MEMPUNYAI KELEBIHAN YANG ANEH-ANEH ITU BELUM TENTU BENAR

Hari jum'at silam ada dua orang tamu, awalnya dia cuma bercerita kalau tubuhnya seperti ada yang meminta gendong, sehingga punggungnya terasa berat, ketika sudah berbicara denganku, maka ku tanya selesai dia bercerita.

"Sekarang punggungnya masih terasa berat tidak?" tanyaku

dia menggerak-gerakkan tubuhnya...

"Lhoh kok aneh, kok sekarang enteng sekali, sama sekali tak ada yang membebani punggung." katanya

"Iya tadinya ada jinnya yang minta gendong, waktu masuk ke rumahku, jinnya ndak ikut ke dalam rumah, jadi langsung enteng." jelasku.

"ooo kok bisa begitu?"

"Ya mungkin saja jinnya gak mau ketemu denganku, takut kalah ganteng hehehe..." candaku.

"Iya nih mas, saya mau cerita soal anak lelaki saya..." selanjutnya kata bapak setengah tua itu mengalihkan pembicaraan.

"Kenapa dengan anaknya?" tanyaku

"Ini begini ceritanya, awalnya anakku ikut ngaji, di pengajian, ya aku sendiri pernah di ajak menghadiri pengajian itu, ya pengajiannya baik, ada baca qur'annya, ada baca manakibnya, tapi yang aku keluhkan bukan soal pengajian itu, yang saya keluhkan ini soal apa yang kemudian terjadi dengan anakku."

"ya awalnya bagaimana?" tanyaku

"Ini berawal dari saya diceritai sama teman sekolahnya, kata teman sekolahnya itu, pas ada camping pramuka, ada kejadian kerasukan di antara siswa, dan menurut cerita teman anakku itu, anakku itu kok yang bisa menyembuhkan temannya yang kerasukan, saya juga heran, tapi setelah itu, kalau di rumah bawaannya marah-marah melulu, bahkan ibunya pernah ditendang waktu marah, juga matanya merah kalau marah, bahkan kadang tak ada apa-apa, lantas saja marah-marah."

"Itu di kuasai jin" selaku.

"Iya mas..., saya juga dulu ndak tau kalau di sini ada yang tau hal seperti itu, pada saat itu, ini kejadiannya sudah beberapa bulan yang lalu, lantas anakku ku bawa berobat kemana-mana, ujung-ujungnya saya sampai di Solo, di pengobatan mengeluarkan jin dengan memakai cara di ruqyah, dan pada waktu di ruqyah itu, anakku menggereng-gereng dengan bukan lagi memakai suaranya, suaranya sudah suara orang lain, kayak di tv saja, dan karena anakku itu pernah belajar silat, pada waktu di ruqyah, yang ngeruqyah sampai ditendang terjengkang, dan dipegangi 5 orang semua juga dimentalkan, walau dengan susah payah , akhirnya jinnya bisa dikeluarkan, dan setelah itu ya Alhamdulillah sembuh,"

"ya syukur kalau memang sudah sembuh."

"Sekarang malah kambuh lagi mas...."

"ooo...kirain sudah sembuh."

"Sekarang kambuh lagi, dan malah suka marah-marah lagi, ini bagaimana?"

"Ya ndak papa, saya kasih air saja, nanti diminumkan, dan dipakai memandikan, ya kalau ndak sembuh, dibawa kesini saja, kalau sembuh ya ndak usah dibawa kesini..." jelasku.

Dan sampai sekarang belum ada datang lagi orangnya, semoga sudah sembuh.
Beberapa hari yang lalu muridku yang kerjanya punya warung nasi yang laris, datang ke rumah menceritakan 
ada 2 orang yang makan di warungnya dengan diam-diam menunggu para pembeli sepi, dua pembeli itu mendekati muridku yang jadi penjualnya, sekalian hitung-hitungan dengan apa yang dimakan.

"Maaf mbak.... saya piringnya saya taruh di bawah meja..." kata pembeli yang seorang lelaki dengan nada agak di pelakan.

"Lhoh kenapa ditaruh di bawah meja mas?" tanya muridku.

"Di lihat sendiri mbak, saya ndak tega menceritakannya..." jelas pembeli

"Wah kok pakai rahasia segala to mas?" kata muridku itu sambil mengambil piring nasi yang ada ayam goreng yang masih utuh dengan petainya.

"Ada apanya mas...? " kata muridku sambil menaruh piring di atas meja. dan diteliti piringnya, ternyata ada singgat kayak ulat kecil tengah berjalan.

"oo ini to mas, mungkin dari petainya yang biasanya ada ulatnya?"

"Ndak kok mbak, bukan dari petainya,tapi dari ayamnya..."

"Lhoh ayamnya kan masih hangat to mas, kan juga baru dimasak."

"Iya coba saja dibuka mbak ayamnya..."

Lalu muridku pun membuka ayam yang masih hangat itu, ternyata di dalamnya banyak sekali singgat/belatung yang masih hidup. Sehingga ayam segera ditepiskannya karena jijiknya...

"Itu biasa mbak, banyak orang yang mengerjai, yang dengki, sehingga mengerjai warung.."

Setelah kejadian itu, ternyata banyak kemudian keluhan akan kejadian itu, banyak pembeli yang misal dibawa pulang, ternyata setelah dibuka banyak belatung ada bungkusan.

Juga nasi yang baru masak, lantas kemudian basi, dan berair banyak berbau seperti bangkai.

Muridku lantas cerita di hari sabtu, dan minggunya ku berikan air isian do'a dan pagaran, dan Alhamdulillah warung nasinya laris lagi, yang sebelumnya sangat sepi.

Dan baru saja muridku datang lagi ke rumah, menceritakan kalau di rumahnya ada ledakan berkali-kali, di depan rumah dan di atas lemari es, ledakan ada di toko dan di rumah,rumah dan toko tempatnya terpisah. ledakannya seperti suara petasan.

yang aneh lagi saudara muridku, dia juga sama mempunyai warung cuma tempatnya beda, dan anehnya setiap ada orang mau beli, warungnya tidak buka, selalu kelihatan tak buka, padahal jelas warung itu buka tiap hari, sehingga pembeli sepi sekali.... (ini hanya sebagai pengingat, jika seseorang itu membuka usaha apapun, maka alangkah baiknya di sertai usaha batin, mendekatkan diri pada Allah, agar selalu dalam lindunganNYA )
Yang dimaksud dengan Maqam adalah tingkatan atau wilayat yang akan (harus) dilalui oleh seorang yang menempuh jalan thoreqoh. Yang saya sebutkan dan jelaskan disini hanyalah Maqam yang inti-inti saja.

Takhalli

Takhalli merupakan tingkatan dimana manusia, karena beriradah kepada ilahi, melakukan proses penyucian diri, dengan cara bertobat, berpuasa, menyucikan diri jasmani, menekankan keinginan jasmani, menjauhkan pikiran dari kesenangan duniawi, dan membersihkan hati dari sifat-sifat mazmumah (tercela). Di dalam diri insan ada empat belas "gudang" yang mula-mula berisi kejahatan dan kegelapan; tujuh pada jasad dan tujuh pada ruh. Keempatbelasnya harus dibersihkan dan kelak diisi dengan perbuatan suci yang mahmudah (terpuji). Tujuh pada jasad adalah: mata, telinga, hidung, mulut, tangan, kaki, dan kemaluan. Ketujuh ini harus disucikan dengan cara bertobat atas segala perbuatan yang keji dan mungkar.

Untuk menyucikan ini, setelah bertobat harus menggunakannya di jalan yang ditentukan oleh syariat Islam. Tujuh pada ruhani adalah titik-titik halus (Lathifah atau lathaif) yakni: lathifatul qalbi, lathifatul khafi, lathifatul akhfa, lathifatur ruh, lathifatus sirri, lathifatun nafsi, lathifatu kullu jasad. Semua Lathifah ini harus dicuci dan mencucinya harus dengan berzuhud. Dzikir merupakan pencuci Lathifah, khususnya hati, sebagai mana Rasulullah bersabda, "Segala sesuatu ada pencucinya, dan pencuci hati adalah dzikir." Dzikir yang diutamakan adalah istighfar dan tahlil atau membaca lailahailalloh dengan mendawamkannya, sesuai petunjuk yang di berikan guru.

Tahalli

Setelah diri bertakhalli, kemudian pelan-pelan harus bertahalli, yaitu menghiasi diri dengan praktek mahmudah (terpuji). Secara jasmani diri harus bersadaqah, baik kepada orang lain, kepada alam semesta, maupun kepada dirinya sendiri. Semua itu harus terprogram dalam kehidupan insan secara teratur, terencana, dan bertujuan yang jelas. Dalam bertahalli ini, seorang insan bukan hanya mencintai praktek fardhu, tetapi juga amalan sunnah. Allah mencintai manusia bukan dengan praktek fardhu, tetapi amalan sunnah. Insan harus menekan hasrat duniawinya dengan cara berpuasa dan zuhud mengelupas ingatan dunia dari hati lillahita'ala walau tetap bekerja sebagaimana mestinya sebagai masyarakat biasa, malah diri harus menyembunyikan amaliyahnya dari penglihatan umum selalu sibuk ketika sendiri dengan Allah, seperti biji yang di rencanakan untuk menjadi pohon yang besar, yang akan menaungi siapa saja yang berteduh, maka berusaha memendam biji dalam ke dalam tanah, artinya menyembunyikan amaliyah-amaliyah diri, sehingga orang umum tak mengetahui keberadaan amaliyah yang dilakukan. Di waktu siang dan malam hanya mengingat Allah, bersunyi diri, hanya mencari keridhaan Allah, menyeru dalam hati Ilahi Anta Maqsuudi, Waridhaka Mathluubi. Hanya Allah yang dimaksud dan keridhaanNya yang dicari. Lisannya selalu basah dengan La ilaha illallah, dan hatinya selalu berdetak Allah-Allah, dan nafasnya naik turun mengikuti irama dzikir Hu .... dan Allah ..., setiap langkah kakinya disertai dengan Syahadata ini, pandangan matanya dijaga dari yang haram, telinganya, lisannya dan segalanya. Kemudian Juga melakukan perjalanan spiritual tarikat dengan cara berdzikir dan berdzikir di waktu dan jangka waktu yang ditetapkan oleh tarikat masing-masing. Namun maqam dzikirnya secara umum disebut sebagai berikut:

Mahabbah

Awalnya insan harus menghadirkan cinta dan kerinduan kepada Allah. Bagaimana mungkin seseorang melakukan perjalanan secara berhasil jika dia melakukannya tanpa kerinduan terhadap apa yang dia cari. Cinta kepada Allah akan melahirkan cinta Allah kepada manusia. Biasanya orang yang menjalani hal ini hanya sekedar mencari tahu saja, sudah pasti kegagalan yang akan dicapai, bahkan tidak sedikit yang mengalami gangguan kejiwaan. Cinta adalah persiapan awal untuk melakukan perjalanan dan kerinduan akan senantiasa menjadi motif pencarian dari tahap ke tahap. Cinta dan kerinduan kepada Allah bukan hanya pembuka perjalanan bertahalli, tetapi juga akan senantiasa hadir dipertengahan dan di akhir perjalanan insan bertahalli. Dalam tingkatan menumbuhkan cinta ini, diri juga supaya melatih hati untuk mencintai siapa saja, cinta sebagai semua adalah ciptaan Allah, bukan bentuk atau rupa, tapi pengejawantahan diri atas kecintaan pada Allah, segala sesuatu itu perlu bukti, kecintaan pada Allah pun perlu bukti otentik, bukan asal bilang yang penting Allah tau saya cinta dia, tapi kita sendiri yang harus membuktikan kecintaan pada Allah, dengan pembuktian kepada kecintaan kepada sesama mukmin, kemana saja menebarkan kecintaan dan bukti kecintaan,tak memandang siapapun yang kita cintai itu, dari kedudukan apa, warna kulitnya bagaimana,dan bangsa apa, bagaimanapun orang mukmin itu kita hadapi, kita tetap menebarkan cinta dan kasih sayang, tanda seseorang itu mencintai mukmin lain dengan bukti tak rela jika mukmin lain itu jatuh ke dalam kesesatan, dan kegelapan masalah hidup, jadi diri bagaimanapun berusaha untuk menggapainya dan mengarahkannya ke jalan terang, bukan masalah siapa orangnya, tapi ini masalah pembuktian diri cinta kepada Allah, dengan cinta sesungguhnya, dan pada maqam ini, insan berdzikir istighfar dan ya Rahman ya Rahim dan memperbanyak membaca basmallah ...

Mujahadah

Ini adalah tahapan dimana insan berupaya keras, berjuang melawan segala sesuatu selain Allah yang menghampiri hati dan pikiran. Biasanya ini adalah pengaruh dari semakin banyaknya kesibukan dunia yang menjebak kita. Dalam situasi ini, kita benar-benar bisa mengukur sedalam apakah kita terjebak dengan dunia, semakin keras pejuangan kita, adalah pertanda bahwa ikatan dunia yang menjebak kita semakin keras, tebal, dan dalam. Pikiran insan akan seperti seekor burung yang bertengger dari satu dahan kesibukan dunia kedahan memori dunia yang lain. Biasanya di maqom ini Allah akan menggelar berbagai cobaan dan ujian, bisa dari mana saja, namanya juga ujian, maka selalu tak bisa di prediksi bentuk dan karakternya, bisa saja ujian datang dari ekonomi, istri, anak, dan segala arah yang setidaknya akan membuat diri berjuang, dan dipukul dengan berbagai tempaan peristiwa yang kadang kala datangnya seperti hujan atau sambung menyambung seperti rantai, maksud Allah adalah agar diri itu menjadi kuat dan tahan banting, jika seseorang itu tak mampu menyelesaikan masalah pribadinya, bagaimana bisa menjadi pengayom khalayak umum, yang berbagai macam bentuk problemanya, jadi diri di maqom ini akan ditempa oleh Allah dengan penempaan yang seakan-akan bisa mencabut keyakinan, sebab seakan Allah tak menolong, padahal Allah sengaja meletakkan kesabaran pada tempat yang sesuai, sebagaimana cetakan akan bersesuaian dengan yang dicetak.

Hanya rahmat Allah saja yang bisa membuat insan berhasil melalui maqam ini. Insan harus senantiasa berusaha untuk menepis segala sesuatu selain Allah, sementara itu Allah pun belum dikenal, maka dengan demikian insan hanya bisa menepis segala-galanya karena Allah laisa kamistlihi syai'un, tidak serupa dengan apapun jua. Sang insan menahan lapar, haus, lelah, mengantuk; perjuangan jasad, hati, dan akal. Insan tetap berjuang sambil berdzikir La ilaha illallah ... ketika bayang-bayang apapun muncul dalam hati dan pikirannya, manusia berlindung dengan menyebutkan a'udzu billahi minka (aku berlindung kepada Allah dari kamu). Jika seorang insan telah terlepas dari maqam ini, pertandanya adalah ketika tidak ada sesuatu apapun yang hadir, dan ini hal ini sangat sulit saya gambarkan dengan kata-kata. Namun sewaktu-waktu insan bisa saja terjatuh lagi dan harus bermujahadah lagi. Ini merupakan pintu masuk ke wilayat fana yang paling sulit, sangat sulit. adalah menepis segala sesuatu dan tinggallah diri sendiri saja, mencari Allah.
Makanya diri sebagai insan yang dalam maqom ini harus berusaha selalu mengembalikan segala apa yang menimpanya kembali kepada Allah, dengan totalitas tawakal, agar diri terselamatkan dalam tingkatan mujahadah.

Muraqabah

Di maqam ini insan sudah mulai memetik buah ujian, dan pintu-pintu kepasrahan sudah terbuka lebar, kesadaran haqiqi akan penciptaannya sudah pelan pelan dipahami, insan sudah tidak lagi menyadari hal lain selain dirinya dan Allah saja, dia berupaya untuk mendekat kepada Allah dengan hakikat-hakikatnya, dengan ilmu dan ma'rifat yang dia miliki, disertai dengan dzikir Ya Allah Ya Allah ... pada saat ini, insan hanya menyadari bahwa Allahlah yang dia tuju, hakikat Allah. Setelah melalui perjalanan yang keras. Cinta dan kerinduan tidak bisa surut, harus lebih bersemangat lagi. Hati merasa dituntun oleh Allah dan inilah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Inilah jalan yang dicari dan dipilih oleh insan, untuk memenuhi panggilan Allah dalam surat al-Maidah ayat 35. Dan sebagai hasil dari upaya kerasnya, insan akan berjumpa dengan Allah (al-Insyiqaaq: 6). Akan tetapi, masih ada hijab antara Allah dan manusia; hijab inilah merupakan hakikat yang membedakan antara Allah dan insan.

Mukasyafah

Pada tahap ini, hijab tersingkap, Allah membuka hijab itu dengan rahmatNya, sehingga insan dapat (seolah-olah) melihat Allah dengan melalui NurNya. Inilah ihsan yang Rasulullah maksudkan, seolah engkau melihatNya, dan jika tidak maka Dia melihat engkau. Cahaya itu semakin lama semakin dekat, besar, dan terang. Insan melihat Nur. Lisan telah mati, hati dan akal berdzikir tanpa nama, hanya menunjuk pada Dia (Hu. .., atau ada sufi lain mengatakan Hua ...). juga di tahapan tingkatan maqom ini aneka kepahaman akan mulai tersingkap, arti-arti yang lembut akan mulai di pahami, bukan dengan logikanya akal, tapi dengan ilham kepahaman yang menerangi hati, sebagaimana cahaya matahari itu menerangi alam, pelan tapi pasti jika pagi menjelang, aneka daun, dan pergerakan terlihat, segala yang bisa di indera akan nampak, karena cahaya matahari yang menerangi setiap tempat,waktu dan ruang, jadi di hati juga seperti itu, hati seperti alam ini yang di terangi matahari, yang tersembunyi sebelumnya, yang tak di pahami sebelumnya, semua pelan tapi pasti akan tersibak. Dan apa yang sebelumnya tak dipahami dengan logikanya, nanti akan dipahami dengan kejernihan hatinya.

Musyahadah

Di maqam ini, insan melakukan persaksian (syahadat) yang sesungguhnya, seperti insan mengakuiNya ketika berada di Alam Arham, dimana Allah bertanya "Alastu birabbikum, dan insan menjawab BalaaSyahidna ... " yang saya temukan adalah "Syahidna ala anfusana watsabataindanaa, Anta Khaliiquna, wa Anta Rabbuna, wa La ilaha illa Anta." Ini adalah persaksian sesungguhnya kepada Allah, dimana hanya ada Allah dan insan, hamba yang terpilih. Dan musahadah/alam musahadah, alam penyaksian itu tak bisa diurai dengan kata kepada orang yang tidak pernah mengalaminya, kecuali dengan persemon, siloka, amsal, contoh persamaan, karena tidak adanya bisa diurai dengan indra orang lain, sebab bukan di alam indrawi, sehingga jika harus di jelaskan, maka penjelasannya dengan percontohan dan permisalan.

Mukafanah

Pada tahapan ini, saya tidak bisa menjelaskan apa-apa lagi, kecuali menyebutkan bahwa inilah saatnya lumpuh segala ilmu dan ma'rifat, lumpuhnya kesadaran insaniyah, dan lebur ke dalam hakikat ilahiyah dan .... (.) Sekali lagi, tidak ada lagi yang dapat dibicarakan oleh kata-kata disini. Dan inilah puncak tertinggi perjalanan spiritual, setiap orang tak bisa memberi contoh kepada orang lain, sebab setiap pengalaman manusia di sini tak ada yang sama, apa yang dilihat di terbukanya hijab maka itu konsumsi yang menjalani masing-masing, bahkan seorang guru sekalipun tak akan sama pengalaman di sini dengan seorang murid, sebab setiap insan itu mempunyai dunianya mukafanahnya sendiri.
relevansi CAHAYA-CAHAYA DENGAN ALLAH secara mendalam
Mungkin Anda sulit memahami dengan penerangan yang tersebut dahulu itu. Maka saudara rasa payah hendak faham. Maka di sini saya akan memberikan penerangan yang lebih mudah, agar saudara dapat memahaminya.
Maksud "Allah itu cahaya langit dan bumi" bisa dipahami jika dikiaskan kepada cahaya biasa yang nampak itu. Bila Anda melihat warna tumbuhan-tumbuhan di siang hari -katalah warna hijau - saudara tentu mengira yang Anda melihat warna, dan mungkin Anda mengatakan Anda hanya melihat warna, tidak ada yang lain lagi. Seolah-olah Anda mengatakan "Saya tidak nampak yang lain kecuali warna hijau" . Memang banyak orang mengatakan demikian. Kata mereka kata "cahaya" itu tidak ada artinya, hanya kosong, kata mereka apa yang nampak hanyalah warna. Dengan demikian, mereka menyangkal adanya cahaya meskipun cahaya itulah yang paling terang dan nyata sekali terzohir dari benda-benda lain. Kenapa tidak? Karena dengan adanya cahaya itulah benda-benda itu terzohir atau terlihat. Karena cahaya itu sendiri bisa terlihat dan membuat benda-benda lain tampak,

Tetapi saat matahari terbenam dan lampu langit lenyap dari pandangan, dan bayangan atau gelap malam datang, maka barulah orang-orang ini sadar adanya perbedaan antara bayangan atau gelap dengan cahaya. Maka barulah mereka meyakini bahwa cahaya itu memang ada di balik semua warna dan dilihat bersama warna. Bisa dikatakan bahwa oleh karena paduan asosiasi cahaya dengan warna itu, sehingga cahaya itu tidak disadari ada di situ, mungkin karena terlampau terang dan nyata inilah menyebabkan cahaya tampak. Mungkin karena terlampau terang dan nyata inilah menyebabkan cahaya tidak terlihat, karena sesuatu yang melampaui dari batas batasnya akan masuk ke wilayah yang berlawanan dengannya.

Jika penerangan ini telah jelas bagi saudara, maka saudara harus tahu selanjutnya yaitu mereka yang dikurnai dengan pandangan demikian ini akan melihat Allah di samping sesuatu benda itu. Mungkin ada yang berkata;
"Tidak saya lihat sesuatu pun melainkan saya lihat Allah dahulu".
Karena ada di antara mereka yang melihat benda-benda melalui Allah dan dalam Allah. Ada pula yang melihat sesuatu benda itu dulu dan kemudian nampak Allah, dalam dan melalui benda-benda itu.

Ke kelas (golongan) yang pertama itu, Al-Quran ada menerangkan;
"Tidakkah cukup bahwa Tuhanmu melihat semuanya?".

Pada kelas yang kedua ini dengan ayat;
"Kami akan tunjukkan kepada mereka tanda-tanda kami dalam seluruh alam dan diri mereka sendiri" .
Untuk kelas (golongan) pertama, mereka melihat Allah langsung; dan yang kedua melihat Allah melalui perbuatan-perbuatan atau pekerjaannya (Allah). Yang pertama itu para Aulia Allah; dan yang kedua itu golongan orang-orang Arif "yang telah yakin dalam ilmunya." Selain dari dua golongan tersebut, tidak lain hanya orang-orang yang lalai; di muka mereka ada hijab (tabir).

Dengan demikian saudara mengetahui sekarang bahwa dengan adanya cahaya itu memungkinkan mata kasar melihat dan nampak dan Allah itu memungkinkan mata batin manusia melihat dan nampak karena Allah itu ada bersama segala sesuatu setiap saat dan Dialah yang menampakkan segalanya itu. Meskipun ada persamaan antara kedua itu, namun perbedaannya ada juga. Cahaya biasa itu bisa hilang saat matahari terbenam, dan datanglah gelap yang menjadi hijab. Tetapi Cahaya Ilahi itu tidak bisa hilang. Cahaya itu harus ada untuk memungkinkan penglihatan. Mataharinya tidak pernah terbenam. Ia tetap selamanya dengan semua hal.

Jadi cara membedakan (sebagai cara untuk membedakan adanya Allah dengan perbuatanNya) tidak bisa kita. Jika rupa Allah itu bisa dilihat, maka akan hancurlah langit dan bumi ini; dan oleh itu, melalui diskriminasi, akan menerbitkan efek dalam pikiran, yang serentak memaksa pengenalan kepada sebab yang dengannya semua hal tampak zohir. Tetapi sebagaimana yang kita lihat, semua kejadian tetap sama dan tidak berubah-ubah pada pandangan kita karena Ketunggalan yang menjadikan mereka itu. Karena "segala sesuatu memuji Dia" (Al-Quran).

Ini berarti bukan setengah-setengah hal tetapi adalah segala-galanya, dan bukan kadang-kadang tetapi selalu. Dengan itu, pembedaan ini tidak timbul, dan jalan menuju melihat rupa Allah itu terhalang. Karena jalan yang paling terang menuju mengenal benda-benda adalah melalui pertentangan atau lawannya. Benda-benda yang tidak ada lawan (OPPOSITEE) atau sebaliknya, atau mengenal benda itu dengan perbandingan benda yang lain, jika seseorang bercerita melihat orang lain, yang di ajak bicara akan membuat perbandingan dengan orang yang dikenal, besar mana dia dengan pamanmu, kulitnya hitam atau putih, membuat perbandingan dengan sesuatu bentuk dan warna yang dikenal. dan keadaanya selalu serupa saat kita melihatnya, akan menyebabkan besar kemungkinan pandangan kita disalahkannya. Dalam hal ini, gelap atau tidak terang itu adalah akibat dari terlalu terang dan nyatanya, dan rancu atau disalahkan oleh sinarnya yang terang itu. Maha Suci dan Agunglah Allah yang melindungkan dirinya dari makhluk dengan karena terangnya itu, dan terhijab dari pandangan makhluk melalui sinarnya sendirinya yang terang benderang itu.

Mungkin juga keterangan ini tidak dipahami oleh setengah-setengah orang yang kurang pintar, dan mereka yang membaca keterangan saya tentang "Allah bersama dengan segala sesuatu", karena cahaya ini ada bersama segala sesuatu. Mungkin mereka mengerti bahwa Allah itu ada setiap "tempat". Maha Suci dan Maha Tinggi Allah itu terkait dengan "tempat". Tidak usahlah kita menyangka yang tidak terjangkau oleh akal. Saya tegaskan bahwa Allah itu pertama atau terdahulu dari segala-galanya, dan diluar batas jangkauan pemikiran makhluk. Dia menzohirkan segala-segalanya. Bahwa "Yang menzohirkan" itu tidak bisa dipisahkan diri "Yang menzohirkan", menurut sudut pandang si pemikir. Inilah apa yang kita maksudkan bahwa Allah bersama dengan segala sesuatu.

Anda juga tentu tahu selanjutnya bahwa "Yang menzohirkan" itu adalah terdahulu dan terlampau tinggi dari jangkauan "Yang menzohirkan", meskipun dia "bersama" nya. Dia "bersama" nya dari satu aspek (wajah) dan "terlampau jangkauan" nya dari aspek yang lainnya.

Janganlah dianggap di sini ada pertentangan atau pertandingan (contradiction). Atau, fikiranlah bagaimana dalam Alam indera (yang mana tempat yang paling tinggi ilmu kita bisa maju ke atas) gerak tangan "bersama" dengan gerak banyangnya; namun gerak tangan itu sebelumnya dari bayangnya itu juga. Barangsiapa yang tidak cukup pintar untuk menyikirkan ini, maka ia meninggalkan penelitian tentang hal ini, karena: -

"Bagi setiap ilmu ada anggotanya; dan setiap orang dimudahkan untuk mendapatkan apa yang ditetapkan baginya." 
Allah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya itu laksana sebuah Misykaat di dalamnya ada lampu. Lampu itu di dalam sebuah kaca. Kaca itu laksana bintang yang gemerlapan. Diinstal dari sebatang kayu yang mendapat berkat, yaitu (minyak) pohon zaitun, tidak timur, dan tidak barat. Hampir saja minyak itu bernyala-nyala meskipun ia belum disentuh oleh api. Cahaya Atas Cahaya (SURAH AN NUR: AYAT 35)

Deskripsi untuk perumpamaan atau ibarat ini melibatkan dua hal penting; yang sangat luas bidangnya. Tetapi di sini saya berikan singkatnya saja.
Pertama: Ilmu pengetahuan dan cara (metode) perumpamaan, bagaimana ruh atau isi tanggapan (ide) itu terkandung dalam perumpamaan tersebut; keterkaitan antara keduanya kondisi batin persamaan ini antara Alam Deria (Alam Indera) sebagai acuan dan materi kepada perumpamaan dan Alam tinggi yang dirinya turunnya tanggapan ide.
Kedua: Tingkat-tingkat untuk beberapa ruh pada tanah liat (badan) kita, dan derajat cahaya yang ada pada tiap-tiap satunya.
Kita bicarakan perumpamaan yang kedua ini untuk menjelaskan yang pertama itu.

ZAHIR DAN BATIN DALAM PERUMPAMAAN-JENIS dan pasangannya
Alam ini terbagi dua yaitu;
Alam Ruhani dan Alam materi atau
Alam Deria dan Alam Aqal atau
Alam bisa juga dikatakan Alam Tinggi dan Alam Rendah.
Semua istilah-istilah alam tersebut adalah hampir artinya antara satu dengan yang lain. Perbedaan hanya pada sudut pandang saja.
Jika saudara anggap kedua-kedua Alam itu dari seginya masing-masing, maka Anda menggunakan istilah pertama (Alam Ruhani dan Alam materi)
Jika terkait dengan anggota yang melihatnya, maka itu adalah yang kedua (Alam Deria dan Alam Aqal).
Bisa juga saudara katakan Alam Zhohir dan Alam Ghaib.
Tidaklah heran kenapa ada juga siswa yang mempelajari ilmu ini mencampuradukkan tentang banyaknya istilah-istilah itu dan menyangka banyak pula tanggapan atau ide yang dimaksud. Tetapi bagi orang yang mengenal hakikatnya, mereka tidak akan menyangka istilah-istilah itu yang terpenting. Yang terpenting adalah maksud atau tanggapan yang dibawa oleh istilah-istilah itu. Tetapi orang yang kurang pintar mungkin menganggap sebaliknya-yaitu ia mementingkan istilah dan tidak mementingkan maksud atau isinya. Pada pandangan mereka istilah itulah penyebab atau sumber tempat hakikat itu terbit. Berkenaan dua jenis pandangan pikiran itu. Al-Quran menjelaskan,
"Siapakah yang lebih benar dipimpin, orang yang berjalan dengan mukanya tertunduk ke bawah, atau orang yang berjalan lurus tegak?"
Marilah kita sekarang kembali ke ceruk yang kita pilih untuk menjelaskan cara simbolik (perumpamaan) ini. Ilmu tentang penafsiran pandangan (hati) menentukan kepada kita tentang nilai setiap jenis simbol atau perumpamaan itu. Ini adalah karena "Pandangan (hati) itu adalah bagian dari Nubuwah (Kenabian)". Bila dipandang dalam mimpi atau pandangan hati, matahari itu diibaratkan sebagai raja karena cahayanya meliputi segala-galanya. Bulan diibaratkan sebagai menteri karena melalui bulan itulah cahaya matahari dapat dipancarkan ke dunia saat matahari tidak ada (waktu malam). Ini berarti melalui menteri inilah pengaruh raja itu dirasakan oleh rakyat yang tidak pernah melihat raja itu. yaitu malam yang tak pernah melihat siang. tapi tetap merasakan cahaya matahari lewat pantulan bulan dan bintang.

Orang yang bermimpi melihat dirinya memakai cincin dan dengan cincin itu ia mengecap (mementerai) mulut pria dan rahasia-rahasia perempuan, maka mimpi itu ditafsir atau dita'birkan sebagai azan Subuh di bulan Ramadhan.

Orang yang bermimpi melihat dirinya mencurahkan minyak zaiton ke pohon zaiton ditafsirkan bahwa perempuan hamba yang dinikahinya itu adalah ibunya, tetapi ia tidak tahu menahu yang perempuan hamba itu adalah sebenarnya ibunya.

Cara menta'birkan atau menafsirkan simbol-simbol atau perumpamaan-perumpamaan tidaklah terbatas, dan saya tidak ingin menghuraikannya satu persatu. Apa yang dapat saya katakan adalah sebagaimana adanya hal-hal di Alam Tinggi itu yang dibaratkan atau disimbolkan sebagai matahari adanya bulan dan bintang, maka yang lain itu pun ada juga simbol-simbolnya saat titik keterkaitan itu sesuatu yang lain dari cahaya.
Misalnya jika di kalangan hal yang ada di Alam Tinggi itu ada satu hal yang tetap tanpa berubah, besar tanpa berkurang; yang dirinya limpahan ilmu dan kemuliaan turun ke dalam hati seperti air yang mengalir ke lembah;
maka itu diisyaratkan atau disimbolkan dengan gunung.

Jika sesuatu yang menjadi penerima penghargaan kemuliaan itu ada berbagai tingkat maka; maka sesuatu itu disimbolkan dengan lembah. Jika kemualiaan-kemuliaan itu sampai ke dalam hati manusia, berpindah dari hati ke hati, maka hati-hati itu di simbolkan juga dengan lembah. Kepala lembah itu menunjukkan hati Nabi-nabi, Aulia-aulia dan Anggota Ilmu; dan ini diturunkan pula oleh orang-orang setelah mereka tersebut.

Jadi, jika lembah-lembah ini lebih rendah dari lembah yang pertama itu dan diairi dari lembah yang pertama itu, maka lembah pertama itu adalah lembah "yang benar" karena disimbolkan dengan kebenaran dan kelebihannya. Akhirnya lembah yang paling rendah dan airnya datang dari tingkat yang terakhir dan terendah dari lembah "yang benar" itu; dan sewajarnyalah dengan itu diairkan dari "tepi lembah yang benar" itu dan bukan dari bagian tengah dan yang paling dalam.

Jika ruh Nabi-nabi itu diibaratkan sebagai lampu yang menyala-nyala; yang dinyalakan oleh ilham atau wahyu ("Kami telah wahyukan engkau dengan ruh dari Qudrat Kami" - Al-Qur'an), maka simbol atau perumpamaan penyebab nyalanya itu adalah api. Jika ada orang yang mendapat ilmu dari para nabi itu hidup dengan hanya menerima secara tradisi (kebiasaan) saja apa yang mereka terima dari para nabi itu, maka mereka itu ibaratkan sebagai "suluh api" atau "bintang jatuh". Mereka ini tidak menyelidiki dengan lebih lanjut lagi pengajaran Nabi-nabi itu. Tetapi ada orang yang pintar, yang dikaruniai ilham dan pengalaman Keruhanian. Mereka ini mendapat seolah apa yang diperoleh oleh Nabi-nabi mereka. Mereka ini disimbolkan sebagi "hamba panas api" karena seseorang tidak mendapatkan panas api jika hanya mendengar saja perihal api itu. Orang-orang yang merasakan atau mendapatkan panas api adalah orang yang dekat dengan api itu.

Jika tingkat pertama Nabi-nabi itu adalah transisi mereka masuk ke Alam Ketuhanan Maha Tinggi, jauh dari kekacauan dan gangguan indera dan sangkanya dan khayalan, maka tingkat itu disimbolkan dengan "lembah suci". Dan jika "lembah suci" itu tidak bisa dilalui kecuali setelah dilepas kedua alam (Alam Nyata dan Alam Ghaib) dan wajah ruh itu telah menghadap kepada Yang Maha Tunggal saja, maka simbol atau ibarat melepas kedua sepatu oleh orang yang mengerjakan haji di Mekah, di kala dia menggunakan pakaian keduniaannya dan memakai pakaian ihram dan menghadapkan wajahnya ke Ka'bah.

Sekarang marilah kita pindah ke hal Hadirat Ilahi itu lagi sekali dan berbicara tentang simbol-simbolnya. Jika Hadirat itu memiliki "sesuatu" di mana Ilmu-ilmu Ketuhanan direkam pada luh-luh hati yang bisa menerima ilmu-ilmu itu, maka "sesuatu" itu disimbolkan pula dengan pena. Hati yang padanya terekam ilmu-ilmu itu diibaratkan sebagi luh atau kitab atau buku. Jika "sesuatu" yang memegang pena itu agar ia dapat menulis, maka "sesuatu" itu disimbolkan sebagai tangan.

Jika Hadirat yang meliputi tangan, ruh, pena dan kitab itu disusun secara teratur, maka Hadirat itu disimbolkan dengan bentuk atau bayangan. Jika bentuk manusia itu memiliki urutan tertentu maka hal ini adalah seperti diciptakan "menurut bayangan atau bentuk Yang Penyayang" . Di sini ada perbedaan antara ayat "menurut bayangan Yang Penyayang" dengan ayat "menurut bayangan Allah".

Karena sayangnya itulah Allah menyebabkan Hadirat itu berupa dalam "bayangan" itu, karena sayangNya, Allah karuniakan Adam satu "bentuk" atau "bayangan" yang meliputi setiap jenis yang ada dalam seluruh alam ini, sehingga seolah-olah Adam itu terdiri dari semua hal dalam alam ini atau salinan ringkasan alam ini. Bentu Adam ("bayangan" ringkasan ini) direkam dengan tulisan Allah. Maka jadilah Adam itu tulisan Allah, yang bukan berbentuk huruf, seperti juga kata atau kalamNya di luar batas lingkungan bunyi dan suara; dan penanya di luar batas lingkungan bambu atau besi; dan tangan bukan dari daging dan tulang. Jika tidak ada kasih sayang atau rahmat Tuhan ini, maka setiap anak Adam tidak akan berupaya ingin mengenal Allah.

Orang yang mengenal dirinya, akan kenal pada TuhanNya. Inilah kesan kasih sayang Allah. Adam diciptakan "menurut bentuk yang penyayang" bukan "menurut bentuk Allah". Jadi Hadirat Allah itu bukanlah sama dengan Hadirat Yang Penyayang, bukan sama dengan hadirat Kesultanan, bukan sama dengan hadirat Ketuanan. Karena itulah Allah memerintahkan kita untuk memohon perlindungan dari tuan manusia, ruh manusia, tuhan manusia - (Al-Quran). Jika tanggapan ini tidak dapat membawa pengertian bahwa "Allah menciptakan manusia menurut bayangan (bentuk) Yang Penyayang, maka secara bahasanya (nahwu) ayat itu tidaklah benar. Tentu dikatakan saja " menurut bayangannya ". tetapi ayat itu menurut pendapat Imam Bukhari, berbunyi " menurut bayangan Yang Penyayang ".

Untuk membedakan antara Hadirat Kesultanan dan Hadirat Ketuanan (Rab), itu membutuhkan penerangan dan diskusi yang sangat panjang. kita tinggalkan dulu hal itu. Cukuplah dengan contoh cara sombolik yang kita terangkan itu. Sesungguhnya pembicaraan tentang hal tersebut tidaklah ada batas dan terbatas.
Jika Anda tidak dapat menerima atau susah menerima kias atau perumpamaan tersebut, maka senangkanlah hati saudara dengan ayat Al-Quran ini yang berarti; "Diturunkan dari langit itu hujan; dan mengalir air hujan itu dalam lembah-lembah menurut kemampuan lembah-lembah itu ". Dari ayat ini dapatlah diartikan bahwa dimaksud dengan air itu adalah "ilmu pengetahuan" dan lembah-lembah itu adalah "hati-hati manusia"

PENGESAHAN BENARNYA TENTANG ZAHIR DAN yang NAMPAK SATU Misalkan

Hanya orang-orang bathiniah (kebatinan) saja yang membatalkan merek-merek zhohir itu. Mereka memandang satu alam saja yaitu Alam Ghaib dan mereka tidak tahu perimbangan yang ada antara yang zhohir dengan yang batin. Inilah segi atau aspek yang mereka tidak mau tahu.

Sebaliknya orang-orang yang membatalkan yang ghaib dan memandang yang zhohir saja adalah orang-orang Hasuwiyah (materi). Dengan lain kata memujaradkan (abstrak) dan memisahkan yang zhohir dari keseluruhannya adalah orang-orang materi, dan barangsiapa memujaradkan batin adalah orang kebatinan dan barangsiapa menghubungkan dan memperkaitkan yang gaib dan yang zhohir itu, maka dialah orang yang sempurna dan benar. Karena itulah Nabi Muhammad SAW. pernah bersabda; "Al-Qur'an itu memiliki yang zhohir dan yang batin, yang awal dan akhir".

Relevansi kata zhohir dengan ide (tanggapan) batin, perbedaan antara posisi yang benar dan yang salah, bisa kita mengulang seperti berikut;
Seorang hamba mendengar sabda Nabi yang artinya; "Malaikat tidak akan masuk ke rumah yang di dalamnya ada anjing (atau gambar)" Tetapi hamba itu terus juga memelihara anjing di rumah itu karena katanya bahwa sabda Nabi itu bukanlah berarti yang lahir itu, tetapi maksud sebenarnya adalah "halau anjing kemarahan dari rumah hati karena kemarahan itu menghalangi ilmu yang datang dari cahaya kemalaikatan, karena marah itu adalah iblis hati". Seorang yang lain mematuhi perintah itu secara lahirnya (zhohirNya), dan kemudian berkata; "Anjing itu bukanlah sebab bentuk zhohirnya, tetapi adalah sebab tanggapan anjing pada segi batinnya yaitu ganas dan cerobohnya. Jika rumahku yang zhohir tempat badanku duduk lagi harus dibersihkan dari anjing yang zhohir, maka tentulah lebih lagi perlu dan pentingnya rumah hatiku yaitu tempat manusia ku sebenarnya dibersihkan dari sifat-sifat anjing, dalam tanggapan ruhani ". Orang yang mematuhi keduanya sekaligus, maka itulah orang yang sempurna. Maka inilah apa yang dimaksud "Orang yang sempurna itu adalah orang yang tidak membiarkan cahaya ilmunya menghapus cahaya ketaatan". Begitu juga dia tidak pernah dilihat membiarkan dirinya meninggalkan syariat, meskipun kebatinannya telah cukup sempurna. Orang yang meninggalkan syariat itu sebenarnya telah salah dan ini ada terjadi kepada beberapa orang yang menganggap dirinya Sufi yang mengatakan dibolehkan membuang syariat seperti menggulung tikar saja, sehingga ada yang mengatakan shalat tidak perlu kepadanya lagi karena ia selalu shalat dalam hatinya. Tetapi ini berbeda dari kesesatan golongan orang-orang Abahiyah (orang-orang sesat yang dipengaruhi oleh pemikiran-meikiran Kristen) yang mempermain-mainkan kata filsafat seperti seseorang mengatakan; "Allah tidak membutuhkan kerja-kerja (praktek) kita". dan dia tidak mau langsung membuang marah dan nafsu ammarah yang ada padanya karena pada kepercayaannya dia tidak diperintahkan untuk membuang marah dan nafsu yang ingkar itu. Sesungguhnya kaum yang terakhir itu adalah yang paling jahil dan bodoh. Tetapi untuk kesalahan golongan yang pertama itu, kesalahan orang-orang sufi yang telah diselewengkan oleh setan dari jalan yang lurus. Kita kembali ke pembicaraan kita tentang "melepas sepatu" itu. Kata zohir itu menyadarkan arti batinnya yaitu menanggalkan dua alam. Simbol yang zhohir itu adalah benda benda sebenarnya dan pemakaiannya kepada maksudnya yang batin itu adalah hakikatnya. Mereka yang mengenal ini adalah jiwa-jiwa yang telah mencapai tingkat kaca transparan (kaca yang bisa tembus pandang ke balik atau tembus sinar).

Pada khayalan atau sangkaan (imajinasi), benda yang zhohir yang menjadi bentuk simbol itu, adalah keras dan kasar. Ia melindungi maksud batinnya. Ia terselit antara kita dengan cahaya yang tidak tampak itu. Tetapi ketika benda kasar itu menjadi kaca transparan, maka cahaya itu akan terus menerus tembus ke sebaliknya bahkan cahaya itu tidak terhapus oleh hembusan angin. akan kita ceritakan pada kaca transparan ini. Sementara itu, ingatlah bahwa alam rendah dan kasar pada pandangan Ambiya Allah, telah menjadi seperti naungan "KACA" transparan, dan "Misykaat (ceruk) cahaya";
filter yang menyaring keluar dengan terang rahasia-rahasia Ilahi;
batu locatan menuju Alam Tinggi.
Maka tahulah kita bahwa simbol yang zhohir ini adalah benar dan ada; dan dibelakngnya terletak rahasia. Ini pun serupalah bisa dipakai pada simbol-simbol "Gunung", "Api" dan lain-lain itu.
Imam Robbani Mujaddid Alf Tsani Syekh Faruqi Sirhindi Rahmatullah 'Alaih dan sekelian para pengikutnya telah tsabit bahwa pada setiap insan terhimpun sepuluh Latifah. Lataif adalah kata jamak untuk latifah yang berarti kehalusan dan lima dari latifah tersebut adalah dari Alam Amar sedangkan lima latifah lagi adalah dari Alam Khalaq. Alam Amar dan Alam Khalaq adalah berada dalam lingkungan Daerah imkan. Untuk memahami Tariqat Naqshbandiyah ini, sangat penting untuk kita memahami tentang sepuluh lataif insan.

Lima Lataif dari Alam Amar itu adalah: 
  1. Qalb 
  2. Ruh 
  3. Sir 
  4. Khafi 
  5. Akhfa 
Lima Lataif dari Alam Khalaq itu adalah:
  1. Nafs 
  2. Angin 
  3. Api 
  4. Air 
  5. Tanah 
Sewaktu Allah SWT menciptakan bentuk jasmani untuk insan, dikurniakannya juga lima Lataif Alam Amar di beberapa posisi pada badan manusia dan mengurniakannya takluk keasyikan. Adapun untuk Alam Amar, posisi Latifah Qalb itu terletak pada tetek kiri pada anggaran dua jari di bawah puting dan cenderung sedikit ke arah ketiak. Peringkat Latifah Ruh adalah di bawah tetek kanan pada anggaran dua jari di bawah puting. Peringkat Latifah Sir adalah pada tetek kiri pada anggaran dua jari ke arah dada. Peringkat Latifah Khafi adalah pada tetek kanan pada anggaran dua jari ke arah dada dan posisi Latifah Akhfa adalah pada tengah-tengah dada. Allah menganugerahkan takluk keasyikan pada Lataif ini di tubuh manusia.

Takluk Alam Amar ini akan mencapai peningkatan rohani setelah disucikan sehingga kita dapat mengenali diri kita dan asal usul kita yang merupakan cahaya Nur yang tersembunyi dalam tubuh jasmani yang gelap dan zulmat ini. Adapun untuk Alam Khalaq, posisi Latifah Nafs itu adalah di antara kedua alis yang mewakili otak dan akal manusia. Selanjutnya Latifah untuk empat anasir yaitu Tanah, Air, Api dan Angin adalah pada seluruh tubuh jasmani manusia. Sebagaimana Alam Amar, Alam Khalaq juga harus disucikan karena dengan penyuciannya akan membawa seseorang itu kepada peningkatan identitas dan asal-usul hakikat kejadian. Penyucian seluruh Sepuluh Lataif Insan ini di lakukan dalam 7 Tingkat. Tingkat pertama penyucian Latifah Qalb, kedua penyucian Latifah Ruh, ketiga penyucian Latifah Sir, keempat penyucian Latifah Khafi, kelima penyucian Latifah Akhfa, keenam penyucian Latifah Nafs dan ketujuh adalah penyucian Latifah Qolibiah yaitu Empat Anasir mencakup Angin, Api, Air dan Tanah. Penyucian Latifah pertama sampai keenam adalah berzikir pada posisi masing-masing seperti yang telah dijelaskan sedangkan penyucian Latifah yang ketujuh yaitu Latifah Qolibiah dengan berzikir pada setiap partikel, massa dan rambut di seluruh tubuh kita yang mencakup seluruh Sepuluh Lataif. Dalam gambar (Gambar 1) dapat diperhatikan posisi Latifah-latifah pada tubuh manusia sebagai maqam berzikir. 1. Qalb 2. Ruh 3. Sir 4. Khafi 6. Nafs 5. Akhfa 7. Tanah (10) 7. Air (9) 7. Angin (7) 7. Api (8)

ALAM KHALAQ

Alam Khalaq adalah alam tidak kekal yang mana kejadiannya terjadi demi tahap. Ia dibuat dalam enam periode waktu dan berada dalam batas waktu dan ruang tempat. Juga mengandung siang dan malam, kelahiran dan kematian. Alam Khalaq berada di dalam Daerah imkan pada posisi di bawah 'Arasy. Alam Khalaq mengandung Nafs dan Empat Anasir yaitu Angin, Api, Air dan Tanah. Singkatnya Alam Khalaq adalah merujuk kepada tubuh Jasmani manusia. Posisinya pada badan manusia adalah pada seluruh jasad. Tubuh jasmani manusia mengandung keempat unsur ini ditemukan dengan Nafs untuk membentuk Alam Khalaq. 

Hadhrat Mujaddid Alf Tsani Syekh Faruqi Sarhindi Rahmatullah 'alaih telah menyatakan di dalam kitabnya Ma'arif Laduniyyah pada Makrifat 26 tersebut Fana dan Latifah sebagai berikut: "Fana berarti melupakan semua hal kecuali Allah Ta'ala. Setiap dari kelima Latifah dalam Alam Amar terkandung bayangan gambaran dan takluk keasyikan di dalam tubuh manusia. Kelima Latifah itu telah diberikan nama sebagai Qalb, Ruh, Sir, Khafi dan Akhfa. 

Kebanyakan Aulia Allah tidak dapat membedakan antara satu dengan yang lain lalu menyebut semuanya sebagai Ruh. Ketika dimaksudkan Ruh, maka kelima hal ini juga turut dipahami. Ruh yaitu suatu Latifah sudah mengenal Allah Ta'ala sebelum ia di gabungkan dengan tubuh jasmani. Ia memiliki sedikit keinginan, pengetahuan dan cinta terhadap Allah Ta'ala. Ia telah diberikan energi dan kemampuan untuk mencapai ketinggian dan terpuji. Akan tetapi ia tidak akan dapat mencapai keberhasilan tersebut tidak bergabung dengan tubuh jasmani. Untuk maju dan cemerlang, ia harus disatukan dengan tubuh. Untuk maksud ini, pada mulanya Ruh telah diberikan takluk keasyikan terhadap tubuh. " "Kemudian, ia telah diberikan izin untuk menuju ke tubuh lalu ia tercampak ke tubuh. Dengan kondisinya yang halus dan suci, ia tenggelam ke dalam tubuh manusia. Ia menjadi tidak dikenal, tidak dikenal oleh tubuh. Ia lupa tentang dirinya. Ia terus mengira dirinya adalah tubuh. Ia kehilangan dirinya di dalam tubuh. Karena itulah kebanyakan manusia mengira diri mereka sebagai hanya tubuh. Tidak menyadari tentang keberadaan Ruh, mereka menolak. 

Allah Ta'ala dengan Zat Yang Maha Penyayang telah mengirim pesan kepada manusia yaitu Ruh, melalui para Nabi dan Rasul 'Alaihimussolatu wassalam. Dia mengajak mereka kepada DiriNya. Dia melarang mereka dari mengandalkan tubuh yang gelap ini. " "Seseorang yang yang telah ditetapkan untuk memperoleh kebaikan yang kekal akan mentaati perintah-perintah Allah dan meninggalkan cadangan devisanya terhadap tubuh. Dia mengucapkan kesejahteraan kepadanya dan ia akan terus kembali ke atas pada tingkat tingginya yang sebenarnya. Cintanya terhadap asal-usulnya yang pernah dirasakannya sebelum bergabung dengan tubuh meningkat secara tingkat demi tingkat. Cintanya terhadap benda yang bersifat sementara makin berkurang. Ketika dia melupakan keseluruhan pada tubuh jasmaninya yang gelap, yang mana tidak lagi rasa asyik dan cinta yang tinggal, maka dia sudah mencapai fana tubuh. Selanjutnya, dia harus melewati satu dari dua langkah dasar pada jalan Tasawwuf yaitu Fana dan Baqa. Kemudian jika Allah menghendaki dan merahmatinya, dia akan mencapai peningkatan spiritual lalu terus melupakan tentang dirinya. Bila ketidak kesadaran ini meningkat, dia akan langsung melupakan terus tentang dirinya. Dia tidak akan lagi mengenali sesuatu apapun selain dari Allah Ta'ala. 

Selanjutnya dia akan mencapai Fana Ruh yang mana berikutnya dia harus bergerak melanjutkan langkahnya yang kedua. " "Ruh datang ke dunia ini dengan keinginan untuk mencapai Fana yang kedua ini. Ini tidak akan dapat dicapai tanpa datang ke dunia ini. Jika Latifah Qalb melewati kedua langkah ini bersama-sama Ruh, ia akan mencapai fananya sendiri bersama-sama dengan Ruh. Jika Nafs bergabung Qalb dengan cara ini, ia juga akan disucikan, yaitu ia juga akan mancapai fananya. Tetapi saat Nafs telah mencapai tingkat Qalb, jika ia tetap berada di situ tanpa berusaha mencapai peningkatan dan melewati kedua langkah ini, ia tidak akan dapat mencapai tingkat ketidaksedaran. Ia tidak akan menjadi Mutmainnah atau jiwa yang tenang. " 

"Seseorang yang telah mencapai Fana Ruh mungkin tidak mencapai Fana Qalb. Ruh ibarat bapa kepada Qalb dan Nafs pula ibarat ibu ke Qalb. Jika Qalb memiliki keinginan terhadap Ruh sebagai bapaknya dan memalingkan dirinya dari Nafs sebagai ibunya dan jika keinginan ini bertambah kuat dan menarik Qalb ke arah bapaknya, maka ia akan mencapai derajatnya. Ini adalah dengan melewati kedua langkah ini. Bila Qalb dan Ruh mencapai Fana, Nafs tidak semestinya turut mencapai Fana. Jika Nafs memiliki keasyikan dan keinginan terhadap anaknya, dan jika keinginan ini semakin bertambah dan membuatnya semakin dekat dengan anaknya yang telah mencapai derajat bapaknya, maka ibunya juga akan menjadi seperti mereka. " 

"Kondisi yang sama juga terjadi untuk mencapai Fana pada Latifah Sir, Khafi dan Akhfa. Segala ingatan dan pikiran yang telah dihapus dan dilenyapkan dari Qalb hatinya menunjukkan kebenaran bahwa Ia telah melupakan segala hal yang lain selain Allah Ta'ala. Tidak ada daya upaya untuk mengingat sesuatu apa pun berarti bahwa pengetahuan dan segala sesuatu telah lenyap. Di dalam Fana, ilmu pengetahuan juga harus dilenyapkan. " Apabila Allah Ta'ala menginginkan seseorang hamba itu termasuk ke dalam urusanNya, maka Dia akan menyampaikan hamba itu untuk melayani salah seorang dari temannya, kemudian temannya itu akan menilai hal akan terjadi dan memberikan petunjuk untuknya melakukan latihan Kerohanian dan Mujahadah dan menyucikan batinnya dan melalui memperbanyak Dzikir dan Fikir, latifah-latifahnya yang tersembunyi itu akan kembali bertawajjuh ke asal usulnya. 

Pada zaman ini, karena kebanyakan mahasiswa mengalami lemah dan himmat, karena itulah Para masyaikh Naqshbandiyah rahimahumullah semenjak awal lagi mengarahkan murid mempraktikkan jalan zikir dan sebagai menggantikan praktek dan latihan yang sulit dan Mujahadah dan Ibadah yang berat, mengarahkan praktik yang sederhana dan selalu memperhatikan waktu untuk melaksanakan ibadah dan memperhatikan Tawajjuh kepada murid. Para masyaikh Naqshbandiyah telah mengarahkan sekelian murid mereka menuruti Sunnah Nabi Muhammad saw dan menjauhi segala bentuk Bid'ah dan mengarahkan para murid mereka untuk melakukan Zikir Khafi yaitu zikir yang tersembunyi. Untuk menghasilkan nikmat zikir yang berkelanjutan Para masyaikh Naqshbandiyah telah menetapkan tiga jalan Zikir Khafi yaitu [1] Zikir Ismu Dzat dan Nafi Itsbat, [2] muraqabah dan [3] Rabitah Syeikh.

ALAM AMAR

Alam Amar adalah suatu alam kekal yang mana hanya dengan perintah 'Kun' yang berarti 'Jadilah' maka itu akan terjadi. Ini mengacu pada saat penciptaan langit dan bumi yang mana Allah Ta'ala menciptakannya dengan perintah 'Kun' ini. Alam Amar ini berada di luar batas waktu dan ruang tempat. Alam Amar di dalam Daerah imkan pada posisi di atas 'Arasy. Alam Amar mengandung Qalb, Ruh, Sir, Khafi dan Akhfa. Alam Amar adalah alam dimana tersembunyinya rahasia hakikat ketuhanan. Di sana tersembunyinya segala bayangan kebenaran yang berkaitan dengan Zat dan Sifat Allah SWT. Singkatnya Alam Amar adalah merujuk kepada tubuh Rohani manusia. Posisinya pada badan manusia adalah di bagian dada seperti yang dijelaskan dalam lima Lataif Alam Amar. Menurut Imam Razi Rahmatullah 'alaih, Ruh manusia berasal dari Alam Amar sedangkan jasad manusia adalah berasal dari Alam Khalaq. Menurut Imam Ghazali Rahmatullah 'alaih, keberadaan Alam Amar adalah di luar batas pencapaian, melalui pengalaman dan khayalan. Ia tidak memiliki batas dan tidak dapat diukur dengan waktu dan ruang. Menurut Hadhrat Imam Rabbani Rahmatullah 'alaih, terdapat lima alam di dalam Alam Amar yang merupakan asal usul seluruh lataif. Latifah Qalb berasal dari alam malakut, latifah Ruh berasal dari Alam Arwah atau Jabarut, latifah Sir berasal dari Alam Lahut, latifah Khafi berasal dari Alam Bahut dan latifah Akhfa berasal dari Alam Hahut. alam malakut adalah Alam Para Malaikat dan berada dalam wilayah Hadhrat Nabi Adam 'Alaihissalam dan cahaya nurnya adalah kuning. Alam Arwah atau Jabarut adalah Alam Para Roh dan berada dalam wilayah Hadhrat Ibrahim 'Alaihissalam dan cahaya nurnya adalah merah. Alam Lahut adalah Alam Bayangan Sifat-Sifat Allah dan berada dalam wilayah Hadhrat Nabi Musa 'Alaihissalam dan cahaya nurnya putih berkilau. Alam Bahut adalah Alam Sifat-Sifat Allah dan merupakan alam yang tersembunyi dan berada dalam wilayah Hadhrat Isa 'Alaihissalam dan cahaya nurnya adalah hitam. Alam Hahut pula adalah Alam Hadhrat Zat Yang Suci dan merupakan alam yang lebih tersembunyi. Cahaya nurnya adalah hijau dan alam ini berada dalam wilayah Hadhrat Baginda Muhammad Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Latifah Qalb Latifah Ruh Latifah Sir Latifah Khafi Latifah Akhfa alam malakut Alam Jabarut Alam Lahut Alam Bahut Alam Hahut Adam Ibrahim Musa Isa Muhammad Siddiqin kewalian Kenabian Ulul ' Azmi Ahmad Syeikh Mahdi Abu Bakar Muhammad Allah Ya Sayyid Ya Sahib Ya Siddiq Ya Sayyid Ya Allah Kashf Qulub Kashf Qubur Jazbah Sukr Hairat Sughra Haqqul Anak Jari Manis Jari Tengah Jari Telunjuk Ibu Jari

DAERAH imkan

Seluruh Alam Maya Semesta Raya ini berada dalam Daerah imkan. Daerah imkan atau Daerah Mumkinat adalah daerah luas Alam Kabir dan iannya terbagi dua, atas dan bawah yang meliputi Alam Amar dan Alam Khalaq. Separuh bagian bawahnya adalah dimulai dari 'Arasy hingga ke bawah tanah dan separuh bagian atasnya adalah dimulai dari atas' Arasy hingga seatas-atasnya. Alam Amar adalah pada separuh bagian atas Daerah imkan sedangkan Alam Khalaq pula adalah pada separuh bagian bawah Daerah imkan (Gambar 2 ). Pada tubuh setiap insan memiliki hubungan kaitan dengan Daerah imkan yang terdiri dari Alam Amar dan Alam Khalaq yaitu pada tubuh Rohani dan Jasmani. Alam semesta jika dilihat melalui pandangan batin mata hati, tampil dalam bentuk suatu lingkaran. Lingkaran ini disebut sebagai Daerah imkan atau Daerah Mumkinat atau daerah yang mungkin dan daerah ini dibagi menjadi dua bagian yaitu Alam Amar dan Alam Khalaq. Di tengah-tengah lingkaran itu terdapat satu garis melintang yang membagi lingkaran itu ke satu bagian di atas dan satu bagian lagi di bawah. Garis di tengah itu merupakan 'Arash Mu'alla yang merupakan dealer ke Alam Amar dan Alam Khalaq.

 'Arash ALAM AMAR ALAM KHALAQ Ruh Khafi Qalb Sir Akhfa Nafs Angin Air Tanah Api Menurut Hadhrat Mujaddid Alf Tsani Syekh Faruqi Sarhindi Rahmatullah 'alaih manusia adalah alam kecil. Bila Allah menjadikan manusia, Dia menggunakan kuasaNya untuk menempatkan latifah-latifah Alam Amar ini ke dalam dada manusia dan menjadikannya asyik dengan takluk tubuh. Ini adalah karena Allah SWT ingin menjadikan manusia itu sempurna dan dilengkapkanNya dengan Alam Amar dan Alam Khalaq. Dengan cara ini manusia itu disebutkan sebagai Alam Saghir. Manusia merupakan biasan dalam bentuk kecil untuk kejadian Alam Maya Semesta Raya [Kosmos] ini atau disebut Alam Kabir [makrokosmos] yang berarti alam besar. Sebagai biasan, manusia adalah Alam Saghir [mikrokosmos] yang berarti alam kecil. Segala apa yang ada di alam yang kecil ini adalah wujud di alam yang besar. Namun demikian, setiap apa yang ada di alam besar tidak semuanya berada di alam kecil. Melalui alam kecil, terlihat apa yang ada di alam besar sana. Namun, tidak semua manusia yang dapat melihat alam besar melalui alam kecil dirinya. Di dalam diri manusia itu memiliki suatu daya energi yang jika itu dibuka maka akan memungkinkannya melihat Alam Maya Semesta Raya karena dia merupakan Alam Saghir dan menjadi cermin ke Alam Kabir di dalam dirinya. Pada dasarnya, Alam Kabir ini adalah terlalu besar dan luas sehingga tidak ada pun yang dapat menyatakan betapa keluasannya. Para masyaikh menafsirkannya sebagai Daerah imkan yang berarti daerah luas yang mungkin baginya. Daerah imkan Alam Kabir ini terbagi dua yaitu Alam Amar dan Alam Khalaq. Perbandingan antara kedua Alam Kabir dan Alam Saghir dapat dilihat dalam Gambar 3, yang mana di Alam Kabir, 'Arasy Mu'alla menjadi sebagai perantara sedangkan di Alam Saghir pula, Hati menjadi sebagai pengatara. Karena itulah kepercayaan umum ada bahwa "Allah Ta'ala itu berada dalam hati orang-orang yang benar-benar beriman." 

Menurut para masyaikh Naqshbandiyah Haqqaniyah, hati manusia adalah merupakan biasan ke Hati spiritual Hakikat Kenabian. Hati spiritual ini memamerkan Samudra Kekuasaan atau disebutkan sebagai Bahrul Qudrah, yang merupakan tempat asal usul segala ciptaan. Samudra Kekuasaan Bahrul Qudrah ini berada di Alam Kabir dalam Alam Maya Semesta Raya. Daerah imkan. Barangsiapa yang mampu mencapai pengetahuan tentang hati akan mampu untuk memahami kebenaran Hakikat Kenabian Nur Muhammad. Nur Muhammad berada di dalam Samudra Kekuasaan Bahrul Qudrah ini. 

Hati yang banyak berdzikir akan menghasilkan limpahan faidhz dan ia akan ikut mengalir di dalam pembuluh darah di dalam tubuh dan mengisi tubuh dengan limpahan faidhz tersebut. Menurut Hadhrat Mujaddid Alf Tsani Syekh Faruqi Sarhindi Rahmatullah 'alaih, saat kelima lataif Alam Amar telah disucikan dengan sempurna, lataif Alam Khalaq juga dengan sendirinya akan disucikan, kemudian dia akan memahami hakikat Daerah imkan. Untuk mencapai maqam ini, seseorang perlu mancapai Fana Fi Syeikh. Ini akan mengangkat hijabnya terhadap pemahaman tentang Daerah imkan. Kebanyakan Salik berhenti pada tahap ini dengan memikirkan bahwa mereka telah sampai ke tempat tujuan mereka sedangkan mereka seharusnya terus bergerak melewati lingkaran Daerah imkan dengan mengeksplorasi Alam Amar. Untuk ini seseorang Salik itu harus mencapai Fana Fi Rasul. Kemudian barulah dirinya akan dapat merasakan pencapaian Fana Fillah. 

Untuk memahami Alam Kabir, Alam Saghir, Daerah imkan dan Bahrul Qudrah, perhatikan pada Gambar 3 berikut. Alam Maya Semesta Raya [Kosmos] Alam Kabir [Alam Besar - makrokosmos] Alam Amar [Alam kekal] Qalb - alam malakut [Malaikat] Ruh - Alam Jabarut [Roh] Sir - Alam Lahut [Bayangan Sifat-Sifat Allah] Khafi - Alam Bahut [Sifat-Sifat Allah] Akhfa - Alam Hahut [Zat Allah] 'Arasy Mu'alla Alam Khalaq [Alam Tidak Kekal] Nafs Angin Api Air Tanah Alam Saghir [Alam Kecil - mikrokosmos] Rohani Siddiqin kewalian Kenabian Ulul Azmi Ahmad Hati Jasmani Merasa menghirup Menyentuh Melihat Mendengar Alam Maya Semesta Raya [Kosmos]
Hadhrat Shah Bahauddin Naqshband Rahmatullah 'alaih merupakan Imam untuk Tariqat Naqshbandiyah dan seorang Mahaguru Tariqat terkemuka. Ia telah memperkuat jalan ini dengan tiga prinsip penting dalam Zikir Khafi selain delapan prinsip dasar yang telah dikemukakan oleh Hadhrat Khwajah Khwajahgan Syeikh 'Abdul Khaliq Al-Ghujduwani Rahmatullah' alaih yaitu:

1. Wukuf QALBI

Mengarahkan konsentrasi terhadap hati dan hati pula mengarahkan konsentrasi terhadap Allah Subhanahu Wa Ta'ala pada setiap waktu dan kondisi. Apakah dalam keadaan berdiri, berbaring, berjalan maupun duduk. Harus bertawajjuh ke hati dan hati pula tetap bertawajjuh ke Hadhrat Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Wukuf Qalbi merupakan persyaratan untuk zikir.
Peringkat Qalbi ini adalah pada posisi dua jari di bawah tetek kiri dan posisi ini harus selalu diberikan konsentrasi dan Tawajjuh. Bayangan limpahan Nur dari Allah harus selalu terlihat melimpah pada Qalbi dalam pandangan batin.
Ini merupakan suatu metode Zikir Khafi yakni suatu bentuk zikir yang tersembunyi dan tidak diketahui oleh Para Malaikat. Ia merupakan suatu metode zikir yang rahasia.

2. Wuquf 'adadi

Selalu memperhatikan jumlah ganjil ketika melakukan zikir Nafi Itsbat. Zikir Nafi Itsbat adalah lafal La ilaha illa Allah dan dilakukan di dalam hati menurut kaifiyatnya. Dalam melakukan zikir Nafi Itsbat ini, Salik harus selalu mengawasi jumlah zikir Nafi Itsbatnya itu dengan memastikannya dalam jumlah yang ganjil yaitu 7 atau 9 atau 19 atau 21 atau 23 atau bilangan yang ganjil.
Menurut para masyaikh, bilangan ganjil memiliki rahasia tertentu karena Allah adalah Ganjil dan menyukai bilangan yang ganjil dan itu akan menghasilkan ilmu tentang Rahasia Allah Ta'ala. Menurut Hadhrat Shah Naqshband Rahmatullah 'alaih,
"Memelihara bilangan di dalam zikir adalah langkah pertama dalam memproduksi Ilmu Laduni."
Memelihara jumlah bukanlah untuk jumlahnya semata-mata bahkan itu untuk memelihara hati dari ingatan selain Allah dan sebagai asbab untuk memberikan lebih konsentrasi dalam usahanya untuk menyempurnakan dzikir yang telah diberikan oleh Guru Murshidnya.

3. Wukuf ZAMANI

Setiap kali setelah menunaikan Shalat, harus bertawajjuh ke hati dan selalu memastikan hati dalam kondisi bertawajjuh kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Lakukan selama beberapa menit sebelum bangkit dari tempat Shalat. Kemudian setelah selang beberapa jam harus merevisi kondisi hati untuk memastikannya selalu dalam kondisi mahal Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Bila seseorang Murid itu telah naik ke tingkat menengah dalam bidang Keruhanian maka dia harus selalu memeriksa kondisi hatinya sekali pada tiap-tiap satu jam untuk mengetahui apakah dia ingat ataupun lalai kepada Allah dalam waktu-waktu tersebut. Jika dia lalai maka dia beristighfar dan berazam untuk menghapus kelalaian itu pada masa akan datang sampai dia mencapai tingkat Dawam Hudhur atau Dawam Agahi yaitu tingkat hati yang selalu hadir dan sadar ke Hadhrat Zat-Nya.

Ketiga prinsip ini adalah tambahan dari Hadhrat Shah Bahauddin Naqshband Rahmatullah 'alaih dalam membimbing sekelian para murid dan pengikutnya dan terus menjadi praktek yang tetap dalam Tariqat Naqshbandiyah.
MANUSIA adalah biasan dalam bentuk kecil untuk kejadian Alam Maya Semesta Raya [Kosmos] ini atau disebut Alam Kabir [makrokosmos] yang berarti alam besar. Sebagai biasan, manusia adalah Alam Saghir [mikrokosmos] yang berarti alam kecil. Segala apa yang ada di alam yang kecil ini adalah wujud di alam yang besar. Namun demikian, setiap apa yang ada di alam besar tidak semuanya berada di alam kecil. Melalui alam kecil, terlihat apa yang ada di alam besar sana. Namun, tidak semua manusia yang dapat melihat alam besar melalui alam kecil dirinya. Di dalam diri manusia itu memiliki suatu daya energi yang jika itu dibuka maka akan memungkinkannya melihat Alam Maya Semesta Raya karena dia merupakan Alam Saghir dan menjadi cermin ke Alam Kabir di dalam dirinya. Pada dasarnya, Alam Kabir ini adalah terlalu besar dan luas sehingga tidak seorang pun dapat mengatakan betapa besarkah tingkat keluasannya. Para masyaikh menafsirkannya sebagai Daerah imkan yang berarti suatu daerah luas yang mungkin baginya. Daerah imkan Alam Kabir ini terbagi dua yaitu Alam Amar dan Alam Khalaq. Perbandingan antara kedua Alam Kabir dan Alam Saghir dapat dilihat dalam Gambar 2, yang mana di Alam Kabir, 'Arash Mu'alla menjadi sebagai perantara sedangkan di Alam Saghir pula, Hati menjadi sebagai perantara. Karena itulah ada mafhum sebuah Hadits yang menyatakan bahwa, "Allah Ta'ala itu berada dalam hati orang-orang beriman."
Menurut para masyaikh Naqshbandiyah, hati manusia adalah merupakan biasan ke Hati ruhaniah Hakikat Muhammadiyah. Hati ruhaniah ini memamerkan Samudra Kekuasaan atau disebutkan sebagai Bahrul Qudrah, yang merupakan tempat asal usul segala ciptaan. Samudra Kekuasaan Bahrul Qudrah ini berada di Alam Kabir dalam Alam Maya Semesta Raya. Daerah imkan.
Barangsiapa yang mampu mencapai pengetahuan tentang hati akan mampu untuk memahami kebenaran Hakikat Kenabian Nur Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
Hakikat Nur Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam di dalam Samudra Kekuasaan Bahrul Qudrah ini. Hati yang banyak berdzikir akan menghasilkan limpahan Faidhz dan ia akan ikut mengalir di dalam pembuluh darah di dalam tubuh dan mengisi tubuh dengan limpahan Faidhz tersebut.
Menurut Hadhrat Mujaddid Alf Tsani Syekh Faruqi Sarhindi Rahmatullah 'alaih, saat kelima lataif Alam Amar telah disucikan dengan
sempurna, lataif Alam Khalaq juga dengan sendirinya akan disucikan, kemudian dia akan memahami hakikat Daerah imkan. Untuk mencapai maqam ini, seseorang itu harus mancapai Fana Fi Syeikh. Ini akan mengangkat hijabnya terhadap pemahaman tentang Daerah imkan.
Kebanyakan Salik berhenti pada tahap ini dengan memikirkan bahwa mereka telah sampai ke tempat tujuan mereka sedangkan mereka seharusnya terus bergerak melewati lingkaran Daerah imkan dengan mengeksplorasi Alam Amar dan selanjutnya menempuh Wilayat Sughra, Wilayat Kubra dan Wilayat 'Ulya.
Seseorang Murid tidak akan sama sekali dapat menempuh Wilayat-Wilayat ini tanpa bimbingaan Syeikh dan para masyaikh. Untuk ini seseorang Salik itu harus mencapai Fana Fi Rasul. Kemudian barulah dirinya akan dapat merasakan pencapaian Fana Fillah.
Sebenarnya APA yang kau kejar?, jelas-jelas kau yang membuat bayangan itu, kau ciptakan di angan-anganmu, lalu kau pontang-panting mengejarnya siang malam, dengan harapan kau dapat menangkap bayangan itu, Dan menjadikannya menjadi nyata, tapi kau selalu mengeluh lelah dengan pengejaranmu.

RUHANI/RUH

Yang dikatakan RUH itu terdiri dari Lapisan Lapisan Balutan Cahaya Cahaya yang terdiri dari Balutan Balutan

Ruhani Yang Batin itu tidak dapat dilihat tetapi terasa oleh kita akan wujudnya kerana nyata pada kita akan kesan kesan kewujudannya. Hal sebegini dikatakan GHAIB.

Ada pelbagai nama yang digunakan didalam Ilmu Hakikat untuk merujuk apa yang dikatakan RUH itu. Ada yang memanggilnya Muhammad Mustafa Rasullullah, Ruhani, Al-Latifah Rabbaniah dan lain lain lagi.

Tugas utama Ruhani ialah menghidupkan Jasad melalui Jantung. Ruhanilah yang menyebabkan Jantung manusia itu berfungsi. Ruhani jugalah yang menyampaikan HAK ALLAH kepada Jasad yaitu Sifat Sifat MaaniNYA yang tujuh itu. Jadi Ruhani juga dirujuk sebagai RASUL . Maka sesuailah gelarannya sebagai Muhammad Mustafa Rasullullah.

DIRI HAKIKI

Begitu juga halnya berkaitan DIRI HAKIKI manusia itu. Banyak namanya. Ada yang merujuknya sebagai Diri Rahsia, Diri Yang Sebenarnya Diri, Diri Tajalli, Tiflul Maani dan lain lain. Allah pula merujuknya didalam Al-Quran sebagai Ruhku yaitu Ruh Al-Qudsi Allah.

Allah SWT juga merujuknya sebagai AKULAH RAHSIANYA didalam Hadith Qudsi . Yang pasti ianya adalah RUH ALLAH yang memilikki Sifat Sifat Allah Yang Agung. Dialah yang merupakan SUMBER MAHA HIDUP yang menghidupkan NYAWA atau Ruhani manusia itu yang seterusnya menghidupkan sel sel anggota anggota Jasad hingga ianya boleh berfungsi seperti yang dikehendakki oleh Penciptanya.

BALUTAN-BALUTAN CAHAYA

Kekuatan Rahsia Allah ini hanya Allah sahaja yang mengetahui sepenuhnya. Oleh kerana itu RUHKU ini telah dibalut oleh Allah dengan pelbagai balutan agar ianya tidak membakar Jasad dan agar kekuatan dan Keagungannya dibataskan sesuai dengan cara kehidupan manusia itu sendiri. Dari segi ilmunya balutan balutan ini dikatakan sebagai BALUTAN CAHAYA mengikut kedudukan alamnya.

Butirannya adalah seperti berikut :-
a. Lapisan Balutan pertama dirujuk sebagai BALUTAN CAHAYA LAHUT dan ia dikenali sebagai RUH AL- QUDSI

b. Lapisan Kedua ialah BALUTAN CAHAYA JABARUT dan ia dikenali sebagai RUH SULTANI

c. Lapisan Balutan Ketiga ialah BALUTAN CAHAYA MALAKUT dan ia dikenali sebagai RUH RUHANI

d. Manakala Lapisan Keempat dan terakhir ialah BALUTAN CAHAYA MULKI dan ia dikenali sebagai RUH JASMANI.

Seperti anggota anggota Jasad juga BALUTAN BALUTAN CAHAYA ini merupakan Zat Serba Zat yang seni seni yang hanya diketahui Allah. Ia merupakan SUMBER HIDUP manusia itu sendiri.

TEMPAT RUH DI DALAM BADAN

Menurut Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani tempat tempat Ruh Ruh diatas didalam Jasad manusia adalah seperti berikut :-

a. Ruh Jasmani Letaknya antara kulit dan daging

b. Ruh Ruhani Didalam jantung manusia itu

c. Ruh Sultani Di Baitillah Mukmin yaitu satu bahagian khusus
di-jantung manusia itu

d. Ruh Al-Qudsi Didalam RASA

RUH RUH yang merupakan Balutan Balutannya itulah yang dirujuk sebagai DIRI BATIN MANUSIA itu dan RUH AL-QUDSI itu pula dirujuk sebagai DIRI SEBENAR atau DIRI HAKIKI MANUSIA itu yang oleh Allah dirujuknya sebagai RAHSIA dan RAHSIAnya adalah ALLAH sendiri.

Maka inilah yang dirujuk oleh Allah didalam Al-Quran :-

Jika mereka bertanya tentang AKU Ya Muhammad maka katakanlah Aku DEKAT dan menyahut seruan orang yang memanggil Aku.

DIRI inilah yang diperintah oleh Allah untuk dikenali oleh manusia itu melalui Hadits :-

Man Arafa Nafsahu Faqad Arafa Rabbahu

Yang demikian jika manusia itu dapat mengenal DIRI ini maka kenal ia akan Tuhannya Allah SWT. Maka sudahlah ianya menunaikan Perintah Allah.

MANUSIA PADA PANDANGAN HAKIKAT

Pada pandangan Hakikat manusia itu adalah :-

a. Makhluk paling sempurna diciptakan Allah.

b. Manusia itu menanggung Amanah Allah.

c. Manusia itu adalah RAHSIA ALLAH.

d. Manusia itu adalah umat / keturunan Muhammad. ( dalam hakikat )

e. Manusia itu adalah keterpaduan DUA MUHAMMAD menjadi satu.

f. Manusia itu adalah pentajallian akhir Allah yang paling sempurna.

PECAHAN MANUSIA

Manusia itu terdiri dari dua perkara. Ianya terdiri dari BENDA dan BUKAN BENDA ( Immaterial )

Yang dikatakan BENDA ialah TUBUH atau JASAD atau ZAHIRnya. Yang dikatakan BUKAN BENDA ialah BATINnya yaitu NYAWA atau RUHNYA.

Ilmu Hakikat mengatakan bahawa manusia itu terdiri dari DUA MUHAMMAD. Kenapa pula dipanggil MUHAMMAD ?

Ada dua sebab. Pertama manusia itu dicipta oleh Allah mengikut EJAAN NAMA MUHAMMAD itu sendiri. MIM pertama ialah kepalanya, HA pula tangannya, MIM kedua pula pusatnya dan DAL merupakan kakinya. ( Dengan satu MUHAMMAD manusia itu belum boleh berdiri kerana tangannya hanya ada satu ) Maka ia memerlukan satu lagi MUHAMMAD yang melengkapkannya menjadi Insan Yang Sempurna.

Kedua ialah kerana Ruh Manusia itu yaitu Muhammad Awal berasal dari RUH AGUNG yaitu Sifat Allah Yang Agung NUR MUHAMMAD yaitu Nabi kita Muhammad. ( Rujuk Hadith )

MUHAMMAD LAHIR / MUHAMMAD AKHIR

Yang pertama ialah Muhammad Zahir atau Muhammad Akhir yaitu Batang Tubuh atau Jasadnya yang zahir yang dapat dilihat dengan mata kepala. Tubuh atau Jasad ini disebut sebagai MANUSIA SEMENTARA YANG LAHIR. Ianya juga dirujuk sebagai ADAM.

Jasad atau tubuh manusia ini terdiri dari pelbagai anggota. Anggota atau organ organ ini juga boleh dibahagikan kepada dua yaitu anggota luar badan dan anggota dalam badannya. Anggota anggota itu pula terdiri dari jutaan sel sel atau molekul yang halus halus dan seni seni.

MUHAMMAD BATIN / MUHAMMAD AWAL

Yang kedua ialah Muhammad Batin atau Muhammad Awal yaitu Nyawanya. Yang dikatakan Nyawa atau Batin itu juga terdiri dari dua perkara,

Pertama apa yang disebut sebagai RUH dan yang kedua ialah apa yang disebut sebagai DIRI RAHSIA atau DIRI SEBENAR atau DIRI HAKIKI manusia itu.
Seseorang yang akan menerima aneka anugerah, atau amanah kepercayaan dari Tuhan akan dipersiapkan oleh Tuhan menurut kebijaksanaan-Nya. Seseorang yang akan menerima jazbah dipersiapkan terlebih dahulu. Ada orang yang diarahkan kepada jalan bersuluk. Walaupun mereka memasuki suluk di dalam kesadaran namun pada hakikatnya mereka ditarik oleh Petunjuk Ghaib. Petunjuk Ghaib bertindak ke atas mereka tanpa di sadari petunjuk itu meresap ke hati, menggerakkan pikiran, mengaliri urat-urat dan menarik segala anggota tubuh manusia untuk berjalan di jalan yang Allah kehendaki, yang pada lahiriahnya kelihatan sebagai bimbingan guru mereka. Kehadiran guru yang arif memudahkan murid memahami petunjuk-petunjuk sampai kepada mereka dari alam ghaib.
Di antara peristiwa yang menunjukkan Rasulullah s.a.w. telah ditukar oleh Allah dari alam biasa ke alam lain sebagaimana tercatat sejarah di mana Rasulullah sedang mengkebumikan tokoh-tokoh besar musyrikin Quraisy. Di antara tokoh-tokoh yang berkaliber besar dari kaum Musyrikin Quraisy yang tewas itu antara lain Abu Jahal bin Hisyam (panglimanya), 'Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, Umaiyah bin Salt. Semua mayat musuh itu dimasukkan ke dalam sebuah lubang, lalu ditimbuni dengan tanah.
Rasulullah lalu berdiri di tempat itu dan berkata:

"Hai Ahli Lubang, hai Abu Jahal bin Hisyam, hai 'Utbah bin Rabi'ah, hai Syaibah bin Rabi'ah, hai Umaiyah bin Salt, apakah kamu sudah memperoleh apa-apa yang dijanjikan Tuhan kamu kepada kamu sekalian? Kami sudah memperolehi apa yang pernah dijanjikan Allah kepada kami." Mendengar itu para sahabat bertanya kepada Rasulullah: "Ya Rasulu'llah, apakah engkau menyeru orang-orang yang sudah menjadi bangkai?" Rasulullah menjawab: "Mereka lebih mendengar daripada kamu akan apa-apa yang saya ucapkan itu, hanya mereka tidak dapat menjawabnya."

Peristiwa ini jelas di mana menunjukkan bahawa Rasulullah sedang berada dalam jadhbah, di mana Allah telah pindahkan Rasulullah di alam lain dari alam biasa.

Firman Allah dalam surah at-Taubah ayat 25 :

Maksudnya : 25. Sesungguhnya Allah telah menolong kamu mencapai kemenangan Dalam banyak medan-medan perang dan di medan perang Hunain, Iaitu semasa kamu merasa megah Dengan sebab bilangan kamu Yang ramai; maka bilangan Yang ramai itu tidak mendatangkan faedah kepada kamu sedikitpun; dan (semasa kamu merasa) bumi Yang Luas itu menjadi sempit kepada kamu; kemudian kamu berpaling undur melarikan diri.
dari Hadis Rasulullah s.a.w yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang bermaksud
Sesungguhnya Allah Ta'ala telah berfirman: Barangsiapa yang memusuhi seorang waliKu, maka Aku akan isytiharkan perang terhadapnya. Seorang hambaKu tidak bertaqqarub (iaitu menghampirkan dirinya) kepadaKu dengan suatu amalan yang lebih Aku sukai lebih daripada amalan yang Aku fardhukan ke atasnya. Seseorang hamba sentiasa bertaqqarub dirinya kepadaKu, dengan amalan-amalan sunat sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku sudah mencintainya, maka jadilah Aku pendengarannya yang dia mendengar sesuatu dengannya, jadilah Aku penglihatannya yang dia melihat sesuatu dengannya, jadilah Aku tangannya yang dengannya dia melakukan kerja, jadilah Aku kakinya yang dengannya dia berjalan. Sekiranya dia meminta daripadaKu Aku akan kurniakannya dan sekiranya dia meminta perlindungan dariKu nescaya Aku akan melindunginya.

Hadis di atas membayangkan bahawa orang majdhub adalah orang muqarrabīn yang yang sangat dicintai oleh Allah. Ini dapat difahami dari definisi di atas bahawa orang majdhub adalah seorang insan yang dipindahkan segala pendengaran, penglihatan, tindak-tanduk adalah dibawah bimbingan Allah. Maka orang majdhub tersebut tidak mendengar, melihat, bergerak, bertindak mengikut pemikiran akal dan minda perasaannya. Tindakan itu bukannya pilihan akal, minda dan perasaannya. Tindakan adalah pilihan dan kehendak Allah. Mereka adalah manusia yang telah Allah tukar pendengaran, penglihatan, tindak-tinduk mereka hanya semata-mata datang dari Allah.

Jika dia bertindak sesuatu, bukan dia yang hendak bertindak melakukan sesuatu tersebut, tetapi Allah yang menggerakkan jasadnya untuk bertindak. Maka tindakan tersebut bukannya tindakan yang datang dari pemikirannya, tetapi Allah yang berkehendakkan kepada tindakan tersebut. Allah yang perlakukan tindakan tersebut terhadap insan tersebut. Ini dikuatkan dengan firman Allah dalam surah al-Anfal ayat 17 :
Maksudnya : maka bukanlah kamu Yang membunuh mereka, akan tetapi Allah jualah Yang menyebabkan pembunuhan mereka. dan bukanlah Engkau (Wahai Muhammad) Yang melempar ketika Engkau melempar, akan tetapi Allah jualah Yang melempar (untuk membinasakan orang-orang kafir), dan untuk mengurniakan orang-orang Yang beriman Dengan pengurniaan Yang baik (kemenangan) daripadanya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, lagi Maha mengetahui.

Menurut Ibnu Kahtir menunjuk sesuatu perbuatan adalah datang dari Allah, bukan dari tenaga, daya upaya manusia. Allah s.w.t adalah yang mencipta perbuatan hamba-hambanya. Segala kebaikan adalah datang dari Allah. Manusia hanyalah hamba semata-mata. Tidak lebih dari itu. Difahami dari ayat di atas ketika Baginda Rasulullah s.a.w. melontar, rasul dalam keadaan jadhbah. Beliau telah pindahkan oleh Allah kehadraNyat, Rasulullah membaling dengan penuh dirinya merasakan kebesaran Allah, bukan merasanya duduk di alam biasa. Allah mengurniakan kemenangan dalam perang badar sebagaimana Allah nyatakan dalan surah Ali Imran ayat 123 :

Maksunya : Sesungguhnya Allah telah menolong kamu mencapai kemenangan Dalam peperangan Badar, sedang kamu berkeadaan lemah (kerana kamu sedikit bilangannya dan kekurangan alat perang). oleh itu bertaqwalah kamu kepada Allah, supaya kamu bersyukur (akan kemenangan itu).

Ibnu Kathir menjelaskan dalam tafsirnya :

Maksudnya : berkata Ali ibn Abi Talha dari Ibnu Abbas, Rasulullah s.a.w. mengangkat tangannya berarti pada Badar maka berkata : Ya Allah, Jika binasa umat yang kecil ini maka tiada siapa yang akan menyembah mu di bumi ini. Maka Jibril berkata kepada Baginda Rasulullah s.a.w : ambil segenggam tanah maka campak tanah tersebut di muka mereka (orang musyrikin). Maka Rasulullah s.a.w. mengambilnya dan mencampakkannya kerarah mereka, tidak ada seorang musyrikin yang tidak terkena tanah tersebut malah mata, hidung,, mulut mereka terkena tanah yang dicampakkan dan akhirnya mereka berundur.

Perbuatan Rasulullah s.a.w. mengambil tanah tersebut bukan kehendak Rasulullah s.a.w. Ia datang dari Allah melalui Jibril a.s. Rasulullah tidak berada di alam biasa. Akan tetapi Rasulullah s.a.w. ditukarkan oleh Allah ke alam lain. Ini bermakna Baginda Rasulullah s.a.w. berada dalam jadhbah.
Jalan fitri untuk menetapkan tauhid uluhiyah adalah berdasarkan tauhid rububiyah. Karena manusia pertama kalinya sangat bergantung kepada asal kejadiannya, sumber kemanfaatan dan kemadharatannya. Setelah itu pindah ke cara-cara ber-taqarrub kepada, cara-cara nan bisa membuat ridhaNya dan yang menguatkan hubungan antara dirinya dgn Tuhannya. Maka tauhid rububiyah adalah pintu gerbang dari tauhid uluhiyah. Karena itu Allah ber-hujjah atas orang-orang musyrik dgn cara ini. Dia juga memerintahkan Rasul untuk ber-hujjah atas mereka seperti itu.

Allah SWT berfirman:
"Katakanlah: 'Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?' Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah. "Katakanlah:" Maka apakah kamu tak ingat? "Katakanlah:" Siapakah yang Empunya langit nan 7 dan yang Empunya `Arsy yang besar?" Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah. "Katakanlah:" Maka apakah kamu tak bertakwa? "Katakanlah:" Siapakah yang di tanganNya berada keku-asaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tak ada yang dapat dilindungi dari (azab) Nya, jika kamu mengetahui? "Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah. "Katakanlah:" (Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu? "[Al-Mu'minun: 84-89]

"(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia;. . . "[Al-An'am: 102]

Dia berdalil dengan tauhid rububiyah-Nya atas haknya untuk disembah. Tauhid uluhiyah inilah yang menjadi tujuan dari penciptaan manusia.

Allah SWT berfirman:
"Dan Aku tak menciptakan jin & manusia melainkan supaya mereka menyembahKu. "[Adz-Dzariyat: 56]

"Ya'buduun" adalah mentauhidkanKu dalam ibadah. Seorang hamba tidaklah menjadi muwahhid hanya dengan mengakui tauhid rububiyah semata, tetapi ia harus mengakui tauhid uluhiyah serta mengamalkannya. Kalau tidak, maka sesungguhnya orang musyrik pun mengakui tauhid rububiyah, tetapi hal ini tak membuat mereka masuk dalam Islam, bahkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memerangi mereka.

Padahal mereka mengakui bahwa Allah-lah Sang Pencipta, Pemberi rizki, yang menghidupkan dan mematikan.
Firman Allah SWT:
"Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: 'Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab:' Allah ',. . . "[Az-Zukhruf: 87]

"Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: 'Siapakah yang menciptakan langit & bumi?', Niscaya mereka akan menjawab: 'Semuanya diciptakan oleh yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui'. "[Az-Zukhruf: 9]

"Katakanlah, 'Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit & bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran & penglihatan, & siapakah yang mengeluarkan nan hidup dari yang mati & mengeluarkan yang mati dari yang hidup & siapakah yang mengatur segala urusan?' Maka mereka akan menjawab: "Allah". [Yunus: 31]

Hal semacam ini banyak sekali dikemukakan dlm Al-Qur'an. Maka barangsiapa mengira bahwa tauhid itu hanya meyakini wujud Allah, atau meyakini bahwa Allah adalah Al-Khaliq nan mengatur alam, maka sesungguhnya orang tersebut belumlah mengetahui hakikat tauhid yg dibawa oleh para rasul. Karena sesungguhnya ia hanya mengakui sesuatu yang diharuskan, dan meninggalkan sesuatu yang mengharuskan; atau berhenti hanya sampai pada dalil tetapi ia meninggalkan isi dan inti dari dalil tersebut.
jalan fitri utk menetapkan tauhid uluhiyah adalah berdasarkan tauhid rububiyah. Karena manusia pertama kalinya sangat bergantung kepada asal kejadiannya, sumber kemanfaatan dan kemadharatannya. Setelah itu pindah ke cara-cara ber-taqarrub kepada, cara-cara nan bisa membuat ridhaNya dan yang menguatkan hubungan antara dirinya dgn Tuhannya. Maka tauhid rububiyah adalah pintu gerbang dari tauhid uluhiyah. Karena itu Allah ber-hujjah atas orang-orang musyrik dgn cara ini. Dia juga memerintahkan Rasul utk ber-hujjah atas mereka seperti itu.

Allah SWT berfirman:
"Katakanlah: 'Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?' Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah. "Katakanlah:" Maka apakah kamu tak ingat? "Katakanlah:" Siapakah yang Empunya langit nan 7 dan yang Empunya `Arsy yang besar?" Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah. "Katakanlah:" Maka apakah kamu tak bertakwa? "Katakanlah:" Siapakah yang di tanganNya berada keku-asaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tak ada yang dapat dilindungi dari (azab) Nya, jika kamu mengeta-hui? "Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah. "Katakanlah:" (Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu? "[Al-Mu'minun: 84-89]

"(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia;. . . "[Al-An'am: 102]

Dia berdalil dgn tauhid rububiyah-Nya atas haknya utk disembah. Tauhid uluhiyah inilah yg menjadi tujuan dari pencipta-an manusia.

Allah SWT berfirman:
"Dan Aku tak menciptakan jin & manusia melainkan supaya mereka menyembahKu. "[Adz-Dzariyat: 56]

"Ya'buduun" adalah mentauhidkanKu dlm ibadah. Seorang hamba tidaklah menjadi muwahhid hanya dgn mengakui tauhid rububiyah semata, tetapi ia harus mengakui tauhid uluhiyah serta mengamalkannya. Kalau tidak, maka sesungguhnya orang musyrik pun mengakui tauhid rububiyah, tetapi hal ini tak membuat mereka masuk dlm Islam, bahkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memerangi mereka.

Padahal mereka mengakui bahwa Allah-lah Sang Pencipta, Pemberi rizki, yang menghidupkan dan mematikan.
Firman Allah SWT:
"Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: 'Siapakah yg menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab:' Allah ',. . . "[Az-Zukhruf: 87]

"Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: 'Siapakah yg menciptakan langit & bumi?', Niscaya mereka akan menjawab: 'Semuanya diciptakan oleh yg Maha Perkasa lagi Ma-ha Mengetahui'. "[Az-Zukhruf: 9]

"Katakanlah, 'Siapakah yg memberi rezki kepadamu dari langit & bumi, atau siapakah yg kuasa (menciptakan) pendengaran & penglihatan, & siapakah yg mengeluarkan nan hidup dari yg mati & mengeluarkan yg mati dari yg hidup & siapakah yg mengatur segala urusan?' Maka mereka akan menjawab: "Allah". [Yunus: 31]

Hal semacam ini banyak sekali dikemukakan dlm Al-Qur'an. Maka barangsiapa mengira bahwa tauhid itu hanya meyakini wujud Allah, atau meyakini bahwa Allah adalah Al-Khaliq nan mengatur alam, maka sesungguhnya orang tersebut belumlah mengetahui hakikat tauhid yg dibawa oleh para rasul. Karena sesungguhnya ia hanya mengakui sesuatu yg diharuskan, dan meninggalkan sesuatu yg mengharuskan; atau berhenti hanya sampai pada dalil tetapi ia meninggalkan isi dan inti dari dalil tersebut.
Siapa yang mengakui tauhid rububiyah untuk Allah, dengan mengimani tak ada pencipta, pemberi rizki dan pengatur alam kecuali Allah, maka ia harus mengakui bahwa tak ada yang berhak menerima ibadah dgn segala macamnya kecuali Allah SWT. Dan itulah tauhid uluhiyah.
Tauhid uluhiyah, yaitu tauhid ibadah, karena inilah maknanya adalah ma'bud (yang disembah). Maka tak ada yang diseru dalam kecuali Allah, tak ada yang dimintai pertolongan kecuali Dia, tak ada yang bisa dijadikan tempat bergantung kecuali Dia, tak bisa menyembelih kurban atau bernadzar kecuali untukNya, dan tak bisa mengarahkan seluruh ibadah kecuali untukNya dan karenaNya semata.

Jadi, tauhid rububiyah adalah bukti wajibnya tauhid uluhiyah. Karena itu seringkali Allah membantah orang nan mengingkari tauhid uluhiyah dgn tauhid rububiyah yang mereka akui dan yakini.

Seperti firman Allah SWT:
"Hai manusia, sembahlah Tuhanmu nan telah menciptakanmu & orang-orang nan sebelum, agar kamu bertakwa. Dialah nan menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu & langit sebagai atap, & Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dgn hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui . "[Al-Baqarah: 21-22]

Allah memerintahkan mereka bertauhid uluhiyah, yaitu menyembah bahNya & beribadah kepada. Dia menunjukkan dalil kepada mereka dgn tauhid rububiyah, yaitu penciptaannya terhadap manusia dari nan pertama sampai nan terakhir, penciptaan langit & bumi dan seisinya, penurunan hujan, pertumbuhan tanaman, produksi buah-buahan nan menjadi rizki bagi para hamba. Maka sangat tak pantas bagi mereka jika menyekutukan Allah dgn nan lainNya; dari benda-benda atau pun orang-orang nan mereka sendiri mengetahui bahwa ia tak bisa berbuat sesuatu pun dari hal-hal tersebut di atas dan lainnya.
Jika dirimu ingin membangun dan menghidupi kehidupan akhiratmu, terlebih dahulu harus mematikan keinginan terhadap (kesenangan) kehidupan duniawi. Kamu tidak akan dapat berdampingan dengan Allah sehingga dirimu mematikan keinginan nafsu kepada hal-hal yang keji. 
Hal ini disebut oleh Yahya Bin Mu'az, katanya "Siapa yang mendekatkan diri kepada Allah dengan hati yang mendalam, Allah akan memelihara jiwanya dari godaan nafsu. Cara menguasai hawa nafsu itu adalah melakukan hal-hal yang tidak disukai nafsu, karena nafsu itu selamanya tidak akan tunduk kepada kebenaran."
Merawatnya adalah berjaga malam untuk beribadah, berpuasa, melaksanakan kewajiban yang tidak disukai oleh nafsu dan mencegah dari pengaruh syahwat yang beragam.
Seseorang yang mentaati perintah Allah tetapi tidak dapat mencapai kemanisan di dalam melaksanakan perintah itu. Hal ini terjadi karena amal ketaatannya itu telah bercampur baur dengan unsur-unsur riya 'dan tujuan-tujuan selain Allah tidak disertai dengan keikhlasan dan tidak menurut sunnah di dalam praktek. Merawatnya adalah dengan melatih jiwa agar ikhlas di dalam praktek, mengikuti sunnah di dalam setiap perbuatan dan amalan serta memperbaiki seluruh dasar kehidupan sehingga akibatnya memenuhi kehendak kebenaran.
Seseorang telah mengabaikan hak-hak tertentu yang wajib atasnya, sedangkan sebelumnya dia telah melaksanakan hak-hak tersebut. Pengabaian ini lebih tercela apabila seseorang itu langsung tidak peduli terhadap kelalaian dan kelalaian itu. Ia akan menjadi sangat tercela apabila seseorang tidak menyadari kelalaiannya. Kondisi ini akan menjadi lebih dahsyat ketika seseorang menyangka bahwa kehidupan agamanya sempurna meskipun kondisi dirinya penuh lalai.

Hal ini terjadi karena ketika ia melaksanakan hak-hak yang dituntut atas dirinya itu, sifat syukur yang ada di dalam dirinya kepada Allah sangat sedikit. Bila berkurang sifat syukur di dalam dirinya, lalu posisi seseorang itu akan diubah oleh Allah dari menghayati dan menjunjung perintah ke makam lalai. Akhirnya seseorang itu akan terhijap dari dapat melihat kelemahannya bahkan lebih dahsyat lagi, dia akan menganggap kejahatan dan dosa yang dilakukannya sebagai kebaikan.

Hal inilah yang ditegaskan oleh Allah dalam firmanNya:
Yang berarti, "Maka (pikirkanlah) apakah orang yang diperelokkan kepadanya amal buruknya (setan) lalu ia memandangnya dan mempercayainya baik,?"
(Surat Fathir: 8)

Merawatnya adalah selalu lihat Allah dalam segala hal serta melazimi dzikir-dzikir tertentu, membaca Al-Quran, berhati-hati dan teliti dalam sumber rezeki dan makanan dengan tetap menjaga yang halal, memelihara kehormatan dan martabat umat Islam, serta memohon doa dari auli'a Allah agar melalui doanya itu Allah akan memeliharanya dari kelemahan dan kesalahan yang telah disebutkan sebelumnya, disamping Allah akan membukakan hijab untuknya melaksanakan ketaatan kepada Allah.