Cara Mengusir Jin Dari Tubuh Manusia

Boleh percaya boleh tidak, selain kehidupan manusia, hewan dan tumbuhan dalam alam dunia ini juga terdapat alam ghaib.

Di alam ghaib inilah dikenal sebagai kehidupan makhluk halus, dikatakan makhluk halus dikarenakan mereka tidak dapat dilihat oleh mata kasad manusia, makhluk tersebut adalah "JIN"..

Jin dari jaman adam hingga sekarang terus berkembang biak namun tidak mati hingga akhir jaman [kiamat].
Kuntilanak, Nyi Roro Kidul, Tuyul, Grandong, Sundel bolong, Pocong, Jaelangkung, Suster ngesot, Genderuwo dan lain-lain adalah nama julukan manusia terhadap makhluk halus yang sejatinya mereka adalah jin yang menyerupai berbagai macam bentuk untuk mengelabui manusia..

Bila manusia dikelabui dan terkecoh maka akan mengalami ketakutan bahkan pula kerasukan..
Jenis gangguan jin pada manusia:.
1. Gangguan bersifat total.
2. Gangguan bersifat temporer.
3. Gangguan bersifat lokal..

Sebab-sebab jin merasuki manusia :.
1. Marah berlebihan tidak terkontrol.
2. Sedih dan senang yang berlebihan.
3. Rasa takut yang berlebihan.
4. Rasa cinta jin pada manusia.
5. Dendam akibat kezaliman manusia.
6. Jin diperintah oleh dukun/tukang sihir..

Ciri-ciri gangguan jin pada manusia :.
1. Malas, atau berlebihan dalam mendekatkan diri pada Tuhan YME.
2. Menangis, ketawa, senang,sedih tanpa sebab.
3. Suka maksiat dan bangga dengan kemaksiatannya.
4. Suka menyendiri, sering melamun, fikiran kosong.
5. Dapat melakukan tindakan diluar kemampuan manusia normal.
6. Rasa sakit pada bagian tubuh tertentu, sembuh sendiri dan kambuh lagi sa'at-sa'at tertentu hingga dokter tidak tahu jenis penyakitnya.
7. Gila [non medis, non genetik].
8. Seringkali mimpi buruk, direprepi, ketindih, jatuh ..

Apakah anda terindikasi kemasukan jin atau tidak ? berikut ini adalah beberapa pertanyaan untuk mendiagnosa-nya :.
NO PERTANYAAN ...YA... TIDAK

Dalam keadaan sadar.......

1 apakah anda sering melihat hal-hal ghaib ? ..... .....
2 apakah anda mempunyai kemampuan diluar kemampuan manusia normal ? ..... .....
3 apakah anda pernah belajar ilmu tenaga dalam ? ..... .....
4 apakah anda pernah melakukan malan yang berhugungan dengan keghaiban ? ... ...
5 apakah anda sering dengar bisikan ghaib ? ..... .....
6 apakah anda pikiran kacau sa'at beribadah ? ..... .....
7 apakah anda sering was-was sa'at membersihkan diri ? ..... .....
8 apakah anda sering ragu terhadap keagungang Tuhan ? ..... .....
9 apakah anda sering emosional, marah dan mudah tersinggung ? ..... .....
10 apakah anda sering merasa sombong ? ..... .....
11 apakah anda merasa malas dalam beribadah ? .... ....
12 apakah anda sering malas membaca kitab suci ? ..... ....
13 apakah anda sering ketakutan ditempat-tempat tertentu ? ..... ....
14 apakah anda memiliki sensitivitas terhadap kekuatan ghaib ? ..... ....
15 apakah anda sering merasakan sakit pada waktu dan kejadian tertentu ? ..... ....
16 apakah anda suka menyendiri ? ..... .....
17 apakah anda sering pusing mendadak ? ..... .....
18 apakah anda suka menghayal ? ..... .....
19 apakah anda sering gelisah, ketakutan dan susah tidur ? ..... ....

Dalam keadaan tidak sadar......

20 apakah anda sering bermimpi buruk ? ..... .....
21 apakah anda sering bermimpi bertemu ular/anjing ? ..... .....
22 apakah anda sering bermimpi terjatuh dari tempat yang tinggi ? ..... .....
23 apakah anda sering bermimpi dikejar-kejar binatang buas ? .... .....
24 apakah anda sering bermimpi dikejar-kejar orang gila ? ..... .....
25 apakah anda sering direp-repi/ketindihan jika tidur ? ..... ....
26 apakah anda jika tidur, gigi anda beradu ? .... .....
27 apakah anda sering bermimpi berjalan ditempat angker ? ..... ......
28 apakah anda sering bermimpi tidur dikuburan ? ..... .....
29 apakah anda sering mengigau sa'at tidur ? ..... .....
30 apakah anda sering tidur sambil berjalan ? ..... .....
NB: Bila jawaban anda prosentase-nya lebih banyak "YA" maka anda terindikasi mudah dan dirasuki JIN.

Lalu bagaimana cara untuk mengusir jin yang telah merasuki ? ada dua cara yaitu dengan mengobati diri sendiri bila kondisi masih memungkinkan karena jin belum menguasai penuh dan meminta bantuan orang lain bila jin sudah menguasai sepenuhnya manusia.

Cara mengobati kerasukan jin juga dapat dilakukan dengan 3 macam antara lain :
1. Dengan minta bantuan sepenuhnya kepada Tuhan.
2. Dengan fasilitas benda yang telah dirasuki jin
3. Dengan melawan jin dengan jin

Dari ketiga cara diatas cara nomer 1 yang lebih kuat, dikarenakan Tuhanlah yang menciptakan jin.

Cara nomer 2 dan 3, banyak kita jumpai disekeliling kita seperti para kiyai, dukun, paranormal dan lain-lain yang cenderung memakai alat seperti keris, cincin dan berbagai macam jimat, cara ini amat berbahaya karena jika kita bersekutu dengan jin maka otomatis kita akan menuruti kehendak jin atas jasa yang kita minta, dengan demikian kita sama saja tunduk pada jin, padahal jin dan manusia kedudukannya sama.

Dengan bersekutu dengan jin maka kita telah memadu Tuhan dengan makhluk lainnya, dan jangan harap Tuhan akan membantu segala kesulitan kita.

Metode dan cara mencegah serta mengusir JIN :
1. Tobat dari dosa besar dan kecil serta memperbanyak mendekatkan diri pada Tuhan YME.
2. Bakar jimat dan benda bertuah yang kita miliki
3. Sabar dan berserah diri pada Tuhan, dan percaya sepenuhnya kepadanya.
4. Selalu berusaha memantapkan bahwa Tuhan-lah yang lebih kuasa dari segala-galanya
5. Memperdalam ilmu-ilmu agama dengan benar dan belajar kepada guru yang bersanad kepada Nabi
6. Rajin beribadah dan menjauhi segala bentuk perdukunan baik dukun putih maupun hitam.

Cara Jin Masuk ke Dalam Tubuh manusia

Rasulullah telah bersabda, “Sesungguhnya syetan mengalir dalam tubuh manusia melalui aliran darah.” [HR. Muslim]
Hadits tersebut memberikan gambaran bahwa jin itu bisa keluar dan masuk dalam tubuh manusia melalui peredaran darahnya, lalu apa saja yang menyebabkan jin masuk ke tubuh manusia? Syekh Abu Bakar al-Jazairi berkata ”Jin bisa menyakiti atau mengganggu sebagian manusia. Entah karena orang itu lebih dahulu menyakiti mereka, misalnya dengan menumpahkan air panas ke mereka, mengencingi mereka, atau menginjak dan merusak rumah mereka, yang tidak disadari oleh manusia tersebut. Atau juga disebabkan kedzaliman jin itu sendiri, sehingga mereka menyakiti mereka tanpa sebab apapun, seperti halnya yang terjadi antar sesama manusia. Kadang-kadang manusia menyakiti saudaranya sendiri tanpa sebab apapun, hanya karena kedzaliman dirinya, seperti yang sering kita lihat dari manusia yang telah rusak fitrahnya dan lemah imannya. Seandainya bukan karena penjagaan malaikat yang telah ditugaskan oleh Allah, niscaya tidak ada seorang pun yang selamat dari gangguan jin dan syetan.” (Aqidatul Mukmin:230)

Sebab-sebab jin masuk dalam tubuh manusia, diantaranya :

1. Jin itu suka sama orang tersebut.
2. Jin merasa telah di sakiti oleh manusia
3. Karena jin itu ingin mendzalimi manusia atas inisiatifnya sendiri, atau dikirim oleh dukun dan tukang sihir
4. jin bisa masuk ke dlm tubuh manusia karena orang itu suka menyepi bertapa.
5. jin di masukkan dengan media susuk, menelan benda yang di isi, gotri, butir besi dll
6. jin masuk karena orang itu menjalankan dzikir dan amaliyah wirid tanpa guru.
7. jin masuk dari orang itu menjalankan amalan sesat.

Adapun sebab dan tendensi jin yang masuk ke tubuh manusia, pada dasarnya mereka tidak akan bisa sukses untuk masuk ke tubuh seseorang bila tidak seizin Allah.
Allah berfirman,’…Dan mereka itu tidak bisa memberi mudharat [bahaya] kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah…”

Adapun kondisi manusia yang rawan dimasuki jin adalah sebagai berikut :

· Lagi marah
· Takut yang berlebihan
· Berada di puncak syahwat
· Betul-betul lalai

Ciri-ciri orang yang terkena gangguan jin :
Banyak orang memahami bahwa tanda orang diganggu jin atau syetan adalah kesurupan. Padahal banyak sekali gejala-gejala lain yang sudah kita buktikan saat melakukan terapi ruqyah di Kantor Majalah Ghoib.

Ada dua macam gejala yang bisa kita kenali, bahwa seseorang terindikasi gangguan jin atau syetan yaitu :

Gejala waktu terjaga, diantaranya adalah :
· Badan terasa lemah, loyo dan tidak ada gairah hidup.
· Berat dan malas untuk beraktifitas, terutama untuk beribadah kepada Allah.
· Banyak Menghayal dan melamun, senyum dan bicara sendiri.
· Tiba-tiba menangis dan tertawa tanpa sebab.
· Banyak makan tapi tidak kenyang-kenyang, atau tidak makan tapi fisiknya kuat sekali, walau tanpa menggunakan dopping atau suplemen energi.
· Emosional, mudah marah dan membesar-besarkan masalah.
· Kesurupan atau tersumbat sarafnya.
· Muncul rasa was-was sewaktu wudhu atau shalat [lupa bilangan rakaat].
· Bisa melihat jin dan sensitive akan keberadaan mahluk halus disekitarnya.
· Benci melihat orang-orang shalih [taat beragama]
· Menirukan gerakan-gerakan binatang tanpa disadari.
· Sering merasakan adanya hawa dingin atau panas, kesemutan, berdebar-debar dan sesak nafas saat membaca Al-Qur’an.

Gejala waktu tidur, diantaranya adalah :
· Banyak tidur dan ngantuk berat, atau sulit tidur tanpa sebab.
· Sering tindihan dan mengigau melontarkan kata-kata kotor dan jorok
· Melakukan gerakan-gerakan aneh, seperti mengunyah dengan keras sampai beradu gigi, atau meniru gerakan hewan.
· Sering mimpi buruk dan seram atau seakan-akan jatuh dari tempat yang tinggi.
· Mimpi melihat binatang-binatang seperti ular, kucing, anjing, singa, srigala, seakan-akan menyerangnya.
· Mimpi ditemui jin yang mengaku arwah nenek moyang atau tokoh tertentu.
· Saat tidur merasa seperti ada yang mencekik lehernya atau menggelitikinya dan menendangnya.
Dalam perjuangan selalu ada saja benalu mengganggu.
kadang lebih enak berjalan sendiri, makin lebar langkah makin dan tak perlu merasa ragu.

Khirqah

Sebagai kata, khirqah berarti pakaian, kain, atau Sobekan kain baju. Sedangkan sebagai istilah, khirqah adalah cenderamata sebagai bentuk pensanadan dan pengijazahan dalam tarekat kesufian. Kesufian atau tasawuf tidak berbeda dengan ilmu-ilmu lainnya, yang memiliki sanad yang tersambung hingga Rasulullah SAW.

Adanya sanad dapat mempertanggungjawabkan kebenaran tasawuf ini. Dan keberadaan sanad ini sekaligus sebagai bantahan terhadap pembenci praktek tasawuf. Dengan demikian pendapat sebagian orang yang mengatakan tasawuf adalah sesuatu yang baru dan bidah adalah pendapat yang tidak memiliki dasar sama sekali.

Penggunaan istilah dengan penyebutan sesuatu yang berbentuk fisik semacam ini hanya sebagai ungkapan lambang, simbolisasi, dari tradisi ilmu-ilmu sufi yang berkembang dikalangan sufi, yang hal tersebut terjadi secara turun menurun dari guru ke murid sebagai sanad.

Selain kata al khirqah, istilah-istilah lain yang biasa digunakan dikalangan sufi adalah ar-rayah (bendera), al-hizam (sabuk), al-ilbas (pengenaan surban, jubah, peci, dan lainnya). Benda-benda fisik ini, sekalipun benar adanya sebagai sesuatu yang turun-temurun sebagai sanad dari guru ke murid, yang menjadi tolak ukur dalam ajaran tasawuf ini bukan semata benda-benda simbolis tersebut, melainkan kandungan atau nilai-nilai yang dibawa dan tersirat dari itu semua, yaitu ajaran tasawuf itu sendiri.

Al-lmam Al-Hafizh As-Sayyid Ahmad bin Ash-Shiddiq Al-Ghumari, mengutip perkataan AI-'Allamah Al-Amir dalam Fahrasat-nya, mengatakan, khirqah, rayah, hizim dan ilbas dalam dunia tasawuf bukan merupakan tujuan utama. Karena benda-benda tersebut hanya benda zhahir. Adapun yang menjadi tujuan utama dalam jalan tasawuf adalah memerangi nafsu, mujahadah an-nafs dan menuntun umat untuk berpegang teguh pada ketentuan syari'at dan sunnah-sunnah Rasulullah, baik secara zhahir maupun secara bathin. Karena itu, dalam muqadimah risalah Ibn 'Arabi yang berjudul Nasab al-Khirqah, yang ditulis Al-Hafizh Al-Ghumari, ia mengutip perkataan imam Malik saat ditanya pengertian ilmu bathin, “ilm al-bathin, "Kerjakanlah olehmu ilmu-ilmu zhahir, maka Allah akan mewariskan kepadamu akan ilmu-ilmu bathin."

Namun demikian, lambang-lambang fisik di atas menjadi tradisi turun-temurun sebagai sanad. yang hal tersebut beberapa di antaranya bersambung hingga Rasulullah. Seperti sanad dalam memakai al-'immah as-sauda', kain atau surban hitam yang dililit di atas kepala. secara turun-temurun di kalangan pengikut tarekat Ar-Rifa'iyyah, baik warna kain maupun tata cara memakainya, yang hal tersebut secara turun-temurun berasal dari Rasulullah.

Lambang-lambang berupa fisik tersebut, selain memiliki makna yang cukup penting dalam kaitannya dengan ajaran-ajaran yang terkandung di balik benda-benda itu sendiri, juga menjadi semacam identitas yang khas di kalangan kaum sufi. Al-khirqah, walau sebagai kata berarti hanya "sebuah pakaian", bahan yang dipergunakan, cara pemakaian, dan lain-lainnya, memiliki kekhususan tersendiri. Contoh lainnya seperti gerakan-gerakan tubuh saat berdzikir. Gerakan-gerakan ini memiliki kekhususan tersendiri yang menjadi identitas atau ciri khas mereka, yang hal tersebut telah menjadi turun-temurun sebagai sanad. Kemudian para ulama juga telah sepakat bahwa ajaran tasawuf menjadi sebuah disiplin ilmu atau sebagai madzhab yang dirintis dan diformulasikan pertama-tama oleh seorang imam agung, sufi besar, AI-'Arif Billah Al-lmam Al-Junaid Al-Baghdadi. Di atas jalan yang beliau rumuskan inilah di kemudian hari para kaum sufi menginjakan kaki-kaki mereka. Karena itu Al-lmam Al-Junaid Al-Baghdadi disebut sebagai pimpinan kaum sufi dan pemuka mereka, Sayyid ath-Tha-ifah ash-Shufiyah.

Seperti halnya dalam fiqih, ajaran-ajaran di dalamnya diintisarikan, diistinbathkan, oleh para ulama mujtahid dari Al-Qur'an dan hadits. Artinya, yang menjadi sandaran utama dalam hal ini adalah ajaran Rasulullah, dengan segala apa yang dibawa oleh beliau. Demikian pula dengan landasan tasawuf, pokok yang menjadi fondasinya adalah Al-Qur'an dan sunnah-sunnah Rasulullah. Al-lmam Al-Junaid Al-Baghdadi memiliki sanad dalam tasawuf, labs al-khirqah, yang bersambung hingga sampai kepada Imam Al-Hasan Al-Bashri, yang diambil dari Amir Al- Muminin Imam AM bin AbiThalib KWH, yang secara langsung didapatkan dari Rasulullah SAW.

Lengkapnya sanad tersebut sebagai berikut: Al-Junaid Al-Baghdadi mendapatkan sanad khirqah kaum sufi dari pamannya sendiri, Imam As-Sirri As-Saqthi, kemudian dari Imam Ma'ruf AI-Karkhi, dari Imam Dawud Ath-Tha'i, dari Imam Habib AI-'Ajami, dari Imam Al-Hasan Al-Bashri, dari Imam Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah, dan terakhir dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Sanad tasawuf ini disepakati kebenarannya di kalangan ulama Ahlus-sunnah wal Jama'ah.

Selain sanad di atas, terdapat juga sanad lain yang memperkuat kebenaran mata rantai Imam Al-Junaid Al-Baghdadi dari pamannya, Imam As-Sirri As-Saqti. Yaitu dari Imam Ma'ruf Al-Karkhi dari Imam Ali Ar-Ridha, dari ayahnya sendiri, Imam Musa Al-Kazhim, dari ayahnya sendiri, Imam Ja'far Ash-Shadiq, dari ayahnya sendiri, Imam Muhammad Al-Baqir, dari ayahnya sendiri, Imam Ali Zainal Abidin, dari ayahnya sendiri, Imam Al-Husain, dari ayahnya sendiri, Imam Ali bin Abi Thalib, dan terakhir dari Rasulullah SAW.

Sanad yang kedua ini sangat kuat. Orang-orang shalih yang teriibat dalam rangkaian sanad ini tidak diragukan lagi keagungan derajat mereka. Sanad kedua ini, di samping sebagai penguat bagi sanad pertama, sekaligus juga sebagai bantahan kepada mereka yang mengingkari sanad pertama. Karena sebagian orang anti tasawuf biasanya mempermasalahkan sanad pertama di atas dengan mempersoalkan pertemuan, al-mu'asharah wa al-tiqa', antara Imam Al-Hasan Al-Bashri dan Imam Ali ibn Abi Thalib. Walau demikian, tentang sanad pertama, mayoritas ulama sepakat menetapkan adanya al-mu'asharah wa ahliqi'antara Imam Al-Hasan Al-Bashri dan Imam 'Ali Ibn Abi Thalib. Di antara yang menetapkan hal tersebut adalah Imam AI-'Allamah Dliya'uddTn Ahmad Al-Witri Asy-Syafl'i Al-Baghdadi dalam kitabnya Raudlah an-Nidlirfn. Imam Al-Witri mengutip perkataan Imam Sufyan Ats-Tsauri bahwa Sufyan Ats-Tsauri berkata, "Al-Hasan Al-Bashri adalah orang yang paling utama di antara yang mengambil pelajaran dari Ali bin Abi Thalib RA." Kemudian Imam Al-Witri berkata bahwa, saat terbunuhnya KhaKfah Utsman bin Affan, Imam Al-Hasan Al-Bashri berada di tempat kejadian. Al-Hasan Al-Bashri saat itu adalah seorang anak yang masih berumur empat belas tahun, yang kemudian tumbuh remaja di bawah bimbingan sahabat 'Ali ibn Abi Thalib.

As-Sayyid As'ad (w. 1016 H/1607 M), seorang mufti di Madinah, membuat risalah pendek berjudul At-Tasyarruf bi DzikrAhl ath-Tashawwuf, tentang sanad ajaran kaum sufi dan sanad khirqah mereka. Kesimpulan tulisannya adalah, sekalipun ada beberapa penghafal hadits, huffazh al-hadits, mengingkari pertemuan antara Al-Hasan Al-Bashri dan Ali bin Abi Thalib, pendapat yang kuat menetapkan bahwa telah terjadi pertemuan kedua orang tersebut Pendapat ini didasarkan pada pernyataan huffazh al-hadits lainnya yang telah menetapkan keberadaan pertemuan tersebut Dan pendapat huffazh al-hadits yang menetapkan keberadaannya didahulukan atas pendapat yang menafikannya, Al-mutsbit muqaddam 'ali an-nifi sebagaimana hal ini telah diketahui dalam kaidah-kaidah ilmu hadits.

Masih menurut Sayyid As'ad, nasab al-khirqah memiliki dasar yang berasal dari Rasulullah sendiri. Dalam menetapkan pendapat ini sebagian ulama mengambil pendekatan dengan hadits Ummu Khalid. Diriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah membawa sebuah baju hitam dengan pernik-pernik berwama kuning dan merah ke hadapan para sahabat-nya, lalu Rasulullah berkata, "Siapakah menurut kalian orang yang hendak aku pakaikan baju ini padanya?"
Semua sahabat terdiam sambil berharap mendapatkan baju tersebut
Kemudian Rasulullah berkata, "Panggillah Ummu Khalid."
Setelah Ummu Khalid datang, Rasulullah memakaikan baju tersebut kepadanya seraya berkata, "Pakailah, semoga banyak memberikan manfaat bagimu." Setelah memakaikan baju tersebut kepada Ummu Khalid lalu melihat pada pernik-pernik wama kuning dan wama merah pada baju sersebut, Rasulullah berkata, "Wahai Ummu Khalid, ini adalah pakaian yang indah."

Termasuk yang dapat dijadikan pendekatan tentang keberadaan nasab al-khirqah Ini adalah riwayat yang telah disebutkan oleh banyak ulama bahwa sahabat Ali bin Abi Thalib dan sahabat Umar bin Al-Khaththab memakaikan khirqah kepada Uwais Al-Qarni. Sebagaimana dikatakan Imam Asy-Sya'rani berikut ini, "Uwais Al-Qarni telah memakai pakaian (ats-tsaub) dari sahabat Umar bin Al-Khaththab dan memakai selendang (ar-rida) dari sahabat All bin Abi Thalib."

Kesimpuian dari ini semua, khirqah kaum sufi memiliki dasar yang tsabit, kuat, daiam hadits. Para pengemban riwayat sanad al-khirqah adalah para imam yang agung dari umat ini. Adapun bahwa beberapa huffizh al-hadits mengingkari nasab al-khirqah, yang dimaksud adalah terbatas pada sanad pengijaza-an jubah (al-jubbah) dan peci (ath-thiqiyah). Benar, dua benda ini sangat erat kaitannya dengan kaum sufi, namun makna al-khirqah secara luas tidak terbatas pada dua benda tersebut Seperti khirqah kaum Tarekat Ar-Rifa'iyyah, yang hal tersebut tidak dapat diingkarf kebenaran sanadnya. Khirqah kaum Ar-Rifa'iyyah rtu adalah imamah, kain atau surban yang dililitkan pada kepala, yang berwama hitam, af-'imamah af-sauda', yang bersambung hingga Rasulullah SAW.

Suatu ketika Rasulullah memakaikan al immh as-sauda' ini kepada Imam 'Ali bin Abi Thalib, sebagaimana hal ini telah ditetapkan dalam kitab-kitab shahih, lalu Rasulullah berkata di hadapan para sahabatnya, "Pakailah oleh kalian 'imamah seperti ini." Kemudian tidak ada perselisihan di antara kaum sufi bahwa sanad tasawuf adalah lewat jalur Al-Junaid dari As-Sirri dari Al-Karkhi dan seterusnya hingga Ali bin Abi Thalib RA. Adapun dasar khirqah kaum Tarekat Rifa'lyyah yang berupa al-'imimah as-sauda' secara jelas disebutkan dalam banyak hadits Rasulullah, seperti dalam riwayat Imam Muslim, Imam Ath-Thabarani, dan lainnya. Di antaranya sebuah hadits dari sahabat Ali bin Abi Thalib, "Pada hari ghadir Khum Rasulullah memakaikan 'imamah hitam kepadaku dengan mengulurkannya sedikit ke bagian belakangku, seraya bersabda:

'Sesungguhnya Allah memberiku pertolongan di hari Perang Badar dan Perang Hunain dengan serombongan malaikat yang mereka semua mengenakan 'imamah semacam ini.' (Kemudian Rasulullah juga bersabda) 'Sesungguhnya Imamah adalah pembatas antara kekufuran dan keimanan*." (HR Abu Musa Ai-Madani dalam kitab as-Sunnah Fi Sadi al-'imamah dan oleh lainnya).
Aku mencintaimu karena ALLOH.. seorang perampok juga bisa mengatakan itu, bahkan tukang perkosa juga bisa mengatakan itu, jadi jangan lihat katanya, lihat APA yang dilakukannya padamu... karena ALLOH, atau karena nafsunya...

KEJADIAN ADAM

Maka tatakala dikehendaki Allah Taala membuat lembaga Adam, maka dikumpulkan air, tanah, api dan udara (panas) lalu Tajlli hak Taala ke tanah itu dengan berbagai Tajlli Sifat dan zatnya maka digengamnya segengam dari bumi itu dengan gengaman Jabrautnya, maka dihantarkannya ia pada alam malakut adalah tanah yang digengam itu pilihan dari segala tanah, maka dengan haq Allah Taala tanah segengam itu dengan beberapa rempah-rempah, bau-bauan, dari Nur Sifatnya, maka diturunkan Allah Taalah hujan pada tanah yang segengam itu.
Dengan Sifat Jalal dan Jamal maka dijadikan lembaga oleh hak Allah Taala akan tanah yang satu gengam itu dengan berbagai nafas alam malik, dan alam malakut itu maka dikirimkan ia lembaga itu pada pihak Qudrat
yang antara bidang "azali" dan "abaad" hingga terjadilah atas segala sabit yang tersebut dari "israkulalzat" dan segala alam yang tersebut dari qamar al-sifat, tetapi tidak menampakkan dan tidak mashur namanya dan segala perinya pada segala malaikat dan segala jin seperti firman allah yang artinya "sesungguhnya telah datang pada adam sesuatu masa yang tidada ada ia sesuatu yang disebut akan dia yakni adalah berlalu pada lembaga adam kira kira 120 tahun lamanya yaitu: -
Pada tanah yang bercampur dengan air kira-kira 40 tahun lamanya.
Pada tanah kering kira-kira 40 tahun lamanya.
Pada tanah hitam busuk sekitar 40tahun lamanya.
Setelah itu maka dipersalinkan hak taala akan lembaga itu dengan persalinan kemuliaan, maka terdidinglah penglihatan segala malaikat dari melihat hakikat rupa lembaga itu dari melihat yang dijadikan allah Taala denga kemulianya dan Samad dan Jalalnya dan Jamalnya dan zatnya pada menyempurnakan akan kejadian lembaga Nabi Allah Adam,
Maka adalah bidik segala malaikat kepada lembaga itu dengan bidik kehinaan pada penglihatan meraka itu karena kurang makrifat mereka itu akan kebesaran dan martabat lembaga itu. dan dibutakan Allah Taala akan mata iblis dari melihat rahasia didalam lembaga nabi allah adam itu sampai dibesarkan dirinya dari lembaga itu.

Berkata segala ulama tetakala diinginkan allah Ta'ala menjadikan nabi allah adam, maka ia berkata seperti yang tersebut dalam alquraan yang artinya, pada saat firman tuhan engkau untuk segala malaikat bahwa sesungguhnya aku hendak menjadikan insan dari tanah, maka firman allah Taala kepada Jibril Alaisalam, Hai Jibril , pergilah engkau ke bumi ambil olehmu tanah dari segala bumi. Aku hendak menjadikan suatu kejadian daripdanya. maka Jibril pun turunlah ke bumi lalu hendak diambilnya akan tanah dari bumi itu maka disumpah oleh bumi akan dia serta berkata demi Allah jangan engkau ambil akan daku, bahwa aku takut dijadikan Allah Taala suatu dari aku tidak kuasa aku menanggung siksa neraka, maka Jibril pun kembalilah kehadrat Allah, maka dipersembah Jibril, Ya Tuhanku engkau jua yang mengetahui bahwa hambamu disumpah oleh bumi ...
Setelah itu maka dititahkan Allah akan Mikail pun mengambilnya akan bumi itu, maka Mikail pun pergilah lalu hendak diambilnya akan bumi itu maka lalu disumpahnya oleh bumi tu akan ia. Maka ia pun kembali ke hadirat Allah Taala dan sembah ia seperti sembah Jibril itu jua.
Setelah itu maka titahkan Allah Taala akan Israfil pula mengambil akan bumi itu, maka Israfil pun pergilah lalu hendak diambil akan bumi itu maka lalu disumpahi akan dia, maka ia pun kembali ke hadirat Allah Taala serta sembahnya seperti sembah Mikail itu jua.

Setelah itu maka dititahkan Allah taala akan Izrail pula, maka Izrail pun pergilah ke bumi hendak mengambil tanah dari bumi itu, maka disumpahnya oleh bumi juga akan dia. Seperti mantra akan Jibril ["dan berkata demi Allah jangan engkau ambil akan daku, bahwa aku takut dijadikan Allah Taala suatu dari aku tidak kuasa aku menanggung siksa neraka"] Maka kata Izrail hai bumi tidak dengan keinginan aku yang aku ambil dari mu maka dikirimkan tangannya dari Musyrik hingga sampai kepada segala bumi maka diambilnya lah dari segala jenis tanah itu dari tanah putih, merah, hitam, kuning, kelabu, dan barang sebaginya maka sebab itulah jadi berlain-lainan rupa pada tubuh nabi allah adam.

Maka dibawa oleh Izrail akan tanah itu kehadrat Taalah serta sembahnya, Ya Saidi Ya Maulana engkau jua tuhan yang terlebih mengetahui akan hal hambamu disumpah oleh bumi inilah tanah yanga ku ambil darinya. Maka Firman Allah Taala, hanya Izrail telah aku ketahui engkau disumpahnya, tetapi sumpahanya itu aku dorong dari mu karena kamu mengerjakan suruhku dan aku serahkanlah kepada mu mengambil NYAWA segala yang aku jadikan itu, maka sembah Izrail, ya Tuhanku jika yang demikian itu jadi berseterulah mereka dengan hamba mu ini.? Maka firman Allah Taala, hai Izrail tidak dapat berseteru mereka itu akan dikau karena aku jadikan baginuya suatu sebab, dengan mati dibunuh, mati dimakan binatang atau tenggelam dalam air atau mati dengan sesuatu penyakit akan dia.

Setelah itu Firman Allah Taala kepada Malaikat, ambil olehmu air empat untuk (bagian), cucurkan ke tanah itu, maka malaikat pun pergilah ke dalam surga mengambil ia air manis, air asam, air putih dan hanyir dan cucur seperti friman allah Taala dalam hadis qudsi , yang artinya aku "hamarkan" lembaga adam dengan dua tangan kudart ku, empat hari maka jadilah dariapda
- Air manis itu air liur
- Dan dari air asam itu air mata
- Dan dari air hanyir itu air hidung
- Dan dari air putih itu air telinga.

Kata Wahab bahwa kejadian Allah Taala akan Nabi Allah Adam itu dari tujuh bumi,
Kepalanya itu dari bumi yang pertama.
Lehernya itu dari bumi yang kedua.
Ddadanya daripda bumi yang ketiga.
Kedua tangan itu dari bumi yang keempat.
Punggung dan perutnya dari bumi yang kelima.
Dan pingangnya dari bumi yang keenam.
Kedua betisnya dan telapak kakinya dari bumi yang ketujuh.
Dan pada satu riwayat kata putra Abas rah telah menjadikan oleh Allah Taala akan jasad Adam als dari segala iklim dunia.
Kepalanya itu dariapda tanah Ka'bah
Dadanya itu dari segala pihak bumi
Belakangnya dan perutnya itu dari tanah Hindi
Dua tanganya itu dari tanah masyrik
Dua kakinya itu daripda tanah Magrib
Dan pada satu riwayat yang lain mereka berkata Ibnu Abbas r. telah menjadi oleh Allah Taala akan jasad Adam als
Kepalanya itu dari tanah Baitul Mukadis itu tempat akal dan cerdik dan berkata-kata.
Mukanya itu dari tanah surga - tempat keelokan dan tempat perhiasan.
Dua telinganya itu dariapda tanah Thursina - itu tempat mendengarkan nasihat.
Dahinya itu itu dari tanah Irak - tempat sujud untuk Allah Taala
Segala kakinya itu dari tanah Kausar
Tangannya yang kanannya dan segala anak jarinya dari tanah Baitul Ka'bah
Tangannya yang kiri itu dari tanah Persia
Dua kakinya dan serta dua bvetisnya itu dari tanah Hindi
Tulang itu daripda tanah Bukit
Uratnya itu dari tanah Negeri Bil Bil
Belakangnya itu dari tanah Irak
Perutnya itu daripda tanah Khurasan
Hatinya itu dari tanah Firdaus
Lidahnya itu daripda tanah Taif
Mata itu dari tanah Hud.
Telah menjadikan Allah taala didalam Adam itu sembilan pintu, tujuh dikepalanya yaitu dua matanya, dua telinganya, dua lubang hidunnya, dan mulutnya. Dan dua lagi qubul dan dubur.
Dan dijadikan pacaindera yang lima itu: -
Penglihatan pada mata
Pendengaran pada telinga
Perasa pada mulut
Penjabat (indera) pada badanya
Penciuman pada hidunnya
Bahwa ROH itu masuk ia dari otaknya, maka berkelilinglah ia didalamnya sebesar 200 tahun, kemudian turun roh itu ke mata maka menilik ia akan dirinya maka melihat ia akan dirinya tanah yang kering maka tetakala sampai ia akan dua telingnya niscaya mendengar ia akan tasbih segala malaikat , kemudian turun ia ke hidungnya maka bersin ia maka tetakal selesai dari bersinnya turunlah ruh itu kemuluntya dan ke lidahnya dan pada kedua telinga dan telah mengajar oleh allah taala akan bahwa berkata ia Alhamdulillah maka menjawab ia akan dia denga kata Ya Harkam robik ya Adam.

Turun ruh itu kedadanya maka segera ia hendak berdiri maka tidak dapat akan dia berdiri itu. Dimulai demikian itu firman allah Ta'ala yang artinya adalah perangai manusia itu sangat segera, maka tetakala sampai roh itu ke ronga perutnya maka inginlah ia akan makan kemudian mesralah roh itu pada sekelian tubuhnya maka jadilah daging dan darah dan urat yang besar-besar dan urat-urat yang kecil dan dianugrahkan oleh allah taalah akan pakaian kulit yang sangath halus seperti KUKU bertambah-tambah tiap tiap hari keelokkan dan Jamalnya. Terpancar Nur Muhammad dengan brseri-seri di wajahnya.
Bertukarlah pakaian kulit seperti kuku itu ke kondisi kulit yang sekarang ini ketika diperintahkah Allah Taala turun Adam turun ke bumi. Sesungguhnya Nabi Allah Hawa itu dari tulang rusuk yang kiri Nabi Allah Adam.

TOKOH TAREKAT ZAMAN BERZAMAN

NAMA TAREKAT PENDIRI berbasis di ADHAMIAH Ibrahim bin Adham Damskus, Syria AHRARIYAH Khuwajah Ubaidullah ahrar AIDRUSIYAH Syed Abu Bakar Al Aidrus AHMADIYAH / IDRISIYAH Syekh Ahmad bin Idris Fez, Moroko Cabang: Sanusiyah, Mirghaniyah, Rasyidiyah, Dandrawiyah, Jaafaraiyah Ajarannya: Tahlil khusus Selawat Azimiah Istifar kabir Alawiyah & Imam Ahmad Isa Al Muahajir Mostaganem, Aljzair HADADIYAH Syed Abdullah Al Haddad - Lebih ringan. Menekankan pada amal, akhlak dan bebrapa wirid dan zikir ringan - Ada 2 wirid utama: Wirid Al Lathif dan Ratib Al haddad - Dikaitkan dengan kaum Alawiyyin @ kaum syed ALIYAH Syed Abdul Ghalib Al Khujdawani ALWANIYAH Syekh Alwan Jiddah, Arab saudi AMMARIYAH Ammar bu senna Constantin, Aljazair ASYAQIYAH Hasanuddin Istanbul, Turki ASYRAFIYAH Asyraf Rumi Linda iznik, turki BADAWIYAH Syed Ahmad Al Badawi cabang: Anbabiyah, Bandariyah, Bailmiyah, Halabiyah, Hamidiyah , Kanasiyah, Salamiyah, Syinawiyah, Suthiyah, Zahidiyah Amalannya: -Selawat an Nur -shalawat al Qabdlah / ar Ra'isiyah -Hizb singkat -amal pada waktu subuh dan isya ' Died: 675 / BAIRAMIYAH hajji Bairam Velli BAAHAIYAH Abdul Ghani Adrianopel, Turki BAHRAMIYAH hajji Bahrami Ankara, Turki BAKRIYAH Syed Abu bakar Wafai BAKHRIYAH Abubakar Wafa'i Aleppo, Suriah BEKTASYI Haji Bektasyi Velli Kir sher, Turki BISTAMIYAH Abu Yazid Al-Bistami Jabal bistam, Iran BURHANIYAH / BURHAMIYAH Shaikh Burhanuddin Ibrahim al Dasuqi Died: 687 H / 1288M CHISTIYAH Khawaja Muinuddin Hassan Sanjari Chisti DANDARAWIYAH Syekh Muhammad Dandarawi DARQAWIYAH Maulai Al Arbi Al Darqawi Moroko DASUKIYAHS Syekh Ibrahim Dasuki GHAZALIYAH Imam Al Ghazali - Menekan pada olah fisik GULSYANIYAH Ibrahim Gulsyani Cairo, Mesir HADDADIYAH Sayyid Abdullah bin alwi bin Hedzjaz, Arab saudi Muhammad Al -haddad IDRISIYAH Syekh Sayyid Aahmad bin Idris Asir, Arab saudi IGHITBASIYAH SyamsuddinMagnesia, yunani JAAFARIYAH Syekh Ja'far JAHARIYAHS Syekh Hujjah Ahmad Syawi JAIDARIYAH Syekh Syah Jaidar JALALIYAH Syekh Sayyid Jalal an Hajjari JISTIYAH Syekh Abu Ahmad Badaruddin JALWATIYAH Pir Uftadi Bursa, Turki JAMALIYAH Jamaluddin Istanbul, Turki KHIDIRIYAHS Syekh Abd Aziz Ad Dabbagh -Berguru langsung dgn Nabi Khidir KHALIDIYAH Syed Sulaiman Zuhdi Al Khalidi KHUWAJAHQIYAH Syed Khuwajah Abdul Khaliq Ghujdwani KUBRAWIYAH Syekh Najmuddin Kubra Khurasan, Iran KHALWATIYAH Syekh Muhammad al-khalwati Kayseri, Turki MADARAIYAH Syekh Madar Maulawiyah Maulana Jalaluddin Ar-Rumi Konya, Anatoliya MAZAHARIYAH Syed Mirza Mazhar Jan janan MIRGHANIYAH Syed Muhammad Usman Al Mirghani MUJADIDIYAH Syekh Ahmad Faruq Sirhindi MURADIYAH Murad syami Istanbul, Turki MURIDIYAH Ahmadu Bamba Died: 1927 Naqsyabandiyah Syekh Bahauddin Al Uwais Bukhari Naqsayabandi. Arifan, Turki Ajaran Asasnya: Ismu Dzat (Allah ), Nafi Isbat (La ilaha Illa Allah) 2 Baz Ghast - kembali kpd Allah 3 Nigah Dasyat - menjaga, memantau, memelihara, bersungguh- sungguh 4 Yad Dasyat - mahal Allah secara bersungguh - Zikir memelihara hati dalam setiap nafas 5 Hosh Dar Dam - sadar dalan nafas / berzikir secara sadar dalam nafas / empat ruang nafas, 2 ruang nafas keluar masuk, dua ruang antara nafas keluar masuk / zikirnya adalah ALLAH 6 Nazar Bam Qadar - Bila berjalan selalu memandang ke arah kakinya, jangan melebihkan pandang, duduk pandang ke depan, merendahkan pandangan, jangan toleh kiri dan kanan 7 Safar dar watan - Bersiar-jalan dalam desa dirinya / meningkatkan dirinya kpd sifat malaikat: - Taubat - Inabat - Sabar - Syukur - Qana'ah - Wara ' - Taqwa - Taslim - Tawakkal - Redha Perjalanan ada dua jenis: a) Perjalanan luar: dari satu tempat ke tempat mencari pembimbing Rohani b) Perjalanan dalam-tinggalkan segala kebiasaan buruk kepada adab tertib yang baik dan mengeluarkan segala isi hainya dari keduniaan (Dalam hatinya akan muncul segala apa yang diperlukan olehnya dalam kehidupan ini dan kehidupan mereka yang berada di sampaingnya) 8 Khalwat dar Anjuman Sendirian dalam keramaian / Khalawt kabir dan jalwat (Bila sudah mencapai fana melalui zikir pikir dan semua indera eksternal difanakan, pada waktu itu indera dalam bebas mengeksplorasi ke alam kebesaran dan keagungan pemerintah Allah SWT.) 9 Wukuf Qalbi - Fokus hati dan hati pula tumpu pada Allah 10 Wukuf Abadi - memperhatikan jumlah ganjil dalam zikir nafi isbat 11 Wukuf zamani - Setelah shalat lakukan beberapa menit selalu memperhatikan hati bertawajjuh kepada Allah - Selang beberapa jam / setiap jam periksa kembali kedaan hati, tetap menjaga hati selalu ingat kepada Allah Cabang: Yasawi - Kwajagan Sidiqiyah - Abu Bakar as Shiddiq Taifuriyah - Abu Yazid Bustami Khawajahganiyah - Abdul Khaliq Ghudjuwani Naqsyabandiyah - Muhammad Bahauddin Ahrariyah - Ubaidullah ahrar Ragamatullah Mujaddidiyah - Syekh Ahmad Faruqi Sirhindi Mazhariyah - Mirza Mashar Jan janan Syahid Aliyah - Shah Abdullah Ghulam Ali Dehlawi Khalidiyah - Syekh Ziauuddin Muahammad Khalid Utsmani Kurdi NIYAZIAH Muhammad NiyazLemnos, yunani NI'MATIYAH Syah Wali Ni'matillah Kirman, Iran NURBAKHSIYAH Muhammad nurbakh Khurasan, Iran NURUDDINIYAH NuruddinIstanbul, turki Qadiriyah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Baghdad, Irak Cabang: Banawa, Ghawtsiyah, Junaidiyah, Kamaliyah, Miyan Khei, Qumaishiyah, hayat al mir (India) Hindiyah, Khulusiyah, Nawshahi, Rumiyah, Nabulsiyah, Wasalatiyyah (Turki) Ahdaliyah, Asadiyah, Mushariyah, Urabiyah, YAFI; iyah dan Zaila'iyah (Yaman) Ammariyah, Bakka'iyah, Bu'aliyah, Mansaliyah, Jilala (Afrika) QALANDIYAH Syekh Syarifuddin Qalandar RASYIDIYAH Syed Ibrahim Al Rasyid RIFA'IYAH Syekh Ahmad Ar-Rifa'iBaghdad, irak SIDIQIYAH Abu Bakar As Sidiq SA'ADIYAH Syed Sadudin Jibawi SADIYAH Sa'duddin jibawi Damaskus, Irak Safawiyah Saifuddin Ardebil, Iran SAMMANIYAH Syekh Muhammad Samman SANUSIYAH Sidi Muhammad bin Ali As-Sanusi Tripoli, Libanon SYAQAFIYAH Syed Saqqaf bin Salam SALAMIYAH Syekh Abdus Salamiyah SAQATIYAH Sirri Saqti Baghdad , Irak SIDDIQIYAH Kiyai.Mukhtar mukti Jawa timur Sinan UMMIYAH Alim Sinan Ummi Alwali, Turki SUHRAWARDIYAH Syekh Syihabuddin Abu Hafs Umar Baghdad, Irak bin Abdullah as-Syuhrawardiyah Died: SUNBULIYAH Sunbul Yusuf Bulawi Istanbul, Turki SYAHRURIYAH Syekh Syihabuddin syamsiyah Syamsuddin Madinah, Arab sudi SYATTARIYAH Abdullah As-Syattar India cabangnya: Ghaustiyah (Muhammad Ghaus) 7 macam dzikir - Zikir Thawaf: Zikir memutar kepala - Zikir nafi isbat: Laa ila hailallah - Zikir isbat faqat: Ilaallah - Zikir ismu zat: Allah - Zikir Taraqqi: Allah hu - Zikir Tanazul: Hu Allah - Dzikir Isim gaib: Hu, Hu SYAZILIYAH Abul Hasan Ali Asy - Syadziliyah Mekkah, Arab saudi - menekankan olahan hati & batiniah - Zikir: Hizb al bahar, Hizb Nashor, Hizb Barr, Hizb al Hafidzah Cabang Tarekat: Qasimiyah, Madaniyah, Idrisiyah, Salamiyah, Handusiyah, Qauqajiyah, Faidiyah, Jauhariyah, Wafaiyah, Azmiyah, Hamidiyah, Faisiyah, Hasyimiyah THAIFURIYAH Syekh Abu Yazid Al Bustami Tijaniyah Syekh Ahmad At-Tijani1 Fes, Morocco Mendapat talqin dari Rasullulah SAW: Istighfar 100 kali Selawat 100 kali Lai illahaillah 100 kali UMM SUNANIYAH Syekh Umm Sunan Istanbul, Turki YASAWIYAH Ahamad Yasawi Turkestan ZAINIYAH Zainuddin Kufah, Irak
walau jarak antara kami, bagai langit dan bumi...
tapi keikhlasan diri, keteguhan dan keyakinan menjadikan keselarasan.
saling mencinta karena ilahi, semua tak ada yang pantas menjadi penghalang.
bertautnya hati pada satu titik tujuan, hakikat kita diciptakan.
walau banyak penghalang dan macam rintangan kita jadikan batu loncatan.
saling meneduhkan dengan payung sabar syukur dengan APA yang diwasiatkan.
dari segala gerik ucap dan perbuatan nabi kita pegang teguh sebagai suri tauladan.

Ibadah Merupakan Kebahagiaan yang Paling Utama Sementara Kefasikan Merupakan Kerugian Nyata

Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu agar kamu bertakwa .

Jika engkau ingin memahami bagaimana ibadah merupakan sebuah bisnis agung dan kebahagiaan terbesar, serta sikap fasik dan bodoh merupakan kerugian dan kebinasaan yang nyata, perhatikan cerita berikut ini:

Pada suatu hari dua orang prajurit menerima perintah untuk pergi ke sebuah kota yang jauh. Keduanya berjalan bersama-sama sampai akhirnya berpisah jalan. Di sana keduanya bertemu dengan seorang pria yang berkata pada mereka:

"Jalan kanan ini, disamping tidak mengandung bahaya, sembilan dari sepuluh para musafir yang melewatinya akan menemukan kelapangan, ketenangan, dan keberuntungan. Adapun jalan sebelah kiri disamping tidak bermanfaat, sembilan dari sepuluh para pelintasnya mengalami kerugian besar. "

Perlu diketahui bahwa kedua jalan tersebut memiliki jarak yang sama. Yang membedakan hanya satu, yaitu pejalan yang melalui sisi kiri-yang tidak mau terikat dengan peraturan dan pemerintah-berjalan tanpa membawa tas barang dan senjata sehingga secara lahiriah ia merasa ringan dan nyaman. Sebaliknya, pejalan yang melalui sisi kanan yang terikat dengan posisi dirinya sebagai prajurit harus membawa tas lengkap berisi perbendaharaan makanan seberat 4 kilo dan senjata negara seberat 2 kilo dimana dengan itu dapat mengalahkan semua musuh. 

Setelah kedua prajurit itu mendengar ucapan pria pemberi petunjuk tadi, orang yang bahagia melewati jalan sebelah kanan. Ia berjalan seraya memikul sejumlah beban, namun hatinya tenang dan jiwanya bebas dari segala ketakutan. Adapun orang yang malang enggan menjadi prajurit dan tidak mau terikat aturan. Dia meniti jalan sebelah kiri. Meski fisiknya bebas dari beban, namun kalbunya dibayang-bayangi oleh rasa berutang budi dan jiwanya tersiksa oleh berbagai darurat yang tak terhingga. Ia melintasi jalannya dengan terus mengemis kepada setiap orang dan cemas terhadap segala hal, dan takut terhadap semua kejadian. Ketika sampai di tempat tujuan ia pun mendapatkan hukuman sebagai balasan atas sikapnya yang lari dan membangkang.

Adapun pejalan yang melintasi jalan sebelah kanan, yang patuh terhadap aturan keprajuritan serta menjaga tas dan senjatanya, berjalan dalam kondisi lapang dan jiwanya tenang tanpa harus mengharap budi baik orang atau takut kepada siapa pun. Ketika sampai di kota tujuan, di sana ia mendapatkan upah yang sesuai dengannya sebagai prajurit yang telah menyelesaikan tugas dengan baik.

Wahai orang yang ceroboh dan liar, ketahuilah bahwa salah satu Dari kedua musafir pada adalah mereka yang taat terhadap hukum Ilahi, sementara yang lain adalah para oposisi yang mengikuti hawa nafsu. Sementara, jalan tersebut adalah jalan kehidupan yang berasal dari alam arwah, kemudian melintasi kuburan guna menuju ke alam akhirat.

Tas dan senjatanya berupa ibadah dan takwa. Betapa pun ibadah tampak berat, namun sebenarnya ia berisi kelapangan yang tak terlukiskan. Hal itu karena seorang abid dalam shalatnya mengucap La ilaha illallah. Artinya, tidak pencipta dan Pemberi Rezeki selain Allah. Manfaat dan bahaya berada di tangan-Nya. Dia Mahabijak yang tidak berbuat sia-sia. Selain itu, Dia juga Maha Penyayang yang kasih sayang dan kebaikan-Nya demikian berlimpah. 

Orang mukmin yakin dengan apa yang ia ucapkan. Karena itu, dalam segala hal ia menemukan pintu yang terbuka menuju khazanah rahmat Ilahi sehingga ia ketuk pintu tersebut dengan doa. Ia pun melihat segala sesuatu tunduk pada perintah-Nya, sehingga ia bersimpuh di hadapan-Nya dengan sikap merendah. Ia membentengi diri di hadapan semua musibah dengan sikap tawakal sehingga imannya membuat dirinya merasa aman dan tenang.

Ya, sumber keberanian dan seluruh kebaikan hakiki adalah iman dan pengabdian. Sebaliknya, sumber segala ketakutan dan seluruh keburukan adalah kesesatan. Andaikan bola bumi menjadi bom yang dapat meledak, barangkali ia tidak akan membuat takut sang abid yang memiliki kalbu bersinar. Bahkan, bisa jadi ia melihatnya sebagai salah satu kodrat Tuhan yang luar biasa sehingga ia merasa kagum dan senang.

Sebaliknya, seorang fasik yang memiliki kalbu mati, meski ia seorang filsuf yang dianggap cerdas, saat melihat meteor di angkasa ia akan merasa takut dan cemas seraya bertanya-tanya, "Mungkinkah bintang ini tabrak ke bumi kita?" Ia terhempas dalam lembah ilusi. (Amerika pernah ketakutan dengan keberadaan meteor yang terlihat di langit sehingga banyak penduduk yang meninggalkan tempat tinggal mereka di saat malam).

Ya, meski kebutuhan manusia terhadap segala sesuatu tak terhingga, namun modalnya nyaris tidak ada. Meski ia dihadapkan pada tes yang tak bertepi kemampuannya juga tidak berarti. Pasalnya, penilaian modal dan kemampuannya sejauh apa yang dapat ia gapai sementara wilayah harapan, keinginan, penderitaan dan cobaannya sangat luas sejauh mata memandang. Karena itu, jiwa manusia yang lemah dan tak berdaya benar-benar membutuhkan berbagai hakikat ibadah dan tawakal, serta tauhid dan sikap pasrah. Keuntungan, kebahagiaan, dan nikmat yang didapat darinya juga sangat besar. Siapa yang penglihatannya masih sehat pasti bisa melihat dan menjangkaunya. Pasalnya, seperti diketahui bahwa jalan yang tidak berbahaya tentu lebih dipilih dari jalan yang berbahaya meski kemungkinan manfaat yang ada padanya satu banding sepuluh. 

Terlebih persoalan kita ini, yakni jalan ibadah, di samping tidak berbahaya dan kemungkinan manfaatnya sembilan puluh persen, ia juga memberikan kepada kita perbendaharaan kebahagiaan abadi. Sebaliknya, jalan kefasikan dan kebodohan-seperti pengakuan si fasik itu sendiri-di samping tidak memberi manfaat ia juga menjadi sebab datangnya derita dan kebinasaan abadi disertai kerugian dan tidak adanya kebaikan. Hal ini adalah sesuatu yang pasti berdasarkan kesaksian kaum yang ahli di bidangnya di mana sampai pada tingkat mutawatir dan ijma . Ia adalah sebuah keyakinan yang kuat sesuai dengan informasi dari kalangan yang memiliki cita rasa dan mencapai tingkatan kasyaf.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa sebagaimana akhirat, kebahagiaan dunia juga terletak pada ibadah dan menjadi prajurit Allah. Karena itu, kita harus senantiasa mengucap alhamdulillah pada ketaatan dan taufik yang Allah berikan. Kita wajib bersyukur kepada-Nya karena kita menjadi muslim.
Bagaimana pengajaran tasawuf oleh Syeikh Abdul Qadir Jilani?

JAWABAN:

Dr. Abdullah Muhammad Zin berkata: Pengajaran tasawuf al-Jilani dicatat di dalam beberapa bukunya seperti Futuh al-Ghayb, al-Ghunyah li Talibi Tariq al-Haqq dan al-Fath al-Rabbani . Informasi tentang tasawuf beliau juga tersedia dalam buku al-Fuyudat al-Rabbaniyah fi al-Maathir wa al-Awrad al-Qadiriyyah susunan al-Hajj Ismail Ibn al-Sayyid Muhammad Sayid al-Qadiri, Bahjah al-Asrar karangan al-Shattanawfi dan dalam kitab-kitab manaqib yang lain.

Pengajaran tasawuf al-Jilani umumnya sesuai dengan ajaran Islam, doktrinnya tidak bertentangan dengan al-Quran dan al-Sunnah. Jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh sufi yang lain, ia sangat strict berpegang dengan syariah. Al-Jilani berpendapat bahwa tujuan tasawuf adalah mudah yaitu mematuhi syariah dan menjadi hamba yang beriman dengan Allah Tidak ada hal yang lebih tinggi dari Ma'rifah al-Tauhid (al-Jilani t.th 36). Beliau dikenal sebagai sufi yang bermazhab Hanbali. Pendapat dan praktek beliau dalam tasawuf pada umumnya tidak berbeda atau bertentangan dengan ulama-ulama mazhab Hanbali yang lain. Sebagai contoh, konflik telah terjadi di zaman fuqaha ( jurists ) dengan para sufi pada zaman al-Jilani seperti yang disebut oleh Ibn al-Jawzi dalam kitabnya Tablis Iblis , (Ibn al-Jawzi t.th) tetapi al-Jilani tidak terlibat.

Al-Jilani berpendapat bahwa tasawuf harus menyerahkan sepenuhnya kepada risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw sebagaimana yang terdapat di dalam al-Quran dan al-Sunnah. Ia menolak gagasan bahwa ilham bisa merubah hakikat-hakikat yang ada di dalam al-Quran dan al-Sunnah. Ia juga berpendapat amalan zuhud didorong, tetapi diperbolehkan asalkan ia tidak mengabaikan kewajiban atau perintah-perintah syariah yang lain. Namun tinggi posisi yang diperoleh seseorang sufi, apakah pangkat 'badal' atau 'watad' atau 'Qutub' atau 'ghawth' , dia tidak bisa sampai kepada kenabian dan tidak bisa mengubah apa yang dibawa oleh Nabi.

Pendapat-pendapat di atas bisa kita temukan dalam bukunya al-Ghunyah li Talibi tariq al-Haqq . Di dalam buku ini al-Jilani menjelaskan secara ringkas semua hal yang penting dan mendasar syariah. Di bagian akhir buku ini, beliau menulis satu bab yang menjelaskan pendapatnya tentang tasawuf. Tasawuf kepada al-Jilani adalah merupakan dimensi internal ( inner dimension ) untuk agama Islam, ia tidak dapat dipisahkan dari syariah. Seorang sufi sekaligus yang pakar dalam bidang Feqah ( Islamic jurisprudence ) seperti yang disebut oleh al-Sha'rani (al-Sya'rani 1973:163).

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang pengajaran tasawuf al-Jilani, di bawah ini diterjemahkan secara ringkas sebuah nasihat yang disampaikan oleh beliau kepada anaknya, Abd al-Razzaq.

Isi nasihat itu adalah seperti berikut:

"Wahai anakku, aku menasihati kamu agar bertakwa kepada Allah, mentaatinya, melaksanakan syariah dan menjaga hudud Allah. (Menjaga hudud Allah berarti bahwa menjauhi semua larangan-larangan Allah, meskipun kecil) sebagaimana kamu mengetahui wahai anakku, bahwa tarikat kita (tarikat Qadariyyah) ini didirikan berdasarkan al-Quran dan al-Sunnah, kesejahteraan jiwa, murah hati (generosity), terbuka (openhandedness), menahan dari kekerasan, menanggung kesulitan dan kemaafan (forgiveness).

Aku menasihatimu agar menerapkan Faqr, yaitu menjaga kehormatan guru-guru. Menjaga hubungan baik dengan saudara-saudara (seagama), memberi nasihat kepada anak-anak dan orang-orang dewasa, menjauhi dari menimbulkan keributan kecuali dalam hal agama. Bahwa kamu tidak membutuhkan orang yang sepertimu dan hakikat ghina (artinya dari segi bahasa kaya) bahwa kamu bebas dari orang-orang yang seperti kamu dan tasawuf itu memiliki satu kondisi bukan untuk orang-orang yang mengamalkan il wa qal, apabila kamu melihat orang- orang kafir, maka janganlah kamu memulai dengan ilmu dan harus menggunakan cara lembut karena ilmu bisa meliarkannya dan cara lembut bisa menjinakkannya.

Kamu juga mengetahui wahai anakku bahwa tasawuf itu didirikan di atas delapan sifat (tinggi) yaitu: pertama, pemurah (sakha / generosity); kedua, ridha (cheerful submission); ketiga, sabar (patience); keempat, sinyal; kelima, berjauhan ( ghurbah / solitude); keenam, memakai pakaian dari bulu (lubs al-sufi); ketujuh, mengembara (siyahah / taravelling); kedelapan Faqr. Pemurah adalah sifat Nabi Ibrahim AS, redha adalah sifat Nabi Ishak as, sabar adalah sifat Nabi Ayyub as, sinyal adalah sifat Nabi Zakaria as, perjauhan adalah sifat Nabi Yusuf as, memakai pakaian dari buku adalah sifat Nabi Yahya as, mengembara adalah sifat Nabi Isa as dan Faqr adalah sifat Nabi Muhammad saw

Wahai anakku, hendaklah engkau mencampuri orang-orang kaya dengan secara terhormat dan mencampuri orang-orang miskin secara merendah diri. Kamu harus mengamalkan sifat ikhlas yaitu kamu melupakan makhluk dengan berfokus sepenuhnya kepada Allah. Janganlah kamu menuduh Allah dalam kondisi-kondisi tertentu, Bertenanglah kepada Nya dalam semua hal. Janganlah kamu berserah (bertawakal) kepada orang lain disebabkan adanya kekerabatan, jalinan kasih sayang dan persahabatan.

Menjadi kewajiban atas kamu juga supaya melayani orang-orang miskin dengan tiga hal: pertama, rendah diri (tawaduk); kedua, berakhlak luhur; ketiga, kejerniham jiwa. Engkau juga diharuskan membunuh nafsu kamu yang rendah sehingga ia bisa hidup. Makhluk yang hampir kepada Allah adalah orang yang paling sempurna akhlaknya. Dan praktek yang paling baik adalah menjaga sir agar tidak berpaling kepada selain Allah.

Menjadi kewajiban ini ke atas kamu, ketika kamu berada bersama orang-orang miskin ingat mahal agar bersabar dan hak. Adalah cukup untuk kamu di dunia ini melakukan dua hal, yaitu berteman dengan orang-orang miskin dan menghormati wali.

Sebagaimana yang engkau ketahui wahai anakku, bahwa orang fakir itu tidak membutuhkan sesuatu apa pun melainkan Allah Dan seperti engkau ketahui juga bahwa bertindak atas orang-orang yang berkedudukkan rendah adalah suatu kelemahan dan bertindak atas orang yang memiliki kedudukkan tinggi adalah satu kemegahan. Faqr da tasawwuf adalah dua hal yang serius, oleh itu, ia tidak bisa dicampuri dengan hal yang hina.

Ini adalah nasihat yang aku sampaikan kepada kamu dan orang-orang lain yang mendengarnya dari kalangan murid-murid. Didoakan semoga Allah memberi taufik kepada kamu dan kita semua karena telah menerangkannya. Diharapkan semoga Allah menjadikan kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mengikuti jejak langkah al-Salaf al-Saleh ...... "
Apakah yang dimaksud dengan mujahadah?

JAWABAN

Mujahadah adalah saluran terpenting bagi seorang sufi untuk mencapai tujuannya yang suci. Dengan kekuatan mujahadah ini, akan dapat menghancurkan runtunan dan ajakan nafsu dan lintasan-lintasan jahat di hati. Ibrahim bin Adham berkata:

Seseorang tidak akan dapat mencapai derajat solihin melainkan ia terlebih dahulu harus melewati enam hambatan. Halangan pertama adalah pintu nikmat akan terkunci dan pintu kesusahan akan dibuka. Kedua, pintu istirahat akan ditutup dan pintu usaha keras akan dibuka. Ketiga, pintu kebanggaan akan ditutup dan pintu kehinaan akan dibuka. Keempat, pintu tidur akan ditutup dan pintu berjaga malam akan dibuka. Kelima, pintu kekayaan akan ditutup dan pintu kefakiran akan dibuka. Keenam, pintu angan-angan akan ditutup dan pintu persediaan menghadapi maut akan dibuka.

Gambaran perjalan sufi yang dijelaskan barusan adalah merupakan jihad yang sulit. Bahkan ia juga adalah satu langkah untuk mencapai istirahat yang sebenarnya dengan ma'rifatullah . Hakikat ma'rifatullah inilah yang menjadi tujuan yang diburu oleh mukmin yang berakal di dunia ini. Tidak ada di sana yang paling tinggi, cantik, indah, bahagia dan kekal selain seorang insan itu dapat mengenal Pencipta alam semesta yakni Allah. Apakah seorang insan itu akan kehilangan sesuatu lagi jika ia telah sampai ke tujuan tertinggi itu?

Sesungguhnya bermujahadah melawan godaan nafsu adalah satu-satunya jalan untuk seorang insan itu untuk menang mengendalikan hawa nafsunya. Hakikat ini dijelaskan oleh firman Allah dalam surat al-Ankabut, ayat 69 yang artinya:

"Dan orang-orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh karena memenuhi kehendak agama Kami, sesungguhnya Kami akan memimpin mereka ke jalan-jalan Kami (yang menjadikan mereka bergembira serta memperoleh kesenangan); dan sesungguhnya (pertolongan dan bantuan) Allah adalah beserta orang-orang yang berbuat baik. "

Seorang murid itu bisa dikatakan kuat dan mantap ma'rifahnya kepada Allah selagi dia belum dapat membebaskan dirinya dari godaan syahwat dan keinginan nafsu jahatnya. Para sufi mengatakan bahwa jihad melawan nafsu adalah jihad akbar , karena jihad melawan hawa nafsu ini samalah artinya memerangi musuh yang tidak terlihat. Ia juga dianggap satu perang yang sangat sulit karena harus menggunakan senjata-senjata yang luar biasa.
Apakah persyaratan syeikh/guru tasawuf?

JAWABAN

Golongan tasawwuf tidaklah secara membuta tuli menurut kehendak syeikh. Tetapi setiap murid yang cerdas harus melihat kepada tanda-tanda dan alamat yang spesifik dan terang dan menggunakan akalnya untuk mengenal hakikat syeikh yang sebenarnya. Ibn `Ataillah al-Sakandari berkata: Janganlah kamu bersahabat dengan orang yang diri dan perkataannya tidak membantu kamu untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Inilah pedoman yang dijelaskan oleh Ibn `Ataillah al-Sakandari tentang syeikh tariqat yang menjadi contoh teladan dan panutan. Ada beberapa sifat syeikh yang menjadi ikutan. Anggota tasawwuf mengatakan: Syeikh adalah seorang yang mengamalkan tariqat melalui bimbingan seorang syeikh yang telah sampai kepada Allah. Lalu meningkat dari maqam-maqamnya tertentu yang dimulai dari maqam taubat ke maqam musyahadah. Setelah dia mencapai maqam yang tertinggi, dia kembali ke praktek syariat biasa dan membimbing manusia dengan beberapa tingkat dalam tariqat, lalu dibuka kepada mereka dengan izin Allah pintu-pintu dimana mereka akan memperoleh cahaya hakikat.

Kata sebagian yang lain: Antara tanda seseorang syeikh adalah dia memiliki ilmu yang benar, rasaan rohani ( ذوق ) yang jelas, hemah yang tinggi, perawakan yang diridhai dan mata hati yang selalu terbuka ( بصيرة ). Pendapat yang lain adalah: Siapa yang memiliki lima merek ini maka itu bukanlah syeikh yang sebenarnya yaitu jahil tentang agama, tidak menjaga kehormatan orang Islam, melakukan sesuatu yang tidak berguna, berakhlak jelek dan mengikuti hawa nafsu.

Para ulama sufi telah menulis sejumlah besar kitab yang khusus membicarakan tentang adab-adab syeikh dan sifat-sifat yang harus ada padanya sehingga bisa dijadikan panutan oleh para murid mereka.

Kata Abu Madyan pula: Siapa yang mengklaim hampir kepada Allah tetapi tampak pada dirinya lima hal berikut, sesungguhnya dia adalah seorang pendusta dan tidak berakal yaitu, melakukan maksiat dengan anggota badannya, melakukan tender `ah dalam ketaatan kepada Allah, haloba dengan sesuatu yang dimiliki oleh orang lain, kurang beribadah dan tidak menjaga kehormatan umat Islam sesuai yang diperintahkan oleh Allah. Jadi seseorang yang bersifat seperti harus dijauhi.
Bagaimana muncul kata sufi atau tasawwuf?

JAWABAN

Di dalam buku Mengenal Ilmu Tasawwuf , dinyatakan: Hidup spiritual semakin berkembang. Perkembangan ini dapat dideteksi dari kelahiran gelar baru mulai diperkenalkan sebutan ahli sufi. Istilah ini masih tetap mengandung unsur kezuhudan dan iftiqar tetapi di samping itu mengandung unsur yang lainnya yang merintis jalan ke Kasf al-haqiqah.

Sejauh yang dapat dibuktikan oleh sumber tasawwuf bahwa gelar ini telah lahir pada pertengahan abad kedua hijrah. Menurut Hilyah al-Awliya ' bahwa orang yang pertama kali diberikan gelar ahli sufi adalah Abi Hasyim al-Kufi (w. 150H) karena cara dan perjalanan hidupnya yang mengikuti cara hidup Rasulullah dan para sahabat, yang lebih mengutamakan cara hidup yang sangat bersahaja tidak terpengaruh dengan kesenangan dan kemewahan hidup dunia.

Demikian juga, gelar ini diberikan kepada anggota zuhud yaitu Jabir bin Hayyan dan kepada anggota zuhud di Kufah seperti Abd al-Sufi, Mansur bin Ammar. Di Basrah pula gelar ini diberikan ke Abu Hassan al-Basri. Penggunaan ini semakin populer seperti Malik bin Dinar, Abd al-Wahid bin Yazid dan lain-lain. Di Mesir gelar ini mulai dikenal pada akhir abad kedua hijrah seperti yang dicatitkan oleh al-Kandi:

Telah laihir di Iskandariah satu kelompok yang menamakan dirinya anggota sufi yang menjalankan tugas Amr Makruh dan nahy Munkar seperti yang dipercayainya. Kelompok ini diketahui oleh seseorang yang bernama Abdul-Rahman al-Sufi.

Sejalan dengan kelahiran gelar ini, pengertian zuhud sudah merupakan suatu yang khusus sebagai salah satu dari tingkat untuk menjadi seorang sufi. Ini dapat dideteksi dari hasil-hasil karya puisi mereka seperti Rabi`ah al-Adawiyah , Sufyan al-Thauri (160H), Abd al-Wahid bin Zaid (177H) dan Shaqiq al-Balkhi (194H).

Perubahan ide kezuhudan dalam tingkat ini memberikan gambaran tentang zaman transisi atau proses transisi dari golongan atau istilah ahli zuhud pada istilah ahli sufi. Ini dapat dijelaskan bahwa gelar sufi atau tasawwuf dalam tingkat awal ini memiliki arti sama dengan makna kezuhudan, kefakiran dan ibadah, yang kemudian berkembang dari makna yang tersebut kepada makna yang lebih luas.
Apakah tujuan mempelajari tasawwuf?

JAWABAN

Tujuan tasawwuf itu adalah seperti berikut:
Ma'rifah Allah dengan cara beribadah kepada-Nya dengan cara keras dalam beribadah.
Penyucian, pembersihan dan peningkatan jiwa sehingga ia layak memperoleh ma'rifah Ilahi.
Membangun masyarakat yang sejahtera dengan dasar yang baik, akhlak yang mulia, berpegang dengan aturan agama dan jalan-jalan rahasia kesufian yang meningkatkan martabat praktisi.
Apakah judul diskusi tasawwuf?

JAWABAN

Zat yang Maha Tinggi untuk ma'rifah-Nya dengan dalil. Juga jiwa, hati dan ruh untuk mentazkiyahnya. Selain masalah akhlak dengan memasukkan akhlak yang mahmudah/terpuji dan meninggalkan akhlak yang mazmumah/tercela.
Apakah manfaat mempelajari ilmu tasawwuf?

JAWABAN

Untuk mendidik hati dan ma'rifah Allah mengetahui, seperti kata Ibn `Ajibah: Buah hasilnya adalah kelapangan (mulia) nafsu, selamat dada dan akhlak yang mulia bersama setiap makhluk.
Apakah hukum mempelajari tasawwuf?

JAWABAN

Imam al-Ghazali berkata: Hukumnya fardhu ain karena manusia tidak sunyi dari aib atau sakit kecuali para anbia.
Syeikh al-Syazili berkata: Siapa yang tidak menceburi ilmu kita ini, niscaya dia mati dalam dosa besar yang tidak disadarinya.

Syeikh Dahlan al-Kadiri di dalam kitabnya Siraj al-Talibin menyatakan bahwa hukum belajar tasawwuf adalah wajib `aini pada setiap orang mukallaf. Hal ini adalah karena sebagaimana wajib islah yang lahir, begitu juga islah yang batin. Imam Malik mengungkap:

Maksudnya:
Siapa bertasawwuf tanpa fiqih, sesungguhnya dia kafir zindiq,

Siapa memiliki fiqih tanpa bertasawwuf sesungguhnya dia fasiq,
Siapa mengumpulkan keduanya niscaya dia tahqiq.

Ibn `Ajibah berkata: Jadi zindiq pada ayat yang pertama karena pengucap dengan cara terpaksa yang menyebabkan nafi hikmah dan segala hukum manakala fasiq pada ayat kedua karena tanpa ilmu dari tawajjuh yang benar yang mencegah dari maksiat Allah dan dari ikhlas yang disyaratkan pada praktek. Sementara tahqiq pada ayat ketiga adalah karena dapat melaksanakan hakikat pada zatnya yang berpegang dengan haq. Justru ketahuilah yang demikian itu karena tidak ada baginya kecuali padanya seperti tidak sempurna baginya kecuali dengan-Nya. Maka fahamlah.
Apakah yang dimaksud dengan tasawwuf dari segi istilah?

JAWABAN
Ma'ruf al-Karkhi mengatakan bahwa tasawwuf adalah ketergantungan harap kepada Allah dan tidak kepada makhluk.

Menurut Abu Turab al-Nakhsyabi: Sufi itu adalah seseorang yang tidak dikotori oleh sesuatu bahkan bersih dari semua hal.
Sahl bin Abdullah al-Tustari berkata: Sufi itu adalah seseorang yang bersih dari maksiat, selalu berpikir dan berpegang teguh dengan Allah dan tidak dengan manusia. Dengan demikian, di sisinya tidak ada apa-apa perbedaan antara emas dan lumpur.
Al-Jurairi pula menyatakan bahwa: Tasawwuf adalah perlakuan akhlak yang tinggi dan memberikan perlakuan yang keji.

Al-Kattani menegaskan bahwa: Siapa yang memberi kamu akhlaknya yang terpuji maka dia telah menambahkan kebersihan jiwamu.

Dr. Abu al-Wafa 'al-Taftazani berkata: Karena itu tasawwuf pada dasarnya adalah akhlak, dengan pengertian ini tasawwuf adalah ruh Islam karena seluruh rukun Islam didasarkan pada akhlak.
Ulama berselisih pendapat dalam mendefinisikan tasawwuf sehingga melebihi 2000 definisi. Tetapi yang terkenal hanya beberapa definisi. Antaranya:
Pakaian yang diambil dari bulu binatang صوف yang menjadi pakaian kebanyakan ahli tasawwuf. Inilah pendapat yang masyhur di kalangan ulama.

Sempena nama seorang abid, yaitu Sufah bin Murrah, seorang penjaga Ka'bah pada zaman jahiliah yang terkenal dengan kuat beribadah.

Berasal dari kalimat الصف yang berarti shaf shalat karena anggota tasawwuf berada di shaf depan ketika shalat.
Berasal dari kalimat الصفاء yang melambangkan kesucian hati dan bersih dari sifat-sifat mazmumah. Inilah pendapat Syeikh Sya'rawi dengan melihat ke asal kata terbitan sufi ini. Syeikh Abdul-Qadir al-Jailani dalam kitabnya al-Ghunyah menyatakan bahwa kata sufi itu dari kalimat bersih dan suci.

Berasal dari kalimat الصفة , yaitu tempat di utara masjid Nabi saw yang menjadi tempat bermalam bagi orang asing seperti Muhajirin di kalangan sahabat yang zuhud lagi fakir. Menurut riwayat Imam al-Bukhari dari Abu Hurairah berkata: Aku pernah melihat 70 orang dari kalangan ahli suffah yang tinggal di tempat tersebut.
Berasal dari kalimat سوفيا atau سوف yaitu bahasa Yunan yang berarti hikmah sebagaimana pernyataan al-Bairuni. Justru, kalimat filosof dari Fila Sufia yang berarti cintakan hikmah.

Setelah melihat ke pendapat ulama dan penghujahan mereka, kami temukan maksud tasawwuf itu dari kain bulu lebih kuat berdasarkan pada kaidah bahasa Arab. Tetapi dari segi hakikat dan tujuan kalimat tasawwuf lebih kepada makna ( الصفاء ) karena kitab-kitab dan ajaran mereka sarat dengan saran, nasihat dan panduan ke arah menyucikan hati. Justru, inilah yang lebih sesuai berdasarkan pada perubahan zaman, waktu dan tempat yang sangat nadir mereka memakai pakaian bulu mutaakhir ini. Sebaliknya majelis mereka, apakah pengajaran, zikir dan lain-lain lagi menjurus kepada tujuan pembersihan jiwa dan hati.
Ketahuilah bahwa ada dua macam manusia. Yang pertama adalah manusia yang dikaruniai kebaikan-kebaikan duniawi. Yang kedua adalah manusia yang diuji dengan ketentuan-Nya. Manusia yang mendapatkan kebaikan duniawi, tak bebas dari noda dosa dan kegelapan dalam menikmati yang mereka dapatkan itu. Manusia semacam itu bermewah-mewah dengan karunia duniawi ini. Bila ketentuan Allah datang, yang menggelapi sekitarnya melalui aneka musibah yang berupa penyakit, penderitaan, kesulitan hidup, sehingga ia hidup sengsara, dan tampak seolah-olah ia tak pernah menikmati sesuatu pun. Ia lupa akan kesenangan dan kelezatannya. Dan jika kecerahan menimpanya, maka seolah-olah ia tak pernah mengalami musibah. Sedang jika ia mengalami musibah, maka seolah-olah tiada kebahagiaan. Semua ini disebabkan oleh pengabdian terhadap Tuhannya. Nah, jika ia telah tahu bahwa Tuhannya sepenuhnya bebas bertindak sekehendak-Nya, mengubah, memaniskan, memahitkan, memuliakan, menghinakan, menghidupkan, mematikan, memajukan dan memundurkan - jika ia telah tahu semua ini, maka ia tak merasa bahagia di tengah-tengah kebahagiaan duniawi dan tak merasa bahagia di tengah-tengah kebahagiaan duniawi dan tak merasa bangga karenanya, juga tak berputus asa akan kebahagiaan di kala duka. Perilaku salahnya ini disebabkan juga oleh ketaktahuannya akan dunia ini, yang sebenarnya tempat tes, kepahitan, kebodohan, kepedihan dan kegelapan. Jadi kehidupan duniawi itu bak pohon gaharu, yang rasa pertamanya pahit, sedang rasa akhirnya manis seperti madu, dan tiada seorang pun dapat merasakan manisnya, sebelum ia merasakan pahitnya. Tak seorang pun dapat mengecap madunya, sebelum ia tabah atas Kepahitannya. Maka, barangsiapa tabah atas cobaan-cobaan duniawi, maka ia berhak mengecap rahmat-Nya. Tentu, seorang pekerja harus diberi upah setelah keningnya berkeringat, tubuh dan jiwanya letih. Maka, bila orang telah merasa semua kepahitan ini, maka datang kepadanya makanan dan minuman lezat, pakaian yang bagus dan kesenangan meski sedikit. Jadi, dunia adalah sesuatu, yang bagian pertamanya adalah kepahitan, bagai pucuk madu di sebuah bejana yang berbaur dengan kepahitan, sehingga si pemakan tak mungkin mencapai dasar bejana, dan yang dimakannya hanyalah madu murninya sampai ia mengecap pucuknya. Nah, bila hamba Allah telah berupaya keras menunaikan perintah Allah, Yang Maha Perkasa lagi Maha agung, menjauh dari larangan-Nya, dan pasrah kepada-Nya, maka bila ia telah merasa Kepahitannya, menahan bebannya, berupaya melawan kehendaknya sendiri dan mencampakkan maksud-maksud pribadinya, maka Allah mengurniainya, sebagai hasil dari ini, kehidupan yang baik, kesenangan, kasih-sayang dan kemuliaan. Maka jadilah Ia walinya dan menyuapinya persis seperti seorang bayi yang disuapi, yang tak berdaya, yang tak berupaya keras di dunia ini dan di akhirat, yang juga seperti pemakan pucuk pahit madu yang mengecap dengan lahapnya bagian bawah isi bejana. Nah, patutlah bagi sang hamba yang telah dikaruniai oleh Allah, untuk tak merasa aman dari cobaan-Nya, untuk tak merasa yakin akan kekekalannya, agar tak lupa bersyukur atasnya. Nabi Suci saw. berkata:

"Kebahagiaan duniawi merupakan sesuatu yang ganas; maka jinakkanlah ia dengan syukur."

Jadi, mensyukuri rahmat berarti mengakui sang pemberinya, Yang Maha pemurah, yaitu Allah, senantiasa mengingatnya, tak mengklaim atas-Nya, tak mengabaikan perintah-Nya, dan diiringi dengan penunaian kewajiban terhadap-Nya, yakni mengeluarkan zakat, membersihkan diri, bersedekah, berkorban sebagai nazar, meringankan beban penderitaan kaum lemah dan membantu mereka yang membutuhkan, yang mengalami kesulitan dan yang keadaannya berubah dari baik menjadi buruk, yaitu, yang masa-masa bahagia dan harapannya telah berubah menjadi kedukaan. Bersyukurnya anasir tubuh atas rahmat berupa digunakannya anasir tubuh itu untuk menunaikan perintah-perintah Allah dan mencegah diri dari hal-hal yang haram, dari kekejian dan dosa. Inilah cara melestarikan rahmat, mengairi tanamannya dan memacu tubuhnya dedahanan dan dedaunannya; mempercantik buahnya, memaniskan rasanya, memudahkan penelanannya, mengenakkan pemetikannya dan membuat rahmatnya mewujud di seluruh organ tubuh lewat berbagai tindak kepatuhan kepada-Nya, seperti lebih mendekatkan diri kepada-Nya dan senantiasa mengingat-Nya, yang kemudian memasukkan sang hamba, di akhirat, ke dalam kasih-sayang-Nya, Yang Maha Perkasa lagi Maha agung, dan menganugerahinya kehidupan abadi di taman-taman surga bersama dengan para Nabi Suci, shiddiq, syahid dan shalih - inilah suatu kebersamaan yang indah. Namun, jika tak terjadi begini, mencintai keindahan lahiriah kehidupan semacam itu, asyik menikmatinya dan puas dengan gemerlapnya fatamorgananya, yang kesemuanya bagai embusan sepoi angin dingin di pagi musim panas, dan bagai lembutnya kulit naga dan kalajengking; dan menjadi lupa akan bisa mautnya dan tipuannya - kesemuanya ini akan menghancurkannya - orang seperti itu harus diberi kabar-kabar gembira tentang penolakan, kehancuran yang segera, kehinaan di dunia ini dan siksaan kelak dalam api neraka nan abadi. Cobaan pada manusia - kadang berupa hukuman atas pelanggaran terhadap hukum dan atas dosa yang telah diperbuatnya. Kadang berupa pembersihan noda, dan kadang pula berupa pemuliaan maqam ruhani manusia, yang baginya rahmat Tuhan semesta terkurniakan sebelumnya, yang melalukannya dari bencana dengan kelembutan, sebab cobaan semacam itu tak dimaksudkan untuk menghancurkan dan mencampakkannya ke dasar neraka, tapi, dengan begini, Allah mengujinya untuk dipilih dan mewujudkan darinya hakikat iman, mensucikannya dan bersih dari kesyirikan, kebanggaan diri, kemunafikan, dan membuat karunia cuma-cuma, sebagai pahala baginya, dari berbagai pengetahuan, rahasia dan nur. Nah, bila orang ini menjadi bersih ruhani dan jasmani, dan hatinya menjadi suci, berarti Ia telah memilihnya di dunia ini dan di akhirat - di dunia ini yakni melalui hatinya, sedang di akhirat yakni melalui jasmaninya. Maka segala bencana menjadi pencuci noda kesyirikan dan pemutus hubungan dengan manusia, sarana duniawi dan dambaan-dambaan, dan menjadi pelebur kesombongan, keserakahan dan harapan akan imbalan surga atas penunaian perintah-perintah. Cobaan yang berupa hukuman menunjukkan adanya kekurang sabaran atas cobaan-cobaan ini, dengan mengaduh dan mengeluh kepada orang. Cobaan yang berupa penyucian dan penyirnaan kelemahan menunjukkan maujudnya kesabaran, ketak-mengeluhan kepada sahabat dan tetangga, penunaian perintah-perintah, ketak engganan dan kepatuhan. Cobaan yang berupa pemuliaan maqam menunjukkan adanya keridhaan, kedamaian dengan kehendak Allah, Tuhan bumi dan langit, dan penyangkalan diri sepenuhnya dalam cobaan ini, sampai saat berlalunya.
Nabi Suci saw. bersabda dari Rabnya: "Barangsiapa senantiasa mengingat-Ku dan tak sempat minta sesuatu pun dari-Ku, maka akan Kuberikan kepadanya yang lebih baik dari yang Kuberikan kepada mereka yang meminta."

Hal ini dikarenakan bila Allah menghendaki seorang mukmin untuk maksud-maksud-Nya sendiri, maka Ia melalukannya melalui aneka kondisi ruhani, dan mengujinya dengan aneka upaya dan musibah. Lalu Ia membuatnya sedih setelah senang, dan membuatnya hampir minta kepada orang, sedang tidak jalan terbuka baginya; lalu menyelamatkannya dari meminta dan membuatnya hampir meminjam kepada orang. Lalu Ia menyelamatkannya dari meminjam, dan membuatnya bekerja mencari nafkah dan memudahkan baginya. Maka hiduplah ia dengan perolehannya, dan hal ini sesuai dengan sunnah Nabi. Tapi, kemudian, Ia membuatnya sulit mendapatkan rezeki dan memerintahkannya, lewat ilham, untuk meminta kepada manusia. Inilah sebuah perintah tersembunyi yang hanya diketahui oleh orang yang bersangkutan. Dan Ia membuat permintaan ini sebagai pengabdiannya dan berdosa melecehkannya, sehingga keangkuhannya pupus, kediriannya hancur, dan inilah pembinaan ruhani. Permintaannya karena dipaksa oleh Allah, bukan karena kesyirikan. Lalu Ia menyelamatkannya dari kondisi begini, dan memerintahkannya untuk meminjam kepada orang, dengan perintah yang kuat yang tak mungkin lagi dihindari, sebagaimana halnya dengan kondisi meminta. Lalu Ia mengubahnya dari kondisi ini, menjauhkannya dari orang dan hanya bertumpu pada permintaannya kepada-Nya. Maka ia meminta kepada Allah segala yang dibutuhkannya. Ia memberinya, dan tak memberinya jika ia tak memintanya. Lalu Ia mengubahnya dari meminta lewat lidah menjadi meminta lewat hati. Maka ia meminta kepadanya segala yang dibutuhkannya, sehingga bila ia memintanya dengan lidah, Ia tak memberinya, atau bila ia meminta kepada orang, mereka juga tak memberinya. Lalu Ia menolak dari dirinya dan dari meminta baik secara terbuka maupun tersembunyi. Maka Ia mengurniainya segala yang membuat orang menjadi baik, - segala yang dimakan, diminum, dipakai dan kebutuhan hidup tanpa upaya atau tanpa diduganya. Maka jadilah Ia walinya, dan ini sesuai dengan ayat:

"Sesungguhnya waliku adalah Allah yang telah menurunkan Al-Kitab dan Ia adalah wali para saleh." ("S 7:196)

Maka firman Allah yang diterima oleh Nabi saw. menjadi kenyataan, yakni, "Barangsiapa tak sempat meminta sesuatu dari-Ku, maka Aku akan memberinya lebih dari yang Kuberikan kepada mereka yang meminta," dan inilah kondisi fana dalam Tuhan, suatu kondisi yang dimiliki oleh para wali dan badal. Pada tingkat ini, ia dikaruniai daya cipta, dn segala yang dibutuhkannya mewujud atas izin Allah, sebagaimana firman-Nya di dalam Kitab-Nya: "Wahai anak Adam! Aku adalah Tuhan, tiada tuhan selain-Ku; bila Kukatakan kepada sesuatu "jadilah", maka jadilah ia. Patuhilah Aku, sehingga bila kau berkata kepada sesuatu "jadilah", maka juga, jadilah sesuatu itu. "
Mari kita membahas peran Akal, Roh, Nafsu dan Nyawa di dalam tubuh manusia, sebagaimana kita tahu bahwa ke empat-empat makhluk ini diberikan pada satu nama yaitu ROHANI, ia dicipta oleh Allah di bawah peraturan KUN di alam ulwi oleh Allah swt Setelah dicipta maka Allah telah menempatkan Rohani itu di alam Roh, dan saat di alam Roh itulah ia diambil saksi oleh Allah sementara menunggu Allah menjadikan Adam (jasmani) untuk memungkinkan dia menyembah Allah, tanpa jasmani dia tidak bisa beribadah karena tidak penyaksian kerjanya Rohani memiliki sikap yang cukup sempurna untuk melaksanakan tugasnya sebagai seorang khalifah di bumi karena cukup sifatnya untuk menjalankan amanah Allah, ini karena ia memiliki akal, nafsu, Roh dan jiwa yang mana makhluk tersebut mampu untuk berjuang pada jalan Allah, artinya ia dijadikan oleh Allah di alam yang tinggi dan beribadat di alam yang rendah Komponen Rohani bertugas atas dasar bekerjasama antara satu dengan yang lainnya, setiap dari mereka memiliki tanggung jawab yang seimbang dalam menjalankan tugasnya tidak kelebihan di antara mereka, namun derajat mereka berbeda antara satu dengan yang lain , misalnya jika sesuai urutan maka ia akan menjadi begini: nyawa, Akal, nafsu dan Roh, ini berarti di antara mereka tidak bisa tiadak ada di antara mereka saat masih di alam Roh maka Nyawa menjadi wakil Roh, Akal dan Nafsu untuk menjawab pertanyaan dari Allah , yang mana nyawalah yang menjawab untuk pihak Roh, Akal dan Nafsu untuk mengakui bahwa Allah itu Tuhan mereka dengan menjawab Qolu bala shahidna ......... (Al A'araf ayat 172) namun di bumi maka akal pula yang menjadi ketua untuk mereka terutama dalam soal ibadah kepada Allah atau menjalankan aktivitas hidup sebagai khalifah Dalam waktu menjalankan aktivitas hidup di bumi ini maka nafsu pula menjadi penentu pola aktivitas tersebut karena dia penentu ke arah mana yang hendak di tuju apakah ke neraka atau ke surga, dan dia pula adalah sebagai penentu untuk mengidentifikasi sikap jasmani manusia yang mana anasir jasmani itu adalah seimbang dengan sifat hawanya, ini berarti udara kepada nafsu itu menyebabkan gerak dan gerit yang di kendalikan oleh Roh pula Pertanyaan: Apakah peran Rohani di dalam tubuh manusia? Jawaban: Peranan Rohani di dalam tubuh manusia adalah menggerakkan tubuh sesuai dengan tanggung jawab masing-masing, artinya Roh bertanggung jawab untuk memberikan daya kekuatan energi ke jasad sehingga jasad dapat bergerak dan bertenaga. Nafsu pula memberikan rangsangan kepada akal supaya akal membuat keputusan untuk bergerak dan melakukan sesuatu gerak dan diam kepada jasad sesuai sifat nafsu (udara) apakah baik atau sebaliknya. Akal pula berfungsi untuk menerima dan mengumpulkan informasi ilmu apakah ilmu yang hak maupun yang batil ini tergantung pada pendidikan. sementara Nafas pula ia tidak terikat pada suatu rangsangan atau dorongan dari akal atau nafsu ataupun Roh, dia sekadar berfungsi untuk tugas menghidupkan setiap sel-sel darah, air, daging, tulang, rambut dan bulu serta kuku dan lainnya
Apakah penting untuk manusia memikir atau mengenal asal kejadiannya? Jawaban: Mengenal diri dari apa manusia lahir dan batin adalah wajib, ini karena ada perintah Allah dari Al Quran yang memerintah manusia melakukannya sebagaimana ayat dari surat At Thoriq ayat 5, artinya

jika manusia tidak berusaha untuk mengenal dirinya maka ia sama seperti Azazil yang ingkar perintah Allah.
Apakah maksud amanah? dan ia berbentuk apa? Jawaban: Di dalam Al Quran Allah telah menceritakan amanah itu dalam surat Al Ahzab ayat 72 yang artinya:

"Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat Kami kepada langit dan bumi serta gunung (untuk memikulnya) maka mereka enggan memikulnya, dan khawatir tidak dapat menyempurnakannya, lalu di sanggupi oleh manusia (dengan persediaan yang ada padanya) sesungguhnya manusia itu suka menzalimi dirinya sendiri.

Bagaimana konsep Tuhan menjadikan lembaga Adam? Jawaban: Allah menjadikan lembaga Adam menurut fitrah ilmu, yang mana ia di bentuk sesuai tingkat demi tingkat sebagaimana juga Dia membuat perkembangan bayi di dalam kandungan ibu (Embrioloji) akan tetapi anasir Adam dan keturunan manusia itu tidaklah sama sebagaimana pada awalnya namun sumbernya adalah satu aliran yaitu himpunan molikul-molikul, atom, proton, neutron, elektron ion dan sebagainya Pertanyaan: Apakah pada Rohani itu banyak nafsu? dan apakah nafsu yang memberi fungsi rangsangan terhadap anasir jasmani? Jawaban: Pada Rohani itu hanya ada satu nafsu akan tetapi sifat kepada nafsu itu saja yang banyak yang di namakan Hawa, maka Hawalah yang memberikan fungsi rangsangan terhadap anasir jasmani yang memiliki sikap dari anasirnya Pertanyaan: Apakah malaikat menjaga manusia itu untuk menyelamatkan manusia? Jawaban: Malaikat yang di maksudkan itu ada dua jenis malaikat satu jenis yang mencatat kelakuak Rohani yang di pamirkan oleh jasmani dan yang kedua malaikat jenis menjaga manusia yang bernama Hafazo1 Pertanyaan; Mengapa perangai manusia ini di katakan tidak sama dengan apa dasar penyebabnya? Jawaban: Dasar penyebabnya adalah manusia tidak membela dirinya sendiri untuk melayani terhadap Allah dengan sebenarnya, sebab lainnya adalah karena kedudukkan tempat tinggal yang berbeda dan kondisi suhu, ini menyebabkan kondisi rangsangan alam keliling yang mengubah perangai dan sikap Pertanyaan: Allah menciptakan jasad manusia itu menurut kesesuaian apa? Jawaban: Allah telah menjadikan jasad manusia itu menurut kesesuaian bentuk Rohani itu pada bentuk Muhammad yaitu manusia yang berwajah dan bentuk Ruhul Yaqazah dan demikianlah sesuainya adalah sesuai keadaannya (Rohani) sebagaimana firman Allah dalam surah AlA'ala ayat 2 yang artinya:

' Tuhan yang telah menciptakan sekalian makhluk serta menyempurnakan dengan perlengkapan yang sesuai dengan keadaannya
Rohani adalah sebenar-benar makhluk yang dijadikan oleh Allah untuk mengemban amanah Allah untuk menjadi khalifah di bumi, dia adalah di antara makhluk Allah yang mula-mula sekali dijadikan oleh Allah sebelum makhluk yang lain dicipta, dan dia juga telah diberikan Allah panduan menyembah Allah yang berbasis kalimat Tauhid La Illaha Illallah Muhammadarrasullullah, artinya Rohani berikrar untuk bertuhankan kepada Allah dan dia sebagai hamba yang diperintahkan untuk melakukan amanah tersebut dan dia secara suka ataupun tidak maka dia wajib menjalankan amanah tersebut Rohani tidak bisa beribadah ataupun tidak bisa melaksanakan amanah Allah jika ia tidak memiliki rumahnya sendiri yaitu jasmani manusia yang akhirnya Allah telah menjadikan lembaga Adam untuk memulai perkembangan manus (makhluk jasmani) sebagai tempat Rohani beribadah, ini karena jasmani manusia itu sebagai penyaksian kerja buat Rohani tersebut sebagaimana firman Allah menyatakan di dalam surat Al Qiyamah ayat 14, yang artinya:

(Bahkan manusia itu anggotanya menjadi saksi terhadap dirinya sendiri)
sementara malaikat hanya mencatetkan apa yang dilakukan oleh Rohani tersebut sebagaimana firman Allah menyatakan pada surat At Thoriq ayat 4 yang artinya:
(Tidak ada suatu diri juapun melainkan ada malaikat yang menjaga dan membuat catetan)

Pada Rohani itu ada nafsu yang memiliki sikap yang beragam yang dikenal sebagai HAWA dan sikap nafsu inilah yang wajib ada pada anasir jasmani yang Allah jadikan dari tanah nurani, air nurani, angin nurani dan api nurul adzom, sebagaimana kita ceritakan pada bab asal kejadian manusia di ruang Pak Karamu, jika anasir Rohani dan jasmani tidak sealiran maka Rohani tidak dapat tinggal di tubuh jasmani dan ada kemungkinan jasmani akan menjadi terbakar ataupun hancur Bila Rohani sudah berada dia dalam jasad manusia maka hiduplah manusia itu dan berperananlah Rohani tersebut menjalankan peran khalifahnya dengan mengacu kalimat La Illaha Illallah dan di sinilah kita dapat melihat jutaan perangai manusia yang hidup di muka bumi ini, ada yang jahat dan ada yang baik, dan wajib juga manusia itu memahami dari itu di jadikan sebagaimana firman Allah menyatakan dalam surat At Thoriq ayat 5 yang berarti

(Maka hendaklah manusia itu memikirkan dari apa ia diciptakan)

Masa Rohani itu masuk ke dalam jasad manusia adalah ketika bayi dalam kandungan ibu yaitu antara 120 sampai 145 hari, ini sesuai ketetapan Allah sesuai kematangan jasmani di dalam kandungan ibu, saat saja Rohani sudah berada di dalam jasmani maka barulah jasad bayi itu bergerak dan tidak lagi dia bersenyawaan dengan nyawa ibunya Pertanyaan: Apakah dalilnya Rohani berikrar bertuhankan kepada Allah? Jawaban: Didalam Al Quran Allah berfirman dalan surat Al A'araf ayat 172 dan Al Quran pada halaman 1465 pimpinan Ar Rahman, Al A'araf 172 yang artinya:

"Bukankah Aku ini Tuhanmu? Lalu mereka semua menjawab: Benar Engkau Tuhan kami, dan kami menjadi saksi, yang demikian supaya kamu tidak berkata pada hari itu sesungguhnya Kami adalah kembali (tentang hakikat tauhid )
masih begitu banyak rahasia yang tersimpan di dalam Ruh, terutama terkait dengan dzatnya. Dan ini, memang telah diinformasikan Allah kepada kita lewat firmanNya, berikut ini.

QS. Al Israa '(17): 85
Dan mereka bertanya kepadamu tentang Ruh. Katakanlah: " Ruh itu termasuk urusan Tuhanku , dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit ".

Tapi, sedikitnya ilmu Allah sudah demikian banyaknya buat kita. Dan, Allah tidak pernah secara tegas dan mutlak melarang kita untuk mempelajari esensi Ruh itu. Hanya diberi catatan saja, bahwa apa yang kita ketahui tentang Ruh itu hanya sebagian kecil saja dari esensi Ruh yang sangat misterius.

Informasi tentang Jiwa lebih banyak lagi bisa kita dapatkan di dalam Al-Qur'an. Posisi Jiwa di dalam tubuh manusia agak berbeda dengan posisi Ruh. Meskipun ada kemiripan tertentu yang seringkali membuat kita rancu dalam memahaminya.

Dalam analogi komputer atau robot, Ruh dan Jiwa adalah sama-sama software (program perangkat lunak). Hanya bedanya, Ruh adalah Program Dasar yang berkaitan dengan sistem operasinya (Operating System), sedangkan Jiwa adalah program aplikasi. Keduanya ada di dalam otak komputer. Tapi berada pada sektor atau lokasi yang berbeda.

Perbedaan lainnya lagi, Operating System terpusat dan saling mempengaruhi dengan infra struktur komputer. Sedangkan program. aplikasi justru bersandar kepada Operating System tersebut.

Demikian pula Ruh dan Jiwa. Ruh memiliki skala yang jauh lebih luas dari Jiwa. Wilayah cakupan Ruh meluas sampai ke seluruh jaringan infrastruktur dalam tubuh manusia. Sampai pada unit terkecil dari kehidupan, yaitu sel. Kemudian, berdasar infrastruktur itu Ruh bekerja dengan software nya yang canggih untuk mengatur fungsi dasar kehidupan.

Sedangkan Jiwa adalah 'program aplikasi' yang bekerja pada sistem kerja Ruh. Jadi, jika Ruh tidak berfungsi, Jiwa juga tidak bisa berfungsi. Tapi, sebaliknya, kalau Jiwa tidak bekerja, Ruh. masih tetap bisa bekerja.

Kalau diurutkan tingkatan pengaruhnya, adalah sebagai berikut. Ruh adalah yang memiliki pengaruh paling besar, karena ia berpengaruh terhadap kerja Jiwa dan badan sekaligus. Jika Ruh tidak berfungsi, maka badan dan Jiwa juga tidak berfungsi. Keduanya tidak hidup, alias mati.

Urutan kedua adalah Jiwa. Jiwa memiliki pengaruh terhadap tubuh. Tapi tidak memiliki pengaruh terhadap Ruh. Justru ia terpengaruh oleh fungsi kerja Ruh. Namun, pengaruh Jiwa terhadap badan tidaklah mutlak sebagaimana Ruh.

Ketika Jiwa kita kuat, maka badan akan ikut bertambah kuat. Dan jika Jiwa kita lemah, badan kita juga akan ikut melemah. Tapi melemahnya badan itu tidak sampai nol, melainkan sampai pada fungsi dasarnya yang menjadi wilayah kekuasaan Ruh.

Misalnya, Jiwa yang. melemah menyebabkan seseorang menjadi pingsan. Ketika pingsan itu pengaruh Jiwa menjadi nol, tapi badan tidak mati, karena masih ada fungsi Ruh yang bekerja pada badan.

Jiwa juga bisa keluar masuk (on off) ke badan kita, sepanjang Ruh masih bekerja pada keduanya. Ini mirip dengan kerja komputer. Program aplikasi bisa berjalan atau tidak, ketika operating system nya bekerja. Kalau program aplikasi tidak dijalankan, komputer akan standby pada sistem operasinya saja. Tidak berguna memang, tapi tetap hidup (on). Komputer baru berguna kembali kalau dioperasikan pada program aplikasinya.

Manusia juga menjadi 'tidak berguna'. Ketika fungsi Jiwanya tidak berjalan, meskipun ia belum mati. Mungkin ia berada dalam kondisi tidur, pingsan atau koma. Dalam kondisi demikian, manusia tidak dimintai pertanggung jawaban apa pun, sebab fungsi Jiwanya tidak berjalan.

Orang gila juga digolongkan sebagai orang yang kehilangan fungsi Jiwanya tidak dimintai pertanggung jawaban atas perbuatannya. Bagaikan komputer yang program aplikasinya kacau kena virus misalnya. Maka, kerja komputer itu pun tidak bisa dipertangung jawabkan.

Dimanakah pusat pengendalian program aplikasi pada komputer? Berada di otaknya Central Processing Unit, CPU. Dimanakah pusat pengendalian jiwa berada? Juga ada di otak manusia. 'Program-program aplikasi' dalam Jiwa manusia ditempatkan di sektor-sektor tertentu dalam otaknya.

Kerusakan program aplikasi itu tergantung pada dua hal. Yaitu, kerusakan pada sektornya (bad sector), dan kerusakan pada susunan programnya.

Demikian pula pada manusia. Jika seseorang mengalami kerusakan sel otak, maka orang itu juga akan mengalami gangguan atau bahkan kerusakan pada Jiwanya. Di lain pihak, kerusakan Jiwa juga bakal terjadi jika susunan program (isi perintah di softwarenya) mengalami kekacauan. Pembahasan lebih jauh, akan kita lakukan pada bagian-bagian berikutnya.

Pada kesempatan ini saya cuma ingin menyampaikan sepenggal kesimpulan, bahwa posisi Jiwa berbasis di otak kita pada sektor-sektor yang berbeda dengan Ruh. Tapi, sebagaimana Ruh, pengaruh Jiwa juga menyebar sampai ke seluruh penjuru tubuh kita. Hanya saja, lebih dominan di wilayah sadar. Sedangkan Ruh berpengaruh lebih luas sampai ke wilayah bawah sadar.

Ketika berada dalam kondisi sadar, Jiwa berpengaruh pada seluruh aktivitas kita. Tapi, begitu kesadaran kita hilang, maka kendalinya bergeser ke peran Ruh. Jiwa masih tetap 'hidup', badan ini masih tetap 'hidup'. tetapi keduanya tidak saling mempengaruhi satu sama lain, sebagaimana difirmankan Allah dalam QS. Az Zumar (39): 42.