Nasehat Bakr bin Abdullah Abu Zaid, ketika baliau berkata ,”Hati-hatilah dari teman yang jelek…!, karena sesungguhnya tabiat itu suka meniru, dan manusia seperti serombongan burung yang mereka diberi naluri untuk meniru dengan yang lainnya. Maka hati-hatilah bergaul dengan orang yang seperti itu, karena dia akan celaka, hati-hatilah karena usaha preventif lebih mudah dari pada mengobati."
Maka pandai-pandailah dalam memilih teman, carilah orang yang bisa membantumu untuk mencapai apa yang engkau cari. Dan bisa mendekatkan diri pada Rabbmu, bisa memberikan saran dan petunjuk untuk mencapai tujuan muliamu.
Pengalaman pribadi, jika ada orang mendekatimu dengan menjelek-jelekkan orang lain di depanmu, memburuk-burukkan orang lain di depanmu, bahkan orang tuanya saja bisa dihujad dijelek-jelekkan di depanmu, percayalah, nanti kamu juga akan dijelek-jelekkan di depan orang lain. Sebaiknya hindari orang seperti itu, itu orang punya karakter namimah, mengadu domba yang melekat di hatinya, dan akan dibawanya sampai mati.
La km baru memberi apa? yang jelas jelas orang tuanya saja yang melahirkannya yang menyebabkan dia ada saja dia bisa buruk burukkan apalagi cuam kamu orang yang baru dikenalnya.
Berdoalah, karena Allah memerintahkan berdoa, apapun isi doanya, lakukan dengan niat dalam hatimu karena kamu berdoa itu untuk melakukan ketaatan pada Allah, Janganlah yang menjadi tujuan doamu itu adalah keinginan tercapainya hajat kebutuhanmu. Dengan demikian engkau hanya terhijab dari Allah. Yang harus menjadi tujuan dari doamu adalah untuk dapat selalu taat kepada Allah yang memiliki pemelihara dirimu.
jika kamu taat pada Allah, bertaqwa padaNya, maka semua jalan kemudahan akan diberikan oleh Allah, dan rizqi tanggungan Allah akan diberikan padamu tak perlu kamu bersusah payah mencarinya.
"Dan orang-orang yang berjuang di jalan kami (berjihad dan mendakwahkan agama) maka akan kami tunjukan kepada mereka jalan-jalan kami (jalan-jalan petunjuk). Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang ihsan (muhsinin)." (QS Al'ankabut ayat 69).
Apa yang kamu lakukan di dunia ini, semua akan selesai dan tak ada bekasnya apa-apa, jika tak diniatkan untuk akherat, ingat...! tak ada di dunia ini bekerja dengan ikhlas, mau bekerja dengan ikhlas, sana cangkul semua sawah di seluruh Indonesia, dan kamu gak usah dibayar, mau? kerja itu harus dibayar, digaji, kalau bisa sedikit kerja tapi gajinya tinggi.
Dan beramalah dengan ikhlas, ruh amal itu ikhlas, mesin amal itu ikhlas, jika tanpa adanya ikhlas maka amal tak ada kemana-mana, seperti orang yang tanpa ruh, seperti mobil tanpa mesin, tak akan kemana mana....
Bekerjalah dengan kerja sedikit, tapi gaji besar, dan beramalah, dengan segenap keikhlasan.
Tanda-tanda datangnya hari kiamat sudah disebutkan di dalam Al Qur'an dan Hadist. berikut merupakan tanda-tanda besar datangnya hari kiamat :
Matahari terbit dari barat dan tenggelam di timur.
Keluarnya Dajjal si Ahli dusta dan fitnah
Munculnya kembali Nabi Khidir as.
Turunnya Nabi Isa as.
Keluarnya Yaajuuj maajuuj
Keluarnya Daabbah
Musnahnya Al Quran
Hancurnya Ka'bah
Fitnah merajalela

Adapun tanda-tanda kecil datangnya hari kiamat yang sampai sekarang sudah mulai terlihat antara lain sebagai berikut:
Banyak Orang terkena fitnah
Anak berani terhadap orang tua
*Belum akan terjadi kiamat sehingga anak selalu menjengkelkan kedua orang tuanya, banjir di musim kemarau, kaum penjahat melimpah, orang-orang terhormat (mulia) menjadi langka, anak-anak muda berani menentang orang tua serta orang jahat dan hina berani melawan yang terhormat dan mulia. (HR. Asysyihaab).
Laki-laki menjadi perempuan
Perempuan hilang rasamalunya
Jarang sekali ada manusia yang ingat Allah SWT.
Banyak orang yang murka
Adanya perang pupuh
Banyak orang mati terbakar
Rame orang yang berburu dunia tetapi jarang yang menggunakan cara yang halal
Banyak gadis yang menjadi pelacur
Banyak orang yang hancur-hancuran rumah
Banyak Masjid dan mushola dimana-mana namun banyak juga berhala
Banyaknya penyuapan yang dilakukan oleh pidana untuk membebaskan diri
Agama Kalah dengan uang
Musyawarah kalah dengan debat
Saudara jadi orang lain, orang lain jadi saudara
Orangjujur dituduh bohong, orang ahli dusta banyak dipercaya
Orang yang dapat dipercaya dikhianati, ahli khiyanat diikuti
Banyak suami istri cerai
Banyak orangminum arak atau minuman keras
Banyak orang pinter keblinger(keminter)
Banyak orang berebut hak waris
Ada zakat tetapi tidak ada yang menerima
*Belum akan tiba kiamat sehingga harta banyak dan melimpah, dan orang ke luar membawa zakat hartanya tetapi tidak ada yang mau menerimanya, dan negeri-negeri Arab kembali menjadi rerumputan hijau dengan sungai-sungai mengalir. (HR. Muslim)
Susahnya mencari orang adil membagi bagai mencari gagak putih
Ada hujan salah musim, yaitu hujan yang turun di musim kemarau
Jumlah orang perempuan lebih banyak dari pada orang laki-laki kira-kira 40-50 : 1
Jalannya waktu terasa cepat
*Saat akan tiba kiamat, jaman saling mendekat. Satu tahun seperti sebulan, sebulan seperti seminggu, seminggu seperti sehari, sehari seperti satu jam dan satu jam seperti menyalakan kayu dengan api. (HR. Tirmidzi)
Rasulullah SAW bersabda : “Dan yang tersisa adalah seburuk-buruk manusia, mereka melakukan hubungan intim di dalamnya bagaikan keledai, maka pada merekalah kiamat akan terjadi.” (HR Muslim)
Rasulullah saw bersabda :
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallah ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Demi Allah yang diriku di tangan-Nya, tidaklah akan binasa umat ini sehingga orang-orang lelaki menerkam wanita di tengah jalan (dan menyetubuhinya) dan di antara mereka yang terbaik pada waktu itu berkata, “alangkah baiknya kalau saya sembunyikan wanita ini di balik dinding ini.” (HR. Abu Ya’la. Al Haitsami berkata, “perawi-perawinya shahih.”
Lihat Majmu’ Zawaid: 7/331)
Jika kamu mencari Allah, kemana saja jalan kamu tempuh, ke arah mana saja tujuan kamu lewati dan apa saja kamu naiki, kamu tak akan menemukan Allah, sebab Allah itu bukan bagian dari alam ini, Allah itu pencipta alam, bukan bagian dari alam. Jika pencarianmu kamu paksakan, maka kamu akan gila karena hanya menemui kebuntuan. Tugasmu sebagai hamba, budak, bukan sebagai pencari, hamba itu menjalankan tugas ketaatan pada majikan tanpa protes dan tanpa gaji, jika kamu taat menghamba, menjadi pelayan, yang melayani agama Allah, bukan melayani kesenanganmu sendiri, maka Allah akan suka padamu, diangkatlah engkau di maqom cinta, kekasih setelah sebagai hamba, jika Allah cinta padamu maka selain Allah akan dihapus dari hatimu, dunia, keluarga, anak istri, kedudukan, jabatan, nama besar.
Dan jika Allah mencintaimu maka akan dibukakan hijab penutup alam ini, maka kamu akan sampai maqom makrifat.
Jadi tidak ada kemakrifatan itu dicari tapi karena Allah membuka hijab manusia, dan menganugerahi pengetahuan dan kepahaman, sebagaimana nafas itu dianugerahi Allah, bukan kita yang meciptanya. Ruh juga begitu. Dia urusannya Allah, juga persifatan ruh kita, Allah yang memberi, sabar, ridha, amanah, dll.
Ridha adalah puncak gunung spiritual bagi para pejalan (muthasowif), orang-orang yang telah berhasil mencapainya tidak lagi disebut pejalan (muthasowif) melainkan Sufi. Karena telah gugur keinginan-keinginan dirinya (fana). Tanda ridha adalah tidak mempunyai pilihan sebelum diputuskannya ketetapan (Allah), lalu tidak merasakan kepahitan melainkan ketenangan dan keserasian hati setelah diputuskannya ketetapan, dan tetap merasakan gairah cinta ditengah-tengah cobaan. Karenanya ridha menjadi dambaan para pejalan, sebagaimana doa para murid pada setiap kesempatan : ‘Ilahi anta maksudi, waridhaka matlubi, a’tinii mahabbataka wa ma’rifatakaa yaa Arhamaar Rahimiin, Yaa Allah Engkaulah yang aku maksud, ridha-Mu aku harapkan dan karuniakan cinta kepada-Mu dan sebenar-benar mengenal-Mu wahai Engkau Yang Maha Belas Kasih.’

Habib Al ‘Ajami,ra., ditanya :
‘Apa yang diridhai Tuhan?’ Beliau menjawab : ‘Hati yang tidak ternodai oleh kemunafikan.’

Sedangkan Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata bahwa : ‘Ridha itu menerima apa yang ditentukan oleh Allah SWT.’ Ujaran ini indah sekali, meskipun berbeda bentuk penyampaiannya tetapi mempunyai makna yang sama, yakni, hakikat ridha ada dalam keselarasan, karena keselarasan adalah lawan dari kemunafikan. Sedangkan cinta, bersih dari kemunafikan, oleh sebab itu cinta senantiasa hidup dalam keadaan ridha. Sehingga ridha adalah watak sahabat-sahabat Tuhan, sementara kemunafikan adalah watak seteru-seteru-Nya.

Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) disaat mengusap kepala dengan air wudlu selalu mengucap “Yaa Allah aku serahkan segala urusanku kepada-Mu.’ Ini adalah puncak tawakal, barang siapa mempunyai keteguhan di hati, menyerahkan segala urusannya kepada Tuhan pada setiap waktu, tidak bersandar kepada harta, tidak pula pada perantara, dan tidak pula kepada makhluk, dan hanya bersandar kepada Allah SWT saja, hingga saat tidak diberi, tetap bisa merasakan kenikmatan sebagaimana kenikmatan saat diberi, maka ia telah berada pada maqom tawakal. Puncak tawakal adalah awal daripada ridha, yakni menunggu sebab dari Pemberi Sebab, tanpa melihat kepada sebab, serta tanpa kegelisahan, kesusahan, kesedihan, dan kedukaan. Sedangkan bukti apakah seseorang telah memasuki maqom ridha, hatinya selaras setelah kedatangan ketetapan Tuhan. Oleh sebab itu ridha itu muncul setelah kedatangan takdir, karena, jika ridha mendahului, itu hanya niat untuk ridha, yang tidak bisa disamakan dengan ridha yang aktual. 

Rasulullah,saw., bersabda : ‘Wahai Tuhan, aku memohon keridhaan-Mu setelah maujudnya ketetapan-Mu.’ Nabi saw., yang keadaan ruhaninya paling sempurna di antara semua makhluk masih berdoa seperti itu. Seolah-olah ada keinginan di dalamnya, padahal orang-orang yang berada pada maqom ridha keinginannya sirna, karena Allah membuat selaras keinginannya dengan kehendak-Nya. Sikap memanusiakan dirinya sungguh hebat, ketawadhuannya tidak ada duanya di atas bumi ini, yakni, agar Allah SWT membuatnya ridha bila ketetapan-Nya tiba, padahal yang mulia Rasulullah saw., adalah pemilik ridha yang tertinggi. Berarti di dalamnya ada pembelajaran untuk umat islam, bahwa merendah bagai bumi adalah perbuatan yang sangat mulia, dan ridha bisa disebut maqom atau ‘hal’.

Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata bahwa : ‘Ridha tidak ada di dalam kata-kata.’ Kata-kata hanyalah digunakan untuk sekedar mentransformasi secara maksimal ilmu pengetahuan tentang ridha dan bukan ridha itu sendiri. Ridha adalah tujuan akhir bagi para pejalan (mutashowif), yang upayanya atau keberjuangannya melawan dirinya sendiri (mujahadah) telah berakhir dan berpindah menjadi keberserahan. Ayat Al Qur’an di atas : ‘Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya,’ menunjukkan ridha Tuhan kepada manusia dan ridha manusia terhadap Tuhan. 

Bentuk ridha Tuhan berupa pahala bagi perbuatan-perbuatan baik manusia, sebagai manifestasi kasih-sayang-Nya. Sedangkan ridha manusia terkandung di dalam pelaksanaan perintah Tuhan dan menyerah kepada segala keputusan-Nya.

Dengan demikian keridhaan Tuhan mendahului keridhaan manusia. Nah, seseorang yang berpaling kepada pemberian bukan kepada Sang Pemberi, menerima pemberian itu dengan segenap jiwanya, yang mengakibatkan kesedihan dan kesulitan lenyap dari dalam hatinya. Sedangkan seseorang yang berpaling dari pemberian kepada Sang Pemberi, kehilangan pemberian itu dan menempuh jalan keridhaan dengan usahanya sendiri. Usaha adalah kepedihan dan menyusahkan, sedangkan ‘hal’ hanya terwujud bilamana disingkapkan oleh Tuhan. Oleh karenanya, keridhaan bila dicari dengan usaha, merupakan belenggu dan tirai.

Sebagaimana kebahagiaan, adalah bilamana mengantarkan kepada Sang Pemberi kebahagiaan bukan menikmati pemberian-Nya, jika tidak demikian, merupakan penderitaan.

Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) disaat menghadapi penyakit yang menurut orang kebanyakan merupakan penyakit yang sangat berbahaya, terlihat bergembira dengan penderitaan yang Tuhan turunkan, gembira karena dalam penderitaan beliau melihat Sang Pencipta Penderitaan dan bisa menanggung penderitannya dengan merenungkan Dia yang menurunkan penderitaan, beliau tidak menganggapnya sebagai kepedihan, yang demikian adalah rasa nikmatnya dalam merenungi kekasihnya. Akhirnya, mereka yang puas dengan sesuatu yang dipilihkan oleh Tuhan, adalah kekasih-kekasih-Nya, yang hati mereka berada dalam hadirnya Kesucian dan dalam taman Kedekatan, yang tidak berpikir tentang benda-benda ciptaan dan telah bebas dari ikatan-ikatan ‘maqom’ dan ‘hal’ dan telah mengabdikan diri mereka kepada cinta Ilhai. Keridhaan mereka tidak melibatkan kesia-siaan karena keridhaan dengan Tuhan adalah suatu kerajaan yang nyata. 

Ciri khas ridha adalah mengusir semua duka cita dan menyembuhkan kelalaian serta membersihkan hati dari pikiran-pikiran yang berhubungan dengan selain Tuhan dan membebaskannya dari belenggu kemalangan.