ADAB MURID TERHADAP GURUNYA

Adab murid yang harus diperhatikan terhadap gurunya sebenarnya banyak sekali, tetapi yang terutama dan yang terpenting ialah bahwa seorang murid tidak boleh sekali-kali menentang gurunya, sebaliknya harus membesarnya kedudukan gurunya itu lahir dan batin. Ia tidak boleh meremehkan, apabila mencemoohkan, mengecam gurunya didepan dan di belakang. Salah satu yang harus ia yakini ialah bahwa maksudnya itu hanya akan tercapai karena didikan dan asuhan gurunya, oleh karena itu jika pandangan terpengaruh oleh pendapat guru-guru lain, maka yang demikian itu akan menjauhkan dia dari mursyidnya, dan akan tidaklah terlimpah atasnya percikan cahaya. Maka harus memperhatikan dengan sungguh-sungguh hal tersebut dibawah ini:

1. Harus menyerahkan diri dan tunduk dengan sepenuh-penuhnya kepada gurunya, rela ia dengan segala apa yang diperbuat oleh gurunya itu, yang dikhidmatinya dengan harta benda dan jiwa raganya, dengan jalan demikian barulah terlahir iradah yang murni, dan muhibah, yang merupakan penggerak dalam usahanya, merupakan kebenaran dan keikhlasan yang tidak dapat dicapai kecuali dengan jalan demikian.

2. Tidak boleh sekali-kali seorang murid menentang atau menolak apa yang dikerjakan gurunya, meskipun pekerjaan itu pada lahirnya kelihatan termasuk haram. Ia tidak boleh bertanya apa sebab gurunya berbuat demikian, tidak boleh tergores dalam hatinya mengapa pekerjaannya belum jaya. Barang siapa yang ingin memperoleh ajaran dari gurunya dengan sempurna, ia tidak menolak suatu apapun juga dari padanya. Dari seorang guru kadang-kadang kelihatan lukisan yang tercela pada lahirnya tetapi kemudian kelihatan terpuji dalam batinnya, seperti yang terjadi dengan Nabi Musa terhadap Nabi Khaidir. Seorang sufi melukiskan kewajiban murid terhadap syechnya dalam sajak sebagai berikut:

Engkau laksana mayat terlentang,
Di depan gurumu terletak membentang
Di cuci dibalik laksana batang
Janganlah engkau berani menentang
Perintahnya jangan kau elakkan
Meskipun haram seakan-akan
Tunduk dan taat diperintahkan
Engkau pasti ia cintakan
Biarkan semua perbuatannya
Meskipun berlainan dengan syara’-nya
Kebenaran nanti akan nyatanya
Bagimu akan jelas rahasianya
Ingatlah cerita Khidir dan Musa
Tentang pembunuhan anak desa
Musa seakan putus asa
Pada akhirnya ia terasa
Pada akhirnya jelaslah sudah
Tampak padanya secara mudah
Kekuasaan Allah tidak tertadah
Ilmunya luas tidak termadah

3. Seorang murid tidak boleh mempunyai maksud berkumpul dengan syechnya untuk tujuan dunia dan akherat, dengan tidak menegaskan dan menandaskan kehendak kesatuan yang sebenar-benarnya, baik mengenai ikhwal, maqam, fana, maupun baqa’ dalam keesaan Tuhan. Karena jika tidak demikian itu maka ia merupakan seorang murid yang hanya menuntut kesempurnaan dirinya dan ikhwalnya sendiri.

4. Seorang murid tidak boleh melepaskan ikhtiarnya sendiri dan ikhtiar syechnya dalam segala pekerjaan, baik merupakan keseluruhan atau bagian-bagian ibadah dan adat kebiasaan. Setengah dari tanda seorang murid yang benar, bahwa ia begitu taat kepada syechnya, sehingga kalau syech memerintah ia masuk ke dalam nyalanya api, ia mesti memasukinya, jika ia masuk tidak terbakar, benarlah ia, jika terbakar ia pasti dusta. Murid tidak boleh mempergunjingkan sekali-kali keadaan syechnya, karena yang demikian itu merupakan pokok kebiasaan yang biasanya banyak terjadi. Sebaiknya ia harus berbaik sangka kepada gurunya dalam setiap keadaan.

5. Begitu juga murid harus memelihara syechnya pada waktu ia tidak ada, sebagaimana ia memelihara guru itu pada waktu ia hadir besama-sama, dengan demikian ia selalu mengingat syechnya pada tiap keadaan, baik dalam perjalanan maupun tidak dalam perjalanan, agar ia beroleh berkahnya.

6. Seorang murid harus menganggap tiap berkah yang diperolehnya, baik berkah dunia maupun akherat, disebabkan oleh berkah syechnya itu. Ia tidak boleh menyembunyikan kepada gurunya sesuatu yang terjadi pada dirinya sendiri mengenai ikhwal, kekhawatiran, kejadian-kejadian yang menimpa atas dirinya, segala macam kasyaf dan keramat, yang dianugerahi Allah sewaktu-waktu kepadanya semua itu diceritakan dengan terus terang kepada gurunya itu, sebab ilmu itu tak akan sampai kepada murid tanpa melewati seorang guru. Meskipun demikian tidak boleh seorang murid menafsirkan sendiri segala kejadian itu, dalam mimpinya dan segala kasyaf yang terbuka kepadanya, apalagi memegangnya dengan keyakinan, sebaliknya ia kemukakan semua kepada syechnya itu sambil menantikan jawabannya dengan tidak usah menagih jawaban itu secara mendesak. Jika ada seorang syech lain bertanya kepada seorang murid tentang suatu masalah janganlah menjawab dengan segera masalah itu di depan gurunya.

7. Tidak boleh menyiarkan rahasia-rahasia gurunya atau mengadakan siaran-siaran yang lain tentang gurunya itu. Tidak boleh mengawini seorang wanita yang kelihatan disukai oleh syechnya hendak dinikahinya, begitu juga tidak boleh kawin dengan seorang perempuan bekas isteri gurunya, baik yang ditinggalkan cerai maupun ditinggal mati.

8. Seorang murid tidak boleh hanya mengeluarkan nasehat atau pandangan kepada gurunya, jika gurunya mempercakapkan suatu pekerjaan yang hendak dikerjakan. Begitu juga tidak boleh meninggalkan pekerjaan yang sedang dihadapi gurunya itu. Sebaliknya ia menyerahkan seluruh pikiran kepada gurunya dan menganggap bahwa gurunya itu meminta nasehat kepadanya hanya ditimbulkan oleh kecintaan semata-mata.

9. Apabila syechnya tidak ada, ia mengunjungi keluarganya dan berbuat baik segala khidmad karena pekerjaan itu akan mengikat hati gurunya. Apabila seorang murid memandang dirinya dengan penuh ujub karena amal-amalannya atau memandang telah meningkat lebih baik dalam ikhwalnya, maka segera hal itu diadukan kepada gurunya, agar guru itu memberikan petunjuk, bagaimana mengobati penyakitnya itu. Jika didiamkan perasaan itu nanti pasti akan tumbuh menjadi riya’ dan munafik dalam hatinya.

10. Murid tidak boleh memberikan atau menjual kepada orang lain apa yang dihadiahkan oleh gurunya, meskipun gurunya itu mengijinkan menyerahkan pemberian tiu kepada orang lain. Karena di dalam pemberian guru itu tersembunyi sirr kefakiran yang dicari-cari dan yang akan mendekatkan ia kepada Allah. Diantara adab-adab murid juga dalam thareqat dan yang dianggap ikhwalnya terbaik ialah bahwa ia memberikan harta bendanya sebagai sedekah atas permintaan syechnya, karena menurut ajaran bahwa sorang murid dianggap sudah sempurna taat kepada syechnya, yang kemudian dapat membawa dia kepada Tuhannya. Jika ia berbuat yang demikian itu dengan lain perkataan mengorbankan untuk sedekah apa yang dicintainya.

11. Murid yang baik tidaklah menganggap ada suatu kekurangan pada syechnya, meskipun ia melihat kekurangan itu terjadi dalam kehidupannya seperti banyak tidur pada malam hari, kurang wara’ dan lain-lain. Karena kekurangan-kekurangan yang demikian itu kadang-kadang memang ditafsirkan Allah kepada wali-walinya dalam kelupaan dan kealpaan yang tidak terdapat tatkala mereka sadar. Dan apabila ia sadar sekalian itu akan dipenuhinya kembali.

12. Harus diingat seorang murid itu tidak boleh memperbanyak bicara didepan syechnya harus diketahui waktu-waktu berbicara itu, jika ia berbicara hendaklah tegas dengan adab, dengan khuyu’, dengan khudu’, dengan tidak berlebihan dari apa yang perlu. Kemudian ia menanti jawabnya dengan tenang, jika belum puas hendaknya ia bertanya kedua kalinya, sesudah itu terbataslah pertanyaan itu.

Tidak boleh sekali-kali dihadapan guru seorang murid berbicara keras, karena bicara keras itu dihadapan orang-orang besar termasuk laku yang tidak baik. Ia tidak boleh duduk bersimpuh di depannya, tidak boleh duduk di atas sajadah, tetapi memilih tempat yang dapat menunjukkan laku merendah diri dan mengecilkan dirinya. Seterusnya ia berkhidmad kepada syechnya, kata sufi “khidmad pada suatu bangsa merupakan amal shaleh”.

Cepat kaki ringan tangan mengenai segala apa yang diperintahkan oleh gurunya, tidak istirahat dan berhenti sebelum pekerjaan itu selesai. Lain dari pada yang tersebut diatas itu seorang murid harus mengingat ia menjauhkan diri daripada segala pekerjaan yang dibenci oleh syechnya. Tidak boleh bergaul dengan orang-orang yang dibenci syechnya tetapi mencintai orang yang dicintainya. Ia harus sabar jika syechnya belum memenuhi permintaannya dan tidak boleh menggerutu dan memperbandingkan dirinya dengan orang lain dalam pelayanan syechnya.

13. Tidak boleh duduk pada tempat yang disediakan bagi guru, tidak boleh enggan dan segan-segan terhadap segala pekerjaan, tidak boleh bepergian, tidak boleh kawin, tidak boleh mengerjakan suatu pekerjaan penting kecuali dengan ijinnya. Tidak boleh menyampaikan kepada orang lain pekerjaan syechnya kecuali yang dapat dipahami mereka itu sekedar kekuatan akalnya. Dan tidak menyampaikan salamnya melalui orang lain kepada syechnya tetapi jika ada kesempatan menziarahinya sendiri.


Adab Murid Terhadap Dirinya Sendiri

Adab-adab murid yang harus diperhatikan untuk dirinya sendiri dalam kehidupan thareqat banyak sekali, tetapi yang terpenting dan yang paling utama ialah bahwa ia meyakini Allah ta’alla dan mengawasi dia dalam segala tingkah lakunya dalam segala keadaan. Oleh karena itu hendaklah ia selalu ingat kepadanya baik sedang berjalan, baik sedang duduk atau sedang sibuk dengan salah satu pekerjaan karena semua tidak dapat mencegah dia daripada dzikir dan ingat kepada-Nya. Bahkan demikian rupa sehingga nama Tuhan itu mengalir ke seluruh pojok dan liang-liang hatinya. Lain daripada itu, pertama harus meninggalkan semua teman-teman yang jahat dan mencari serta mempergauli orang-orang baik. Nabi Musa memperoleh wahyu dari tuhannya "janganlah kamu bergaul dengan ahli hawa mereka akan memberi bekas pada hatimu yang tidak layak”. Maka karena itu bergaul dengan orang baik memperoleh kebajikan, bergaul dengan orang jahat memperoleh kejahatan. Seorang sufi beryair:

Roh laksana angin lalu
Melalui athar menjadi wangi
Baunya akan harum selalu
Terpengaruh oleh minyak wangi
Jika angin meniupi bangkai
Bau berubah menjadi busuk
Demikianlah roh jika merangkai
Berubah-ubah keluar masuk

Di antara adab juga ialah menjauhkan anak isterinya pada waktu ia berdzikir.

Adab kedua, ini sangat penting baginya karena pada waktu ia berdzikir ia haruslah luruh perhatian jiwa dan hatinya ditujukan kepada tuhan semata-mata. Tidak boleh berpaling dan terganggu dengan suasana lain. Memilih tempat yang sempit dan gelap lebih baik daripada tempat yang luas dan terang. Diterangi oleh cahaya matahari atau cahaya lampu pelita. Yang sama dengan cahaya lampu pelita itu ialah anak dan isteri, yang gerak-gerik serta kelakuannya, perkataan dan senda guraunya dapat mengganggu dia dalam perjalanannya dan melemahkan hatinya dari dzikir.

Adab ketiga, hendaklah meninggalkan kesenangan hidup yang berlimpah-limpah mengambil sekedar apa yang perlu dari makanan, minuman, pakaian dan hubungan suami-isteri. Ghozalli berkata “Tuhan menjadikan makanan dan minuman di dunia ini sebab untuk mengusutkan hati, untuk memberatkan semua anggota badan, mengerjakan taat, dan menulikan telinga dari mendengar pelajaran-pelajaran yang baik.”

Adab keempat, bahwa ia meninggalkan cinta dunia dan selalu melihat serta memikirkan akherat karena cinta kepada Allah itu tidaklah dapat masuk ke dalam hati seseorang yang mencintai dirinya(menuruti hawa nafsu).

Adab kelima, jangan ia tidur dalam keadaan janabah (junub), selalu bersih bahkan lebih baik tidur dalam wudlu.

Adab keenam dan ketujuh, jangan menghendaki apa yang ada pada orang lain, dan apabila ia kekurangan rezeki hendaklah ia sabar dan berkeyakian bahwa dalam perjalanan menemui tuhan tidak membutuhkan kekayaan dan kesenangan dunia.

Adab kedelapan, selalu ia memperhitungkan kebaikan dan keburukan dirinya, senantiasa bersungguh-sungguh dalam thareqatnya, jika ia menjumpai kesukaran dan kekurangan ia berkata kepada dirinya “hendaklah engkau sabar, kegembiraan itu ada didepanmu, memang aku menghendaki keletihanmu untuk kesenanganmu nanti di akherat.”

Adab kesembilan, hendaklah ia menyedikitkan tidurnya terutama pada waktu sahur dan berdoa serta beramal sebanyak-banyaknya, karena waktu itulah waktu mustajab.

Adab kesepuluh dan sebelas, membiasakan dirinya makan yang halal dan membiasakan dirinya makan sedikit, berusaha mengangkat tangan sebelum kenyang, karena yang demikian itu membuahkan kesungguhan dalam mengerjakan taat dan menghilangkan malas.

Adab keduabelas dan tigabelas, memelihara lidah dan matanya, hendaklah dijaga agar lidahnya tidak mengucapkan omong kosong, sambil mengawasi hatinya jangan syaksangka. Barang siapa dapat memelihara lidahnya menetapkan hatinya, akan terbukalah baginya rahasia-rahasia yang sulit. Sesudah itu harus menjaga matanya daripada melihat yang cantik-cantik, karena melihat yang cantik dan molek itu seperti racun yang dapat membunuh atau laksana anak panah yang terlepas dari busurnya., dapat mengenai dan membunuh hatinya. Demikianlah keadaan manusia yang memandang sesuatu dengan keinginan syahwatnya. Junaid berkata “bahwa kegagalan yang acap kali menimpa seorang murid ialah terlalu banyak bicara, terlalu banyak bergaul dengan perempuan, oleh karena itu hendaklah murid selalu bergaul dengan orang-orang baik”, murad, murid-murid yang terpilih terutama dalam khalwatnya.

Adab keempatbelas, jangan suka bersenda gurau karena demikian itu dapat mematikan hati dan jiwa dan mengakibatkan kegelapan. Jikalau seorang salik mengetahui betapa kemunduran ikhwalnya karena senda gurau tentu ia tidak akan mengerjakan yang demikian itu. Nabi berpesan, jangan engkau mengganggu dan memperolok-olokkan saudaramu, maka oleh karena itu sebaiknya ditinggalkan senda gurau itu, kecuali pada waktu-waktu yang diperlukan ketika bingung dan ketika bersedih hati.

Adab kelimabelas, meninggalkan tanya menanya dan perdebatan apalagi pertengkaran tentang pembahasan ilmu, karena yang demikian itu acapkali membawa manusia kepada kealpaan dan kekeruhan. Jikalau suatu perdebatan sudah terjadi, maka segera meminta ampun kepada Allah dan meminta diri kepada mereka yang ingin melakukan perdebatan atau melanjutkan pembahasan itu, segala perdebatan tentang diri orang lain.

Adab keenambelas, bersedia diri mendatangi dan mempergauli orang-orang yang sedang bingung dan sempit pikirannya dan mencoba membicarakan adab-adab yang baik yang dapat membukakan jiwanya yang sempit itu. 

Adab ketujuhbelas, mencintai kedudukan dan pengaruh kebesaran dan kemegahan dapat memutuskan jalan kepada kebenaran.

Adab kedelapanbelas, murid-murid hendaklah tawadlu.

Adab kesembilanbelas, hendaklah ia selalu takut kepada Tuhan sambil meminta ampun terhadap dosa yang tidak kelihatan dalam ibadahnya maupun dalam dzikirnya.

Adab keduapuluh, tidak menerangkan kepada seorangpun juga apa yang dilihatnya dalam mimpi atau dalam jaganya daripada rahasia-rahasia yang diperlihatkan Tuhan kepadanya, kecuali pada gurunya sendiri. Adab keduapuluh satu, hendaklah ia menjaga waktu yang tetap untuk dzikir kepada Tuhannya dengan cara sebagaimana yang ditunjukkan oleh syechnya, tidak ditambah atau dikurangi. Murid itu sendiri hendaklah mencari kelebihan-kelebihan dalam uraian yang lebih panjang. Tetapi meskipun demikian kita dapat meninggalkan beberapa hal yang acapkali terdapat pada murid sufi itu, seperti adab pada waktu mereka menziarahi kuburan orang-orang keramat dan wali-wali.

Dalam kitab-kitab sufi diterangkan bahwa seorang murid hendaknya sering mengunjungi kuburan wali-wali itu untuk mendapat berkah dan mengenangkan ia pada mati. Apabila ia mengunjungi orang keramat itu dan mendapat jiwa kerokhanian yang melimpah kepadanya, maka hendaklah ia memperhatikan beberapa adab, ia memberi salam kepada orang yang meninggal itu, ia berdiri disebelah kakinya pihak kanan, ia menghadap kiblat, ia melatakkan kanan di atas tangan kirinya di atas pusatnya, dan dengan membungkuk sedikit, ia membaca Fathehah 1x, Surat Ikhlas 11x, ayat Khursy 1x yang semua pahalanya diniatkan untuk orang yang sudah wafat itu, baik gurunya maupun orang alim yang lain. Kemudian perlahan-lahan ia duduk dekat kuburan itu dan melepaskan semua pikiran yang mengikat dia selain daripada menunjukkan pada yang mati itu. Ia bersabar, ia menggambarkan cahaya rokhani orang yang mati itu, seakan akan dapat dirasakan dan dipindahkan ke dalam hatinya, kenangkan seluruh hal ikhwal khowas yang pada orang itu.

Dalam kitab Tanwirul Qulub, dijelaskan bahwa orang umum diperkenankan melakukan suatu yang berlebih-lebihan dan tabut pada kuburan wali jika mereka menghendaki tabaruq dan mengi’tikadkan bahwa yang memberi bekas pada hakekat yang sebenarnya hanya Allah. Mereka memperbuat sesuatu hanya karena cinta kepada orang yang dicintai Allah.


Adab Murid Terhadap Orang-Orang Islam Lain

Dalam ajaran sufi, hubungan antara seorang murid dengan orang lain lebih kuat daripada ukhuwah biasa antara seorang Islam dengan orang Islam lain. Diajarkan bahwa ikatan antara kedua sahabat atau lebih itu seperti ikatan akad nikah antara suami-isteri, senasib seperjuangan, cinta mencintai, ditunjukkanya kepada ucapan Rasullullah yang berbunyi “perumpamaan dua orang saudara adalah seperti dua tangan yang cuci mencuci dan bersih membersihkan antara satu sama lain. Katanya pula “orang mukmin terhadap mukmin seperti tembok batu bata mengikat satu sama lain”, katanya pula “tiap persahabatan antara teman dengan teman lain meskipun sesaat dari sehari cukup kalau ia bertanya kepada temannya itu, apakah ia sudah menunaikan apa yang perintahkan Allah kepadanya ?

Lalu disebutkan dalam kitab-kitab suci beberapa adab antara murid dengan teman sahabatnya, begitu juga dengan orang Islam lain. Diantaranya ia mengakui sesuatu persahabatan yang meletakkan kepadanya beberapa kewajiban yaitu ia mencintai sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Tidak melebihkan dirinya terhadap sahabatnya itu, ia memberi salam, ia berjabat tangan, ia mengeluarkan tutur kata yang baik, sesuai dengan ajaran Nabi. Ia tidak melepaskan sahabatnya itu sebelum ia meminta maaf, ia bergaul dengan kelakuan yang baik, ia berbuat sesuatu terhadapnya dengan penuh kecintaan dan lemah lembut. Umumnya ia memperlihatkan akhlak-akhlak Nabi yang dibiasakan pada dirinya. 

Junaid berkata “bahwa ada empat perkara yang dapat mengangkat seorang sufi meskipun kurang ilmu dan amalnya, yaitu penyantun dan sabar, merendahkan diri, bermurah tangan, dan berbaik budi”. Imam Syafi’i berkata “merendahkan diri itu adalah akhlak yang mulia, sedangkan takabur atau membesarkan diri adalah akhlak yang tercela”. Diantaranya ialah rela hati terhadap teman, meskipun mereka lebih tinggi kedudukannya dan lebih baik nasibnya daripada murid itu. Diantaranya juga bertolong-tolongan dalam perkara kebajikan dan taqwa. Memberi petunjuk kepada yang benar, mencegah kejahatan, tidak membuka malu dan kesalahan temannya. Seorang murid bertanya kepada gurunya Ibrahim bin Adham tatkala hendak berkisah katanya ”wahai penghuluku tidakkah baik tuan hamba menunjukkan keslahan-kesalahan atau aib yang ada pada diri hamba sekarang ini. Jawab Ibrahim “wahai saudaraku aku tidak melihat suatu keaiban pada dirimu karena aku melihat engkau dengan mata yang penuh cinta, tanyakanlah keaibanmu itu kepada orang lain.”

Di antara yang perlu diperhatikan murid ialah berbaik sangka kepada temannya. Jika hendak menerangkan sesuatu kekurangan, maka dimisalkan kekurangan itu terhadap pada dirinya sendiri, agar diambil ibarat oleh temannya itu. Begitu juga seorang murid harus menerima alasan, jujur, yang dikemukakan oleh temannya, meskipun ia tahu ia berdusta. Ketahuilah, kata sufi, bahwa jika ia rela kepadamu secara lahir pasti akan menyusul ia rela kepadamu secara batin.

Di antara yang banyak itu pula ialah memenuhi janji-janji yang diperbuatnya mengenai pertolongan dan pemberian, tidak lekas marah jika sesuatu janjinya dibangkitkan orang. Selanjutnya mengunjunginya pada waktu susah dan waktu sakit. Membacakan doa wirid-wirid yang baik dan lain sebagainya, yang tidak terhingga banyaknya. Dalam ucapan nabi “barang siapa tidak menyayangi manusia pasti ia tidak disayangi Tuhan.


Tentang Perbedaan Murid dan Murad

Sebagaimana guru mempunyai derajad yang bertingkat, muridpun dibicarakan orang dalam derajad yang bertingkat pula. Maka kita dengarlah dalam pandangan sufi orang yang mempergunakan kata-kata murid dan murad dalam karangan Al Harawi yang bernama Manazillus Sya’irin (Mesir 1331H) yang diperluas pembicaraannya oleh Ibn Qayyim Al Jauziah dalam kitabnya Madarijus Salikin (Mesir 1331H) sebuah kitab tasawuf dan thareqat yang dapat diterima oleh ahli sunnah.

Kata Al Harawi bahwa banyak sekali antara tingkat permulaan bidayat dan kesudahan nihayat antara hamba dan haq beribu-ribu, maqam yang tersusun dari nuur dan zulumat, cahaya dan kegelapan. Abu Ubaidillah al Busri mengatakan bahwa bagi Tuhan dan hambanya yang kepadanya diperlihatkan sudah pada permulaan apa yang akan dicapai pada kesudahannya. Al Junaid mengatakan bahwa hamba itu diangkat Tuhan dari suatu hal keadaan kepada hak keadaan yang lebih tinggi, dari hal keadan yang telah sudah ada tinggal sesuatu yang akan disempurnakan pada hal yang kedua. Tetapi Al Harawi tidak menerima faham dan maqam hal yang bertingkat-tingkat itu. Meskipun ia membenarkan bahwa semua ulama tasawuf telah sepaham atas pendirian, bahwa kesudahan nihayat tidak akan baik kalau permulaannya nihayat tidak baik. Sebagaimana suatu bangunan tidak akan kokoh jika tidak didirikan atas dasar-dasar yang baik. Permulaan baik itu dapat dicapai dengan sungguh-sungguh mengerjakan suruhan amar Tuhan dengan ikhlas yang musahadah dan mengikuti sunnah serta menjauhi diri, nahi, dari larangan Tuhan dengan ketakutan menjaga segala yang haram tidak bosan-bosan memberi nasehat, tidak melakukan sesuatu yang menyakiti, menjauhkan diri dari pergaulan yang hanya merusakkan waktu dan pekerjaan-pekerjaan yang hanya membuat hati bimbang.

Menurut Al Harawi manusia yang dapat menjalankan hal-hal tersebut, tergolong dalam tiga bagian. Pertama, orang yang beramal antara khauf dan raja’, didorong oleh rasa cinta dan malu kepada Tuhannya. Golongan ini dinamakan murid. Kedua, orang yang berjuang dari lembah perpisahan tasyrik, beralih ke lembah penggabungan, jama’ yang dinamakan murad. Ketiga, ialah manusia yang tidak termasuk ke dalam kedua golongan tersebut, yang kita namakan manusia tersia-sia.

Selanjutnya Al Harawi membagi maqam-maqam itu ke dalam tiga tingkat. Tingkat pertama ialah membulatkan tekad dalam perjalanan siir. Tingkat kedua, memasuki lapangan pengembaraan ghurbah. Tingkat tiga, memperoleh musahadah yang jazb ke arah ‘ainut tauhid dengan jalan fana.

Untuk tingkat pertama dikemukakan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Nabi pernah berkata “siru sabaqal mufarridun” mengembaralah sebagai yang pernah dikerjakan oleh mufarridun. Tak kala orang bertanya apa arti mufarridun, Rasullullah menjawab bahwa mufarridun itu ialah muhtarun, orang-orang yang mabuk mengingat Tuhan yang menggemari dzikir bagaimanapun beratnya, dan orang-orang itu akan menghadapi kiamat dengan segala keringanan.

Tingkat kedua didasarkan atas dua hadist yang diriwayatkan berturut-turut oleh Al Junaid, as sirri, ma’ruf al kharakhi, Jafar, ayahnya, neneknya, Ali Bin Abi Thalib bahwa nabi telah berkata “Thalbul Haqqi rughbatun” mencari haq itu artinya pengembaraan.

Tingkat ketiga, didasarkan atas dua hadist yang terkenal diriwayatkan oleh Umr bin Khatab bahwa Nabi atas pertanyaan Jibril “apakah yang dinamakan ihsan itu”, pernah menjawab “engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatnya dan jika engkau tidak melihatnya niscaya Ia melihat engkau”. Al Harawi membuat dididikan sufi dengan seratus maqam. Terbagi atas 10 bagian hidayah, bagian sifat, bagian mu’amalat, bagian akhlak, bagian ushul, bagian adawiyat, bagian ikhwal, bagian wilayat (wali-wali), bagian haqqiqat dan bagian nihayat.

1 komentar: