang dia sudah kaya. Orang tajrid yang diberi ikhlas oleh Allah swt mengembalikan kebaikan mereka kepada Allah swt Jika harta orang miskin itu hak si jutawan tadi, ikhlas orang tajrid adalah hak Allah swt Jadi, orang asbab bergembira karena melakukan perbuatan dengan ikhlas, orang tajrid pula melihat Allah yang mengatur sekalian urusan. Anggota asbab dibawa ke syukur, anggota tajrid berada dalam penyerahan.

Kebaikan yang dilakukan oleh anggota asbab merupakan teguran agar mereka ingat kepada Allah yang memimpin mereka kepada kebaikan. Kebaikan yang dilakukan oleh ahli tajrid merupakan karunia Allah swt kepada kelompok manusia yang tidak memandang diri mereka dan kepentingannya. Anggota asbab melihat kepada efektivitas hukum sebab-akibat. Ahli tajrid pula melihat kepada efektivitas kekuasaan dan ketentuan Allah swt Dari kalangan ahli tajrid, Allah swt memilih sebagiannya dan meletakkan kekuatan hukum pada mereka. Kelompok ini bukan sekadar tidak melihat kepada efektivitas hukum sebab-akibat, bahkan mereka berkekuatan menguasai hukum sebab-akibat itu. Mereka adalah nabi-nabi dan wali-wali pilihan. Nabi-nabi diberikan mukjizat dan wali-wali diberikan kekeramatan. Mukjizat dan kekeramatan merombak efektivitas hukum sebab-akibat.

Di dalam kelompok wali-wali pilihan yang dikaruniai kekuatan mengontrol hukum sebab-akibat itu terdapatlah orang-orang seperti Syeikh Abdul Qadir al-Jailani, Abu Hasan as-Sazili, Rabiatul Adawiah, Ibrahim Adham dan lain-lain. Cerita tentang kekeramatan mereka sering diperdengarkan. Orang yang cenderung kepada tarekat tasawuf gemar membuat kehidupan aulia Allah tersebut sebagai contoh, dan yang mudah memikat perhatian adalah bagian kekeramatan. Kekeramatan biasanya dikaitkan dengan perilaku kehidupan yang zuhud dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah swt Timbul anggapan bahwa jika ingin memperoleh kekeramatan seperti mereka harus hidup sebagaimana mereka. Orang yang berada pada tahap awal bertarekat cenderung untuk memilih jalan bertajrid yaitu membuang segala ikhtiar dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah swt Sikap melulu bertajrid membuat seseorang meninggalkan pekerjaan, istri, anak-anak, masyarakat dan dunia seluruhnya. Semua harta disedekahkan karena dia melihat Abu Bakar as-Siddik telah melakukannya. Ibrahim bin Adham telah meninggalkan tahta kerajaan, istri, anak, rakyat dan negerinya lalu tinggal di dalam gua. Biasanya orang yang bertindak demikian tidak dapat bertahan lama. Akibatnya dia mungkin meninggalkan kelompok tarekatnya dan kembali ke kehidupan duniawi. Ada juga yang kembali kepada kehidupan yang lebih buruk dari keadaannya sebelum bertarekat dahulu karena dia ingin menebus kembali apa yang telah ditinggalkannya dahulu untuk bertarekat. Kondisi yang demikian terjadi akibat bertajrid sembarangan. Orang yang baru masuk ke dalam bidang pelatihan spiritual sudah mau beramal seperti aulia Allah swt yang sudah puluhan tahun melatihkan diri. Tindakan melemparkan semua yang dimilikinya secara tergesa-gesa membuatnya berhadapan dengan tantangan dan cobaan yang bisa menggoncangkan imannya dan mungkin juga membuatnya berputus-asa. Apa yang harus dilakukan bukanlah meniru kehidupan aulia Allah swt yang telah mencapai makam yang tinggi secara melulu. Seseorang haruslah melihat kepada dirinya dan mengidentifikasi posisinya, kemampuanya dan daya-tahannya. Ketika masih di dalam makam asbab seseorang harus bertindak sesuai dengan hukum sebab-akibat. Dia harus bekerja untuk mendapatkan rezekinya dan harus pula berusaha menjauhkan dirinya dari bahaya atau kerusakan.

Ahli asbab perlu melakukannya karena dia masih terikat dengan sifat-sifat kemanusiaan. Dia masih melihat bahwa tindakan makhluk mempengaruhi dirinya. Oleh yang demikian adalah wajar jika dia mengadakan juga tindakan yang menurut pandangannya akan mendatangkan kesejahteraan bagi dirinya dan orang lain. Tanda Allah menempatkan seseorang pada posisi sebagai anggota asbab adalah ketika urusannya dan tindakannya yang menurut kesesuaian hukum sebab-akibat tidak menyebabkannya mengabaikan kewajiban terhadap tuntutan agama. Dia tetap merasa rengan untuk berbakti kepada Allah swt, tidak sembrono dengan nikmat duniawi dan tidak merasa iri terhadap orang lain. Apabila anggota asbab berjalan menurut hukum asbab maka jiwanya akan maju dan berkembang dengan baik tanpa mengalami kegoncangan yang besar yang dapat menyebabkan dia berputus asa dari rahmat Allah swt rohaninya akan menjadi kuat sedikit demi sedikit dan mendorongnya ke dalam makam tajrid secara aman. Akhirnya dia mampu untuk bertajrid sepenuhnya.
Sebagai manusia yang hidup dalam dunia mereka masih bergerak dalam arus nalar tetapi mereka tidak menempatkan efektivitas hukum kepada sebab. Mereka selalu melihat kekuasaan Allah yang mengatur atau mencabut efektivitas pada sesuatu hukum sebab-akibat. Jika sesuatu sebab berhasil mengeluarkan akibat menurut yang biasa terjadi, mereka melihatnya sebagai kekuasaan Allah yang mengatur kekuatan pada sebab tersebut dan Allah juga yang mengeluarkan akibatnya. Allah swt berfirman:

Segala yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dialah yang menguasai dan memiliki langit dan bumi; Ia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Ayat 1 & 2: Surah al-Hadiid)

Maka Kami (Allah) berfirman: "Pukullah si mati dengan sebagian anggota sapi yang kamu sembelih itu". (Mereka pun memukulnya dan ia kembali hidup). Demikianlah Allah menghidupkan orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaan-Nya, supaya kamu memahaminya. (Ayat 73: Surah al-Baqarah)
Orang yang melihat kepada kekuasaan Allah memimpin hukum sebab-akibat tidak menempatkan efektivitas kepada hukum tersebut. Cadangan devisanya kepada Allah, tidak kepada amal yang menjadi sebab. Orang yang seperti ini disebut ahli tajrid.

Ahli tajrid, seperti juga ahli asbab, melakukan sesuatu menurut peraturan sebab-akibat. Ahli tajrid juga makan dan minum Ahli tajrid juga memasak dengan menggunakan api. Ahli tajrid juga melakukan sesuatu pekerjaan yang berhubungan dengan rezekinya. Tidak ada perbedaan di antara amal ahli tajrid dengan amal ahli asbab. Perbedaannya terletak di dalam diri yaitu hati. Anggota asbab melihat kepada kekuatan hukum alam. Ahli tajrid melihat kepada kekuasaan Allah swt pada hukum alam itu. Meskipun anggota asbab mengakui kekuasaan Allah swt tetapi penghayatan dan kekuatannya pada hati tidak sekuat ahli tajrid
Allah s.w.t mengadakan sistem sebab musabab yang rapi adalah untuk kemudahan manusia menyusun kehidupan mereka di dunia ini. Kekuatan akal dan pancaindera manusia mampu mentadbir kehidupan yang dikaitkan dengan perjalanan sebab musabab. Hasil daripada pemerhatian dan kajian akal itulah lahir berbagai-bagai jenis ilmu tentang alam dan kehidupan, seperti ilmu sains, astronomi, kedoktoran, teknologi maklumat dan sebagainya. Semua jenis ilmu itu dibentuk berdasarkan perjalanan hukum sebab-akibat.
Kerapian sistem sebab musabab menyebabkan manusia terikat kuat dengan hukum sebab-akibat. Manusia bergantung kepada amal (sebab) dalam mendapatkan hasil (akibat). Manusia yang melihat kepada keberkesanan sebab dalam menentukan akibat serta bersandar dengannya dinamakan ahli asbab.

Sistem sebab musabab atau perjalanan hukum sebab-akibat sering membuat manusia lupa kepada kekuasaan Allah s.w.t. Mereka melakukan sesuatu dengan penuh keyakinan bahawa akibat akan lahir daripada sebab, seolah-olah Allah s.w.t tidak ikut campur dalam urusan mereka. Allah s.w.t tidak suka hamba-Nya ‘mempertuhankan’ sesuatu kekuatan sehingga mereka lupa kepada kekuasaan-Nya. Allah s.w.t tidak suka jika hamba-Nya sampai kepada tahap mempersekutukan diri-Nya dan kekuasaan-Nya dengan anasir alam dan hukum sebab-akibat ciptaan-Nya. Dia yang meletakkan keberkesanan kepada anasir alam berkuasa membuat anasir alam itu lemah semula. Dia yang meletakkan kerapian pada hukum sebab-akibat berkuasa merombak hukum tersebut. Dia mengutuskan rasul-rasul dan nabi-nabi membawa mukjizat yang merombak hukum sebab-akibat bagi mengembalikan pandangan manusia kepada-Nya, agar paham sebab musabab tidak menghijab ketuhanan-Nya. Kelahiran Nabi Isa a.s, terbelahnya laut dipukul oleh tongkat Nabi Musa a.s, kehilangan kuasa membakar yang ada pada api tatkala Nabi Ibrahim a.s masuk ke dalamnya, keluarnya air yang jernih dari jari-jari Nabi Muhammad s.a.w dan banyak lagi yang didatangkan oleh Allah s.w.t, merombak keberkesanan hukum sebab-akibat bagi menyedarkan manusia tentang hakikat bahawa kekuasaan Allah s.w.t yang menerajui perjalanan alam maya dan hukum sebab-akibat. Alam dan hukum yang ada padanya seharusnya membuat manusia mengenal Tuhan, bukan menutup pandangan kepada Tuhan. Sebagian dari manusia diselamatkan Allah s.w.t dari paham sebab musabab.
Tergantung pada amal adalah sifat manusia biasa yang hidup dalam dunia ini. Dunia ini dinamakan alam asbab. Ketika perjalanan hidup keduniaan dipandang melalui mata ilmu atau mata akal akan dapat disaksikan kerapian susunan sistem nalar yang mempengaruhi segala kejadian. Segala sesuatu terjadi menurut sebab yang menyebabkan ia berlaku. Hubungan sebab dengan akibat sangat erat. Mata akal melihat dengan jelas efektivitas sebab dalam menentukan akibat. Kerapian sistem nalar ini memungkinkan manusia mengambil manfaat dari anasir dan kejadian alam. Manusia dapat menentukan anasir yang dapat membahayakan kesehatan lalu menjauhkannya dan manusia juga dapat menentukan anasir yang bisa menjadi obat lalu menggunakannya. Manusia dapat membuat prediksi cuaca, pasang surut air laut, angin, ombak, ledakan gunung berapi dan lain-lain karena sistem yang mengontrol perjalanan anasir alam berada dalam suasana yang sangat rapi dan sempurna, membentuk hubungan sebab dan akibat yang padu.
Ada orang yang bersandar kepada amal semata-mata dan ada pula orang yang bersandar kepada Tuhan melalui amal. Kedua orang tersebut berpegang kepada efektivitas amal dalam mendapatkan sesuatu. Golongan pertama kuat berpegang pada amal lahiriah, yaitu perbuatan lahir yang dinamakan usaha atau ikhtiar. Jika mereka salah memilih ikhtiar, hilanglah harapan mereka untuk mendapatkan apa yang mereka hajatkan. Anggota tarekat yang masih diperingkat awal pula kuat bersandar kepada praktek batin seperti shalat dan berzikir. Jika mereka tertinggal melakukan sesuatu amalan yang biasa mereka lakukan, akan mengurangi harapan mereka untuk mendapatkan anugerah dari Allah swt Jika mereka tergelincir melakukan dosa, akan putuslah harapan mereka untuk mendapatkan anugerah Allah swt

Dalam hal bersandar kepada amal ini, termasuk juga bersandar kepada ilmu, baik ilmu lahir atau ilmu batin. Ilmu lahir adalah ilmu administrasi dan manajemen sesuatu hal menurut kekuatan akal. Ilmu batin pula adalah ilmu yang menggunakan kekuatan internal untuk berhala. Ini termasuk penggunaan ayat-ayat al-Quran dan jampi. Kebanyakan orang meletakkan efektivitas kepada ayat, jampi dan usaha, hinggakan mereka lupa kepada Allah swt yang menempatkan efektivitas pada tiap sesuatu itu.

Selanjutnya, jika Tuhan izinkan, kerohanian seseorang meningkat ke makam yang lebih tinggi. Sebenarnya di dalam hatinya maksud kalimat:

Tidak daya dan upaya kecuali beserta Allah.

"Padahal Allah yang menciptakan kamu dan benda-benda yang kamu perbuat itu!" (Ayat 96: Surah as-Saaffaat)
Orang yang di dalam makam ini tidak lagi melihat kepada amalnya, meskipun banyak amal yang dilakukannya namun, hatinya tetap melihat bahwa semua praktek tersebut adalah karunia Allah kepadanya. Jika tidak karena taufik dan hidayat dari Allah swt tentu tidak ada amal kebaikan yang dapat dilakukannya. Allah swt berfirman:

"Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba apakah aku bersyukur atau aku akan nikmat pemberian-Nya. Dan (sebenarnya) siapa yang bersyukur maka manfaat syukurnya itu hanyalah terserah dirinya sendiri, dan siapa yang tidak bersyukur (maka tidaklah menjadi masalah kepada Allah), karena sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya, lagi Maha Pemurah ". (Ayat 40: Surah an-Naml )

Dan tiadalah kamu berkemauan (melakukan sesuatu) melainkan dengan cara yang diinginkan Allah; sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (mengatur setiap hal yang diinginkan-Nya). Ia memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya (menurut aturan yang ditetapkan) ke dalam rahmat-Nya (dengan ditempatkan-Nya di dalam surga); dan orang-orang yang zalim, Ia menyediakan untuk mereka azab yang pedih. (Ayat 30 & 31: Surah al-Insaan)
Semuanya adalah karunia Allah SWT dan menjadi milik-Nya. Orang ini melihat kepada takdir yang Allah tentukan, tidak terlihat olehnya efektivitas perbuatan makhluk termasuk perbuatan dirinya sendiri. Makam ini dinamakan makam ariffin yaitu orang yang mengenal Allah swt Golongan ini tidak lagi bersandar kepada amal namun, merekalah yang paling kuat mengerjakan amal ibadah.

Orang yang masuk ke dalam lautan takdir, reda dengan segala yang ditentukan Allah, akan selalu tenang, tidak berdukacita bila kehilangan atau ketiadaan sesuatu. Mereka tidak melihat makhluk sebagai penyebab atau produsen efek.

Di awal perjalanan menuju Allah swt, seseorang itu kuat beramal menurut tuntutan syariat. Dia melihat praktek itu sebagai kendaraan yang dapat membawanya dekat dengan Allah swt Semakin kuat dia beramal semakin besarlah harapannya untuk sukses dalam perjalanannya. Ketika dia mencapai satu tingkat, pandangan mata hatinya terhadap amal mulai berubah. Dia tidak lagi melihat praktek sebagai alat atau penyebab. Pandangannya beralih kepada karunia Allah Dia melihat semua amalannya adalah karunia Allah kepadanya dan kedekatannya dengan Allah swt juga karunia-Nya. Berikutnya terbuka hijab yang menutupi dirinya dan dia mengenali dirinya dan mengenal Tuhannya. Dia melihat dirinya sangat lemah, hina, jahil, serba kekurangan dan faqir. Tuhan adalah Maha Kaya, Berkuasa, Mulia, Bijaksana dan Sempurna dalam segala segi. Bila dia sudah mengenal dirinya dan Tuhannya, pandangan mata hatinya tertuju kepada Kudrat dan Iradat Allah swt yang memimpin segala sesuatu dalam alam maya ini. Jadi dia seorang arif yang selalu memandang kepada Allah, berserah diri kepada-Nya, bergantung dan berhajat kepada-Nya. Dia hanyalah hamba Allah yang faqir.
Orang yang tidak beriman kepada Allah swt berada dalam situasi yang berbeda. Ketergantungan mereka hanya tertuju kepada praktek mereka, yang terkandung di dalamnya ilmu, pemikiran dan usaha. Ketika mereka mengadakan suatu usaha berdasarkan kemampuan dan pengetahuan yang mereka ada, mereka mengharapkan akan mendapatkan hasil yang setimpal. Jika ilmu dan usaha (termasuk pertolongan orang lain) gagal mendatangkan hasil, mereka tidak memiliki tempat bersandar lagi. Jadi mereka orang yang berputus asa. Mereka tidak dapat melihat hikmat kebijaksanaan Allah mengatur perjalanan takdir dan mereka tidak mendapat rahmat dari-Nya.

Jika orang kafir tidak bersandar kepada Allah swt dan mudah menyerah, di kalangan sebagian orang Islam juga ada yang demikian, tergantung sejauh mana sifatnya menyerupai sifat orang kafir. Orang yang seperti ini melakukan amalan karena kepentingan diri sendiri, bukan karena Allah swt Orang ini mungkin mengharapkan dengan amalannya itu dia dapat meraih kemakmuran hidup di dunia.Dia mengharapkan semoga amal kebaikan yang dilakukannya dapat mengeluarkan hasil dalam bentuk bertambah rezekinya, posisinya atau pangkatnya, orang lain semakin menghormatinya dan dia juga dihindarkan dari bala penyakit, kemiskinan dan sebagainya. Bertambah banyak amal kebaikan yang dilakukannya bertambah besarlah harapan dan keyakinannya tentang kesejahteraan hidupnya.

Sebagian kaum muslimin yang lain mengaitkan amal kebaikan dengan kemuliaan hidup di akhirat. Mereka memandang amal salih sebagai tiket untuk memasuki surga, juga untuk menjauhkan azab api neraka. Spiritualitas orang yang bersandar kepada amal sangat lemah, terutama mereka yang mencari keuntungan duniawi dengan amal mereka. Mereka tidak tahan menempuh ujian. Mereka mengharapkan perjalanan hidup mereka selalu nyaman dan segala-segalanya berjalan menurut apa yang direncanakan. Ketika sesuatu itu terjadi di luar harapan, mereka cepat naik panik dan gelisah. Bencana membuat mereka merasakan yang merekalah manusia yang paling malang di atas muka bumi ini. Bila berhasil memperoleh kebaikan, mereka merasakan kesuksesan itu karena kepandaian dan kemampuan mereka sendiri. Mereka mudah menjadi ego serta suka membual.

Apabila rohani seseorang bertambah teguh dia melihat amal itu sebagai jalan untuknya mendekatkan diri dengan Tuhan. Hatinya tidak lagi cenderung kepada manfaat duniawi dan ukhrawi tetapi dia berharap untuk mendapatkan karunia Allah swt seperti terbuka hijab-hijab yang menutupi hatinya. Orang ini merasakan amalnya yang membawanya kepada Tuhan. Dia sering mengaitkan pencapaiannya dalam bidang kerohanian dengan amal yang banyak dilakukannya seperti berzikir, shalat sunat, puasa dan lain-lain. Bila dia tertinggal melakukan sesuatu amal yang biasa dilakukannya atau bila dia tergelincir melakukan kesalahan maka dia merasa dijauhkan oleh Allah. Inilah orang yang pada tahap awal mendekatkan dirinya dengan Tuhan melalui praktek tarekat tasawuf.
Amal dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu perbuatan lahir dan perbuatan hati atau suasana hati berhubungan dengan perbuatan lahir itu. Beberapa orang dapat melakukan perbuatan lahir yang serupa tetapi suasana hati berhubungan dengan perbuatan lahir itu tidak mirip. Dampak praktek lahir kepada hati berbeda antara seorang dengan seorang yang lain. Jika praktek lahir itu mempengaruhi suasana hati, maka hati itu dikatakan bersandar pada praktek lahir. Jika hati dipengaruhi juga oleh praktek hati, maka hati itu dikatakan bersandar juga pada amal, terserap amalan batin. Hati yang bebas dari bersandar kepada amal apakah amal lahir atau amal batin adalah hati yang menghadap kepada Allah swt dan menempatkan ketergantungan kepada-Nya tanpa membawa apapun amal, lahir atau batin, serta menyerah sepenuhnya kepada Allah tanpa takwil atau tuntutan. Hati yang demikian tidak menjadikan amalnya, lahir dan batin, walau berapa banyak sekalipun, sebagai alat untuk tawar menawar dengan Tuhan untuk mendapatkan sesuatu. Praktek tidak menjadi perantara di antaranya dengan Tuhannya. Orang yang seperti ini tidak membatasi kekuasaan dan kemurahan Tuhan untuk tunduk kepada perbuatan manusia. Allah Yang Maha Berdiri Sendiri berbuat sesuatu menurut kehendak-Nya tanpa dipengaruhi oleh siapapun dan sesuatu. Apa saja yang mengenai Allah adalah mutlak, tidak ada batas, perbatasan dan perbatasan. Oleh karena itu orang arif tidak membuat praktek sebagai perbatasan yang mengungkung ketuhanan Allah swt atau 'memaksa' Allah berbuat sesuatu menurut perbuatan makhluk. Perbuatan Allah swt berada di depan dan perbuatan makhluk di belakang. Tidak pernah terjadi Allah swt mengikuti perkataan dan perbuatan seseorang atau sesuatu.Sebelum menjadi seorang yang arif, hati manusia memang berhubungan erat dengan praktek dirinya, baik yang lahir maupun yang batin. Manusia yang kuat bersandar kepada praktek lahir adalah mereka yang mencari keuntungan duniawi dan mereka yang kuat bersandar kepada praktek batin adalah yang menemukan manfaat akhirat. Kedua jenis manusia tersebut berkeyakinan bahwa legalisasi menentukan apa yang mereka akan peroleh baik di dunia dan juga di akhirat. Kepercayaan yang demikian kadang-kadang membuat manusia hilang atau kurang ketergantungan dengan Tuhan. Ketergantungan mereka hanyalah untuk praktek semata-mata atau jika mereka bergantung kepada Allah swt, ketergantungan itu bercampur dengan keraguan. Seseorang manusia dapat memeriksa diri sendiri apakah kuat atau lemah cadangan devisanya kepada Allah swt . Lihatlah ke hati ketika kita terperosok ke dalam perbuatan maksiat atau dosa. Jika kesalahan yang demikian membuat kita menyerah dari rahmat dan pertolongan Allah itu tandanya ketergantungan kita kepada-Nya sangat lemah. Firman-Nya:

"Wahai anak-anakku! Pergilah dan intiplah berita tentang Yusuf dan saudaranya (Bunyamin), dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat dan pertolongan Allah melainkan kaum yang kafir ". (Ayat 87: Surah Yusuf)
Ayat di atas menceritakan bahwa orang yang beriman kepada Allah swt menempatkan ketergantungan kepada-Nya walau dalam kondisi bagaimana sekali pun. Ketergantungan kepada Allah membuat hati tidak menyerah dalam menghadapi cobaan hidup. Kadang-kadang apa yang diinginkan, direncanakan dan diusahakan tidak mendatangkan hasil yang diharapkan. Kegagalan mendapatkan sesuatu yang diinginkan bukan berarti tidak menerima pemberian Allah swt Selagi seseorang itu beriman dan bergantung kepada-Nya selagi itulah Dia melimpahkan rahmat-Nya. Kegagalan memperoleh apa yang dihajatkan bukan berarti tidak mendapat rahmat Allah swt Apa juga yang Allah lakukan kepada orang yang beriman pasti ada rahmat-Nya, bahkan dalam soal tidak menyampaikan hajatnya. Kepercayaan yang demikian membuat orang yang beriman tabah menghadapi ujian hidup, tidak sekali-kali berputus asa. Mereka yakin bahwa ketika mereka sandarkan segala hal kepada Allah, maka apa juga amal kebaikan yang mereka lakukan tidak akan menjadi sia-sia.

HAKIKAT KHALIFAH

Dari kalangan hamba-hamba-Nya dipilihnya siapa saja yang Dia kehendaki dan dibukakan hijab di antara hamba-Nya itu dengan cahaya roh ahmad yang paling latif itu. Hamba yang ada hubungan dengan roh yang paling latif secara demikian berkedudukan sebagai khalifah Allah. Khalifah Allah tingkat paling tinggi adalah golongan nabi-nabi, diikuti oleh golongan wali-wali dan orang salih. Khalifah Allah bertugas memberi peringatan tentang hari pertemuan dengan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, Maha Perkasa. Mereka membimbing umat manusia ke jalan yang lurus yaitu jalan Tuhan sekalian alam.

Hamba yang berkedudukan sebagai khalifah Allah telah dibawa ke makam penyaksian yang meneguhkan keyakinan mereka, sebagaimana Allah meneguhkan keyakinan Nabi Ibrahim as

Dan demikianlah Kami bukakan kepada Ibrahim kerajaan langit dan bumi sehingga jadilah dia dari orang-orang yang benar-benar yakin. (Ayat 75: Surah al-An'aam)
Keyakinan yang sebenarnya membawa hamba kepada suasana:

Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada yang menciptakan semua langit dan bumi, dengan ikhlas, dan tidaklah aku dari orang-orang yang mempersekutukan-Nya. (Ayat 79: Surah al-An'aam)
Hamba yang sejati adalah hamba yang dapat melakukan "menghadap wajahnya kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, dengan ikhlas dan tidak mempersekutukan-Nya". Inilah makam yang paling tinggi dapat dicapai oleh seorang hamba Tuhan. Wajah hamba Tuhan menghadap kepada Yang Hakiki. Dia juga menyaksikan kerajaan-Nya. Perbuatan lahiriah dan praktek hatinya ikhlas karena Allah swt, bersih dari syirik. Itulah para hamba yang layak bergelar khalifah Allah. Kepada mereka Allah tujukan firman-Nya:

Sesungguhnya orang-orang yang berkata: "Tuhan kami adalah Allah!" Kemudian mereka tetap lurus, niscaya akan turun kepada mereka malaikat (yang mengatakan), "Jangan kamu takut dan jangan kamu berdukacita dan bergiranglah dengan surga yang pernah dijanjikan kepada kamu. Kami adalah pelindung-pelindung kamu pada penghidupan di dunia dan di akhirat, dan untuk kamu di dalamnya apa saja keinginan dirimu dan untuk kamu di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai jamuan dari Pengampun, Penyayang ". (Ayat 30 - 32: Surah Fussilat)

Mereka adalah golongan yang menerima pembentukan yang paling baik dari Allah swt
Pencelupan Allah! Dan siapakah yang lebih baik pencelupannya dari Allah? Dan akan Dia lah kami menyembah . (Ayat 138: Surah al-Baqarah)
Mereka yang menerima pencelupan yang paling baik adalah yang kekal di dalam kehambaan, mengabdikan diri kepada Allah, menyembah-Nya dan melaksanakan perintah dan peraturan-Nya. Mereka memulai perjalanan sebagai hamba dan kembali sebagai hamba juga. Segala pengalaman spiritual yang dilalui adalah untuk memperteguh kehambaan itu, menyesuaikan diri dengan al-Quran dan as-Sunah, mencontoh kehidupan Nabi Muhammad saw dan para sahabat yang mendapat keridhaan Allah Mereka kembali kepada kesadaran kemanusiaan biasa seperti semula karena tanpa kesadaran kemanusiaan hukum dan peraturan Tuhan tidak dapat dilaksanakan. Manusialah yang diangkat menjadi Rasul dan manusia juga yang mengembangkan ajaran Tuhan. Malaikat tidak diangkat menjadi Rasul untuk memimpin manusia. Tuhan memilih dari kalangan manusia juga untuk memimpin umat manusia. Sekalipun ada orang yang diizinkan mengalami berbagai suasana fakta tetapi itu bukanlah tujuan. Tujuannya adalah membentuk insan yang layak disebut umat Nabi Muhammad saw yang berkedudukan sebagai hamba Tuhan.

Si hamba telah memanjat gunung yang tinggi. Dengan izin dan melalui bimbingan-Nya si hamba itu selamat dari segala bahaya yang ada di sepanjang jalan. Bahaya yang besar ada dua jenis. Bahaya jenis pertama datangnya dari luar, dibawa oleh setan, dunia yang menipu daya dan makhluk yang menjadi agen setan. Bahaya tersebut ditemukan dalam perjalanan menuju Tuhan. Penghapusan kesadaran diri menjadi penawar untuk menghancurkan bahaya tersebut. Setelah melewati bahaya yang datang dari luar itu si hamba berhadapan pula dengan bahaya yang datang dari dirinya sendiri yang bergerak melalui hawa nafsunya, memakai pakaian kehendak, cita-cita, angan-angan dan harapan. Selagi si hamba memiliki kemauan yang keras atau cita-cita yang kuat dia tidak akan selamat dari bahaya dirinya. Nafsu mudah terangsang oleh sifat Rabbaniah (sifat ketuhanan). Nafsu mudah lupa diri dan memakai sifat yang tidak layak dipakai olehnya. Bahaya jenis ini hanya terhapus melalui penyerahan kepada Allah swt secara menyeluruh dan mengikat dirinya dengan tali kehambaan walau bagaimana tinggi peringkat yang dicapainya.

Dalam perjalanan meng si hamba melepaskan segala hak kepada Yang Empunya Hak seperti orang membuka pakaiannya dan diserahkannya kepada Tuan pakaian. Penelanjangan secara menyeluruh atau tajrid menjadi kendaraannya. Di dalam kendaraan tajrid tidak ada ilmu dan tidak ada makrifat. Si hamba semata-mata berdiri tegak demi Wajah Allah, untuk-Nya semata-mata dan bersama-Nya dalam segala hal dan semua ketika. Si hamba menitipkan namanya, sifatnya dan keberadaannya kepada Allah swt sehingga dia masuk ke Hadrat-Nya tanpa nama, tanpa sifat, tanpa memperhatikan diri sendiri dan makhluk lainnya juga tidak ada. Pengalaman fakta-fakta tidak melepaskan pandangannya kepada Allah swt Insan kamil juga tidak bisa menjadi hijab di antara hamba dengan Allah swt Si hamba masuk ke Hadrat Allah tanpa bekal. Penyerahan itulah kekuatan sejati yang menggerakkannya untuk maju terus hingga sampai ke tujuan.

Kini Allah kembalikan apa yang diserahkan kepada-Nya untuk dijaga. Tuan pakaian mengembalikan pakaiannya dan dia diizinkan memakai pakaian tersebut sebagai menyatakan bahwa dia adalah hamba Tuhan. Bila si hamba memakai pakaian hamba Tuhan maka Tuhan mengatur kehidupannya, sebagaimana yang dilakukan oleh Tuan terhadap hamba-Nya.

Tahap awal kembali kepada kesadaran kemanusiaan si hamba hanya menyaksikan kekuasaan Tuhan semata-mata. Dia tidak melihat efektivitas hukum yang Tuhan tempatkan pada makhluk-Nya. Hatinya melihat bahwa makhluk dengan zat dirinya tidak memiliki apa-apa daya, tidak mampu mendatangkan manfaat atau mudarat. Dalam kesadaran yang demikian jika dia berhadapan dengan badai dia tidak akan mencari perlindungan. Jika dia berhadapan dengan kilat dan petir juga dia tidak mencari perlindungan. Jika matanya kebetulan bersamaan memandang ke matahari dia tidak bersegera mengalihkan pandangannya. Dalam menghadapi semua yang terlihat mempengaruhi itu hatinya berkata, "Kamu adalah makhluk Tuhan. Kamu tidak ada kekuatan merusak daku. Hanya Tuhan yang memiliki kekuasaan ". Keyakinan yang kuat kepada Tuhan melindunginya. Bila dia menghadapi anasir alam dengan menempatkan ketergantungan bulat kepada Tuhan hal yang mengagumkan berubah menjadi 'jinak' dan 'mesra.' Angin kencang mengeluarkan lagu yang merdu. Cahaya kilat menjadi permainan bunga api yang indah. Matahari yang sedang terik memancar terlihat suram, menyentuh bola mata dengan lemah lembut.

Ketika berada pada tahap ini si hamba tidak tahu berterima kasih kepada sesama manusia. Dia hanya melihat Tuhan yang memberi. Bila dia bergerak lebih jauh ke dalam kesadaran keinsanan pandangannya akan berubah. Jika dia menerima sesuatu dari makhluk, sekalipun dia melihat Pemberi sebenarnya adalah Tuhan, tetapi dia sudah bisa menghargai makhluk yang dipilih oleh Tuhan menjadi utusan yang menyampaikan karunia Tuhan itu dan dia berterima kasih kepadanya. Terima kasih kepada makhluk dan syukur kepada Tuhan bisa terjadi dalam satu waktu. Dia juga sudah bisa menghormati anasir-anasir alam yang mempengaruhi karena dia melihat Tuhan yang menempatkan efek tersebut kepada mereka. Sebagai menghormati dan menerima aturan Tuhan dia menyatakan efek yang ada dengan anasir-anasir tersebut. Dia sudah bisa melihat bahwa angin, petir dan matahari dapat merusak dengan izin Allah swt Efek yang Tuhan taruh kepada anasir-anasir tersebut merupakan hak Tuhan kepada mereka untuk bekerja menurut fitrah masing-masing.

Si hamba yang dibawa kembali ke kesadaran keinsanannya dan ditentukan untuk menjalani sesuatu tugas khusus sebagai hamba Tuhan akan terlebih dahulu dibawa ke pengalaman kehadiran Fakta Habiballah, kekasih Allah yaitu Nabi Muhammad saw

HAKIKAT AHMADIAH

Suasana Ilmu Allah diumpamakan berada dalam Ka'abatullah. Orang yang berada di dalam kota tidak dapat menyaksikan apa yang ada di luar kota. Kota menghalangi hubungan orang yang berada di dalam dengan orang yang berada di luar. Dalam perjalanan spiritual kota yang menghijab adalah kesadaran yang menguasai hati. Hati yang terbungkus dan terikat oleh suasana kebatinan yang menguasainya. Hati yang 'terkurung' di dalam suasana Ilmu tidak dapat dicampur aduk dengan orang banyak.

Suasana kenyataan yang dialami oleh hati memberi efek yang sangat mendalam. Itu tidak hilang dengan segera meskipun terjadi perubahan stasiun dan makam. Ketika "dinding Kaabatullah terbuka" si hamba keluar dari kesadaran Ilmu dan masuk ke kesadaran rohani yang belum terikat dengan jasad. Pada awal tahap ini dampak dari 'pertemuan' dengan fakta-fakta masih mempengaruhi kesadarannya. Pengaruh atau dampak dari fakta-fakta tersebut membawa ke dalam kesadarannya penyaksian terhadap Hakikat Ahmadiah. Hatinya menyaksikan bahwa Ahmad adalah suasana roh yang paling latif, paling suci dan paling murni. Ahmad adalah nama bagi roh yang memiliki kesempurnaan makrifat, kesempurnaan ilmu dan kesempurnaan kehambaan. Ahmad atau roh yang paling latif itu menjadi roh kepada Nabi Muhammad saw

Dan ingatlah tatkala mengatakan Isa anak Maryam: "Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku ini adalah Utusan Allah kepada kamu, membenarkan apa yang ada di antara kedua tanganku dari Taurat dan memberikan berita gembira dengan kedatangan seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya AHMAD ! "Maka tatkala dia telah datang kepada mereka dengan bukti-bukti yang nyata , mereka berkata, "Ini adalah sihir yang nyata". (Ayat 6: Surah As-Saff)
Sebelum Nabi Muhammad saw lahir ke dunia beliau disaksikan di Alam Arwah sebagai Ahmad. Sesudah beliau lahir beliau bernama Muhammad dan juga bergelar Ahmad. Dalam kesadaran tingkat Ilmu, si hamba merasakan kehadiran Hakikat Muhammadiah, Hakikat Insan Kamil dan hakikat hamba Tuhan. Dia melihat Fakta-fakta tersebut sebagai urusan Tuhan yang menguasai perjalanan sekalian makhluk. Dalam kesadaran rohani pula si hamba merasakan kehadiran Fakta Ahmadiah dan dia menyaksikan bahwa roh yang paling latif itulah generator segala urusan Tuhan kepada makhluk.

Dan mereka bertanya kepada engkau tentang Roh. Katakanlah: "Roh itu adalah urusan Tuhanku, dan kamu tidak diberi ilmu melainkan sedikit". (Ayat 85: Surah Bani Israil)

(Ingatlah) tatkala Tuhan engkau berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila Aku menyempurnakankejadiannya dan Aku tiupkan kepadanya dari Roh-Ku harus kamu meniarap kepadanya dalam keadaan sujud ". (Ayat 71 & 72: Surah Saad)
Selanjutnya Allah berfirman:

Maha Luhur derajat-Nya, Yang Empunya Arasy. Dia turunkan Roh dari urusan-Nya kepada barangsiapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya untuk memberi peringatan tentang hari pertemuan . (Ayat 15: Surah al-Mu'min)
Selanjutnya Allah berfirman:

Dan demikianlah Kami wahyukan kepada engkau satu Roh dari urusan Kami. Padahal tidaklah engkau tahu apa itu Kitab dan apa itu iman. Tetapi Kami jadikan ia nur yang Kami beri petunjuk dengan itu barangsiapa yang kami kehendaki dari hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya engkau akan memimpin ke jalan yang lurus. (Yaitu) jalan Allah, yang milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ketahuilah! Kepada Allah akan sampai segala urusan. (Ayat 52 & 53: Surah asy-Syura)
Keberadaan roh yang paling latif itu menyebabkan manusia memiliki bakat dan nilai kemanusiaan; manusia menjadi hidup, berkuasa, berkehendak, mengetahui, mendengar, melihat dan berkata-kata. Tanpa keberadaan roh yang paling latif atau Ahmad sebagai katalis atau hijab, apa yang dari Tuhan tidak dapat diterima oleh makhluk. Makhluk yang selain roh yang paling latif itu tidak ada kekuatan untuk menyambut apa yang Tuhan 'kirim' dari Hadrat-Nya.
Allah adalah sebaik baiknya tempat bertawakal dan berserah, tak ada kekuatan yang melampoi, bumi langit dan nasib manusia semua serta semua binatang ada dalam genggamanNya, siapa yang menyangka kalau ada kekuatan yang melebihi Allah, maka masih tdk mengetahui keberadaan dirinya dan keberadaan Allah sebagai TUHAN yang maha perkasa.
Apakah aku akan melihatmu sepuluh tahun kemudian, kau masih seperti saat ini, seperti orang yang mati, tak berkembang sama sekali tapi menghabiskan berbakul bakul nasi, karena menunda nunda kebaikan untuk merubah jalan hidup saat ini, keputusan tak pernah di ambil, tindakan tak pernah di lakukan, sedang waktu terus berjalan, tak akan menunggumu karena kau memutuskan berhenti.
Apabila minat ingin berbakti kepada Tuhan sudah kuat dan seseorang di kehendaki untuk mendekat padaNya, si hamba akan menilik kepada kecacatan dan keaiban dirinya. Dia merasa malu menghadap Tuhan dengan dirinya yang diselimuti oleh kekotoran. Dia juga melihat dirinya sebagai seorang yang 'sakit', tidak berupaya membuat kebaktian kepada Tuhan dengan sempurna. Dia sangat ingin menyucikan dirinya dan menyembuhkan penyakitnya agar dia bisa melayani Tuhan dengan sekuat tenaganya dan dalam keadaan suci.

lalu Allah tanamkan di hati hamba itu untuk gemar menyepi sendiri, bangun di malam sunyi sendiri, untuk menjalankan laku menyucikan diri, bertaubat, dan menjalankan pendekatan pada Allah, Allah bangkitkan rasa yang kukuh kuat untuk menyucikan diri pada hamba tersebut, sehingga tidak memperdulikan kesendirian dan mengenyampingkan segala rasa dingin dan takut, hanya agar makin dekat dengan Allah.
Sebagian anggota jazbah yang hilang akal kesadaran memasuki jalan yang tidak ada guru. Mereka dapat dibagi menjadi dua golongan. Golongan pertama memasuki jalan memencilkan diri di tempat yang jauh dari orang banyak. Ketika sendirian itulah timbul kecenderungan dalam hati mereka untuk melakukan sesuatu ibadah dengan sungguh-sungguh. Kemudian jazbah didatangkan kepada mereka. Golongan ini biasanya sulit untuk kembali ke kehidupan normal seperti orang banyak. Orang yang menjadi MAJZUB secara terus menerus terutama terdiri dari golongan ini. Golongan kedua adalah mereka yang tinggal dalam masyarakat, tidak mengasingkan diri di tempat yang jauh. Ketika masih berada bersama orang banyak itulah didatangkan minat kepada mereka untuk melakukan sesuatu amalan atau ibadah. Ketika mereka didatangi oleh jazbah mereka tetap juga berada di dalam lengkungan publik. Anggota jazbah seperti ini mengalami berbagai hal aneh sambil diperhatikan oleh orang banyak. Mereka harus berhadapan dengan reaksi orang banyak dan kondisi memudahkan buat mereka kembali ke kehidupan biasa nanti.

Majzub berbeda dari majnun (gila). Kepada keduanya dibukakan kegaiban. Orang majnun tersangkut pada alam makhluk halus atau alam khadam. Mereka suka berbicara sendirian seolah-olah mereka berbicara dengan seseorang. Sebenarnya mereka memang berbicara dengan sesuatu yang orang lain tidak nampak dan tidak dengar. Isu percakapan mereka adalah hal aneh yang ada di alam lain. Jika orang majnun kembali ke kesadaran normal kembali, mereka akan lupa pada apa yang mereka telah alami di alam makhluk halus itu. Pengalaman majnun tidak meninggalkan kesan yang mempengaruhi pemikiran dan pegangannya.

Orang Majzub pula tertarik pada 'alam ketuhanan.' Meskipun berbicara sendirian, isu percakapan mereka adalah Tuhan. Mereka banyak berbicara tentang aspek misal ketuhanan. Perilaku mereka yang terlihat seperti orang yang tidak waras, berbicara sendirian mengenai misal ketuhanan, dapat menyebabkan orang mengira mereka sudah gila. Ketika orang MAJZUB kembali ke kesadaran normal kembali, pengalaman jazbah tidak hilang dari ingatan mereka. Pengalaman yang demikian meninggalkan kesan yang kuat pada jiwa mereka. Mereka yang keluar dari alam jazbah membawa bersama mereka kekuatan spiritual yang kuat sehingga mereka mampu melakukan untuk masyarakat apa yang orang lain tidak mampu.
Ketika Allah swt berkehendak menyampaikan wahyu-Nya kepada Nabi Muhammad saw, Dia menggerakkan hamba-Nya itu supaya berkhalwat menyepi di Gua HiraĆ¢. Kepergian beliau ke Gua HiraĆ¢ adalah karena Atraksi Rahmani atau Petunjuk Ghaib yang datang langsung dari Allah Yang Maha Tinggi. Petunjuk Ghaib mempersiapkan Nabi Muhammad saw Ketika beliau sudah siap barulah wahyu diturunkan.
Seseorang yang akan menerima urusan Tuhan akan dipersiapkan oleh Tuhan menurut kebijaksanaan-Nya. Seseorang yang akan menerima jazbah dipersiapkan terlebih dahulu. Ada orang yang diseret ke jalan bersuluk. Meskipun mereka memasuki suluk di dalam kesadaran namun pada hakikatnya mereka ditarik oleh Petunjuk Ghaib. Petunjuk Ghaib bertindak ke atas mereka, yang pada lahirnya tampak sebagai bimbingan guru mereka. Kehadiran guru yang arif memudahkan murid memahami petunjuk-petunjuk sampai kepada mereka dari alam gaib.

jadi seandainya Allah menghendaki seseorang untuk menerima curahan ilmu dan ilham, maka Allah akan mempersiapkan orang tersebut dengan persiapan yang sudah terprogram oleh Allah secara sadar atau tak sadar akan di jalankan oleh orang tersebut, di ketahui dan di sadari pengaturan program yang Allah terapkan itu biasanya baru di sadari setelah seseorang itu melewati proses dan mulai mendapatkan buah dari buah tanaman yang di tanam, baiasanya kadang seseorang ketika mulai dalam pembentukan biasanya cenderung dalam kebingungan karena tak tau akan di bawa oleh Allah kemana, apalagi kalau orang itu sangat awam sekali terhadap masalah ubudiyah.

KITAB RISALAH AL Muawanah: muraqabah kepada Allah

( SAYIID ABDULLAH AL HADDAD TOKOH TAREKAT BA 'Alawi al HADDAD)
Dan wajib bagi kamu wahai saudaraku untuk selalu ber muroqobah kepada Allah Ta'ala dalam segala gerak dan diammu dan pada setiap kedipan matamu dan pada setiap kehendakmu dan gurisan hatimu dan dalam segala keadaanmu dan kesadaranmu akan kedekatannya kapadamu dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Dia selalu melihat dirimu dan mengetahui segala ihwalmu dan tidak ada yang tersembunyi bagiNya segala sesuatu yang ada pada dirimu meskipun hanya sebesar zarrah baik itu di bumi maupun di langit. dan jikalaupun engkau mengeraskan suaramu ataupun melembutkannya maka sesungguhnya Dia Maha mengetahui segala sesuatu yang sangat samar dan tersembunyi. Dan Dia selalu bersamamu di mana saja kamu berada dengan ilmuNya dan peliputanNya Jika engkau termasuk orang yang bagus, maka malulah kepada Tuhanmu dengan sebenarnya malu dan bersungguh-sungguhlah agar Ia tidak meluhatmu pada tempat yang sekiranya Dia melarangmu, Dan berusahalah selalu Ia mendapatimu ketika Ia memerintahkan sesuatu kepadamu. Dan sembahlah Ia seakan-akan engkau melihatNya dan sementara engkau jumpai dirimu merasa malas mengerjakan ketaatan kepadaNya atau condong kepada bermaksiyat kepadaNya maka ingatlah bahwa sesungguhnya Allah mendengarmu dan melihatmu dan mengetahui rahasiamu dan ketersembunyianmu.

Apabila hal yang demukian belum berhasil membangkitkan semangatmu untuk ta'at kepada disebabkan karena sedikitnya ma'rifatmu kepadaNya akan kebesaran Allah, maka ingatlah akan adanya dua malaikat yang sangat mulia yang keduanya mencatat kebaikan dan keburukan amal. Bila yang demikian itu masih belum memberikan efek, maka langkah selanjutnya adalah ingatlah akan dekatnya maut atau kematian dimana maut adalah sesuatu yang paling dekat diantara yang terdekat yang selalu menanti dirimu dan takutlah akan hal yang demikian. Ketika pentakutan yang demikian ini belum juga berhasil menggerakkan dirimu untuk ta'at kepada Allah maka peringatkanlah dirimu dengan janji-janji Allah yang akan diberikan kepada orang yang ta'at kepada dari beberapa pahala yang sangat besar dan ingatlah juga akan janjiNya yang disediakan bagi orang- orang yang durhaka kepada dari beberapa azab yang sangat menyaktkan dan katakanlah kepada dia (nafsumu) wahai nafsu, tidak ada sesuatu setelah kehidupan dunia kecuali surga atau neraka., maka pilihlah untuk dirimu sendiri jika engkau menginginkan ta'at maka akibatnya adalah keselamatan dan keridhoan dari Allah dan abadi dalam kenikmatan surga dan memandang ke wajah Tuhanmu yang maha Mulia. Dan jika engkau menginginkan yang lain maka bermaksiyatlah kepada Allah maka akhir yang akan kamu dapatkan adalah kehinaan dan kemarahan dari Tuhanmu dan tinggal abadi di dalam neraka. Jika yang demikian ini telah engkau lakukan maka akan hilanglah keinginan nafsumu untuk berdiam diri tidak melakukan ta'at kepada Tuhannya. Maka sesungguhnya yang demikian ini merupakan obat yang sangat bermanfaat bagi hati yang mengalami sakit. selanjutnya jika hatimu telah sadar bahwa Allah Ta'ala selalu melihatmu maka hatimu akan merasa malu untuk berlawanan dengan kehendaknya dan hatimu akan membimbngmu untuk taat kepadaNya dan yang demikian ini hatimu telah mulai ber muroqobah kepadaNya.

Dan ketehuilah sesungguhnya muroqobah adalah termasuk mqoomqt / posisi yang sangat mulia d dan termasuk kedudukan yang tinggi dan setinggi-tingginya derajad dan dia / muroqobah adalah maqom ihsan dimana Rasulullah SAW telah mengingatkan dalam sabdanya bahwa Al-ihsan adalah apabila engkau menyembahNya seakan-akan engkau melihatNya. Dan apabila engkau tidak dapat melihatNya maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Ia melihatmu. Dan setiap hamba yang beriman akan yakin dan percaya bahwa bagi Allah tidak ada sesuatupun yang tersembunyi baik di langit maupun yang di bumi dan mereka mengetahui bahwa Allah selalu menyertainya di mana saja, dan tidak ada yang tersembunyi bagi Allah dari segala gerak dan diamnya seorang hamba. Akan tetapi buah yang sedemikian ini akan dapat diperoleh dengan jalan pertama ia tidak melakukan amal perbuatan antara ia dengan Allah yang menyebabkan ia malu ketika amal ada orang saleh melihat apa yang ia lakukan tersebut. dan yang demikian ini adalah perbuatan yang mulia, dan dibalik semuanya adalah lebih mulia lagi, saampai seorang hamba sampai pada akhir umurnya tenggelam ke dalah HadratuLlah Ta'ala dan dia hilang / fana dari yang selain Allah. Dan sungguh baginya telah hilang pandangannya akan semua makhluk dikarenakan terpananya pandangannya kepada kebesaran Allah yang Maha Haq. Dan ia telah benar keyakinannya dihadapan Sang Raja yang maha kuasa. Dan wajib untukmu wahai saudaraku untuk selalu memperbaiki Daen memperbagus bathiniahmiu agar lebih baik dari lahiriahmu. Yang demikian itu dikarenakan bahwa yang bathiniah adalah tempat Allah melihat seorang hamba sedangkan lahiriah adalah tempat yang dilihat makhluk. . dan apa yang dijelaskan Allah di dalam kitabnya yang mulia / Al-Qr'an tentang masalah lahir dan bathin, maka Allah lebih mula menyebutkan kata bathin dari lahir - berarti bathin lebih utama - sebagaimana do'a Rasulullah SAW Yaa Allah jadikanlah bathiniahku lebih baik dari lahiriahku, dan jadikanlah lahiriahku dalam kondisi bagus. Dan sementara bagus bathiniah, maka akan bagus jugalah keadaan lahiriah tidak bisa tidak. Karena sesungguhnya yang lahir selamanya mengikuti yang bathin dalam hal baik dan buruknya. Rasulullah SAW telah bersabda sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal darah, apabila ia baik maka baiklah seluruh jasad, dan ketika itu buruk maka akan buruklah seluruh jasad. Ketauhilah sesungguhnya dia adalah hati.

Dan ketahuilah apabila ada seseorang yang mengaku / mendakwakan bahwa kondisi bathinnya telah bagus akan tetapi lahiriahnya rusak dengan meninggalkan ketaatan kepada Allah, maka apa yang ia anggap tersebut adalah bohong belaka. Dan barang siapa yang bersungguh-sungguh memperbaiki / membeguskan lahiriahnya dengan mempercantik penampilannya, pembicaraannya, demikian juga mempercantik gerak geriknya, dan cara duduknya, dan cara berdirinya, dan cara ia berjalan, akan tetapi ia membiarkan bathiniahnya dalam kondisi yang buruk dengan akhlak yang buruk pula serta dengan kebiasaan yang kotor, maka ketahuilah bahwa ia termasuk min ahlil Tashonnu ' / orang ayng suka di buat-buat dalam hal tingkah lakunya, dan termasuk orang yang riya 'dan orang yang termasuk berpaling dari Tuhannya. Maka takulah wahai saudaraku jika engnkau menutupi / menyembunyikan sesuatu ketika orang lain mengetahuinya niscaya engkau akan malu. Sebagian orang arifiin berkata Seorang Sufi belum termasuk golongan para Sufi hingga seandainya seluruh isi hatinya ditaruh dalam sebuah nampan dan di perlihatkan di tengah pasar maka ia tidaklah malu jika semua orang melihat isinya. Jiak engkau tidak mampu membuat bathinmu lebih baik dari lahiriahmu, maka usahakan agar keduanya sama antara lahir dan bathinnya, maka apa yang engkau lakukan dalah hal melaksanakan perintahNya dan menjauhi larangannNya dan dalam mengagungkannya, dan usahamu mencari keridhoannya, semua itu dalam kondisi sama (antara lahirr dan bathinnya). Dan apa yang disampaikan ini adalah langkah awal bagi orang yang melangkah jalan ma'rifat yang Khos maka ketahuilah yang demikian itu semoga Allah selalu memberi taufik.

KITAB RISALAH AL MUAWANAH : WAJIB MEMPELAJARI ILMU MAKRIFAT

(SAYIID ABDULLAH AL HADDAD TOKOH TAREKAT BA’ ALAWI AL HADDAD)
Dan seharusnyalah bagi kamu memiliki wirid / amalan yaitu mempelajari atau membaca Ilmu yang bermanfaat yaitu ilmu yang akan menambah pengetahuanmu (ma’rifatmu) akan Dzat Allah dan sifatNya dan Af’al / perbuatanNya, dan dengan ilmu tersebut engkau akan mengetahui perintah –perintahNya yang mendorongmu untuk ta’at kepadaNya, serta larangan-laranganNya yang mencegahmu untuk bermaksiyat kepadaNya, sehingga yang demikian itu akan menyebabkan kamu zuhud terhadap dunia dan mencintai akhirat. Dan dengan Ilmu yang bermanfaat tersebut akan memperlihatkanmu akan Aib atau cacat dirimu dan akan dapat diketahui bahaya hasil perbuatanmu, serta tipudaya musuh-musuhmu. Maka yang demikian inilah Ilmu yang bermanfaat yang tertera di dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasul SAW, dan kitab para Aimmah atau para imam pemimpin umat. Dan Imam Al-Ghazali telah mengumpulkannya dalam kitabnya yang sangat mulia (Ihya’ Ulumuddin), yang sangat besar faidahnya bagi orang yang memiliki Bashiirah / mata hati dan gemar akan Ilmu agama dan keyakinan yang sempurna, maka bersungguh-sungguh mereka dalam mempelajari kitab tersebut, demikian juga bagi kamu jika kamu benar bersungguh-sungguh ingin menempuh jalan akhirat, dan berkeinginan untuk sampai / wushul kepada martabat hakikat. Dan sungguh kitab tersebut dijadikan rujukan para ahli pencari hakikat yaitu para sufi dan mereka memperoleh faidah yang sangat besar dalam waktu yang relatif singkat, semua karena berkah Al-Imaam Al-ghazaali ra.

Dan seharusnyalah bagi kamu memperbanyak membaca kitab hadits dan tafsir dan mempelajari kitab yang umum/kebanyakan dipelajari oleh para alim ulama, karena yang demikian itu akan dapat membukakan hati dan jalan yang sempurna menuju kedekatan dengan Allah seperti yang dikatakan sebagian Arifiin. Akan tetapi hendaklah berhati-hati apabila menelaah beberapa risalah yang membahas masalah-masalah yang sangat halus/lembut dan masalah hakikat dengan belajar sendiri tanpa didampingi seorang guru / Syaikh pemimbing, dan masalah yang demikian ini banyak dijumpai dari risalah-risalah yang di karang oleh beberapa pengarang seperti Syaikh Muhammad ‘Arabi dan beberapa risalah dari Al-Imam Al-Gazali RA seperti kitab Al-Ma’aarij. Apabila ada orang yang berkata, “sesungguhnya tidak mengapa bagi kami mempelajari kitab-kitab tersebut karena sesungguhnya kami hanya mengambil apa-apa yang kami faham atasnya dan beriman terhadap apa yang tidak kami fahami dari kitab tersebut”, maka jawabannya adalah “sesungguhnya dihawatirkan bagimu bahwa apa yang engkau fahamkan dari kitab tersebut tidak sama denagn apa yang dikehendaki oleh pengarangnya maka akan menjadi tersesat dari jalan yang benar, seperti yang terjadi pada beberapa kaum yang muthala’ah kitib-kitab tersebut tanpa pembimbing seorang Syaikh maka menjadi Zindiq dengan pernyataan mereka mengenai hulul dan ittihaad (manunggaling kawulo gusti) – penyatuan antara hamba dengan TuhanNya

KITAB RISALAH AL MUAWANAH : KEKALKAN BACAAN WIRID MU

(SAYIID ABDULLAH AL HADDAD TOKOH TAREKAT BA’ ALAWI AL HADDAD)
Dan seharusnya bagi kamu memiliki amalan dzikir kepada Allah Ta’ala dengan ditentukan waktunya maupun bilangan jumlahnya (tentusaja dengan meminta amalan dari para Masayikh / para Ulama’) karena yang demikian ini untuk mendidik kedisiplinan. Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya dzikir adalah termasuk rukun thariqoh atau sesuatu yang harus dijalankan bagi orang yang hendak mendekatkan diri kepada Allah, dan dzikir adalah kunci pembuka hakikat dan merupakan pedang bagi murid. Sebagaimana yang dikatakan oleh ba’dhul ‘Aarifiin bahwa sesungguhnya telah berfirman Allah, “Fadzkuruunii Adzkurkum” yang artinya, “maka ingatlah/berdzikirlah kamu semua kepada Ku niscaya Aku akan mengingatmu”. Dan allah telah berfirman, “FasdzkuruuLlaaha qiyaaman wa qu’uudan wa ‘alaa junuubikum” yang artinya, “maka ingat/berdzikirlah kamu sekalian kepada Allah ketika berdiri, dan duduk, dan ketika berbaring diatas punggungmu”.

Dan Allah Ta’ala juga berfirman, “Yaa ayyuhalladziina aamanuudzdzkuruLlaaha dzikran katsiira” yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, dzikirlah kamu sekalian kepada Allah denagn dzikir yang banyak”.

Dan telah bersabda RasuluLlah SAW, yang artinya, “Sesungguhnya Aku tergantung persangkaan hamba-ku kepada-Ku, dan Aku akan selalu bersamanya selama mereka menmgingat-Ku. Apabila ia mengingat-Ku di dalam dirinya, maka Aku akan mengingatnya di dalam Diri-Ku. Jika ia menyebut-Ku di tempatnya, maka Aku akan menyebut-Nya di tempat-Ku lebih baik dari pada penyebutannya di tempatnya”.

Dan Nabi SAW telah bersabda, “Telah berfirman Allah Ta’ala, ‘Aku adalah teman duduk orang yang berdzikir kepada-Ku.”

Dan Nabi SAW juga telah bersabda, “Maukah kamu sekalian aku tunjukkan sebaik-baik amal kamu semua untuk Tuhanmu, dan lebih dapat mengangkat derajat kamu sekalian, dan yang lebih baik bagi kamu dari paad menginfaqkan emas dan perak dan lebih baik dari keadaan seandainya engkau berjumpa dengan musuh maka engkau memukul pundak mereka demikian juga mereka memukul pundakmu (perang fi sabiliLlah), ?” Maka mereka (para sahabat) menjawab, “Baik Yaa RasuluLlah”. Maka Nabi bersabda, ‘DzikruLlah yaitu dzikir kepada Allah”.

Dan dengan dzikir banyak sekali buah dan manfaatnya bagi orang yang bersungguh-sungguh mengamalkannya dengan adab dan hadirnya hati di hadapan Allah Ta’ala. Dan minimal buah hasil dari dzikir adalah rasa manis lezat yang dirasakan di dalam hati yang dapat mengalahkan segala sesuatu disekelilingnya misalnya kelezatan dunyawiyah. Sedang paling tinggi buah dari dzikir adalah apabila ia fana (hilanglah segala sesuatu) karena mengerasnya Yang di ingat yaitu Allah bahkan ia sendiri tidak fana / ingat akan dirinya sendiri -karena terkalahkan oleh Yang diingat/disebutnya. Dan juga fana/lenyap dari segala sesuatu selain Dia.

Dan barang siapa yang duduk dalam keadaan suci baik dari hadats maupun najis di tempat yang sunyi (khalwat) dengan menghadap kiblat menenangkan pandangan matanya, menundukkan kepalanya kemudian berdzikir kepada Allah dengan hati yang hadir ke hadapan Allah maka hatinya akan melihat dan merasakan bekasnya dzikir secara nyata. Dan apabila ia terus dalam keadan yang demikian maka nuurul qurbi / cahaya kedekatan akan menyiinarinya dan akan terbuka baginya asraarul ghaibi yaitu rahasia sesuatu yang ghaib. Dan seutama-utamanya dzikir dalah apabila terwujud bersama-sama antara dzikir hati dan lisan. Dan yang dimaksud dzikrul qalbi /dzikir hati adalah apabila bisa hadir ke dalah hati akan makna apa yang diucapkan oleh lisan. Seperti Taqdis dan tahmiid (Pemahasucian dan pemujian) kepada Allah ketika tasbih dan tahlil. Dan dzikir adalah wirid yang abadi / da’im maka berusahalah agar lisan senantiasa basah dengan sebab dzikir dalam keadaan apapun kecuali pada waktu yang tidak memungkinkannya untuk melaksanakan dzikir tersebut seperti ketika membaca Al-Qur’an dan tafakur. Dan jadikan ibadah yang demikian ini sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan janganlah terpancang dengan hanya satu macam dzikir saja akan tetapi sebaiknya memiliki amalan dzikir yang berfariasi.

WEJANGAN SUFI SYEIKH AHMAD AR-RIFA'Y : JALAN ISTIQAMAH

Syeikh Ahmad ar-Rifa'y

Diriwayatkan oleh Ummu Habibah ra, ia berkata, bahwa Rasulullah saw, bersabda:
"Tak seorang pun hamba yang muslim, sholat Lillahi Ta'ala setiap hari dua belas rekaat, sholat sunnah, bukan sholat fardlu, kecuali Allah membangunkan rumah di dalam surga."
(HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa'y) Hadits ini memotivasi untuk menegakkan ibadah-ibadah sunnah, karena ibadah sunnah salah satu bentuk taqarrub kepada Allah Ta'ala, sekaligus menjadi bekal kaum 'Arifun dalam menempuh jalan menuju kepada Allah swt . Sekaligus menjadi perilaku kaum yang mengkhususkan (menyendiri) jiwanya di sisi Allah swt. Anak-anak sekalian! Ketahuilah siapa yang hakikat batinnya menyendiri bersama Allah secara total, dan rahasia sirrnya benar-benar manunggal, akan terbuka seluruh tirai, segala bukti menjadi nyata, ketika musyahadah pada Cahaya Al-Haq Allah swt. Disanalah Allah menuangkan minuman dengan gelas CintaNya, hingga ia mabuk dari lainNya, segalanya menjadi riang nan ringan. Segala diamnya adalah dzikir, nafasnya adalah tasbih, kalamnya adalah penyucian, dan tidurnya adalah sholat (doa). Sang hamba senantiasa menaiki kendaraan ma'rifat, hingga bertemu Yang di-ma'rifati. Bila sudah bertemu, ia abadi selamanya bersamaNya, tidak berpaling ke lainNya. Qalbu itu ibarat istana, dan ma'rifat adalah rajanya, akal adalah menterinya yang punya department dan instrument. Lisan sebagai penerjemah, sedangkan rahasia batinnya dari harta Ar-Rahman. Masing-masing konsisten dengan posisinya, sedangkan arah seluruhnya adalah istiqomahnya sirr bersama Allah swt. Bila Sirr istiqomah, maka ma'rifat menjadi istiqomah, lalu akal menjadi lurus. Bila akal konsisten, qalbu akan konsisten. Bila qalbu konsisten, jiwa akan konsisten. Bila nafsu konsisten (dalam operasi), perilaku batin akan konsisten.Sirr dicahayai oleh Sifat Jamal dan JalalNya. Akal dicahayai oleh cahaya kesadaran dan renungan pelajaran. Qalbu dicahayai oleh cahaya rasa takut dan cinta disertai kontemplasi pikiran. Nafsu dicahayai dengan cahaya olah jiwa dan pengekangan. Sirr adalah lautan dari samudera anugerah-Nya, dan gelombangnya tak terhingga, tiada henti pula.Jika Sirr konsisten bersama Allah swt, maka senantiasa akan abadi dalam musyahadah, dan sirna dari penglihatan pada Istiqomahnya. Perlu diketahui bahwa Jalan Istiqomah (konsistensi) itu laksana tenda agung dari jalan akhirat, dan berjalan di tepinya lebih sulit dibanding jalan di tepian akhirat. Alam rahasia bisa menjadi tipudaya, karena Allah tidak suka pada hati hamba yang masih ada cinta pada yang lain selain Dia. Mereka tidak ingin sesuatu dari Allah kecuali Allah. Dalam sebagaian kitabNya Allah Ta'ala berfirman: "Bila yang kesibukan jiwa hambaKu lebih kepadaKu dibanding yang lain, maka Kujadikan nikmat dan hasrat ada dalam mencintaiKu, dan Aku singkapkan hijab antara diriKu dengan dirinya."

Ada seseorang sedang masuk dalam tempat Syeikh Sary as-Saqathy, lantas pria itu bertanya, "Manakah yang bisa mendekatkan pada Allah Ta'ala, hingga sang hamba bisa mendekat kepadaNya?" Maka As-Sary menangis, lalu berkata, "Orang seperti Anda ini masih bertanya seperti itu? Yang paling utama cara mendekatkan hamba kepada Allah swt, hendaknya Allah, muncul di hatimu, dan Anda tidak mau sama sekali pada dunia dan akhirat, kecuali hanya padaNya. "

Ibrahim bin Adham ra. mengatakan, "Puncak dari hasrat dan citaku dalam hubunganku dengan Allah Ta'ala adalah, hendaknya Dia membuat diriku condong terus kepadaNya, hingga aku tak melihat apapun selain Dia, dan aku tidak sibuk dengan siapa pun selain sibuk denganNya, aku tak peduli Dia jadikan diriku jadi debu, atau hilang sama sekali. "

Ibrahim, pernah ditanya, "Dengan cara apa Anda dapatkan keakraban dengan Allah Ta'ala?" "Dengan memutuskan diriku hanya kepada Tuhanku, dan pilihanku kepadaNya dibanding lainnya, serta aku tidak pernah makan kecuali bersama tamuku. "

Rabi'ah al-Bashriyah ra mengatakan: "Oh Tuhanku, hasratku di dunia dan di akhirat nanti hanya mengingatmu, dan hasratku di akhirat dari akhirat hanya memandangmu, maka lakukanlah antara keduanya sekehendakmu."

Abu Yazid al-Bisthamy ra menegaskan , "Rahasia batinku naik menuju Allah swt, lalu terbang dengan sayap ma'rifat dengan cahaya kecerdasan di cakrawala Wahdaniyah (KemahatunggalanNya). Tiba-tiba nafsu menghadapku dan berkata, "Kemana kau pergi? Akulah nafsumu dan engkau harus bersamaku. "Namun rahasia batinku (sirr) sama sekali tidak menoleh padanya. Kemudian makhluk-makhluk lain menghadap sirrku, mereka bertanya, "Kemana kau pergi? Kami adalah teman dan tempat curhatmu, engkau harus bersama kami, demi solidaritas padamu! "Sirrku sama sekali tidak menoleh. Lantas surga dengan segenap isinya menghadap sirrku, mereka bertanya, "Kemana engkau pergi? Engkau itu bagiku dan engkau harus disini denganku. "Maka sirrku sama sekali tidak berpaling. Lalu penghargaan dan pemberian menghadapku, begitu juga karomah-karomah, hingga melewati kerajaan, sampai pada kemah Fardaniyah (KetunggalanNya), lantas melampaui universalitas dan keakuan, hingga sirrku sampai di hadapan Allah swt. Dialah yang kucari! "

Allah berfirman kepada Musa, "Wahai Musa! Sesungguhnya orang yang menjumpaiKu pasti tidak akan kembali dariKu, dan tidak akan kembali kecuali dari Jalan (lurusKu). " Abul Abbas nin Atha 'ra, mengatakan, "Sementara akhirat muncul dalam diri hamba, dunia menjadi sirna di sisinya, sehingga sang hamba hanya menetap di negeri keabadian. Namun sementara sang hamba berada dalam penyaksian Allah Ta'ala, segala hal selain Allah Ta'ala sirna, dan hamba abadi bersama Allah. " Ada lelaki di hadapan Abu Yazid ra, berkata, "Ada informasi sampai kepadaku bahwa engkau punya Ismul A ' dzom, sangat senang jika engkau mengajariku. "Abu Yazid menjawab," Nama Allah itu tidak terbatas. Namun kosongkan hatimu hanya untuk KemahaesaanNya, meninggalkan berpaling pada selain Allah Ta'ala. Jika Anda bisa demikian, raihlah Ism (Nama) mana pun yang kau kehendaki, maka dengan Isim itu anda bisa pergi dari timur ke barat, dalam sekejap dan Anda telah kembali. "

Dzun Nun al-Mishry ra, mengatakan, "Ketika aku naik haji , tiba-tiba ada anak muda mengatakan: "Oh Tuhanku, aku telah mengumpulkan tebusanmu, dan engkau Maha Tahu, lalu apa yang Engkau berlakukan pada mereka?" Lalu kudengar suara: "TebusanKu banyak, dan yang mencariku sedikit."

Sebagian Sufi ditanya, "Seberapakah antara Allah dan hamba-Nya?" "Empat langkah saja: Satu langkah meninggalkan dunia; satu langkah meninggalkan makhluk; satu langkah meninggalkan nafsu; dan satu langkah meninggalkan akhirat, maka sang hamba sudah dihadapan Allah swt." Jawabnya. sARry ra berkata, "Siapa yang bangkit untuk taat kepada Allah Ta'ala tanpa ada yang lain, Allah akan memberi minuman dari cairan cinta dariNya, dan dikirim menuju tempat yang benar. "

Sayyidina Ali Karromallahu Wajhah mengatakan," Orang arif sementara keluar dari dunia tak ada sopir maupun penyaksi di hari kiamat, tidak ada Malaikat Ridlwan di surga, juga tidak ada Malaikat Malik di neraka. Beliau ditanya, "Lalu dimana sang arif di jumpai?" "Di hadapan Allah Yang Maha Diraja, ditempat yang benar. Ketika mereka bangkit dari kuburnya mereka tidak bertanya-tanya, "Mana keluarga dan anakku? Mana Jibril dan Mikail? Mana surga dan pahala?" Namun justru berkata," Manakah Kekasihku dan kemesraan hatiku? " Qalbu kaum arifin punya mata yang memandang apa yang tak biasa dipandang manusia. Sedangkan lisannya berkata dengan rahasia batinnya munajat dari malaikat-malaikat mulia di sisiNya yang mencatat Sayap-sayap yang terbang tanpa bulu Hinggap di sisi Rabbul 'alamin. Lalu bagai gembalaan di taman suci menari Dan meminum dari lautan para RasulNya Para hamba yang menuju kepadaNya Hingga mendekat, sampai bertemu denganNya.
PAPARAN TASAWWUF DALAM AL QUR'AN: qalb
4 Jenis Qalb:

Qalb itu ada empat macam: qalb yang bersih, padanya pelita yang bersinar gemilang. Maka itulah qalb Al-Mu'min. Qalb yang hitam terbalik, maka itulah qalb Al-Kafir. Qalb terbungkus yang terikat dengan bungkusnya, maka itulah qalb Al-Munafiq. Dan qalb yang melintang, padanya keimanan dan dan ke-nifaq-an. 1
Mengapa Qalb yang Bersih Diperlukan?

Orang bertanya kepada Rasulullah saw, "Wahai Rasulullah! Di manakah Allah? Di bumi atau di langit? "Rasulullah saw menjawab," Allah Ta'ala berfirman, 'Tidak termuat Aku oleh bumi-Ku dan langit-langit-Ku, dan termuat Aku oleh qalb hamba-Ku yang mu'min, yang lemah-lembut, yang tenang-tenang. '"2

Beberapa Karakteristik Qalb Ideal

Ali kw berkata, "Sesungguhnya Allah Ta'ala memiliki wadah di bumi-Nya, yaitu qalb. Maka qalb yang paling dicintai oleh Allah Ta'ala adalah yang paling kuat, yang paling bersih, dan yang paling lembut. Kemudian Ali kw menafsirkannya dengan mengatakan, "Paling kuatnya qalb itu tentang Agama, paling bersihnya itu tentang keyakinan, dan paling lembut kepada saudara-saudara. 3

Peringkat Manusia Tergantung Kualitas Qalb-nya

Apabila diinginkan oleh Allah kebajikan pada seorang hamba, niscaya dijadikan-Nya baginya Penasehat dari qalb-nya. 4
Barangsiapa memiliki Penasehat dari qalb-nya, niscaya ada penjaga dari Allah kepadanya. 5

Jikalau tidaklah setan-setan itu mengelilingi qalb Bani Adam, niscaya mereka itu melihat ke alam malakut. 6

... dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara al-Mar'i seseorang dengan qalb-nya, dan sesungguhnya kepada-Nya lah kalian akan dikumpulkan. 7

Orang bertanya kepada Rasulullah saw, "Wahai Rasulullah! Siapakah manusia yang paling baik? "Rasulullah saw menjawab," Setiap mu'min yang qalb-nya 'makhmum' ". Lalu orang itu bertanya pula, "Apakah qalb yang 'makhmum' itu?" Rasulullah saw menjawab, "Orang yang takwa, hatinya bersih, tak ada padanya penipuan, kedurhakaan, pengkhianatan, kedengkian, dan hasad." 8

Dosa Itu Mengotori Qalb

Sementara dosa itu telah bertindih-lapis, niscaya tercapkanlah di atas qalb. Dan pada saat itu, butalah qalb dari mengetahui kebenaran dan kebaikan Agama. Dan mempermudah urusan akhirat. Dan membesarkan urusan dunia. Dan jadilah cita-citanya terbatas pada dunia. Maka ketika pendengarannya diketuk dengan urusan akhirat dan bahaya-bahaya yang ada di akhirat, niscaya masuk dari satu telinga dan keluar dari telinga yang satu lagi. Tidak menetap di dalam qalb dan tidak memindahkannya ke taubat dan memperoleh yang telah hilang. Merekalah orang-orang yang telah putus asa dari akhirat, sebagaimana putus asanya orang-orang kafir yang di dalam kubur. 9

Barangsiapa mengerjakan dosa, niscaya ia diceraikan oleh 'aql yang tidak akan kembali lagi kepadanya untuk selama-lamanya. 10

Dan tidaklah yang mendustakan hal itu (Yawm ad-Din) melainkan orang-orang yang melampaui batas lagi berdosa ... sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup qulub mereka. 11

Dan di antara manusia ada yang mengatakan, "Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir." Padahal mereka itu bukan orang-orang yang mu'min. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri mereka sendiri sedang mereka tidak menyadari. Dalam qulub mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya, dan bagi mereka azab yang pedih disebabkan mereka berdusta. 12

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka memiliki qalb (tapi) tidak memahami dengannya, mereka memiliki mata (tetapi) tidak melihat dengannya, dan mereka memiliki telinga (tetapi) tidak mendengar dengannya. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih tersesat. Mereka itulah orang-orang lalai (Al-GHAFILUN). 13

Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan menemui Kami, mereka ridha dengan kehidupan dunia dan sudah merasa tenteram dengannya dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami. 14

Mereka hanya mengetahui yang dzahir saja dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang akhirat adalah lalai (GHAFILUN). 15

Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai (hubb) kehidupan dunia melebihi akhirat. Dan bahwasanya Allah tidak menunjuki kaum kafir (al-qawm al-kafirin). Mereka itulah orang-orang yang qalb, pendengaran, dan penglihatan mereka telah dikunci mati oleh Allah. Mereka itulah orang-orang yang lalai (al-GHAFILUN). 16

Pernahkah engkau melihat orang yang mengambil hawa nafsunya sebagai sesembahannya (ilah) dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan 'Ilm-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan qalb-nya, dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah? Maka mengapa kalian tidak mengambil pelajaran? 17

Dan Kami jadikan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. 18

Allah telah mengunci mati qulub dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka azab yang berat. 19

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kedzaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk (Muhtadun). 20

Maka apakah mereka tidak berjalan di bumi, lalu mereka memiliki qulub yang ber-'aql dengannya, atau memiliki telinga yang mendengar? Maka sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, akan tetapi yang buta (adalah) qulub yang di dalam shudur. 21

Orang-orang Arab Badui berkata, "Kami telah beriman." Katakanlah, "Kalian belum beriman, tetapi katakanlah 'Kami telah berserah diri', karena iman itu belum masuk ke dalam qulub kalian, dan jika kalian taat kepada Allah dan Rasul -Nya, Dia tidak akan mengurangi (pahala) amal-amal kalian sedikitpun. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. "22

Tanda-tanda

Tatkala Rasulullah saw membaca firman Allah Ta'ala:
"Barangsiapa dikehendaki Allah memberi petunjuk, niscaya dibuka-Nya shudur orang itu untuk berserah diri ..." 23

Lalu orang bertanya kepada Nabi saw, "Apakah pembukaan itu?"
Nabi saw menjawab , "Sesungguhnya cahaya (nuur) itu bila berada dalam qalb, maka terbukalah dada (shudur) menerima nuur tersebut dengan seluas-luasnya."
Berkata lagi orang itu, "Apakah tanda-tandanya?"

Nabi saw menjawab, "Ya, ada! Mengasingkan diri dari negeri tipu daya, kembali ke negeri tetap dan siap untuk mati sebelum datangnya mati. "24

Maka apakah orang-orang yang dibuka Allah shudur-nya untuk berserah diri lalu ia mendapat nur dari Rabb-nya (sama dengan orang yang membatu hatinya ?) Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu qalb-nya untuk dzikril'lah (mengingat Allah). Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. 25

... dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang dzalim (Adz-dzalimun). 26

Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun (al-Ghaffar) bagi orang-orang yang taubat, beriman, beramal shalih, kemudian tetap pada petunjuk. 27

CATATAN
1. Hadist Nabi saw
2. Hadist Nabi saw
3. Imam al-Ghazali, Ihya 'Ulumiddin jilid IV hal. 25
4. Hadist Nabi saw
5. Hadist Nabi saw
6. Hadist Nabi saw
7. QS Al-Anfal [8]: 24
8. Hadist Nabi saw
9. Imam al-Ghazali, Ihya 'Ulumiddin jilid IV hal. 31
10. Hadist Nabi saw
11. QS Al-Muthaffifiin [83]: 12, 14
12. QS Al-Baqarah [2] :8-10
13. QS Al-A'raf [7]: 179
14. QS Yunus [10]: 7
15. QS Ar-Ruum [30]: 7
16. QS An-Nahl [16]: 107-108
17. QS Al-Jaatsiyah [45]: 23
18. QS Yaasiin [36]: 9
19. QS Al-Baqarah [2]: 7
20. QS Al-An'am [6]: 82
21. QS Al-Hajj [22]: 46
22. QS Al-Hujurat [49]: 11
23. QS Al-An'am [6]: 125
24. Hadits Nabi saw
25. QS Az-Zumar [39]: 22
26. QS Al-Hujurat [49]: 11
27. QS Thaahaa [20]: 82