Bukan hanya orang awam saja yang dijadikan sasaran oleh iblis dan sekutunya. Para waliyullah dan ulama pun bisa jadi target hasutan mereka. Salah satunya adalah Imam Juneid, yang merupakan seorang hamba Allah SWT yang terkenal dengan pemahaman ilmu Fiqihnya.

Imam Juneid ini memiliki kebiasaan beribadah di atas rata-rata umat islam lainnya. Bayangkan saja, dalam sehari Beliau bisa melakukan shalat sunnah sebanyak 400 raka'at. Selain itu juga istiqamah berpuasa dan berzikir di malam harinya.

Iblis Menyamar.
Pada suatu hari, iblis masuk ke rumah Imam Juneid dengan menyamar sebagai salah satu muridnya dan berkata,
"Wahai Waliyullah, aku ingin mengabdi kepadamu tanpa upah, bolehkah?"
(Sebenarnya Imam Juneid sudah tahu bahwa itu adalah iblis).
"Silahkan lakukan," jawab Imam Juneid sinkat.

Iblis pun akhirnya mengabdi kepada Imam Juneid seperti para murid lainnya. Ia berusaha melakukan apa saja yang diperintahkan oleh Imam Juneid, namun di balik ketaatannya itu, iblis memiliki siasat jahat, ada udang dibalik batu. Ia berharap dapat memasuki hati dari Imam Juneid.

Tak tanggung-tanggung, Iblis ini mengabdi kepada Imam Juneid sepuluh tahun lamanya.
Selama sepuluh tahun lamanya iblis menyamar, siasatnya belum juga membuahkan hasil. Iblis merasa telah gagal menembus hati Imam Juneid yang tak pernah lupa sedikitpun untuk berzikir kepada Allah SWT.

Bukankah iblis tak kuasa menggoda anak Adam yang selalu ingat dan berzikir kepada Allah SWT. Itulah janji Allah SWT tatkala iblis akan dikeluarkan dari Surga dan dilaknat oleh Yang Maha Perkasa. (ingat Kisah Nabi Adam as).

Iblis Mengaku Menyerah.
Bukan main ketaatan Imam Juneid kepada Allah SWT. Akhirnya iblispun menyerah dalam penyamarannya dan memutuskan untuk berpamitan meninggalkan Imam Juneid.

"Wahai Waliyullah, sesungguhnya aku adalah iblis yang menyamar menjadi salah satu muridmu. Aku ingin memasuki hatimu, akan tetapi aku tidak bisa karena setiap kedip mata engkau tak pernah lupa berzikir kepada Allah SWT", keterusterangan iblis kepada Imam Juneid.

"Aku sudah tahu kalau engkau adalah iblis, makanya aku menjadikanmu pelayan untuk menyiksamu, dan kelak di akhirat nanti kamu tidak akan mendapat pahala dari Allah SWT," tutur Imam Juneid.

Iblis tersentak kaget, bagaimana mungkin Waliyullah seperti Imam Juneid ini mengetahui kalau dia adalah iblis. Iblispun berkata lebih lanjut,
"Aku tidak mel;ihat kesombongan dalam hatimu dan itu menjadi sumber kekuatanmu."

"Pergilah kamu wahai iblis laknatullah, kamu hanya bisa masuk ke dalam hati manusia yang telah diliputi takabbur dan sombong, keluar dan pergilah dengan hina engkau iblis," usir Imam Juneid.

Akhirnya iblispun mengaku kalah.
Ia menghilang dari hadapan Imam Juneid yang terbukti tak mampu digodanya sedikitpun.
Malik bin Dinar adalah seorang laki-laki yang sangat tampan, gemar bersenang-senang dan memiliki harta kekayaan yang berlimpah-limpah. Ia tinggal di daerah Damaskus dimana golongan Mu'awiyah telah membangun sebuah masjid yang besar dan mewah.
Malik ingin sekali diangkat sebagai pengurus masjid tersebut. Pada waktu itu salah seorang yang menjadi pengurus masjid adalah jabatan yang terpandang.

Maka pergilah ia ke masjid itu.
Di pojok ruangan masjid dibentangkannya sajadah dan di situlah selama setahun penuh ia melakukan ibadah sambil berharap agar setiap orang yang melihatnya sedang melakukan shalat.

"Alangkah munafiknya aku ini," ia selalu mencerca dirinya sendiri.
Setahun telah berlalu.
Apabila hari telah malam, Malik keluar masjid itu dan pergi bersenang-senang.

Pada suatu malam, ketika ia sedang asyik menikmati musik sementara teman-temannya telah tertidur, tiba-tiba saja dari kecapi yang sedang di mainkan terdengar suara,
"Hai Malik, mengapakah engkau belum juga bertobat?"
Mendengar kata-kata yang sangat menggetarkan hati ini, Malik segera saja melemparkan kecapinya dan berlari menuju masjid.

Di dalam masjid ia berbicara kepada dirinya sendiri.
"Selama setahun penuh aku menyembah Allah secar munafik. Bukankah lebih baik aku menyembah Allah dengan sepenuh hati? Aku malu. Apa yang harus aku lakukan? Seandainya orang-orang hendak mengangkatku sebagai pengurus masjid aku tidak akan menerimanya. Akhirnya ia melakukan ibadah dengan khusyuk kepada Allah SWT. Pada malam itulah untuk pertama kalinya ia shalat dengan penuh keikhlasan.

Pada keesokan harinya, seperti biasa orang-orang berkumpul di depan masjid.
"Hai, lihatlah dinding masjid telah retak-retak," kata mereka.
"Kita harus mengangkat seorang pengawas untuk memperbaiki masjid ini."

Maka mereka sepakat yang paling tepat menjadi pengawas masjid adalah Malik.
Segera mereka mendatangi Malik yang ketika itu sedang shalat. Sementara Malik sendiri karena saking khusyuknya ia tidak tahu jika beberapa orang sedang menunggunya.
Begitu shalat Malik selesai, mereka berkata,
"Kami datang untuk memintamu agar sudi menerima pengangkatan kami ini."

"Ya Allah...." seru Malik karena terkejut.
"Selama setahun penuh aku menyembah-Mu secara munafik dan tak ada seorang pun yang memandang diriku. Kini setelah aku berikan jiwaku kepada-Mu dan bertekad bahwa aku tidak menginginkan pengangkatan atas diriku, Engkau malah menyuruh 20 orang menghadapku untuk mengalungkan tugas tersebut ke leherku. Demi Kebesaran-Mu, aku tidak menginginkan pengangkatan atas diriku ini."

Malik berlari meninggalkan masjid itu kemudian menyibukkan diri untuk beribadah kepada Allah SWT dan menjalani hidup prihatin serta penuh disiplin.
Ia menjadi seorang yang terhormat dan shalih.
Jika Allah akan memberimu kepahaman, maka Allah akan menyediakan dulu di dalam hati dan pikiranmu untuk paham, karena Allah itu bijak, dan kebijakannya tak ada yang membandingi, sedang kau saja jika ingin menulis, maka akan menyediakan dulu buku dan alat tulis, secara kata gampangnya segala sesuatu yang dilakukan orang yang memakai akalnya, maka akan selalu merancang dengan detail.
"Engkau (Musa) tak sanggup bersabar sertaku. Bagaimana engkau bersabar dalam persoalan yang belum berpengalaman didalamnya." (QS. Al-Kahf, ayat 67 - 68).

Lalu Nabi Khaidir as. membuat persyaratan yaitu Musa. harus diam dan menerima saja.

Berkata Nabi Khaidir as. :
"Jika engkau mengikuti aku maka janganlah bertanya tentang sesuatu, sehingga aku sendiri yang akan menceriterakan kepadamu nanti." (Al-Kahfi, ayat 70 ).

Rupanya Musa. tidak sabar dan selalu bertanya, sehingga menyebabkan berpisah diantara keduanya.

Pendek kata, setiap pelajar yang masih berpegang teguh pada pendapatnya sendiri dan pilihannya sendiri, diluar pilihan gurunya, maka hukumlah pelajar itu dengan keteledoran dan kerugian.

Jika Anda mengatakan, bukankah Allah Ta'ala telah berfirman

"Katakanlah kepada ahli ilmu jika kamu tidak tahu."
(S. An-Nahl, ayat 43). Jadi, bertanya itu disuruh.

Maka ketahuilah, bahwa memang demikian, tetapi mengenai persoalan yang diizinkan guru, bertanya. Bertanya tentang soal yang belum sampai tingkatanmu memahaminya, adalah dicela, karena itulah, maka Khaidir melarang Musa bertanya.

Dari itu, tinggalkanlah bertanya sebelum waktunya! Guru lebih tahu tentang keahlianmu dan kapan sesuatu ilmu harus diajarkan kepadamu. Sebelum waktu itu tiatang dalam tingkat manapun juga, maka belumlah datang waktunya untuk bertanya.
Ilmu itu jalan kelepasan dan kebahagiaan. Orang yang mencari jalan untuk melepaskan diri dari terkaman binatang buas, tentu tidak akan membeda-bedakan. Apakah jalan itu ditunjuki oleh seorang yang termashur atau oleh seorang yang dungu. Terkaman kebiadaban api neraka, kepada orang yang jahil, adalah lebih hebat dari terkaman seluruh binatang buas.

Ilmu pengetahuan itu adalah barang yang hilang dari tangan seorang mu'min, yang harus dipungutnya di mana saja diperolehnya. Dan harus diucapkannya terima kasih kepada siapa saja yang membawanya kepadanya.
Dari itu, berkata pantun:

"Pengetahuan itu adalah perjuangan, untuk pemuda yang ambisius
Seperti banjir itu adalah perjuangan, untuk suatu tempat yang tinggi ........... ".
Ilmu pengetahuan tidak tercapai selain dengan merendahkan diri dan penuh perhatian.

Berfirman Allah Ta'ala:

إن في ذلك لذكرى لمن كان له قلب أو ألقى السمع وهو شهيد
(Inna fii dzaalika ladzikraa liman kaana lahuu qaibun au alqas sam-a wahuwa Syahiid).

Artinya: "Sesungguhnya hal yang demikian itu menjadi pelajaran bagi siapa yang memiliki hati (pengertian) atau mempergunakan pendengarannya dengan berhati-hati." (S. Qaf, ayat 37).

Pengertian "memiliki hati" yaitu hati itu dapat menerima pemahaman bagi ilmu pengetahuan. Tak ada energi yang menolong kepada pemahaman, selain dengan mempergunakan pendengaran dengan berhati-hati dan sepenuh jiwa. Sehingga dapat menangkap seluruh yang diberikan guru dengan penuh perhatian, merendahkan diri, syukur, gembira dan menerima nikmat.

Harus pelajar itu bersikap kepada gurunya seperti tanah kering yang disirami hujan Iebat. Maka meresaplah ke seluruh bahagiannya dan meratalah keseluruhan air hujan itu.

Sedangkan guru itu menunjukkan jalan belajar kepadanya, harus dita'ati dan ditinggalkan pendapat sendiri. Karena meskipun guru itu bersalah, tetapi lebih berguna baginya dari kebenarannya sendiri. Sebab, pengalaman mengajari yang halus-halus, yang ganjil didengar tetapi besar manfaatnya.

Seorang badui atau dayak atau orang yang sudah lama hidup di hutan, sekali sakit, lantas pergi dibawa ke dokter, dan setelah diperiksa si dokter, kemudian malah pantat si orang dayak itu ditusuk jarum/disuntik sama dokter, dan si dayak marah-marah, karena merasa dokter itu ngawur, sudah sakit kok malah disuntik, padahal yang dilakukan dokter itu sudah kebiasaan, tapi menurut dayak itu sangat keterlaluan, la yang sakit panas, malah pantat disuntik jarum, dia mencak-mencak.....

Ini sekedar contoh, sebagaimana ketika kita disuruh seorang guru, memerangi nafsu, ee malah disuruh puasa, secara akal-akalan kita, ya kalau memerangi nafsu makan, makan saja sekenyangnya, kalau memerangi nafsu sex, kawin saja sebanyaknya. Itulah pendapat nafsu dengan pendapat kebenaran, apa yang dilakukan dokter menyuntik dayak tentu bukan sesuatu yang salah, tapi jadi salah dimata dayak, karena pemikirannya yang setandar pada pemikirannya sendiri.
Berkata Ibnu Mas'ud ra. :
"Tidaklah ilmu dengan banyak ceritera, tetapi ilmu adalah nur Tuhan yang ditempatkan di dalam dada."

Berkata setengah mereka:
"Sesungguknya ilmu itu takut (khasy-yah) kepada Allah." karena firmanNya:

إنما يخشى الله من عباده العلماء

(Innamaa yakhsyallaaha mm ibaadihil 'ulama). Artinya: "Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari para hambaNya adalah' alim ulama (orang yang berilmu)." (S.Al Fathir Ayat 28)

Dengan firman itu, seakan-akan Allah menunjukkan kepada manfaat ilmu yang lebih khusus. Jadi buah ilmu itu menjadikan ukuran dari kemanfaatan suatu ilmu, seperti menimbulkannya rasa takut/taqwa. Rasa taqwa itu timbul karena cahaya ilmu yang menyinari kepahaman hati, sehingga hati paham dengan Tuhan yang bagaimana dia beribadah, jika sebagaimanapun kok ada ilmu itu bukan menjadikan seseorang itu takut pada Allah, maka ilmu yang dimilikinya itu sebenarnya sia-sia belaka, kenapa sia-sia? Karena yang penting seseorang itu selamat di akherat, dan memperoleh keberuntungan yaitu masuk surganya Allah, dan melihat Allah yang menciptakannya, dan bagaimana seseorang itu tak lepas dari perbuatan maksiat, jika di hatinya sama sekali tak ada ketaqwaan / ketakutan pada Allah, jika tak ada manusia lain yang melihatnya, lantas merasa bebas bisa melakukan suatu dosa, bukankah itu sangat sia-sia, jika seseorang itu telah sekian lama belajar ilmu?

Makanya Allah memberi batasan, yang takut itu yang berilmu/ulama'. Sebab sekalipun bisa berbagai ilmu, kok tak takut /taqwa pada Allah, maka seperti orang yang tak punya ilmu, sekalipun bergudang-gudang kitabnya, dan berjejer-jejer ijazahnya, dan penghargaan, juga sudah banyak sawah ladang, kambing, dan apa saja di jual untuk belajar ilmu.

Dan orang yang membawa ilmu dan kitab, tapi ilmu dan kitab yang dibawa itu tak membuat dirinya takut/taqwa kepada Allah, maka orang itu tak beda dengan keledai yang menyeret gerobak berisi kitab, jelas dalam kitab itu dilarang membuka aurot, keledai itu tetep saja telanjang tak berbaju, dan tak mengindahkan aturan kitab yang dibawa.
Dunia ini adalah selalu berputar laksana roda pedati. Maka mengambil ibarat dari orang lain untuk diri sendiri dan dari diri sendiri kepada asalnya dunia ini, adalah suatu tamsil ibarat yang terpuji.

Maka Anda ambil jugalah menjadi ibarat dari rumah-yaitu pengembangan dari manusia-ke hati, yaitu suatu rumah yang dibangun oleh Tuhan dan dari anjing yang dicela karena sifatnya bukan karena bentuknya-yaitu padanya terdapat sifat kebiadaban dan kenajisan-kepada jiwa keanjingan, yaitu sifat kebiadaban.

Ketahuilah bahwa hati yang dipenuhi dengan kemarahan, loba kepada dunia dan bersifat anjing mencari dunia dengan rakus, dengan mengoyak-ngoyak kepentingan orang lain adalah anjing dalam arti dan hati dalam bentuk. Orang yang bermata hati memperhatikan arti, tidak bentuk.

Bentuk dalam dunia ini mengalahkan arti. Dan arti, tersembunyi dalam bentuk. Di akhirat bentuk itu mengikuti arti dan artilah yang menang. Dari itu, masing-masing orang dibangkitkan dalam bentuknya yang ma'nawi (menurut pengertian dari bentuk itu).

"Orang yang mengoyak-ngoyakkan kehormatan orang lain, dibangkitkan sebagai anjing yang galak. Orang yang loba kepada harta-benda orang lain, dibangkitkan sebagai serigala yang ganas. Orang yang menyombong terhadap orang lain, dibangkitkan dalam bentuk harimau. Dan orang yang mencari jadi kepala, dibangkitkan dalam bentuk singa."
Sinar ilmu pengetahuan, tidaklah dicurahkan oleh Allah Ta'ala ke dalam hati, selain dengan perantaraan malaikat:

"Tidak ada bagi manusia berkata-kata dengan Allah, selain dengan wahyu atau di belakang hijab atau dengan mengirimkan rasul, lalu diwahyukannya apa yang Dia kehendaki dengan keizinanNya." (QS. Asy-Syura, ayat 51).

Demikianlah kiranya, tidak dikirimkan Allah rakhmat dari ilmu pengetahuan itu kepada hati. Hanya malaikatlah yang mengelola, mewakili membawa rakhmat itu. Para malaikat itu qudus suci, bersih dari segala sifat yang tercela. Tak ada perhatian mereka selain kepada yang baik. Tak ada urusan mereka dengan segala perbenda-haraan rakhmat Allah padanya, selain dengan yang baik suci.

Aku tidak mengatakan bahwa yang dimaksud dengan "rumah" dalam hadits yang diatas tadi, yaitu hati dan dengan "anjing" yaitu marah dan sifat-sifat tercela yang lain. Tapi aku mengatakan bahwa itu adalah peringatan kepada hati dan suatu perbedaan antara kata-kata dhahir yang menunjukkan kepada bathin dan peringatan kepada bathin dengan menyebutkan kata-kata dhahir serta tetap pada kedhahirannya. Kelompok ahli kebathinan mengadakan perbedaan dengan pengertian yang halus tadi.

Maka inilah jalan tamsil ibarat, jalan yang ditempuh oleh para 'alim ulama dan orang baik-baik. Karena pengertian dari tamsil ibarat (i'tibar) yaitu mengambil ibarat dengan apa yang dijelaskan kepada orang lain, tidak untuk orang lain itu saja. Seumpama seorang yang berpikiran waras, melihat bahaya yang menimpa orang lain, maka menjadi tamsil ibaratlah baginya, sebagai suatu peringatan bahwa dia pun mungkin pula ditimpakan bahaya tersebut.

Tentang Adab Kesopanan Pelajar dan Pengajar

Adapun siswa, maka adab kesopanan dan tugasnya yang dhahir itu adalah banyak. Tetapi rinciannya adalah tersusun dalam sepuluh rumpun kata-kata.

Tugas pertama: mendahulukan kesucian bathin dari kerendahan budi dan sifat-sifat tercela. Karena ilmu pengetahuan itu adalah kebaktian hati, shalat bathin dan pendekatan jiwa kepada Allah Ta'ala. Sebagaimana tidak syah shalat yang menjadi tugas anggota dhahir, kecuali dengan mensucikan anggota dhahir itu dari segala hadats dan najis, maka begitu pulalah, tidak syah kebaktian (ibadah) bathin dan kemakmuran hati dengan ilmu pengetahuan, kecuali sesudah sucinya ilmu itu dari kekotoran budi dan kenajisan sifat.

Bersabda Nabi SAW.
 صلى الله عليه وسلم: بني الدين على النظافة
(Buniyaddiinu 'alannadhaafah). Artinya: "ditegakkan agama pada kebersihan." Yaitu dhahir dan bathin.

Berfirman Allah Ta'ala:
إنما المشركون نجس
(Innamal musyrikuuna najasun). Artinya: "Sesungguhnya orang musyrik itu najis." (S. At.taubah, ayat 28).

Firman Tuhan itu adalah memberitahukan kepada akal pikiran kita, bahwa kesucian dan kenajisan, tidaklah ditujukan kepada anggota dhahir yang dapat dikenal dengan pancaindera. Orang musyrik itu kadang-kadang kainnya bersih, badannya dibasuh, tetapi dirinya najis. Artinya: bathinnya berlumuran dengan kotoran.

Najis: adalah diartikan dengan sesuatu yang tidak suka didekati dan diminta menjauhkan diri dari padanya. Kenajisan sifat batin adalah lebih penting dijauhkan. Karena dengan kekotorannya sekarang, membawa kepada kebinasaan pada masa yang akan datang.

Dari itu, Nabi saw. Bersabda:
قال صلى الله عليه وسلم: لا تدخل الملائكة بيتا فيه كلب
(Laa tadkhulul malaaikatu baitan fiihi kalbun). 130
Artinya : "Tidak masuk malaikat ke rumah yang didalamnya ada anjing."

Hati itu adalah rumah, yaitu tempat malaikat, tempat seluruh pembawaan dan tempat ketetapan dari malaikat.

Sifat-sifat yang rendah itu seperti marah, nafsu, dengki, busuk hati, takabur, 'ujub dan sebagainya adalah anjing-anjing yang galak. Maka bagaimanakah malaikat itu masuk ke dalam hati yang sudah penuh dengan anjing-anjing?

==
Seorang pelajar itu hendaklah mengurangi hubungannya dengan urusan duniawi, menjauhkan diri dari kaum keluarga dan kampung halaman. Sebab segala hubungan itu mempengaruhi dan memalingkan hati kepada yang lain.

ما جعل الله لرجل من قلبين في جوفه
(Maa ja'alallaahu lirajulin min qalbaini fii jaufih).
Artinya : "Allah tidak menjadikan untuk seorang manusia dua hati dalam rongga tubuhnya". (S. Al-Ahzab, ayat 4).

Bila pikiran itu telah terbagi maka kuranglah kesanggupannya mengetahui hakikat-hakikat yang mendalam dari ilmu pengetahuan. Dari itu dikatakan: ilmu itu tidak menyerahkan kepadamu sebagian dari padanya sebelum kamu menyerahkan kepadanya seluruh jiwa ragamu. Bila engkau sudah menyerahkan seluruh jiwa raga engkau, maka penyerahan ilmu yang sebagian itu masih juga dalam bahaya.

Sebagaimana botol galon, yang ke kanan ke kiri, tak menetap dan siap sedia diisi air, maka air tak sempurna masuk ke galon, dan lebih banyak tertumpah kemana-mana, jika galon ingin diisi dengan sempurna, dan air tak tumpah, maka sebaiknya galon itu diletakkan menetap dengan tenang,

atau Pikiran yang terbagi-bagi kepada hal ikhwal yang bermacam-macam itu, adalah seperti sebuah selokan yang mengalir airnya ke beberapa jurusan. Maka sebagian airnya ditelan bumi dan sebagian lagi diisap udara, sehingga yang tinggal tidak menumpuk lagi dan tidak mencukupi untuk tanam-tanaman.

Tugas ketiga: seorang pelajar itu jangan menyombong dengan ilmunya dan jangan menentang gurunya. Tetapi menyerah seluruhnya kepada guru dengan keyakinan kepada segala nasehatnya, sebagaimana seorang sakit yang bodoh yakin kepada dokter yang ahli berpengalaman.

Seharusnyalah seorang pelajar itu, tunduk kepada gurunya, mengharap pahala dan kemuliaan dengan melayani kepadanya. Berkata Asy-Sya'bi: "Pada suatu hari Zaid bin Tsabit bershalat janazah. Sesudah shalat itu selesai, lalu aku dekatkan baghalnya (nama hewan, lebih kecil dari kuda) untuk dikendarainya. Maka datang Ibnu Abbas membawa kendaraannya ke Zaid untuk dikendarainya. Maka berkata Zaid: "Tak usah wahai anak paman Rasulullah saw."

Berkata Ibnu Abbas : هكذا أمرنا أن نفعل بالعلماء والكبراء

"Beginilah kami disuruh berbuat terhadap para 'alim ulama dan orang-orang besar."

Lalu Zaid bin Tsabit mencium tangan Ibnu Abbas seraya berkata: " هكذا أمرنا أن نفعل بأهل بيت نبينا صلى الله عليه وسلم

Beginilah kami disuruh berbuat terhadap keluarga Nabi kami Muhammad صلى الله عليه وسلم

Bersabda Nabi صلى الله عليه وسلم :
ليس من أخلاق المؤمن التملق إلا في طلب العلم
(Laisa min akhlaaqil mu'minit tamalluqu illaa fii thalabil ilmi).

Artinya : "Tidaklah sebagian dari budi pekerti seorang mu'min merendahkan diri, selain pada menuntut ilmu."

Berikut langkah-langkah untuk memulai bertasawuf sampai Allah Azza wa Jalla menetapkan mursyid (pembimbing) untuk kita.

Mulailah dengan pembersihan diri, bertobatlah kepada Allah Azza wa Jalla.

Bersikap tawaduk, merendah dan meminta maaf dan ampunan, apakah kita telah melakukan dosa atau tidak. Jika kita melakukan kesalahan atau dosa, akuilah segera dan mintalah ampunan, karena orang yang bertobat dari dosa laksana orang tidak berdosa. Semua manusia pasti melakukan kesalahan. Tak ada yang lepas sepenuhnya dari dosa. Namun yang paling penting, jagalah diri kita agar tidak terus berkubang dosa.

Nasehat Syaikh Ibnu Athoillah dalam al-Hikam,
"Adakalanya Dia bukakan pintu ketaatan untukmu, tetapi tidak membukakan pintu penerimaan. Adakalanya Dia menetapkanmu berbuat dosa, tetapi itu menjadi sebab kau sampai kepada-Nya. Maksiat yang melahirkan rasa hina dan papa lebih baik dari ketaatan yang melahirkan kecongkakan dan kesombongan."
Bagi seorang yang mendapat tarikan hidayah, yang kemudian menyadari tujuan hidupnya, lantas ingin berjalan di jalan yang sesuai rel yang diridhoi Allah, tidak bisa tidak, membutuhkan seorang mursyid/guru pembimbing,

Perumpamaan itu kita mau ke Jakarta, maka kita yang belum pernah ke Jakarta, sangat membutuhkan seorang penunjuk jalan seseorang yang pernah ke Jakarta, dan tau jalan pasti, mana jalan yang harus dilalui, dan mana jalan yang rusak, jangan ditempuh. Dengan kata lain seorang penunjuk jalan/mursyid itu harus seseorang yang benar-benar mengenal medan yang akan dilalui, sehingga jika tujuan kita Jakarta, maka kita akan sampai di tujuan dengan selamat, tanpa harus mengalami kecelakaan fatal, atau tersesat bertahun-tahun tak sampai tujuan.

Seorang mursyid itu bisa siapa saja, dan seorang mursyid itu selalu tak akan mengaku mursyid, karena keikhlasannya tak bisa dikotori dengan pengakuan, seperti seorang sopir bus, pernah naik bus kan? nah yang duduk di belakang sopir, dan memegang setir saat bus jalan, itu ya sopirnya, ndak usah ngaku sopir, semua orang juga yang naik bus itu akan tau dia itu sopirnya.

Dan siapa mursyid yang akan "menghampiri" kita dan membimbing kita adalah semata-mata kehendak Allah Azza wa Jalla. Jika anda mungkin dalam penantian mendapat mursyid/seorang penunjuk rohani, berhati-hatilah jika seseorang mempromosikan dirinya sebagai mursyid untuk Anda namun sebaliknya jangan pernah menganggap remeh seorang muslimpun yang ditemukan karena bisa jadi ia adalah mursyid Anda.

Berikut adalah tips atau langkah-langkah awal dalam bertasawuf, sekedar wacana, teori, dan sekali lagi jalan ke Allah itu tak bisa dicapai hanya dengan jalan berteori, tapi dijalaninya amaliyah dengan tekun dan istiqomah.

Bertauhidlah dengan cara menjadikan Allah Azza wa Jalla sebagai pihak pertama yang dikomunikasikan segala permasalahan, cobaan, kebutuhan dan keinginan kita, termasuk atas segala kenikmatan yang telah Allah ta'ala berikan dalam bentuk bersyukur. Begitupula kita komunikasikan kebutuhan dan keinginan bertasawuf kepada Allah ta'ala.

Teguhkan tujuan hidup kita adalah untuk sampai kepada Allah Azza wa Jalla sedangkan surgaNya adalah keniscayaan / kepastian bagi mereka yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya.

"Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya."(QS An Nisaa '[4]: 175)

Sampai kepada Allah Azza wa Jalla, sehingga dapat berkumpul dengan Rasulullah dan para Nabi, para shiddiqin, para Syuhada dan para Sholihin. Ikutilah jalan mereka yang termasuk orang-orang yang telah Allah Azza wa Jalla berikan nikmat.

"(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka."(QS Al Fatihah [1]: 7)

Shiddiqin adalah orang-orang yang amat teguh kepercayaannya kepada kebenaran Rasul. Syuhada adalah orang-orang yang mati syahid.

Sholihin adalah orang-orang sholeh atau muslim yang terbaik atau muslim yang Ihsan (muhsin), muslim yang dapat melihat Allah ta'ala dengan hati / keimanan atau muslim yang selalu yakin bahwa Allah ta'ala melihat perbuatan.

Allah Azza wa Jalla telah memberikan nikmat kepada mereka dan setelah mereka merasakan kematian, mereka hidup di sisi Allah Azza wa Jalla, sesuai dengan kehendak Allah menempatkan mereka dan mereka masih mendapatkan rezeki atau kehendakNya.

"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah (syuhada) itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki."(QS Ali Imran [3]: 169)

Imam al-Baihaqi telah membahas sepenggal kehidupan para nabi. Ia menyatakan dalam kitab Dalailun Nubuwwah: "Para nabi hidup di sisi Tuhan mereka seperti para syuhada."

Jadi tujuan kita bertasawuf karena Allah ta'ala semata atau agar kita sampai kepada dan berkumpul dengan mereka yang telah menerima nikmat dari Allah Azza wa Jalla.
Yang termasuk riya halus yang lain lagi, adalah menundukkan kepala dan terjadi khusyuk karena munculnya seseorang.

Ali Al-Khowash berkata, "Bila seorang pemimpin datang dan kalian sedang bertasbih, maka jangan kamu lanjutkan bacaan tasbihmu kecuali dengan niat baik. Hati-hatilah, jangan bersendagurau melupakan Allah, tetapi buru-buru membaca tasbih begitu seseorang yang disegani muncul. Tanpa didasari niat baik, maka perbuatan seperti itu justru akan menghancurkan semua amal perbuatan."
Ali al-Khowash menyatakan, jangan sampai seseorang mengungkit-ungkit kembali atau menceritakan amal baik yang pernah dilakukan. Sebab, hal itu sama artinya dengan riya. Ia boleh melebur pahala amalnya yang telah lalu. Namun, kesalahan ini bisa dipulihkan; dengan taubat. Bila seseorang bertaubat dengan benar dan sungguh-sungguh, maka amal yang telah dilakukan akan kembali menjadi amal yang sah, dengan kehendak Allah.

Termasuk bentuk riya lain yang amat samar adalah menghentikan senda gurau yang diperbolehkan agama, karena munculnya orang yang disegani.

Fudail ibn Iyadh berkata, "Seandainya dikabarkan padaku bahwa seorang pemimpin tinggi akan datang, kemudian aku merapikan rambut dan jenggotku, sungguh aku takut bahwa hal itu akan menyebabkan aku ditulis sebagai orang yang munafiq."

Karena itu, hendaknya seseorang tidak menghentikan senda-guraunya yang diperbolehkan agama hanya karena masuknya orang yang disegani, kecuali dengan niat baik. Sesungguhnya, terbukanya rahasia seseorang ditangan pemimpin atau orang yang disegani adalah lebih baik daripada berlaku munafiq.
Terkadang memang ada seseorang yang melakukan perbuatan tertentu sehingga dia dipuji masyarakat; dan dia tidak menghendaki pujian itu. Dengan itu, ia mengira bahwa dirinya sudah termasuk orang yang ikhlas. Maka, hal inipun termasuk juga riya'.

Atau, ada orang yang menolak pemberian demi menjaga kehormatan dirinya. Dia kemudian dipuji masyarakat. Ia sendiri tidak menghendaki pujian itu, tetapi kemudian memperhatikannya. Maka perbuatan inipun kembali kepada riya', walau pada asalnya tidak ada maksud demikian.

Contoh model riya lain yang samar adalah meninggalkan amal ibadah karena manusia.

Fudail ibn Iyadh berkata;
“Meninggalkan amal karena manusia adalah riya dan melakukan amal karena manusia adalah syirik. Apa yang dinamakan ahlas adalah kamu menjaga dari keduanya."

Maksudnya, orang yang hendak melakukan ibadah kemudian diurungkan karena khawatir pujian manusia, maka itu termasuk riya’. Sebab, ia berarti telah meninggalkan sesuatu karena manusia; bukan karena Allah. Akan tetapi, bila meninggalkan ibadah tersebut untuk kemudian melakukannya di tempat yang sepi agar tidak diketahui orang maka itu adalah lebih baik. Namun, untuk ibadah ibadah wajib, atau bila orang yang bersangkutan termasuk pembesar atau pemuka masyarakat yang selalu diikuti, maka hal itu lebih baik dilakukan secara terang terangan.

Contoh lain dari riya adalah menceritakan kebaikan-kebaikan dimasa lalu, tanpa ada maksud-maksud tertentu yang boleh dibenarkan menurut agama. Sesungguhnya, mengungkap kembali kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukan dimasa lalu tanpa ada tujuan yang boleh dibenarkan, boleh merubah amal tersebut dalam bentuk riya. 

Karena teramat tersembunyinya, riak itu, dan teramat halusnya, sehingga malaikat tak tau, tapi Allah maha tau, sehingga tau mana orang yang ikhlas dan mana yang tak ikhlas. Sehingga Allah itu tak pernah salah dalam pandanganNya, nah kalau kita tau Allah itu tau betul, dengan kadar amal di hati kita, seharusnya kita itu membersihkan amal ibadah kita sendiri, mengosongkan hati dari tujuan kepada selain Allah. Sebab jika amaliyah kita kok kemudian tak memperoleh balasan apa-apa, karena tak pantas mendapat balasan, bukankah itu yang rugi kita sendiri, yang sudah payah-payah menjalankan amal.
Contoh lain dari riya adalah orang yang mengaku punya posisi tertentu di sisi Tuhan, padahal ia sebenarnya belum mencapai derajat itu. Atau,telah mencapai derajat yang dikatakan namun belum bisa diberitahukan. Pengakuan ini akan mendatangkan siksaan dan menghalangi orang tersebut dari posisi yang diklaimnya. Selamanya, ia tidak akan bisa mencapai derajat yang dikatakan.

Yang lain lagi adalah merasa senang bila amalnya dapat dilihat orang. Perasaan ini adalah penyakit yang sangat berbahaya. Menurut Abu Hasan As-Syadzili, amal yang disertai perasaan senang seperti ini tidak bisa menambah kedudukannya di sisi Allah, melainkan justru mendatangkan murka dan semakin menjauhkan dari-Nya.

Persoalan ini jarang disadari dan dimengerti oleh manusia. Karena itu, para ulama mewajibkan seseorang untuk senantiasa merahasiakan amal perbuatan baiknya, sehingga ia kuat dan siap untuk melakukan perbuatan dengan ikhlas.
Sesungguhnya, ibadah yang benar adalah melakukan amal perbuatan semata-mata hanya untuk memenuhi perintah dan hak-hak Allah.
Contoh perbuatan yang didorong kepentingan ukhrowi dan duniawi. Misalnya, seseorang punya kepentingan dengan pembesar. Kebetulan pembesar tersebut melakukan sholat jamaah di suatu masjid di barisan terdepan. Orang itupun melakukan jamaah di masjid yang sama dan pada barisan terdepan. Niatnya, selain untuk memenuhi kewajiban, juga agar kepentingannya dengan pembesar tersebut dapat tercapai.

Jelas, niat ibadahnya bukan sedekar untuk Tuhan; masih ada tujuan tujuan lain. Bahkan tujuan lain yang bersifat duniawi justru tampak lebih dominan. Karena itu, para ulama menyatakan, mentauhidkan niat adalah wajib, agar manusia tidak terpengaruh; bisa menyatukan pikiran dan hatinya hanya untuk berhubungan kepada Tuhan.

Contoh lain, orang yang melakukan ibadah agar bisa dekat kepada Tuhan. Ini seperti melakukan pekerjaan yang bertujuan untuk mencari upah. Ini juga termasuk riya yang sangat halus. Sedemikian, sehingga para ulama menyatakan, penyakit ibadah ini sangat sulit dirasakan. Terkadang ada orang yang telah ibadah demikian lama dan mencapai posisi di sisi Tuhan. Akan tetapi, kemudian ditolak, "Kembalilah! Kamu bukan termasuk anggota ibadah."
Pendorong amal perbuatan manusia biasanya ada dua; kepentingan dunia dan akherat. Ini sesungguhnya juga termasuk jalan menuju riya yang sangat sulit dihindarikan. Bila kepentingan akherat mengalahkan kepentingan duniawi, berarti amalnya masih bercampur dengan riya. Namun, sebagian ulama menyatakan, kepentingan akherat yang mengalahkan kepentingan duniawi masih sama artinya pekerjaan yang melulu didorong oleh kepentingan duniawi. Artinya, amal tersebut tidak termaafkan; tidak diterima.
Abdul Qodir Ad-Dasthuthi, "Murnikan tujuan amalmu hanya kepada Allah. Jangan ringankan masalah ini dengan membaurkannya bersama hasrat-hasrat nafsumu. Bila tidak, amal ibadahmu akan rusak."
Termasuk tanda-tanda riya, adalah menganggap enak dalam melakukan ibadah. Ini bertentangan dengan karakter asli manusia. Manusia, pada umumnya, tidak akan menganggap enak dalam melakukan ibadah, kecuali bila perbuatan tersebut sesuai dengan seleranya. Bila tidak, pelaksanaan ibadah akan terasa sangat berat. Termasuk riya' adalah melakukan amal untuk Allah tapi - masih - dikerjakan dengan tujuan-tujuan lain.

Riya' itu teramat lembut, sehingga diri sering tak menyadari, jika kamu melakukan puasa sekalipun, lantas di hatimu merasa cocok dengan amaliyah itu dan terjadi kecondongan karena terasa enaknya di perasaan, maka itu adalah riya, sebab penyekutuan Allah dengan kesenangan di hatimu, sering seseorang tak menyadari kalau dirinya berkata, aku cukup merasa ketenangan dengan menjalankan amalan ini, dan dirinya tak memperhatikan kalau dia telah menukarkan ridho Allah dengan ketenangan sepele yang ada di nafsunya, tak disadari bahwa syaitan telah menjebaknya dari perkara sepele itu.

Atau kadang seseorang mencari keutamaan suatu amalan, lantas menekuninya karena merasa utamanya amalan itu, tak sadar syaitan telah menjebaknya dengan memasukkan kecintaan seseorang itu pada nilai suatu keutamaan, coba direnungkan, alangkah jeleknya jika Allah hanya dipakai sebagai jembatan memperoleh keutamaan, apa itu namanya bukan tak punya unggah ungguh. Allah itu maha segalanya, bagaimana mungkin dipakai mendapatkan yang selainNya?

Makanya riya itu dinamakan syirik yang khofi/samar, karena teramat samarnya yang melakukan sering kali tak merasa, sebab teramat samarnya, kecuali orang yang selalu waspada, dan selalu menimbang dan merenungkannya dengan tafakur, dan segera menyadari. sebab melihat bahayanya terhadap kerusakan amal.

Ingat Allah itu melihat hati. Tak ada sesuatupun yang tersembunyi di pandangan Allah.
Orang yang ingin mencapai Allah dan dekat denganNya harus menghindarkan diri dari riya'.
"Riya adalah racun yang mematikan dan melebur pahala", kata Ibrahim Al-Matbuli.
Riya menyia-nyiakan pahala amal dan mematikan hati.
Nabi Adam as sebelum meninggal dunia terlebih dahulu beliau menderita sakit.
Pada hari jumat sebelum beliau wafat, beliau memberikan wasiat kepada ahli warisnya,

Sebagai pedoman dari kisah ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani dan Ibnu Katsir, Al Qur'an, Ubay bin Ka'ab.

Setelah terbunuhnya putra Adam as yang bernama Habil, bukan main rasa sedih yang dialami oleh Nabi Adam as. Isak tangis pun terdengar bertahun-tahun mengiringi kepergiannya.

Pada akhirnya, Allah SWT memberikan pengganti, seorang anak yang bernama Syits. Syits artinya adalah pemberian Allah SWT untuk menggantikan Habil. Setelah Syits beranjak dewasa, Nabi Adam pun memberikan kepercayaan kepada Syits serta memberikan semua ilmunya kepadanya. Bahkan ketika akan wafatpun Nabi Adam as memberikan wasiat kepada Syits untuk menggantikan dalam memimpin anak keturunannya untuk beribadah kepada Allah SWT.

Usia 960 tahun.
Setelah hidup selama 960 tahun dan sudah pula memiliki banyak keturunan, tibalah saatnya Nabi Adam as untuk bertemu Allah SWT.

Ibnu Katsir berkata,
"Para ahli sejarah telah menceritakan bahwa Adam as tidak akan meninggal kecuali ia sudah melihat keturunannya, dari anak, cucu, cicit terus ke bawah yang jumlah mencapai 400 ribu jiwa."

Dalam Al Qur'an, Allah SWT berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Artinya:
"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[1] Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain[2], dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu."

Penjelasan ayat:
[1] Maksud dari padanya menurut jumhur mufassirin ialah dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam a.s. berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim. di samping itu ada pula yang menafsirkan dari padanya ialah dari unsur yang serupa Yakni tanah yang dari padanya Adam a.s. diciptakan.

[2] Menurut kebiasaan orang Arab, apabila mereka menanyakan sesuatu atau memintanya kepada orang lain mereka mengucapkan nama Allah seperti : As aluka billah artinya saya bertanya atau meminta kepadamu dengan nama Allah.

Konon,
Nabi Adam as jatuh sakit beberapa hari hingga pada hari Jumat datanglah malaikat untuk mencabut nyawanya sekalian bertakziah mengungkapkan bela sungkawa kepada pemegang wasiatnya yaitu Syits.

Nabi Adam as Dishalati Malaikat.
Ubay bin Ka'ab meriwayatkan.
Sesungguhnya ketika akan datang wafat, Nabi Adam as berkata kepada anak-anaknya,
"Wahai anak-anakku, sesungguhnya aku menginginkan buah dari surga."

Maka, pergilah anak-anak beliau untuk mencari buah dari surga. Ketika dalam perjalanan, mereka bertemu dengan para malaikat yang membawa kain kafan, ramuan minyak wangi untuk mayat, kapak, cangkul dan keranda.

Para malikat itu berkata kepada anak-anak Adam as,
"Wahai anak-anak Nabi Adam as, apa yang kalian kehendaki dan apa yang kalian cari?"
"Bapak kami sedang sakit, ia menginkan buah dari surga," kata salah satu anak Adam as.
"Kembalilah kalian, sungguh saat ini telah datang keputusan kematian bagi bapakmu," kata malaikat.

Sesaat kemudian, malaikat sudah mendatangi nabi Adam as.
Ketika mereka tiba di rumah, Siti Hawa kaget sesaat sebelum akhirnya mengerti maksud kedatangan malaikat tersebut.
"Wahai Adam, minta tangguhlah kematianmu," kata Ibu Hawa.
"Pergilah engkau dariku, sungguh aku diciptakan sebelummu. Biarkan nyawaku dicabut oleh para malaikat Rabbku," kata Nabi Adam as.

Akhirnya,
Para malaikat mencabut nyawa Nabi Adam as pada hari Jumat. Para malaikat memandikannya, mengkafani, mengoleskan ramuan minyak wangi serta menggali liang kubur untuk Adam as. Selanjutnya mereka menyalatinya lalu memasukkannya ke liang kubur dan menempatkannya di liang lahat.

Para malaikat juga meratakan tanah kuburnya.
Lalu para malaikat berkata, "Wahai anak Adam, inilah tuntunan bagi kalian pada orang mati di antara kalian."
Al Kisah Nabi Sulaiman as adalah seorang nabi sekaligus raja yang sangat kaya raya. Bahkan, untuk membantunya berdakwah menyiarkan agama Allah SWT, beliau mempunyai kuda bersayap tidak kurang dari 20 ribu ekor kuda.

Nabi Sulaiman as sangat mencintai dan menyanyangi kuda-kudanya tersebut. Saking cintanya kepada kuda-kuda itu, suatu ketika beliau memeriksa dan mengatur kudanya sehingga ia lupa beribadah kepada Allah SWT.

Ketika beliau menyadari kelalaiannya tersebut, beliau pun bersumpah,
"Tidak, demi Allah, janganlah kalian (kuda-kudaku) membuatku lalai dari menyembah Tuhanku."

Hal ini tidak lain adalah agar beliau terlindung dari sifat lalai beribadah kepada Allah SWT karena sibuk mengurus kuda-kudanya. Akhirnya Allah SWT memerintahkan agar semua kudanya disembelih, dan Nabi Sulaiman as pun memenuhinya.

Nah, Karena ketulusan Nabi Sulaiman as dalam menjalankan perintah Allah SWT untuk menyebelih kuda-kudanya tersebut, maka Allah SWT pun menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik. Yaitu dengan memberikan angin yang bisa dikendarainya, diperintahkan angin untuk membawa Nabi Sulaiman as kemana saja yang beliau kehendaki.

Itulah asal mula kendaraan angin yang dimiliki oleh nabi Sulaiman as.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda,
"Ketika Nabi Adam as telah berbuat dosa dengan yang telah dilakukannya itu, ia mengangkat kepalanya ke langit sambil berdoa."

Nabi Adam as berkata,
"Aku bermohon demi hak Muhammad, ampunilah dosaku."

Mendengar doa Nabi Adam as, Alloh SWT mewahyukan kepada Adam.
Alloh SWT bertanya,
"Siapa Muhammad itu?"
"Maha Mulia AsmaMu, dan di situ tertulis Laa Ilaaha Illallooh Muhammad Rosulullah," jawab Adam as.

Adam berkata lagi,
"Dari situ, maka tahulah aku bahwa tidak ada seorang pun yang lebih besar kedudukannya di hadapanMu selain orang yang namanya bersama namaMu."

Alloh SWT mewahyukan kepada Adam,
"Hai Adam, sesungguhnya ia adalah Nabi yang terakhir dari keturunanmu. Kalau tidak ada dia, Aku tidak menciptakan kamu."

Wallohu A'lam

RONGOWARSITO: Dari Santri Bengal Jadi Pujangga Agung

Nama Raden Ngabehi Ronggowarsito memang sudah tidak asing lagi. Dia adalah seorang pejangga keraton Solo yang hidup pada 1802-1873. Tepatnya lahir hari Senin Legi 15 Maret 1802, dan wafat 15 Desember 1873, pada hari Rabu Pon. Pujangga yang dibesarkan di lingkungan kraton Surakarta ini namanya terkenal karena dialah yang menggubah Jangka Jayabaya yang tersohor hingga ke mancanegara itu. Hingga sekarang kitab ramalan ini masih menimbulkan kontroversi.

R. Ng. Ronggowarsito adalah bangsawan keturunan Pajang, dengan silsilah sebagai berikut :

- P. Hadiwijoyo (Joko Tingkir)

- P. Benowo, putera Emas (Panembahan Radin)

- P. Haryo Wiromenggolo (Kajoran)

- P. Adipati Wiromenggolo (Cengkalsewu)

- P.A. Danuupoyo, KRT Padmonegoro (Bupati Pekalongan)

- R.Ng. Yosodipuro (Pujangga keraton Solo)

R. Ng.Yosodipuro alias Bagus Burham adalah R.Ng.Ronggowarsito yang kita kenal. Semasa kecil hingga remaja dia memang lebih dikenal dengan nama Bagus Burhan, dan pernah menuntut ilmu di Pesantren Tegalsari atau Gebang Tinatar.

Dari jalur ibundanya, R.Ng.Ronggowarsito merupakan seorang bangsawan berdarah Demak, dengan silsilah sebagai berikut:

- R. Trenggono (Sultan Demak ke III)

- R.A. Mangkurat

- R.T. Sujonoputero (Pujangga keraton Pajang)

- K.A. Wongsotruno

- K.A. Noyomenggolo (Demang Palar)

- R. Ng. Surodirjo I

- R.Ng. Ronggowarsito/Bagus Burham.

Karena ayahandanya wafat sewaktu sang pujangga belum cukup dewasa, Bagus Burhan kemudian ikut dengan kakeknya, yaitu R. Tumenggung Sastronegoro, yang juga seorang bangsawan keraton Solo.

Dikisahkan, pada saat dirawat oleh kakeknya inilah Bagus Burhan hidup dengan penuh kemanjaan, sehingga bakatnya sebagai seorang pujangga sama sekali belum terlihat. Bahkan, kesukaannya di masa muda adalah sering menyabung jago, dan bertaruh uang. Bermacam-macam kesukaan yang menghambur-hamburkan uang seakan menjadi cirri khasnya kala itu.

Namun demikian sang kakek, R. Tumenggung Sastronegoro, telah meramalkan kalau nanti cucu kinasihnya ini akan menjadi seorang pembesar setaraf dengan kakek buyutnya. Untuk mewujudkan ramalannya ini, sang kakek kemudian menitipkan Bagus Burhan ke Kyai Imam Bestari pemilik pondok pesantren Gebang Tinatar di Tegalsari, Ponorogo.

Pada saat di pesantren, kebengalan Bagus Burhan semakin menjadi. Hal ini membuat Kyai Imam Bestari kewalahan. Kesukaannya bertaruh dan berjudi sabung ayam tidak kunjung luntur. Karena kebiasaan buruknya ini, maka sering kali bekal yang dibawanya dari Solo habis tak karuan di arena judi sabung ayam.

Karena kenakalannya, setelah setahun berguru, tak ada kemajuan sama sekali. Oleh karena itulah Kyai Imam Bestari memintanya agar pulang ke Solo. Sang Kyai merasa tak sanggup untuk mengajarnya ilmu-ilmu keagamaan.

Wibawa Kyai Imam Bestari membuat Bagus Burhan tak kuasa untuk menolak titahnya. Namun, dia menghadapi dilema. Kalau dirinya pulang ke Solo, kakeknya pasti akan marah besar.

Karena takut pada murka kakeknya inilah, maka bersama dengan Ki Tanujoyo pamomongnya, Bagus Burhan memutuskan untuk tidak pulang ke Solo. Dia memilih berguru ke Kediri.

Dikisahkan, dalam perjalanan menuju Kediri, Bagus Burhan dan Ki Tanujoyo tersesat di sebuah hutan. Karena hingga tiga hari tiga malam tak menjumpai rumah penduduk, maka selama itu pula mereka tak makan dan tak minum. Karena kelaparan, Bagus Buhan yang biasa hidup enak dan serba kecukupan akhirnya pingsan.

Sementa itu, di tempat lain, yakni di padepokan Kyai Imam Bestari, sang Kyai memperoleh wangsit yang memberikan pertanda bahwa Ponorogo akan dilanda kelaparan. Dalam wangsit itu dikatakan bahwa bencana kelaparan ini akan tertolong bila Bagus Burhan yang telah pergi jauh itu mau diajak kembali ke Ponorogo.

Demi mendapatkan isyaroh ini, sebagai seorang linuwih, Kyai Imam Bestari langsung mengirim utusan untuk menjemput kembali bocah Bengal itu ke Solo. Celakanya, menurut laporan yang diperoleh, para utusan itu tidak mendapatkan Bagus Burhan di Solo. Bahkan, anak itu belum juga sampai ke rumah kakeknya.

Setelah mendapatkan laporan itu, Kyai Imam Bestari bermunajat kepada Allah untuk meminta petunjukNya. Singkat cerita, Bagus Burhan memang berhasil diketemukan. Bocah ini pun tidak menolak ketika diajak kembali ke padepokan, karena ini memang harapannya agar tidak mendapatkan murka dari sang kakek.

Saat menetap kembali di pesantren Gebang Tinatar, Tegalsari, Ponorogo. Perilaku Bagus Burhan ternyata tak kunjung berubah. Tetap suka berboros-boros dengan bertaruh dan berjudi sabung ayam. Hal ini sangat mengecewakan Kyai Imam Bestari. Karena tak tak tahan melihat kelakukan santrinya, maka suatu hari sang Kyai memarahi Bagus Burhan dengan kata-kata yang sangat menusuk perasaan si anak muda.

Mendapatkan kemarahan hebat dari Kyai Imam Bestari, Bagus Burhan berniat segera hengkang dari pesantren. Untunglah, dalam kondisi seperti ini Ki Tanujoyo segera mengambil peranan. Dia berusaha tampil menolong keadaan, dengan cara membesarkan hati Raden Bagus Burhan.

“Raden ini bukan keturunan orang kebanyakan. Leluhur Raden adalah bangsawan keraton yang hebat. Untuk diketahui, itu semua bukan dicapai dengan hidup enak-enak. Akan tetapi, dicapai dengan cara laku prihatin, tirakat, mesu budi dan patiraga. Apakah Raden tidak ingin seperti mereka?””

Mendengar perkataan Ki Tanujoyo seperti itu, akhirnya bangkitlah semangat Raden Bagus. Dia pun mencoba tetap bertahan di pesantren Gebang Tinatar di Tegalsari, Ponorogo. Sampai suatu ketika, dirinya minta diantar ke kali Kedhung Batu untuk menjalani tirakat, sebagaimana yang pernah ditempuh oleh para leluhurnya.

Berkat kekerasan hati dan ketekunannya, maka setelah menjalani tirakat selama 40 hari 40 malam di kedung Watu, tanpa makan dan minum, kecuali sesisir pisang setiap harinya, akhirnya ada hasil yang dia peroleh. Dari tirakatnya ini Raden Bgus memperoleh wisik, yakni ditemui eyang buyutnya, R.Ng.Yosodipuro I. Dia diminta menengadahkan telinganya, dan gaib sang kakek buyutnya kemudian masuk kedalamnya.

Ada kisah lain yang tak kalah aneh. Konon, Ki Tanujoyo yang menemaninya dipinggir kali, sewaktu menyiapkan nasi untuk buka saat tirakat menginjak hari kw 40, orang tua ini melihat ada sinar masuk ke dalam kendilnya, yang ternyata berupa ikan untuk lauk sang Bagus berbuka puasa.

Semenjak usai menjalani tirakat ini, pribadi Raden Bagus Burhan pun berubah 180 derajat. Kebengalannya berubah menjadi sikap yang sangat patuh. Tak hanya itu, kalau pada awalnya dia santri yang bebal, akhirnya berubah menjadi santri yang cepat menerima pelajaran yang diberikan oleh Kyai Imam Bestari. Dia juga memiliki kelebihan dalam hal mengaji dan berdakwah, sehingga jauh lebih menonjol dibandingkan santri-santri lainnya. Karena kecerdasannya ini, Bagus Burhan memperoleh sebutan baru dari Kyai Imam Bestari, yakni Mas Ilham.

Misteri Kematian Sang Pujangga

Pada akhir sekitar rentang 1979, kematian R.Ng. Ronggowarsito alias Bagus Burham memang sempat menjadi bahan polemik. Pokok pangkal polemik tersebut adalah sekitar kematian Ronggowarsito yang telah diketahui sebelumnya oleh dirinya sendiri. Ya, delapan hari sebelum ajal menjemputnya sang pujangga telah menulis berita kematian tersebit dalam Serat Sabda Jati. Demikian cuplikannya dalam susunan kalimat asli:

“Amung kurang wolu ari kadulu, tamating pati patitis. Wus katon neng lobil makpul, antarane luhur, selaning tahun Jumakir, toluhu madyaning janggur. Seng ara winduning pati, netepi ngumpul sak enggon.”

Artinya kurang lebih bahwa dirinya akan meninggal pada tanggal 5 Dulkaidah 1802 atau tanggal 24 Desember 1873 pada hari Rabu Pon.

Tulisan tersebut memang sempat melahirkan kontroversi berkepanjangan. Ada yang menilai bahwa Ronggowarsito meninggal bukan secara alami, akan tetapi dibunuh atas perintah persekongkolan Raja Paku Buwono IX yang mendapat desakan Belanda. Ketika itu Belanda merasa resah karena melihat kelebihan dan kemampuannya. Karena itulah Belanda berkepentingan menghabisinya. Apalagi, ayahanda Ronggowarsito ternyata juga telah diculik Belanda hingga akhirnya tutup usia di Jakarta.

Keinginan Belanda itu rupanya sejalan dengan Paku Buwono IX. Sang raja juga merasakan adanya sesuatu yang kurang berkenan dengan sepak terjang Ronggowarsito yang ketika itu namanya sangat terkenal mengingat karya-karyanya. Maka kuat dugaan, konspirasi menyikirkan Ronggowarsito akhirnya berjalan sempurna.

Apakah keraguan ini benar? Memang, sampai sekarang hal tersebut tetap menjadi misteri. Di satu pihak menganggap bahwa dengan kelinuwihannya Ronggowarsito memang mampu mengetahui saat-saat kematiannya, meski kematian adalah rahasia Tuhan. Namun di pihak lain menduga bahwa tidak menutup kemungkinan ada tangan-tangan lain yang merekayasa kematian tersebut, sekaliggus merekayasa kalimat ramalan pada Serat Sabda Jati sebagaimana dinukuli di atas.

Memang, banyak kalangan ahli yang beranggapan, bahwa bait-bait sebagaimana kami nukilkan itu merupakan tambahan dari orang lain. Hal ini jika mengingat dari sekitar 50 buku tulisan karya Ronggowarsito tidak terlalu nyata, mana tulisan murni karyanya, dan mana yang ditulis bersama-sama dengan orang lain, maupun yang merupakan terjemahan. Hal ini mudah dimaklumi, mengingat pada waktu itu belum ada perlindungan hak cipta. Apalagi sewaktu Ronggowarsito bertugas di keraton Solo kerajaan dalam kondisi tidak menentu, terpengaruh dengan perseteruan keluarga raja dan campur tangan kaum penjajah Belanda yang ingin mengail di air keruh. Bagaimana yang sebenarnya, hanya Tuhan yang Maha Tahu.

KEJADIAN ADAM

Maka tatakala dikehendaki Allah Taala membuat Adam, maka dikumpulkan air, tanah, api dan udara (panas) lalu Tajlli hak Taala ke tanah itu dengan berbagai Tajlli Sifat dan zatnya maka digengamnya segengam dari bumi itu dengan gengaman Jabrautnya, maka dihantarkannya ia pada alam malakut adalah tanah yang digengam itu pilihan dari segala tanah, maka dengan haq Allah Taala tanah segengam itu dengan beberapa rempah-rempah, bau-bauan, dari Nur Sifatnya, maka diturunkan Allah Taalah hujan pada tanah yang segengam itu.
Dengan Sifat Jalal dan Jamal maka dijadikan lembaga oleh hak Allah Taala akan tanah yang satu gengam itu dengan berbagai nafas alam malik, dan alam malakut itu maka dikirimkan ia lembaga itu pada pihak Qudrat yang antara bidang "azali" dan "abaad" hingga terjadilah atas segala sabit yang tersebut dari "israkulalzat" dan segala alam yang tersebut dari qamar al-sifat, tetapi tidak menampakkan dan tidak mashur namanya dan segala perinya pada segala malaikat dan segala jin seperti firman allah yang artinya "sesungguhnya telah datang pada adam sesuatu masa yang tidada ada ia sesuatu yang disebut akan dia yakni adalah berlalu pada lembaga adam kira kira 120 tahun lamanya yaitu: -
Pada tanah yang bercampur dengan air kira-kira 40 tahun lamanya.
Pada tanah kering kira-kira 40 tahun lamanya.
Pada tanah hitam busuk sekitar 40tahun lamanya.
Setelah itu maka dipersalinkan hak taala akan lembaga itu dengan persalinan kemuliaan, maka terdidinglah penglihatan segala malaikat dari melihat hakikat rupa lembaga itu dari melihat yang dijadikan allah Taala denga kemulianya dan Samad dan Jalalnya dan Jamalnya dan zatnya pada menyempurnakan akan kejadian lembaga Nabi Allah Adam,
Maka adalah bidik segala malaikat kepada lembaga itu dengan bidik kehinaan pada penglihatan meraka itu karena kurang makrifat mereka itu akan kebesaran dan martabat lembaga itu. dan dibutakan Allah Taala akan mata iblis dari melihat rahasia didalam lembaga nabi allah adam itu sampai dibesarkan dirinya dari lembaga itu.

Berkata segala ulama tetakala diinginkan allah Ta'ala menjadikan nabi allah adam, maka ia berkata seperti yang tersebut dalam alquraan yang artinya, pada saat firman tuhan engkau untuk segala malaikat bahwa sesungguhnya aku hendak menjadikan insan dari tanah, maka firman allah Taala kepada Jibril Alaisalam, Hai Jibril , pergilah engkau ke bumi ambil olehmu tanah dari segala bumi. Aku hendak menjadikan suatu kejadian daripdanya. maka Jibril pun turunlah ke bumi lalu hendak diambilnya akan tanah dari bumi itu maka disumpah oleh bumi akan dia serta berkata demi Allah jangan engkau ambil akan daku, bahwa aku takut dijadikan Allah Taala suatu dari aku tidak kuasa aku menanggung siksa neraka, maka Jibril pun kembalilah kehadrat Allah, maka dipersembah Jibril, Ya Tuhanku engkau jua yang mengetahui bahwa hambamu disumpah oleh bumi ...
Setelah itu maka dititahkan Allah akan Mikail pun mengambilnya akan bumi itu, maka Mikail pun pergilah lalu hendak diambilnya akan bumi itu maka lalu disumpahnya oleh bumi tu akan ia. Maka ia pun kembali ke hadirat Allah Taala dan sembah ia seperti sembah Jibril itu jua.
Setelah itu maka titahkan Allah Taala akan Israfil pula mengambil akan bumi itu, maka Israfil pun pergilah lalu hendak diambil akan bumi itu maka lalu disumpahi akan dia, maka ia pun kembali ke hadirat Allah Taala serta sembahnya seperti sembah Mikail itu jua.

Setelah itu maka dititahkan Allah taala akan Izrail pula, maka Izrail pun pergilah ke bumi hendak mengambil tanah dari bumi itu, maka disumpahnya oleh bumi juga akan dia. Seperti mantra akan Jibril ["dan berkata demi Allah jangan engkau ambil akan daku, bahwa aku takut dijadikan Allah Taala suatu dari aku tidak kuasa aku menanggung siksa neraka"] Maka kata Izrail hai bumi tidak dengan keinginan aku yang aku ambil dari mu maka dikirimkan tangannya dari Musyrik hingga sampai kepada segala bumi maka diambilnya lah dari segala jenis tanah itu dari tanah putih, merah, hitam, kuning, kelabu, dan barang sebaginya maka sebab itulah jadi berlain-lainan rupa pada tubuh nabi allah adam.

Maka dibawa oleh Izrail akan tanah itu kehadrat Taalah serta sembahnya, Ya Saidi Ya Maulana engkau jua tuhan yang terlebih mengetahui akan hal hambamu disumpah oleh bumi inilah tanah yanga ku ambil darinya. Maka Firman Allah Taala, hanya Izrail telah aku ketahui engkau disumpahnya, tetapi sumpahanya itu aku dorong dari mu karena kamu mengerjakan suruhku dan aku serahkanlah kepada mu mengambil NYAWA segala yang aku jadikan itu, maka sembah Izrail, ya Tuhanku jika yang demikian itu jadi berseterulah mereka dengan hamba mu ini.? Maka firman Allah Taala, hai Izrail tidak dapat berseteru mereka itu akan dikau karena aku jadikan baginuya suatu sebab, dengan mati dibunuh, mati dimakan binatang atau tenggelam dalam air atau mati dengan sesuatu penyakit akan dia.

Setelah itu Firman Allah Taala kepada Malaikat, ambil olehmu air empat untuk (bagian), cucurkan ke tanah itu, maka malaikat pun pergilah ke dalam surga mengambil ia air manis, air asam, air putih dan hanyir dan cucur seperti friman allah Taala dalam hadis qudsi , yang artinya aku "hamarkan" lembaga adam dengan dua tangan kudart ku, empat hari maka jadilah dariapda
- Air manis itu air liur
- Dan dari air asam itu air mata
- Dan dari air hanyir itu air hidung
- Dan dari air putih itu air telinga.

Kata Wahab bahwa kejadian Allah Taala akan Nabi Allah Adam itu dari tujuh bumi,
Kepalanya itu dari bumi yang pertama.
Lehernya itu dari bumi yang kedua.
Ddadanya daripda bumi yang ketiga.
Kedua tangan itu dari bumi yang keempat.
Punggung dan perutnya dari bumi yang kelima.
Dan pingangnya dari bumi yang keenam.
Kedua betisnya dan telapak kakinya dari bumi yang ketujuh.
Dan pada satu riwayat kata putra Abas rah telah menjadikan oleh Allah Taala akan jasad Adam als dari segala iklim dunia.
Kepalanya itu dariapda tanah Ka'bah
Dadanya itu dari segala pihak bumi
Belakangnya dan perutnya itu dari tanah Hindi
Dua tanganya itu dari tanah masyrik
Dua kakinya itu daripda tanah Magrib
Dan pada satu riwayat yang lain mereka berkata Ibnu Abbas r. telah menjadi oleh Allah Taala akan jasad Adam als
Kepalanya itu dari tanah Baitul Mukadis itu tempat akal dan cerdik dan berkata-kata.
Mukanya itu dari tanah surga - tempat keelokan dan tempat perhiasan.
Dua telinganya itu dariapda tanah Thursina - itu tempat mendengarkan nasihat.
Dahinya itu itu dari tanah Irak - tempat sujud untuk Allah Taala
Segala kakinya itu dari tanah Kausar
Tangannya yang kanannya dan segala anak jarinya dari tanah Baitul Ka'bah
Tangannya yang kiri itu dari tanah Persia
Dua kakinya dan serta dua bvetisnya itu dari tanah Hindi
Tulang itu daripda tanah Bukit
Uratnya itu dari tanah Negeri Bil Bil
Belakangnya itu dari tanah Irak
Perutnya itu daripda tanah Khurasan
Hatinya itu dari tanah Firdaus
Lidahnya itu daripda tanah Taif
Mata itu dari tanah Hud.
Telah menjadikan Allah taala didalam Adam itu sembilan pintu, tujuh dikepalanya yaitu dua matanya, dua telinganya, dua lubang hidunnya, dan mulutnya. Dan dua lagi qubul dan dubur.
Dan dijadikan pacaindera yang lima itu: -
Penglihatan pada mata
Pendengaran pada telinga
Perasa pada mulut
Penjabat (indera) pada badanya
Penciuman pada hidunnya
Bahwa ROH itu masuk ia dari otaknya, maka berkelilinglah ia didalamnya sebesar 200 tahun, kemudian turun roh itu ke mata maka menilik ia akan dirinya maka melihat ia akan dirinya tanah yang kering maka tetakala sampai ia akan dua telingnya niscaya mendengar ia akan tasbih segala malaikat , kemudian turun ia ke hidungnya maka bersin ia maka tetakal selesai dari bersinnya turunlah ruh itu kemuluntya dan ke lidahnya dan pada kedua telinga dan telah mengajar oleh allah taala akan bahwa berkata ia Alhamdulillah maka menjawab ia akan dia denga kata Ya Harkam robik ya Adam.

Turun ruh itu kedadanya maka segera ia hendak berdiri maka tidak dapat akan dia berdiri itu. Dimulai demikian itu firman allah Ta'ala yang artinya adalah perangai manusia itu sangat segera, maka tetakala sampai roh itu ke ronga perutnya maka inginlah ia akan makan kemudian mesralah roh itu pada sekelian tubuhnya maka jadilah daging dan darah dan urat yang besar-besar dan urat-urat yang kecil dan dianugrahkan oleh allah taalah akan pakaian kulit yang sangat halus seperti KUKU bertambah-tambah tiap tiap hari keelokkan dan Jamalnya. Terpancar Nur Muhammad dengan brseri-seri di wajahnya.
Bertukarlah pakaian kulit seperti kuku itu ke kondisi kulit yang sekarang ini ketika diperintahkah Allah Taala turun Adam turun ke bumi. Sesungguhnya Nabi Allah Hawa itu dari tulang rusuk yang kiri Nabi Allah Adam.

Sunan Muria / Raden Umar

1. ASAL USUL.

Beliau adalah putra Sunan Kalijaga dengan Dewi Saroh. Nama aslinya Raden Umar said Seperti ayahnya, dalam berdakwah beliau menggunakan cara halus, ibarat mengambil ikan tidak sampai mengeruhkan airnya. Itulah cara yang ditempuh untuk menyiarkan agama Islam di sekitar Gunung Muria. Tempat tinggal beliau di gunung Muria yang salah satu puncaknya bernama Colo. Letaknya di sebelah utara kota Kudus. Menurut Solichim Salam, sasaran dakwah beliau adalah para pedagang, nelayan, pelaut dan rakyat jelata. Beliaulah satu-satunya wali yang tetap mempertahankan kesenian gamelan dan wayang sebagai alat dakwah untuk menyampaikan Islam. Dan beliau pula yang menciptakan tembang Sinom dan Kinanti.

2. SAKTI MANDRAGUNA.

Bahwa Sunan Muria itu adalah Wali yang sakti, kuatfisiknya dapat dibuktikan dengan letak padepokannya yang terletak diatas gunung . Menurut pengalaman penulis jarak antara kaki undag-undagan atau tangga dari bawah bukit sampai kemakam Sunan Muria (tidak kurang dari750 M).

Bayangkanlah, jika Sunan Muria dan istrinya atau dengan muridnya setiap hari harus naik-turun, turun-naik guna menyebarkan agama Islam kepada penduduk setempat ,atau berdakwah kepada para nelayan dan pelaut serta para pedagang. Hal itu tidak dapat dilakukannya tanpa adanya fisik yang kuat. Soalnya menunggang kuda tidak mungkin dapat dilakukan untuk mencapai tempat tinggal Sunan Muria.Harus jalan kaki. Itu berarti Sunan Muria memiliki kesaktian tinggi, demikian pula murid-muridnya.

Bukti bahwa Sunan Muria adalah guru yang sakti mandraguna dapat ditemukan dalam kisah Perkawinan Sunan Muria dengan Dewi Roroyono. Dewi Roroyono adalah putri Sunan Ngerang, yaitu seorang ulama yang disegani masyarakat karena ketinggian ilmunya, tempat tinggalnya di Juana. Demikian saktinya Sunan Ngerang ini sehingga Sunan Muria dan Sunan Kudus sampai-sampai berguru kepada beliau.

Pada suatu hari Sunan Ngerang mengadakan syukuran atas usia Dewi Roroyono yang genap dua puluh tahun. Murid-murid diundang semua.Seperti : Sunan Muria, Sunan Kudus ,Adipati Pathak Warak, Kapa dan adiknya Gentiri .Tetangga dekat juga diundang, demikian pula sanak kadang yang dari jauh.

Setelah tamu berkumpul DewiRoroyono dan adiknya yaitu Dewi Roro Pujiwati keluar menghidangkan makanan dan minuman. Keduanya adalah dara-dara yang cantik rupawan.

Terutama Dewi Roroyono yang berusia dua puluh tahun, bagaikan bunga yang sedang mekar mekarnya.

Bagi Sunan Kudus dan Sunan Muria yang sudah berbekal ilmu agama dapat menahan pandangan matanya sehingga tidak terseret oleh godaan setan. Tapi seorang murid Sunan Ngerang yang lain yaitu Adipati Pathak Warak memandang Dewi Roroyono dengan mata tidak berkedip melihat kecantikan gadis itu. Sewaktu menjadi cantrik atau murid Sunan Ngerang, yaitu ketika Pathak Warak belum menjadi Adipati, Roroyono masih kecil, belum nampak benar kecantikannya yang mempersona, sekarang, gadis itu benar-benar membuat Adipati Pathak Warak tergila-gila. Sepasang matanya hampir melotot memandangi gadis itu terus menerus.

Karena dibakar api asmara yang menggelora, Pathak Warak tidak tahan lagi. Dia menggoda Roroyono dengan ucapan-ucapan yang tidak pantas. Lebih-lebih setelah lelaki itu bertindak kurang ajar. Tentu saja Roroyono merasa malu sekali, lebih-lebih ketika lelaki itu berlaku kurang ajar dengan memegangi bagian-bagian tubuhnya yang tak pantas disentuh. Si gadis naik pitam, nampan berisi minuman yang dibawanya sengaja ditumpahkan ke pakaian sang Adipati.

Pathak Warak menyumpah-nyumpah, hatinya marah sekali diperlakukan seperti itu. Apalagi dilihatnya para tamu menertawakan kekonyolannya itu, diapun semakin malu.

Hampir saja Roroyono ditamparnya kalau tidak ingat bahwa gadis itu adalah putri gurunya. Roroyono masuk ke dalam kamarnya, gadis itu menangis sejadi-jadinya karena dipermalukan oleh Pathak Warak. Malam hari tamu-tamu dari dekat sudah pulang ke tempatnya masingmasing.

Tamu dari jauh terpaksa menginap dirumah Sunan Ngerang, termasuk Pathak Warak dan Sunan Muria. Namun hingga lewat tengah malam Pathak Warak belum dapat memejamkan matanya. Pathak Warak kemudian bangkit dari tidurnya mengendap-endap ke kamar Roroyono. Gadis itu disiramnya sehingga tak sadarkan diri, kemudian melalui genteng Pathak Warak melorot turun dan membawa lari gadis itu melalui jendela. Dewi Roroyono dibawa lari ke Mandalika, wilayah Keling atau Kediri. Setelah Sunan Ngerang mengetahui bahwa putrinya di culik oleh Pathak Warak, maka beliau berikrar siapa saja yang berhasil membawa putrinya itu bila perempuan akan dijadikan saudara Dewi Roroyono. Tak ada yang menyatakan kesanggupannya. Karena semua orang telah maklum akan kehebatan dan kekejaman Pathak Warak. Hanya Sunan Muria yang bersedia memenuhi harapan Sunan Ngerang.

“Saya akan berusaha mengambil Diajeng Roroyono dari tangan Pathak Warak,” Kata Sunan Muria.

Tetapi, ditengah perjalanan Sunan Muria bertemu dengan Kapa dan Gentiri, adik seperguruan yang lebih dahulu pulang sebelum acara syukuran berakhir. Kedua orang itu merasa heran melihat Sunan Muria berlari cepat menuju arah daerah Keling.

“Mengapa Kakang tampak tergesa-gesa ?” tanya Kapa. Sunan Muria lalu menceritakan penculikan Dewi Roroyono yang dilakukan oleh Pathak Warak. Kapa dan Gentiri sangat menghormati Sunan Muria sebagai saudara seperguruan yang lebih tua.

Keduanya lantas menyatakan diri untuk membantu Sunan Muria merebut kembali Dewi Roroyono.

“Kakang sebaiknya pulang ke Padepokan Gunung Muria. Murid-murid Kakang sangat membutuhkan bimbingan. Biarlah kami yang berusaha merebut di Ajeng Roroyono kembali. Kalau berhasil Kakang tetap berhak mengawininya, kami hanya sekedar membantu.” Demikian kata Kapa.

“Aku masih sanggup merebutnya sendiri,” Ujar Sunan Muria.

“Itu benar, tapi membimbing orang memperdalam agama Islam juga lebih penting, percayalah pada kami. Kami pasti sanggup merebutnya kembali.” kata Kapa ngotot.

Sunan Muria akhirnya meluluskan permintaan adik seperguruannya itu. Rasanya tidak enak menolak seseorang yang hendak berbuat baik. Lagi pula ia harus menengok para santrinya di Padepokan Gunung Muria. Untuk merebut Dewi Roroyono dari tangan Pathak Warak, Kapa dan Gentiri ternyata meminta bantuan seorang Wiku Lodhang di pulau Sprapat yang dikenal sebagai tokoh sakti yang jarang tandingannya. Usaha mereka berhasil. Dewi Roroyono dikembalikan ke Ngerang. Hari berikutnya Sunan Muria hendak ke Ngerang.

Ingin mengetahui perkembangan usaha Kapa dan Gentiri. Ditengah jalan beliau bertemu dengan Adipati Pathak Warak.

“Hai Pathak Warak berhenti kau !”Bentak Sunan Muria.

Pathak Warak yang sedang naik kuda terpaksa berhenti karena Sunan Muria menghadang di depannya.

“Minggir ! Jangan menghalangi jalanku !” Hardik Pathak Warak.

“Boleh, asal kau kembalikan Dewi Roroyono !”

“Goblok! Roroyono sudah dibawa Kapa dan Gentiri !Kini aku hendak mengejar mereka!” Umpat Pathak Warak.

“Untuk apa kau mengejar mereka?”

“Merebutnya kembali!” jawab Pathak Warak dengan sengit .

“Kalau begitu langkahi dulu mayatku, Roroyono telah dijodohkan denganku !”Ujar Sunan Muria sambil pasang kuda -kuda.

Tampabasa-basi Pathak Warak melompat dari punggung kuda .Dia merangsak ke Arah Sunan Muria dengan jurus –jurus cakar harimau. Tapi dia bukan tandingan putra Sunan Kalijaga yang memiliki segudang kesaktian. Hanya dalam beberapa kali gebrakan ,Pathak Warak telah jatuh atau roboh ditanah dalam keadaan fatal. Seluruh kesaktiannya lenyap dan ia menjadi lumpuh tak mampu untuk bangkit berdiri apalagi berjalan. Sunan Muria kemudian meneruskan perjalanan ke Juana, kedatangannya disambut gembira oleh Sunan Ngerang. Karena Kapa dan Gentiri telah bercerita secara jujur bahwa mereka sendirilah yang memaksa mengambil alih tugas Sunan Muria mencari Roroyono, maka Sunan Ngerang pada akhirnya menjodohkan Dewi Roroyono dengan Sunan Muria.

Upacara pernikahanpun segera dilaksanakan. Kapa dan Gentiri yang berjasa besar itu diberi hadiah Tanah di desa Buntar. Dengan hadiah itu keduanya sudah menjadi orang kaya yang kehidupannya serba berkecukupan.

Sedang Sunan Muria segera memboyong istrinya ke Pedepokan Gunung Muria. Mereka hidup bahagia, karena merupakan pasangan yang ideal.

Tidak demikian halnya dengan Kapa dan Gentiri. Sewaktu membawa Dewi Roroyono dari Keling ke Ngerang agaknya mereka terlanjur terpesona oleh kecantikan wanita jelita itu.

Siang malam mereka tak dapat tidur.Wajah wanita itu senantiasa terbayang.Namun karena wanita itu sudah diperistri kakak seperguruannya mereka tak dapat berbuat apa-apalagi.

Hanya penyesalan yang menghujam didada. Mengapa dulu mereka buru –buru menawarkan jasa baiknya. Betapa enaknya Sunan Muria, tanpa bersusah payah sekarang nenikmati kebahagiaan bersama gadis yang mereka dambakan. Inilah hikmah ajaran agama agar lelaki diharuskan menahan pandangan matanya dan menjaga kehormatan mereka. (kemaluan).

Andaikata Kapa dan Gentiri tidak menatap terus kearah wajah dan tubuh Dewi Roroyono yang indah itu pasti mereka tidak akan terpesona, dan tidak terjerat oleh Iblis yang memasang perangkap pada pandangan mata.

Kini Kapa dan Gentiiri benar-benar telah dirasuki Iblis. Mereka bertekad hendak merebut Dewi Roroyono dari tangan Sunan Muria. Mereka telah sepakat untuk menjadikan wanita itu sebagai istri bersama secara bergiliran. Sungguh keji rencana mereka. Gentiri berangkat lebih dulu ke Gunung Muria. Namun ketika ia hendak melaksanakan niatnya dipergoki oleh murid-murid Sunan Muria, terjadilah pertempuran dasyart .Apalagi ketika Sunan Muria keluar menghadapi Gentiri, suasana menjadi semakin panas, akhirnya Gentiri tewas menemui ajalnya dipuncak Gunung Muria.

Kematian Gentiri cepat tersebar ke berbagai daerah. Tapi tidak membuat surut niat Kapa. Kapa cukup cerdik. Dia datang ke Gunung Muria secara diam-diam di malam hari.

Tak seorangpun yang mengetahuinya. Kebetulan pada saat itu Sunan Muria dan beberapa murid pilihannya sedang bepergian ke Demak Bintoro. Kapa menyirap murid-murid Sunan Muria yang berilmu rendah ………. yang ditugaskan menjaga Dewi Roroyono. Kemudian dengan mudahnya Kapa menculik dan membawa wanita impiannya itu ke Pulau Seprapat.

Pada saat yang sama, sepulangnya dari Demak Bintoro, Sunan Muria bermaksud mengadakan kunjungan kepada Wiku Lodhang. Datuk diPulau Seprapat .Ini biasa dilakukannya bersahabat dengan pemeluk agama lain bukanlah suatu dosa. Terlebih sang Wiku itu pernah menolongnya merebut Dewi Roroyono dari Pathak Warak.

Seperti ajaran Sunan Kalijaga yang mampu hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain dalam suatu negeri. Lalu ditunjukkan akhlak Islam yang mulia dan agung.

Bukannya berdebat tentang perbedaan agama itu sendiri. Dengan menerapkan ajaran-ajaran akhlak yang mulia itu nyatanya banyak pemeluk agama lain yang pada akirnya tertarik dan masuk Islam secara suka rela.

Ternyata, kedatangan Kapa ke pulau Seprapat itu tidak di sambut baik oleh Wiku Lodhang Datuk.

“Memalukan ! benar-benar nista perbuatanmu itu ! Cepat kembalikan istri kakanda seperguruanmu sendiri itu !” hardik Wiku Lodhang Datuk dengan marah.

“Bapa guru ini bagaimana, bukankah aku ini muridmu ? Mengapa tidak kau bela ?” protes Kapa.
“Apa ? Membela perbuatan durjana ?” Bentak Wiku Lodhang Datuk.

“Sampai matipun aku takkan sudi membela kebejatan budi perkerti walau pelakunya Itu murid kusendiri!”

Perdebatan antara guru dan murid itu berlangsung lama.Tanpa mereka sadari Sunan Muria sudah sampai ditempat itu. Betapa terkejutnya Sunan Muria melihat istrinya sedang tergolek ditanah dalam keadaan terikat kaki dan tangannya. Sementara Kapa dilihatnya sedang adu mulut dengan gurunya yaitu Wiku Lodhang Datuk menjauh, melangkah menuju Dewi Roroyono untuk membebaskan dari belenggu yang dilakukan Kapa. Bersamaan dengan selesainya sang Wiku membuka tali yang mengikat tubuh Dewi Roroyono. Tiba-tiba terdengar jeritan keras dari mulut Kapa.

Ternyata, serangan dengan mengerahkan aji kesaktian yang dilakukan Kapa berbalik menghantam dirinya sendiri. Itulah ilmu yang dimiliki Sunan Muria. Mampu membalikkan serangan lawan. Karena Kapa mempergunakan aji pemungkas yaitu puncak kesaktian yang dimilikinya maka ilmu akhirnya merengut nyawa nya sendiri.

“Maafkan saya Tuan Wiku ….. “ ujar Sunan Muria agak menyesal.

“Tidak mengapa, sudah sepantasnya dia menerima hukuman ini. Menyesal aku telah memberikan ilmu kepadanya. Ternyata ilmu itu digunakan untuk jalan kejahatan,” Guman sang Wiku.

Dengan langkah gontai sang Wiku mengangkat jenazah muridnya. Bagaimanapun Kapa adalah muridnya, pantaslah kalau dia menguburkannya secara layak. Pada akhirnya Dewi Roroyono dan Sunan Muria kembali ke padepokan dan hidup berbahagia.
Kisah Cerita Mbah Sonhaji ( Mbah Bolong ) Murid Sunan Ampel , Lihat Mekah dari Surabaya Dan Mbah Soleh Juga Murid Sunan Ampel Yang Meninggal Sembilan Kali

Sonhaji bekerja dengan tekun dan penuh perhitungan.
Ini kisah unik yang terukir seiring keberadaan Masjid Ampel di Surabaya, Jawa Timur. Namanya Mbah Sonhaji, salah seorang murid Sunan Ampel yang selalu disebut memiliki karomah luar biasa. Bagaimana ceritanya?

Kepiawaian Mbah Sonhaji yang berjuluk Mbah Bolong memang menakjubkan. Gelar yang disandang bukan tanpa alasan atau sebab. Murid Sunan Ampel ini (dijamannya) dikenal memiliki kemampuan yang luar biasa.

Dulu, di awal pembangunan Masjid Agung Sunan Ampel di kawasan Ampel Denta Surabaya, Sonhaji-lah yang ditugasi mengatur letak atau posisi pengimaman, untuk bisa tepat mengarah ke kiblat. Karena mendapat kepercayaan itu, Sonhaji bekerja dengan tekun dan penuh perhitungan. Ia tidak ingin letak pengimaman tidak lurus ke kiblat.
dalam kisah itu banyak pihak meragukan ‘keahliannya’. “Apa betul letak pengimaman masjid yang dibuat Sonhaji itu menghadap ke kiblat?”

Menyikapi keraguan banyak pihak itu, Sonhaji tidak menjawab. Ada cerita yang menyebut, Sonhaji kemudian melubangi dinding pengimaman sisi barat masjid, sambil berkata, “Lihatlah lewat lubang ini. Nanti kalian akan tahu apakah pengimaman ini sudah menghadap kiblat atau belum? terang Sonhaji.

Setelah selesai melubangi dinding tembok, saat itu dikisahkan, orang-orang yang di sekitarnya diajak melihat ke dalam lobang yang di buat Sonhaji. Ternyata, ada kejadian ‘ganjil’ dari lubang itu mereka bisa melihat ka'bah yang berada di Mekah.

Sementara, cerita lain yang berkembang, tidak dengan melubangi tembok. “Beliau itu kan seorang Mahtrus (Nahkoda) jadi sangat mungkin kalau memahami ilmu perbintangan dan ilmu falak (Ijtihat), termasuk tidak sulit menentukan arah kiblat,” lanjut Baidowi.

Kata Baidowi, Sonhaji melakukannya spontan. Menghitung sendiri untuk menentukan pengimaman yang tepat mengarah kiblat. Mengetahui kerja Sonaji, Sunan Ampel pun memuji. Kerumunan orang lainnya pun tak dapat menyembunyikan rasa takjubnya.

Sejak itu, mereka tidak lagi meremehkan Sonhaji. Atas kepiawaiannya, Sonhaji kemudian diberi julukan Mbah Bolong.
Untuk mengenang itu, hingga kini peziarah yang datang ke Masjid Sunan Ampel Surabaya selalu menyempatkan berziarah di makamnya. Letaknya, berada di belakang Masjid Ampel tidak jauh dari Makam Sunan Ampel. Tentang keajaiban itu, hanya Tuhan yang tahu.

Mbah Soleh, Murid Sunan Ampel yang Meninggal Sembilan Kali

Kisah Mbah Soleh, Murid Sunan Ampel

Adalah sebuah keajaiban yang tak ada duanya, ada seorang manusia di kubur hingga sembilan kali. Ini bukan cerita buatan melainkan ada bukti nyatanya.

Di sebelah Timur Masjid Agung Sunan Ampel ada sembilan kuburan, itu bukan kuburan sembilan orang, namun kuburan seorang yaitu murid Sunan Ampel yang bernama Mbah Soleh.

Kisahnya, Mbah Sholeh adalah tukang sapu masjid Ampel di masa hidupnya Sunan Ampel. Apabila menyapu lantai masjid sangatlah bersih sekali sehingga orang yang sujud di masjid tanpa sajadah tidak merasa ada debunya.

Ketika Mbah Sholeh wafat, beliau dikubur di depan masjid. Ternyata tidak ada santri yang sanggup mengerjakan pekerjaan Mbah Sholeh yaitu menyapu lantai masjid engan bersih sekali. Maka sejak ditinggal Mbah Sholeh masjid itupun lantainya menjadi kotor. Kemudian kata-kata Sunan Ampel. “Bila Mbah Sholeh masih hidup tentulah masjid ini menjadi bersih.”

Mendadak Mbah Sholeh ada di pengimaman masjid sedang menyapuu lantai. Seluruh lantaipun selanjutnya menjadi bersih sekali. Orang-orang pada heran melihat Mbah Sholeh hidup lagi.

Beberapa bulan kemudian Mbah Sholeh wafat lagi dan dikubur di samping kuburannya dahulu. Masjid menjadi kotor lagi, kemudian terucaplah kata-kata Sunann Ampel seperti dulu, Mbah Sholeh pun hidup lagi. Hal ini berlangsung beberapa kali sehingga kuburannya ada delapan.

Pada saat kuburan Mbah Sholeh ada delapan, Sunan Ampel meniggal dunia. Beberapa bulan kemudian Mbah Sholeh meninggal dunia, sehingga kuburan Mbah Sholeh ada sembilan. Kuburan yang terakhir di ujung paling Timur.

Jika kita sempat berziarah ke makam Sunan Ampel, jangan lupa untuk berdoa di depan makam Mbah Sholeh !