Sang Kyai 46


Setelah sholat subuh, aku, istri dan anakku telah meninggalkan desaku, dan titipan orang semua ku titipkan pada ibuku.

Ibuku maklum dengan posisiku, jika aku lebih lama tinggal, itu akan menjadikanku malah tak bisa istirahat, padahal masalah manusia pun di mana saja ada.

Aku langsung naik mobil ke Tuban kota, dan menaiki bus jurusan semarang.


——————————————-

Majlis sudah berdiri, tapi jam’iyah dzikir toreqoh Qodiriyah wa Naqsabandiyah belum ku mulai.

Malah selama ini, orang daerahku belum ada yang tau aku ini orang toreqoh, dan taunya aku orang yang belajar ilmu pengobatan, dengan media do’a, padahal apa yang ku miliki dan ku bisa hanyalah anugerah Alloh semata, bukan karena aku sakti atau punya kelebihan tertentu. Orang hanya taunya kulitnya saja.

Apalagi sifatku yang tertutup dan tak pernah melakukan atau berlagak seperti orang punya ilmu, sehingga semua orang akan merasa aku seperti teman dan orang yang bebas lepas bisa diterima di setiap kalangan.

Tapi Kyai Askan makin menggebu-gebu memusuhiku, aku dibilang dukun prewangan lah, dikatakan tukang tiup botol dan airnya dijual, tapi semua orang yang pernah ku tolong malah yang mendebat akan semua tuduhan kyai Askan, karena memang aku tak pernah meminta apa-apa pada orang yang ku tolong, bahkan jika orangnya miskin dan payah hidupnya tak jarang pulang malah ku beri oleh-oleh. Sebab bagiku keikhlasan itu perlu bukti nyata, lepas luar dalam, tak mencari nama walau sebesar titik debu, aku sampai memperingatkan orang-orang yang mendebat kyai Askan, ku katakan, “Jangan seperti itu, jangan didebat, itu tak baik.”

“Kami tak rela, kyai diburuk-burukkan.” jawab mereka.

“La aku dijelek-jelekkan kan tak berkurang apa-apa, kyai Askan juga menjelekkanku, kalau dia haus dan lapar juga makan dari uangnya sendiri, itu malah akan mengambil dosaku, Nabi saja ketika dijelek-jelekkan orang kafir, lalu Abu Bakar membelanya, Nabi marah kepada Abu Bakar. Lalu Abu Bakar bertanya: ‘kenapa aku tak boleh mendebat sumpah serapah mereka,’ ‘karena sebelum kamu menjawab sumpah serapah mereka, malaikat yang membalas sumpahan mereka, tapi ketika kamu yang membalas sumpah mereka, maka para malaikat pada pergi.’ ; jadi biarkan aku dijelek-jelekkan, jangan dibantah, diam saja, kesabaran itu perlu diuji, kebersihan hati itu hanya akan dikeruhkan oleh rasa benci, jadi diam, rasakan, masihkah hati itu suka panas, atau sakit hati? ataukah tenang, jernih, bening, sabar, tawakal, syukur, di situ nilai ilmu seseorang itu manfaat tidak bagi diri atau tidak bermanfaat bagi diri, terjawab, dengan praktek nyata, bukan dengan kata-kata, aku ini ikhlas, aku ini tawakal, aku ini sabar, la kalau cuma kata-kata, anak kecil juga bisa.”

Alhamdulillah orang yang sebelumnya membelaku dan mendebat kyai Askan kemudian perlahan sudah mau menuruti apa yang aku harapkan, berarti aku berhasil menanamkan kadar ilmu ke hati kepahaman mereka.

Perlahan tapi pasti, setiap hari di majlisku ada orang yang mulai datang, dan berkumpul, bukan untuk mengaji kitab kuning, bahkan aku tak pernah meminta mereka datang, mereka datang dengan kemauan sendiri, lalu mendengar ulasanku tentang agama, seperti orang yang ngobrol, tapi semua antusias, tak pernah sekalipun aku memerintah sholat, tapi aku jelaskan dengan saripatinya amal, sehingga semua sering malah merasa rindu kalau tak hadir di rumahku. Malah ada yang sampai mengatakan sehari tak melihat wajahku, hatinya merasa risau, jadi kadang ada yang datang ke rumah, hanya ingin menatap wajahku, ya aku ndak papa, kadang sampai ada yang datang sehari tiga kali, kayak orang makan saja, dan cuma bersalaman denganku dan duduk dua-lima menit lalu pamit, dan banyak yang mencintai diriku melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri, kadang ada suami istri yang setiap hari datang, hanya ingin mencium tanganku, padahal mereka berumur 60 an tahun, ya aku dengan senang hati memberikan tangan yang ingin dicium, kadang ada nenek-nenek yang sudah udzur lalu menangis-nangis minta didoakan bisa meninggal khusnul khotimah, dan meminta diijinkan mencium tanganku, semua hanya kehendak Alloh yang memiliki rahasia.

Pagi-pagi sudah ada tamu seorang ibu-ibu seumuran 50 an tahun.

“Ada apa bu?” tanyaku.

“Saya ini dari Jakarta.” jelasnya.

“Wah jauh-jauh ada keperluan apa bu? Saya jadi tak enak membuat ibu jauh-jauh datang.”

“Saya ada perlu untuk keperluan anak saya.”

“Kenapa anaknya bu?” tanyaku.

“Anakku lumpuh, sudah sembilan tahun, seluruh badannya tak bisa digerakkan sama sekali. Bahkan tangan dan kaki, juga mulutnya sudah tak bisa bergerak.” cerita.

“Lalu maksud ibu datang ke rumah saya?”

“Ya saya mau minta anak saya dido’akan, supaya disembuhkan dari kelumpuhan.”

“La awalnya bisa lumpuh bagaimana bu?”

“Karena kecelakaan dik, ya pertama kecelakaan tak apa-apa, kelumpuhan terjadi setelah setahun mengalami kecelakaan.”

“Lalu kata dokter bagaimana?” tanyaku.

“Kata dokter urat saraf yang di punggung ada yang putus dan kejepit tulang.” jawabnya.

“Juga pernah dibawa ke pengobatan alternatif?”

“Ya kan sudah 9 tahun lumpuhnya, di mana ada tung..!, ada pengobatan yang kami dengar, maka kami berusaha mendatangi, mari to dik dilihat anak saya.”

“Walah bu…, saya itu sebenarnya tak bisa mengobati apa-apa, jadi kalau saya datang ke rumah ibu di Jakarta, sudah jauh-jauh ya percuma, tak akan membuat perubahan.” jelasku.

“Lalu saya bagaimana?”

“Ya ibu ku kasih air saja, nanti diminumkan dan dilapkan airnya ke seluruh tubuhnya.” kataku.

“Baik dik,” katanya.

Lalu ku beri air mineral, yang sebelumnya ku tiup dulu, dengan meminta pada Alloh kesembuhan untuk anaknya.

——————————————-

Besoknya ibu yang kemaren datang lagi.

“Gimana, ada apa lagi bu, kok ibu kemaren datang, sekarang datang lagi, apa gak jauh Jakarta?”

“Oo saya juga kan asli Pekalongan dik, jadi ini masih di rumahku Pekalongan.”

“Ooo kirain dari Jakarta langsung, rupanya tinggal di sini.., lalu ini ada apa bu?”

“Alhamdulillah, anak perempuanku yang lumpuh, tadi pagi mulutnya sudah bisa bicara, tangannya juga sudah bisa bergerak, juga kakinya bisa digerak-gerakkan.”

“Ya syukur, bagus itu.” kataku.

“Jadi saya kesini, mau mengajak adik ini ke rumahku, tolong dipegang anak aku.” kata ibu itu.

“Bukannya aku tak mau bu, tapi banyak orang lain yang juga membutuhkanku, jadi ini baru ibu yang meminta, nah kalau sehari dua puluh orang yang meminta seperti ibu, apakah saya tidak wira-wiri kemana-mana, apa tidak menjadikan saya super sibuk, ibu tak beri air saja dan dipakai seperti kemaren.” kataku, semua orang itu selalu kalau berpenyakit pasti ingin cepat sembuh, seperti sulapan.

“Iya tak apa-apa, tapi boleh tidak kalau ada orang yang mau mengobati, dengan diurut.”

“Ya monggo, silahkan saja bu, itu hak penuh ibu, mau meminta orang lain mengobati, aku ini kan bukan mengobati bu, tapi berdo’a, jadi soal kesembuhannya bukan urusanku, tapi itu urusan Alloh.” kataku.

Dua hari kemudian ibu yang anaknya lumpuh itu datang lagi.

“Kenapa lagi bu…?” tanyaku melihat wajahnya sedang sedih.

“Itu nak, kok punggung anakku jadi pada melepuh,” katanya.

“Melepuh bagaimana bu?”

“Ya melepuh, melembung dan di dalamnya ada airnya gitu.” jawabnya.

“Oo itu mungkin anak ibu alergi terhadap minyak tertentu, atau karena lumpuh jadi tidak bergerak, sehingga punggungnya yang ada minyak gorengnya jadinya panas.”

“Apa karena ku pijitkan ya?”

“Wah aku sendiri tak tau… dibelikan saja salep, atau dipanggilkan dokter kulit.” kataku.
dia pun mohon diri.

Kadang orang tak sabar, maunya segala sesuatu itu sembuh seperti sulap.

Malamnya seseorang datang dengan membawa saudaranya yang sakit katanya dikuasai jin, selalu saja mendapat bisikan, sehingga sering tingkah lakunya tak karuan. Mungkin lagi musim orang dikuasai jin, jadi beberapa hari ke depan yang datang adalah orang yang dikuasai jin.

“Awalnya bagaimana kok dikuasai jin itu?” tanyaku pada yang biasa dirasuki, dia masuk rumahku yang terpagar, maka jinnya tak berani masuk, banyaknya jin yang mencoba menjadikan pemuda bernama Khadiq itu jadi budaknya, sehingga di depanku sadar total.

“Awalnya saya kerja di Semarang, pas musim ninja itu saya diisi oleh seorang guru silat di daerah Mangkang, ya awalnya saya tak mau, tapi mau juga karena ya siapa tau ada baiknya, maka setelah diisi, disuruh menelan kapas dan gotri yang katanya sudah dijampei, aku jadi berani, aku juga diberi ilmu yang kalau naik bus tak bayar, maka aku kemana-mana naik bus tak pernah bayar.”

“Wah itu tak bener, ya kasihan sopir busnya dan kondekturnya dong, la kalau semua penumpang kayak sampean naik busnya tak bayar, apa gak sopirnya dan kondekturnya nangis, kan mereka juga punya anak bini, lagian misal sampean jadi sopir busnya, apa sampean mau semua penumpang yang naik bus gratis semua.” kataku.

“Ya tidak.” jawab Khadiq.

“Kalau diri tak mau dirugikan orang lain, maka orang lain pun punya perasaan sama tak mau kita rugikan.” jelasku.

“Apa ilmu yang ku amalkan salah? Sehingga aku dikuasai jin?” tanyanya.

“Sebenarnya dikuasaimu itu bagaimana?” tanyaku balik.

“Aku ini sering mendengar bisikan, kalau aku harus ke suatu tempat, misal kemaren aku disuruh di simpang lima Semarang katanya akan ada yang memberi hadiah padaku, lalu aku dari pagi sampai sore di simpang lima Semarang, tapi sampai sore aku tak menemukan apa-apa, maka aku melangkah pulang, tapi baru saja aku melangkah, ada bisikan katanya aku gagal, karena tak sabar, padahal hadiahnya baru datang lima menit lagi.” jelas Khadiq.

“Hehehe… itu tipu daya jin, mana ada orang mau memberi hadiah kamu, la yang nabung di bank, dapat undian saja belum tentu dapat hadiah, itu hanya mau menaklukkanmu, agar kamu mau diperintah sekehendaknya jin, agar kamu jadi pijakan dia di neraka, soal lima menit dia bilang gagal, juga hanya akal-akalan dia, misal baru nunggu satu jam kamu kemudian balik juga akan dikatakan bisa lima menit, tiga menit, agar ada penyesalan di hatimu, dan besoknya kalau disuruh kayak gitu mau.”

Dia manggut-manggut.

“Tapi aku malah pernah disuruh menunggu di pasar Kedungwuni, dan katanya akan ada bos yang memberi uang diriku, tapi ya seperti itu aku katanya gagal karena tak sabar, aku malah pernah disuruh berdiri di tepi laut Pekalongan sampai malam, katanya aku akan diberi uang yang banyak….”

“Sebenarnya masalahmu itu cuma bisikan, seandainya aku menolongmu juga, percuma, jika kau selalu mengikuti bisikan-bisikan itu, bisikan itu ada tiga, satu khotir rokhmani, artinya bisikan dari Alloh, dua khotir malaki atau bisikan dari malaikat, tiga khotir syaitoni yaitu bisikan dari syaitan, juga jin itu, sekalipun kau dibisiki untuk membaca alqur’an, atau disuruh sholat sekalipun, maka itu tak ada pahalanya, menjalankan amal ibadah itu harus lillahi ta’ala, karena Alloh ta’ala, setiap niat puasa romadhon, bukankah ujung-ujungnya lillahi ta’ala, artinya karena Alloh ta’ala, ikhlas, bukan karena bisikan jin, ya kalau sholat karena nuruti bisikan jin, artinya kalau jin tak nyuruh sholat, maka tak sholat, kalau jinnya nyuruh sholat, lantas sholat, ya nanti kamu di akherat ndak punya amal sama sekali, kamu akan diperintah oleh Alloh meminta pahala pada jin, apa jin bisa memberi surga? ya tidak sama sekali.”

Khadiq diam saja, entah diam karena menyelami kata-kataku, atau karena pikirannya kosong.

Sebenarnya seseorang itu cenderung apa yang membisikinya itu dianggap kebenaran, atau anak kecil yang bisa melihat hal gaib lantas dianggap kelebihan, padahal itu malah akan mengganggu aqidah, karena kemudian ada kebiasaan ketergantungan pada selain Alloh, padahal wama kholaqtul jinna wal insa illla liya’budun, manusia dan jin itu diciptakan untuk menghamba, jadi menghamba pada Alloh, apapun itu kok menjadikan kita tak menghamba lagi pada Alloh, maka tandanya kita itu menyalahi dasar penciptaan atau rencana kita diciptakan.

Seorang perempuan tua membawa anaknya yang dikatakannya dikuasai jin ke rumahku, nama anaknya Jalal, menurut Ibunya, awalnya jalal tidak apa-apa, lalu dipondokkan di Tegal Rejo Magelang, dan setelah menjalankan amalan hizib Ghozali, maka prilaku Jalal mulai berubah, suka marah-marah, kalau sudah meminta barang harus segera dipenuhi, misal pengen motor baru pas jam dua belas malam, maka seketika itu harus dipenuhi, ya sekalipun orang tuanya punya uang, kan juga dealer motornya sudah tutup, Jalal tak mau tau, dan terus marah-marah, apa-apa dibanting dan kemudian ketahuan kalau Jalal telah kerasukan atau hilang akal karena telah dikuasai jin.

Ketika masuk rumahku, sama Jinnya pun melepaskan diri, dan tak berani masuk, karena rumahku terpagar gaib.

“Bagaimana kau bisa dikuasai jin..? ” tanyaku.

“Tak tau ustad.” jawab Jalal

“Kok tak tau?” tanyaku lagi.

“Ya aku sendiri rasanya badanku lemah sekali, apa hizib yang ku pelajari tak benar?” tanya Jalal.

“Ya benar saja, siapa yang mengatakan tak benar? Cara mempelajari yang diharuskan di pondok yang tak benar, dan mengamalkan ilmu itu kan tak asal mengamalkan, tapi mengamalkan ilmu itu harus urut,” kataku.

“Urut bagaimana ustadz?” tanya Jalal.

“Ya urut dari pertama, dari dasar, kayak orang bangun rumah itu harus urut, digali pondasi disesuaikan rumah yang akan dibangun, lalu dibuat pondasi dari corcoran yang kokoh kuat, pondasinya ditunggu kering, artinya pondasi diistiqomahkan, jadi menetap, kering kukuh kuat setelah diyakini pondasi kering dan telah diyakini telah benar-benar kering, baru ke atas, penguat dinding di-cor, tiang-tiang dibentuk di-cor, agar teguh dan kuat, lalu dibangun dindingnya disesuaikan dengan rancangannya, sampai terus selesai semua dan sampai gentengnya, kalau tiba-tiba, dibangun temboknya, lalu genteng, baru pondasi digali tanahnya, ku yakinkan akan banyak orang terkubur oleh rumah itu, sama dengan amaliah ilmu, akhirnya jika pembangunannya terbalik balik, maka ku pastikan akan banyak orang setres dan dikuasai jin, apapun di dunia ini, harus urut, itu aturan Alloh, atau dinamakan sunnatulloh, masak nasi saja kalau direbus dulu, nyuci berasnya belakangan tak akan jadi, ada sarat, ada sareat, sarat itu alat yang akan dipakai, kayak mau masak nasi, harus ada ompreng, ada, air, ada kompor, ada gas, ada selang, ada beras, jadi kelengkapan itu harus ada semua, masak nasi tak ada berasnya, maka tidak dikatakan masak nasi, masak nasi ada kompornya, nasi sudah dicuci sudah di dalam ompreng, sudah lengkap airnya, kompor sudah nyala apinya, tapi ompreng tak ditaruh di atas kompor, maka seribu tahun ditunggui juga beras tak akan mateng jadi nasi, jadi ada sarat, sare’atnya harus benar, sare’at itu cara, la sampai jadinya sarat dan sare’at itu menjadi nasi yang matang dan enak dimakan, sampai terciptanya api bisa nyala dari gas, dan bisa membuat nasi menjadi matang dan enak, lalu dimakan masuk ke tubuh, itu namanya hakikatnya nasi rencananya dimasak, jika Alloh tidak menempatkan ilham pada manusia, sehingga manusia tidak punya maksud untuk memasak nasi maka sarat dan sare’at tak akan pernah ada, jadi penetapan Alloh atas niat memasak, lalu gerak tubuh melakukan gerakan memindah ompreng, mencuci beras, menggerakkan urat dan melakukan gerakan yang seperti terancang dan terencana dengan berurutan, sampai menghasilkan nasi yang matang, itu namanya hakikat, berlakunya qodo’ dan qodarnya Alloh di setiap kejadian.” jelasku panjang lebar.

“Mempelajari ilmu karena tak berurutan lalu dikuasai jin karena hati belum teguh ikhlas, jiwa belum kukuh kuat, ruh masih goncang, dan tubuh belum mengalami latihan, ya samalah membangun rumah, dana belum mencukupi, apa-apa masih ngutang, semen belum ada, juga tanah adalah tanah yang labil, jika dipaksakan membangun rumah, ya rumahnya jadi tiga hari temboknya retak, sepuluh hari orangnya ketimpa tembok dan mati, jangan menyalahkan amalan karena mempelajari tak sesuai aturan kemudian diri dikuasai jin, jangan menyalahkan rumah yang menimpa penghuninya, karena membangunnya tidak tepat dan dari awal dirancang yang benar.” jelasku.

“Lalu bagaimana ustad anakku ini?” tanya Ibu itu.

“Biar ku kasih air, dan pagar badan, tapi nanti amalannya jangan diamalkan lagi ya?” kataku ku tujukan pada Jalal.

“Ya ustadz.” jawab Jalal.

Dan Jalal dan Ibunya pun pulang, beberapa hari ibunya datang, mengucapkan terima kasih. karena Jalal telah sembuh.

Saat di majlisku ada banyak tamu, dan semua sedang bicara denganku, masuk dua orang lelaki dan perempuan, tiba-tiba yang lelaki tersungkur mengaduh-aduh berguling-guling, aku cepat bangkit, dan ku pegang kepalanya, lalu dia mulai tenang.

“Kenapa pak?” tanyaku.

“Tak tau mas kyai, tiba-tiba kepalaku rasanya pening sekali.” jawab lelaki setengah tua yang mengenalkan diri bernama Tohir.

“Bapak mempunyai amalan apa?” tanyaku.

“Saya orang toreqoh mas.” kayanya.

“La kok sampai punya khodam jin?”

“Ya tak tau.” jawabnya.

“Toreqoh sampean apa yang diikuti?” tanyaku.

“Toreqoh qodiriyah wa naqsabandiyah.” jawabnya.

“La berarti sama dengan toreqoh saya.” jawabku.

“Saya malah sudah dibai’at beberapa kali.”

“Wah hebat itu, la saya aja baru dibai’at sekali.”

“Panjenengan ini baru dibai’at sekali, kok ya saya tak punya kelebihan yang kayak penjenengan yang bisa berbagai macam ilmu dan kelebihan.”

“Hehehe… gini lo pak, walau sama-sama toreqoh, tapi dalam toreqoh itu ada namanya kedudukan, yang ahli bai’at saja, ada ahli bai’at badal, dan ahli talkin itu ada ahli talkin badal, badal artinya ganti, jadi orang yang dibai’at oleh ahli baiat dan ahli talkin badal ya selamanya tak punya kedudukan apa-apa, berpuluh tahun menjalankan toreqoh ya tak punya kelebihan apa-apa, karena selamanya menjadi prajurit rendahan, tak punya kedudukan, ya kayak dalam ketentaraan orang yang diangkat oleh hansip paling jadi penjaga pos kamling, jangan harap menjadi jendralnya tentara, ya kalau jadi penjaga pos kamling terus petentang petenteng membawa pistol, bisa-bisa malah ditangkap polisi, jadi dalam toreqoh juga ada kedudukan, jika seseorang dibai’at oleh wali qutub, wali ghous, wali abdal ahli talkin, ahli bai’at, ahli silsilah, ahli tawasul, ahli sanad, ahli nasab, wali qutub artinya yang di jadikan sandaran semua wali, wali ghous artinya yang punya kekuasaan menolong, wali abdal artinya sudah punya cap menggantikan wali pilihan, ahli talkin, artinya mempunyai kekuatan menalkin, ahli bai’at, artinya mempunyai kekuasaan membai’at, ahli silsilah, artinya punya kekuasaan mengangkat dan menurunkan silsilah toreqoh, ahli tawasul artinya punya bisa dijadikan penghubung pokok kepada guru di atasnya, ahli nasab artinya nasabnya menyambung sampai Nabi, la kok dibai’at orang seperti itu ya langsung punya kelebihan, walau belum menjalankan amalan apa-apa, jadi walau minta bai’at atau talkin itu tak asal meminta bai’at dan talkin sembarangan.”

“Wah ternyata ada seperti itu ya?”

“Ya..”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar