Kata al-nafs dalam konteks ini adalah nyawa atau nafas yang keluar masuk dari tubuh manusia dan memakan waktu yang tertentu.Sehubungan ini setiap napas yang dihela senantiasa terikat dengan qadar atau ketentuan Allah.Sememangnya ketentuan atau qadar Allah terlaksana dengan qudrat dan iradat Allah Yang Maha Bijaksana.Apa yang terjadi sebenarnya telah ditetapkan sejak azali dan semuanya berada dalam ilmu Allah Yang Maha lagi Maha Luas.
Butuh diinsafi bahwa ketetapan dan takdir Allah SWT atas segala makhluk terbagi menjadi dua bentuk:
i Segala yang dibuat oleh Allah adalah berada di bawah ketentuan Allah secara langsung tanpa ada usaha dan ikhtiar atau pilihan makhluk ( مسير / musayyar ) misalnya peredaran bumi, bulan, matahari dan segala planet adalah ketentuan Allah yang mutlak.
ii Ada juga ketentuan Allah yang memberi kesempatan kepada hamba-Nya untuk berusaha dan berikhtiar seperti semua perbuatan yang mengandung niat dan tujuan tertentu.Laku perbuatan seperti ini memiliki nilai baik buruk, pahala dosa, mulia hina, indah dan jelek.
Beriman kepada qadha `dan qadar Allah adalah salah satu rukun dan prinsip keimanan dalam Islam.Keterangan dari Ali Kr.W. ketika menjawab pertanyaan mengenai qadha `dan qadar Allah adalah sebagaimana berikut:
i Ketika Allah menjadikan Anda, apakah Dia menciptakan Anda menurut kehendakNya atau dari diri Anda?
ii Apakah Allah menghidupkan Anda menurut kehendakNya atau kehendak Anda?
iii Apakah Allah mematikan Anda menurut kehendakNya atau kehendak Anda?
iv Setelah itu Anda diperhitungkan, apakah perhitungan Allah itu menurut kehendakNya atau kehendak Anda?
Qadar Allah yang terlaksana atas setiap nafas yang dihela harus diterima dengan penuh kehambaan dan ketaatan.Tidak kira hembusan nafas itu bersifat kurniaanNya atau sebaliknya.Bersifat melapangkan atau mempersempit, bersifat mengadakan atau meniadakan.Tidak bisa disangkal lagi qadar Allah atas setiap nafas yang dihembuskan atau nafas yang ditarik semuanya dalam ketetapan apakah kita rela atau sebaliknya.Firman Allah:
Artinya: Apakah sesudah itu mereka mencari yang lain dari peraturan Allah? Padahal kepada tunduk taat siapa yang ada di langit dan di bumi, baik dengan sukarela atau pun terpaksa , dan kepada mereka dikembalikan. (Al-Quran, Surat Ali 'Imran ayat 83)
al-Quran, surah al-An'am ayat 59-60, firmanNya "Dan pada sisi Allah-lah kunci perbendaharaan segala yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia saja, dan Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut; dan tidak gugur sehelai daun pun melainkan Dia mengetahuinya, dan tidak jatuh sebuah sereal pun dalam kegelapan bumi dan tidak berguguran yang basah maupun yang kering melainkan semuanya ada tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh) yang terang nyata. Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam, dan mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu dari tidur, untuk disempurnakan ajal kamu yang telah ditetapkan. Kemudian kepada kamu akan kembali, kemudian Dia menyatakan kepada kamu apa yang telah kamu lakukan."
Di dunia luar lingkup diri, itu yang ada adalah kecewa, sedih, luka, perih, duka, keluh, dan berbagai beban duka lara hidup, karena dunia ini diciptakan adalah tempat tumplek bleknya kekecewaan.
Mengurai kesabaran sampai pada titik nadir...kehendak ALLOH bagai libatan tali temali, dan ridho pada ketentuan itu tiada kenal keluh kesah....jalani saja apa yang seharusnya dijalani, tak ada yang tak indah jika kita yakin akan kebijakanNya meletakkan aturan.
Sebagaimana air itu dipisah dengan keruh, baru bisa didapat banyak manfaatnya, sekalipun lalu dihitamkan ketika dibuat kopi, atau dicoklatkan ketika dibuat teh. sebagai mana kau harus dipisah dari keluarga, agar hati rindu dan terluka, lalu diendapkan bersama sepi, dan sampai aroma kesabaran memenuhi udara, sekalipun kau harus berdoa meminta dipertemukan dengan keluarga, inti hidup itu bukan hasil yang dicapai, tapi ketika kau amat mengerti sepanjang perjalanan itu banyak hikmahnya yang telah kau petik di keranjang hati, untuk kau jadikan bekal tatkala mati.
Mencebur kelautan api ribuan kali sungguh mudah mengatakannya, bahkan mengatakan jutaan milyar kali pun, kau tak AKAN terbakar, tapi cobalah sekali saja nyebur ke lautan api, pasti kau AKAN matang.
Dari manapun jalan yang kita lalui, dan dari titik manapun kita bermula, bisa saja kita dipertemukan di satu titik yang sama sekali tak kita sangka, asal keikhlasan itu menjadi dasar, di manapun kita dipertemukan itu kita bisa menjadi saudara, saudara dunia dan akherat.
Dari tahun 2010, saya sama sekali tidak bekerja apapun, artinya saya pengangguran, tapi sebelumnya saya sendiri kalau ada bangun majlis atau pesantren, jika saya punya pasti saya tumplek semua, untuk pembangunan majlis, pernah punya sapi beberapa juga saya jual untuk membangun majlis, karena saya yakin AKAN tanggungan ALLOH, jadi sejak tahun 2010, saya malah tidak punya pekerjaan sama sekali, tapi malah bukannya kemiskinan yang saya rasakan, tiap hari ada saja orang yang memberikan uang, di hari hari pertama paling sehari dapat uang diberi orang yang datang ke rumah, paling 200 ribu, di bulan berikutnya mungkin meningkat sudah jutaan dalam sehari, karena pengalaman itu saya makin semangat membangun majlis, dan makin semangat menuang semua yang saya miliki untuk keperluan majlis dan santri.... PENGALAMAN yang saya rasakan ini saya ingin orang lain juga merasakan, kalau Alqur'an itu benar, dan kita bisa membuktikan kebenarannya dengan real, nyata...dari membuktikan itulah timbul keyakinan kita, terimakasih juga pada teman teman internet yang sudah ikut mentransfer dana, juga yang telah datang langsung ke tempat pembangunan dengan ikut menyumbang tenaga....nanti APA yang saya katakan silahkan di buktikan sendiri. tiap bulannya.....keajaiban keajaiban ALLOH....memberikan bukti nyata.
Allah berfirman :
 ﻟَﻦ ﺗَﻨَﺎﻟُﻮﺍْ ﺍﻟْﺒِﺮَّ ﺣَﺘَّﻰ ﺗُﻨﻔِﻘُﻮﺍْ ﻣِﻤَّﺎ ﺗُﺤِﺒُّﻮﻥَ ﻭَﻣَﺎ ﺗُﻨﻔِﻘُﻮﺍْ ﻣِﻦ ﺷَﻲْﺀٍ ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟﻠّﻪَ ﺑِﻪِ ﻋَﻠِﻴﻢٌ “
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya “ ( Al Baqarah : 93 ) 

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari ayat di atas, diantaranya adalah : 

(1) TEORI KEKEKALAN ENERGI 

Pada ayat di atas, Allah swt meletakkan suatu kaidah yang sangat penting sekali di dalam kehidupan manusia. Kaidah tersebut adalah “ bahwa manusia ini tidak akan mendapatkan kebahagian dan keberhasilan di dalam kehidupannya baik sewaktu di dunia ini maupun di akherat nanti, kecuali jika ia mau mengorbankan apa yang dicintainya demi kehidupan manusia itu sendiri.“ Hal itu sangat terlihat jelas pada ayat di atas. Kita dapatkan di dalamnya, bahwa Allah swt memberikan syarat bagi setiap manusia yang ingin mendapatkan kebaikan -dan tentunya keberhasilan – untuk terlebih dahulu memberikan kepada orang lain sesuatu yang dicintainya, yang kemudian kita kenal dengan istilah infak dan sedekah. Infak dan sedekah ini benar-benar mempunyai pengaruh yang sangat signifikan atau bahkan sangat dahsyat di dalam kehidupan manusia ini. Tidak ada seorang-pun di dunia yang berhasil dalam bidang apapun juga, kecuali dia telah mengorbankan apa yang dicintainya demi mencapai sebuah cita-cita yang diidam-idamkannya. Teori atau kaidah yang diletakkan Allah tersebut, pada akhir-akhir ini ternyata mendapatkan sambutan yang begitu hebat dari kalangan para pakar psikologi dan orang-orang yang bergelut di dalam management dan pengolahan SDM (Sumber Daya Manusia). 

Mereka menyebut kaidah ini dengan « Teori Kekekalan Energi « . Mereka percaya bahwa energi atau amal perbuatan baik yang dikerjakan manusia tidak hilang dari alam ini, akan tetapi berubah bentuk [1]. Lihat umpamanya apa yang dinyatakan oleh John F. Kennedy ( 1961 ) : “Apabila suatu masyarakat-bebas tidak dapat membantu banyak orang yang miskin, masyarakat tersebut akan gagal menyelamatkan sedikit orang kaya“ [2] Perkembangan tersebut semakin membuktikan akan kebenaran Al Qur’an ini dan bahwa Al Qur’an ini adalah solusi alternatif di dalam mengentas problematika-problematika kehidupan manusia. 
Perjuangan belum di mulai, baju zirah juga BARU dipakai. kancing kancing disematkan. dan semangat di kumpulkan di dalam dada. yang bercerai berai harusnya berpadu. perang melawan nafsu dan ego mementingkan diri sendiri memang berat. musuh kita adalah rasa kebermilikan pada pribadi, tak heran banyak orang yang binasa di jalan, bahkan sebelum petang dimulai, anak istri yang ditinggalkan seperti kabut di kepala. nyatanya manusia suka pada kesenangan tapi tak suka pada duka lara. sehingga cerita NABI yang di gua hiro' paling banyak tak disebut kisahnya.
ALLOH itu telah membuat filter keikhlasan dengan langit lapis 7, bukan hanya itu, keikhlasan itu kemudian AKAN dibuka ke mata manusia, siapa yang ikhlas AKAN terlihat, dan sungguh sia sia menipu ALLOH, sebab ALLOH maha mengetahui isi hati siapa saja.
Majlis pekalongan BARU ditinggal beberapa hari, murid kok pada rebutan kehormatan, selama di hati itu ada rasa ingin dihormati orang lain, maka selamanya orang itu tidak AKAN bisa menjadi panutan dan tuntunan bagi orang lain.
Salah satu yang membuat hati gundah dan risau adalah buruk sangka, orang yang berburuk sangka pada semua orang yang ditemuinya dia sangka AKAN membunuhnya, lama lama dia. AKAN membuat pakaian besi dan kemana mana pergi AKAN pergi dengan pakaian perang besinya, karena prasangkanya yang membuat sempit ruang geraknya sendiri.
Satu piring nasi, melewati tenggorokan, itu AKAN bermanfaat pada dirimu, tapi satu saja paku berkarat yang nyangkut di tenggorokanmu maka sungguh AKAN membahayakan bagimu,
Seribu teman yang mengarah kebaikan, itu sangat bermanfaat untukmu, tapi satu saja teman mengarah pada kejahatan, bisa jadi AKAN menjadikan kesengsaraan seumur hidupmu, tak butuh ribuan tetes racun untuk merusakkan susu sebelanga, cukup setetep racun mematikan maka AKAN membahayakan siapa saja yang meminum susu itu.
Jika tidak mampu menutup lubang, lebih baik menghindar agar tidak terperosok di dalamnya.
Jika tidak bisa membuatnya menjadi baik, berarti ALLOH tak menghendakinya menjadi baik, sebelum mempengaruhimu menjadi buruk, sebaiknya hindari, teman itu ibarat siang dan malam, kalau tak membuatmu menjadi baik, maka AKAN membuatmu menjadi buruk, kalau kamu tidak bisa mengajaknya pada kebaikan atau kamu diajak pada kebaikan, maka kau AKAN mengajaknya dalam keburukan atau dia mengajakmu dalam keburukan,

Keburukan itu tak mesti suatu kejahatan dalam lahiriyahnya, tapi menyia nyiakan waktumu dalam kesia siaan itu adalah keburukan, sekalipun bukan kejahatan, kaburukan itu adalah sesuatu yang merugikanmu, jika kau menyia nyiakan waktumu maka kau AKAN merugi, sebab kau tak kekal, AKAN mati, dan jika amalmu lebih sedikit dari ibadahmu, maka kau tandanya merugi dalam perjalanan dunia, seperti pedagang yang tak balik modal ketika berdagang..
Orang yang punya akal, dan punya sanyo pompa air tentu dan mengharap air dari sanyonya mengalir dengan lancar, sehingga pasokan airnya AKAN selalu terjaga, dia AKAN mati matian untuk menjaga paralonnya tak bocor, agar air itu keluar, bahkan bocor selubang lidi sekalipun AKAN di upayakan tak ada sebab AKAN mengganggu air tak bisa mengalir, sama juga orang yang ingin pasokan ilmu pengetahuan tentu AKAN menjaga pasokan ilmu, dia AKAN mengupayakan hal hal yang menyebabkan ilmu itu terhalang sampai kepada dirinya. AKAN di usahakan hilang sama sekali, sehingga dia bisa menerima kucuran ilmu dengan sepenuh kucuran.
Kegagalan paling fatal itu karena banyaknya yang diangan-angankannya tapi tak satupun yang di realisasikannya.
Banyak sekali orang yang bercita cita tapi terlalu banyak alasan untuk yang menggagalkannya.
Kau mengangkat sekarung beras, karena kau kuat untuk mengangkatnya, itu hal yang biasa.
Yang luar biasa itu kau kuat mengangkat karung beras, sementara banyak orang menyangkamu sama sekali tak AKAN kuat mengangkatnya.
Sekedar cerita, dulu majlis dzikir Banten yang pertama sekitar tahun 1999, pendana pembangunannya adalah kakak iparku, waktu itu dia masih agak miskin, ya naiknya juga mobil soluna, dan motornya motor bebek tua, aku masih ingat dia punya perusahaan PJTKI pengiriman tenaga kerja ke luar negeri, tapi tempat usahanya masih kontrak, dan punya kantor yang kecil sekali, saat itu saya belum jadi adik iparnya, karena dia sering melihatku di Banten yang sebagai penulis kaligrafi majlis, maka saya ditawari nikah sama adiknya, tapi waktu itu saya tidak mau, yang pernah membaca kisah yang kyai, pasti tau kisah itu, tapi yang saya mau ceritakan bukan masalah itu, tapi tentang usaha kakak saya setelah membangun majlis itu, usaha kakak saya itu maju pesat sekali, dalam jangka setahun, dia sudah punya penampungan yang luas di Jakarta, dan sehari bisa mengirimkan 400 tenaga kerja, bukan hanya itu dia juga punya banyak usaha kontraktor, yang beromset milyaran, belum lagi beberapa swalayan, sampai-sampai semua karyawannya dibelikan mobil mewah semua, saya masih tak berfikir kalau usaha kakakku yang meningkat pesat itu karena dia membangunkan majlis dzikir, bahkan usahanya makin pesat terus, APA yang dipegang orang lain belum tentu sukses jadi uang, kalau dipegang kakakku itu, anehnya langsung jadi bentuk usaha yang sukses, misal beli tanah yang cuma seharga 100 juta, sebulan kemudian sudah ditawar orang seharga 500 juta, saya saja sampai heran setengah mati...., sampai majlis yang dibangun kakakku itu roboh, ambruk, dan tidak dipakai lagi, sekarang tinggal bekasnya berupa bangunan yang tinggal tembok di Cipacung, dan saat bangunan itu roboh, anehnya juga usaha kakakku berhenti total, yang PJTKI nya sekarang tutup, juga usaha kontraktornya. Semua berhenti, saya heran banget...kenapa semua berhenti dalam waktu bersamaan? ternyata karena majlis yang dia bangun telah roboh.
APA APA yang melekat di pikiranmu hatimu selainNya itu akan selalu menjadi batas dan rentangan jarak, anak-anak kecil yang lucu, istri yang cantik siap selalu menghangatkanmu saat kau kedinginan, kedudukan, kebanggaan ketika dihormati dan dimulyakan, semua AKAN menjadi rentangan jarak dan tembok yang tebal, itu harus dijauhkan jaraknya agar kau dekat denganNYA.
Sebelum Alloh memutus dan memisahkan apa yang kita cintai, kita harus sanggup meninggalkan yang kita cintai selain Alloh, agar dekat dengan Alloh, itulah zuhud.
Jika kau menunjukkan amaliyahmu dengan nyata, maka Alloh pun AKAN menunjukkan balasan pahala dengan nyata, dan jika kau melakukan amaliyahmu dengan sembunyi, maka Alloh juga AKAN menunjukkan balasan pahala dengan sembunyi.
Manusia dalam hidupnya selalu membutuhkan ilmu. Karena hal itu sudah menjadi fitrah manusia sejak manusia diciptakan, untuk selalu mengejar apa yang belum dia ketahui. Namun, manusia hanya memiliki sedikit umur dan terbatasnya jangkauan alam pikirannya.
Allah sudah memberitahu kita tentang hal ini dalam Al -qur'an yakni:
"Aku tidak menganugerahi kalian ilmu kecuali hanya sedikit."

Dalam Cerita abu nawas yang pernah saya baca, ada cerita seperti ini:
Abu nawas pernah mengajukan pertanyaan begini: "menurut kalian bintang itu kecil apa besar?"
Ada yang menjawab kecil dan ada juga yang menjawab besar. Kemudian mereka yang menjawab diminta untuk memberi alasan masing-masing pada jawaban mereka. apa kira-kira alasan mereka? mungkin teman-teman sudah pada banyak yang tahu. Jadi, langsung saja apa penjelasan abu nawas tentang hal ini? berikut penjelasanya:

"Ilmu itu ada 3 tingkatan, yang kesemuanya terkandung dalam pertanyaan di atas. yaitu;

  1. Ilmu pandangan (bisa juga disebut Ilmu indrawi). Orang yang masih dalam tingkatan ini, akan menjawab bahwa bintang itu kecil. Alasanya, karena apa yang dia lihat adalah kecil. Kebanyakan dari anak-anak akan menjawab seperti itu. Karena mereka baru mengetahuinya lewat pandangan mata.
  2. Ilmu Logika. Orang yang berada pada tingkatan ini Akan menjawab: bintang itu besar. Karena logikanya bintang itu letaknya jauh dari bumi, makanya terlihat kecil, padahal sebenarnya bintang itu besar.
  3. Ilmu hati. Orang yang sudah pada tingkatan ini akan menjawab: bintang itu kecil, meskipun ia tau secara logika bintang itu besar. Mengapa mereka menjawab begitu? karena untuk mereka tidak ada sesuatu yang besar bila dibandingkan dengan kebesaran Allah."

Nah, masing-masing dari ketiga kelompok yang ada dalam cerita di atas sama-sama yakin dengan jawaban/pendapat mereka. Oleh karena itu, keyakinan terbagi menjadi 3 tingkatan: Ilmul yaqin, Ainul yaqin, dan haqqul yaqin .
Ketiga istilah tersebut terdapat dalam Al-qur'an. Dua di antaranya terdapat pada Al-qur'an Surah 102 At-Takatsur (ayat 5 dan 7), dan terakhir ada pada surat 56 Al-Waqi'ah.

‎77 CABANG IMAN

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda,

“Iman itu memiliki tujuh puluh cabang (riwayat lain tujuh puluh tujuh cabang) dan yang paling utama ialah Laa ilaaha illa Allah, dan yang terendah ialah membuang duri dari jalan. Dan malu juga merupakan salah satu cabang iman.” (Ashhabus Sittah).

Banyak ahli hadits yang menulis risalah mengenai cabang iman di antaranya ialah : Abu Abdillah Halimi rah a dalam Fawaidul Minhaj, Imam Baihaqi rah a dalam Syu’bul Iman, Syaikh Abdul Jalil rah a dalam Syu’bul Iman, Ishaq bin Qurthubi rah a dalam An Nashaih, dan Imam Abu Hatim rah a dalam Washful Iman wa Syu’buhu.

Para pensyarah kitab Bukhari rah a menjelaskan serta mengumpulkan ringkasan masalah ini dalam kitab-kitab tersebut. Walhasil pada hakikatnya iman yang sempurna itu mempunyai 3 (tiga) bagian :
Tashdiq bil Qalbi, yaitu meyakini dengan hati,
Iqrar bil Lisan, mengucapkan dengan lisan, dan
Amal bil Arkan, mengamalkan dengan anggota badan.

Cabang iman terbagi lagi menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu yang berhubungan dengan :
  1. Niat, aqidah, dan amalan hati;
  2. Lidah; dan
  3. Seluruh anggota tubuh.


1. Yang Berhubungan dengan Niat, Aqidah, dan Hati

1) Beriman kepada Allah, kepada Dzat-Nya, dan segala sifat-Nya, meyakini bahwa Allah adalah Maha Suci, Esa, dan tiada bandingan serta perumpamaannya.
2) Selain Allah semuanya adalah ciptaan-Nya. Dialah yang Esa.
3) Beriman kepada para malaikat.
4) Beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan Allah kepada para Rasul-Nya.
5) Beriman kepada para Rasul.
6) Beriman kepada takdir yang baik maupun buruk, bahwa semua itu datang dari Allah.
7) Beriman kepada hari Kiamat, termasuk siksa dan pertanyaan di dalam kubur, kehidupan setelah mati, hisab, penimbangan amal, dan menyeberangi shirat.
8) Meyakini akan adanya Syurga dan Insya Allah semua mukmin akan memasukinya.
9) Meyakini neraka dan siksanya yang sangat pedih untuk selamanya.
10) Mencintai ALLAH
11) Mencintai karena Allah dan membenci karena Allah termasuk mencintai para sahabat, khususnya Muhajirin dan Anshar, juga keluarga Nabi Muhammad saw dan keturunannya.
12) Mencintai Rasulullah saw, termasuk siapa saja yang memuliakan beliau, bershalawat atasnya, dan mengikuti sunnahnya.
13) Ikhlash, tidak riya dalam beramal dan menjauhi nifaq.
14) Bertaubat, menyesali dosa-dosanya dalam hati disertai janji tidak akan mengulanginya lagi.
15) Takut kepada Allah.
16) Selalu mengharap Rahmat Allah.
17) Tidak berputus asa dari Rahmat Allah.
18) Syukur.
19) Menunaikan amanah.
20) Sabar.
21) Tawadhu dan menghormati yang lebih tua.
22) Kasih sayang, termasuk mencintai anak-anak kecil.
23) Menerima dan ridha dengan apa yang telah ditakdirkan.
24) Tawakkal.
25) Meninggalkan sifat takabbur dan membanggakan diri, termasuk menundukkan hawa nafsu.
26) Tidak dengki dan iri hati.
27) Rasa malu.
28) Tidak menjadi pemarah.
29) Tidak menipu, termasuk tidak berburuk sangka dan tidak merencanakan keburukan atau maker kepada siapapun.
30) Mengeluarkan segala cinta dunia dari hati, termasuk cinta harta dan pangkat.

2. Yang Berhubungan dengan Lidah

31) Membaca kalimat Thayyibah.
32) Membaca Al Quran yang suci.
33) Menuntut ilmu.
34) Mengajarkan ilmu.
35) Berdoa.
36) Dzikrullah, termasuk istighfar.
37) Menghindari bicara sia-sia.

3. Yang berhubungan dengan Anggota Tubuh

38) Bersuci. Termasuk kesucian badan, pakaian, dan tempat tinggal.
39) Menjaga shalat. Termasuk shalat fardhu, sunnah, dan qadha’.
40) Bersedekah. Termasuk zakat fitrah, zakat harta, memberi makan, memuliakan tamu, serta membebaskan hamba sahaya.
41) Berpuasa, wajib maupun sunnah.
42) Haji, fardhu maupun sunnah.
43) Beriktikaf, termasuk mencari lailatul qadar di dalamnya.
44) Menjaga agama dan meninggalkan rumah untuk berhijrah sementara waktu.
45) Menyempurnakan nazar.
46) Menyempurnakan sumpah.
47) Menyempurnakan kifarah.
48) Menutup aurat ketika shalat dan di luar shalat.
49) Berkorban hewan, termasuk memperhatikan hewan korban yang akan disembelih dan menjaganya dengan baik.
50) Mengurus jenazah.
51) Menunaikan utang.
52) Meluruskan mu’amalah dan meninggalkan riba.
53) Bersaksi benar dan jujur, tidak menutupi kebenaran.
54) Menikah untuk menghindari perbuatan keji dan haram.
55) Menunaikan hak keluarga dan sanak kerabat, serta menunaikan hak hamba sahaya.
56) Berbakti dan menunaikan hak orang tua.
57) Mendidikan anak-anak dengan tarbiyah yang baik.
58) Menjaga silaturrahmi.
59) Taat kepada orang tua atau yang dituakan dalam agama.
60) Menegakkan pemerintahan yang adil
61) Mendukung jemaah yang bergerak di dalam kebenaran.
62) Mentaati hakim (pemerintah) dengan syarat tidak melanggar syariat.
63) Memperbaiki mu’amalah dengan sesama.
64) Membantu orang lain dalam kebaikan.
65) Amar makruh Nahi Mungkar.
66) Menegakkan hukum Islam.
67) Berjihad, termasuk menjaga perbatasan.
68) Menunaikan amanah, termasuk mengeluarkan 1/5 harta rampasan perang.
69) Memberi dan membayar utang.
70) Memberikan hak tetangga dan memuliakannya.
71) Mencari harta dengan cara yang halal.
72) Menyumbangkan harta pada tempatnya, termasuk menghindari sifat boros dan kikir.
73) Memberi dan menjawab salam.
74) Mendoakan orang yang bersin.
75) Menghindari perbuatan yang merugikan dan menyusahkan orang lain.
76) Menghindari permainan dan senda gurau.
77) Menjauhkan benda-benda yang mengganggu di jalan.
Sebetulnya apa tuntutan dan permintaan adalah gejala penyebab ( ma'lul ) dan bersifat pencetus ( madkhul ) semata-mata bukan sesuatu yang mutlak dan hakiki. Pelaksanaannya haruslah dalam rangka 'ubudiyah (perbudakan kita kepada Allah) dan memang menjadi haq rububiyah Nya. Sebagaimana firman Allah SWT:
Artinya : Dan Tuhanmu berfirman:

"Berdo'alah kepada-Ku niscaya Aku akan perkenankan permohonanmu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong dari melaksanakan ibadah kepada akan dimasukkan ke neraka jahannam dalam kondisi hina. (Surat Ghafir ayat 60)

Klaim Anda kepada Allah harus dalam rangka 'ubudiyah bukan pemaksaan karena Dia mengetahui sejak azali apa dituntut oleh Anda itu.
Jarak dan kedekatan Allah dengan hambaNya tidak sepatutnya menyebabkan seseorang hamba itu merayu dan merintih seolah-olah Allah itu jauh darinya, padahal Allah SWT berfirman:

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia, dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, sedang pengetahuan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya . (Surah Qaf ayat 16)

Pengharapan kepada yang lain dari Allah karena ketergantungan Anda kepada al-asbab mengatasi ketergantungan terhadap ketentuan Allah. Sifat malu kepada Allah adalah adab yang tertinggi bagi orang yang menjalani jalan Allah. Justeru itulah mafhum dari hadits Rasulullah SAW bahwa malu itu sebagian dari iman.

Ketergantungan kepada selain Allah ini membawa kepada syirik yang jail dan khafi akibat kesenjangan yang luas ada di antara hati seseorang yang berpenyakit. Perbuatan itu adalah sejahat-jahat adab dengan Allah
Jelas di sini bahwa munajat kita kepada Allah adalah tuntutan akhlak dan adab hamba dengan Khaliqnya. Doa itu sendiri adalah sarana bukan tujuan yang mutlak dan yang menjadi tempat pergantungan. Allah mengetahui apa yang kita hajatkan, tetapi kita berdoa karena perbuatan itu adalah perintahNya dan suatu metode untuk kita menghampirinya, Firman Allah SWT:

Katakanlah (Wahai Muhammad): "Panggillah nama Allah atau nama Ar-Rahman yang mana saja kamu serukan (dari kedua nama itu adalah baik belaka); karena Allah memiliki banyak nama-nama yang baik serta mulia. Dan janganlah engkau nyaringkan bacaan do'a atau sembahyangmu, juga janganlah engkau perlahankannya, dan gunakanlah hanya satu cara yang sederhana antara itu."

(Surah al-Isra `ayat 110)

PERMINTAAN DAN KEDUDUKAN KAMU DI SISI ALLAH

Perhatikan kecenderungan kita dalam mengajukan permintaan. Jika kita cenderung meminta dari lain-Nya, kita ajukan permintaan kepada sesama makhluk, itu tanda hati kita berpaling jauh dari Allah. Hati kita merasakan seolah-olah makhluk memiliki kekuatan penentu sehingga hati kita tidak dapat melihat ke kekuasaan Tuhan. Cermin hati kita tertutup oleh awan gelap yang berisi gambar-gambar benda alam, tuntutan syahwat, permainan hawa nafsu yang melalaikan dan tumpukan dosa yang tidak dibersihkan dengan taubat. Hati yang mengalami kondisi begini dinamakan nafsu ammarah.

Ammarah bukan saja menyerang orang jahil, orang alim dan rahib juga bisa menerima serangannya dan mungkin tewas kepadanya. Agar orang alim tidak terpedaya oleh ilmunya dan rahib tidak terpedaya oleh amalnya, perhatikan tempat jatuh permintaan. Jika warna-warni keduniaan seperti harta, pangkat dan kemuliaan yang menjadi tuntutannya dan kesungguhan usaha dan ikhtiarnya ditujukan semata-mata kepada manusia dan alat dalam mendapatkan kebutuhannya, itu menjadi tanda bahwa hatinya berpaling jauh dari Allah perbetulkan wajah hati agar ia menghadap kepada Allah Bila wajah hati menghadap ke Wajah Allah dapatlah mata hati melihat bahwa Allah saja yang berkuasa sementara makhluk hanyalah bekas tempat lahir efek kekuasaan-Nya.

Golongan kedua meminta kepada lain-Nya, yaitu meskipun dia memohon kepada Allah tetapi yang diminta adalah sesuatu selain Allah. Dia mungkin meminta agar Allah mengaruniakan kepadanya harta, pangkat dan kemuliaan di sisi makhluk. Permintaannya sama seperti kaum yang pertama cuma dia meminta kepada Allah tidak kepada makhluk. Orang yang dari golongan ini yang lebih baik sedikit adalah yang memohon kepada Allah agar dikaruniai manfaat akhirat seperti pahala, surga dan juga keberkahan. Permintaan yang berupa keuntungan duniawi dan ukhrawi menunjukkan sikap kurang malunya seseorang hamba itu terhadap Allah swt. Orang yang seperti ini hanya melihat kepada nikmat tetapi tidak mau mengenali Pemberi nikmat. Perhatikan pada diri kita, apakah kita asyik merenget meminta itu dan ini dari Allah. Jika sifat demikian ada pada kita, itu tandanya hati kita masih keras dan perlu dilembutkan dengan zikrullah dan amal ibadah agar lahirlah sifat malu terhadap Allah Yang Maha Lemah-lembut dan Maha Bersopan Santun.

Ada pula orang yang membuat permintaan kepada-Nya, yaitu meminta agar dia didekatkan kepada-Nya. Dia merasakan dirinya jauh dari Allah. Inilah orang yang mata hatinya tertutup, tidak dapat melihat bahwa Allah lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya sendiri, Allah selalu bersama-samanya walau di mana dia berada. Bagaimana melihat Allah lebih dekat dari urat leher dan Allah selalu bersama walau di mana kita berada, tidak dapat diuraikan. Ia bukanlah penglihatan mata tetapi penglihatan rasa atau penglihatan mata hati. Perhatikanlah, andainya kita cenderung meminta agar didekatkan kepada Allah itu tandanya mata hati kita masih kelabu, maka sucikanlah hati dengan shalat, berzikir dan ibadah-ibadah lainnya.

Kelompok keempat adalah yang mengajukan permintaan dari-Nya. Orang ini mengakui bahwa Allah saja yang memiliki segala-galanya. Hanya Allah yang berhak memberi apa yang dimiliki-Nya. Permintaan seperti ini menunjukkan kurang percayanya kepada Allah ar-Rahman, Yang Maha Pemurah dan al-Karim, Yang Memberi tanpa diminta. Bukankah ketika kita di dalam konten ibu kita belum pandai meminta tetapi Allah telah memberikan yang baik kepada kita. Allah yang telah memberi ketika kita belum pandai meminta itu jugalah Tuhan kita sekarang ini dan sifat murah-Nya yang sekarang ini seperti yang dahulu itu juga. Ketika kita belum pandai meminta kita mempercayai-Nya sepenuh hati mengapa pula bila kita sudah pandai meminta kita menjadi ragu-ragu terhadap kemurahan-Nya. Perhatikanlah, jika kita masih meminta-minta itu tandanya belum bulat penyerahan kita kepada-Nya. Penting bagi orang yang melatihkan dirinya untuk dipersiapkan menemui Tuhan membulatkan penyerahan kepada-Nya tanpa keraguan sedikit pun.

Kesempatan mengalami hakikat bukanlah akhir pencapaian. Seseorang harus mencapai makam keteguhan hati sebelum mencapai makam kewalian. Pada makam kewalian si hamba dikaruniai penjagaan dan perlindungan-Nya. Orang yang belum sampai kepada keteguhan hati tidak lepas dari mengajukan permintaan kepada Allah permintaannya bukan lagi berbentuk duniawi atau ukhrawi tetapi yang dimintanya adalah keteguhan hati, penjagaan dan perlindungan-Nya. Permintaan orang yang berada pada tingkat ini menunjukkan dia belum bebas sepenuhnya dari sifat-sifat kemanusiaan yaitu dia belum mencapai fana hakiki. Orang yang berada di tingkat ini harus berhati-hati dengan pencapaiannya. Janganlah terpedaya dengan perolehan makrifat karena makrifat itu juga merupakan tes.

Ketahuilah jika seseorang mendatangi Allah berbekalkan amal maka Allah menyambutnya dengan perhitungan. Jika amalnya diperiksa dengan teliti niscaya tidak ada satu pun yang layak dipersembahkan kepada Allah Jika dia mendatangi-Nya dengan ilmu pengetahuan maka Allah menyambutnya dengan tuntutan. Ilmunya tidak mampu menyatakan kebenaran yang hakiki. Jika dia mendatangi-Nya dengan makrifat maka Allah menyambutnya dengan argumen. Dia tidak akan dapat memperkenalkan Allah

Jadi singkirkan tuntutan dan pilihan agar Allah tidak membuat tuntutan kepada kita. Lepaskan ilmu kita, amal kita, makrifat kita, sifat kita, nama kita dan segala-galanya agar kita menemukan Allah seorang diri tanpa bekal. Jika mau mencapai kondisi ini ikhlaskan hati untuk semua amal perbuatan kita. Baikkan niat dan bersabar tanpa mengeluh atau membuat klaim. Kemudian naik ke reda dengan hukum-Nya. Insya 'Allah kita akan menemukan-Nya, yaitu pertemuan ubudiyah dengan rububiah.

Suasana yang disebutkan di atas telah digambarkan oleh Rasulullah saw dengan sabda beliau saw yang artinya: "Tidak ada amalan anak Adam yang melepaskan dirinya dari azab Allah melebihi praktek berzikir kepada Allah 'Azza wa Jalla". Beliau juga bersabda: "Berfirman Allah 'Azza wa Jalla:' Barangsiapa menghabiskan waktunya berzikir kepada-Ku, tanpa meminta kepada-Ku, niscaya Aku berikan kepadanya yang lebih utama dari apa yang Aku berikan kepada mereka yang meminta '"

Zikir yang sebenarnya adalah penyerahan secara menyeluruh kepada Allah dalam segala hal agama baik yang mengenai dunia maupun yang mengenai akhirat. Shalatnya, ibadatnya, hidupnya dan matinya hanya karena Allah semata. Dia shalat, beribadah dan melakukan sesuatu pekerjaan atau perbuatan karena mengabdikan diri kepada Allah swt. Jika Allah tidak menjadikan surga dan neraka, juga tidak mengadakan dosa dan pahala, maka shalatnya, ibadatnya, pekerjaannya dan perbuatannya tetap juga serupa. Mutu kerja yang dia menerima upah dan kerja yang dia tidak menerima upah adalah serupa. Hatinya tidak cenderung untuk memperhatikan upah karena apa saja yang dia lakukan adalah karena Allah. Hatinya bukan saja tidak memperhatikan upah dari manusia, bahkan ia juga tidak mengharapkan apa-apa balasan dari Allah. Kekuatan untuk mengingat Allah dan berserah diri kepada-Nya merupakan ' upah 'yang sangat besar, tidak perlu lagi menuntut upah yang lain.

Hamba yang dzikirnya sudah larut ke dalam penyerahan, segala urusan hidupnya dikelola oleh Tuhannya. Dia adalah umpama bayi yang baru lahir, selalu dipelihara, dijaga dan dilindungi oleh ibunya. Pemeliharaan, pengasuhan dan perlindungan Allah atas apa juga yang mampu dikeluarkan oleh makhluk. Hamba yang Allah SWT masukkan ke dalam daerah pemeliharaan, pengasuhan dan perlindungan-Nya itu disebut wali Allah, yaitu hamba yang dipelihara, dijaga dan dilindungi oleh Allah dari lupa kepada-Nya, mendurhakai-Nya, hilang ketergantungan kepada-Nya dan juga dari gangguan makhluk-Nya.

Pengertian Muhsinin

Al Qur'an adalah petunjuk bagi orang yang berbuat baik, Ihsan perbuatan atau tingakatannya, orangnya disebut Muhsin, kalau jamak muhsinin, Ihsan itu adalah kita menyembah kepada Allah seolah-olah kita melihatNya padahal kita tidak melihatNya.

Sifat-sifat Muhsinin

Pertama, muhsinin adalah orang yang menjadikan Qur'an itu sebagai hidayah. Artinya setiap perilakunya selalu sesuai dengan tuntunan Al Qur'an, dan seluruh waktunya penuh berinteraksi dengan Al Qur'an.
Allah menjadikan Al Qur'an ini sebagai obat / referensi untuk orang yang muhsinin,
Mereka itu orang-orang yang selalu berbuat baik dengan mengikuti syari'at.
Terkadang orang memahami syari'at itu sempit, potong tangan, rajam begitu pemahaman sebagian orang ketika syari'at itu akan ditegakan.
Padahal, adil, qanaah, zuhud, ikhlas, taqarub, dan akhlakul karimah yang lain juga syari'at.

TINGKATAN MUSLIM (Muhsinin) YANG IHSAN

Bagaimana agar kita mencapai tingkatan muslim yang Ihsan (muhsinin)
Sebuah hadits menguraikan sebagai berikut:
Pada suatu hari kami (Umar Ra dan para sahabat Ra) duduk-duduk bersama Rasulullah Saw.
Lalu muncul di hadapan kami seorang yang berpakaian putih. Rambutnya hitam sekali dan tidak tampak tanda-tanda bekas perjalanan. Tidak seorangpun dari kami yang mengenalnya. Dia langsung duduk menghadap Rasulullah Saw. Kedua kakinya menghempit kedua kaki Rasulullah, dari kedua telapak tangannya diletakkan di atas paha Rasulullah Saw, seraya berkata,
"Ya Muhammad, beritahu aku tentang Islam."
Rasulullah Saw menjawab, "Islam adalah bersyahadat bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan mengerjakan haji apabila mampu."
Kemudian dia bertanya lagi, "Kini beritahu aku tentang iman."

Rasulullah Saw menjawab, "Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan beriman kepada Qodar baik dan buruknya."
Orang itu lantas berkata, "Benar. Kini beritahu aku tentang ihsan. "
Rasulullah berkata, "Beribadah kepada Allah seolah-olah Anda melihat-Nya meskipun Anda tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihat Anda.
Dia bertanya lagi, "Beritahu aku tentang Assa'ah (azab kiamat)."
Rasulullah menjawab, "Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya." Kemudian dia bertanya lagi, "Beritahu aku tentang tanda-tandanya."
Rasulullah menjawab, "Seorang budak wanita melahirkan nyonya besarnya. Orang-orang tanpa sandal, setengah telanjang, melarat dan penggembala unta masing-masing berlomba membangun gedung-gedung bertingkat."Kemudian orang itu pergi menghilang dari pandangan mata.

Lalu Rasulullah Saw bertanya kepada Umar, "Hai Umar, tahukah kamu siapa orang yang bertanya tadi?" Lalu aku (Umar) menjawab, "Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui." Rasulullah Saw lantas berkata, " Itulah Jibril datang untuk mengajarkan agama kepada kalian . "(HR. Muslim)

Dari hadits di atas kita dapat memahami pokok ajaran dari Agama Islam yakni tentang Islam (rukun Islam), Iman (rukun Iman) dan Ihsan (seolah-olah melihatNya).
Dimanakah kita dapat kita pelajari atau kita dalami ke tiga pokok ajaran Agama Islam itu?
Islam (rukun Islam) bisa kita temukan dengan mendalami fiqh / hukum.
Kalo tidak memiliki kemampuan untuk berijtihad maka bolehlah kita mengikuti ulama yang berkompetensi / ahli atau dikenal sebagai Imam Mujtahid.

Jumhur ulama sepakat ada empat Imam Besar yang kita kenal. salah satunya adalah Imam Syafi'i.
Iman (rukum Iman) bisa kita temukan dengan mendalami ushuluddin atau tentang i'tiqad / akidah. Imam yang telah menggali dan merumuskan dari Al-Qur'an dan Hadist, juga disepekati oleh jumhur ulama, salah satunya adalah Imam Abu Hasan al Asy'ari dan Imam Mansur al Maturidi yang dikenal dan disepakati sebagai ulama Ahlussunah Wal Jam'ah yang kaumnya dinamai kaum Ahlussunnah atau kaum Sunni.

Ihsan (seolah-olah melihatNya) bisa kita temukan dengan mendalami tentang akhlak, tazkiyatun nafs, ma'rifatullah yang secara umumnya dinamai Tasawuf. Banyak ulama yang telah menguraikan atau menceritakan pengalaman mereka tentang Tasawuf, antara lain adalah Syaikh Ibnu Athoillah.
Ihsan adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti "kesempurnaan" atau "terbaik."
Sebagian muslim ternyata tidak pernah mencita-citakan untuk menjadi muslim yang terbaik, yakni yang mencapai tingkatan Ihsan (muhsin), seolah-olah melihatNya. Yang umumnya dan awamnya diketahui adalah Rukun Islam dan Rukun Iman semata.

Kenyataan yang ada, memang sebagian ulama hanya fokus pada fiqh dan ushuluddin saja.
Mereka jarang mendalami tentang Ihsan (seolah-olah melihatNya), bahkan sebagian menolak mendalami Tasawuf yang merupakan pendalaman tentang Ihsan, hanya semata-mata karena alergi dengan istilah Tasawuf. Menurut mereka, tasawuf adalah mistik, khurafat, tahakyul, kolot, tidak modern atau tidak dapat mengikuti zaman.

Inilah yang kami sedihkan melihat kenyataan bahwa dalam zaman modern ini sebagian muslim tanpa disadari terpengaruh dengan slogan modernisasi agama, pembaharuan, pemahaman / ijtihad baru dengan metode pemahaman tekstual, dzahir, harfiah atau menurut mereka secara ilmiah dan modern yang bersandarkan dalil dan masuk akal.

Setelah kami lakukan pengkajian, ternyata apa yang dimaksud dengan slogan-slogan diatas, secara tidak disadari adalah pendangkalan agama Islam semata karena hanya menguraikan seputar fiqh dan ushuluddin saja. Dengan metode pemahaman secara dzahir, tekstual atau lahiriah mereka tidak dapat mendalami tentang Ihsan atau tasawuf, karena pendalaman Tasawuf adalah semata-mata tergantung kepada karunia Allah dalam bentuk al-hikmah (pemahaman yang dalam).

Kita sesungguhnya tidak menolak seluruh modernisasi. Modernisasi dianjurkan untuk bidang-bidang keduniaan yang belum ada aturannya dari Allah dan Rasul. Namun dalam soal keberagamaan, soal syariat, soal ibadah, soal i'tiqad (aqidah), soal hakikat, soal ma'rifat maka kita menolak sekuat-kuatnya akan modernisasi. Agama adalah dari Allah dan Rasul, kita wajib menerima bagaimana adanya, sebagai yang diajarkan Rasulullah.

Nabi Rasulullah bersabda: "Dari Anas bin Malik RDA, ia berkata, Rasulullah telah bersabda: Apabila ada sesuatu urusan duniamu maka kamu yang lebih tahu, tetapi ketika dalam urusan agamamu maka Saya yang mengaturnya". (HR Imam Ahmad bin Hanbal).

Agama tidak mengikuti zaman tetapi zaman yang harus tunduk kepada agama.
Slogan modernisasi agama dihembuskan dan sepertinya memang ada pihak yang "mengangkat" atau "mengupayakan" untuk memasyarakatkan metode pemahaman secara dzahir, tekstual atau harfiah. Mereka mengaku sebagai pembaharu (mujaddid) dan seolah-olah memiliki kemampuan untuk melakukan ijtihad atau menjadi imam mujtahid. Padahal banyak persyaratan harus dipenuhi untuk melakukan ijtihad maupun menjadi imam mujtahid.

Bagaimana proses pendalaman Tasawuf (tentang ihsan, seolah-olah melihatNya)?
Tasawuf dalam Islam, sesungguhnya sangat mudah untuk dijalani. Tasawuf bukanlah pemahaman namun praktek atau perbuatan. Sehingga muslim yang telah mendalami Tasawuf bukannya mengajarkan pemahaman namun menceritakan pengalaman mereka atau perjalanan mereka. Kadang-kadang tulisan tidak lagi sanggup mengungkapkan pengalaman atau perjalanan mereka, oleh karenanya sebagian dari mereka mengungkapkan dengan syair, hikmah (pernyataan yang dalam maknanya) atau nasehat.

Tasawuf dalam Islam, prinsip dasarnya adalah melakukan perbuatan apapun di alam dunia dalam rangka memenuhi keinginan Allah yakni beribadah atau menyembah kepada atau selalu mengingat Allah.
Keinginan Allah, sebagaimana firmanNya yang artinya " Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku "(Az Zariyat: 56) " Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai kematian menjemputmu "(al Hijr: 99)

Setelah kesadaran ini dapat dipahami maka langkah selanjutnya adalah sebagaimana kata Rasulullah SAW, " Pakailah pakaian yang baru, hiduplah dengan terpuji, dan matilah dalam keadaan mati syahid "(HR.Ibnu Majah)

Pakaian yang baru adalah bertobat, kemudian mensucikan jiwa (tazkiyatun nafs), akhlak yang baik, adab yang mulia dalam perjalanan hidup kita, mengantarkan kita kembali sebenarnya bersaksi (syahid) sebagaimana pada awal mula kejadian kita (ketika bayi dalam kandungan).
Oleh karena itu Islam mengajarkan agar setiap umatnya kembali menjadi seperti bayi dalam kandungan, agar dirinya dapat kembali menemui Allah.

Setiap manusia sudah bersaksi bahwa Allah adalah sebagai Rabbnya ketika masih dalam alam konten. Sebagaimana yang disampaikan Allah dalam firman yang artinya.

"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berkata): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi ". (QS-Al A'raf 7:172)
Sebagaimana yang disampaikan imam Al Qusyairi bahwa,

" Asy-Syahid untuk menunjukkan sesuatu yang hadir dalam hati, yaitu sesuatu yang membuatnya selalu sadar dan ingat, sehingga seakan-akan pemilik hati tersebut senantiasa melihat dan menyaksikan-Nya, sekalipun Dia tidak tampak. Setiap apa yang membuat ingatannya menguasai hati seseorang maka dia adalah seorang syahid (penyaksi) ".

Jadi langkah selanjutnya adalah selalu mengingat Allah, apapun yang kita lakukan di alam dunia wajib kita selalu mengingat Allah.

Firman Allah, yang artinya,
"Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya , yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui "(QS al Maaidah 5: 54).

Suatu kaum yang Allah mencintai mereka. Dan merekapun mencintaiNya .
Dari Abul Abbas Sahl bin Sa'ad As-Sa'idy radliyallahu 'anhu, ia berkata: Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah shallallahu' alaihi wa sallam dan berkata: "Wahai Rasulullah!
Tunjukkan kepadaku suatu amalan yang jika aku mengamalkannya aku dicintai oleh Allah dan dicintai manusia. "
Maka Rasulullah menjawab: " Zuhudlah kamu di dunia niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia niscaya mereka akan mencintaimu. "(Hadist shahih diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya).

Imam Ahmad berkata, "Zuhud ada tiga macam:
Pertama, meninggalkan hal haram, dan ini adalah zuhudnya publik.
Kedua, meninggalkan hal halal yang tidak berguna, dan ini adalah zuhudnya orang khusus / spesifik.
Ketiga, meninggalkan hal yang menyibukkan seorang hamba sehingga melupakan Allah atau tidak mengingat Allah, dan ini adalah zuhudnya orang-orang arif. "
Orang-orang arif adalah orang yang menyibukkan dirinya dengan Allah dan hanya melakukan perbuatan dengan selalu mengingat Allah sehingga mereka adalah muslim yang mencapai tingakatan Ihsan (muhsin), seolah-olah melihatNya.

Imam Ali ra pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi'lib Al-Yamani,

"Apakah Anda pernah melihat Tuhan?"

Beliau menjawab, "Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?"
"Bagaimana Anda melihat-Nya?" Tanyanya kembali.
Imam Ali ra menjawab, "Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, (dzohir atau" mata kepala ") tetapi bisa dilihat oleh hati dengan hakikat keimanan ...". (Dilihat oleh hati atau bashirah, "mata hati")

Kita harus yakin bahwa kita menyembah kepada Tuhan yang kita lihat (dengan mata hati) agar kita tidak tersesat atau salah menyembah.

Sebagaimana firman Allah yang artinya,
"Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar) . "(QS Al Isra 17: 72)

"maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau memiliki telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. "(al Hajj 22: 46)

"Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta (mata hatinya) dari kesesatannya. Dan kamu tidak dapat memperdengarkan (petunjuk Tuhan) melainkan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, mereka itulah orang-orang yang berserah diri (kepada Kami). "(QS Ar ruum 30: 53)

"Maka apakah kamu dapat menjadikan orang yang pekak bisa mendengar atau (dapatkah) kamu memberi petunjuk kepada orang yang buta (hatinya) dan kepada orang yang tetap dalam kesesatan yang nyata? "(QS As Zukhruf 43:40)

Dengan menerapkan Tasawuf yang diantaranya Zuhudlah di dunia, maka kita akan dicintai Allah.
Jika Allah mencintai kita maka sebagaimana sabda Rasulullah SAW, dalam sebuah hadits qudsi, bahwa Allah SWT, berfirman:
"Bila Aku (Allah) mencintai seorang hamba, maka pendengarannya adalah pendengaran untuk-Ku, penglihatannya adalah penglihatan-Ku , tangannya (kekuasaannya) adalah kekuasaan-Ku, perjalanan kakinya adalah perjalanan untuk-Ku."

kesimpulan: bahwa dengan sadar dan selalu mengingat Allah, kita dapat seolah-olah melihatNya, mencapai muslim tingkatan Ihsan (Muhsinin).
Tentang muhsinin, lihat QS Lukman 1-7

[31:1] Alif Laam Miim
[31:2] Inilah ayat-ayat Al Qur'an yang mengandung hikmat
[31:3] menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan (muhsinin)
[31:4] (yaitu) orang -orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat.
[31:5] Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
[31:6] Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan kata yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.
[31:7] Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah dia dengan siksaan yang pedih.
Setiap hari memulai, dan tak ada kata berhenti untuk perjuangan....dan yang bersama-sama itu lebih mungkin berhasil daripada yang sendiri... dan lebih ringan diangkat bersama.

YAQAZAH (JUMPA SECARA NYATA DENGAN RASULULLAH SAW)

Definisi Yaqazah dan Musyafahah

Arti yaqazah menurut bahasa adalah jaga, sadar, bukan dalam keadaan mimpi, (yaqiza) Aiy mutayaqqizun: Hazirun: jaga, sadar, berjaga-jaga. Mukhtarus Sihah, lisy Syeikh Al Imam Muhammad bin Abi Bakar bin Abdul Qadir Ar Razi , Al Maktabah Al'asriyah, Soida, Beirut. (Halaman 349) Adapun pengertian yaqazah pada istilah pembahasan ilmu tasawuf adalah bertemu atau berkonsultasi dengan roh Rasulullah SAW dalam keadaan jaga (bukan mimpi) dan hal ini merupakan satu karamah wali-wali Allah. Arti musyafahah menurut bahasa adalah berbicara antara dua pihak. (Al Musyafahah) Al Mukhatobah min fika ila fihi. Mukhtarus Sihah, lisy Syeikh Al Imam Muhammad bin Abi Bakar bin Abdul Qadir Ar Razi, Al Maktabah Al'asriyah, Soida, Beirut. (Halaman 167) Pengertian musyafahah secara istilah adalah berbicara dengan roh Rasulullah SAW atau bertanya-jawab atas hal-hal yang kurang jelas dalam agama atau menerima praktek tertentu dari beliau. Yaqazah adalah satu hal luar biasa yang bertentangan dengan adat kebiasaan. Ia menjadi salah satu sumber kekuatan para ulama yang hak dalam mempertahankan kebenaran. Imam As Sayuti apabila ingin memasukkan sebuah Hadis ke dalam kitab karangannya akan bertanya kepada Rasulullah SAW secara yaqazah: "Apakah Hadis ini darimu ya Rasulullah?" Jika Rasulullah membenarkan, barulah beliau menuliskan Hadis tersebut. Begitu juga terjadi pada banyak auliya Allah. Ini merupakan 'teknologi' yang sangat canggih yang tidak mampu dipotong oleh musuh-musuh Islam di kalangan Yahudi dan Nasrani. Bagaimana mereka ingin memotongnya sedangkan kekuatan mereka hanya sebatas memaksimalkan penggunaan akal. Akal sampai kapan pun tidak akan berhasil mengalahkan kekuatan roh. Inilah senjata kemenangan ulama-ulama dan para pejuang Islam sepanjang sejarah. Dengan bersungguh-sungguh mengusahakan taqwa, Allah kepada mereka bantuan-bantuan-Nya secara zahir atau rohani. Di antara bantuan-bantuan rohani adalah mimpi yang benar, firasat, kasyaf, Hatif dan lain-lain. Bacalah sejarah Tariq bin Ziad, Salehuddin Al Ayubi, Muhammad Al Fateh, Mimar Sinan, Imam Al Ghazali, Imam As Sayuti. Kajilah rahasia kemenangan mereka.

Hukum Yaqazah

Yaqazah hukumnya dapat terjadi pada wali-wali Allah sebagai kemuliaan (karamah) yang Allah karuniakan kepada mereka. Ia adalah hal yang bertentangan dengan adat kebiasaan (luar dari kebiasaan) pada logika manusia sedangkan ia masih dalam lingkungan mumkinat (harus) untuk Allah mengadakan atau meniadakannya. Perlu diketahui hal yang bertentangan dengan adat dapat dibagi menjadi empat kategori, berdasarkan di tangan siapa ia terjadi : 
  1. Mukjizat: terjadi kepada para rasul as sebagai bukti kerasulan mereka untuk menantang penentang-penentang mereka. 
  2. Karamah: berlaku kepada kekasih-kekasih Allah (para wali) lambang kemuliaan yang Allah beri kepada mereka. 
  3. Maunah: terjadi kepada orang-orang mukmin dengan berkat guru atau praktik tertentu yang diistiqamahkan. 
  4. Sihir: terjadi di tangan orang-orang fasik atau kafir secara istidraj (dalam murka Tuhan).


Dalil Bisa Beryaqazah

Perlu diketahui dan dipahami, ada banyak ayat-ayat Al Quran yang memberi sinyal pada peristiwa yaqazah ini. Jika ia dapat terjadi kepada para rasul as sebagai mukjizat, ia juga dapat terjadi pada wali-wali Allah sebagai karamah. 
  • Dalil pertama: Pertemuan Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Musa as Ketika Rasulullah SAW dimikrajkan, beliau dipertemukan dengan Musa sedangkan Musa telah wafat lebih 600 tahun sebelum kelahiran Nabi Muhammad. Karena besarnya peristiwa ini maka Allah direkam di dalam Al Quran dengan firman-Nya: Artinya: "Maka janganlah kamu ragu tentang pertemuanmu (dengan Musa ketika mikraj)." (Sajadah: 23) 
  • Dalil kedua: Shalat jamaah Nabi SAW dengan para rasul Nabi Muhammad SAW shalat berjamaah dengan para rasul di malam Isra sebelum beliau dimikrajkan. Firman Allah: Maksudnya: "Dan tanyalah orang-orang yang Kami utus sebelum kamu (Muhammad) di antara para rasul Kami itu." (Az Zukhruf: 45 ) Di dalam Tafsir Al Qurthubi, juz ke-7, ms 5915 tercatat: " Masalah bertanya kepada anbiya di malam mikraj, Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa para anbiya bersembahyang dengan berimamkan Rasulullah SAW dalam tujuh saf. Tiga shaf terdiri dari rasul-rasul. Sedangkan empat shaf lagi untuk nabi-nabi. Pertemuan Nabi SAW ini adalah dalam kondisi jaga dan Nabi SAW telah bertanya sesuatu kepada mereka di malam itu. " 
  • Dalil ketiga: Hadits dari Abu Hurairah ra Dari Abu Hurairah ra berkata: Aku dengar Nabi SAW bersabda: Artinya: " Siapa yang melihatku di dalam mimpi , maka dia akan melihatku di dalam kondisi jaga dan setan tidak bisa menyerupai diriku." (Sahih Bukhari, juz ke-9, ms 42) Pengakuan Ulama Tentang Yaqazah Ibnu Arabi dalam kitabnya Fara'idul Fawa'id menulis: "Adalah harus (khususnya untuk wali Allah yang diberi karamah) untuk bertemu dengan zat Nabi SAW baik rohnya atau jasadnya karena Rasulullah SAW seperti lain-lain nabi dan rasul, semuanya hidup bila mereka dikembalikan (ke jasadnya) dan diizinkan oleh Allah keluar dari kuburnya. " Dalam kitab Al Khasoisul Kubra, Imam As Sayuti dalam Syarah Muslim oleh Imam Nawawi menulis: "Jikalau seseorang menemui Nabi SAW (dalam mimpi atau jaga), beliau menyuruh akan perbuatan (sunat), melarang satu larangan, mencegah atau menunjukkan suatu yang baik, maka tidak khilaf ulama bahwa adalah sunat hukumnya mengamalkan perintah itu. " Pihin Datuk Seri Maharaja Datuk Seri Utama, Awang Haji Ismail bin Umar Abdul Aziz, Mufti Kerajaan Brunei Darussalam, mengeluarkan fatwa melalui Kantor Mufti, Kementerian Urusan Agama, Negara Brunei Darussalam pada 14 Jamadil Awal 1408H, 4 Januari 1988 yaitu: "Maka sebenarnya dari kata-kata ulama yang pada ini bahwa bertemu dengan Nabi SAW waktu tidur atau waktu jaga dan Nabi SAW mengajar akan sesuatu ilmu, suatu doa, suatu shalawat dan suatu zikir, adalah harus dan bisa, bagaimana telah terjadi pada ulama-ulama, ahli ilmu Islam, wali-wali Allah dan orang-orang solehin, kita mengatakan hal seperti itu termasuk di bawah arti fadhailul a'mal. Adapun hal halal dan haram telah tertutup dengan berhenti wahyu kepada Nabi kita dan dengan wafat Nabi kita SAW sebagaimana kita telah sebutkan di awal-awal artikel ini. Bacalah kitab-kitab tentang wali-wali Allah seperti Syawahidul Haq karangan Syeikh Yusuf Anbahani dan kitab Lathoiful minan karangan Al Arifbillah Tajuddin bin Athaillah As Sakandari yang meninggal tahun 709H dan Jami 'u Karamatil Auliya karangan Syeikh Anbahani dan Hilyatul Auliya oleh Al Hafiz Abu Naim dan karangan Al' Alamah Dr. Abdul Halim Mahmud, Mesir dan lain-lain. "


Imam Al-Allamah Al-Nafrawi RHL berkata (di dalam bukunya (Al-Fawakih Ad-Diwani, jilid 3, m / s 360):

"Diharuskan (dibolehkan) seseorang bertemu atau melihat Nabi saw secara yaqazah atau secara mimpi, menurut kesepakatan para huffaz (ahli hadis). Mereka cuma berselisih tentang apakah orang yang melihat tubuh Nabi saw itu dalam bentuk nyata, secara hakiki atau dalam bentuk contoh (gambaran) saja? ... Adapun mereka yang mengingkarinya, maka hukumnya haram, karena kalau dia mengingkarinya karena dia seorang yang mengingkari tentang keramat (hal-hal yang luar biasa dari adat) para wali (kekasih Allah), maka untuk membahas dengan mereka memang sia-sia, karena dia sendiri telah mendustai apa yang dithabitkan di dalam sunnah (baik mengenai karamat para wali atau mengenai bertemu Nabi saw secara yaqazah ) ... "

"Apa itu 'yaqazah'? Ia adalah satu kejadian ajaib yang menemukan antara syeikh tarekat tertentu dan juga Rasulullah SAW setelah bertahun-tahun bahkan ratusan tahun setelah kewafatan Baginda.

Barangkali, seseorang yang jahil dalam ilmu mantiq akan terpukau dengan definisi "yaqazah" yang diberikan oleh saudara penulis tersebut. Tetapi, kalau kita nilai balik definisi tersebut, ia tidak bersifat jami ' dan mani ' menurut ilmu pentakrifan sesuatu.

Ini karena, tidak ada satupun dari kalangan para ulama dan ahli sufi yang mengatakan bahwa, yaqazah (atau bertemu Nabi saw secara yaqazah ) tersebut hanya dikhususkan kepada para sheikh tarekat semata. Silakan kiranya, saudara penulis ataupun para penggemar si penulis tersebut mempelajari buku-buku yang menulis tentang, hatta dari kalangan ulama sufi sendiri, niscaya Anda tidak akan menemukan satupun tulisan mereka yang mengkhususkan hal tersebut terjadi kepada para sheikh tarekat semata.

Bahkan, seluruh ulama menjelaskan bahwa, ia bisa terjadi kepada siapa saja yang dimuliakan oleh Allah, dari kalangan umat Islam, bukan sekadar kepada para sheikh tarekat saja.

Hal ini jelas merupakan suatu tuduhan tidak berdasar dari saudara penulis, ataupun suatu fitnah terhadap kaum tarekat dan sufi itu sendiri.

Siapa saja yang diberi kemuliaan oleh Allah untuk bertemu dengan Nabi saw secara jaga, maka hal tersebut akan terjadi kepadanya, apakah dia seorang anggota tarekat maupun tidak, karena tidak ada siapa yang berhak mengkhususkan nikmat Allah, apalagi berhak menuduh sesuatu kaum mengkhususkannya kepada mereka saja, tanpa sesuatu pihak yang lain.
Marilah kita nukilkan ulasan-ulasan para ulama mengenai perihal "bertemu atau melihat Nabi saw secara yaqazah tersebut, karena kita memang kekurangan ilmu tentang. Jadi, rujuklah kepada mereka yang lebih berilmu sebelum sewenang-wenang mempertanyakan sesuatu.

Imam Al-Nafrawi Al-Maliki dalam bukunya (yang disebutkan sebelum ini) menyebut:

"Diharuskan (dibolehkan) seseorang bertemu atau melihat Nabi saw secara yaqazah atau secara mimpi, menurut kesepakatan para huffaz (ahli hadis). Mereka cuma berselisih tentang apakah orang yang melihat tubuh Nabi saw itu dalam bentuk nyata, secara hakiki atau dalam bentuk contoh (gambaran) saja? Sebagian ulama berpegang dengan pendapat pertama (di mana seseorang yang bertemu dengan Nabi saw secara yaqazah melihat tubuh Beliau secara hakiki). Sebagian ulama pula berpegang dengan pendapat yang kedua (yaitu: melihat Nabi saw secara yaqazah dalam bentuk gambar, gambaran seperti pantulan di cermin dan sebagainya, Wallahu a'lam), di antara mereka (yang berpegang dengan pendapat kedua adalah): Imam Al- Ghazali, Imam Al-Qarafi, Imam Al-Yafi'e dan sebagainya.

"Kelompok yang berpegang dengan pendapat yang petama berargumen bahwa: Nabi Muhammad saw umpama cahaya hidayah dan mentari keilmuan, bisa dilihat dari jauh seperti orang bisa melihat matahari dan cahaya dari jauh ... Tubuh Beliau tidak meninggalkan kubur, tetapi seseorang yang melihat Nabi saw secara yaqazah dibuka oleh Allah hijab (jarak) antaranya dengan Rasulullah saw karena itu, dia dapat melihat Rasulullah apakah dia berada di timur maupun barat ...

"Ada juga yang berpendapat, seseorang melihat Nabi saw secara yaqazah dengan mata hati, bukan dengan mata kepala, karena bisa jadi juga, orang yang buta juga diberi penghargaan melihat Beliau secara jaga, dengan mata hatinya ...

"Ibn Abi Hamzah dan sebagian dari mereka (para ulama) menceritakan bahwa mereka pernah melihat Nabi saw secara jaga ..."

Demikianlah kata Imam An-Nafrawi mengenai kondisi melihat Nabi saw secara jaga ( yaqazah ) tersebut, di mana hijab jarak dibuka oleh Allah kepada seseorang, karena itu dia melihat tubuh Nabi saw dari jauh, yang mana jasad Nabi saw tidakpun meninggalkan maqam Beliau, bukan seperti sangkaan penulis dan mereka yang berpikiran seperti beliau, di mana seseorang menemui Nabi saw di Jakarta dan sebagainya.

Hal ini jelas ia masih belum paham mengenai kondisi bertemu Nabi saw secara yaqazah , bisa jadi keran belum berpengalaman. Tetapi, rujuklah ulasan-ulasan para ulama 'tentang terlebih dahulu, sebelum membuat asumsi yang beragam, yang hanya berdasarkan prasangka dan khayalan semata.

Tidak sama melihat Nabi saw secara yaqazah dengan bertemu penulis di sekitar Jakarta ... Maka pahamilah.

Al-Allamah Dr. Ali Jum'ah menjelaskan ini dengan maksud yang lebih kurang sama:

"Bisa jadi, melihat Nabi saw secara yaqazah dan hakiki itu, adalah melihat Nabi saw di tempat Beliau di Raudhah Beliau yang mulia, di mana yang melihatnya, melihat Beliau dalam bentuk gambar, gambaran dalam alam gambaran, yang merupakan natijah dari limpahan cinta terhadap Beliau dan selalu memikirkan tentang Nabi saw ... "

Kondisi ini tidak ditolak oleh syariat, jadi tidak layak seseorang mempertikaikannya, karena Allah Mahakuasa dalam mebuka hijab jarak antara seseorang dengan seseorang yang lain di alam yaqazah jika Dia menginginkannya.

Contoh tersebut (pembukaan hijab jarak) juga dipastikan oleh suatu peristiwa yang terjadi terhadap Umar ra, di mana ia melihat kondisi kelompok tentara yang dikirim olehnya sedangkan beliau berada jauh di tempat lain (di Persia) dari kelompok tersebut, lantaran itu meneriakkan kata "Ya Sariyah "dan suara itu didengar oleh kelompok tentara yang berada jauh dari Umar tersebut. (Riwayat At-Tabrani dalam tanggal beliau (jilid 2 m / s 553), Ibnu Hajar dalam buku Al-Ishobah jilid 3 m / s 6 dan Ibn Abdil Bar buku Al-Isti'ab jilid 4 m / s 1605)

Jadi, dari sudut akal maupun syariat, hal tersebut tidak bertentangan. Jadi, orang-orang yang mengingkarinya apakah jahil maupun sengaja tidak mau menerimanya, bisa jadi hasad karena tidak pernah mengalaminya dan sebagainya.

Lihatlah review Sheikh Ibn Al-Haj (dalam buku Al-Madkhal, jilid3 m / s 194):

"Sebagian orang mengklaim melihat Nabi saw secara yaqazah , sedangkan ia merupakan satu bahasan yang sempit untuk mengupas (sulit untuk mengupas). Amat sedikitlah dari kalangan mereka yang mengalaminya, kecuali terhadap mereka yang agung di zaman ini. Namun, kami tidak mengingkari siapa yang mengaku pernah mengalaminya, dari kalangan orang-orang yang mulia yang dipelihara oleh Allah lahir dan batin mereka. "

Alhasil, pertemuan dengan Nabi saw secara yaqazah menurut para ulama 'besar adalah bertemuan yang tidak dibatasi oleh jarak, karena melampaui batas tersebut, dengan kuasa dan izin Allah, dan tidak ada penyangkalan tentang ke Umar ra pun pernah mengalami perihal demikian .

Dari Abu Hurairah ra berkata: saya mendengar Rasulullah saw bersabda (yang artinya:

" Siapa yang melihatku di dalam mimpi, maka dia akan melihatku secara yaqazah , karena sesungguhnya setan tidak bisa menyerupaiku "

HR. Al-Bukhari di dalam kitab Sahih beliau (6/2567), dan Abu Daud dalam Sunan (4/305).

Apakah ini bukan hadis sahih?

Marilah sama-sama kita lihat pembahasan ulama 'tentang:

Berkata Al-Allamah Al-Muhaddith Al-Musnid Sidi Dr. Sheikh Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki ( Az-Zakho'ir Al-Muhammadiyah m / s 147):

Tentang hadis tersebut (shahih Al-Bukhari yang dipastikan sebelum ini), para ulama mengatakan bahwa: yaqazah itu berarti, di dunia secara qat'ie sekalipun ingin mati (sakaratul maut).

Al-Allamah Al-Mufti Dr. Ali Jum'ah juga menjelaskan perihal hadis tersebut:

"... Hadis tersebut menceritakan tentang kemampuan (keharusan) seseorang melihat Nabi saw secara yaqazah di dalam hidupnya di dunia ... "( Al-Bayan m/s161)

Imam Al-Nafrawi juga menggunakan hadis yang sama sebagai cadangan bahwa, melihat Nabi saw secara yaqazah hukumnya mubah (harus atau bisa) dari sudut syariat, dan siapa yang mengingkarinya maka hukumnya HARAM.

Bahkan, jumhur ulama menjelaskan keharusan melihat Nabi saw di dunia ini secara yaqazah terutama mereka yang pernah bertemu dan melihat Nabi saw di dalam mimpi berdasarkan hadits Shahih Al-Bukhari tersebut. Bahkan, menurut An-Nafrawi ini, itu (keharusan hukum tersebut) disepakati oleh para huffaz, berdasarkan hadis tersebut.

Begitulah yang dijelaskan juga oleh para ulama 'yang lain seperti As-Suyuti dan sebagainya, mengenai hal tersebut.

Para ulama juga membidas ta'wil sebagian oranag yang mengatakan bahwa, maksud hadis Al-Bukhari tersebut adalah, melihat Nabi saw secara yaqazah di akhirat kelak.

Al-Allamah Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki mengatakan bahwa:

"Adapun untuk pihak yang mentakwilkannya sebagai melihat Nabi saw secara yaqazah di akhirat, maka jawaban para ulama 'terhadap mereka: Sesungguhnya di akhirat, setiap orang yang beriman akan melihat Beliau apakah yang pernah mimpi berjumpanya di dunia maupun yang tidak pernah bermimpi bertemu dengan Nabi saw, seperti yang dijelaskan dalam banyak hadis-hadis sahih yang lain "

Hal ini menyebabkan, tidak spesialisasi antara mereka yang pernah melihat Nabi saw di dalam mimpi maupun tidak, sedangkan di dalam hadis tersebut menceritakan tentang pengkhususan terhadap mereka yang pernah bermimpi bertemu Nabi saw dengan mereka yang tidak pernah bermimpi bertemu Nabi saw, yaitu:

"... Dia akan melihatku secara yaqazah ... "

Dengan demikian, Al-Allamah Dr. Ali Jum'ah (Mufti Mesir) menegaskan bahwa:

"Orang yang mengatakan (mengkhususkan) bahwa, maksud yaqazah dalam hadits tersebut merupakan yaqazah di hari akhirat, sangat melenceng dari maksud sebenarnya karena dua hal:

Pertama: Umat Nabi saw akan melihat Nabi saw di Hari Kiamat, apakah mereka yang pernah melihat Nabi saw dalam mimpi ataupun tidak, (jadi spesialisasi tersebut kepada mereka yang pernah mimpi bertemu Nabi saw dalam hadis tersebut sia-sia sedangkan hadis Nabi saw tidak begitu) .

Kedua: Tidak ada lafaz taqyiid (yang mengikat) makna yaqazah dalam hadis tersebut dengan ikatan "hari kiamat dan sebagainya". Maka, pengkhususan ( yaqazah hanya di hari akhirat) tanpa yang mengkhususkannya (di dalam hadits tersebut), dihukum sebagai sebaliknya (yaitu yaqazah itu di dunia). "

Lihat buku Al-Bayan karangan beliau (m / s 161)

Jadi, dari banyak wujuh (sudut), takwilan mereka yang mengatakan bahwa, makna: "... dia akan melihatku secara yaqazah "adalah melihat secara yaqazah di akhirat adalah tertolak dengan argumen-argumen berikut:

Hadis tersebut mengkhususkan "melihat Nabi saw secara yaqazah "untuk mereka yang pernah melihat Nabi saw di dalam mimpi. Jika sekiranya yaqazah berarti, melihat Nabi saw di akhirat, maka spesialisasi pada mereka yang pernah melihat Nabi saw di dalam mimpi itu batil, karena di akhirat, seluruh umat Islam yang beriman akan melihat Nabi saw apakah pernah bermimpi Nabi saw ataupun tidak, berdasarkan hadits- hadis yang lain. Maka, jelaslah bahwa, yaqazah yang dimaksud adalah di dunia. "

Kedua: Takwil tersebut tidak jelas karena tidak ada "taqyid" dalam hadis itu yang mengikat perkataa yaqazah dengan bermaksud melihat Nabi saw di akhirat. Maka, jika tidak taqyiid, spesialisasi yaqazah dengan yaqazah di akhirat menjadi batal.

Ketiga: kata yang digunakan oleh Nabi saw adalah "huruf sin" pada "sayaroni" berarti akan melihat-. Huruf sin dalam metode bahasa Arab yang berarti: "akan", merujuk pada suatu periode waktu yang dekat, sedangkan hari akhirat dibandingkan dengan periode di dunia, sangat jauh. Jadi, makna "sayaroni" (akan melihatku) secara yaqazah di dunia lebih memenuhi maksud sebenarnya dibandingkan di akhirat.

Keempat: Jika yang dimaksud oleh Nabi saw dalam hadis tersebut, bahwa seseorang akan melihatku secara yaqazah di akhirat, maka Nabi saw tidak perlu menggunakan istilah yaqazah (secara jaga), karena lawan yaqazah adalah bermimpi atau tidur, sedangkan di akhirat tidak ada yang tidur atau bermimpi.

Cukuplah kalau Nabi saw berarti: "akan melihatku di akhirat", jika ingin memberi arti, melihat Nabi saw di akhirat. Tetapi, Nabi saw menggunakan lafadz yaqazah (secara jaga) menunjukkan apa yang dimaksudkan oleh Nabi saw adalah, melihatnya secara yaqazah (jaga) di dunia, karena di dunialah adanya mimpi dan adanya yaqazah , sedangkan di Akhirat tidak lagi mimpi atau tidur, jadi tidak perlu menggunakan istilah "akan melihatku secara yaqazah "jika melihat tersebut di akhirat, karena semua orang tahu, melihat Nabi saw di akhirat tersebut memang secara yaqazah . Jadi, kata yaqazah dalam hadis itu sendiri menunjukkan apa yang Nabi saw maksudkan adalah, siapa yang pernah bermimpi melihat Nabi saw di dalam mimpi, berarti akan melihat Beliau secara jaga.

Padahal, kaum yang mencoba mentakwilkan hadis ini dengan hari kiamat tidak berdasar sama sekali dan tertolak dari berbagai sudut yang disebutkan sebelumnya.

Apa yang jelas, ada hadis sahih yang menceritakan tentang "melihat Nabi saw secara yaqazah tersebut, dan jawaban kami kepada penulis, ya ... memang ada hadis SAHIH tentang hal tersebut.

Penulis berikutnya menulis:

"Apakah hal ini merupakan hal yang telah diterima oleh para ulama sejak dahulu hingga kini? Apakah Anda bisa mempercayai cerita ini? "

Memang terlalu banyak ulama yang menulis tentang, dan hal tersebut diterima oleh banyak para ulama sejak dahulu hingga kini. Cuma, golongan yang mengingkarinya saja yang syaz (terasing atau sedikit).

Imam As-Suyuti mengatakan (dalam buku At-Tanwir tersebut m / s 10 percetakan Dar Jawamik Al-Kalim ):

"Telah banyak yang mempertanyakan mengenai sebagian anggota rabbani yang melihat Nabi saw secara yaqazah ini. Adapun suatu kaum yang mengingkarinya pada zaman ini adalah mereka yang tidak memiliki latar belakang ilmu (yang cukup dalam bidang agama), sehingga menyebabkan mereka mengingkarinya dan merasa aneh tentang sehingga mengklaim bahwa itu mustahil. Kini saya mengarang penulisan ini mengenai pembahasan tersebut yang dinamakan sebagai " Tanwir Al-Halak fi imkan Ru'yatu An-Nabi wa Al-Malak " .

Telah tertulis di dalam brosur tersebut berbagai dalil-dalil dan bukti-bukti tentang keharusan (bisa) melihat Nabi saw secara yaqazah dan mendengar suara Beliau dan para malaikat.

Banyak para ulama 'dari dahulu hingga hari ini menulis mengenai hal tersebut, seperti Imam Ibn Hajar dalam syarah beliau terhadap Shahih Al-Bukhari itu sendiri ( Fathul Bari ) dalam tajuk tersebut, Imam An-Nawawi dalam Syarah Muslim, Imam Ibn Hajar Al- Haithami dalam buku fatwa beliau, dan begitu juga dengan banyak para ulama masa kini yang turut menulis tentang seperti Mufti Mesir sendiri, Dr. Ali Jum'ah, Sheikh Syed Muhammad Alawi Al-Maliki, Dr. Umar Abdullah Kamil, dan sebagainya.

Jadi, sudah tentu kami yang tahu tentang bisa mempercayai cerita tentang seseorang bertemu Nabi saw, karena para ulama 'pun banyak yang mendiskusikannya dan mengakuinya. Kalau tidak tahu, lebih baik bertanya dari mengkritik atau mempertanyakan, apalagi mengenai hal yang memiliki sandarannya dari Islam.

Berkata Syeikh Abdul Qadir bin Syeikh Abdullah bin Syeikh Al Idrus Baalawi yang hidup tahun 978 Hijrah dan mati tahun 1038 Hijrah dalam kitabnya An Nurus Safir 'An Akhbaril Quranil' Asyir :

Adalah Imam Al Hafiz As Sayuti itu ada banyak karamah terbit darinya itu, kebanyakan itu terjadi sesudah mati (dan matinya pada tahun 911 Hijriyah).

Berkata Al 'Alamah Syeikh Zakaria bin Syeikh Muhammad Al Mahalli As Syafi'i bahwa Imam As Sayuti itu telah ditimpa oleh sesuatu hal yang besar pada suatu waktu, maka saya minta darinya, menulis surat wasiat atau pesanan kepada beberapa muridnya, melalui saya, maka Imam As sayuti enggan melakukannya dan Imam itu telah melihat ke saya akan selembar kertas yang ditulis dengan tangan Imam itu, bahwa: "Saya telah berkumpul dengan Nabi SAW waktu jaga banyak kali lebih dari 70 kali dan sabda Nabi SAW kepada saya, yang artinya:

"Bahwa siapa yang ada kondisinya begini, maka tiadalah ia berhajat pada pertolongan dan bantuan dari siapapun."

Telah dihikayatkan dari Imam As Sayuti telah berkata:

"Saya telah melihat dalam tidur saya, seolah- olah saya ada di hadapan majelis Nabi SAW, maka saya sebutkan sebuah kitab yang saya mulai mengarangnya dalam hal hadis dan sunnah yaitu Jam'ul Jawaami ', maka saya berkata kepada Nabi SAW: Hamba akan bacakan sedikit dari isi kitab itu, maka sabda nabi SAW: Bawalah kepada saya, hai guru hadis (Ya Syeikhul Hadis). "Berkata Imam As Sayuti:" Mimpi itu suatu kabar gembira bagi saya lebih besar dari dunia dan seluruhnya. "

Dari kitab Khususiyyatu Yaumil Jum'ah karangan Imam As Sayuti dicetak di Damaskus tahun 1386-1966 Hijrah.

Al Habib Syeikh Abdul Qadir Al Idrus itu juga ada mengarang kitab bernama Ta'riful Ahyai Bifadhailil Ahya'I Kitab "Ahya" karangan Imam Al Ghazali yang mati tahun 505 Hijrah yang terkenal itu dan kisah Imam As Sayuti itu ada disebutkan oleh Syeikh Najmuddin Al Ghazzi dalam kitabnya Al Kawakibus Saairah .

Adalah Al Habib Umar bin Abdurrahman Al 'Athas yang empunya ratib bernama "Ratibul' Athas" yang terkenal di Malaysia dan kawasan sebelah ini, yang mati pada atahun 1072 Hijrah dan ditanam di Huraidah Hadramaut (Selatan Tanah Arab), ada terjadi di tangannya beberapa hal yang ganjil dan aneh atau karamah setengah dari hal itu:

1. Bila Al Habib Umar itu pergi ziarah kubur bapaknya Sayyid Abdul Rahman, ia berkata pada kuburan bapaknya dan ia mengabarkan segala hal dengan penglihatan dan nampak dengan matanya.

2. Kerabatnya mengatakan sedang kami duduk di rumah kami dan di sisi kami Al Habib Umar Al 'Athas, maka tiba-tiba ia memerah akan lengan bajunya dengan air bertitik, maka kami bertanya, "Ya Sayyidi, apa air ini?" Ia menjawab, "Bahwa suatu kelompok orang kekasih kami, telah rusak perahu mereka di dalam laut Syam (Tanah Hajaz), dan mereka minta tolong dari kami maka kami datang membantu mereka, mereka dilepaskan oleh Tuhan mereka dari bencana alam, dan basah ini dari air laut itu. "

3 . Ketika Habib itu beribadah kepada Tuhannya dengan seorang diri jauh dari manusia maka Nabi SAW datang kepadanya hal keadaannya nyata dan Nabi SAW menyuruh akan dia mengajak manusia ke jalan Allah Taala, dan menunjuk dan mengajar mereka. Mengapa saya tidak melihat akan kondisi Rasulullah SAW itu dengan nyata, karena jikalau terdinding dari saya oleh Nabi SAW sekejap saja, niscaya tidak saya bilangkan diri saya dari kalangan orang mukmin, dan mengapa terdinding Nabi SAW dari saya padahal beliau itu ain ada saya.

4 . Seorang pria meminang akan seorang perempuan menikah dengannya, maka bapak perempuan dan saudaranya enggan menerimanya, maka ia marah dengan hal yang beraku itu dan ia kembali ke rumahnya dan ia bertekad akan membunuh mereka, saat malam gelap ia menyandang senjatanya dan keluar menuju ke bapak dan saudara perempuan itu, di antara ia berjalan-jalan tiba-tiba ia merasa seorang yang memegang tangannya seperti harimau yang ganas dan ia berpaling, tiba-tiba ia melihat Habib Umar Al 'Athas, maka ia tercengang gemetar dan Al habib itu berkata, "Ke mana engkau hendak pergi? "Ia berkata," Saya ada memiliki suatu hajat. "Katanya," Engkau tidak memiliki suatu keinginan, tetapi engkau keluar ini karena berbuat begini, begini. Harus engakau kembali ke rumah kamu. "Dan Al Habib itu melepaskan tangannya dan laki-laki itu pun kembali ke rumahnya. Tidak beberapa hari datang tua perempuan dan saudaranya mengambil hatinya dan menjelaskan sebab-sebab penolakan pinangan itu dan meminta maaf. Dan keduanya berkata, "Perempuan itu untuk engkau. Demi Allah kami tidak mengahwinkannya selain engkau. "Kemudian laki-laki itu menikah dengan perempuan itu, dan mendapat anak-anak seperti kabar yang terbit dari Al Habib Umar Al 'Athas itu.

Ini kita petik dari Fathu Rabbin Nas uraian Ratib Habib Umar bin Abdul Rahman Al 'Athas, telah dikumpulkan oleh Maulana Al' Arif Sayyid Hussin bin Almarhum Al 'Alamah Sayyid Abdullah bin Muhammad bin Muhsin bin Hussin Al' Athas dalam bahasa Melayu pada tahun 1342 Hijrah.

Dihikayatkan oleh Abu Abdullah Al Qastalani bahwa ia melihat Nabi SAW dalam tidur dan ia mengadukan kepada Nabi akan sengsara hidup dan fakirnya dan papanya. Maka Nabi SAW mengajarkan dia akan suatu doa.

Dari kitab Al Wasaailu Syafi'ah oleh Imam Muhaddis Sayyid Muhammad Bin Ali Khidr yang mati tahun 960 Hijriyah, dan Sayyid itu mengomentari doa yang di atas ini.

Ketahui olehmu barangsiapa yang menyebut akan "Asmaul Husna" yang pada ini, dan dia berperangai dengan perangai kalangan orang-orang yang terpilih dari hamba Allah, dan beradab dengan adab wali-wali Allah, maka Allah Taala akan menghidupkan roh "Asmaul Husna" akan hati orang itu. Dan Allah akan terangkan akan hatinya dengan cahaya hakikat "Asmaul Husna" itu. Dan ia tidak meminta sesuatu dari Allah melainkan Allah berikan apa yang ia mohon.

Adalah Habib Al Arifbillah Ahmad bin Hussin bin Abdullah Al 'Athas, kakek Al Habib Sayyid Muhammad bin Salim bin Ahmad Hussin Al' Athas dan Al Habib Sayyid Muhammad bin Salim rh . Itu pengelola masjid Ba'alawi di Bukit Timah di Singapura. Dan Al 'Alamah kakek Habib Sayyid' Alawi bin Thahir Haddad Al Haddar, muftikerajaan Johor yang trdahulu itu adalah anak murid kepada Habib Al Arif Ahmad bin Hussin Al 'Athas.

Berkata habbib Sayyid 'Alawi bin Thahir Al Haddad dalam kitabnya' Uqudul Almaasi Bimanaaqibi Syaikhil Thoriqah Wa Imaamil Haqiiqah, Al Arifbillah Habib Ammad bin Hussin Al 'Athas: Kata Syeikh Muhamad bin' Audh bin Muhammad Bafadhlu dalam kitab Manaaqibil 'Arifbillah Al Habib Ahmad bin Hussin Al' Athas bagaimana disebutkan oleh Imam Habib Al 'Idrus bin Umar Al habsyi bahwa Al Habib Al Arif Ahmad Al 'Athas itu seorang wali Allah yang mutlak dan dia diizinkan mengabarkan apa hal yang disembunyikan oleh orang lain.

Adalah Al Habib Arifbillah Ahmad bin Hussin Al 'Athas itu ketika banyak melihat Rasulullah SAW hingga berulang-ulang kali hari sampai tujuh kali.

Adalah Al Habib Al Arifbillah itu ketika ia merasa syak pada suatu hadis maka ia bertanya kepada Nabi SAW.

Adalah Al Habib Al Arifbillah itu dapat mengetahui hal bohong, katanya saya melihat keluar dari mulut pembohong itu seperti sesuatu asap.

Al Arifbillah itu dapat mengenal karangan-karangan kitab-kitab ilmu, mana kitab itu ditulis menurut hawa nafsu atau karena ta'asub atau lain-lain dari hawa nafsu dan ta'asub.

Al Arifbillah itu dapat memilih mana-mana kitab yang sayugia dibaca dan diamalkan oleh ahli ilmu.

adalah guru Al Arifbillah Habib Ahmad bin Hussin Al 'Athas itu bernama Ghausu Zamaanih Al Habib Abu Bakar bin Abdullah Al' Athas telah meminta pandangan dan pilihan dalam sesuatu hal kepada Nabi SAW maka Nabi SAW bersabda kepadanya: "Akan datang kebenaran atau datang sinyal pada tangan seorang anak-anak kamu. ":

Al Arifbillah Ahmad bin Hussin Al 'Athas mengatakan adalah jiwa datang kepada saya pada awal hidup saya sebagai suatu utusan kelompok lepas kelompok dan dia bercerita bahwa setengah orang mati lalu kepadanya lalu roh-roh berpisah dari jasad orang-orang mati itu atau lalu malaikat kepadanya dengan mmbawa roh-roh itu. Saya Tanya (Habib Mufti), ke mana roh-roh yang tuan guru lihat tadi? Jawabnya, dia bersiyarat dengan tangannya bahwa roh-roh itu pergi ke pihak kiblat.

Al Arifbillah itu menceritakan kepada (Al Habib Mufti) bahwa Al Arifbillah berkumpul dengan roh-roh "barzzakhiyyah" yang belum masuk ke dalam jasad manusia di dalam suatu hal terjadi.

adalah Al Arifbillah itu bangun tidur pada 1/3 yang terakhir dari waktu malam, ia mengambil air sembahyang, dan ia shalat dan panjang shalatnya itu. Kemudian ia membaca zikir-zikir yang panjang dan mengulang-ulang "Asmaul Husna", ia bertasbih, ia bertahmid, ia bertakbir pada tiap-tiap "isim" itu. Kemudian ia baca zikir-zikir yang lain kemudian ia baca Quran dengan bacaan sederhana tidak cepat dan tidak lambat dan dia dapat membaca lima juz Al Quran sebelum terbit fajar.

Disebutkan bahwa Al Arifbillah dan Al Afiful Munawwar Ahmad bin Abdullah Balkhair shalat witir berjamaah dengan membaca 10 juz Al Quran.

Adalah wirid Al Arifbillah dalam sehari 25.000 "Lailahaillallah" dan membaca separuh Quran. Adapun usaha Al Arifbillah pada membaca kitab-kitab ilmu dari kitab-kita tafsir, hadits, tasawuf dan lain-lain, maka tidak kita ketahui (kata Al habib 'Alawi) seseorang pun seperti Al Arifbillah itu.

Berkata Al 'Alamah Muhammad Bifadhlu, saya berhubungan dengan Al Arifbillah pada tahun 1316 Hijrah, maka banyak jumlah kitab yang ia baca di hadapan Al Arifbillah dan lain-lain mahasiswa membaca kitab di hadapannya menunjukkan kitab-kitab yang dibaca dihadapannya itu dari semenjak Al arifbillah balik dari Mekah sampai tahun itu tidak kurang dari 26 tahun, adalah sangat banyak tidak dapat dihitung, karena tuan guru Al Arifbillah itu tidak sabar dari ilmu dan dari ibadah dan dari zikir, semuanya itu makanan untuk dirinya dan rohnya, dan saya tidak melihat akan seseorang pun tahan mendengar kitab-kitab ilmu seperti tuan guru itu.

Adalah Al Arifbillah itu ketika ia memperlakukan "dhif-dhif" dan tamu atau utusan-utusan maka ia tidak tahan dari meninggalkan membaca kitab, maka ia meletakkan kitab pada ribanya dan ia balik-balikan halaman kitab itu, sambil ia melayani "dhif-dhif" itu karena ia gemar ilmu dan kitab-kitab ilmu.

Dikutip dari Uqudul Almaasi .

Diriwayatkan oleh Imam Abu Na'im dan Ibnu Basykuwal dari Imam Sufyan As Tsauri telah berkata, di antara ketika saya mengerjakan haji, tiba-tiba masuk seorang pemuda, dia tidak mengangkat sebelah kaki dan tidak meletakkan sebelah kaki, kecuali ia bershalawat atas Nabi SAW dan keluarga beliau.

Maka saya katakan kepadanya: "Apakah dengan ilmu kamu bilang begitu?" Pemuda itu menjawab: "Ya". Kemudian pemuda itu berkata: "Siapa tuan?" Saya menjawab: "Saya Sufyan As Tsauri." Ia bertanya: "Dari Irak?" Saya jawab: "Ya." Pemuda itu bertanya: "Bagaimana tuan kenalkan akan Allah?" Saya jawab: "Allah memasukkan malam ke dalam siang dan Allah memasukan siang ke dalam malam dan Allah menggambarkan anak-anak dalam rahim." Kata pemuda itu: "Wahau Sufyan, tuan belum kenalkan Allah dengan sebenar-benar kenal."

Saya berkata: "Bagaimana kamu kenalkan Allah? "Jawab pemuda itu:" Bifaskhil hammi, wa naqdhil 'azmi. (Artinya: dengan membuang khawatir dan membatalkan azam.). Dan saya khawatir maka saya buang khawatir itu, dan saya berazam maka dibatalkan azam saya itu, dengan itu saya kenal bahwa untuk saya ada Tuhan yang Esa yang menguasai hal ihwal saya. "

Saya berkata: "Apa itu shalawat yang kamu shalawat kepada Nabi SAW? "jawab pemuda itu:" Ceritanya begini: Adalah saya pergi kerja dan bersama-sama saya ibu saya, dan ibu saya minta saya bawa dia masuk ke dalam Ka'bah. Maka saya bawa ibu saya ke dalam Ka'bah, maka ibu saya terjatuh dan bengkak perutnya dan hitam legam mukanya. Maka saya duduk disisinya dengan sedih hati saya, dan saya angkat 2 tangan ke langit dan saya berkata: Ya Rabbi Ya Tuhanku, beginikah Tuhan hamba buat kepada siapa yang masuk ke dalam rumah Tuhan hamba (Ka'bah), maka tiba-tiba awan naik dari sebelah Tihamah, dan tiba-tiba ada di dalamnya seorang pria memakai pakaian putih, dan ia masuk ke dalam Ka'bah. Dan ia lalukan tangannya di atas perut ibu saya, maka muka ibu saya menjadi putih dan kesakitannya reda. Kemudian ia berjalan hendak keluar dari Ka'bah itu maka saya tarik bajunya dan saya berkata kepadanya: "Siapa tuan yang membantu menyelamatkan saya dari kesedihan saya?" Jawabnya, "Saya Nabi kamu, Nabi Muhammad yang kamu memberi selawat ke atasnya."

Maka kata saya: Ya Rasulullah "Fa Ausini" (artinya mohon beri pesan pada saya). Sabda Rasulullah SAW yang artinya:

"Janganlah angkat sebelah kaki dan jangan letakkan sebelah kaki melainkan kamu bershalawat pada Sayidina Muhammad dan pada keluarga Sayidina Muhammad."

Kata saya: "Adalah orang muda ini dari kalangan wali-wali yang sampai kepada Allah."

saya kata ini kisah yang diceritakan Imam Sufyan As Tsauri yang terkenal dan dipastikan oleh Imam Abu Na'im, penulis kitab Hilyatul Auliya ' dan Ibnu basykul dan telah dipastikan oleh "Muhadissud Dunya" Sayyid As Syeikh Abdullah As Siddiq Al Ghamaari dari ulama Al Azhar dan ulama Al Maghrib dalam kitabnya Fadhailun Nabiyyi fil Quranil Illahiyatu Fissolah 'Ala Khairil Bariyyah dicetak oleh maktabah Al Kahirah Syari 'As Sonadiqqiyah, Medan, Al Azhar, Mesir.

Maka sebenarnya dari kata-kata ulama yang pada ini, bahwa bertemu dengan Nabi SAW waktu tidur atau waktu jaga, dan Nabi SAW mengajar akan sesuatu ilmu, suatu doa, suatu shalawat dan suatu zikir, adalah HARUS DAN BISA , bagaimana terjadi pada ulama-ulama, ahli ilmu Islam, wali-wali Allah dan orang-orang solehin, kita mengatakan hal seperti ini termasuk di bawah arti kata "fadhoilul 'amal".

Adapun hal halal dan haram telah tertutup dengan terhenti wahyu kepada Nabi kita dan dengan wafat Nabi kita SAW sebagaimana kita telah sebutkan di awal-awal artikel ini.

Bacalah kitab- kitab tersebut wali-wali Allah seperti Syawahidul Haq karangan Syeikh Yusuf Anbahani dan kitab Lathoifulminan karangan Al Arifbillah Tajuddin bin 'Athaillah As Sakandari yang mati tahun 709 Hijrah dan jami'u karamatil Auliya ' karangan Syeikh Anbahani dan Hilyatul Auliya ' oleh Al Hafiz Abu Na ' im dan karangan Al 'Alamah Dr. Abdul Halim Mahmud, Mesir dan lain-lain.