CAHAYA SEJATI bagian 8

Saat itu waktu setelah sholat isya', suasana desa Cipacung yang sepi, tiba-tiba jadi ramai, banyak rombongan orang yang datang, dari segala penjuru, berbagai orang dan macam pakaian yang dipakai, juga berbagai latar belakang profesi dan kedudukan di masyarakat.

Melihat banyak orang yang datang itu Kyai Sepuh merasa heran, rombongan itu ada yang membawa bus, ada yang memakai kendaraan Truk, andong, angkot, mobil pribadi, semua tumpah ruah di sekitar desa Cipacung, sampai keluar desa penuh dengan manusia. suasana ramai dadakan itu benar-benar membuat daerah Pandeglang geger, sementara di depan rumah Kyai Sepuh, nampak para pemimpin orang-orang itu tengah menghadap.

"Sebenarnya ini ada apa, kok pada datang ke tempat saya...?" tanya Kyai Sepuh.

"Kami semua mau meminta keadilan kyai." jawab salah seorang yang bernama kyai Enci, yang juga ikut mengobati Bagus Cilik.

"Lho keadilan apa?" tanya Kyai Sepuh.

"Kami semua telah kehilangan ilmu yang kami miliki, setelah kami mengobati anaknya sampean itu." sela Abah Sakri yang juga hadir.

"Lho memang ada kejadian seperti itu? La kok aku malah tidak tau.." terang Kyai Sepuh.

"Di sedot sama anaknya panjenengan memang belum jelas Kyai, tapi kami semua nyatanya telah kehilangan ilmu sama sekali." jelas Kyai Sanusi.

"Weh la yo aneh kalau seperti itu, la ini bagaimana cara menyelesaikannya, kalau sudah seperti ini? Apa dibuktikan dulu?" tanya Kyai Sepuh bingung.

Tiba-tiba dari luar terdengar suara ramai, ternyata banyak sesepuh juga yang datang, ada Abuya Dim, Abuya Dim, Abuya Khalimi, Abuya Ghozali yang umurnya 360 tahun, dan para sesepuh yang banyak tak terhitung, orang yang di depan memberi jalan, tempat duduk pun diatur, Bagus Cilik ditempatkan di dalam bejana, dan semua orang mengelilingi di sekitarnya, untuk membahas dan menyelesaikan masalah pelik itu.

"Kita semua tidak tau, apa yang ada di dalam tubuh Bagus Cilik, maka inisiatifku kita semua menjalankan amalan kita masing-masing, jika agar ditunjukkan Alloh, apa sebenarnya yang ada di tubuh Bagus Cilik, jika itu jin jahat yang menyerap dan menghisap semua ilmu para guru dan masayekh, dan para tabib dan ajengan, maka kita wajib menghancurkannya, sekalipun nanti akan membahayakan nyawa Bagus Cilik, maka itu tetap harus kita lakukan, daripada kedepannya nanti menyulitkan kita sendiri, andai Bagus Cilik ini sakti, dan jahat, bagaimana menurut semua yang hadir?" kata Abuya Dim panjang lebar. dan serempak semua orang menjawab setuju.

"Bagaimana panjenengan Kyai, selaku ayah Bagus cilik?" tanya Abuya Dim, pada Kyai Sepuh.

"Saya selaku abahnya, menyerahkan apa yang terbaik untuk dilakukan, dan jika apapun yang nanti akan menimpa anakku Bagus Cilik, maka saya menerimanya dengan ikhlas." jawab Kyai Sepuh.

"Mari silahkan, semua yang merasa masih mempunyai kelebihan ilmu, dan siapapun boleh melakukan apapun, entah serangan atau dzikir hizib, aurat, hilmah, apa saja untuk membuktikan apa yang ada di dalam tubuh Bagus Cilik ini." kata Abuya Dim.

Maka yang pendekar, atau jawara, segera melakukan serangannya, dan mengeluarkan senjata masing-masing, ada yang mencabut golok, ada yang mencabut kujang, gelang baja, tombak, dan berbagai macam senjata, satu orang maju melakukan jurus, dan melompat membacokkan goloknya ke kepala Bagus Cilik, tapi walau tubuh dalam keadaan melayang, dalam jarak 1 meter sebelum sampai pada Bagus Cilik, tubuh orang itu seperti menabrak benteng tebal, dan mental, disusul jawara dan pendekar lain, kadang dengan serangan berbareng, tapi semua mental, seperti ada maha dasyat yang tidak bisa ditembus, malah banyak yang memaksakan diri, malah akhirnya muntah darah, karena pukulan yang dilontarkan membalik, dan mengenai diri sendiri, sementara diri tak menyediakan perlindungan tenaga pelindung.

Suasana jadi ramai, gedebak gedebuk, orang pada jatuh seperti bola yang dihantamkan ke tembok, padahal semua orang itu sudah jawara paling top dan guru perguruan paling ternama di Banten, tapi semua ilmu mereka seperti tak ada nilainya sama sekali. Orang yang terluka segera dirawat, dan tahapan pertama selesai, lalu majulah orang yang mempunyai ilmu hikmah dan hizib, semua mengitari tembikar tanah, yang ada di tengah yang berisi Bagus, di dalamnya yang tengah direndam air, sambil tidur.

Orang-orang itu mulai menjalankan aurodnya, semua konsentrasi, melakukan serangan, dengan segenap daya yang dimiliki, perlahan air di bejana bergolak, makin bergolak, dan mulai mengeluarkan asap, karena panasnya, juga lamat-lamat dari tubuh Bagus cilik keluar cahaya kuning berpendar, perlahan tapi pasti cahaya itu makin terang, dan makin terang, dan tiba-tiba bejana pecah, dan air muncrat kemana-mana, dan semua orang yang duduk bersila terlempar seperti di amuk prahara, ada kekuatan seperti hentakan maha dasyat yang menggulung udara, seperti ledakan yang tak terlihat, sementara Bagus Cilik terbangun dari tidurnya, melihat ke sekeliling, dan bingung karena banyak orang.

Dan dari luar muncul Tubagus Qodim,

"Kalian ini bagaimana..., pada buta mata hati..., yang ada di tubuh dan dada Bagus Cilik ini nur Sejati, cahaya Muhammad, cahaya awal mula tercipatnya manusia, dunia dan isinya, yang dicipta dari Nur Alloh, jadi bukan jin atau iblis, jika kalian lebih teliti sedikit tentu tidak akan terjadi hal yang seperti ini." kata Tubagus Qodim, sambil berjalan mendekati Bagus Cilik lalu tambahnya, "Coba kalau kalian teliti, andai saja mau membuka pakaian penutup dada Bagus cilik, coba lihat ini, ini tulisan apa?"

Semua orang mendekat dan melihat, dan di dada Bagus Cilik tertulis tulisan Alloh, dengan huruf arab yang indah, tapi terbentuk dari urat darah, dan tercetak sampai membuat lekukan di kulit.

Semua orang membaca tasbih, hamdalah, takbir, melihat tulisan itu, semua meneteskan air mata haru,

"Bagaimana? Seharusnya kalian ini malah meminta isi dan do'a pada Bagus Cilik, sebab dia inilah biangnya do'a, apa yang diucap akan menjadi nyata, apa yang dido'akan akan terijabah sekejapan mata, dan dia pencetak para Abuya, dan Kyai, seperti kakek buyutnya Imam Nawawi sebagai pencetak kyai di Jawa dan Indonesia," kata Tubagus Qodim, maka hari itupun semua kyai minta dido'akan, minta diisi, minta diberi ijin dan restu, satu persatu orang minta diusap kepalanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar