PENGERTIAN MURID

Murid atau Salik artinya adalah yang berjalan atau yang berkehendak. Bila dikatakan Murid atau Salik, maka pada istilah anggota sufiah adalah orang yang dikaruniai oleh Allah Ta `ala untuk berusaha pisah-pisah akan hatinya buat menjalani kepadanya dan untuknya. Sebab itu orang yang ingin sampai hatinya kepada musyahadah akan Allah Ta`ala harus melatih hatinya dengan menafikan segala kemauan yang dibangsakan ke dunia materi.

Kemudian langsung menyembunyikan dirinya untuk beribadah, berzikir dan sebagainya untuk menyampaikan dirinya kepada Allah Ta`ala secara zauq (perasaan) dan tidak lagi secara pengetahuan yaitu beredar-edar ia disekitar Allah itu tidak ada menyerupai suatu kekuasaan dan lain-lain lagi sedangkan secara zauq (perasaan) tidak ada padanya, akan tetapi untuk mereka yang menjadi murid itu mengikuti apa yang telah diterangkan oleh Imam Al -Ghazali rahimahullahu Ta`ala Anhu dan mereka itu (murid) telah merasakan apa yang dinamakan Bab Al-Asma 'yaitu merasa akan kelezatan dalam mengingat, usaha dan pelatihan mereka itu (murid) untuk musyahadah kepada Allah Ta` ala dengan melalui kenikmatan berzikir, beribadat serta pisahan hati. MAJZUB @ MURAD

Satu hal lagi yang perlu kita ketahui bahwa ada juga setengah manusia yang diangkat terus sampai ke sana dengan semata-mata karunia Allah Ta`ala. Tidak dengan pisahan usaha dan tidak pula dengan bimbingan gurunya (anggota spiritual) tertentu. Orang itu dinamakan MAJZUB ataupun murad, perbandingannya adalah seperti ia di temukan oleh sultan itu sendiri dengan memegang tangannya lalu membawa kehadapannya tetapi orang ini biasanya akan menerima kesulitan atau kepayahan tatkala menurun nanti. Andainya ia tidak mengawasi, maka ia akan menerima bencana ketika ia bermohon diri kelak.

Perilaku MENJALANI DIRI

Karena itu marilah kita membicarakan pasal perilaku yang harus dilalui dan percobaan yang harus di tempuh serta yang harus dialami dan dilalui oleh seseorang murid yang ingin sampai kesana untuk menjadi kekasih Allah Ta `ala.
Selain itu kita juga harus mengetahui persyaratan untuk seseorang murid itu untuk menjalani diri kepada Allah Ta`ala. Ketahuilah bahwa segala tunjang untuk mencapai kebahagian dunia dan akhirat itu adalah berputar di sekitar seberapa untuk seseorang murid itu membangun taqwa.
Taqwa adalah dasar dan pokok serta jalan atau awal pekerjaan ibadah dunia dan akhirat. Sesungguhnya kebajikan dan kebaikan dunia dan akhirat tidak akan dapat diakses begitu juga dengan kejahatan dan kebinasaan tidak akan dapat ditolak melainkan dengan taqwa.

PENGERTIAN TAQWA
Taqwa adalah satu wasiat yaitu satu pesan dari Allah Ta`ala kepada manusia seluruhnya. Manusia dahulu, sekarang dan akan datang serta banyak lagi keterangan dari ayat-ayat Allah Ta `ala yang telah menjamin orang-orang yang bertaqwa. Firman Allah dalam Surah hujurat ayat:
"semulia-mulia kamu disisi Allah Ta `ala itu adalah orang yang lebih taqwa kepadanya".

Allah Ta `ala telah menjadikan ukuran serta membuat penilaian kemuliaan seseorang itu atas kekuatannya, tidak pada keturunannya, tidak pada harta kekayaan, tidak dengan ilmu, tidak dengan kemegahan atau tidak dengan segala hal yang pernah dilakukan penilaian oleh kebanyakan manusia pada zaman ini. Sebab itu kemuliaan yang dibangun di atas dasar taqwa itu tidak dapat dirusak dan tidak dapat dijejaskan oleh pemutaran zaman atau perubahan waktu.

Untuk memastikan seseorang murid itu menjadi seseorang yang benar-benar bertakwa, ia harus meninggalkan segala jenis dosa, serta menghalangkan diri dari segala jenis kemauan nafsu disamping mengawasi diri dari tipu daya setan.

Jika ingin segera membuka jalan ilahiyah yang tertutup, maka harus mengenyampigkan pengakuan diri, saya ini siapa? segala ego harus di buang jauh-jauh, semua itu hanya penghalang, ingin mengetahui diri keturunan siapa, diri berkedudukan dan pantas di harga, semua itu harus di buang jauh-jauh, sebab semuanya tak ada pengkhusussan di sisi Allah, keturunan, pangkat, kehormatan, dan banyaknya ilmu dan usia tak bisa di jadikan hujjah, diri harus di khususkan di sisi Allah, yang merasa akan tertinggal di belakang, yang masih ada di banggakan di sisi Allah hanya akan menjadikan kesia-siaan belaka, Allah itu tak bisa di sogok dan di tipu dengan suatu nilai dan itung-itungan.

KEMAUAN NAFSU

Andainya seseorang murid itu selalu menurut kemauan nafsunya, maka sampai kapanpun dia tidak akan dapat kebahagiaan karena menurut kemauan nafsu adalah pokok bagi segala kejahatan dan kebinasaan. Inilah yang paling ditakuti oleh Rasullullah SAW seperti di dalam sabdanya yang artinya: "satu masalah yang paling ditakuti sekali pada umatku adalah sesuai kemauan nafsu, panjang angan-angan. Karena pada mengikuti kemauan nafsu itu adalah menjadi sebesar besar dinding antara hamba dan Allah SWT dan panjang angan-angan adalah melupakan hari pembalasan."

Dan tipu daya setan adalah merupakan hal kedua yang harus diawasi karena dialah sebagai pendukung nafsu. Setan dapat masuk menyelinap kedalam tubuh manusia seperti nafsu ini seperti yang dijelaskan oleh nabi Muhammad SAW dalam sabdanya yang artinya: "seperti keinginan nafsu yang bercampur dengan darah daging dan urat nadi manusia, maka demikianlah setan itu dapat berjalan sesuai aliran darah dan bergerak masuk kedalam daging berikutnya kejantung hati manusia." Jadi, untuk mengawasi dan menjaga kedua musuh itu dan untuk mendapat hakikat taqwa yang sebenarnya, maka perlu untuk murid itu berada pada tiga jalan ini.
Kita harus menutup segala pintu yang terbuka yang bisa dijadikan lewatan syaitan, dengan menutup kemauan nafsu, dan mengalirkan alirannya pada yang Allah ridhoi, sehingga syaitan tak punya peluang untuk merubuhkan benteng pertahanan, dan tak juga bisa menyerang dengan bergerilya di jalur-jalur rahasia.

JALAN MENUJU KE ALLAH SWT
Pertama: Syariat Kedua: Tariqat Ketiga: Hakikat
Maka ketiga tiga jalan ini yang harus menjadi landasan utama bagi seseorang murid itu (yaitu orang yang berjalan untuk sampai menuju kepada Allah SWT). Ahli-Ahli Kerohanian atau Ulama `-Ulama` Sufi muktabar telah membuat perbandingan tentang ketiga hal itu dengan berkata:
"Syariat adalah seperti kapal dan tariqat itu adalah seperti lautan sedangkan hakikat itu adalah seperti permata yang dicari".
Maka siapa saja atau mana mana murid yang mau dan menundukkan ke permata tersebut, maka terpaksalah ia mengarungi lautan seperti menempuh gelombang ombak dan bahtera atau kapal adalah pokok utama yang harus disediakan bertujuan untuk mengarungi lautan yang besar itu.
Demikianlah juga untuk setiap murid atau siapapun yang menginginkan Hakikat untuk sampai ke Makrifah Allah, maka terpaksalah mengarungi Samudra Tariqat dan tidak dapat berada di Samudra Tariqat melainkan setelah sempurna syariatnya. Maka, marilah kita mempelajari apakah dia Syariat, Tariqat Dan Hakikat yang dikehendaki oleh Allah SWT

PERTAMA: SYARIAT

Syariat adalah mengikutkan agama Allah SWT yaitu Islam seperti yang dibawa datang awal oleh Nabi Muhammad SAW dengan arti menunaikan segala perintah dan suruhanNya dan menjauhi dan meninggalkan segala larangannya.
Maka di dalam hal memenuhi segala perintah inilah menjadi sebab menentukan hukuman atas manusia dan jin dalam Islam apabila sempurna akal, sehat ceria, terima seruan Nabi Muhammad SAW dan sampai batas taklif syar'i (baligh) wajib mengucap dua kalimah syahadah dengan menyempurnakan rukunnya, Persyaratan dan sahnya dan mengetahui ia akan hal-hal yang membatalkannya untuk memfardhu-kan Islam keatas dirinya untuk memelihara serta menjaga kemuliaan (Maruah) Agama Islam, Diri, Keturunan, Harta Benda dan Tanah Air. Sebagaimana firman Allah SWT:
Baqarah ayat

wahai orang-orang yang beriman: agama Islam yang kami telah identik dengannya adalah celupan Allah (yang mencorakkan seluruh kehidupan kami dengan corak Islam)! Dan siapakah yang lebih baik celupannya dari Allah? (Kami tetap mempercayai Allah) dan kepadanya lah kami beribadah". Yaitu Syariat yang sampai pada Maqam Hakikat Tauhid serta yang sah i'tiqadnya itu untuk Ahli Sunnah dan berjalan pada zahirnya jalan Syariat yakni mufakat lahir dengan Syari-at Muhammadiah dan batinnya dengan Tariqat Ahmadiah (yang diinginkan disini adalah perjalanan yang bercontohkan kepada Nabi Muhammad SAW pakaian zahir Uswatun Hasanah, Rahmatun Lil Alamin, Makarimul Akhlak, Khuluqil Adzim sampai merdeka ia dari segala yang lain dari Allah kepada Allah Ta `ala semata mata.
Setelah murid itu menjalani akan jalan Syariat, dan sekarang marilah pula kita mempelajari serta mengarungi Samudra Tariqat pula.

KEDUA: Tariqat

Tariqat adalah untuk memilih jalan yang lebih aman pada segala amalan dan segala pekerjaan dan meninggalkan hal-hal yang dianggap menjadi kesamaran seperti harus kita memilih jalan Wara `. Wara `di sini bukanlah berarti seseorang itu asyik memegang tasbih saja sehingga tidak mau ia berusaha dan bekerja seperti yang dikehendaki oleh Syariat akan tetapi Wara` yang diinginkan di sini adalah seperti yang telah dijelaskan oleh ulama. 
Imam Al-Ghazali membagi Wara `itu kepada empat bagian yaitu:

  1. Wara `Orang Kebanyakan. Yaitu Wara 'untuk orang yang meninggalkan segala hal yang diharamkan oleh Allah Ta `ala dan ini adalah Wara` orang yang sedang berada pada derajat Syariat.
  2. Wara `Orang Yang Soleh. Yaitu Wara `untuk orang yang meninggalkan segala hal yang samar-samar hukumnya (syubhat) hal ini jika dikerjakan tidak menjadi salah untuk orang yang berada pada derajat Syariat akan tetapi menjadi salah untuk orang yang berada pada derajat Tariqat.
  3. Wara 'Orang Yang Muttaqin (takut pada Allah Ta `ala) yaitu Wara' untuk orang yang meninggalkan barang yang tidak mengapa jika dikerjakan tidak jadi makruh dan tidak pula Khilafu Aula ini adalah karena takut luput (hilang) barang yang diantaranya dan diantara Allah Ta` ala dari nur dan cahaya yang berada pada mata hatinya.
  4. Wara 'Orang Yang Siddiqin (orang-orang yang benar) yaitu Wara 'untuk orang yang meninggalkan segala hal yang menyebabkan terasing diantaranya dan di antara Allah Ta `ala dari segala jenis hal yang membinasakan agama Allah Ta` ala dan hatinya.


KETIGA: HAKIKAT

Bila seseorang yang menjadi murid itu sampai ke tujuan makrifah Allah Ta `ala yaitu Musyahadah akan Nur Tajalli Allah. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa Tajalli itu barang yang nyata untuk hati seseorang itu dari cahaya Alam Ghaib dan di sana dia dapat memahami hakikat segala hal, seperti musyahadah akan Asma 'Dan Sifat dan juga Zat Allah Ta `ala dan dapat memahami rahasia Al-Quran dan mendapat yang tidak bisa dapat dengan usaha dan belajar.

Ketiga hal itu tidak bisa terasing sama sekali yaitu Syariat, Tariqat Dan Hakikat karena Tariqat Dan Hakikat tidak bisa benar dan tersedia dengan tidak adanya Syariat. Begitu juga dengan Syariat, tidak adanya nilai jika tidak ada Tariqat Dan Hakikat.

Makanya Ulama muhaqqiqin berwasiat dengan berkata:
"Syariat dengan tidak adanya Tariqat adalah kosong sementara Tariqat dan Hakikat dengan tidak adanya Syariat adalah tidak sah"

Seorang mukmin meskipun tinggi derajatnya dan dia sudah naik ke pangkat wali, maka tidak akan gugur daripadanya hukum Syariat. Dia wajib melaksanakan setiap hal yang difardhukan pada dirinya seperti yang terkandung dalam ucapan ilaaha Syahadah.

Siapa yang menyangka bahwa ketika seseorang telah menjadi wali atau telah sampai hatinya kepada Hakikat Musyahadah akan Allah Ta`ala lalu digugurkan baginya segala hukum syariat, maka sesungguhnya prasangka yang demikian itu adalah anggapan orang yang sesat dan ia menyesatkan pula orang lain.

Sesungguhnya Nabi-Nabi pun tidak gugur perintah Syara 'darinya, masakan pula wali-wali yang darjahnya lebih rendah dari Nabi-Nabi' alaihimus Solatu Wassalam itu sendiri.

Setelah mengetahui serba sedikit tentang dan kedudukan Syariat, Tariqat Dan Hakikat, sekarang marilah kita mengetahui pula apakah hal yang harus dilakukan oleh seseorang murid itu dan sesungguhnya hal yang tidak asing lagi bagi murid itu, terpaksalah ia mengikuti dan menghiasi dirinya dengan segala hal hukum Syariat karena dengan itu akan bercahayalah hatinya dan hilanglah kegelapan yang berbasis di jiwanya karena ditutupi oleh kotoran maksiat.

Dan ketahuilah bahwa segala rupa kedurhakaan kepada Allah Ta `ala itu adalah maksiat dan maksiat itu adalah satu kegelapan yaitu zulmah dan zulmah itu akan mengalir masuk (meresap) dan berbasis di hati. Begitulah juga dengan taat ia itu segala hal rupa Bakti kepada Allah Ta `ala itu adalah satu cahaya yang juga dapat mengalir masuk dan berbasis dihati manusia.

Andainya cahaya Syariat sudah ada di hati murid itu, maka hati murid itu akan bercuaca dan ketika itu sangat layaklah untuk murid itu masuk dan berada di atas jalan (Tariqat) untuk menuju dan sampai ke Hakikat (yaitu Musyahadah akan Allah Ta `ala) atau sampai kepada Allah Ta` ala.

Dengan demikian bisa dipahami bahwa masuk ke Tariqat itu adalah berarti seseorang murid itu sedang di dalam perjalanannya menuju ke hakikat ma'rifat Allah Ta `ala dan sesungguhnya bagi mereka yang telah sampai hatinya dan praktek hidupnya kepada Allah Ta` ala itu baginya adalah memiliki Tariqat (jalan) yang tersendiri. Tariqat itu ada namanya yang bermacam-macam dan berbagai lagi diantaranya adalah:

  • Ada setengah orang yang hatinya sampai kepada Allah Ta `ala dengan melalui wirid-wirid atau beribadah dengan ibadah sunnah.
  • Ada setengah orang yang lain pula hatinya sampai ke musyahadah akan Allah Ta `ala dengan menjadi khadam gurunya yakni anggota Sufi atau berguru kepada anggota-anggota sufi yang melazimkan pada babnya.
  • Setengah orang pula yang hati mereka sampai kepada Musyahadah akan Allah Ta `ala dengan berusaha bekerja menggunakan energi pikiran dan hasilnya pekerjaan itu diletakkan semata-mata mengabdi kepada Allah Ta` ala dan dimanfaatkan pula kepada yang membutuhkannya.
  • Setengah orang pula hatinya sampai ke Musyahadah akan Allah Ta `ala melalui mengajar, mendi-dik, menunjukkan manusia dengan ilmunya yang benar-benar faham diatas Aqidah, Akhlak, Pengorbanan Diri dan Harta serta membangun manusia menurut contoh Nabi Muhammad SAW dalam ilmu dan amalnya baik Dari segi hak-hak kehambaan maupun hak-hak ketuhanan dan bermacam-macam lagi akan tetapi yang terakhir inilah yang paling utama kata Imam Al-Ghazali rahimahullahu Ta `ala 'anhu.

Orang yang terkenal dikalangan penghuni langit dengan nama Azhima (yaitu memiliki derajat kebesaran dan prioritas) karena tidak ubah seperti matahari lantaran dirinya bercahaya (cerah) dan memberi cahaya kepada orang lain atau dengan kata perumpamaan yang lain adalah tidak ubah ia seperti kasturi lantaran dirinya sudah harum dan mengharumkan orang lain.

JALAN YANG DEKAT MENUJU KE Allah Ta `ala

Karena itu marilah kita mengetahui pula apakah jalan yang dekat (Tariqat) untuk kita sampai ke Musyahadah akan Allah Ta `ala menurut metode Ahli-Ahli Sufi yang lazim pada babnya.
Pada ghalibnya untuk seseorang itu harus memperbaiki dirinya sesuai asal kejadian alam dan manusia sebagai Khalifah Allah Ta `ala diatas bumi, yaitu mulai dari awal titik (tempat memulai sesuatu) yaitu yang sempurna mukallaf dan menerima talqin ucapan ilaaha Syahadah dan menfardhukan Islam atas dirinya serta tersedia ia menjaga memelihara dan mempertahankan kemuliaan (martabat) Agama, Diri, keturunan, Harta Benda dan Tanah Airnya dari segala Berikutnya dan seteru Allah Ta `ala.

Pada ghalibnya seseorang murid yang benar-benar menjalani tariqat untuk menyampaikan dirinya kepada Haqiqat sana itu akan menempuh sembilan hal, yang menjadi pokok aturannya dan tidak bisa tidak untuk siapa saja yang ingin hatinya sampai ke Musyahadah akan Allah Ta `ala harus menempuh sembilan-sembilan pokok peraturan ini dan sesi-apa yang berhasil menempuhnya insya Allah Ta` ala ia akan sampai ke Musyahadah akan Allah Ta `ala dengan dibuka oleh Allah Ta` ala akan pintu-pintu pengertian dan dijelaskan dadanya dengan cahaya Ilmu-Ilmu umpama ilmu Iman, Islam, Ihsan, Yakin, Lathoif, Israr, Makrifah, Khasyaf, Mukafahah, Karamah yang hakiki. Maka dengan itu akan nyata segala hal yang bisa memperbaiki diri dan akhlaknya untuk menaiki tangga Musyahadah dan Muraqabah akan Allah Ta `ala untuk setiap waktu, waktu dan ketika dalam hidupnya.

PERTAMA: TAUBAT

Al-Taubah tanda awal sebagai kembali dari perangai yang tercela disisi Syara 'untuk menuju kearah perangai yang terpuji. Taubat yang dimaksud di sini adalah dengan menunaikan segala rukun-rukun Persyaratan yang telah ditetapkan untuk taubat itu. Andainya persyaratan dan rukun-rukun untuk taubat itu tidak ada, maka taubat itu hanya pada rupa saja dan itu bukanlah taubat yang keluar dari hati yang putih bersih serta menolak dengan putus azam tidak kembali lagi pada dirinya segala maksiat dan kufur, maka yang tinggal pada dirinya hanyalah iman dan taat semata. Taubat yang tidak memenuhi syarat dan rukunnya itu seolah memperlihatkan sendakan Allah Ta `ala malah hal sebaliknya yang akan terjadi jika jika taubat yang tidak pada menyempurnakan syarat dan rukunnya itu dimana Allah Ta` ala akan mengakibatkan orang yang bertobat itu sendiri akan menerima bencana dari kecuaiannya.
Persyaratan dan rukun taubat Itu empat hal:
a. Dengan Adanya Penyesalan.

  1. Menyesal pada segala rupa apa-apa yang telah dilakukan dari perbuatan maksiat atau dosa dan segala hal yang melanggar Syara '.
  2. Menyesal diatas kelalaian di dalam menunaikan perintah Allah Ta `ala.
  3. Menyesal sepenuhnya pada masa yang lampau yang terbuang dengan sia-sia.

b. Dengan adanya tekad (ketetapan dihati) yang putus dengan bahwa tidak mau diulangi lagi segala maksiat atau dosa atau kedurhakaan atau kecuaiannya buat kali yang kedua.
c. Berhenti Dari Pekerjaan Maksiat. Harus berhenti dari melakukan pekerjaan maksiat selamanya pada saat datang akan penyesalan dengan penuh azam tidak akan mengulangi lagi dan terus menunaikan segala perintah Allah Ta `ala yang diazamkan itu.
d. Lepaskan tanggungan hak yang bersangkutan dengan anak adam. Persyaratan ini hanya khusus untuk dosa pekerjaan yang bersangkutan dengan anak Adam saja seperti mencuri, menyamun, mengumpat, mencela dan sebagainya. Artinya harus barang yang dicuri dan disamun itu harus dikembalikan atau diganti balik ke yang empunyanya juga harus meminta maaf dari yang empunyanya barang tersebut atas perbuatan tercela yang pernah dilakukannya.

Ulama `membagi taubat ini kepada tiga derajat yaitu:

  1. At-Taubah. Siapa yang bertobat karena takutkan siksaan Allah Ta `ala, maka taubat tersebut adalah dikatakan Sohibu At-Taubah (Al-Taibiin).
  2. Al-Inabah. Siapa yang bertobat karena berkehendak ke balasan Allah Ta `ala seperti surga dan nikmat-nikmatnya, maka taubat tersebut adalah dikatakan sohib Al-Inabah (Al-Munibiin).
  3. Al-Awwabah. Siapa yang bertobat karena tidak takut siksaan dan tidak mengharapkan balasan pahala, bahkan taubat itu adalah semata-mata adalah karena menunaikan hak-hak kehambaan kepada Allah Ta `ala, maka taubat tersebut adalah dinamakan Sohibu Al-Awwabah (Al-Awwabiin).

Dan banyak ayat-ayat Allah Ta `ala dan hadis yang menunjukkan bahwa taubat ini, mendapat tempat yang utama di dalam pengamatan Allah Ta` ala. Ini berarti bahwa kita telah masuk ke pintu keredhaannya. Dengan tertunai satu syarat untuk sampai kepada Allah Ta `ala yaitu taubat.

KEDUA: QANA'AH

Memadai atau cukup dengan apa yang ada, ini bukan lah berarti meninggal akan segala ikhtiar dan usaha mencari saraan hidup tetapi apa yang dimaksudkan di sini adalah mau adanya perasaan ridha dan cukup di hati dan jiwa kita dan juga tidak ada keluh kesah pada kekurangan pada materi .

Jika kebutuhan hidup agak terhimpit, maka hatinya tenang tetapi ikhtiar usahanya diteruskan berjalan seperti biasa dan tidak berperasaan mengkritik pada qada 'dan qadar Allah Ta `ala. Hatinya juga tidak perasaan megah dengan adanya pakaian, harta, nyawa, jabatan dan sebagainya.

Mencintai kekayaan, kemewahan dan jabatan posisi dengan serba ada adalah jauh sekali dari hati orang yang memiliki sifat qana'ah ini. Sebab itu qana'ah adalah menjadi salah satu penyebab untuk mencapai ketenangan jiwa yaitu perasaan yang tidak terburu-buru oleh nafsu dan iblis malahan ia tenang saja. Andainya dia sudah tenang, maka mudahlah hati dan jiwanya dimasuki Nur Makrifah (Cahaya Pengenalan) sebaliknya jika qana'ah tidak ada pada hati seseorang itu, maka tidak ada bedanya antara dia dengan si tamak yakni memburu dunia (Maliku Dunia).

Justru itu haruslah ditinggalkan segala rupa praktek dan pekerjaan yang tidak mendatangkan manfaat dan tidak ada pertaliannya dengan akhirat sehingga dengan ini memungkinkan seseorang itu sampai ke posisi Musyahadah akan Allah Ta `ala.

KETIGA: ZUHUD

Ini juga bukanlah berarti harus meninggalkan segala harta serta daya upaya untuk saraan hidup, tetapi hakikatnya adalah tiada ia tergantung hati pada segala rupa harta kekayaan, usaha energi serta tidak ada pula fokus dengan sepenuhnya, yaitu hati tidak condong kepada yang fana berarti memiliki dan menerapkan pekerjaan itu hanya semata-mata pemberian dan perintah dari Allah Ta `ala.

Jika orang kaya dan mewah tetapi hatinya tidak tergantung dengan harta kekayaan dan kemewahan itu, maka ia adalah seorang yang Zahid.

Tidak tergantung hati itu bukanlah berarti tidak peduli dengan sepenuhnya malahan harta tersebut harus dikelola dengan benar sesuai Syara 'dan hukum adat yang terkait dengannya.

Jika orang miskin dan hatinya penuh dengan angan-angan dan daya usahanya tidak lain melainkan bertujuan untuk mencapai kekayaan dan kemewahan dunia semata- mata, maka itu bukanlah namanya Zahid.

Zahid itu adalah urusan hati yang tidak bisa dicampur adukkan dengan urusan jasmani. Sebab itu 'ulama mengatakan "Zahid olehmu akan dunia ini dengan menghilangkan fokus hati ke materi" Tidak berarti tidak ada harta barulah dinamakan Zahid karena Nabi Sulaiman bin Daud Alaihi-mussalam adalah sebagai manusia diatas muka bumi ini tetapi ia adalah antara Zahid dan Muzahidnya.

Zahid adalah sebesar-besar jalan untuk menyampaikan hati seseorang itu kepada Musyahadah akan Allah Ta `ala, siapa yang tidak Zahid di dunia ini, ia adalah orang yang dianggapkan seperti orang yang mabuk atau orang yang dikaramkan dilautan dan dia tidak dapat berjalan dengan benar dan tidak selamat dari tenggelam dengan tercengang ia berkata "mana jalan yang benar, dan mana kapal yang dapat memberi pertolongan ini?".

Sudah dikatakan bahwa Zahid adalah sebagai tariqat untuk kita sampai ke Musyahadah akan Allah Ta `ala. Seperti kapal yang menjadi alat utama untuk kita mengambil permata di lautan yang dalam. Bagaimana jika seseorang itu hampir lemas di lautan baru ditanya pula akan kapal pada hal sebelum itu dia tidak menyediakan kapal untuk dia berjalan di lautan menuju kesana atau untuk keamanan untuk menempuh gelombang lautan.

Zahid memiliki beberapa persyaratan dan merek yaitu:
a. Bersedia memaaf kepada manusia yang berlaku kasar terhadapnya karena mereka tidak mengetahui hukum Syara '.
b. Tidak menyakiti mereka dan tidak juga mencela di atas kejahilan mereka itu.
c. Putus harap yakni tidak berharap pada pemberian manusia atau dengan kata lain adalah tidak mengharapkan ihsan (belas kasihan) dari orang lain.
d. Murah yakni selalu menyumbang dan selalu memberi pertolongan dengan apa saja yang ada padanya seperti harta benda, tenaga, pikiran dan sebagainya.
Andainya kita telah melakukan keempat hal tersebut, maka kita akan sejahtera dari kebinasaan dan akan dikasihi disisi manusia serta diangkat disisi Allah Ta`ala.

KEEMPAT: BELAJAR ILMU Syarak

Belajar ilmu syar'i ini adalah merupakan salah satu dari sembilan hal yang harus dilalui.Ilmu yang dimaksud di sini adalah tiga hal yaitu:
a. Ilmu Yang mengoreksi Ibadah - Feqah.
b. Ilmu Yang mengoreksi I'tiqad - Usuluddin.
c. Ilmu yang mengoreksi Akhlak dan memperbaiki hati dan pengorbanan (Jihad) - Tasauf Dan Sufi

Siapa juga yang beramal tanpa ilmu, maka amalnya ditolak dan tidak diterima sama sekali. Karena itu perlu sekali bagi seseorang mengetahui ketiga ilmu yang tersebut dan perlu ia menjadi murid ke mana-mana guru yang ahli pada babnya. Dengan demikian dapatlah ia mengetahui perbatasan dan tauladannya pada membicarakan baik dan jahat dalam ilmu dan amal dalam kehidupan sesama manusia dan di sisi Allah Ta `ala agar setiap amalannya diterima menjadi praktek yang saleh.

Karena itu setiap murid harus yakin bahwa agama Islam adalah suatu agama khusus dari Allah Ta `ala yang diturunkan kepada seluruh manusia dari Nabi Adam sampai hari kiamat melalui Nabi-Nabi Rasul-Rasul alaihimus solatu wassalam dengan disertai kitab-kitab panduan.

Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yaitu Nabi akhir zaman. Islam bukanlah agama ciptaan manusia atau kebijaksanaan pemikiran manusia. Dan ketika sampai kepada nabi kita Muhammad SAW, Agama Islam dikembangkan melalui ucapan ilaaha Syahadah sebagai batas perbedaan diantara orang yang sudah menerima dan beramal dengan agama Islam dengan orang yang tidak menerima dan beramal dengan agama Islam.

Sebab itu menjadi khilaf pada ulama di dalam menetapkan hukum terhadap manusia Islam yang ketika sampai batas taklif Syara 'untuk manusia pria dan perempuan maka diwajibkan mengucapkan dua kalimah syahadah sekali seumur hidup untuk menfardhukan Islam atas dirinya. Selain dari itu adalah menjadi sunnah mengucap dua kalimah syahadah di mana-mana waktu walau beberapa banyak sekalipun kecuali di dalam shalat dan dikala seseorang itu menjadi murtad.

Sebab itu telah menjadi aturan setiap murid yang ingin menjalani tariqat harus ia belajar dan mempelajari akan Ilmu syara 'yaitu Feqah, Tauhid dan Tasauf dimana sekarang ini telah terjadi ketimpangan di dalam masyarakat manusia yang diakui Muslim di dalam perkara pokok ilmu dan amal yang berkaitan dengan Aqidah, Syariat, Akhlak Pengorbanan Diri dan Harta adalah bersumber dari kehilangan permata ilmu (dikalangan Guru- Guru yang Mursyid menurut Tobaqat Sufiyyah Susunan Auliya 'Ma'dudin) semenjak berakhirnya pemerintahan Khalifah Utsmani dan pemerintah Indonesia Islam Asia Tenggara. Karena itu adalah menjadi hak kepada setiap murid yang hendak menjalani jalan Tariqat, harus berada tetap di dalam Aqidah, Syariat, Akhlak, Pengorbanan Diri dan Harta pada aliran Ahli Sunnah di semua tempat, waktu dan waktu sejalan dengan posisi manusia salaf dan manusia khalaf.

KELIMA: MENGHORMATI SUNNAH NABI MUHAMMAD SAW .

Yaitu sesuai menjaga adab-adab yang ditampilkan oleh Nabi Muhammad SAW dan membuat Uswatun Hasanah, Rahmatan Lil 'Alamin, Makarimul Akhlak, Khuluqil' Adzhim itu sebagai contoh dan tauladan baik di dalam perkataan, perbuatan, iktiqad untuk setiap pekerjaan dan perilaku untuk orang Muslim ( murid) itu di semua tempat, waktu dan zaman.
Adalah untuk semua kondisi Ahli-Ahli Sufi muktabar itu memang meniru atau mencontoh seratus persen (100%) akan akhlak Nabi Muhammad SAW baik lahir seperti memperbaiki shalat, sedekah, berdzikir, dan batin berwatak dengan sifat yang terpuji seperti akhlaknya yang berbimbang dengan melakukan dosa maka selalu baginya itu Taubat, Qana'ah, Zahid, Tawakkal, Ikhlas, Uzlah dan sebagainya dari perangai atau sifat yang terpuji, yang menjadi tanda kehambaan dirinya kepada Allah Ta `ala semata-mata .

KEENAM: TAWAKKAL

Tawakkal adalah satu kata yang memberi arti, Penyerahan Atau Menyerah. Didalam kata lain berpegang teguh kepada Allah dan tidak kepada yang lain, dan menghapus perasaan hati yang memandang dirinya saja yang menguasai sesuatu, tawakkal ini juga bukanlah berarti harus meninggalkan segala ikhtiar usaha bahkan harus bekerja dan berusaha, kemudian segala pekerjaan ikhtiar usaha itu disandarkan kepada Allah Ta `ala.
Suatu waktu Umar Al-Khattab RA masuk ke dalam masjid, disana ia menemukan beberapa orang manu-sia yang sedang asyik berzikir sedangkan mereka itu mempu-nyai keluarga atau istri dan tanggungan, lalu Umar berkata "apakah kamu semua tidak bekerja dan apakah yang kamu lakukan untuk saraan anggota keluarga kamu? Apakah kamu semua bertawakkal seperti ini? Ingatlah kamu, bahwa langit tidak berhujankan emas ".
Sahl bin Abdullah ra pernah berkata "bahwa tawakkal itu adalah perilaku Rasul saw dan berusaha ikhtiar itu adalah sunnahnya". Membuat persediaan dan menyimpan makanan untuk hari-hari depan tidaklah merusak tawakkal karena Nabi Muhammad SAW sendiri pernah menyimpan makanan untuk anak istri saat setahun pada hal Rasullullah SAW adalah penghulu atau kepala untuk orang-orang yang bertawakkal. Singkatnya disini adalah tawakkal adalah kerja hati dan siapa juga yang hatinya telah sampai pada derajat tawakkal, maka dia tidak akan dijejaskan oleh banyak harta dan kuat ikhtiar usaha.

KETUJUH: IKHLAS

Artinya Bersih Hati. Ia juga menjadi salah satu dari rukun yang paling besar dari segala kerja yang bersangkutan paut dengan hati untuk segala jenis ibadah baik lahir maupun batin adalah berputar di sekitarnya. Ia juga sebagai hakim untuk menentukan amalan itu diterima ataupun tidak diterima.
Suatu ketika Abu Dzar ra bertanya kepada Rasulullah SAW tentang ikhlas lalu beliau menjawab "sabarlah, nanti saya akan bertanya kepada Jibril apa itu ikhlas," kemudian Jibril menjawab nanti dia akan bertanya kepada Mikail as dahulu, lalu Jibril as bertanya kepada Mikail as, maka Mikail as menjawab pula nanti ia akan bertanya sendiri kepada Allah Ta `ala tentang hal tersebut, lalu Mikail as bertanya kepada Allah Ta` ala dan Allah Ta `ala berfirman dengan mafhumnya "ikhlas adalah satu rahasia dari beberapa rahasiaku dan aku berikan kepada siapa yang aku mau!". Maka dari sini tahulah kita bahwa ikhlas ini tidak dapat dicapai kecuali berbanyak-banyak berdoa kepada Allah Ta `ala dengan meminta agar dikaruniai kepada kita di samping menunaikan Persyaratan -Persyaratan untuk mencapainya seperti melazimkan bersedekah dengan berkontemplasi tidak di hadapan publik, begitu juga dengan shalat sunnah dan lain-lain lagi. Selain dari itu, kita tidak beria-ia menjadi diri kita sebagai seorang yang ikhlas karena ikhlas itu adalah kerja hati dan kalau ia adalah kerja hati, maka sudah tentu ia tidak dapat dibuat atau dipisahkan dengan secara lahir. Karena itu, untuk mencapai maqam ikhlas, hendaklah kita meminta akan perto-longan dari Allah Ta `ala banyak-banyak serta melazimkan akan kondisi-syaratnya. Satu hal yang menjadi pertentangan yang paling hebat sekali untuk ikhlas itu adalah riya '. Dia adalah sebesar-besar penyakit yang menggugurkan akan pahala amal dan merusak binasakannya. Riya 'adalah kemauan hati sese-orang itu ke pangkat dan kebesaran disisi manusia dengan menggunakan akhirat seperti shalat, sedekah, membaca Al-Quran dan sebagainya atau menundukkan ke kepujian sedangkan bersedekah pula hatinya menundukkan agar dikatakan pemurah dan begitulah seterusnya. Jadi penyakit riya 'ini harus diawasi secukupnya. Kalau tidak maka segala amalan akan menjadi sia-sia dan gratis di samping itu hati akan bertambah jauh dengan Allah Ta `ala. Fudhail bin 'Iyadh pernah berkata "beramal karena manusia adalah syirik dan beramal karenanya juga adalah riya'. Sementara ikhlas pula adalah beramal ataupun tidak adalah semata-mata perintah Allah Ta `ala dan perintah Allah Ta` ala dan hanya karena Allah Ta `ala".

KEDELAPAN: uzlah

Uzlah adalah mengasingkan diri dari manusia banyak kera-na makhluk pada ghalibnya menjadi batu penghalang untuk sampai kepada Allah Ta `ala bukan itu saja bahkan ia menjadi penjahat kearah kebinasaan dan kejahatan.
Harus diketahui bahwa manusia di dalam hal uzlah ini ada banyak tingkat yaitu:
a. Tingkat satu.
(1) yaitu manusia yang tidak membutuhkan orang lain dan orang lain pun tidak membutuhkan kepadanya lantaran ia bukan orang yang benar-benar terampil yang dapat memimpin dan mengajar manusia ternyata bukanlah seorang yang jahil yang tidak dapat memperbaiki dirinya malahan ia seorang manu-sia yang dapat mandiri atau kata lain ia adalah manusia yang bisa masuk dan mengawasi diri dari gangguan nafsu dan tipu daya setan.
(2) Maka manusia ini adalah lebih aula untuk memisahkan dirinya dari manusia (uzlah) hanya ia harus Beruzlah beberapa hal saja seperti jumaat, jama'ah, haji, tempat belajar dan seba-gainya. Itupun jika tidak menjadi gangguan terhadap dirinya, maka haruslah baginya untuk berdiam di tempat yang tidak diwajibkan baginya hal-hal yang tersebut itu seperti di puncak bukit, di dalam gua atau di hutan belantara.
(3) Tetapi manusia seperti ini jarang sekali yang kita temukan didalam satu-satu negeri yang Beruzlah secara berseorangan, pendek kata manusia umpama ini satu pun sulit untuk ditemukan dan jika ada, tidak usahlah dicaci dan dicela akan dia dan jangan pula dilemparkan fitnah dan tuduhan seperti itu sudah menyimpang dari ajaran agama Islam. Islam tidak membenarkan kita melakukannya karena uzlah dalam Islam itu banyak tingkat.
(4) Selain dari itu Islam ada memberi fasilitas kepada orang ini apalagi sangat sulit menemukan orang yang Beruzlah dengan cara begini, jadi mengapa kita menyusahkan sangat terhadapnya dan lagi pun itu tidak mengganggu siapa. Lebih baiklah kita sebagai orang Islam membicarakan akan hal-hal dasar dalam ajaran agama Islam dalam ilmu dan praktek harian kita serta mengajak kepada orang-orang yang selalu mendiskusikan hal-hal agama di toko-toko kopi atau di klub-klub dan lain-lain lagi dari segala hal yang melanggar Syara 'atau Syariat Islam, sebe-narnya kelompok inilah yang menjadi pengganggu masyarakat dan ketertiban dan seba-gainya. Masya Allah apakah yang akan terjadi jika orang-orang banyak yang mengaku yang dirinya Islam dan menganggap dirinya sebagai pemimpin, guru-guru, Tuk guru atau ustadz yang mengasuh pendukungnya kepada perjuangan Islam yang suka mengkritik orang yang dianggap baik dan sebaliknya memuji kepada orang yang dilaknat oleh Allah Ta `ala.

b. Tingkat yang kedua. Yaitu manusia yang membutuhkan orang lain karena ia jahil misalnya atau pun ada urusan dalam hal yang bersangkutan dengan tanggungan dalam kehidupan dan lain-lain lagi, maka manusia ini tidak bisa uzlah seperti orang yang pertama tadi dan dia dituntut untuk bergaul dengan guru-guru dan menghormati tempat belajar yang bisa membawa akan dirinya mendekati Allah Ta `ala dan harus Beruzlah diri dari orang yang dilaknat oleh Allah Ta` ala.

c. Tingkat yang ketiga.
(1) yaitu manusia yang dibutuhkan orang yang lain dari segi tenaganya, pikirannya dan ilmunya serta bertujuan mengajar akan dirinya, manusia ini tidak bisa uzlah seperti manusia yang pertama dan kedua tadi akan tetapi ia harus Beruzlah secara rohani yaitu kira bicara , tukar pendapat dan pergaulannya dibo-lehkan sesama manusia lain tetapi hatinya itu harus Beruzlah dari mereka itu (orang yang dilaknat oleh Allah Ta `ala). Inilah yang dikatakan uzlah hati.
(2) Uzlah hati adalah selalu merenung lemah lem-but kepada Allah Ta `ala di setiap waktu dan tempat. Manusia jenis ini jika kita lihat pada zahirnya bersama-sama manusia yang lain pada suatu hal yang terkait dengannya serta hal yang tidak terkait dengannya.Tiada ada sebenar-nya pada hakikat orang ini ia sedang Beruzlah dan inilah derajat uzlah yang paling baik dan bagus sekali. Jika uzlah ini kita telah memasuki, maka pasti benar kita akan dibawa ke hadirat Allah Ta `ala dan disana kita akan dapat menikmati mukasyafah dan Musyahadah Uluhiyah dan Rububiyah.
d. Tingkat yang keempat. Yaitu uzlah yang ketika rusak binasa oleh kondisi dan waktu. Orang ini adalah
orang dari jenis ketiga ini yakni dia Berilmu, Terampil, Zahid, Wara 'dan segala daya upayanya habis dikonsentrasikan untuk mengajak manusia dengan memberi penerangan, menasihati agar mematuhi Syariat dan hukum Allah Ta `ala dan mengikuti Rasulullah SAW akan tetapi, segala daya upayanya, nasihatnya tidak lagi dipakai sebaliknya difitnah, dicemooh, dikata dan dicaci oleh masyarakat, di toko-toko kopi disihirkan dan terkadang-kadang pula menerima ancaman untuk keamanan jiwanya, maka dikala itu wajarlah ia Beruzlah dengan rohani dan jasmani sekali dan tempat uzlah itu dihitung apa yang mendapat keamanan agamanya seperti tempat yang terasing diri dari manusia yang jenis terkutuk itu dimana tempat yang dianggap wajar. Jadi marilah kita masuk ke garis yang terakhir jika seseorang murid itu mau sampai kepada Allah Ta `ala.

KESEMBILAN: HIFZUL AUQAAT
Yaitu menjaga Masa. Ya! Pokok pangkal dari uzlah tadi adalah menjaga waktu yaitu beberapa waktu yang telah kita buang dengan gratis. Yaitu kosong, jika sekedar kosong saja tidak mengapa lagi akan tetapi jika waktu yang kosong itu tidak diisi dengan amalan saleh, sudah pasti dipenuhi pula dengan berbagai maksiat dan kedurhakaan kepada Allah Ta `ala. Jika begitu, adalah amat rugi dan paling rugi sekali.
Jika kita (murid) berusaha melatih diri kita untuk memenuhi masa itu dengan taat, maka keberhasilan yang akan kita capai. Justru itu kata sia-sia tidak perlu dilafazkan, pekerjaan mungkar harus dijauhi, bergebang-gebang kosong tidak usah dihampiri dan beribadat harus dilazimi.
Ya! Harus beribadah setiap nafas dan saat ini bukanlah berarti harus melazimi berada diatas tikar shalat saja. Shalat lepas satu per pula, sebaliknya beribadat yang dimaksud disini adalah segala rupa pekerjaan dan tutur kata. Serta tingkah laku harian harus dilakukan karena Allah Ta `ala semata-mata, tidak keluar dari garis Syarak, dan tidak lalai dari mengingat Allah Ta` ala.
Jika kita shalat maka shalatlah karena Alah Ta `ala. Jika istirahat untuk memberi keringanan kepada tubuh kita agar dapat beribadah kepada Allah Ta `ala. Jika kita bekerja, maka pekerjaan itu bukan untuk mencari kemewahan dan kemegahan tetapi untuk menunaikan perintah Allah Ta `ala dengan menemukan hak saraan kehidu-pan seperti yang diamanahkan oleh Allah Ta` ala.
Hasilnya adalah semua dari Allah Ta `ala, kepada Allah ta `ala, dengan Allah Ta` ala dan karena Allah Ta `ala. Sebab itu ahli-ahli Sufi pernah berkata:
"Semua hal yang dikerjakan dan semua kata yang dilafazkan oleh mereka adalah ibadah, satu pun tidak menjadi sia-sia dan percuma karena apa yang mereka sandarkan kepada Allah Ta` ala, maka segalanya menjadi akhirat, maka dunia ini mereka dapat gratis ".
Jadi apa yang dikatakan oleh mereka (ahli Sufi) memanglah benar, karena cobalah kita perhatikan satu misal.
Kita berbendang atau menoreh getah, di samping itu juga kita melakukan apa-apa pekerjaan lain, maka hasil padi yang dapat dari bendang ataupun susu karet dari kebun karet dan lain-lain pekerjaan sejenisnya tidak payah untuk menjadi niat untuk kita dapat akan dia. Telah fahamlah kita ketika saatnya untuk menuai padi atau mengumpulkan susu karet tersebut niscaya kita akan dapat akan dia.
Hanya yang perlu kita niat "aku melakukan pekerjaan ini karena Allah Ta` ala sebagaimana yang dipercayakan kepada aku semata-mata atau yang difardhukan atas diri aku ". Sudah cukup dengan demikian itu, maka terjama'ahlah kita kedalam golongan mereka yang telah menjaga waktu.
Akan tetapi perlu diingat bahwa pekerjaan dan perkataan yang diiktibarkan sebagai ibadah itu adalah selamanya itu tidak bertentangan dengan Syariat Allah Ta `ala. Jika bertentangan dan diniatkan karena Allah Ta `ala, makaitu adalah bersandar kepada Allah Ta` ala pula namanya seper-timana melakukan hal-hal yang haram atau makruh atau pun hal yang harus dikerjakan akan tetapi tidak men-jaga waktu sampai luput atau lupa akan hak -hak yang wajib tidak berarti jika kita bekerja dengan niat menunaikan perintah Allah Ta `ala mencari rezeki untuk saraan hidup dan sebagainya pada hal amanah dari Allah Ta` ala dari segala hak-hak yang wajib, misalnya shalat dicuaikan atau dita'khirkan sampai habis waktunya .
Orang ini ketika diajukan pertanyaan kepadanya maka tidak lain jawabannya melainkan ia berkata "kerja yang dilakukan itupun wajib juga jika terjadi seperti yang tersebut itu". Berarti orang yang seperti ini bukanlah itu mau mendekati Allah Ta `ala namanya dan bukan menjalani diri untuk sampai kepada Allah Ta` ala akan tetapi ia berusaha untu membuat hijab (tertutup) diantaranya dan diantara Allah Ta `ala.
Ingatlah kepada firman Allah Ta `ala di dalam Al-Quran yang

Taha ayat 1 32
mafhumnya:
"Dan perintahkanlah keluarga kamu dan umatmu mengerjakan shalat dan harus engkau tekun dan bersabar dalam menunaikannya. Kami tidak meminta rezeki darimu bahkan kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan ingatlah kebaikan baik adalah untuk orang-orang yang bertaqwa ".
Ya! Jika kita menginsafi hakikat ini, maka dengan penuh kesabaran kesyukuran dan ketenangan jiwa, kita mendi-rikan shalat, dan melaksanakan urusan pekerjaan kita sebagai ibadah kepada Allah Ta `ala dengan dada yang lapang dan jiwa yang penuh dengan perasaan khusyu 'dan tawadu' kepada Allah SWT kita mengalami Allah Ta `ala bermunajat terus menerus diantaranya dan diantara murid, maka disana kita akan dapat mutiara ditengah mata yang sangat-sangat besar nilainya yaitu mukasyafah, Munadharah, Musyahadah dan Makrifah dan lain-lain lagi yang berada pada garis hakikat sana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar