Dalam melakukan kebaikan ahli asbab perlu melakukan mujahadah. Mereka harus memaksa diri mereka berbuat baik dan perlu menjaga kebaikan itu agar tidak menjadi rusak. Ahli asbab perlu memperingatkan dirinya agar berbuat ikhlas dan harus melindungi keikhlasannya agar tidak dirusak oleh riak (berbuat baik untuk diperlihatkan kepada orang lain agar dia dikatakan orang baik), takabur (sombong dan membesar diri, merasa diri sendiri lebih baik, lebih tinggi, lebih kuat dan lebih cerdik dari orang lain) dan sama'ah (membawa perhatian orang lain kepada kebaikan yang telah dibuatnya dengan cara bercerita tentang, agar orang mengakui bahwa dia adalah orang baik). Jadi, ahli asbab perlu memelihara kebaikan sebelum melakukannya dan juga setelah melakukannya. Suasana hati ahli tajrid berbeda dari apa yang dialami oleh anggota asbab. Jika anggota asbab memperingatkan dirinya agar ikhlas, ahli tajrid tidak melihat kepada ikhlas karena mereka tidak bersandar kepada amal kebaikan yang mereka lakukan. Apa juga kebaikan yang keluar dari mereka diserahkan kepada Allah yang menganugerahkan kebaikan tersebut. Ahli tajrid tidak perlu menentukan perbuatannya ikhlas atau tidak ikhlas. Melihat keihklasan pada perbuatan sama dengan melihat diri sendiri yang ikhlas. Ketika seseorang merasakan dirinya sudah ikhlas, padanya masih tersembunyi keegoan diri yang menyebabkan riak, ujub (merasa diri sendiri sudah baik) dan sama'ah. Ketika tangan kanan berbuat ikhlas dalam kondisi tangan kiri tidak menyadari perbuatan itu barulah tangan kanan itu benar-benar ikhlas. Orang yang ikhlas berbuat kebaikan dengan melupakan kebaikan itu. Ikhlas sama seperti harta benda. Jika seorang miskin diberi harta oleh jutawan, orang miskin itu malu menepuk dada kepada jutawan itu dengan mengatakan yang dia sudah kaya. Orang tajrid yang diberi ikhlas oleh Allah swt mengembalikan kebaikan mereka kepada Allah swt Jika harta orang miskin itu hak si jutawan tadi, ikhlas orang tajrid adalah hak Allah swt Jadi, orang asbab bergembira karena melakukan perbuatan dengan ikhlas, orang tajrid pula melihat Allah yang mengatur sekalian urusan. Anggota asbab dibawa ke syukur, anggota tajrid berada dalam penyerahan.

Kebaikan yang dilakukan oleh anggota asbab merupakan teguran agar mereka ingat kepada Allah yang memimpin mereka kepada kebaikan. Kebaikan yang dilakukan oleh ahli tajrid merupakan karunia Allah swt kepada kelompok manusia yang tidak memandang diri mereka dan kepentingannya. Anggota asbab melihat kepada efektivitas hukum sebab-akibat. Ahli tajrid pula melihat kepada efektivitas kekuasaan dan ketentuan Allah swt Dari kalangan ahli tajrid, Allah swt memilih sebagiannya dan meletakkan kekuatan hukum pada mereka. Kelompok ini bukan sekadar tidak melihat kepada efektivitas hukum sebab-akibat, bahkan mereka berkekuatan menguasai hukum sebab-akibat itu. Mereka adalah nabi-nabi dan wali-wali pilihan. Nabi-nabi diberikan mukjizat dan wali-wali diberikan kekeramatan. Mukjizat dan kekeramatan merombak efektivitas hukum sebab-akibat.

Di dalam kelompok wali-wali pilihan yang dikaruniai kekuatan mengontrol hukum sebab-akibat itu terdapatlah orang-orang seperti Syeikh Abdul Qadir al-Jailani, Abu Hasan as-Sazili, Rabiatul Adawiah, Ibrahim Adham dan lain-lain. Cerita tentang kekeramatan mereka sering diperdengarkan. Orang yang cenderung kepada tarekat tasawuf gemar membuat kehidupan aulia Allah tersebut sebagai contoh, dan yang mudah memikat perhatian adalah bagian kekeramatan. Kekeramatan biasanya dikaitkan dengan perilaku kehidupan yang zuhud dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah swt Timbul anggapan bahwa jika ingin memperoleh kekeramatan seperti mereka harus hidup sebagaimana mereka. Orang yang berada pada tahap awal bertarekat cenderung untuk memilih jalan bertajrid yaitu membuang segala ikhtiar dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah swt Sikap melulu bertajrid membuat seseorang meninggalkan pekerjaan, istri, anak-anak, masyarakat dan dunia seluruhnya. Semua harta disedekahkan karena dia melihat Abu Bakar as-Siddik telah melakukannya. Ibrahim bin Adham telah meninggalkan tahta kerajaan, istri, anak, rakyat dan negerinya lalu tinggal di dalam gua. Biasanya orang yang bertindak demikian tidak dapat bertahan lama. Akibatnya dia mungkin meninggalkan kelompok tarekatnya dan kembali ke kehidupan duniawi. Ada juga yang kembali kepada kehidupan yang lebih buruk dari keadaannya sebelum bertarekat dahulu karena dia ingin menebus kembali apa yang telah ditinggalkannya dahulu untuk bertarekat. Kondisi yang demikian terjadi akibat bertajrid sembarangan. Orang yang baru masuk ke dalam bidang pelatihan spiritual sudah mau beramal seperti aulia Allah swt yang sudah puluhan tahun melatihkan diri. Tindakan melemparkan semua yang dimilikinya secara tergesa-gesa membuatnya berhadapan dengan tantangan dan cobaan yang bisa menggoncangkan imannya dan mungkin juga membuatnya berputus-asa. Apa yang harus dilakukan bukanlah meniru kehidupan aulia Allah swt yang telah mencapai makam yang tinggi secara melulu. Seseorang haruslah melihat kepada dirinya dan mengidentifikasi posisinya, kemampuanya dan daya-tahannya. Ketika masih di dalam makam asbab seseorang harus bertindak sesuai dengan hukum sebab-akibat. Dia harus bekerja untuk mendapatkan rezekinya dan harus pula berusaha menjauhkan dirinya dari bahaya atau kerusakan.

Ahli asbab perlu melakukannya karena dia masih terikat dengan sifat-sifat kemanusiaan. Dia masih melihat bahwa tindakan makhluk mempengaruhi dirinya. Oleh yang demikian adalah wajar jika dia mengadakan juga tindakan yang menurut pandangannya akan mendatangkan kesejahteraan bagi dirinya dan orang lain. Tanda Allah menempatkan seseorang pada posisi sebagai anggota asbab adalah ketika urusannya dan tindakannya yang menurut kesesuaian hukum sebab-akibat tidak menyebabkannya mengabaikan kewajiban terhadap tuntutan agama. Dia tetap merasa rengan untuk berbakti kepada Allah swt, tidak sembrono dengan nikmat duniawi dan tidak merasa iri terhadap orang lain. Apabila anggota asbab berjalan menurut hukum asbab maka jiwanya akan maju dan berkembang dengan baik tanpa mengalami kegoncangan yang besar yang dapat menyebabkan dia berputus asa dari rahmat Allah swt rohaninya akan menjadi kuat sedikit demi sedikit dan mendorongnya ke dalam makam tajrid secara aman. Akhirnya dia mampu untuk bertajrid sepenuhnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar